PERANCANGAN PUSAT FOTOGRAFI DI MAKASSAR DENGAN PENDEKATAN KONSEP ARSITEKTUR METAFORA
ACUAN PERANCANGAN
Diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti ujian Sarjana strata satu (S1) Teknik Arsitektur
Oleh:
A. MUH IBNU FAHRI 45 13 043 050
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2019
KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWr. Wb.
Puji dan syukur kehadirat Tuhan atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulisan laporan perancangan tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulisan ini dibuat dalam bentuk laporan yang merupakan garis besar perencanaan fisik pada tahap studio akhir. Hasilnya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai PUSAT FOTOGRAFI DI KOTA MAKASSAR. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan perancangan ini masih terdapat beberapa kekurangan yang mungkin belum sempat terkoreksi mengingat keterbatasan waktu, fasilitas dan kapasitas penulis, sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih tak terhingga kepada :
1. Bapak Dr. H. Nasrullah, ST., MT Selaku Ketua Prodi Arsitektur Universitas Bosowa
2. Ibu Lisa Amalia, ST., MT Selaku Penasehat Akademik.
3. Bapak Dr. H. Nasrullah, ST., MT Selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan.
4. Ibu Satriani Latief, ST., MT. Selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan.
5. Seluruh Dosen dan Staf selaku pengajar yang meluangkan waktunya membagi ilmu dan pengalaman selama di bangku kuliah.
6. Teman-teman di prodi Arsitektur Universitas Bosowa, terkhusus untuk teman-teman angkatan 2013 yang telah banyak memberikan suport, serta menghadirkan ikatan persahabatan dan persaudaraan yang begitu kuat.
7. Teman-teman Lembaga se-Fakultas Teknik
8. Serta semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, semoga Allah SWT akan selalu memberi Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua. Amin...
Penulis Menyadari sepenuhnya akan keterbatasan acuan perancangan ini, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata, bahwa segala apa yang di rencanakan dapat terlaksana hanya dengan usaha keras dan bertawakkal serta menyadari bahwa kesuksesan akan di dapatkan bagi yang selalu bekerja keras dan bertawakkal. Semoga acuan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, meskipun masih banyak kekurangan.
Wassalam…
Makassar, 01 Desember 2020 P e n u l i s
A Muh Ibnu Fahri
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Pusat Fotografi ... 3
1. Bidang Non Fisik... 3
2. Bidang Fisik ... 3
BAB II RINGKASAN PROYEK PUSAT FOTOGRAFI A. Data Fisik ... 4
B. Pengertian Pusat Fotografi ... 4
C. Fungsi Pusat Fotografi ... 4
BAB III PERENCANAAN FISIK PUSAT OLAHRAGA ELEKTRONIK A. Perencanaan Ruang Makro ... 6
1. Lokasi ... 6
2. Site / Tapak ... 7
3. Pengolahan Tapak ... 8
B. Perencanaan Ruang Mikro ... 10
1. Besaran Ruang ... 10
2. Bentuk Dan Penampilan Bangunan ... 16
3. Sistem Struktur Terpilih ... 17
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perkembangan dunia Fotografi saat ini begitu pesat ditandai dengan ditemukannya kamera berbasis digital yang menggunakan kartu memori dan tidak lagi memerlukan roll film sebagai penyimpanannya. Mulai tahun 2008, fotografi semakin digemari oleh masyarakat umum. Dengan meningkatnya minat dan apresiasi masyarakat pada dunia fotografi maka akan diikuti pula dengan meningkatnya konsumsi produk fotografi. Secara tidak langsung manusia tidak lepas dari dunia fotografi dan menjadikannya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya (Soelarko,1993).
Fotografi digunakan sebagai alat atau sarana penunjang berbagai kegiatan seperti pada media massa, bidang perdagangan, ilmu pengetahuan, hukum, pendidikan, kedokteran, dokumentasi, hiburan, dan lain-lain. Foto selalu menarik untuk dilihat dan diamati (Pradiptha dkk, 2014). Selain lebih mudah diingat dibandingkan tulisan, sebuah foto mempunyai nilai dokumentasi yang tinggi karena mampu merekam sesuatu yang tidak mungkin kembali. Fotografi juga merupakan salah satu karya seni yang bernilai tinggi dan dapat menampilkan sebuah gambar yang bernilai ribuan kata.
Perkembangan fotografi juga dapat ditinjau dari meningkatnya klub fotografi yang tercatat di FPSI (Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia).
Selain itu fotografi juga menjadi salah satu profesi, terutama di kota-kota besar seperti Makassar.
Makassar memiliki perkembangan seni fotografi yang tergolong pesat, dari tahun ke tahun peminat fotografi di Makassar mengalami peningkatan, akan tetapi tidak terdapat suatu wadah yang dapat menampung para penggemar fotografi untuk dapat berkumpul, bertukar pikiran dan informasi, serta berbagi pengalaman mengenai fotografi. Selain itu sarana fotografi di Makassar masih sangat sedikit, khususnya untuk pameran foto (Fotomedia, 2002). Pameran merupakan suatu upaya yang dijadikan sebagai pengenalan suatu hal yang belum diketahui oleh orang banyak serta memiliki fungsi apresiasi, edukasi, rekreasi dan prestasi (Cahyono, 2002). Selain itu jika melihat kondisi bangunan penyedia jasa dan barang fotografi yang sudah ada di Kota Makassar. Bangunan yang sudah ada kurang memperlihatkan Identitas fotografi kepada masyarakat. Hal tersebut dikarenakan bangunan yang menyediakan jasa dan penjualan barang fotografi cukup terbatas luasannya dan hanya mewadahi kegiatan penyedia jasa fotografi. Bangunan penyedia jasa yang telah ada cenderung konvensional, sama sekali tidak mencerminkan karakter dari fungsi bangunan tersebut. Karakter yang dimaksud adalah karakter fotografi yang aktraktif, dinamis serta memberikan kesan menarik, karakter tersebut yang membentuk identitas yang berbeda dari karya lainnya. Dengan menampilkan karakter tersebut diharapkan mampu mempresentasikan dunia fotografi kedalam bangunan. Untuk memunculkan identitas fotografi kepada masyarakat, diperlukan suatu wadah yang tidak hanya
yang tidak hanya tempat pelayanan jasa fotografi dan penjualan barang fotografi, namun juga mewadahi perkembangan kegiatan dan pusat edukasi fotografi.
Dari berbagai permasalahan tersebut, dapat diatasi melalui perancangan Pusat Fotografi dengan pendekatan konsep arsitektur metafora. Pendekatan ini diharapkan dapat merepresentasikan fotografi ke dalam elemen-elemen perancangan Pusat Fotografi serta mendapatkan bentuk bangunan yang menarik dan memiliki identitas sesuai dengan fungsinya. Hal ini penting karena dalam bangunan komersial bentuk dan estetika bangunan lebih berperan untuk kemudahan dalam memberi kesan dan daya tarik. Selain itu dengan pendekatan arsitektur metafora ini diharapkan bangunan ini nantinya dapat menjadi ikon baru yang dikenal oleh masyarakat.karena masyarakat tentu akan lebih mudah mengingat dari suatu bentuk yang sudah dikenal dan bentuk inilah nanti yang akan diaplikasikan ke bangunan. Tempat Dengan demikian perancangan Pusat Fotografi yang dilengkapi fasilitas yang lengkap dan relevan yang dapat mendukung segala kegiatan fotografi seperti Penjualan dan penyewaan, lomba Fotografi, pameran/galeri fotografi, seminar/workshop fotografi, Pendidikan fotografi, Adversiting ( biro iklan ), Salon/ studio foto, laboratorium computer dan perpustakaan fotografi.
diharapkan dapat mengakomodasi segala kegiatan yang berhubungan dengan fotografi, serta dapat menjadi ajang pertemuan dan komunikasi masyarakat pecinta fotografi, baik dengan konsumen maupun dengan kalangan
sendiri sebagai wadah pengembangan pendidikan, promosi, pemasaran, dan informasi.
B. Rumusan Masalah
Dalam hal itu maka rumusan masalah dapat dibagai menjadi dua yakni : 1. Non Arsitektural
a. Siapa saja yang akan menjadi pemakai dan pengguna bangunan Pusat Fotografi?
2. Arsitektural
a. Bagaimana menentukan lokasi / site yang sesuai dengan RTRW kota Makassar sehingga dapat mendukung fungsi Pusat Fotografi secara maksimal ?
b. Bagaimana merancang kebutuhan ruang dan besaran ruang sehingga dapat menghimpun seluruh kegiatan di dalam Pusat Fotografi?
c. Bagaimana merancang Pusat Fotografi dengan bentuk yang menarik pengunjung dengan menggunakan konsep Arsitektur Metafora?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dirancangnya Pusat Fotografi di Makassar ini yaitu:
1. Non Arsitektural
a. Untuk mengetahui Siapa saja yang akan menjadi pemakai dan pengguna bangunan Pusat Fotografi?
2. Arsitektural
a. Untuk menentukan lokasi / site yang sesuai dengan RTRW kota Makassar sehingga dapat mendukung fungsi Pusat Fotografi secara maksimal.
b. Untuk merancang kebutuhan ruang dan besaran ruang sehingga dapat menghimpun seluruh kegiatan di dalam Pusat Fotografi.
c. Untuk merancang Pusat Fotografi dengan bentuk yang menarik pengunjung dengan menggunakan konsep Arsitektur Metafora.
D. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan perancangan Pusat Fotografi ini yaitu:
1. Desain perancangan menggunakan pendekatan arsitektur metafora.
2. Jenis kegiatan yang akan diwadahi meliputi kegiatan komersial, komunitas dan pelatihan fotografi.
3. Penentuan lokasi Perancangan Pusat Fotografi seusai RTRW kota Makassar.
4. Pengguna rancangan yaitu masyarakat umum serta diprioritaskan bagi pencinta fotografi dan klub fotografi.
E. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Metode kepustakaan
Studi literatur menyangkut Fotografi sebagai bahan penunjang penulisan.
2. Metode Survey
Dengan cara mengamati secara langsung bangunan yang berkaitan dengan kasus / judul serta wawancara secara langsung dengan pihak yang berkaitan dengan judul tersebut.
3. Metode Observasi
Mengadakan observasi langsung pada lokasi dan pengumpulan data-data di lapangan yang berhubungan langsung dengan objek untuk memperoleh gambaran yang baik berupa fakta-fakta maupun permasalahan yang mungkin terjadi secara lagsung yang menyangkut tentang :
a. Lokasi b. Iklim
c. Kondisi social masyarakat setempat d. Kebisingan ( noise )
e. Pola sirkulasi manusia maupun kendaraan f. Pencapaian menu lokasi ataupun tapak g. View atau sudut padat pandang
4. Metode analisis
Menganalisa beberapa metode di atas sebagai penunjang yang nantinya di aplikasikan kedalam konsep dasar perencanaan yang akan menjadi acuan perancangan fisik bangunan.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran dari keseluruhan laporan ini, sitematika pembahasan dibagi dalam beberapa tahap pembahasan :
BAB I PENDAHULUAN
Membahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan pembahasan, lingkup pembahasan, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN UMUM
Membahas Landasan Teori fotografi dan aturan-aturan dasar mengenai fotografi dan konsep perancangan, dan study banding berdasarkan kepada data dan referensi yang ada.
BAB III TINJAUAN KHUSUS
Pembahasan terkait pengadaan Tinjauan khusus Kota Makassar dan terkait perkembangan dan pengadaan Pusat Fotografi di Kota Makassar
BAB IV KESIMPULAN
Merupakan kesimpulan dari pembahasan sebelumnya.
BAB V PENDEKATAN ACUAN PERANCANGAN
Pendekatan Desain, Menguraikan pendekatan konsep perancangan yang terdiri dari konsep makro dan mikro.
BAB VI ACUAN PERANCANGAN
Berisi konsep dasar perencanaan dan perancangan yang merupakan inti sari dari pembahasan makro dan mikro sebagai dasar untuk dasar perancangan desain fisik.
BAB II
TINJAUAN UMUM A. Landasan Teori Fotografi
1. Pengertian Fotografi
Dalam kamus bahasa Indonesia pengertian fotografi adalah seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Fotografi pada awalnya adalah sebuah tuntutan kesempurnaan sebuah karya seni dalam bentuk lukisan.
Kemudian istilah ini berkembang mengikuti kemajuan peradaban manusia.
Fotografi saat ini dibicarakan sebagai media yang merupakan bahan dasar dari banyak karya visual. Pengertian fotografi dibagi menjadi 6 ( Andayanto, 2012: 2), yaitu:
a. Melukis dengan cahaya
Fotografi atau photography (dalam Bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani yaitu "photos": Cahaya dan "Grafo": Melukis/menulis.
Secara harafiah, fotografi adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Disebut demikian karena pada zaman Yunani kuno, para pelukis mencoba melukis dengan teknik pantulan cahaya obyek yang masuk ke ruang gelap (kedap cahaya). Cahaya yang
masuk melalui lubang kemudian terproyeksi di kain putih yang terbentang di dalam ruang kedap cahaya tersebut. Lalu pelukis yang berada di ruang kedap cahaya mempertegas garis-garis cahaya pantulan yang terproyeksi di kain putih, sehingga menjadi kerangka (sket) dari gambar obyek yang berada di luar ruang kedap cahaya. (Andayanto, 2012: 2)
b. Merekam pantulan obyek
Saat ini pengertian fotografi tidak sekedar melukis dengan cahaya, tetapi merekam pantulan cahaya yang keluar atau memancar dari obyek dan masuk ke dalam lensa yang menempel di kamera, baik itu kamera film ataupun kamera digital dan terekam di media rekam film atau sensor digital.
c. Proses kimia atau digital menjadi gambar atau foto
Cahaya yang masuk ke dalam kamera melalui lensa diterima oleh media rekam yang terdapat di dalam kamera. Saat ini pun media rekam fotografi ada dua jenis, yaitu media rekam jenis film dan yang satunya media rekam jenis sensor digital.
d. Memiliki aspek teknik
Sebuah foto atau gambar baru mendapatkan predikat “bagus”, jika menggunakan teknik fotografi, yaitu fokus, warna dan kecepatan yang tepat dan terlihat jelas.
e. Memiliki aspek kosep visual
Sebuah foto atau gambar baru mendapatkan predikat “bagus”, jika foto atau gambar tersebut memiliki informasi atau dapat dicerna oleh orang yang melihatnya. Foto atau gambar itu dapat menyampaikan cerita atau pesan tentang kisah kejadian yang direkam melalui peralatn fotografi dan dipamerkan atau diperlihatkan kepada orang lain. Predikat “benar”, titik beratnya adalah pada ada atau tidaknya sebuah perencaan (konsep) dari sebuah foto atau gambar.
f. Media ekspresi konsep visual
Perkembangan pemahaman fotosgrafos yang awalnya artinya “melukis dengan cahaya”, saat ini berkembang bahwa foto harus memiliki konsep visual, sehingga foto atau gambar memiliki predikat yang bagus dan benar.
2. Sejarah Fotografi
Gambar II.1: Evolusi Kamera
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
Sejarah fotografi saat ini berhutang banyak pada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang.
a. Era 1000 M
Kita mencatat nama Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang
melewati sebuah lubang kecil, hal ini dikemukakannya pada tahun 1000 m.
b. Era 1400 M
Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun, Battista Della Porta, juga menulis hal tersebut sehingga dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura.
Gambar II.2 : Camera Obscura
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
c. Awal abad 17
Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam.
Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut ia telah berhasil merekam gambar-gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia seteah gambar- gambar itu terekam sehingga permanen.
d. Era tahun 1727
Pada 1727, Johan Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas.
e. Era tahun 1800
Pada tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris, bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamera obscura yang sekarang ini disebut kamera, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya ia berkonsentrasi sebagaimana juga Schuize membuat gambar-gambar negative pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.
Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai negara, akhirnya Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograph berhasil membuat gambar permanen pertama yang disebut
“FOTO”. Pembuatannya dengan tidak menggunakan kamera, melalui
proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograph dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of Judea sebagai bahan kimia dasarnya. Agustus 1827, setelah saling menyurati beberapa waktu sebelumnya, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis dengan beragam keterampilan tapi dikenal sebagai pelukis. Mereka merencanakan kerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera. Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre tetapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Pada tanggal 7 Januari 1839, dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Dagurre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis.
Hasil kerjanya yang berupa foto-foto yang permanen itu disebut Daguerretype yang tak dapat diperbanyak atau reprint atau repro. Saat itu Daguerre telah memiliki foto studio komersil dan Daguereetype tertua yang masih ada hingga kini diciptakannya tahun 1837.
Gambar II.3 : Daguereetype
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
Tanggal 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi modern kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemukan sistem negative-positif (bahan dasar: perak nitrat, diatas kertas). Walaupun telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan: Contact Print (print yang dibuat tanpa pembesaran atau pengecilan). Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype perbaikan dari sistem sebelumnnya juga menghasilkan negative diatas kertas. Dan pada Oktober 1847, Abel Niepee de St Victor keponakan Niepee memperkenalkan penggunaan kaca sebagai base negative menggantikan kertas. Pada januari 1850, seorang ahli kimia Inggris Robert Bingham memperkenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto yang saat itu cukup popular dengan sebutan WET_PLATE Fotografi. Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan rol film mulai dikenal.
Juni 1888, George Eastman seorang Amerika menciptakan revolusi fotografi dunia hasil penelitiannya di tahun 1877. Ia menjual produk baru dengan merk KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan yang telah berisi rol film (dengan bahan kimia perak bromide) untuk 100 exposure. Bila seluruh film diguakan, kamera ini yang diisi film dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi rol film yang baru.
Gambar II.4 : Mammoth Camera
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa. Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan rol film. Selanjutnya secara bertahap, fotografi berkembang ke arah penyempurnaan teknik dan kualitas gambarnya sampai pada akhir abad ke-19 fotografi telah mencapai kualitas hasil yang mendekati seperti yang dikenal sekarang.
3. Perlengkapan Fotografi a. Kamera
Beberapa tipe kamera yang masih ada hingga saat ini, yaitu :
1) Simple Camera, yaitu kamera sederhana dengan lensa permanen untuk jarak fokus maksimal
2) Camera, yaitu kamera yang dapat dilipat 3) Hand of Stand Camera
4) Single-Lens-Reflex ( SLR ) Camera
5) Twin-Lens-Reflex ( TLR ) Camera
6) 35 mm Camera, Kamera dengan ukuran film 35 mm
7) Sub-Miniatur Camera, kamera dengan ukuran negative film lebih kecil dari 33 mm, digunakan untuk spionase
8) Digital Single Lens Reflex ( DSLR ) b. Lensa
1) Wide Angle Lens 2) Standard Lens 3) Telephoto Lens 4) Micro Lens 5) Zoom Lens c. Tripod ( kaki tiga )
Gambar II.13 : Tripod ( Kaki tiga )
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
Tripod dalam fotografi, adalah alat stand untuk membantu agar badan kamera bisa berdiri dengan tegak dan tegar. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kelelahan fotografer dalam mengambil gambar dan
mengurangi noise yang ditimbulkan oleh guncangan tangan fotografer.
Tripod biasanya dipakai jika fotografer menggunakan shutter speed di angka 30 atau lebih lambat atau menggunakan lensa kamera dengan focal length lebih dari 200 mm.
d. Lighting/ Lampu Tambahan
Gambar II.14 : Lampu Tambahan
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
untuk pemotretan di dalam studio, keberadaan lampu tambahan sangatlah mutlak bagi seorang fotografer profesional. Bukan sekadar flash eksternal yang bentuknya ringkas dan dapat dilepas pasang ke kamera. Tapi lampu strobo lengkap dengan cover putih.Keberadaan lampu tambahan seperti strobo sangat disukai karena konsitensi cahaya yang muncul dan mampu mengalahkan sumber cahaya yang ada di sekitar objek foto. Lampu-lampu ini pun bisa dipasang pada sudut tertentu sesuai kebutuhan atau keinginan sang fotografer.
e. Drone
Gambar II.15 : Drone
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 8 Agustus 2019
Ini memang bukan peralatan fotografi yang utama. Tapi saat ini fotografi udara juga sudah menjadi tren. Sebagai seorang profesional, Anda pasti akan butuh peralatan fotografi udara dengan menggunakan drone. Memiliki drone juga akan membuat Anda lebih leluasa dalam mencari sudut yang tidak biasa. Selain itu, drone juga akan membuat Anda tampil lebih profesional.
f. Shutter Release
Bagi seorang profesional, shutter release akan membantu setiap proses kerjanya dalam mengambil foto sesuai yang diinginkan.Dengan memakai shutter release, Anda tidak perlu sering bersentuhan dengan tombol shutter di kamera. Karena bukan mustahil posisi kamera akan bergeser ketika akan memencet tombol tersebut. Shutter release akan membuat proses pemotretan menjadi lebih mudah dan jauh dari kemungkinan bergesernya sudut pengambilan gambar.
B. Tinjauan Pusat Fotografi 1. Pengertian Pusat Fotografi
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), pusat/centre memiliki pengertian tempat yang letaknya di bagian tengah atau pokok pangkal atau yang menjadi pumpunan (berbagai-bagai urusan). Sedangkan fotografi memiliki pengertian seni dan penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan. Dalam hal ini, maka Pusat Fotografi berarti tempat yang menjadi pumpunan untuk berbagai macam urusan mengenai seni dan penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan.
Pusat Fotografi ini memiliki fungsi sebagai wadah untuk berkumpulnya komunitas pecinta fotografi dan galeri fotografi serta untuk pengembangan kreativitas dalam bidang fotografi. Pusat Fotografi ini juga menjadi wadah untuk melakukan kegiatan fotografi seperti pameran, seminar dan workshop, serta memiliki fasilitas penunjang seperti tempat kursus fotografi dan tempat penjualan peralatan fotografi. Dalam kajian teori berdasarkan Time-Saver Standards for Building Types, fourth edition, Pusat Fotografi termasuk dalam tipologi bangunan Cultural and Entertainment.
Pusat Fotografi memiliki 2 fungsi, yaitu fungsi utama dan fungsi pendukung.
Fungsi utama dari Pusat Fotografi adalah sebagai tempat yang mewadahi seluruh kebutuhan kegiatan fotografi untuk berbagai kalangan dari pecinta fotografi amatir hingga para fotografer profesional seperti ruang galeri
fotografi, studio foto, ruang penyimpanan benda fotografi bersejarah, fasilitas ruang serba guna yang dapat digunakan oleh kelompok atau komunitas fotografi, dan dengan fungsi pendukung adalah ruang kursus, ruang seminar, café, dan ruang penjualan peralatan fotografi.
2. Pelaku Kegiatan Ruang di dalam Pusat Fotografi
a. Pengunjung yaitu orang yang berkunjung ke Pusat Fotografi untuk tujuan tertentu dan mencakup semua batasan usia, dari anak-anak, remaja sampai orang tua. Adapun kegiatan yang dilakukan pengunjung diantaranya :
1) Mencari jasa pelayanan fotografi.
2) Mengunjungi pameran.
3) Mengikuti kelas pelatihan atau pendidikan fotografi.
4) Mengikuti seminar/workshop fotografi.
5) Mengikuti pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan fotografi.
b. Karyawan, yaitu orang yang bekerja pada pusat fotografi, diantaranya tenaga pendidik, fotografer, retail shop, karyawan kafetaria, dan karyawan pemiliharaan bangunan.
c. Pengelola, yaitu orang yang bekerja yang mengatur semua kegiatan di dalam Pusat Fotografi agar berjalan dengan baik. Diantaranya, direktur, wakil direktur dan dewan direksi serta pengelola pelatihan fotografi.
3. Waktu kegiatan di dalam Pusat Fotografi
Pusat Fotografi di Makassar merupakan bangunan komersial yang mempunyai waktu kegiatan sesuai fungsi kegiatan yang ada. Pertimbangan- pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan dan kondisi dan tuntutan terhadap waktu yang ada, yaitu :
a. Merupakan bangunan yang terbuka untuk umum,
b. Kegiatan administrasi berlangsung pada pukul 09.00-17.30,
c. Kegiatan edukatif berlangsung dari hari senin-sabtu, pada pukul 09-00- 20.30
d. Kegiatan promosi dagang, pameran, penjualan produk, pelayanan jasa, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat komersial dilaksanakan setiap hari, pada pukul 09.00-20.30
4. Jenis Kegiatan di dalam Pusat Fotografi
Dalam dunia fotografi, terdapat berbagai kegiatan yang umumnya dilakukan, yaitu pemotretan, pelatihan, perlombaan, pameran, diskusi/
klinik fotografi, pengolahan foto, serta penjualan dan penyewaan alat fotografi. Sehingga dari jenis-jenis kegiatan tersebut akan muncul suatu wadah kegiatan atau ruangan-ruangan yang mewadahi kegiatan.
Ada 3 (tiga) fungsi utama yang menyangkut kegiatan fotografi, yaitu: comersial, kegiatan ini menyangkut jasa pemotretan, penjualan alat- alat atau produk fotografi; community, kegiatan ini menyangkut seminar fotografi, pameran fotografi, lomba fotografi dan klub fotografi; training,
termasuk didalamnya kegiatan pelatihan berupa kegiatan pendidikan.
Kegiatan fotografi yang dimaksud disini adalah kegiatan fotografi yang berhubungan dengan kegiatan apresiasi dan prestasi para fotografer dan peminat fotografi, kegiatan ini diantaranya:
a. Penjualan dan penyewaan
Kegiatan yang melayani penjualan dan penyewaan alat-alat perlengkapan fotografi secara lebih lengkap dengan didukung oleh display perangkat fotografi. Fasilitas yang ada dalam ruangan ini adalah:
b. Jasa
Suatu bentuk kegiatan yang memberikan pelayanan dibidang jasa foto. Fasilitas yang ada dalam ruangan ini adalah :
c. Pameran Fotografi
Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat umum peminat fotografi dan para fotografer untuk memamerkan hasil karyanya. Dalam momen ini karya-karya pemotretan akan disikapi oleh masyarakat dan peminat sebagai ungkapan ataupun respon terhadap seni.
d. Workshop/Seminar Fotografi
Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan informasi, pendidikan, dan pelatihan kepada masyarakat umum, fotografer, dan juga peminat
fotografi. Pengenalan dunia fotografi secara global untuk menarik minat masyarakat umum sehingga menimbulkan pemikiran akan arti pentingnya dunia fotografi dalam kehidupan.
e. Lomba Foto
Kegiatan ini sering dilakukan oleh organisasi sosial masyarakat atau perusahaan komersial. Nikon sendiri rutin melakukan acara Nikon Photo Contest yang rutin dilakukan setiap 3 Bulan sekali.
f. Pendidikan
Berupa pelatihan / kursus fotografi yang sifatnya informal yang dapat memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai fotografi seperti dimulai dari pengenalan jenis- jenis fotografi, jenis-jenis kamera untuk setiap jenis fotografi hingga bagaimana cara pengambilan gambar yang baik agar dihasilkan sebuah foto/ gambar yang memiliki nilai jual dan nilai seni yang tinggi.
g. Informasi
Memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk informasi tentang dunia fotografi dan perkembangannya baik yang ada di Indonesia maupun yang ada diluar negeri.
h. Klub Fotografi
Klub fotografi merupakan kumpulan dari para penggemar dan
peminat fotografi pada suatu daerah untuk berkumpul, bertukar informasi dan meningkatkan keterampilan seni fotografi.
5. Deskripsi Jenis Ruang di dalam Pusat Fotografi a. Fasilitas penjualan dan penyewaan alat-alat fotografi
1) Showroom, untuk merk jenis kamera Canon dan Nikon sebagai alat perlengkapan fotografi yang akan disewakan. Tersedia juga fasilitas untuk display kamera dimana pengunjung dapat mencoba untuk menggunakan kamera, fasilitas ini dilengkapi dengan objek berukuran mini yang digunakan sebagai sasaran dari foto.
2) Layanan dan pusat perbaikan
3) Retail, untuk penjualan berbagai jenis kamera dan aksesoris merk lain.
Kamera yang akan dipilih adalah beberapa brand kamera terfavorit dikalangan fotografer seperti: Canon, Nikon, Sony, Olympus, Samsung, Fujifilm, Konika Minolta, dan Action Cam
b. Fasilitas Pelayanan Jasa Fotografi 1) Advertising (biro iklan)
Ruang untuk memberikan pelayanan di bidang Advertising (biro iklan), dimana fasilitas ini menyediakan studio foto yang akan digunakan untuk foto produk dan juga menyediakan fasilitas sewa foto yang nantinya akan digunakan pada desain sebuah produk. Bentuk keluaran disain dapat berupa baliho, kalender,
spanduk, company profile, poster serta iklan di media cetak.
2) Salon dan Studio Foto
Digunakan untuk foto keluarga, wisuda, baby & kids dan couple/remaja.
3) Theme Photo Studio
Ada beberapa jenis theme photo studio : a) Desain Studio Japanese Style
b) Desain Studio Korean Style
c) Desain Studio Klasik/Western Style d) Desain Studio Tempo Dulu Style 4) Wedding Studio
Ruangan yang menyediakan fasilitas foto prewed outdoor dan indoor serta video prewed.
5) Konsultasi Bisnis Fotografi
Ruang yang digunakan untuk konsultasi mengenai bisnis fotografi seperti pembuatan salon dan studio serta wedding photography.
6) Fasilitas Pameran/ Galeri Foto
Ruang yang digunakan untuk memamerkan :
a) Karya-karya fotografer Makassar fotografer-fotografer professional di Makassar dan Indonesia dipamerkan setiap 3 bulan sekali selama 3 hari.
b) Hasil Hunting foto Klub-klub fotografi yaitu untuk dipamerkan dalam Pusat Fotografi di Makassar. Klub-klub yang dipilih sudah memiliki intensitas hunting foto lebih sering dibandingkan klub fotografi lainnya. Foto- foto tersebut akan dipamerkan setiap 2 bulan sekali selama 5 hari.
c) Foto-foto pada Nikon Photo Contest akan dipamerkan setiap 6 bulan sekali selama seminggu yang berguna untuk mengambil voting dari pengunjung.
d) Foto-foto pada acara lomba-lomba fotografi di Makassar.
e) Karya- karya dari murid-murid Nikon School Indonesia yang rutin dilakukan setiap 2 x dalam seminggu selama 2 hari.
c. Fasilitas Seminar
Fungsi-fungsi dari ruang seminar adalah dapat digunakan sebagai : a) Ruang untuk kegiatan workshop-workshop fotografi dengan
mendatangkan fotografer professional.
b) Ruang untuk penjurian acara Nikon Photo Contest yang akan dilakukan 6 bulan sekali.
c) Ruang untuk penjurian acara-acara lomba fotografi Malang.
d) Tempat untuk mengadakan Launching produk-produk Nikon terbaru.
e) R. Audio Visual untuk fasilitas Nikon School Indonesia, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran yang rutin dilakukan 1 x dalam sebulan.
d. Fasilitas Pendidikan Fotografi, terdiri atas : 1) Ruang Kelas
Ruang yang digunakan untuk proses pengajaran fotografi, ruang kelas terbagi atas 8 kelas yaitu kelas Basic, kelas Intermediate, Kelas Advance, kelas Profesional yang terbagi menjadi 4 kelas, pembagian berdasarkan klasifikasi fotografi yaitu Fotografi Alam (Nature/ Landscape), Fotografi Satwa, dan Fotografi Jurnalistik, fotografi fashion dan Fotografi Interior.
a) Basic
Mempelajari teknik mengoperasikan kamera dan fungsi tool/feature, dasardasar lighting, serta komposisi dasar. Selama 14 x Pertemuan. Dengan durasi setiap pertemuan 2 Jam.
b) Intermediate
Mendalami teknik dasar fotografi, yang meliputi:
mengoptimalkan kemampuan kamera, lighting, komposisi, decisive moment, angle of view, depth of field, selective focus, dan moving effect. Selama 14 x Pertemuan, dengan durasi setiap pertemuan 2 Jam.
c) Advanced
Mengupas konsep pemotretan menjadikan fotografi sebagai media komunikasi visual, meliputi: fotografi konseptual, foto bertema, pesan di balik foto, dampak warna, penciptaan suasana, karakter obyek. Pemotretan dilakukan di outdoor dan studio. Selama 10 x
Pertemuan, dengan durasi setiap pertemuan 3 Jam.
d) Professional
Khusus bagi yang berminat menekuni fotografi sebagai profesi. Pelatihan berlangsung selama 10 x pertemuan dengan durasi setiap pertemuan 4 Jam. Pelatihan difokuskan pada jenis-jenis fotografi, seperti:
i. Fotografi Alam (Nature/ Landscape) ii. Fotografi Satwa
iii. Fotografi Jurnalistik iv. Fotografi Interior
v. Fotografi Fashion 2) Laboratorium Komputer
Ruang yang digunakan untuk pengajaran digital fotografi dan editing foto.
3) Perpustakaan
Ruang ini digunakan sebagai tempat penyimpanan buku atau media pembelajaran lainnya tentang dunia Fotografi.
6. Persyaratan dan kriteria Ruang
Fasilitas utama Pusat Fotografi adalah sebagai berikut:
a. Fasilitas Galeri
Adalah suatu fasilitas berisi ruang pamer yang mengkomunikasikan karya-karya visual arts atau seni visual. Salah
satu faktor penting dalam fasilitas galeri adalah membangkitkan suasana dan ritme yang baik. Berdasarkan studi banding hal tersebut dapat dicapai melalui perbedaan luasan ruang.
Faktor-faktor dalam mengkomunikasi karya-karya visual arts yang berhubungan langsung dengan manusia harus memperhatikan:
1) Tinggi rata-rata manusia Indonesia sehingga pandangan mata dapat mencakup obyek yang dilihat dalam posisi nyaman.
Tabel V.1 : Standar kenyamanan pandangan mata terhadap objek
Jenis
Kelamin Tinggi Rata-Rata Pandangan Mata
Pria 165 cm 160 cm
Wanita 155 cm 150 cm
Anak-anak 115 cm 100 cm
2) Kemampuan gerak anatomi leher pengujung manusia, yaitu sekitar 30º ke atas dan 40º ke bawah/ke samping sehingga dalam mengapresiasikan suatu karya selalu dalam posisi badan/leher yang nyaman
3) Pencahayaan yang dapat membangkitkan emosi pengunjung dan meningkatkan kualitas presentasi suatu karya fotografi yang diterima oleh pengunjung.
b. Pola Sirkulasi Galeri
Beberapa tipe sirkulasi yang dapat digunakan 1) Sequential Circulation
Sirkulasi yang terbentuk berdasarkan ruang yang telah dilalui dan benda seni yang dipamerkan satu per satu menurut ruang pamer yang berbentuk ulir maupun memutar sampai akhirnya menuju entrance area pertama memasuki galeri tersebut
2) Random Circulation
Yaitu sirkulasi yang mana pengguna dapat memilih jalannya sendiri dari bentuk ruang tanpa adanya batasan dinding pemisah ruang.
3) Ring Circulation
Yaitu sirkulasi yang memiliki dua alternatif, ini lebih aman karena memiliki dua rute untuk menuju keluar.
4) Radial Circulation (menyebar)
Disini pengunjung tidak diarahkan untuk menuju suatu ruang tertentu, tetapi pengunjung bebas melihat barang yang didisplay sesuai dengan keinginan.
5) Linear Bercabang
Sirkulasi pengunjung tidak terganggu, pembagian koleksi jelas dan pengunjung bebas melihat koleksi.
c. Fasilitas Seminar/ workshop
Komponen utama pada sebuah ruang seminar : 1) Auditorium/stage
2) Ruang public 3) Backstage
Dari ketiga komponen tersebut yang paling berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu performing adalah auditorium/stage. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam auditorium/stage ini adalah:
1) Garis pandangan (sight lines)
Garis pandangan ini adalah untuk mendapatkan pemandangan penonoton yang jelas, bebas dari halangan dan terbuka.
Keterangan :
P : titik pandang terendah dan berdekatan pada panggung yang dapat dilihat jelas oleh penonton. Jika panggung dapat dinaikan (600-1100 mm) dari lantai terendah auditorium maka P adalah setting line dari pertunjukan. Setting line pertunjukan tidak boleh lebih dari 600 mm dari lantai panggung. Jika terdapat orchestra pit maka P adalah kepala konduktor orkestra.
HD: jarak horizontal antar mata penonton tepat dibelakangnya, dimana berhubung dengan ruang antar baris kursi (760-1150).
EH : tinggi mata normal 1120 mm diatas lantai dibawahnya, titik
mata ini akan tergantung pada dimensi kursi.
E : jarak antara pertengahan mata dengan kepala bagian atas, diambil 100 m. Untuk kepastian pemandangan yang jelas/ terbuka min 125 mm.
D : jarak antara penonton di baris depan dengan P. Lebih dekatnya baris pertama dengan stage mengakibatkan rendahnya posisi lantai penonton.
2) Pengaturan kursi auditorium
Pengaturan kursi ini adalah untuk memberikan kenyamanan penonton pada suatu pertunjukan.
3) Dimensi kursi
a) Lebar kursi dengan sandaran lengan minimal 525 mm b) Lebar kursi tanpa sandaran lengan minimal 450 mm
c) Tinggi kursi dan kemiringan : 430-450 mm dan sudut horizontal 7-9º
d) Tinggi sandaran punggung dan kemiringan 800-850 mm dari lantai (dapat ditinggikan untuk alasan akustik) dan sudut belakang 15-20º
e) Kedalaman kursi : 600-720 mm untuk kedalaman kursi dan sandaran punggung, jika kursi dapat dilipat maka kedalaman :
425-500 mm
f) Sandaran lengan : lebar min.50 mm, tinggi 600 mm diatas lantai 4) Jumlah kursi dalam satu baris:
a) Jika terdapat 2 gangways pada tiap sisi baris : 22 kursi.
b) Jika hanya terdapat 1 gangways di dalam satu sisi baris : 11 kursi 5) Ruang antar baris kursi:
a) Ruang lewat (clearway) : min 300-500 mm b) Dimensi jarak antar baris : min 850 mm
d. Fasilitas Kursus
1) Ruang Kelas
Ruang Kelas diharapkan terletak pada area yang jauh dari kebisingan. Ketinggian plafon maksimum 4 m dari lantai.
Pencahayaan ruangan tidak boleh membuat mata menjadi lelah (De Chiara, p. 161).
2) Studio Foto
Studio fotografi membutuhkan sudut pandang minimum yang disesuaikan dengan jenis lensa pada kamera. Karena banyaknya ragam dan jenis lensa, maka penentuan pendekatan hanya berdasarkan jenis lensa 50 mm. Asumsi ini digunakan karena jenis lensa ini banyak dijual dipasaran dan merupakan lensa standar kamera. Syarat- syarat yang harus diperhatikan pada
perencanaan studio :
a) Karena tidak memiliki bukaan maka dipergunakan AC
b) Dinding dan lantai tidak boleh ada bayangan atau warna yang terlalu banyak memantulkan cahaya. Cat dinding yang dipakai sebaiknya berwarna abu-abu dengan pertimbangan sedikit memantulkan sinar tapi tidak mempengaruhi pola warna yang dikehendaki.
c) Memiliki ruang penyimpanan dan peralatan studio − Memiliki R.
Rias, R. Ganti, e. R. Persiapan dan toilet.
Ketinggian plafon dengan memperhitungkan perangkat lampu yang digantung pada relnya sekitar 3-4 m.
C. Tinjauan Umum Pendekatan Konsep Arsitektur Metafora 1. Pengertian Metafora
Secara etimologis, terminologi metafora dibentuk melalui perpaduan dua kata Yunani, yaitu “meta” (diatas) dan “pherein” (mengalihkan). Dalam bahasa Yunani Modern, kata metafora juga bermakna “transfer” atau
“transpor”. Dengan demikian, metafora adalah pengalihan citra, makna, atau kualitas sebuah ungkapan kepada suatu ungkapan lain. (Classe, 2000).
Berikut ini adalah pengertian metafora menurut para ahli:
a. Menurut Aristoteles, metafora merupakan sarana berpikir yang sangat efektif untuk memahami suatu konsep abstrak, yang dilakukan dengan cara memperluas makna konsep tersebut dengan cara membandingkannya dengan suatu konsep lain yang sudah dipahami.
(Ortony, 1993).
b. Metafora merupakan ungkapan figuratif yang didasarkan pada perbandingan (Larson, 1998).
c. Metafora merupakan sesuatu yang istimewa dan hanya digunakan oleh orang-orang berbakat sebagai ornamen retoris. (Amstrong, 1936).
2. Pengertian Metafora Dalam Arsitektur
Di dalam arsitektur, metafora juga diterapkan sebagai pendekatan dalam arsitektur. Berikut ini adalah pengertian metafora menurut para ahli:
a. Menurut Geoffrey Boadbent Metafora dalam arsitektur merupakan salah satu metode kreativitas yang ada dalam design spectrum perancang.
b. Menurut Anthony C Antoniades 41 Metafora dalam arsitektur adalah suatu cara memahami suatu hal, dengan menerangkan suatu objek dengan objek yang lain, serta mencoba untuk melihat suatu objek sebagai sesuatu yang lain
c. Menurut C Snyder dan Anthony J Catennese Metafora mengindentifikasi pola-pola yang mungkin terjadi dari hubunganhubungan pararel dengan melihat keabstrakannya.
3. Jenis-Jenis Metafora
Metafora merupakan sebuah pendekatan dalam arsitektur yang memiliki konsep sebagai idenya dab hasilnya adalah berupa makna yang terungkap secara konkrit maupun abstrak dari perancang kepada pengguna atau pelaku bangunan sehingga bermakna konotatif di samping sebagai fungsi utamanya sebagai bangunan. Menurut Anthony C Antoniades dalam bukunya Poetic of Architecture, terdapat tiga jenis kategori dari pendekatan metafora dalam arsitektur. Ketiga jenis itu adalah:
a. Metafora Konkrit adalah metafora yang berasal dari hal-hal visual serta spesifikasi / karakter tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah adalah puri atau istana, maka wujud rumah menyerupai istana.
b. Metafora Abstrak adalah metafora yang berasal dari sebuah konsep, hakikat manusia, nilai-nilaim dan ide seperti: individualisme, naturalisme, komunikasi, tradisi dan budaya. Ide dari metafora jenis ini berasal dari sebuah konsep yang abstrak.
c. Metafora Kombinasi Merupakan penggabungan antara metafora konkrit dan metafora abstrak dengan membandingkan suatu objek visual dengan yang lain dimana mempunyai persamaan nilai konsep dengan objek visualnya. Metafora kombinasi dapat dipakai sebagai sarana dan acuan kreativitas perancangan.
4. Prinsip-Prinsip Arsitektur Metafora
Melalui berbagai sumber yang dikumpulkan, maka didapati lima prinsip pendekatan arsitektur metafora yang perlu diperhatikan dalam merancang dengan menggunakan pendekatan ini:
a. Metafora berarti usaha untuk memindahkan keterangan dari suatu subjek ke subjek lain.
b. Metafora dalam arsitektur bukan hanya masalah penggunaan gaya Bahasa, namun juga masalah pikiran dan tingikan. Metafora mempengaruhi semua dimensi dalam indra manusia seperti melalui warna, bentuk, tekstur, suara.
c. Metafora merupakan usaha untuk melihat suatu subjek menjadi suatu hal yang lain untuk diterapkan ke dalam arsitektur.
d. Arsitek tidak hanya dapat menerapkan secara langsung, tapi juga menerapkannya bahasa verbal dan konseptual suatu bentuk metagora ke dalam sebuah gambaran visual dengan menggunakan interpretasi yang berbeda untuk menghasilkan gambaran visual yang baru. Cara ini dinilai lebih baik ketimbang menggunakan metafora secara langsung ke dalam bentuk arsitektural.
e. Salah satu metode utama penerapanan metafora dalam arsitektur adalah dengan mengubah fokus penyelidikan dan penelitian area yang difokuskan dengan harapan hasilnya dapat melebihi ekspetasi dalam
menjelaskan subjek yang dimaksud secara luas dan dengan cara yang baru
5. Contoh Penerapan Pendekatan Metafora pada Arsitektur
a. Sydney Opera House merupakan karya arsitektur yang memberikan multiinterpretasi bahasa metafora kepada setiap orang yang melihatnya.
Bangunan yang dirancang oleh Jorn Utzon ini memberikan berbagai macam interpretasi. Ada yang beranggapan bahwa konsep dari Sydney Opera House berasal dari cangkang kerang atau siput. Ada juga yang mengatakan bahwa konsep dari bangunan ini adalah kiasan layer kapal yang sedang dikembangkan, ada juga yang berpendapat bahwa bentuknya bagaikan bunga yang sedang mekar.
Gambar II.16 : Sidney Opera House, Australia Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 23 Agustus 2019
b. LEGO House Sebuah bangunan yang diracang oleh arsitek Bjarke Ingel Group (BIG) ini terletak di Denmark. Bangunan ini disebut- sebut menjadi LEGO Experience Center dimana pengunjung dapat merasakan pengalaman dan mengingat kembali pengalaman di dunia
LEGO. Tidak hanya bentuk bangunan, setiap furnitur di dalamnya dirancang khusus sesuai dengan bentuk dan konsep dari LEGO itu sendiri
Gambar II.17 : Lego House, Denmark
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 23 Agustus 2019
D. Esensi Arsitektur Metafora Pada Pusat Fotografi
Produk yang di hasilkan dari fotografi memiliki karakter dan keunikan tersendiri dalam karyanya. Karakter tersebut yang membentuk identitas yang berbeda dari karya lainnya. Namun jika melihat kondisi bangunan penyedia jasa dan barang fotografi yang sudah ada. Identitas tersebut kurang terlihat oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan bangunan yang menyediakan jasa dan penjualan barang fotografi cukup terbatas luasannya dan hanya mewadahi kegiatan penyedia jasa fotografi. Untuk memunculkan identitas fotografi kepada masyarakat, diperlukan suatu wadah yang tidak hanya yang tidak hanya tempat pelayanan jasa fotografi dan penjualan barang fotografi, namun juga mewadahi perkembangan kegiatan dan pusat edukasi fotografi. Wadah
tersebut melalui adanya Pusat Fotografi yang menjadi pusat kegiatan fotografi. Bangunan penyedia jasa yang telah ada cenderung konvensional, sama sekali tidak mencerminkan karakter dari fungsi bangunan tersebut.
Karakter yang dimaksud adalah karakter fotografi yang aktraktif, dinamis serta memberikan kesan menarik. Dengan menampilkan karakter tersebut diharapkan mampu mempresentasikan dunia fotografi kedalam bangunan.
Untuk menerapkan karakter dan unsur fotografi kedalam bangunan objek rancang bangun cara yang paling tepat adalah dengan menggunakan metode yang sesuai. Metode pendekatan desain yang diperlukan adalah metode desain yang dapat mentrasformasikan karakter footografi dalam bangunan adalah arsitektur metafora. Arsitektur metafora adalah kiasan atau ungkapan bentuk, yang diwujudkan dalam bangunan dengan harapan akan menimbulkan tanggapan dari orang yang menikmati atau memakai karyanya.
Proses pendekatan metafora dalam mendesain dilakukan dengan cara analogi.
Analogi disini merupakan membandingankan suatu benda kedalam sesuatu yang lain dimana masih terdapat karakter/ sifat unsur dasar yang ada pada benda tersebut yng diterapkan pada objek rancang bangun. Dengan kata lain memindahkan sifat karakter objek rancang bangun dengan bentuk lain.
Dalam Pusat Fotografi diharapkan arsitektur metafora dapat memunculkan karakter fotografi kedalam bentuk bangunan dengan cara penganalogian. Analogi yang digunakan adalah analogi-analogi dari unsur
desain fotografi ( unsur visual maupun unsur tersirat ) yang dipindahkan dalam bentuk yang lain kedalam bangunan.
Pendekatan arsitektur metafora diambil dan diterapkan pada perancangan Pusat Fotografi di Kota Makassar untuk menciptakan suatu bangunan yang mampu menarik perhatian orang, mampu memberi kesan dan citra sendiri, serta mampu mewakili suasana dan aktivitas yang terdapat di dalamnya.
Keberadaan simbol sangat mempengaruhi makna dari suatu bangunan.
Perlu ditekankan bahwa bangunan/arsitektur tersebut dapat berbicara sendiri pada pengamat tentang apa fungsi atau untuk apa dia ada. Dengan demikian pengamat akan merasa lebih mengenal dan ingat akan citra yang ditunjukan oleh bangunan tersebut. dalam penerapannya bangunan ini diharapkan dapat menjadi ikon baru di kota Makassar.
E. Studi Literature Dan Studi Banding 1. Studi Literatur
a. Nikon Plaza Ginza
Nikon Plaza Ginza terletak di jantung kota Tokyo Metropolis.
Nikon Ginza Plaza menawarkan seni dan budaya di tanah dunia. Fasilitas dari Nikon Plaza Ginza adalah galeri foto, ruang seminar, fungsi kompleks dengan layanan counter. Nikon Plaza Ginza juga dibagi
menjadi tiga bagian, Showroom, salon, dan layanan pelanggan membuat Pusat Layanan.
Gambar II.18 : Nikon Plaza Ginza
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 27 November 2019
Fasilitas yang ada pada bangunan ini adalah :
1) Museum, pada Ruangan Ini ditampilkan sejumlah kamera Nikon yang memiliki nilai sejarah.
2) Ruang Seminar
3) Nikon salon dam galeri foto
4) Lensa corner, merupakan ruangan yang menampilkan sejumlah kamera menampilkan sejumlah kamera.
5) Perelengkapan aksesoris fotografi
6) Foto square, ruangan ini berisikan foto-foto dari fotografer professional maupun amatir
7) Service centre 8) Lounge
b. Nikon Plaza Shinjuku
Plaza Nikon di Shinjuku terletak di lantai 28 sebuah gedung yang disebut L-Tower. Jadi, ada pemandangan spektakuler dari Lobi Shinjuku.
Gambar II.19 : Nikon Plaza Shinjuku
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 27 November 2019
Fasilitas yang ada pada Bangunan ini adalah : 1) Ruang seminar
2) Try corner and touch, ruangan ini adalah display kamera digital dimana pengunjung dapat langsung mencoba menggunakan kamera-kamera tersebut.
3) Lensa Corner 4) Foto Square
5) Teropong Corner, digunakan untuk menikmati pemandangan yang luas dari lantai 28. Dimana pengunjung dapat menikmati suasana hari yang cerah dilembah gunung fuji dan begitu juga suasana pada malam hari. Disini pengunjung dapat
menggunakan berbagai jenis teropong merek Nikon dengan berbagai sudut pandang.
6) Perlengkapan aksesoris fotografi
7) Nikon salon, adalah ruang pameran yang hanya menampilkan foto-foto terbaik dari hasil Nikon Photography Contest.
8) Service centre
c. Nikon Plaza Kuala Lumpur
Gambar II.20 : Nikon Plaza Shinjuku
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 27 November 2019
Nikon Center adalah tempat one-stop terbesar untuk para penggemar kamera Nikon dan fotografer dari semua tingkatan untuk pengalaman, praktek, belajar, menemukan inspirasi atau berbagi alat-alat fotografi dan saksi karya pengambil gambar lokal dan internasional dan pembuat. Pusat ini memiliki ruang pamer yang menampilkan berbagai macam Coolpix, DSLR, lensa Nikkor, kecepatan cahaya berkedip dan lensa lainnya accessories.
Disini juga menampilkan beberapa model legendaris penambahan
Nikon. Nikon Center memiliki departemen pelayanan dan perbaikan , ruang galeri sederhana untuk pameran dan ruang seminar bagi lokakarya.
Terletak di Level 1, East Wing dari Berjaya Times Square Mall, pusat mudah dan nyaman diakses oleh semua bentuk transportasi umum. Pusat ini dibuka setiap hari pukul 10 pagi hingga 10 malam, termasuk hari libur.
Pusat Nikon telah menerima lebih dari 20.000 pengunjung setelah peluncuran pada pertengahan Desember 2009. Untuk merayakan pembukaan resmi pada tanggal 8 Januari 2010, kegiatan menarik seperti tunas model, pertunjukan budaya, ceramah dan seminar tentang fotografi akan berlangsung selama 3 hari berikutnya (8 Januari - 10 Januari 2010). Bekerja sama dengan Nikon, Futuromic AV Photo Sdn Bhd bekerjasama dengan Nikon untuk mengelola Nikon Center. Futuromic AV Photo Sdn Bhd adalah sebuah tim terampil di bawah pimpinan Alex fotografer terkenal Malaysia.
Fasilitas yang ada pada bangunan ini adalah ;
1) Ruang seminar, terdapat ruang seminar untuk lokakarya dan pembicaraan oleh fotografer terkenal di seluruh wilayah. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tertarik dengan dunia fotografi batik itu dari amatir hingga professional, akan diberikan
kesempatan untuk mebahas produk terbaru, pameran fotografi dan isu-isu terkait
2) Showroom untuk berbagai macam DSLR, Coolpix, Lensa, Lampu dan aksesoris lainnya. Pada showroom disediakan sejumlah kamera yang dapat digunakan / dicoba oleh pengunjung. Dan dilengkapi objek dengan ukuran mini yang diletakkan ditengah – tengah display kamera.
3) Pusat Layanan dan Perbaikan
4) Galeri Foto, Foto-foto yang dipamerkan pada ruang galeri foto adalah foto-foto dari fotografer handal Malaysia.
5) Display untuk Nikon Model Legendaris, menampilan legendaris Nikon DSLR dari tahun 1948.
d. Nikon School Indonesia
Nikon School Indonesia, disingkat NSI, adalah sebuah lembaga pendidikan resmi dengan dukungan dari Nikon Indonesia.
NSI berdiri tahun 2008 dan bukan merupakan kelanjutan atau cabang dari lembaga pendidikan fotografi lain yang sudah berdiri sebelum tahun 2008. NSI berpusat di Jakarta dan telah memiliki akan memiliki cabang di beberapa kota besar Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan direncanakan pada kotakota lain yang dianggap cukup potensial dalam perkembangan dunia fotografi nasional.
Tujuan NSI, yaitu memberikan pengertian hakikat fotografi yang benar, serta keterampilan praktis fotografi digital kepada para siswa, sensual dengan level yang diikutinya, baik fotografi sebagai hobi ataupun yang nantinya akan dikembangkan sebagai profesi.
Pendidikan fotografi di NSI menerapkan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan fotografi era digital, dimana cara belajar fotografi saat ini sangat berbeda dengan ketika fotografi mempergunakan film seluloid (fotografi analog). Fotografi merupakan penggabungan antara teknik/
keterampilan, teknologi dan rasa. Ketiga hal ini akan dipelajari para siswa NSI dengan cara yang mudah dimengerti.
Gambar II.21 : Nikon School Indonesia
Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 27 November 2019
e. International Center of Photography
Gambar II.22 : International Center of Photography Sumber:http://www.google.co.id/imege di akses 27 November 2019
International Center of Photography adalah sebuah bangunan yang mewadahi segala aktivitas yang berkaitan dengan seni fotografi seperti museum fotografi, sekolah, dan pusat penelitian. Bangunan ini terletak di Midtown Manhattan di New York City , Amerika Serikat dan didirikan pada tahun 1974.
Sejarah
Sejak didirikan pada 1974 oleh Cornell Capa dalam sejarah Willard Straight House, di Fifth Avenue's Mile Museum , ICP teal melaksanakan lebih dari 500 pameran, dengan menyajikan lebih dari 3.000 karya fotografer dan seniman lainnya serta kelompok pameran dan menyediakan ribuan kelas dan lokakarya yang telah memperkaya puluhan ribu mahasiswa. ICP didirikan sebagai lembaga untuk menjaga warisan 'hidup Fotografi Peduli'. Setelah kematian sebelum
waktunya saudaranya Robert Capa dan rekan-rekannya Werner Bischof , David "chim" Seymour , dan Dan Weiner pada 1950-an, Capa melihat kebutuhan untuk terus bekerja dokumenter kemanusiaan mereka yang relevan dan dapat dilihat dengan mata publik. Pada tahun 1966 ia mendirikan Dana Internasional untuk Fotografi Peduli.
Perancangan & Rekonstruksi
Galeri diperluas, di 1133 Avenue of Americas di 43 Street, dirancang oleh Gwathmey Siegel & Associates Architects untuk tampilan fotografi dan media baru dengan negara-of the-art- pencahayaan, sistem kontrol iklim, dan sistem presentasi digital.
Pembukaan lahan kembali (1.600 m 2 situs 17.000, sebelumnya digunakan sebagai galeri foto untuk Kodak, pada musim gugur tahun 2000 yang disediakan dalam satu lokasi ruang galeri yang sama seperti dua situs sebelumnya digabungkan dan menjadi markas program publik ICP's pameran.
Fasilitas-fasilitas yang disediakan : 1) Fasilitas Pendidikan
2) Perpustakaan
3) Digital Laboratorium 4) Ruang Gelap (dark Room)
5) Ruang Pameran
ICP melayani lebih dari 5.000 siswa setiap tahun, menawarkan 400 program studi dalam kurikulum yang berkisar dari kelas kamar gelap ke sertifikat dan program gelar master.
Program pendidikan lainnya termasuk serangkaian kuliah, seminar, simposium, lokakarya diselenggarakan oleh fotografer profesional, dan kegiatan yang saling melengkapi.
Fasilitas negara-fitur kelas-the-art dan ruang lab hitam- putih dan warna; laboratorium digital dengan sumber daya untuk multimedia, fotografi digital, mengedit video dan produksi; dan sebuah studio pemotretan profesional. Dirancang oleh Gensle, sebuah York arsitektur berbasis perusahaan dibedakan Baru, Sekolah termasuk perpustakaan, ruang siswa, dan mahasiswa dan pameran galeri masyarakat. Di antara bangunan arsitektur highlights adalah pintu masuk kaca paviliun mencolok di plaza gedung. Sekolah menawarkan:
1) Sebuah pilihan sepanjang tahun kelas Pendidikan Berkelanjutan 2) Dua Program Sertifikat Satu-Tahun:
a) Studi Umum.
b) Dokumenter Fotografi & Jurnalisme Foto.
3) Program ICP-Bard di Studi Lanjutan Fotografi, program sarjana
dua tahun yang mengarah ke master seni rupa.
Resume Studi Literatur banding bangunan sejenis : Tabel II.1 Resume studi banding proyek sejenis
No Nama Fasilitas Kelebihan Dan Kekurangan
1. Nikon Plaza Ginza a. Ruang Seminar b. Nikon Salon c. Museum d. Lensa Corner e. Ruang penjualan
perlengkapan aksesoris fotografi f. Fotosquare g. Service Center h. Lounge
a. Kelebihan
Lokasi berada pada kawasan pusat mode Tokyo.
b. Kekurangan Fasilitas Ruang seminar memiliki ukuran yang kecil.
2. Nikon Plaza Shinjuku
a. Tri-corner &
Touch
b. Lensa Corner c. Foto Square d. Teropong corner e. Ruang Penjualan f. perlengkapan
aksesoris g. fotografi h. Ruang Seminar i. Nikon Salon j. Service Center
a. Kelebihan : Memiliki Fasilitas
Teropong Corner, dimana pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah diluar gedung.
b. Kekurangan : Tidak memiliki dan menggambarkan ikon dari fotografi karena Nikon Center Shinjuku hanya menyewa ruang pada Gedung L-Tower.
3. Nikon Center Kuala
Lumpur
a. Showroom Kamera b. Ruang Galeri c. Display kamera
dan objek mini d. Ruang Seminar e. Ruang Pelayanan
dan perbaikan f. Display untuk Nikon Model Legendaris
Kelebihan :
Memiliki fasilitas Display kamera dan objek mini, dimana pengunjung dapat mencoba
menggunakan kamera, dan disediakan objek berukuran mini untuk dijadikan sasaran foto.
Kekurangan : Tidak memiliki dan menggambarkan ikon dari
fotografi karena Nikon Center KL hanya menyewa ruang pada Berjaya Times Square Mall.
4. Nikon School Indonesia
a. Ruang Kelas b. Studio
c. Lab. Komputer d. Ruang
Cetak Foto Digital
Kelebihan :
Kurikulum pendidikan menyesuaikan dengan perkembangan fotografi era digital.Sering melakukan hunting foto ke tempat- tempat yang memiliki objek foto baik, seperti Danau Toba.
5. International center of photography
Fasilitas Pendidikan Perpustakaan Digital Laboratorium Ruang Gelap (dark Room)
Ruang Pameran Ruang Seminar Ruang Audio Visual
Kelebihan : Memiliki ruang
laboratorium digital dengan sumber daya untuk
multimedia, fotografi digital
Sumber : Analisa Penulis
2. Studi banding
Studio Foto Avalon Makassar berada di jalan Batua Raya Kecamatan Mangala Kota Makassar..
Gambar II.23 : Studio foto Avalon Sumber:Dokumentasi Penulis
Gambar II.23 : Studio foto Avalon Sumber:Dokumentasi Penulis
a. Pengaturan ruangan studi foto Avalon 1) Tertutup, tidak perlu sinar matahari
2) Membutuhkan pencahayaan buatan yang bersumber pada lampu – lampu yang mampu mengkondisikan terhadap obyek (intensitas cahaya, peletakan lampu).
3) Faktor kebersihan dan kelembapan sebagai ruang tertutup untuk menjaga peralatan yang ada didalamnya.
4) Dinding dan lantai memiliki bahan (material) atau warna yang mampu menyerap cahaya serta tidak menimbulkan efek bayangan dan pantul.
b. Perlengkapan foto Studio foto Avalon 1) Camera dan Lens 4) Soft boc 2) Umberella lamp Studio 5) Snoot
3) Electronic Flash 6) Ruang Studio/Background theme
BAB III
TINJAUAN KHUSUS PERANCANGAN PUSAT FOTOGRAFI DI KOTA MAKASSAR
A. Tinjauan Khusus Kota Makassar
Gambar III.1: Kota Makassar Sumber : pn.makassar.go.id
Kota Makassar dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang adalah ibu kotaprovinsi Sulawesi Selatan. Makassar merupakan kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur dan pada masa lalu pernah menjadi ibu kota Negara Indonesia Timur dan Provinsi Sulawesi. Makassar terletak di pesisir barat daya Pulau Sulawesi dan berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.
Menurut Bappenas, Makassar adalah salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan Medan, Jakarta, dan Surabaya.
Dengan memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa, kota ini berada di urutan kelima kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya Bandung dan Medan secara demografis, kota in tergolong tipe multi etnik atau multi kultur dengar beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya, diantara yang signifikan jumlahnya adalah Bugis, Toraja, Mandar, Jawa, Buton, dan Tionghoa.( Wikipedia Indonesia).
1. Kondisi Geografis dan Batas Wilayah
Makassar terletak diantara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19”
Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut : a. Utara = Kabupaten Maros
b. Selatan = Kabupaten Gowa c. Barat = Selat Makassar d. Timur = Kabupaten Maros
Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang). Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi.
2. Kondisi Iklim
Kota Makassar memiliki kondisi iklim sedang hingga tropis memiliki suhu udara rata-rata berkisar antara 26,°C sampai dengan 29°C. Berikut ini rata-rata suhu udara perbulan dikota Makassar.
Tabel III.1 Rata-rata suhu perbulan di kota Makassar
Bulan Suhu Udara ( °C )
Rata-rata Maksimun Minimun Januari
Februari Maret
26,7 27,3 27,6
30,0 30,9 31,7
24,4 24,5 24,7