RINGKASAN EKSEKUTIF
KOMARUDIN, 2009. Perancangan Pengukuran Kinerja Balai Penelitian Ternak dengan Pendekatan Balanced scorecard. Dibawah bimbingan SETIADI DJOHAR dan LUKMAN MOHAMMAD BAGA.
Peternakan merupakan sektor yang memiliki potensi besar dikembangkan di Indonesia dilihat dari sumberdaya alam dan potensi pasar yang ada. Akan tetapi pengembangan peternakan seringkali masih terhambat pada teknologi dan ketersediaan inovasi produk dan bibit unggul. Perkembangan globalisasi juga menuntut tersedianya inovasi yang dapat meningkatkan daya saing peternakan Indonesia. Penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan daya saing peternakan dengan menciptakan inovasi teknologi, produk dan bibit unggul terus dilakukan oleh pemerintah. Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam melakukan penelitian di bidang peternakan tersebut adalah Balai Penelitian Ternak (Balitnak).
Untuk memenuhi tugas pokok dan fungsi penelitian serta menjawab tuntutan kebutuhan inovasi peternakan, Balitnak memerlukan pengukuran kinerja yang lebih komprehensif guna melengkapi sistem pengukuran kinerja yang terdapat dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperoleh pengukuran kinerja yang lebih komprehensif adalah balanced scorecard. Metode balanced scorecard mengkaji pengukuran kinerja organisasi kedalam empat perspektif yakni perspektif pelanggan dan stakeholders, perspektif keuangan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran organisasi (employees and organization capacity).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen strategik Balitnak ke dalam sasaran-sasaran strategik pada keempat perspektif model pengukuran kinerja berbasis balanced scorecard, menyusun strategy map Balitnak, menganalisis faktor-faktor yang menjadi Key Performance Indicators (KPI) kinerja Balitnak dan menyusun rancangan pengukuran kinerja Balitnak. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Ternak pada bulan September sampai Desember 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh melalui observasi, Focus Group Discussion (FGD) dari unsur manajemen, diskusi dan wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner dari unsur manajemen. Data sekunder diperoleh melalui kajian literatur, laporan-laporan dan studi pustaka.
Berdasarkan kajian visi dan misi, sasaran strategis yang ditetapkan sebanyak dua belas yang masing-masing memiliki satu indikator kunci. Sasaran strategis yang ditetapkan adalah (1) pada perspektif pelanggan dan stakeholders yakni kepuasan stakeholders Balitnak dan peningkatan kegiatan penyuluhan, pelatihan, pembinaan dan pendampingan oleh Balitnak, (2) perspektif keuangan yakni tercapainya target serapan dana DIPA secara optimal dan sesuai perencanaan dan peningkatan jumlah dana atau nilai kontrak kerjasama kegiatan penelitian dan desiminasi, (3) proses bisnis internal yakni peningkatan temuan
inovasi produk, teknologi dan komoditas unggulan peternakan Balitnak, peningkatan publikasi karya ilmiah pada media publikasi yang terakreditasi sangat baik, peningkatan inovasi produk, teknologi dan komoditas unggulan peternakan Balitnak yang mendapat sertifikasi hak paten, dan peningkatan ketersediaan produk inovasi Balitnak, (4) perspektif kapasitas pegawai dan organisasi yakni meningkatnya kualitas sumber daya manusia Balitnak, peningkatan kepuasan kaderisasi peneliti, sarana dan prasarana penelitian yang memadai dan proporsi jumlah peneliti di setiap jenjang dan bidang peneltian yang proporsional
Hasil pembobotan terhadap empat perspektif, responden lebih memilih pada perspektif pelanggan dan stakeholders (30,56 %) sebagai perspektif yang dipentingkan lebih dahulu dibandingkan perspektif yang lain, kemudian diikuti oleh perspektif proses bisnis internal (26,39 %), perspektif keuangan (25,00 %) dan perspektif kapasitas pegawai dan organisasi (18,06 %). Hasil pembobotan terhadap KPI pada setiap perspektif, didapatkan hasil kontribusi KPI terhadap kinerja perspektif dan Balitnak masing-masing yakni (1) KPI perspektif pelanggan dan stakeholders yaitu : persentase kepuasan stakeholders 58,3 % dan 17,82 %, jumlah kegiatan penyuluhan, pelatihan, pembinaan dan pendampingan oleh Balitnak 41,7 % dan 12,74 %, (2) KPI perspektif keuangan yaitu persentase realisasi serapan dana DIPA per triwulan 58,3 % dan 14,58 %, jumlah dana atau nilai kontrak kerjasama kegiatan penelitian dan desiminasi 41,7 % dan 10,42 %, (3) KPI perspektif proses bisnis internal yaitu jumlah temuan inovasi produk, teknologi dan komoditas unggulan peternakan Balitnak 25,7 % dan 6,78 %, jumlah publikasi karya ilmiah yang dipublikasikan pada media publikasi yang terakreditasi sangat baik 25,0 % dan 6,60 %, persentase inovasi produk, teknologi dan komoditas unggulan peternakan Balitnak yang mendapat sertifikasi hak paten 25,0 % dan 6,60 %, persentase ketersediaan produk inovasi Balitnak 24,3 % dan 6,41 %, dan (4) perspektif kapasitas pegawai dan organisasi yaitu jumlah pegawai yang mengikuti tugas belajar dan program beasiswa pada pendidikan yang lebih tinggi, diklat fungsional dan struktural 29,2 % dan 5,27 %, persentase kepuasan kaderisasi peneliti 27,8 % dan 5,02 %, persentase kecukupan sarana dan prasarana penelitian 22,2 % dan 4,01 %, dan persentase jumlah peneliti di setiap bidang dan jenjang 20,8 % dan 3,76 %. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa KPI pada perspektif pelanggan dan stakeholders merupakan KPI yang memiliki kontribusi yang terbesar dalam ukuran kinerja Balitnak.
Strategy map yang telah dihasilkan penelitian dengan pendekatan balanced scorecard menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara masing- masing sasaran pada setiap, dimulai dari pencapaian sasaran pada perspektif kapasitas pegawai dan organisasi kepada sasaran strategik pada perspektif proses bisnis internal, perspektif keuangan dan perspektif pelanggan dan stakeholders.
Sasaran strategis pada perspektif pegawai dan organisasi balinak menjadi dasar dalam pencapaian sasaran-sasaran strategik lainnya
Rancangan pengukuran kinerja Balitnak dengan pendekatan balanced scorecard memberikan indikator kinerja yang lebih lengkap dan terukur dibandingkan LAKIP. Data-data yang selama ini hanya bersifat laporan pada laporan tahunan dan LAKIP Balitnak, dapat diteruskan menjadi bahan pada proses pengukuran kinerja. Hal ini dapat berguna untuk memberikan informasi yang
lebih akurat kepada manajemen Balitnak dalam pengambilan kebijakan. Indikator kinerja balanced scorecard juga telah memperhatikan indikator kinerja yang bersifat teknis maupun non teknis.
Kata Kunci : Balanced scorecard, Pengukuran Kinerja, Key Performance Indicators, Strategy map, Balai Penelitian Ternak