• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Kolektor Surya Tipe Plat Datar untuk Pemanas Air Rumah Tangga

N/A
N/A
Ali Usman

Academic year: 2024

Membagikan " Perancangan Kolektor Surya Tipe Plat Datar untuk Pemanas Air Rumah Tangga"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

ANALISIS KONVERSI ENERGI TERBARUKAN

PERANCANGAN KOLEKTOR SURYA TIPE PLAT DATAR UNTUK PEMANAS AIR RUMAH TANGGA

Disusun oleh:

Ali Usman (F1501231002)

Dosen Pengampu : Dr. Ir. Dyah Wulandani, M.Si

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

SEKOLAH PASCASARJANA IPB UNIVERSITY

BOGOR 2024

(2)

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Energi surya merupakan salah satu sumber energi alam (Widayana 2012) yang sedang dikembangkan secara luas di berbagai negara (Handayani dan Ariyanti 2012), khususnya di tempat-tempat yang memiliki intensitas cahaya matahari tinggi. Indonesia, sebagai salah satu negara yang terus disinari matahari sepanjang tahun, memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi surya, terutama dalam menghasilkan listrik (Ramadhan et al. 2016). Keunggulan utama energi surya adalah ramah lingkungan, tanpa mencemari lingkungan sekitarnya dalam penggunaannya (S dan Dinahkandy 2018). Dengan demikian, pengembangan energi surya untuk berbagai keperluan di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.

Masalah energi saat ini telah menjadi fokus yang memerlukan partisipasi semua elemen masyarakat. Upaya-upaya dilakukan untuk mencari energi alternatif guna mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi yang tidak terbarukan. Salah satu pilihan yang menjanjikan adalah energi surya, yang berasal dari radiasi matahari. Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan energi surya secara langsung, pengembangan kolektor yang berfungsi sebagai pengumpul, penyerap, dan pengonversi energi radiasi menjadi panas menjadi salah satu solusi yang bisa diterapkan.

Pemanfaatan kolektor surya, salah satunya untuk pemanas air rumah tangga, melibatkan komponen-komponen khusus. Biasanya, kolektor surya terdiri dari plat penyerap yang memiliki konduktivitas termal yang baik. Plat penyerap ini terhubung dengan pipa-pipa yang mengalirkan fluida, serta satu atau lebih penutup tembus cahaya di bagian atasnya.

Saat sinar matahari menembus penutup transparan, energi radiasi yang datang diubah menjadi panas oleh plat penyerap yang terletak di dasar kolektor. Sementara itu, sisi kolektor yang tidak terkena sinar matahari diberi lapisan isolasi untuk mempertahankan panas. Panas yang diserap oleh plat penyerap kemudian dikonduksikan ke pipa-pipa yang mengalirkan fluida (Rianda et al. 2017). Dengan demikian, energi matahari diubah menjadi energi panas yang dapat digunakan untuk memanaskan air dalam sistem pemanas air rumah tangga.

(3)

Salah satu parameter kunci yang memengaruhi kinerja kolektor surya pemanas air adalah absorber yang digunakannya. Pada kolektor surya dengan desain pipa, proses pengelasan untuk menghubungkan pipa dan pelat absorber dapat menyebabkan tahanan termal, yang dapat menghambat perpindahan panas konveksi dari pelat absorber ke aliran air dalam pipa.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan penelitian lebih lanjut terkait pengembangan kolektor surya pemanas air yang tidak memerlukan pipa sebagai media pengaliran air. Pendekatan ini bertujuan untuk memungkinkan panas yang diserap oleh pelat absorber langsung ditransfer ke fluida yang mengalir di bawahnya, tanpa adanya hambatan yang disebabkan oleh proses pengelasan pipa.

Dengan demikian, diperlukan analisis perancangan kolektor surya yang efisien untuk pemanas air rumah tangga, dalam hal ini menggunakan kolektor surya tipe plat datar.

1.2 Tujuan

Tujuan utama dari karya tulis ini adalah untuk merancang desain kolektor surya dengan mempertimbangkan variasi bahan yang digunakan. Selain itu, karya tulis ini juga bertujuan untuk melakukan perhitungan yang akurat terkait kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk pemanasan air rumah tangga. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menyajikan solusi yang efektif dalam mengoptimalkan penggunaan energi surya untuk keperluan domestik.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Energi Matahari

Matahari merupakan bintang yang terdekat dari bumi dan menjadi sumber energi yang terbaharukan, gratis, dan selalu tersedia sepanjang masa. Diameter dari matahari yaitu 1,39 x 109 km dan jarak matahari ke bumi yaitu 1,5 x 1011 km (Ginting 2013). Temperatur permukaan dan inti matahari disebutkan memiliki nilai masing-masing sebesar 5.760 K dan rentang 8.000.000 hingga 40.000.000 K (Rusmaryadi et al. 2018).

Proses reaksi fusi termo nuklir yang terjadi di inti matahari menghasilkan radiasi sinar elektromagnetik dengan berbagai spektrum frekuensi tinggi. Menurut

(4)

Ginting (2013), gelombang elektromagnetik terbentuk dari arus bolak-balik yang bergerak cepat dan gelombang magnet yang menghasilkan foton.

Radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi diketahui memiliki nilai konstanta antara 1308 W/m2 hingga 1398 W/m2 (Ginting 2013). Dari total radiasi ini, sekitar 175 Watt x 105 Watt yang sampai ke Bumi, di mana kurang dari 30%

akan dipantulkan kembali ke ruang angkasa, sementara 70% sisanya diserap oleh daratan, awan, dan lautan (Siregar et al. 2015).

Menurut Nugroho et al. (2014), radiasi matahari memiliki tiga bentuk utama:

radiasi langsung, yang mencapai permukaan bumi secara langsung tanpa pembiasan atau pemantulan yang signifikan; radiasi tersebar, yang mencapai permukaan bumi setelah mengalami pembiasan atau pemantulan oleh partikel-partikel seperti debu, asap, dan uap air di atmosfer; dan radiasi pantul, yang dipantulkan kembali dari permukaan bumi karena reflektansi dari permukaan yang berdekatan.

Energi surya merupakan hasil dari proses konversi energi panas yang dipancarkan oleh matahari menjadi energi listrik. Awal pemanfaatan energi surya tercatat pada tahun 1839 oleh A.C. Becquerel. Pada masa itu, konversi radiasi matahari dilakukan dengan menggunakan kristal silikon, namun pengembangan teknologi ini terbatas hingga tahun 1955. Pada tahun 1958, upaya pengembangan energi surya kembali dilakukan dengan metode baru menggunakan sel silikon, menandai langkah penting dalam evolusi pemanfaatan energi matahari (Yandri 2012).

Gambar 1. Pemanfaatan Energi Surya Menjadi Energi Listrik (Sumber:

(Ramadhan et al. 2016).

(5)

Proses pembentukan arus listrik terjadi pada bahan semikonduktor yang biasa disebut fotovoltaik atau sel surya. Bagian inti dari panel surya adalah bagian semikonduktor, yang terdiri dari dua jenis material semikonduktor: tipe-n dan tipe- p. Material semikonduktor tipe-n umumnya menggunakan silikon tipe-n, CdS, dan sejenisnya, sedangkan material semikonduktor tipe-p menggunakan bahan seperti Cu (ln,Ga) (S,Se)2 (CIGS), silikon amorf, dan CdTe (kadmium telluride). Ketika kedua jenis semikonduktor ini disusun dengan tipe-p di atas dan tipe-n di bawah, terbentuklah junction p-n. Junction p-n ini menjadi kunci utama dalam pembentukan energi listrik melalui proses fotovoltaik (Aryza et al., 2017).

Gambar 2. Kolektor Pelat Datar (Sumber: Vinubhai et al. 2014).

2.2 Jenis-Jenis Perpindahan Panas

Perpindahan panas adalah transfer energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu antara dua benda atau sistem. Proses ini dapat terjadi melalui tiga mekanisme utama: konduksi, konveksi, dan radiasi. Dalam konduksi, panas ditransfer melalui kontak langsung antara partikel-partikel dalam material. Konveksi terjadi ketika perpindahan panas terjadi melalui aliran massa fluida yang membawa energi termal.

Sedangkan radiasi adalah transfer energi melalui gelombang elektromagnetik yang tidak memerlukan medium material (Rachmawati dan Kamiran 2015).

Perpindahan energi dari satu daerah ke daerah lainnya terjadi karena adanya perbedaan suhu, baik dalam satu medium maupun antara medium yang berbeda.

(6)

Proses ini disebut sebagai perpindahan panas. Ketika suatu area atau benda memiliki suhu yang lebih tinggi daripada yang lain, energi termal akan mengalir dari area dengan suhu yang lebih tinggi ke area dengan suhu yang lebih rendah. Hal ini terjadi sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan termal di antara kedua daerah atau medium tersebut (Rachmawati dan Kamiran 2015).

Konduksi:

Perpindahan kalor secara konduksi atau hantaran adalah transfer kalor melalui suatu zat tanpa perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Dalam hal ini, energi termal berpindah dari satu molekul ke molekul di sebelahnya melalui kontak langsung. Berdasarkan kemampuan mereka dalam menghantarkan kalor, benda- benda dapat dibedakan menjadi tiga kategori: konduktor, isolator, dan semikonduktor.

Perpindahan kalor melalui konduksi dapat dijelaskan menggunakan Hukum Fourier untuk konduksi, yang menyatakan bahwa laju perpindahan kalor q melalui suatu material secara konduksi berbanding lurus dengan luas penampang A, perbedaan suhu ΔT, dan invers proporsional dengan ketebalan L dari material tersebut, serta koefisien konduktivitas termal k dari material tersebut. Menurut (Cengel 2002) persamaan Fourier untuk konduksi dapat diekspresikan sebagai berikut:

q = -kA𝑑𝑡

𝑑𝑥

Keterangan:

q = jumlah kalor yang dipindahkan (W) K = konduktivitas termal bahan (W/m℃) A = luas bidang pemanasan (m2)

dt/dx = gradien suhu (℃/𝑚)

Konveksi:

Konveksi merupakan perpindahan panas yang terjadi ketika fluida (baik cairan maupun gas) mengalir di sekitar permukaan suatu benda padat. Menurut Rachmawati dan Kamiran (2015) rumus untuk perpindahan panas yang terjadi

(7)

antara permukaan benda padat dan fluida yang bergerak di sekelilingnya dapat dinyatakan dengan persamaan Newton's Law of Cooling:

Qconv = hA (T- T)

Keterangan:

q = laju perpindahan panas (W)

h = koefisien perpindahan panas konveksi (W/m2/℃) A = luas penampang dari material (m2)

ΔT = selisih suhu antara dua ujung material (℃)

Radiasi

Perpindahan panas melalui radiasi adalah proses di mana energi panas ditransfer melalui gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh benda pada suhu tertentu. Ini merupakan metode transfer panas yang berbeda dari konduksi atau konveksi, yang melibatkan kontak langsung antara benda atau gerakan massa fluida. Semua benda yang memiliki suhu di atas nol mutlak akan memancarkan radiasi elektromagnetik, dengan panjang gelombang radiasi tergantung pada suhu benda tersebut.

Radiasi panas tidak memerlukan medium untuk melewatinya dan dapat terjadi bahkan di ruang hampa udara, menjadikannya metode transfer panas yang efektif di berbagai lingkungan, termasuk ruang antarbintang. Dengan demikian, perpindahan panas melalui radiasi dapat dijelaskan sebagai proses di mana energi panas ditransfer melalui gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh benda pada suhu tertentu, tanpa keterlibatan medium material untuk ditransfer.

2.3 Cara Kerja Pemanas Air Tenaga Surya

Pemanas air tenaga surya adalah sistem pemanas air yang memanfaatkan energi matahari untuk memanaskan air. Pemanas ini telah menjadi pilihan umum di banyak rumah karena efisiensinya yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemanas air konvensional yang mengandalkan listrik. Dengan mengandalkan matahari sebagai sumber energi, pemanas air tenaga surya membantu mengurangi konsumsi energi listrik, serta membantu dalam upaya penghematan energi dan pengurangan emisi karbon (Junianto dan Riyadi 2019).

(8)

Gambar 3. Sistem termosifon (Sumber: Vinubhai et al. 2014).

Alat pemanas air tenaga surya ini berfungsi untuk meningkatkan temperatur air dengan memanfaatkan energi panas matahari. Proses kerjanya dimulai ketika sinar matahari memasuki kotak kolektor. Di dalam kotak kolektor, energi radiasi matahari diserap oleh kolektor, yang memanaskan plat kolektor, susunan pipa, dan udara di dalamnya, menciptakan efek rumah kaca. Seiring temperatur di dalam kotak meningkat, panas yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan air yang mengalir melalui pipa-pipa di atas plat kolektor. Air yang dipanaskan kemudian dialirkan ke tangki penampung, didorong oleh perbedaan massa jenis dengan air dingin, sehingga siap digunakan.

2.4 Jenis-Jenis Pemanas Air Tenaga Surya

Jenis pemanas air tenaga surya tergantung pada jenis kolektor yang digunakan.

Jenis-jenisnya meliputi kolektor plat datar, kolektor tabung vakum, kolektor tanpa glasir, dan kolektor berbentuk konsentrator. Kolektor plat datar, yang merupakan pemanas air yang sederhana, memiliki area penyerapan panas yang luas namun juga rentan mengalami kehilangan panas yang signifikan. Strukturnya meliputi pelat absorber, saluran aliran, pelat penutup, isolasi, dan tangki penampung.

Di sisi lain, kolektor tabung vakum mampu menyerap panas dengan cepat dan efisien menyimpannya. Meskipun pembuatannya lebih rumit, kolektor ini lebih unggul dibandingkan dengan kolektor plat datar. Lembaran logam tipis di dalam tabung menyerap radiasi matahari, sementara kehilangan panas dapat diminimalkan

(9)

melalui ruang hampa di tengah tabung, mengurangi perpindahan panas ke lingkungan melalui konveksi atau konduksi.

Kolektor tanpa glasir, di sisi lain, mampu menyediakan air dengan suhu 10°C hingga 15°C di atas suhu kamar dengan efisiensi yang baik. Terbuat dari polimer ekstrusi seperti polipropilena atau polikarbonat dengan perlindungan UV, kolektor ini memberikan alternatif yang handal untuk pemanas air tenaga surya.

BAB 3. METODE

Penulisan karya ini dilakukan dengan menggali berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal, skripsi, artikel, dan referensi yang sesuai. Selain itu, kolaborasi dalam diskusi dengan teman sekelas dan dosen pada mata kuliah Analisis Konversi Energi Terbarukan juga turut berperan. Karya ini secara menyeluruh membahas beragam aspek penerapan energi terbarukan, terutama dalam analisis desain kolektor surya dan perhitungan kebutuhan energi untuk sistem pemanas air rumah tangga.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perancangan Kolektor Surya

Penggunaan rumah tangga dengan 4 orang

Kebutuhan air per orang 120 liter/hari (Ali et al. 2018) Kebutuhan air per hari 4 x 120 = 480 liter/hari

Waktu pemanasan air efektif dalam sehari, dari jam 10 pagi ketika matahari sudah mulai panas sampai jam 2 siang. Total waktu yang tersedia 4 jam.

Maka kapasitas aliran yang dibutuhkan: 480 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/ℎ𝑎𝑟𝑖

4 𝑗𝑎𝑚/ℎ𝑎𝑟𝑖 = 120 liter/jam Panjang plat solar kolektor : 2000 mm

Lebar plat solar kolektor : 1000 mm Ketebalan insulasi : 60 mm

Ketebalan kaca : 4 mm

Ketebalan plat absorber : 0,8 mm

Jumlah pipa : 6 buah

(10)

Gambar 4. Desain Rancangan Kolektor Surya

Gambar 5. Komponen Dasar Kolektor Surya Pelat Datar (Sumber: Njoku et al.

2023)

Gambar 6. Penampang Melintang Rancangan Kolektor Surya

(11)

4.2 Skenario Kombinasi Bahan Kolektor Surya

Pada peningkatkan kinerja sistem pemanas air tenaga surya, pemilihan material utama dalam kolektor surya pelat datar sangat penting. Faktor utama dalam pemilihan material ini adalah konduktivitas termal yang tinggi dan ketersediaan bahan, terutama untuk pelat datar dan pipa penukar panas. Selain itu, untuk kaca penutup kolektor, dipilih bahan yang transparan dan memiliki ketebalan minimum agar tetap kokoh namun tidak mudah pecah.

Kemudian, untuk bak kolektor, dipilih bahan yang mudah dikerjakan dan mampu menahan beban dengan baik. Isolasi kolektor juga harus dipilih yang tahan terhadap panas dan memiliki konduktivitas termal yang sangat rendah, begitu pula dengan isolasi pipa luar dan tangki penampungan. Dengan demikian, pemilihan material yang tepat dapat mengoptimalkan kinerja sistem solar water heater secara keseluruhan.

Tabel 1. Perbandingan Kombinasi Bahan terhadap Kinerja Solar Kolektor

No Kombinasi Bahan Q1 (W) Q2 (W) Efisiensi

(%) Cover Absorber Insulator

1 Kaca Tembaga Gabus 1692.07 905.556 49

2 Plastik Stainles Steel

Glass wool 318.4069 170.0102 9.3

3 Kaca Aluminium Glass wool 299.704 163.919 8.9 Dalam pemilihan bahan untuk kolektor surya, aspek penting adalah penentuan bahan yang sesuai untuk bagian penutup, absorber, dan insulator. Berdasarkan analisis dalam Tabel 1, kombinasi bahan kaca untuk penutup, tembaga untuk absorber, dan gabus untuk insulator menunjukkan efisiensi tertinggi dibandingkan dengan kombinasi bahan lainnya, yaitu sebesar 49%.

Pada kombinasi bahan kaca, tembaga, dan gabus memiliki nilai Q1 (panas yang diterima oleh kolektor) sebesar 1692.07 watt dan Q2 (panas yang diserap oleh air) sebesar 905.556 watt. Bahan tembaga dipilih sebagai absorber karena memiliki konduktivitas termal yang tinggi, mencapai 401 W/m2C. Sebagai penutup, bahan kaca dipilih karena memiliki transmisivitas yang tinggi, mencapai 0,94. Sedangkan sebagai isolator, dipilih glass wool karena memiliki konduktivitas yang rendah, hanya sekitar 0,031 W/m2C, yang membuatnya efektif dalam menyerap panas.

(12)

Kombinasi bahan ini menghasilkan energi dan efisiensi tertinggi, menjadikannya potensial sebagai bahan kolektor surya yang efisien dan efektif.

Kaca dipilih sebagai bahan cover karena memiliki transmisivitas yang tinggi, memungkinkan sebagian besar cahaya matahari untuk menembus dengan sedikit hambatan. Ini penting untuk memaksimalkan penyerapan energi matahari oleh kolektor.

Absorber yang terbuat dari tembaga dipilih karena tembaga memiliki konduktivitas termal yang tinggi. Ini memungkinkan penyerapan panas yang efisien dari sinar matahari dan transfer energi panas ke fluida yang mengalir di dalam pipa kolektor. Insulator yang terbuat dari gabus dipilih karena memiliki konduktivitas termal yang rendah, sehingga mampu mengurangi kehilangan panas dari kolektor ke lingkungan sekitarnya. Ini membantu menjaga suhu air yang dipanaskan di dalam pipa kolektor.

Efisiensi kolektor surya ini sebesar 49%, yang menunjukkan bahwa rancangan dengan kombinasi kaca, tembaga, dan gabus lebih efisien dibandingkan dengan dua kombinasi lainnya yang menggunakan bahan plastik dan kaca sebagai cover, serta stainless steel dan aluminium sebagai absorber. Data efisiensi ini memberikan gambaran konkret tentang kinerja relatif dari berbagai kombinasi material dalam kolektor surya.

Dengan demikian, pemilihan bahan yang tepat dalam rancangan kolektor surya memiliki dampak besar terhadap kinerja keseluruhan sistem, dan data-data yang relevan membantu untuk memperkuat kesimpulan ini. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja kolektor surya, disarankan untuk menggunakan bahan absorber dengan konduktivitas termal tinggi, penutup yang transparan agar radiasi matahari dapat dengan mudah masuk, dan insulator yang dapat efektif menahan panas.

BAB 5. KESIMPULAN

Rancangan kolektor surya ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemanasan air di tingkat rumah tangga. Diperhitungkan untuk digunakan oleh sebuah keluarga beranggotakan 4 orang dengan total kebutuhan air mencapai 480 liter per hari.

Proses pemanasan air dilakukan mulai dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang, selama 4 jam dengan kapasitas aliran air sekitar 120 liter per jam. Kolektor surya yang

(13)

digunakan merupakan tipe non-ferrous dengan plat absorber berbahan tembaga plat hitam yang memiliki absorptivitas 0,96, emisivitas 0,07, dan konduktivitas termal sebesar 401 W/m2C.

DAFTAR PUSTAKA

Ali M, Husin I, Anto S. 2018. Kaji Ulang Kebutuhan Daya Water Heater Air Conditioner Split Dengan Water Heater Listrik. Palembang.

Cengel, Yunus A. 2002. Heat Transfer: A Practicial Approach. New York:

McGraw-Hill Companies, Inc.

Ginting, S., 2013. Pengaruh Penggunaan Reflektor terhadap Peningkatan Kinerja Panel Surya 10 WP. Jurnal Poliprofesi, 7(2), 34-43.

Handayani NA, Ariyanti D. 2012. Potency of solar energy applications in Indonesia. International Journal of Renewable Energy Development. 1(2):33–

38. doi:10.14710/ijred.1.2.33-38.

Junianto A, Riyadi S. 2019. Perancangan Pemanas Air Tenaga Surya Pasif Kapasitas 20 Liter. Jurnal Media Teknologi. 06(01):185–194.

Njoku M, Nwoso PC, Azodoh KA, Gaven D V, Ahaotu RO. 2023. Design Analysis and Material Selection of Flat-Plate Solar Thermal Collector. Di dalam: School of Engineering and Technology Conference and Exhibition (SETOONF). hlm 46–56. https://www.researchgate.net/publication/370954236.

Nugroho, R. A., Facta, M. dan Yuningtyastuti, 2014. Memaksimalkan Daya Keluaran Sel Surya dengan menggunakan Cermin Pemantul Sinar Matahari (Reflector). TRANSIENT, 3(3), 1-7.

Rachmawati V, Kamiran. 2015. Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga. Jurnal Sains dan Seni. 4(2):13–

18.

Ramadhan AI, Diniardi E, Mukti SH. 2016. Analisis Desain Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Kapasitas 50 WP. Teknik. 37(2):59–63.

doi:10.14710/teknik.v37n2.9011.

Rianda, Nurrohman, Al Kindi H. 2017. Analisis Termal Kolektor Surya Tipe Plat Datar Dengan Fluida Kerja Etanol 96% Pada Sistem Solar Water Heater.

Jurnal Teknik Mesin. 06(4):244–251.

Rusmaryadi, H., Sukarmansyah, Sianipar, T. P. dan Setiadi, H., 2018. Pengaruh Cermin Reflektor terhadap Daya dan Kenaikan Temperatur Sel Surya. Jurnal Teknik Mesin, 1(2), 85-94.

(14)

S HA, Dinahkandy I. 2018. Sudi Pemanfaatan Energi Matahari Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan Berbasis Sel Fotovoltaik untuk Mengatasi Kebutuhan Listrik Rumah Sederhana di Daerah Terpencil. Jurnal Teknik Mesin UNISKA. 03(02):88–93.

Siregar, Y. 2015. Daya Output Optimal pada Jenis Solar Gell Monocrystalline dan Polycrystalline. Jurnal Sains dan Teknologi, 11(2), 65-79.

Vinubhai TS, R JV, Thakkar K. 2014. A Review: Solar Water Heating Systems. Di dalam: National Conference on Emerging Vista of Technology in 21st Century.

hlm 1–8.

Widayana G. 2012. Pemanfaatan Energi Surya. JPTK. 9(1):37–46.

Yandri VR. 2012. Prospek Pengembangan Energi Surya untuk Kebutuhan Listrik di Indonesia. Jurnal Ilmu Fisika. 4(1):14–19. doi:10.25077/jif.4.1.14-19.2012.

Referensi

Dokumen terkait

Kolektor surya adalah alat yang difungsikan untuk mengkonversi radiasi mathari menjadi energi panas, yang nantinya dimanfaatkan memanaskan fluida

Kombinasi kolektor surya tipe plat datar yang menyatu dengan bangunan pengering berdinding transparan dan konsentrator sebagai alat pengkonversi panas surya untuk

judul “ Pengujian Kolektor Surya Plat Datar Untuk Pemanas Air Dengan Membandingkan Performansi Kaca Satu Dengan Kaca Berlapis Ketebalan 5mm ”. Dalam menyelesaikan

` Prinsip kerja pemanas air energi surya jenis pelat datar adalah sebagai berikut : energi surya memanasi kolektor sehingga air dalam pipa kolektor menjadi panas, air yang panas ini

Rancang Bangun Prototype Kolektor Surya Tipe Plat Datar Bersirip untuk Penghasil Panas pada Pengering Produk Pertanian dan Perkebunan.

Gambar 2.2 Bagian-Bagian dari Kolektor Surya Plat Datar 9 Gambar 2.3 Grafik untuk variasi tebal plat penyerap 20 Gambar 2.4 Grafik untuk variasi jarak antar pipa 22 Gambar 2.5

alat pengering energi surya dengan menggunakan kolektor surya tipe plat datar. Pada penelitian kali ini kolektor akan dimodifikasi dengan penambahan

Prinsip kerja dari sistem pemanas air dengan menggunakan plat datar dapat menunjukkan bahwa air yang masuk ke dalam kolektor melalui pipa distribusi akan