• Tidak ada hasil yang ditemukan

peranan modal, tenaga kerja, luas lahan, harga jual

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "peranan modal, tenaga kerja, luas lahan, harga jual"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN MODAL, TENAGA KERJA, LUAS LAHAN, HARGA JUAL, DAN STATUS KEPEMILIKAN LAHAN TERHADAP PENDAPATAN

PETANI

(Studi Kasus di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang)

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Ilmu Ekonomi

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

GILANG RAMADHAN 222015025

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA 2020

(2)

i

(3)

ii PERANAN MODAL, TENAGA KERJA, LUAS LAHAN, HARGA JUAL, DAN STATUS KEPEMILIKAN LAHAN TERHADAP PENDAPATAN

PETANI

(Studi Kasus di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang)

Oleh :

GILANG RAMADHAN 222015025

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Ilmu Ekonomi

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Disetujui untuk diuji oleh:

Sotva Fevriera, S.Si, MT Pembimbing

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA 2020

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

(7)

vi Abstract

As the third biggest contributor of GDP, the agricultural sector needs special attention. Although has the smallest area and population, Nyamat Village is one of six villages with the largest proportion of rice fields (from total village area) in the District of Tengaran, Semarang Regency and the proportion of its agricultural irrigation rice field reaches 91% of the rice field area. This research aims to study the role of capital (production cost), labor, land, selling price, and the land ownership type to farmers' income in Nyamat Village. This analysis in this research was carried using the regression analysis. The results of this study showed that together, the capital (production cost), land area, number of workers, the rice price and type of land tenure affect farmers' income.

But partially, it is only capital (production cost), land area and land tenure status which has significant effects.

Keywords: income, capital, labor, land, selling price, status of land ownership, regression analysis.

Abstrak

Sebagai penyumbang ketiga PDB ketiga, sektor pertanian memerlukan perhatian khusus. Meskipun merupakan desa dengan wilayah dan penduduk terkecil, tetapi Desa Nyamat merupakan salah satu dari 6 desa dengan proporsi lahan sawah (terhadap luas lahan desa) terbesar di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang dan proporsi sawah irigasi pertaniannya mencapai 91%

dari total luas sawah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peranan modal (biaya produksi), tenaga kerja, luas lahan, harga jual, dan status kepemilikan lahan terhadap pendapatan petani di Desa Nyamat. Analisis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara bersama-sama, modal (biaya produksi), luas lahan, jumlah tenaga kerja, harga jual padi dan status kepemilikan lahan berpengaruh terhadap pendapatan petani. Namun secara parsial yang pengaruhnya signifikan hanya modal (biaya produksi), luas lahan, dan status kepemilikan lahan. Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan usaha tani padi di Desa Nyamat mengalami diminishing marginal returns of labor.

Kata Kunci: pendapatan, modal, tenaga kerja, luas lahan, harga jual, status kepemilikan lahan, analisis regresi.

(8)

vii Kata Pengantar

Sektor pertanian merupakan sektor yang memyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ketiga. Ini menunjukan bahwa sektor pertanian merupakan bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Oleh karena itu studi mengenai sektor pertanian selalu menarik untuk diteliti.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan petani. Penelitian terdahulu sudah banyak yang mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani yang dilakukan dengan berbagai analisis dan hasil temuan yang berbeda-beda. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah peneliti bertujuan untuk menganalisis pernanan status kepemilikan lahan, selain modal (biaya produksi), tenaga kerja, luas lahan dan harga jual, terhadap pendapatan petani di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, yang belum pernah diteliti dengan menggunakan analisis regresi.

Selanjutnya, hal-hal yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi latar belakang, tinjauan pustaka dan hipotesis, metode penelitian, pembahasan serta hasil penelitian, kesimpulan, dan saran. Diharapkan penelitian ini akan memberikan manfaat bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan dalam sektor pertanian, dan bagi petani agar bisa megembangkan usaha taninya yang akan meningkatkan pendapatanya.

Kabupaten Semarang, 16 Juni 2020

Gilang Ramadhan

(9)

viii Ucapan Terima Kasih

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT oleh penyertaan, berkat dan hikmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik.

Tugas akhir ini diajukan guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai gelar sarjana S-1 Ekonomi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Program Studi Ilmu Ekonomi, Universitas Kristen Satya Wacana.

Dalam penyusunan tugas akhir ini tidak terlepas dukungan dari berbagai pihak. Peneliti banyak menerima bimbingan, petunjuk dan bantuan serta dorongan dari berbagai pihak. Peneliti secara khusus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua saya Bapak Daryadi dan Ibu Heny Andriani serta adik saya Dian Sukma Andany, yang selama ini telah membantu peneliti dalam bentuk perhatian, kasih sayang, semangat demi kelancaran dan kesuksesan peneliti dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

2. Ibu Sotya Fevriera, S.Si, MT selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan kritik yang membangun selama penulisan tugas akhir ini.

3. Ibu Istiarsi Saptuti Sri Kawuryan, SE, MSF selaku wali studi yang telah memberikan arahan dan motivasi selama perkuliahan.

4. Bapak Eranus Yoga Kundhani, SE, MSi selaku Kaprogdi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

5. Bapak Dr. Gatot Sasongko, SE, MS dan seluruh dosen FEB UKSW lainnya, khususnya jurusan ilmu ekonomi atas segala ilmu yang telah diajarkan.

Tidak lupa juga kepada seluruh staf dan karyawan FEB UKSW.

6. Teman-teman organisasi IMIE dan kepanitian Call For Essay yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang memberikan pengalaman, bantuan dan dukungan untuk penulis berkembang selama masa perkuliahan.

7. Keluarga besar dan teman-teman Fakultas Ekonomika dan Bisnis angkatan 2015, teman-teman progdi Ilmu Ekonomi yang tidak dapat disebutkan satu- persatu yang telah mendukung peulis dalam menyusun tugas akhir ini.

(10)

ix 8. Teman-teman karang taruna Idola Pandansari yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang memberikan semangat untuk peneliti menyelesaikan tugas akhir ini.

Penulis tidak dapat membalas setiap bantuan maupun dukungan yang telah diberikan dengan suatu hal yang berharga, tetapi penulis hanya dapat membalas dengan doa dan ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas. Dengan segala kerendahan hati semoga tugas akhir ini berguna bagi semua pihak.

Kabupaten Semarang, 16 Juni 2020

Gilang Ramadhan

(11)

x Daftar Isi

Abstract ... vi

Kata Pengantar ... vii

Ucapan Terima Kasih ... viii

Daftar Isi ... x

Daftar Tabel ... xi

Daftar Gambar ... xii

1. Latar Belakang ... 1

2. Tinjauan Pustaka dan Hipotesis ... 5

2.1 Pendapatan Usaha Tani Padi ... 5

2.2 Luas Lahan ... 6

2.3 Modal ... 6

2.4 Biaya Produksi ... 6

2.5 Penelitian Terdahulu ... 7

2.6 Model Penelitian ... 9

3. Metode Penelitian ... 11

3.1 Data dan Sumber Data ... 11

3.2 Populasi dan Sampel... 12

3.3 Teknik Analisis ... 12

4. Pembahasan ... 14

4.1 Karakteristik Responden ... 14

4.2 Hasil Analisis Regresi dan Pembahasan ... 17

5. Kesimpulan ... 20

6. Saran ... 20

Daftar Pustaka ... 22

Lampiran A  Uji Asumsi Klasik untuk Model Regresi 1... 24

Lampiran B  Uji Asumsi Klasik untuk Model Regresi 2 ... 25

(12)

xi Daftar Tabel

Tabel 1Koefisien Korelasi Pearson antar Variabel Bebas ... 13

Tabel 2Hasil Estimasi Model Regresi Model 1 Dan Model 2 ... 17

Tabel 3Hasil Collinearity Diagnostic untuk Model Regresi 1 ... 24

Tabel 4Hasil Uji Kolmorov-Smirnov untuk Model Regresi 1 ... 24

Tabel 5Hasil Uji Park untuk Model Regresi 1 ... 24

Tabel 6Hasil Collinearity Diagnostic untuk Model Regresi 2 ... 25

Tabel 7Hasil Kolmorov-Smirnov untuk Model Regresi 2 ... 25

Tabel 8Hasil Uji Park untuk Regresi Model 2 ... 25

(13)

xii Daftar Gambar

Gambar 1. Kerangka Berpikir ... 9

Gambar 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 14

Gambar 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 15

Gambar 4. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 15

Gambar 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bertani ... 16

Gambar 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan ... 16

(14)
(15)

1 1. Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dengan wilayah yang sangat potensial untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Menurut catatan Badan Pusat Statistika pada tahun 2018 (BPS, 2019), sektor pertanian menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) Rp 1.900.348,5 Miliar (12,81%) atau terbesar ketiga setelah sektor industri pengolahan yang sumbangannya mencapai Rp 2.947.299,2 Miliar (19,86%) dan sektor perdagangan besar dan eceran, resparasi mobil dan sepeda motor yang menyumbang Rp 1.931.911,3 Miliar (13,02%).

Ada lima alasan yang membuat sektor pertanian kemungkinan bisa menjadi sektor andalan pembangunan nasional. Pertama, sebagian besar rakyat Indonesia masih bergantung pada sektor pertanian. Kedua, masalah pangan di masa sekarang maupun masa mendatang masih akan dirasakan penduduk Indonesia. Ketiga, Indonesia sulit untuk mengejar negara-negara maju dalam menghasilkan produk sektor industri untuk bersaing di pasar internasional. Hal itu karena: (a) modal yang terbatas untuk melakukan pengembangan mutu dan produktivitas sumberdaya manusia serta untuk investasi peralatan yang digunakan; (b) keterbatasan modal menyebabkan Indonesia tidak dapat bersaing di pasar internasional karena kualitas produk yang dihasilkan yang masih kurang untuk bersaing di pasar internasional; (c) negara-negara maju melakukan kerjasama antar negara maju dan kerjasama politik dengan membuat kebijakan- kebijakan dalam perdagangan, seperti kebijakan tarif bea masuk dan pembatasan kuota. Keempat, sektor pertanian Indonesia cukup kuat untuk menghadapi gejolak perekonomian dunia daripada sektor lainnya. Kelima, sektor pertanian Indonesia memberikan sumbangan yang cukup besar untuk pengembangan sektor industri (Kartasasmita, 1996).

Sasaran utama pembangunan pertanian sekarang ini dengan melakukan peningkatan produksi sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan petani.

Oleh sebab itu, sektor pertanian harus berjalan dengan lancar untuk meningkatkan produk pangan. Tetapi, sektor pertanian masih memiliki beberapa permasalahan, salah satunya adalah pelaku usaha di bidang pertanian semakin

(16)

2 berkurang. Kurangnya pelaku usaha di bidang pertanian mungkin karena kesejahteraan pertani yang belum terjamin. Ada dua faktor yang mempengaruhi pendapatan petani, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi pendapatan petani, yaitu luas tanah, tenaga kerja, ketersediaan modal, efesiensi penggunaan input, pemasaran output, dan lain- lain. Faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan petani, yaitu lembaga perkreditan, kebijakan pemerintah, tingkat harga output dan input, dan lain-lain.

(Soekartawi, 2011).

Modal adalah faktor yang sangat penting bagi pelaku usaha tani untuk mengembangkan usaha taninya agar lebih sejahtera. Dalam setiap usaha, tanpa adanya dukungan modal, usaha tersebut tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan modal yang tepat.

Luas lahan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pendapatan petani. Jika luas lahan yang dimiliki petani semakin luas akan meningkatkan hasil produksi petani, maka pendapatan petani juga akan meningkat. Begitu juga sebaliknya, jika luas lahan yang dimilki petani menyusut akan menguarangi hasil produksi petani sehingga pendapatan petani juga ikut menurun (Hidayati, 2017). Untuk melakukan produksi usaha tani memerlukan tenaga kerja untuk kegiatan produksi. Tenaga kerja dapat membantu jalannya produksi, baik itu tenaga kerja dari dalam maupun tenaga kerja dari luar (Wafikah, 2018). Selain modal, luas lahan, dan tenaga kerja, harga jual juga dapat mempengaruhi pendapatan petani.

Ketersediaan modal, luas tanah dan tenga kerja merupakan faktor internal yang bisa mempengaruhi pendapatan petani, dan harga jual merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan usaha tani.

Penelitian ini bermaksud mengetahui bagaimana peranan modal, luas lahan, tenaga kerja, dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Komoditi padi dipilih karena selama tahun 20142018, produksi tanaman pangan tertinggi di Kecamatan Tengaran adalah padi. Desa Nyamat adalah desa dengan luas wilayah dan jumlah penduduk terkecil di Kecamatan Tengaran. Meskipun demikian, Desa Nyamat termasuk 6 desa dengan proporsi lahan sawah terbesar di Kecamatan

(17)

3 Tengaran. Proporsi lahan sawah dari total luas lahan di Desa Nyamat mencapai 12%. Selain itu, Desa Nyamat juga termasuk 5 desa dengan proporsi sawah irigasi terbesar di Kecamatan Tengaran. Proporsi sawah irigasi dari total lahan pertanian di Desa Nyamat mencapai 91% (BPS Kecamatan Tengaran, 2019).

Penelitian yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi sudah banyak dilakukan dengan berbagai analisis yang berbeda-beda (lihat sebagai contoh Arimbawa & Widanta, 2016; Manatar et al., 2014; Zahara et al., 2017; Apriadi, 2015; Damanik, 2013; Phahlevi, 2013; Anggarani, 2014;

Suprapto, 2010; Zaini, 2010). Hampir semua penelitian tersebut meneliti padi non organik, kecuali Suprapto (2010) yang meneliti padi organik. Mayoritas peneliti tersebut menggunakan metode analisis regresi berganda linier ( Apriadi, 2015; Damanik, 2013; Anggarani, 2014; Zaini, 2010), tetapi ada pula yang menggunakan regresi berganda non linier (Suprapto, 2010) atau analisis jalur (Arimbawa & Widanta, 2016; Phahlevi, 2013). Sedangkan Manatar et al (2014) menggunakan analisis variasi, dan Zahara et al (2017) menggunakan analisis korelasi rangking Spearman.

Beberapa penelitian di atas menemukan bahwa luas lahan dapat berpengaruh positif terhadap pendapatan petani (Damanik, 2013; Phahlevi, 2013; Suprapto, 2010) tetapi ada pula yang menemukan pengaruhnya tidak signifikan (Apriadi, 2015; Anggarani, 2014). Zahara et al (2017) juga menemukan luas tanah tidak berkorelasi signifikan dengan pendapatan petani.

Ada tiga indikator tenaga kerja yang biasanya digunakan, yaitu jumlah hari orang kerja (HOK) (Apriadi, 2015; Anggarani, 2014), jumlah (orang) tenaga kerja (Damanik, 2013) dan biaya tenaga kerja (Zaini, 2010). Beberapa peneliti di atas juga menemukan tenaga kerja dapat mempengaruhi pendapatan petani secara signifikan (Apriadi, 2015). Anggarani (2014) menemukan pengaruh tenaga kerja positif, tetapi Damanik (2013) menemukan pengaruhnya tidak signifikan. Zaini (2010) menemukan biaya tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani, tetapi Suprapto (2010) menemukan pengaruhnya tidak signifikan.

(18)

4 Peneliti di atas juga menemukan bahwa modal dapat mempengaruhi pendapatan petani (Apriadi, 2015). Anggarani (2014) menemukan pengaruh modal negatif, sedangkan Suprapto (2010) menemukan pengaruh modal positif.

Ada pula peneliti yang menggunakan biaya produksi sebagai ganti modal.

Damanik (2013) menemukan bahwa biaya produksi berpengaruh signifikan positif terhadap pendapatan petani. Beberapa peneliti membedakan modal atau biaya produksi menurut berbagai macam sarana produksi, biaya tenaga kerja atau biaya penyusutan peralatan bertani. Pengaruh kuantitas atau biaya benih atau bibit dan pestisida ditemukan tidak signifikan (Suprapto, 2010; Zaini, 2010), tetapi kuantitas atau biaya pupuk ditemukan pengaruhnya signifikan positif terhadap pendapatan petani (Suprapto, 2010) atau tidak signifikan (Zaini, 2010). Lebih lanjut Zaini (2010) menemukan biaya penyusutan peralatan tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani.

Produktivitas atau jumlah produksi berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani (Arimbawa & Widanta, 2016; Phahlevi, 2013). Arimbawa dan Widanta (2016) juga menemukan luas lahan, teknologi dan pelatihan berpengaruh signifikan positif baik secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui produktivitas, terhadap pendapatan petani. Sedangkan Phahlevi (2013) menemukan luas lahan dan harga jual berpengaruh signifikan secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui jumlah produksi, terhadap pendapatan petani, tetapi biaya produksi hanya berpengaruh terhadap pendapatan petani melalui jumlah produksi. Zahara et al. (2017) menemukan produksi berkorelasi positif signifikan tetapi harga jual berkorelasi negatif signifikan dengan pendapatan petani. Zaini (2010) tidak memperhitungkan pengaruh kuantitas produksi dan harga jual secara terpisah, melainkan menyajikannya dalam bentuk penerimaan petani dan menemukan pengaruhnya signifikan positif terhadap pendapatan petani.

Satu-satunya peneliti yang mempelajari faktor teknologi adalah Apriadi (2015) menemukan teknologi tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Apriadi (2015) dan Suprapto (2010) juga menemukan faktor eksternal, yaitu pelatihan, berpengaruh signifikan. Ada pula peneliti yang memperhitungkan pengaruh dari karakteristik individual petani. Zahara et al.

(19)

5 (2017) juga menemukan pengalaman bertani berkorelasi positif signifikan, tetapi pendidikan tidak berkorelasi dengan pendapatan petani. Lebih lanjut, Zahara et al. (2017) menemukan usia petani berkorelasi negatif signifikan tetapi jumlah anggota keluarga (tanggungan) petani tidak berkorelasi dengan pedapatan petani.

Sementara, Manatar et al. (2014) menemukan status penguasaan lahan mempengaruhi perbedaan pendapatan petani. Petani penyewa tanah memperoleh pendapatan lebih tinggi daripada petani yang tanahnya milik sendiri maupun petani penggarap dengan sistem bagi hasil. Pendapatan dua kelompok petani terakhir dapat dikatakan sama.

Perbedaan penelitian ini dengan mayoritas penelitian-penelitian di atas adalah dalam penelitian ini juga ingin diketahui pengaruh status penguasaan lahan terhadap pendapatan petani. Meskipun faktor tersebut sudah pernah diteliti oleh Manatar et al, (2014), tetapi dalam penelitian ini akan digunakan metode analisis yang berbeda, yaitu dengan menggunakan analisis regresi berganda.

Penelitian pelatihan karena pelatihan merupakan faktor yang tidak langsung mempengaruhi pendapatan, pelatihan mempengaruhi kualitas SDM atau tenaga kerja dalam menjalankan pertaniannya. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana peranan modal, tenaga kerja, luas lahan, harga jual dan status kepemilikan lahan terhadap pendapatan petani padi di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

2. Tinjauan Pustaka dan Hipotesis 2.1 Pendapatan Usaha Tani Padi

Pendapatan pertanian merupakan selisih dari penerimaan dan semua biaya atau pendapatan yang meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya. Pendapatan usaha tani dapat dirumuskan sebagai berikut (Mankiw, 2016):

Profit = TR  TC (1)

TR = QP (2)

TC = FC  VC (3)

(20)

6 di mana: Profit = pendapatan bersih usaha tani, TR = total penerimaan (total revenue), TC = total biaya (total cost), FC = biaya tetap (fixed cost), VC = biaya variabel (variable cost), Q = produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani dan P = harga komoditi.

2.2 Luas Lahan

Jumlah besaran lahan yang digunakan untuk melakukan kegiatan produksi yang menghasilkan barang atau jasa (Wafikah, 2018). Luas lahan mempengaruhi skala usaha yang akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suata usaha pertanian. Luas lahan adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam kegiatan pertanian dan dapat mempengaruhi produksi petani yang pada akhirnya akan mempengaruhi pendapatan petani.

2.3 Modal

Modal adalah barang atau uang yang jika di kelola dengan faktor produksi lainnya akan menghasilkan barang-barang baru (Apriadi, 2015).

Dalam setiap usaha, tanpa adanya dukungan modal, usaha tersebut tidak akan berjalan sesuai apa yang diharapkan. Modal dibutuhkan petani untuk menjalankan usahanya, misalnya untuk pengadaan bibit, melakukan pemeliharaan tanaman (membeli pupuk dan obat-obatan untuk tanaman), dan sebagainya. Modal merupakan faktor yang sangat penting bagi pelaku usaha tani untuk mengembangkan usaha taninya. Oleh karena itu dibutuhkan pengelolaan modal yang tepat dan diharapkan akan menambah produksi atau hasil panen yang pada akhirnya akan mempengaruhi pendapatan petani.

2.4 Biaya Produksi

Biaya produksi merupakan biaya yang digunakan untuk proses produksi pada usahatani yang dihitung dalam satuan rupiah per satu kali musim tanam.

Biaya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) biaya tetap (fixed cost) dan (b) biaya variabel (variable cost).

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh volume produksi, dan sifatnya tidak habis dalam satu kali proses produksi. Biaya tetap

(21)

7 terdiri dari (Didin et al., 2016) : (1) pajak atau sewa, (2) penyusutan alat yang digunakan untuk proses produksi dan dinilai dalam satuan rupiah per tahun, selanjutnya dikonversikan ke dalam satu kali musim tanam dan (3) bunga modal.

Adapun penyusutan alat dapat dihitung dengan rumus (Suratiyah, 2015):

Penyusutan alat = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑒𝑙𝑖−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑖𝑠𝑎

𝑈𝑚𝑢𝑟 𝐸𝑘𝑜𝑛𝑜𝑚𝑖𝑠 (4)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya dipengaruhi oleh volume produksi, dan sifatnya habis untuk satu kali proses produksi. Biaya variabel terdiri dari (Saadudin et al, 2016): (1) benih, (2) pupuk, (3) pestisida dan (4) tenaga kerja.

Biaya produksi juga dapat dibedakan menurut biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya nyata atau biaya langsung yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha tani seperti membayar tenaga kerja, membeli obat-obatan, penyusutan alat dan lain-lain. Sedangkan biaya implisit adalah biaya yang tidak kelihatan atau tidak dikeluarkan secara langsung tetapi tetap harus diperhitungkan dalam kegiatan usahatani seperti, tenaga kerja dalam keluarga, biaya lahan sendiri dan lain-lain (Sulistyanto et al., 2013)

2.5 Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian serupa di masa lalu. Zahara et al. (2017) meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan pendapatan usaha tani padi di Kabupaten Pringsewu dan menggunakan analisis korelasi Spearman. Variabel- variabel yang diteliti meliputi biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, biaya lainnya dan total biaya, penerimaan petani, pendapatan usaha tani, umur petani, pendidikan petani, pengalaman usaha tani, jumlah anggota keluarga, luas lahan, produksi dan harga. Hasilnya, pendapatan petani ditemukan berkorelasi positif secara signifikan dengan produksi dan berkorelasi negatif secara signifikan dengan umur petani, pengalaman usaha tani dan harga padi.

Arimbawa dan Widanta (2016) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh luas lahan, teknologi, dan pelatihan terhadap pendapatan petani padi melalui produktivitas di Kabupaten Bandung, dengan menggunakan metode path analysis. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti meliputi pendapatan petani, produktivitas, luas lahan, tekonologi dan pelatihan. Produktivitas

(22)

8 ditemukan berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan petani.

Sedangkan luas lahan, tekonologi dan pelatihan, secara langsung maupun melalui produktivitas, berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan petani.

Menggunakan motede analisis regresi linier berganda, Apriadi (2015) meneliti tentang pengaruh modal, jumlah hari kerja (HOK), luas lahan, pelatihan dan teknologi terhadap pendapatan petani di Kabupaten Banyuwangi. Hasilnya diperoleh modal, HOK dan pelatihan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani.

Manatar et al. (2014) melakukan penelitian untuk melihat pengaruh status penguasaan lahan terhadap pendapatan petani di Kabupaten Minahasa Selatan dengan metode analysis of variance (ANOVA). Hasil dari penelitiannya menemukan pendapatan petani penyewa lebih tinggi daripada pendapatan petani yang lahannya milik sendiri dan petani penggarap (sistem bagi hasil). Sedangkan pendapatan petani yang lahannya milik sendiri dan pendapatan petani penggarap sama besarnya.

Anggarani (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel independen terhadap pendapatan petani di Kabupaten Sukoharjo. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi non linier berganda.

Variabel-variabel independen yang digunakan dalam penelitiannya meliputi luas lahan, tenaga kerja (HOK) dan modal. Hasilnya, modal berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan petani, sedangkan tenaga kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap pendapatan petani.

Damanik (2013) menganalisis pengaruh luas lahan, jumlah tenaga kerja, dan biaya produksi terhadap pendapatan petani di Kabupaten Sragen dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Hasilnya, luas lahan dan biaya produksi ditemukan berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan petani.

Phahlevi (2013) menganalisis pengaruh luas lahan, harga jual, dan biaya usaha tani terhadap jumlah produksi dan menganalisis pengaruh pengaruh luas lahan, harga jual, biaya usaha tani dan jumlah produksi terhadap pendapatan petani di Kota Padang Panjang. Metode analisis yang digunakannya adalah path

(23)

9 analysis. Hasilnya: (1) jumlah produksi berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani; (2) luas lahan dan harga jual berpengaruh secara langsung maupun melalui jumlah produksi terhadap pendapatan; dan (3) biaya usaha tani tidak berpengaruh secara langsung, tetapi berpengaruh secara tidak langsung melalui jumlah produksi, terhadap pendapatan petani.

Suprapto (2010) meneliti pengaruh faktor-faktor produksi terhadap pendapatan petani padi organik di Kabupaten Sragen serta meneliti perbedaan pendapatan petani yang belum dan sudah pernah mengikuti penyuluhan dari PPL. Teknik analisis yang digunakannya adalah regresi non linier berganda.

Hasilnya, luas lahan, modal, biaya pupuk dan penyuluhan berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan petani.

Zaini (2010) meneliti pengaruh biaya produksi dan penerimaan terhadap pendapatan petani padi di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Hasil dari penelitianya menemukan penerimaan berpengaruh positif signifikan sedangkan biaya tenaga kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap pendapatan petani.

2.6 Model Penelitian

Gambar 1. Kerangka Berpikir Status Lahan

(X4) Luas Lahan

(X5) Modal

(X1)

Pendapatan Petani (Y) Tenaga Kerja

(X2) Harga Jual

(X3)

(24)

10 Studi ini menguji pengaruh modal(X1), tenaga kerja(X2), harga jual(X3), status lahan(X4), dan luas lahan(X5) terhadap pendapatan petani. Berdasarkan tujuan tersebut maka dibuatlah kerangka berpikir seperti dapat dilihat dalam Gambar 1.

Modal dibutuhkan petani untuk menjalankan usahanya, misalnya untuk pengadaan bibit, melakukan pemeliharaan tanaman (membeli pupuk dan obat- obatan untuk tanaman), dan sebagainya. Modal juga dapat digunakan petani untuk mengembangkan usahanya, misalnya untuk memperluas lahan tanamnya, baik dengan cara membeli atau menyewa lahan yang lebih besar. Terpenuhinya modal diharapkan akan dapat menambah produksi atau hasil panen dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan petani. Oleh karena itu, dalam studi ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha-1: Modal berpengaruh positif terhadap pendapatan petani padi.

Kecukupan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan usaha tani seharusnya berpengaruh positif terhadap jumlah produksi dan pendapatan petani. Tetapi jumlah tenaga kerja yang berlebihan dapat membuat biaya produksi menjadi tidak efisien. Hasil penelitian Anggarani (2014) dan Zaini (2010) menunjukan tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pendapatan petani. Oleh karena itu, dalam studi ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha-2: Tenaga kerja berpengaruh terhadap pendapatan petani.

Harga jual juga merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi pendapatan petani. Semakin tinggi harga jual, semakin tinggi penerimaan dan pendapatan petani. Tetapi harga jual yang terlalu tinggi dapat mengurangi minat atau daya beli konsumen sehingga penerimaan dan pendapatan petani malah turun. Hasil penelitian Zahara et al. (2017) menunjukkan harga jual berkorelasi negatif dengan pendapatan petani. Oleh karena itu, dalam studi ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha-3: Harga jual berpengaruh terhadap pendapatan petani.

(25)

11 Demikian juga status kepemilkan lahan, status kepemilikan lahan dapat mempengaruhi pendapatan bersih. Oleh karena itu, dalam studi ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha-4 : Status kepemilikan lahan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani.

Semakin luas lahan, semakin besar peluang petani untuk bisa memperoleh hasil produksi yang lebih banyak. Semakin banyak hasil produksi maka pendapatan petani akan semakin besar. Oleh karena itu, dalam studi ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha-5: Luas lahan berpengaruh positif terhadap pendapatan para petani.

3. Metode Penelitian 3.1 Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini adalah data primer yang meliputi data modal (biaya produksi padi) petani, luas lahan pertanian, jumlah tenaga kerja, hasil panen padi, harga jual padi, dan status kepemilikan lahan. Data dikumpulkan dari petani padi di Desa Nyamat Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang.

Pengumpulan melalui wawancara dengan panduan kuesioner selama 2019- 2020.

Pendapatan bersih, produksi padi, harga jual padi dan biaya produksi akan diamati selama kurun waktu satu kali masa tanam/panen terakhir, yaitu selama 3 (tiga) bulan, dari usaha tani. Pendapatan bersih yaitu penerimanaan total petani setalah dikurangi biaya. Pendapatan bersih petani dipengaruhi oleh status kepemilikan lahan. Ada dua macam status kepemilikan lahan, yaitu milik sendiri atau milik orang lain di mana petani bertindak sebagai penggarap lahan bagi pemilik sawah. Pendapatan bersih yang diterima petani penggarap dengan sistem bagi hasil (maro) berbeda dengan pendapatan petani dengan lahan milik sendiri. Petani dengan sistem bagi hasil menanggung semua biaya produksi dan tuan tanah atau pemilik lahan tidak ikut menanggung biaya produksi. Jadi petani dengan sistem bagi hasil hanya mendapat setengah dari pendapatan kotor lalu dikurangi biaya untuk mendapatkan total peneriamaan atau pendapatan bersih.

(26)

12 Sedangkan petani dengan lahan milik sendiri menganggung semua biaya dan menerima seluruh dari pendapatan bersih.

Modal dalam penelitian ini adalah modal yang digunakan untuk kegiatan produksi atau dengan kata lain biaya produksi. Biaya produksi pada penelitian ini hanya menghitung biaya eksplisit saja atau biaya yang secara nyata dikeluarkan dalam kegiatan usaha tani seperti untuk membayar tenaga kerja, membeli obat-obatan dan pupuk, biaya sewa traktor dan lain-lain. Sedangkan biaya penyusutan, biaya tenaga kerja dari petani dan keluarganya yang ikut mengolah lahan, tidak diperhitungkan. Pendapatan untuk petani dan keluarganya diperoleh dari pendapatan bersih. Meskipun biaya implisit tenaga dari petani dan keluarganya tidak diperhitungkan, tetapi mereka tetap diperhitungkan dalam jumlah tenaga kerja.

3.2 Populasi dan Sampel

Metode dalam pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling di mana teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik tertentu. Adapun karakter yang telah ditentukan adalah para petani padi.

Penentuan jumlah sampel dalam penelitian menggunakan rumus Slovin (Umar, 2004). Menurut Kecamatan Tengaran dalam Angka 2019, jumlah petani di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran adalah 167 orang (BPS Kabupaten Semarang, 2019). Dengan toleransi tingkat kesalahan dalam pengambilan sampel sebesar 10% maka jumlah sampel minimal yang harus diambil adalah:

𝑛 = 167

1 + 167 ∙ 10%2 ≈ 63

3.3 Teknik Analisis

Teknik analisis yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini adalah analisis regresi berganda dengan metode OLS (ordinary least square).

(27)

13 Tabel 1 Koefisien Korelasi Pearson antar Variabel Bebas

Ln Modal Ln Labor Ln Harga Ln Luas

Ln Modal 1,000 0,865 0,106 0,998

Ln Labor 0,865 1,000 0,203 0,878

Ln Harga 0,106 0,203 1,000 0,116

Ln Luas 0,998 0,878 0,116 1,000

Karena terdapat korelasi yang sangat kuat antara modal dengan luas lahan (lihat Tabel 1), mengingat modal di sini adalah modal kerja atau biaya produksi dan luas lahan pasti mempengaruhi biaya produksi, maka modal dan luas tanah tidak dapat dimasukkan ke dalam model regresi yang sama. Agar baik modal maupun luas tanah pengaruhnya terhadap pedapatan petani masih dapat diestimasi, maka tidak ada salah satu dari kedua variabel tersebut yang tidak digunakan dalam model regresi, tetapi dilakukan adaptasi terhadap kerangka berpikir (lihat Gambar 1.1), yaitu kedua variabel dimasukkan ke dalam model regresi secara terpisah. Dengan demikian terdapat 2 model regresi, yaitu:

ln Income = α1 + β11ln Modal + β21ln Labor + β31ln Harga + β41Status+ e1 (1) ln Income= α2+ β12ln Luas + β22ln Labor + β32ln Harga + β42 Status+ e2 (2) di mana: ln  natural logarithm, income adalah pendapatan petani (dalam Rp), modal adalah modal kerja (dalam Rp), labor adalah jumlah tenaga kerja (dalam orang), harga adalah harga jual padi (dalam Rp/kwintal), luas adalah luas lahan sawah (dalam m2) dan status adalah status kepemilikan lahan dengan status  1 jika lahan milik sendiri dan status  0 jika lahan bukan milik sendiri (sistem maro), βij  koefisien regresi dari variabel bebas ke-i untuk model ke-j dengan i = {1, 2, 3, 4, 5} dan j = {1,2}, αj  konstanta untuk model ke-j dan ej  residual untuk model ke-j.

Model terpilih tersebut dipastikan memenuhi asumsi-asumsi yang berlaku untuk model regresi berganda dengan metode Odinary Least Square, (lihat lampiran) yaitu dengan melakukan diagnostic checking atau uji asumsi klasik yakni: (1) variasi error harus konstan (homoskedasticity), (2) tidak ada korelasi serial antar error, (3) Tidak adanya multikolinearitas antar variabel

(28)

14 independen dan (4) uji normalitas residual (Rosadi, 2012). Setelah model (1) dan (2) dipastikan memenuhi semua asumsi yang berlaku, maka pengaruh seluruh variabel secara bersama-sama dan secara individual.

Selain analisis regresi, laporan ini juga menggunakan metode statistika deskriptif. Statistik deskrptif merupakan metode yang tujuannya untuk mengatur, meringkas, dan menyajikan data dengan cara informatif dengan chart and graphs (Lind et al., 2018). Statistika deskriptif digunakan untuk memberi gambaran mengenai karakteristik petani yang menjadi responden dalam penelitian ini.

4. Pembahasan

4.1 Karakteristik Responden

Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa mayoritas petani di Desa Nyamat yang menjadi responden dari penelitian ini berjenis kelamin laki-laki (97%).

Sedangkan Gambar 3 menunjukan bahwa kelompok umur petani di Desa Nyamat yang paling dominan adalah kelompok umur 40-50 tahun dan semakin tinggi kelompok usia, semakin berkurang jumlah petani. Hal ini logis karena kegiatan bertani membutuhkan energi yang banyak atau tenaga yang kuat. Tidak adanya petani yang berusia di bawah 40 tahun menunjukkan kalau kegiatan bertani kurang diminati generasi muda di Desa Nyamat dan merupakan indikasi kalau di masa yang akan datang, dapat terjadi masalah dalam hal regenerasi di sektor pertanian di Desa Nyamat.

Gambar 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

(29)

15 Gambar 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Gambar 4. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Dapat dilihat dari gambar 4 bahwa tingkat pendidikan terakhir petani di Desa Nyamat paling banyak adalah lulusan SD dan paling tinggi hanya lulusan SMP. Ada kemungkinan, generasi muda yang berpendidikan lebih tinggi, tidak lagi tertarik untuk bekerja di sektor pertanian.

Gambar 5 menunjukan lebih dari separuh petani yang menjadi responden dalam penelitian ini sudah berpengalaman bertani selama minimal 15 tahun dan sekitar 20% di antaranya sudah berpengalaman bertani selama lebih dari 30 tahun.

(30)

16 Gambar 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bertani

Gambar 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa distribusi kelompok petani berdasarkan luas lahan yaitu paling banyak pada luas lahan 501-1000m2 sebanyak 25 orang.

Dan gambar ini menujukan juga bahwa petani di Desa Nyamat menggarap lahan pertanian yang cukup luas dengan sekitar 70% petani menggarap lahan di atas 500 m2.

(31)

17 4.2 Hasil Analisis Regresi dan Pembahasan

Tabel 2 menampilkan hasil estimasi dari dua model regresi dalam penelitian ini.

Tabel 2 Hasil Estimasi Model Regresi Model 1 Dan Model 2 Variabel Tak Bebas: ln Income

Model 1 Model 2

Variabel Bebas

Koefisien

Regresi p-value Variabel Bebas

Koefisien

Regresi p-value ln Modal 0,592 0,000*** ln Luas 0,629 0,000***

ln Labor 0,195 0,470 ln Labor 0,248 0,366 ln Harga 0,557 0,414 ln Harga 0,525 0,436 Status 1,182 0,000*** Status 1,180 0,000***

Kontanta 1,711 0,851 Konstanta 2,539 0,774

N 63 N 63

R2 0,811 R2 0,814

Fhitung 62,378 0,000*** Fhitung 63,609 0,000***

Catatan: (1) ln  natural logarithm. (2) p-value adalah nilai peluang dari statistik uji t. (3)

*, **, *** berturut-turut artinya signifikan pada   10%, 5% dan 1%. (4) Status  1 untuk lahan milik sendiri dan status  0 sistem maro (lahan bukan milik sendiri).

Dapat dilihat dari hasil tabel 2 regresi model 1 dan model 2 memiliki nilai R Square sekitar 0,81 atau tepatnya 0,811 untuk model 1 dan 0,814 untuk model 2. Artinya 81% variasi dari nilai pendapatan petani dijelaskan oleh variabel modal (biaya produksi) atau luas lahan, labor atau jumlah tenaga kerja, harga jual padi, dan statu lahan dan sisanya, dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model. Nilai p-value dari nilai Fhitung kedua model tersebut sebesar 0,000 < 1% = α. Artinya, secara bersama-sama, luas modal atau luas lahan, jumlah tenaga kerja, harga jual padi dan status lahan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

Berdasarkan hasil model regresi 1 dapat dilihat p-value dari nilai thitung

untuk variabel modal sebesar 0,000 < 1% = . Artinya modal atau biaya produksi secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran. Koefisien regresi dari variabel modal sebesar 0,592 menunjukkan bahwa setiap kenaikan modal sebesar 1%

(32)

18 maka pendapatan petani akan meningkat sebesar 0,592%. Dengan demikian hipotesis bahwa modal berpengaruh positif terhadap pendapatan petani, terbukti.

Temuan ini serupa dengan hasil penelitian dari Apriadi (2015), Anggarani (2014) dan Suprapto (2010).

Berdasarkan hasil model regresi 2 dapat dilihat p-value dari nilai thitung

untuk variabel luas lahan sebesar 0,000 < 1% = . Artinya luas lahan secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran. Koefisien regresi dari variabel luas lahan sebesar 0,629 ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan luas lahan sebesar 1% akan meningkatkan pendapatan sebesar 0,629%. Dengan demikian hipotesis bahwa luas tanah berpengaruh positif terhadap pendapatan petani, terbukti. Temuan ini mendukung hasil penelitian dari Arimbawa dan Widanta (2016), Damanik (2013), Phahlevi (2013) dan Suprapto (2010).

Hasil model regresi 1 dan model regresi 2 menunjukkan nilai p-value dari nilai thitung untuk variabel status lahan sebesar 0,000 < 1% = . Artinya, status lahan secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran. Koefisien regresi status lahan yang bernilai positif, menunjukkan petani yang memiliki sendiri lahannya memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada petani yang tidak memiliki lahan sendiri dan harus membagi pendapatan kotornya dengan sistem maro.

Jadi, hipotesis bahwa status kepemilikan lahan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani, terbukti. Lebih lanjut, hasil estimasi koefisien regresi menunjukkan rata-rata pendapatan petani yang memiliki lahan sendiri, 3,251 kali lipat lebih besar daripada rata-rata pendapatan petani yang tidak memiliki lahan sendiri. Hasil temuan ini serupa dengan hasil penemuan Manatar et al. (2014) bahwa status kepemilikan atau status penguasaan lahan berpengaruh terhadap pendapatan petani.

Hasil model regresi 1 dan model regresi 2 juga memperlihatkan jumlah tenaga kerja dan harga jual padi memiliki p-value untuk thitung yang lebih besar

1 ln IncomeStatus  1  ln IncomeStatus  0  ln IncomeStatus  1

IncomeStatus  0  1,18  IncomeStatus  1

IncomeStatus  0  e1,18  3,254  IncomeStatus  1  3,25IncomeStatus  0.

(33)

19 dari 10% = . Artinya, jumlah tenaga kerja dan harga jual padi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terharap pendapatan petani di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Dengan demikian, hipotesis studi ini untuk tenaga kerja dan harga jual padi tidak terbukti. Hasil temuan studi ini untuk harga tidak sejalan dengan temuan Zahara et al. (2017) dan Phahlevi (2013). Sedangkan hasil temuan studi ini untuk jumlah tenaga kerja serupa dengan hasil penelitian Damanik (2013) tetapi tidak mendukung temuan dari Anggarani (2014) yang menemukan pengaruh tenaga kerja signifikan.

Meskipun temuan ini tidak mendukung hasil riset Anggarani (2014), tetapi nilai koefisien regresi untuk variabel jumlah tenaga kerja dalam studi ini yang bernilai negatif, mendukung temuan dari Anggarani (2014). Koefisien regresi dari variabel jumlah tenaga kerja pada model regresi 1 dan 2 bernilai negatif yaitu sekitar 0,2. Artinya, setiap penambahan tenaga kerja sebesar 1%

akan menurunkan pendapatan petani sebesar 0,2%. Hal ini menunjukkan usaha tani di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang mengalami diminishing marginal returns of labor yang disebabkan karena penggunaan tenaga kerja yang tidak efisien.

Sedangkan pengaruh variabel harga jual yang tidak signifikan terhadap pendapatan petani ini diduga karena para petani Desa Nyamat mempunyai kemampuan untuk menetapkan harga jual atau kemampuan penawarannya (bargaining power) terhadap harga jual hasil panennya kalah dibandingkan tengkulak sehingga harga jual akan lebih banyak ditentukan oleh tengkulak.

(34)

20 5. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peranan modal, tenaga kerja, luas lahan, harga jual dan status kepemilikan lahan terhadap pendapatan petani padi di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Adapun metode yang dipilih adalah dengan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara besama-sama, modal (biaya produksi), luas lahan, jumlah tenaga kerja, harga jual padi dan status kepemilikan lahan berpengaruh terhadap pendapatan petani. Tetapi yang secara parsial pengaruhnya signifikan hanya modal (biaya produksi), luas lahan dan status kepemilikan lahan, di mana pengaruh ketiganya positif. Sedangkan jumlah tenaga kerja dan harga jual padi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani. Lebih lanjut studi ini menemukan usaha tani di Desa Nyamat mengalami pengurangan pendapatan terhadap tenaga kerja (diminishing marginal returns of labor).

Sebagai tambahan, studi ini juga menemukan tidak ada petani yang berusia di bawah 40 tahun. Hal ini mengindikasikan tidak terjadi regenerasi di sektor pertanian di Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang atau terdapat kecenderungan generasi muda di Desa Nyamat enggan untuk bekerja di sektor pertanian.

6. Saran

Dari hasil penelitian tersebut peneliti memiliki beberapa saran yang yaitu sebagai berikut. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberi sosialiasi untuk meningkatkan minat generasi muda untuk bertani dan lebih peduli terhadap sektor pertanian mengingat sektor pertanian merupakan sektor terbesar ketiga dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia.

Pengaruh harga jual yang tidak signifikan terhadap pendapatan mengindikasikan kemampuan petani untuk mempengaruhi harga jual padi relatif kecil atau mungkin tidak ada. Karena itu diharapkan petani secara besama-sama melalui kelompok tani dapat menghadapi tengkulak di dalam melakukan tawar- menawar harga jual padi sehingga bargaining power petani menjadi lebih kuat daripada jika melakukannya secara individual.

(35)

21 Hasil penilitian menunjukkan bahwa tenaga kerja bukan saja pengaruhnya terhadap pendapatan petani tidak signifikan, tetapi tidak efisien yang kemungkinan disebabkan karena penggunaan tenaga kerja yang berlebihan. Petani diharapkan juga bisa lebih meningkatkan ketrampilan kerjanya, baik dengan inisiatif sendiri maupun melalui pelatihan yang diselenggarakan dinas pertanian setempat, agar bisa melakukan kegiatan yang tadinya tidak bisa dilakukan sendiri atau membutuhkan tambahan tenaga kerja, Misalnya, sewa traktor tidak perlu diserta sewa tenaga kerja, karena petani bisa mengoperasikan sendiri traktor yang disewa.

(36)

22 Daftar Pustaka

Anggarani, S. (2014). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Padi. Skripsi. Jurusan Ilmu Ekonomi Studi

Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Apriadi, P. (2015). Analisis Pengaruh Modal, Jumlah Hari Kerja, Luas Lahan, Pelatihan Dan Teknologi Terhadap Pendapatan Petani Padi Di

Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi. Skripsi. Fakultas Ekonomi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Jember.

Arimbawa, P. D., & Widanta, B. P. (2016). Pengaruh Luas Lahan, Teknologi, Dan Pelatihan Terhadap Pendapatan Petani Padi Dengan Produktivitas Sebagai Variabel Intervening Di Kecamatan Mengwi. E-Journal Ekonomi Pembangunan, 6(8), 1601-1627.

BPS. (2019). Statistik Indonesia 2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS Kabupaten Semarang. (2019). Kecamatan Tengaran dalam Angka 2019.

Kabupaten Semarang: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Semarang.

Damanik, J. A. (2013). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Padi Di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen.

Economics Development Analysis Journal, 3(1), 212-224.

Didin, S., Yus, R., & Cecep, P. (2016). Analisis Biaya, Pendapatan, dan R/C Usaha Tani Jahe (Zingiber officinale). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh, 3(1), 1-7.

Hidayati, I. W. N. (2017). Analisis Pengaruh Luas Lahan, Jumlah Produksi, dan Biaya Produksi Terhadap Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten (Studi Kasus di Desa Sribit). Skripsi.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Yogyakarta.

Kartasasmita, G. (1996). Pembangunan Untuk Rakyat Memadukan

Pertumbuhan dan Pemerataan. Cetakan Ke-1. PT. Pustaka Cidesindo.

Jakarta.

Diakses dari:

https://issuu.com/ginandjarkartasasmita/docs/pemb_u_rakyat

Lind, D. A., Marchal, W. G., & Wathen, S. A. (2018). Statistical Techniques in Business &. In Economics, Seventeenth Edition. New York: Mc Graw- Hill Education.

Manatar, M. P., Laoh, E. H., & Mandei, J. R. (2014). Pengaruh Status Penguasaan Lahan Terhadap Pendapatan Petani Padi di Desa Tumani, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Agro-SosioEkonomi, 13(1), 55-64.

Mankiw, N. G. (2016). Principles of Economics. Eighth Edition. Boston:

(37)

23 CENGAGE Learning.

Phahlevi, R. (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Padi Sawah Di Kota Padang Panjang. Skripsi. Fakultas Ekonomi Program Studi Pembangunan. Universitas Negeri Padang.

Rosadi, D. (2012). Analisis Ekonometrika & Runtun Waktu Terapan Dengan R. Yogyakarta: Andi.

Soekartawi. (2011). Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Universitas Indonesia.

Sulistyanto, G. D. W. I., Kusrini, N., & Maswadi. (2013). Analisis Kelayakan Usahatani Tanaman Padi Di Kecamatan Sebangki Kabupaten Landak.

Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian, 2(3), 1-9.

Suprapto, E. (2010). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Usahatani Padi Organik Di Kabupaten Sragen. Tesis. Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Suratiyah. (2015). Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penebar Swadaya.

Umar, H. (2004). Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Tesis Bisnis. Sixth Edition. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Wafikah, U. (2018). Analisis Pengaruh Tenaga Kerja Dan Luas Lahan

Terhadap Pendapatan Petani Merica Di Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Skripsi. Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Zahara, Mawardi, R., & Irawati, A. (2017). Analisis Biaya, Pendapatan dan Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pendapatan Usahatani Padi Di Kabupaten Pringsewu. Prosiding Seminar Nasional Agroinovasi Spesifik Lokasi Untuk Ketahanan Pangan Pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Bandar Lampung, 19-20 Oktober 2016. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balai Penelitian dan

Pengembangan Pertanian, Kemetrian Pertanian.

Zaini, A. (2010). Pengaruh Biaya Produksi dan Penerimaan terhadap Pendapatan Petani Padi Sawah di Loa Gagak Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Pembangunan, 7(1), 1-7.

(38)

24 Lampiran A Uji Asumsi Klasik untuk Model Regresi 1

Uji Asumsi Multikolinearitas untuk Model Regresi 1 Tabel 3 Hasil Collinearity Diagnostic untuk Model Regresi 1

Variabel Bebas Colllinearity Statistic Tolerance VIF

ln Modal 0,255 3,927

ln Labor 0,242 4,134

ln Harga 0,934 1,071

Status Lahan 0,917 1,090

Tabel A1 menunjukan semua nilai VIF < 10. Artinya tidak terjadi masalah multikolinearitas pada model regresi 1.

Uji Asumsi Normalitas Error untuk Model Regresi 1 Tabel 4 Hasil Uji Kolmorov-Smirnov untuk Model Regresi 1

Statistik p-value Error 0,112 0,048

Tabel A2 menunjukan p-value > 1% = , artinya error model regresi 1 berdistribusi normal.

Uji Asumsi Homoskedastisitas untuk Model Regresi 1 Tabel 5 Hasil Uji Park untuk Model Regresi 1

Variabel tak Bebas: ln Error12

Variabel Bebas Koefisien Regresi p-value

ln Modal 1,207 0,090*

ln Labor 2,472 0,065*

ln Harga 2,923 0,383

Konstanta 53,311 0,238

Catatan: (1) ln  natural logarithm. (2) *, **, *** berturut- turut artinya signifikan pada   10%, 5% dan 1%.

Pada Tabel A3 menunjukkan p-value dari semua variabel bebas yang bersifat kuantitatif lebih dari 5% = α. Artinya tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi 1.

(39)

25 Lampiran B Uji Asumsi Klasik untuk Model Regresi 2

Uji Asumsi Multikolinearitas untuk Model Regresi 2 Tabel 6 Hasil Collinearity Diagnostic untuk Model Regresi 2

Variabel Bebas Colllinearity Statistic Tolerance VIF

ln Luas 0,243 4,108

ln Labor 0,232 4,306

ln Harga 0,936 1,068

Status Lahan 0,918 1,090

Tabel B1 menunjukkan semua nilai VIF < 10,00. Artinya tidak terjadi multikolinearitas pada model regresi 2.

Uji Asumsi Normalitas Error untuk Model Regresi 2 Tabel 7 Hasil Kolmorov-Smirnov untuk Model Regresi 2

Statistik p-value Error 0,114 0,200

Tabel B2 menunjukan p-value > 10% = α, artinya error model regresi 2 berdistrubusi normal.

Uji Asumsi Homoskedastisitas untuk Model Regresi 2 Tabel 8 Hasil Uji Park untuk Regresi Model 2

Variabel tak Bebas: Ln Error22

Variabel Bebas Koefisien Regresi p-value

ln Luas 0,316 0,782

ln Labor 1,668 0,432

ln Harga 4,439 0,398

Konstanta 60,572 0,379

Catatan: (1) ln  natural logarithm. (2) *, **, *** berturut- turut artinya signifikan pada   10%, 5% dan 1%.

Pada Tabel B3 menunjukan p-value dari semua variabel bebas yang bersifat kuantitatif lebih dari 10%. Artinya tidak terjadi masalah heterokedastisitas pada model regresi 2.

Referensi

Dokumen terkait

Rusdiah Nasution : Pengaruh Modal Kerja, Luas Lahan, Dan Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Usahatani Nenas (Studi Kasus : Desa Purba Tua Baru, Kec.. USU Repository

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda, yaitu untuk mengetahui pengaruh tenaga kerja dan luas lahan terhadap produksi padi di

Hasil penelitian secara simultan variabel modal, tenaga kerja, dan luas lahan berpengaruh positif terhadap pendapatan beras petani di Desa Brangkal Karanganom, Klaten,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modal, luas lahan, dan tenaga kerja secara simultan terhadap pendapatan petani program Indeks Pertanaman Padi 400 di Kelompok

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini yang berjudul “PENGARUH MODAL, TENAGA KERJA, DAN LUAS LAHAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI TEBU (Survey Pada Masyarakat

Penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh luas lahan dan tenaga kerja terhadap produksi kopi di indonesia” yang disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja karet dan biaya tenaga kerja kelapa sawit secara simultan dan parsial berpengaruh nyata terhadap konversi lahan karet

Terdapat perbedaan yang nyata antara biaya produksi dalam pengelolaan berdasarkan status kepemilikan lahan di Desa Sukamandi Hilir Kecamatan Pagar Merbau Kebupaten Deli Serdang..