Konsep Perancangan Akustik Ruang Auditorium pada Gedung Convention &
Exhibition Center di Banda Aceh
Cut Nissa Amalia Putri1, Irin Caisarina2
1Mahasiswa Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
2Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Email: [email protected]
Abstract
Koetaradja Convention Center is a building that accomodates meetings, performances and exhibitions in a large room and involves a lot of audience, planned to be built in Banda Aceh. Auditorium is a place used to hold public meetings, performances, and so forth. Acoustic Design is a method to design a closed room with great acoustic systems in order to produce the best sound quality which will be comfortable to heard and enjoyed by the audience. Hence, any kind of interfere and disturbing sounds can be avoided. Acoustic Design will be applicated in the auditorium in order to generate a place that could accommodate all activities with good acoustic systems.
Keywords: Acoustic, Auditorium, Convention center
Abstrak
Gedung Koetaradja Convention Center merupakan sebuah perancangan gedung yang mewadahi kegiatan pertemuan, pertunjukan dan pameran dalam sebuah ruangan besar dan melibatkan banyak orang yang direncanakan akan di bangun di Batoh, Banda Aceh. Auditorium merupakan ruangan besar yang digunakan untuk mengadakan berbagai acara konvensi seperti pertemuan umum, pertunjukan dan lain sebagainya. Desain akustik merupakan sebuah metode yang digunakan untuk merancang sebuah ruangan tertutup dengan pengolahan tata suara yang baik, agar dapat menghasilkan kualitas suara yang nyaman untuk didengar, seta suara-suara yang mengganggu pendengaran seperti gema dan dengung dapat dihindari. Penerapan desain akustik pada auditorium diharapkan mampu menghasilkan sebuah ruangan auditorium yang dapat mengakomodir segala kegiatan konvensi dengan tata akustik yang baik.
Kata kunci: Akustik, Auditorium, Gedung Konvensi
1. Pendahuluan
Convention Center merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan berbagai jenis pertemuan (Meeting, Incentive & Conference) serta pameran (Exhibition) yang dilakukan oleh sekelompok orang, bertujuan untuk membahas berbagai masalah dengan topik yang beragam, seperti pendidikan, bisnis atau komersil, konferensi nasional maupun internasional, ataupun pergelaran eksibisi yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi/promosi.
Convention Center ini pada perencanaannya akan berlokasi di Jl. Ir. Mohd. Hasan, Batoh, Banda Aceh, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.1, gambar 1.2, dan gambar 1.3.
Gambar 1 Lokasi perancangan
Gambar 2 Koetaradja convention center
Gambar 3 Koetaradja convention center
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Pengertian convention center
Convention adalah pertemuan sekelompok orang yang bertujuan untuk membahas, bertukar pikiran, bertukar pendapat ataupun informasi mengenai suatu hal yang menjadi perhatian bersama [5]. Kegiatan konvensi diartikan sebagai suatu kegiatan pertemuan skala kecil maupun besar untuk membahas isu-isu terkait dengan kepentingan bersama ataupun pertukaran informasi
Peta Pr o v i n si A c e h
I nd one si a
Peta Ko t a Ba n d a A c e h
14 tentang berbagai hal [4]. Sementara pengertian center
adalah core atau inti [3].
Dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Convention center merupakan sebuah bangunan yang akan difungsikan sebagai pusat kegiatan pertemuan (meeting, incentive & conference) serta pameran (exhibition) yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bertujuan untuk membahas berbagai masalah dengan berbagai topik untuk menyelenggarakan acara pertemuan yang bersifat pendidikan, bisnis atau komersil, perhelatan peragaan dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi atau promosi.
Berikut ini adalah jenis serta fasilitas yang disediakan dalam sebuah gedung konvensi [5].
a. Ruang konvensi utama/auditorium, umumnya berjumlah 1 atau 2 buah berkapasitas 1000-3000 kursi.
b. Konvensi sedang (ballroom), berjumlah 2 atau 3 buah berkapasitas 200-500 kursi;
c. Konvensi kecil, berjumlah 4 hingga 10 buah berkapasitas 20-50 kursi;
d. Ruang pameran atau hall eksibisi;
e. Food & beverages area atau pelayanan makanan untuk peserta pertemuan;
f. Ruang pers & pelayanan sekretariat;
g. Pelayanan penerjemah bahasa, pelayanan filming dan publikasi.
2.2 Tata akustik ruang
Penataan akustik sebuah ruangan merupakan sistem tata suara yang bertujuan untuk menghasilkan kualitas suara yang dapat dinikmati secara nyaman oleh semua pengguna di ruangan tersebut. Sistem tata suara yang baik merupakan indikator penting untuk menentukan keberhasilan suatu desain. Untuk merancang ruang auditorium yang baik sebaiknya harus mengikuti kaidah- kaidah berikut: memiliki kekerasan suara (loudness) yang cukup, bentukan ruang yang tepat, pendistribusian bunyi yang merata kepada seluruh penonton, serta ruangan harus terhindar dari cacat akustik yang mungkin terjadi [1].
2.2.1 Loudness
Terdapat beberapa persyaratan yang harus diperhatikan untuk memenuhi standar kekerasan yang optimal, yaitu: memperpendek jarak penonton dari sumber suara; menaikkan sumber bunyi; memiringkan lantai; ruangan harus dilapisi dengan lapisan pemantul suara; luas lantai sebaiknya harus seimbang dengan volume gedung ruang pertunjukkan; menghindari pemantul bunyi paralel yang saling berhadapan; dan menempatkan kursi penonton di area yang menguntungkan. Loudness sebaiknya tidak boleh sampai lebih dari 40 Db (desibel) karena akan menyebabkan bising [2].
2.2.2 Efisiensi jarak penonton dan sumber bunyi Penempatan kursi penonton yang paling optimal agar mendapatkan kepuasan dalam mendengar dalam melihat pertunjukkan adalah sebagai berikut: No seat
should be more than 20 m from the stage front if the performance is to be seen and heard clearly.
Jarak kursi penonton dengan panggung maksimal ialah 20 meter, agar performer dapat terlihat dan terdengar dengan jelas. Untuk jenis pementasan orkestra/
konser, toleransi jarak penonton dengan panggung maksimum adalaha 40 meter [6].
2.2.3 Sumber bunyi
Agar penyebaran suara dapat tersebar secara merata, ruangan sebaiknya harus dikelilingi oleh lapisan- lapisan yang dapat memantulkan bunyi. Lapisan pemantul bunyi ini dapat dipasang di berbagai area, baik itu di lantai, dinding, ataupun diatas plafon ruangan.
2.2.4 Penempatan kursi penonton
Penempatan kursi penonton secara bertingkat, melingkari panggung (setengah lingkaran) dapat menjadi pilihan menguntungkan agar penonton dapat menerima bunyi dengan optimal serta dapat melihat aksi panggung secara efektif [6].
2.2.5 Pemilihan bentuk ruang yang tepat
Kualitas bunyi juga dapat dipengaruhi oleh bentukan ruangan [6]. Bentuk-bentuk yang biasa diterapkan pada sebuah ruangan auditorium adalah sebagai berikut:
a. Bentuk ruang 4 persegi (rectangular shape).
Bentuk auditorium jenis ini sangat lazim digunakan di berbagai gedung konvensi. Keuntungannya.
ialahbentuk ruang ini dapat menghasilkan suara yang seragam, sehingga tidak menghasilkan gema.
Kelemahannya, jarak penyaji dan kursi penonton bagian paling belakang akan menjadi sangat jauh, sehingga menyebabkan penonton yang duduk di area ini tidak dapat mendengar dan melihat secara efektif [6].
b. Bentuk kipas (fan shape). Bentuk kipas dapat menampung kursi penonton dalam jumlah banyak dengan sudut pandang yang optimal. Namun, bentuk ini memiliki kelemahan dari segi akustik.
Bentuk dinding bagian samping akan melebar ke belakang sehingga memungkinkan terjadinya gema sehingga bunyi yang dihasilkan menjadi tidak seragam[6].
c. Bentuk tapal kuda (horse-shoe shape). Bentuk ruangan jenis ini dapat menyerap bunyi secara efisien, karena jarak penonton dengan panggung menjadi lebih dekat. Kelemahan dari bentuk ini ialah, bagian lengkung pada area penonton menyebabkan suara yang diserap akan menjadi terlalu tinggi sehingga bentuk ini sebaiknya tidak digunakan karena bunyi yang dihasilkan tidak terdistribusi secara merata [2].
d. Bentuk hexagonal (hexagonal shape). Bentuk ruangan jenis ini dapat mendekatkan jarak kursi penonton dengan panggung, karena area dinding ruangan dibuat bersegi-segi sehingga dapat menghasilkan pemantulan bunyi yang efektif.
Energi bunyi juga dapat didistribusikan secara merata ke seluruh ruangan.
2.3 Bebas dari cacat akustik
Cacat akustik ialah kondisi dimana ruang auditorium tidak didesain sesuai dengan kaidah tata akustik, sehingga bentuk ruangan ataupun pemilihan material yang tidak tepat menyebabkan terjadinya permasalahan akustik yang dapat mengganggu keyamanan pengguna gedung. Berikut ini ialah jenis- jenis cacat akustik [2].
2.3.1 Gema (echo)
Gema merupakan bunyi yang dipantulkan oleh suatu permukaan dan mengalami penundaan secara berulang-ulang sehingga bunyi yang dihasilkan menjadi tidak seragam. Gema umumnya terjadi pada jenis ruangan dengan pelapis dinding atau langit-langit yang datar sehingga tidak dapat dipantulkan secara merata.
2.3.2 Pemantulan berkepanjangan
Merupakan cacat akustik yang mirip dengan gema, tetapi penundaan berulangnya terjadi agak lebih singkat. Gaung merupakan cacat akustik yang terdiri atas gema-gema kecil yang berulang-ulang secara cepat.
Ketika permukaan ruang berdaya pantul tinggi, bunyi akan terus memantul secara berlebihan sehingga mengakibatkan bunyi tidak dapat didengar dengan jelas.
2.3.3 Pemusatan bunyi
Pemusatan bunyi merupakan cacat akustik yang disebabkan oleh pemantulan bunyi pada permukaan- permukaan yang berbentuk lengkung. Intensitas bunyi pada daerah ini menajdi sangat tinggi dan merugikan daerah dengar karena menyebabkan distribusi bunyi pada ruangan tidak dapat merata.
2.3.4 Ruang gandeng
Ruang gandeng merupakan merupakan cacat akustik yang terjadi bila suatu ruang pertunjukan berhubungan dengan ruangan lain, maka kondisi tersebut disebut ruang gandeng. Jika salah satu pintu atau jendela ruangan terbuka, maka bunyi dari luar akan masuk kedalam ruang dan menghasilkan bunyi dengung yang dapat mengganggu penonton yang duduk di area di dekat pintu tersebut. Agar ruang gandeng tidak terjadi, ruang auditorium sebaiknya tidak didesain berhubungan dengan ruangan lain.
2.3.5 Distorsi
Merupakan perubahan kualitas bunyi yang terjadi dikarenakan permukaan-permukaan dinding menyerap bunyi terlalu banyak, sehingga menghasilkan suara yang buruk.
2.4 Jenis bunyi pada ruang tertutup
Jenis-jenis bunyi pada ruang tertutup sangat bergantung pada sifat akustiknya[1], diantaranya adalah:
2.4.1 Pemantulan bunyi
Pemantulan bunyi dapat terjadi karena bentuk ruang yang bersegi, ataupun bahan pelapis permukaan ruang yang bersifat memantulkan bunyi. Permukaan pemantul yang cembung akan menyebarkan bunyi,
sedangkan bentuk cekung/lengkung akan menyebabkan pemantulan bunyi yang terpusat pada satu titik [2].
2.4.2 Penyerapan bunyi
Penyerapan bunyi ialah suatu kondisi dimana bunyi mengenai permukaan yang lembut atau berpori.
Permukaan dinding sangat disarankan untuk menggunakan material yang dapat menyerap bunyi, seperti kain, tirai, ataupun karpet. Material yang berpori dapat diaplikasikan pada permukaan dinding, lantai, furnitur, dan lain-lain [2].
2.4.3 Difusi bunyi
Difusi bunyi ialah bunyi yang disebar ke seluruh ruangan, atau disalurkan melalui pipa yang berada di dalam ruangan tertutup.
2.4.4 Difraksi bunyi (pembelokan bunyi)
Difraksi bunyi merupakan kondisi dimana gelombang bunyi dibelokkan karena adanya penghalang seperti sudut (corner), kolom, tembok, dan lain-lain.
2.5 Rancangan akustik pada desain interior
Perancangan akustik di dalam ruangan bertujuan untuk meningkatkan kualitas bunyi pada ruangan.Perancangan akustik interior ini dibutuhkan untuk ruangan yang memang membutuhkan perhatian lebih pada aspek akustik interiornya, seperti ruang konvensi, ruang pertunjukan, teater, dan lain-lain. Penyelesaian akustik yang disarankan ialah dengan menggunakan elemen-elemen ruangan yang dapat memantulkan buyi, menyerap bunyi, ataupun keduanya. Berikut adalah jenis-jenis material yang dapat digunakan untuk menghasilkan kualitas suara yang optimal di dalam ruang.
2.5.1 Penggunaan bahan penyerap suara
Untuk menghasilkan kualitas suara yang baik, maka harus dilakukan pemilihan bahan penyerap bunyi, yang dapat diaplikasikan pada dinding, langit-langit maupun lantai gedung pertunjukan [1]. Berikut adalah bahan-bahan yang dapat menyerap bunyi/
mengendalikan bunyi di dalam ruang yang bising, diantaranya adalah:
Bahan berpori Merupakan jenis bahan yang memiliki pori penyerap yang dapat mengubah energi bunyi yang datang menjadi energi panas sehingga energi sisa dari hasil penyerapan akan dipantulkan oleh permukaan bahan. Contoh materialnya adalah papan serat (fiber board), plesteran lembut (soft plasters), mineral wools, serat silikat aluminium, dan lain-lain.
a. Penyerap panel
Merupakan jenis bahan kedap suara yang dipasang pada lapisan padat dan dipisahkan oleh suatu rongga. Penyerap panel merupakan penyerap bunyi yang efisien, karena dengung yang dihasilkan akan diserap secara merata oleh permukaan panel.
b. Karpet
Karpet ialah material penutup lantai yang memiliki karakteristik dapat mengurangi bising yang terdapat dalam ruang, seperti misalnya bunyi langkah kaki, pergeseran perabot, dan lain-lain. Selain digunakan
16 digunakan sebagai bahan pelapis dinding. Semakin
tebal bahannya, maka semakin besar pula daya serap bisingnya.
3. Penerapan konsep akustik auditorium pada desain gedung Koetaradja
Convention &Exhibition Center
3.1 Perencanaan desain auditorium
Auditorium yang di rancang pada gedung Koetaradja Convention & Exhibition Center ialah seluas 3000 meter persegi dengan kapasitas 3500 kursi. Gambar 3.1 menunjukkan bentuk auditorium pada gedung, yaitu berbentuk persegi panjang yang dikombinasikan dengan bentuk hexagonal agar dapat memantulkan bunyi secara merata.
Gambar 4 Bentuk perancangan auditorium
Jenis kegiatan yang akan diselenggarakan di auditorium ini dapat berupa acara pertunjukan, teater, konser, dapat pula digunakan untuk acara-acara konvensi seperti seminar, konferensi skala besar, dan lain-lain.
Auditorium ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti fasilitas perjamuan, fasilitas servis, fasilitas VIP, fasilitas kesehatan dan toilet. Sirkulasi auditorium ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu dibagian depan, dibagian tengah, dan di bagian belakang dengan total pintu keluar berjumlah 20 buah. Bentuk ruang auditorium yang dipilih ialah bentuk persegi panjang dan kipas pada bagian arena dan panggung. Bentuk ini dipilih agar dapat memuat kapasitas kursi lebih banyak, serta bentuk kipas dipilih pada bagian arena dan panggung agar penglihatan pengunjung dapat lebih terpusat. Kursi penonton disusun mengikuti bentuk panggung untuk meningkatkan efektivitas penglihatan penonton terhadap panggung.
3.2 Elemen interior auditorium pada akustik
Perancangan elemen interior untuk menghasilkan kualitas bunyi yang baik pada auditorium ini ialah dengan mengaplikasikan material penyerap/pemantul bunyi pada bagian-bagian berikut:3.2.1 Lantai
Lantai merupakan bagian datar pada bagian interior auditorium tempat dimana kaki berpijak, tempat menyangga segala aktivitas dan furnitur dalam suatu ruang. Lantai juga dapat berfungsi sebagai unsur dekorasi. Untuk menghasilkan tata akustik yang baik, jenis material penutup lantai yang dapat pula berfungsi sebagai peredam suara ialah bahan lembut berupa karpet ataupun permadani. Material karpet selain berfungsi sebagai elemen akustik, juga dapat memberikan kesan hangat pada interior auditorium.
Selain material penutupnya, struktur lantai sendiri juga dirancang menggunakan sistem raised floor (gambar 3.2). Sistem ini menggunakan kayu atau besi untuk mendudukkan papan lantai dengan menggunakan rangka. Rangka-rangka ini nantinya akan diisi dengan bahan penyerap suara seperti glasswool (gambar 3.3) yang dapat menghambat perambatan bunyi keluar ruangan. Di bagian rangka ini juga dapat diletakkan berbagai macam kabel atau perpipaan yang berkaitan dengan utilitas bangunan. Sementara pada bagian lantai juga akan dilapisi karpet sebagai material yang dapat meredam suara (gambar 3.4).
Gambar 5 Raised floor Gambar 6 Glasswool
Gambar 7 Penerapan material karpet pada desain
3.2.2 Dinding
Dinding merupakan komponen struktural/non- struktural yang memiliki tekstur dan karakteristik sesuai fungsi. Materialnya dapat terbuat dari beton, gypsum, kaca, dan lain-lain. Untuk mendesain dinding auditorium agar dapat memantulkan suara dengan baik, maka dibagian belakang panggung diaplikasikan material penyerap suara seperti multipleks dan panel acourete board panel (gambar 3.5). Hal ini dilakukan untuk mengurangi gema yang dapat terjadi akibat suara yang ditimbulkan oleh sound system.
Gambar 8 Acourete board panel
Sedangkan pada bagian kiri dan kanan area penonton diletakkan material penyerap suara acourete fiber setebal 10 mm. acourete fiber ini dipilih karena kemampuannya yang dapat menyerap suara 10 kali lebih besar dibandingkan dengan bahan penyerap suara lain, disamping ketebalannya yang relatif tipis. Acourete fiber akan dipasang seperti pada gambar 3.6.
Gambar 9 Pemasangan acourete fiber Keterangan gambar:
1. Dinding
2. Acourete mat (rangka) 3. Rangka hollow / kayu 4. Acourete fiber 5. Acourete matfull 6. Gypsum
Gambar 10 Penerapan pada desain 1
Gambar 11 Penerapan pada desain 2
Bagian belakang panggung dilapisi dengan acourete board panel, dinding di bagian dinding kiri dan kanan dilapisi dengan lapisan acourete fiber dan gypsum yang terbuat dari kalsium sulfat dihidrat. Pemasangan dinding dengan sistem ini akan mencegah terjadinya perambatan bunyi ke ruangan lain.
3.2.3 Plafon (langit-langit)
Unsur pembentuk ruang yang berperan penting dalam tata akustik interior selanjutnya adalah plafon atau langit-langit ruangan. Plafon merupakan salah satu unsur pembatas ruang berkarakteristik khusus yang dapat menentukan jenis kegiatan yang berlangsung pada ruangan tersebut. Untuk jenis ruang auditorium, plafon berfungsi sebagai dekorasi serta peredam suara yang efektif, ditunjang dengan peredam suara yang dipasang pada bagian dinding dan lantai.
Auditorium ini dirancang agar berfungsi sebagai pemecah suara dengan ketinggian langit-langit yang semakin menurun dan miring ke arah panggung, agar bunyi dapat memantul secara merata sehingga dapat mengurangi terjadinya dengung (reverberation) ataupun gema. Desain langit-langit harus dibuat bersegi-segi agar dapat memantulkan suara, sehingga bunyi yang dihasilkan oleh sound system akan tersebar merata.
Gambar 12 Bentuk plafon auditorium yang baik
Gambar 13 penerapan plafon pada auditorium
Gambar 14 Desain plafon pada auditorium 1
Gambar 15 Desain plafon pada auditorium 2 Untuk menghindari cacat akustik yang mungkin terjadi karena ruang gandeng, maka ruang auditorium di desain tidak berhubungan dengan ruangan lain agar bunyi dari luar tidak masuk ke dalam ruang. Solusi selanjutnya adalah tidak mendekatkan kursi penonton dengan pintu keluar, agar penonton tidak terganggu dengan bunyi-bunyian yang datang dari luar ruangan.
4. Kesimpulan
Berdasarkan teori dan konsep mengenai tata akustik yang sudah dijabarkan dapat disimpulkan bahwa untuk memperolah tata akustik yang baik, ruang aeuditorium harus didukung oleh berbagai aspek, diantaranya adalah:
pemilihan betuk auditorium yang efektif; penataan bangku penonton yang disesuaikan terhadap daya dengar dan daya lihat penonton dengan panggung; material yang digunakan pada elemen pembentuk ruang seperti lantai, dinding dan langit-langit harus mampu memantul ataupun menyerap suara sehingga tidak terjadi gema, dengung, ataupun perambatan suara ke ruang lain;
18 pemasangan material yang sesuai dengan kaidah tata
akustik; serta didukung oleh sound system yang sesuai dengan jenis ruangan serta berkualitas baik. Apabila sound system yang digunakan sudah baik namun aspek tata akustiknya buruk ataupun sebaliknya, maka suara yang dihasilkan akan menjadi buruk pula sehingga akan menimbulkan cacat akustik. Penataan tata akustik sangat diperlukan untuk menghasilkan desain auditorium dengan tata akustik yang dapat memenuhi kenyamanan pengguna ruangan.
Daftar Pustaka
[1] Ambarwati, D.R.S. (2010). Tinjauan Akustik Perancangan Interior Gedung Pertunjukan.
Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
[2] Doelle, L.E. (1990). Akustik Lingkungan. Jakarta:
Erlangga.
[3] Harris, Cyril M. (1975). Dictionary of Architecture and Construction. Unites States of America:
McGraw-Hill, Inc.
[4] Keputusan Dirjen Pariwisata: Kep 06/U/IV/1992 Tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan pada Pasal 6 tentang industri MICE.
[5] Lawson, F. (1981). Convention, and Exhibition Facilities. London: The Architectural Press Ltd.
[6] Mills, E.D. (1976). Planning Building for Administration, Entertainment and Recreation. New York: Krieger Publishing Company.