Copyright © Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi (JP2V)
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH
SISWA KELAS V-5 MIN 20 ACEH BESAR Ruslaini1
Diterima : 15 Februari 2021 Disetujui : 22 Februari 2021
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi sistem peredaran darah melalui penggunaan media gambar. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode media gambar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar. Jumlah siswa adalah 39 siswa dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 26 orang dan perempuan sebanyak 13 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2019/2020 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan Agustus s.d Oktober 2019 pada Semester Ganjil. Metodologi penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan.
Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan nilai tes yang dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan instrument soal (tes tertulis). Data observasi dilakukan dengan melihat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Data dianalisis dengan cara statistik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 43.58 % pada pra penelitian meningkat menjadi 69.23 % pada siklus I dan meningkat menjadi 89.74 % pada siklus II. Penerapan penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi sistem peredaran darah siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019/2020.
Kata kunci: Media Gambar, Aktivitas, Hasil Belajar, Sistem Peredaran Darah.
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam kaitannya dengan mutu pendidikan, prestasi belajar siswa dapat digunakan sebagai indikator langsung terhadap mutu pendidikan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, misalnya saja dari faktor internal, seperti; bakat, minat, motivasi belajar dan lain-lain, serta faktor eksternal seperti pergaulan, lingkungan dan keluarga. Proses pembelajaran yang sementara ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita masih banyak yang mengandalkan cara-cara lama dalam penyampaian materinya. Di masa sekarang banyak orang mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dari kualitas yang telah dilakukan di sekolah-ssekolah (Hermawan, 2014).
Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktif terlihat dari adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkan pada pencapaian tujuan dan target kurikulum. Salah satu upaya guru dalam menciptakan suasana kelas yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran yakni dengan menggunakan alat peraga. Hal ini dapat membantu guru dalam menggerakkan, menjelaskan gambaran ide dari suatu materi.
Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan lebih baik menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta alam. IPA sebagai ilmu dapat didefinisikan sebagai proses ilmiah, sikap ilmiah, dan produk ilmiah. IPA sebagai produk memiliki komponen yang terdiri dari hokum dan teori. Di dalam hokum dan
teori terdapat komponen yang lebih kecil lagi yang disebut konsep. Pembelajaran IPA memiliki fungsi yang fundamentasl dalam menimbulkan serta mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan inovatif (Depdiknas, 2006).
Agar tujuan dapat tercapai, maka IPA perlu diajarkan dengan cara yang tepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif yanitu melalui proses dan sikap ilmiah. Mutu pembelajaran IPA perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untuk mengimbangi perkembangan teknologi. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran tersebut, tentu banyak tantangan yang dihadapi. Sementara ini masih banyak orang beranggapan bahwa Matematika dan IPA merupakan pelajaran yang sulit, serta kurang menarik minat baik di kalangan siswa maupun guru. Hal tersebut mungkin karena dalam materi IPA banyak sekali menggunakan rumus-rumus, dan hitungan yang cukup sulit dimengerti oleh siswa (Winataputra, 2001).
Dari uraian tersebut untuk menguasai konsep seseorang harus bisa membedakan antara benda yang satu dengan benda yang lain, demikain juga dengan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
Di dalam belajar penyajian materi secara langsung tanpa pertimbangan konsep dasar dari siswa dapat berakibat kurangnya pemahaman siswa tentang materi yang dipelajari contohnya ketika siswa diajarkan tentang daun dan akar, siswa hanya akan mempelajari materi itu saja yang teorinya bersumber dari guru saja, tanpa adanya keinginan untuk mempelajari hal yang lebih luas dari itu (eksperimen) bahwa ada satuan peta konsep yang lebih luas dari sekedar akan dan daun.
Mayoritas siswa di MI akan mengantuk atau bahkan stress setiap kali ada pelajaran atau ujian IPA. Hasil observasi terhadap siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar menunjukkan ternyata separuh siswa tidak mengerti konsep materi IPA yang dia pelajari. Siswa sebatas menghafal teori untuk kemudian akan diujikan baik dalam ulangan harian, ujian tengan semester, ujian semester. Hal ini cenderung mengakibatkan adanya sikap bosan yang berakibat dengan turunnya minat belajar, sehingga nilai ulangan harian siswa untuk mata pelajaran IPA banyak berada di bawah KKM yaitu 70. Di samping pemahaman siswa yang belum benar, penyajian materi yang monoton tanpa menggunakan model belajar yang menarik menimbulkan sikap pasif dari siswa. Menurut pengamatan penulis, rendahnya pemahaman siswa disebabkan karena metode guru dalam mengajar kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran di kelas. Guru masih banyak memposisikan dirinya sebagai subyek pembelajaran sementara siswa banyak memposisikan didirinya sebagai obyek pembelajaran guru juga kurang memperhatikan bahwa masing-masing siswa mempunyai gaya belajar yang berlainan, sehingga dalam penyampaian dan penerimaan materi oleh siswa dalam taraf yang berlainan.
Penggunaan media gambar sebagai alternative pembelajaran, dimaksudkan agar siswa mudah memahami dan mengingat materi yang diajarkan. Ketika siswa belajar sebenarnya mereka melakukan suatu kegiatan merangkai konsep yang telah dimilikinya dengan konsep baru. Dengan demikian, konsep yang dimiliki seorang siswa merupakan dasar untuk mempelajari konsep berikutnya. Pembelajaran akan berhasil jika dalam setiap penyampaian materi, guru memperhitungkan tingkat pengalaman awal siswa dan sejauh mana siswa mengetahui materi ajar yang akan dipelajari. Dampak konkret dari pembelajaran yang tidak memperhitungkan pengalaman awal siswa adalah terjadinya penurunan minat belajar, siswa tidak mengerti apa yang dipelajarinya, karena siswa tidak pernah mengalami secara nyata materi apa yang dijelaskan.
Atas dasar kenyataan inilah, maka perlu dicari alternative pemecahan permasalahannya diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran IPA yang sesuai dengan kondisi siswa dan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis ingin membuktikan kegunaan media gambar melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengangkat judul, “Penggunaan Media Gambar Dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA pada Materi Sistem Peredaran Darah Siswa Kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019/2020.”
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui bagaimana penerapan media gambar sebagai upaya meningkatkan hasil belajar IPA pada materi sistem peredaran darah di kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019/2020.
2) Untuk mengetahui seberapa besar media gambar mampu meningkatkan hasil belajar IPA materi sistem peredaran darah di kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019/2020.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor. Dimyati dan Mudjiono (2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Dijelaskan oleh Bloom, menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hasl yang dipelajari.
3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan kedalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.
6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan criteria tertentu. Misalnya kemampuan menilai hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA yang mencakup tiga tingkatan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Instrument yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes.
2.2. Media Gambar
2.2.1. Pengertian Media Gambar
Di antara media pendidikan, gambar adalah media yang paling umum dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmti dimana-mana. Oleh karena itu, pepatah Cina yang mengatakan bahwa sebuah gambar berbicara lebih banyak daripada seribu kata. Media gambar sesuai kelompoknya merupakan media visual dua dimensi pada bidang tidak transparan.
Menurut Azhar Arsyad (2011) media gambar termasuk dalam bentuk visual berupa gambar representasi seperti gambar, lukisan, atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatu benda.
Sedangkan menurut Oemar Hamalik (1986) berpendapat bahwa Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) Gambar adalah tiruan barang, binatang, tumbuhan dan sebagainya.
Menurut Arief Sadiman, dkk (2011) Media grafis visual sebagimana halnya media yang lain.
Media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.
Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampian pesan dapat berhasil dan efisien.
2.2.2. Kriteria Pemilihan Media Gambar
Supaya gambar mencapai tujuan yang maksimal sebagai alat visual, gambar harus dipilih menurut syarat-syarat tertentu. Syarat- syarat tersebut adalah sebagai berikut :
1) Gambar harus bagus, jelas, menarik, mudah dimengerti dan cukup besar untuk dapat memperlihatkan detail.
2) Apa yang tergambar harus cukup penting dan cocok untuk hal yang sedang dipelajari atau masalah yang sedang dihadapi.
3) Gambar harus benar dan autentik, artinya menggambarkan situasi yang serupa jika dilihat dalam keadaan sebenarnya.
4) Kesederhanaan penting sekali. Gambar yang rumit sering mengalihkan perhatian dari hal-hal yang penting.
5) Gambar harus sesuai dengan kecerdasan orang yang melihatnya.
6) Warna walau tidak mutlak dapat meninggalkan nilai sebuah gambar, menjadikannya lebih realistis dan merangsang minat untuk melihatnya. Selain itu warna juga dapat memperjelas arti dari apa yang digambarkan. Akan tetapi penggunaan warna yang salah sering menghasilkan pengertian yang tidak benar.
7) Ukuran Perbandingan penting pula. Hal ini sebagai pembeda dari ukuran gambar dengan ukuran sebenarnya.
Menurut Arif S. Sadiman, dkk (2011) gambar yang baik pada lazimnya dapat menggunakan kriteria-kriteria antara lain :
1) Keaslian gambar, gambar menunjukkan situasi yang sebenarnya seperti melihat keadaan benda sesungguhnya.
2) Kesederhanaan, sederhana dalam warna menimbulkan kesan tertentu yang mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis.
3) Bentuk item, mudah dipahami dapat digunakan pada gambar dari majalah, surat kabar, dsb.
4) Perbuatan menunjukkan hal yang sedang melakukan suatu perbuatan.
5) Fotografi, gambar tidak terlalu terang/ gelap asal dapat menarik dan efektif dalam pengajaran.
6) Artistik, gambar disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
Hal yang lain diungkapkan bahwa dalam menggunakan media gambar ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu pertama, memproduksi sendiri berdasarkan rancangan (desain) yang telah dibuat sebelumnya dan kedua, dengan memanfaatkan bahan yang dapat diperoleh dari internet, buku, jurnal, majalah dan bahan cetak lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, teori yang digunakan sebagai indikator penilaian media gambar yang akan dikembangkan menggunakan kajian teori Arif S. Sadiman, dkk yang meliputi keaslian gambar, kesederhanaan, bentuk item, perbuatan, fotografi, dan artistik.
2.2.3. Kelebihan dan Kekurangan dari Media Gambar a) Kelebihan media gambar
Menurut Dina Indriana (2011) media gambar mempunyai keunggulan yang di antaranya sudah umum digunakan, mudah dimengerti, dapat dinikmati, mudah dan murah didapat atau dibuat, dan banyak memberikan penjelasan daripada menggunakan media verbal. Media gambar atau foto mampu memberikan detail dalam bentuk gambar apa adanya, sehingga anak didik mampu untuk mengingatnya dengan lebih baik dibandingkan dengan metode verbal. Selain itu media gambar juga bisa memecahkan masalah yang ada dalam media oral/verbal, yakni dalam hal keterbatasan daya ingat dalam bercerita atau menjelaskan sesuatu.
Menurut Arief S. Sadiman, dkk (2011) beberapa kelebihan media gambar antara lain :
a) Sifatnya konkrit; Gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
b) Gambar dapat mengatasi batas ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut.
c) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
d) Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
e) Murah harganya dan mudah didapat serta digunakan tanpa peralatan khusus.
Media pendidikan yang digunakan dalam proses belajar mengajar juga mempunyai kelebihan atau manfaat. Menurut Roestijah NK yang dikutip dari Muh. Asdam (1984) manfaat tersebut antara lain :
1) Menambah dan meningkatkan perhatian anak 2) Mencegah verbalitas
3) Memberikan pengalaman yang nyata dan langsung
4) Membantu menumbuhkan pikiran/ pengertian yang teratur dan sistematis
5) Mengembangkan sikap eksploratif
6) Berorientasi pada lingkungan dan memberi kemanfaatan dalam pengamatan.
7) Membangkitkan motivasi kegiatan belajar serta memberikan pengalaman yang menyeluruh.
b) Kelemahan media gambar
Menurut Arif S. Sadiman, dkk (2011) gambar mempunyai beberapa kelemahan yaitu : a. Gambar hanya menekankan persepsi indera mata.
b. Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
c. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.
Sedangkan menurut Daryanto (2011) kelemahan- kelemahan dari media gambar antara lain:
1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai, tetapi tidak cukup besar ukurannya jika digunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar, kecuali jika diproyeksikan melalui proyektor.
2) Gambar adalah berdimensi dua sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Kecuali jika dilengkapi dengan beberapa gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan.
3) Gambar bagaimanapun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup.
Namun demikian, beberapa gambar yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan, dengan maksud meningkatkan daya efektivitas proses belajar mengajar.
c) Prosedur Pengembangan Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan disekolah.
Melalui media pembelajaran guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi dan siswa akan lebih terbantu dan mudah belajar. Media pembelajaran adalah perantar yang membawa pesan atau informasi antara sumber dan penerima. Media pembelajaran atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus dipelajari oleh siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan (Depdiknas, 2006).
Media pembelajaran disusun dengan tujuan sebagai berikut:
1) Menyediakan media pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.
2) Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh
3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilaksanakan dalam proses belalar mengajar, oleh sebab itu metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), dengan rancangan model siklus yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MIN 20 Aceh Besar pada tahun pelajaran 2019/2020 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan Agustus s.d Oktober 2019 pada semester ganjil. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar. Dengan jumlah 39 siswa terdiri dari 26 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal
Sebelum melakukan penelitian, guru memberikan pretest kepada siswa. Pretes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum penggunaan Media gambar dalam pembelajaran. Hasil pretes siswa sebelum penggunaan Media gambar dalam pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pretes Siswa Sebelum Penggunaan Media gambar dalam Pembelajaran.
No Nama L/P KKM Nilai Keterangan
1 Adilla Lutfi Amanda L 70 50 Belum tuntas
2 Afif Suhendra L 70 60 Belum tuntas
3 Anisa Humaira P 70 40 Belum tuntas
4 Anjafna P 70 90 Tuntas
5 Arif Maulana L 70 60 Belum tuntas
6 Aulia Rizky L 70 60 Belum tuntas
7 Aura Fatia P 70 70 Tuntas
8 Balqis Al-Faiza P 70 50 Belum tuntas
9 Diana Salsabila P 70 80 Tuntas
10 Faris L 70 60 Belum tuntas
11 Fauzul Akhyar Pratama L 70 70 Tuntas
12 Fika Munayya P 70 40 Belum tuntas
13 Haris Naufal L 70 80 Tuntas
14 Harsya Dzakky Mubarak L 70 70 Tuntas
15 Junaidi L 70 50 Belum tuntas
16 Kaysan Naufal L 70 90 Tuntas
17 Khairina Humaira P 70 50 Belum tuntas
18 M. Faiz Zalfa L 70 60 Belum tuntas
19 M. Hamzah Jefri L 70 70 Tuntas
20 M. Rafa Fahlevi L 70 70 Tuntas
21 M. Zikri Julian Saputra L 70 60 Belum tuntas
22 Muhammad Arif A L 70 70 Tuntas
23 Muhammad Farhan L 70 40 Belum tuntas
24 Muhammad Ikhsan L 70 70 Tuntas
25 Muhammad Rasya L 70 80 Tuntas
26 Muhammad Razil Ghufran L 70 60 Belum tuntas
27 Nadhirah P 70 80 Tuntas
28 Naiva Navila P 70 60 Belum tuntas
29 Paris Umar L 70 50 Belum tuntas
30 Raihanul Jannah P 70 90 Tuntas
31 Rajulul Muassir L 70 70 Tuntas
32 Rifki L 70 60 Belum tuntas
33 Rifqan Hadil L 70 50 Belum tuntas
34 Rizky Munandar L 70 70 Tuntas
35 Sami Sanusi L 70 40 Belum tuntas
36 Syifa Ramadhanti P 70 70 Tuntas
37 Syifaul Auliana P 70 60 Belum tuntas
38 Zahrina Humaira P 70 50 Belum tuntas
39 Zikrullah L 70 50 Belum tuntas
Jumlah 2.450
Jumlah Rata-rata 62.82
Persentase (%) 43.58%
Berdasarkan Tabel 4.1, hasil pretes siswa yang dilakukan pada saat pra penelitian menunjukkan bahwa nilai pra siklus menunjukkan bahwa dari 39 siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019/2020 dengan Nilai standar KKM 70 hanya 43.58% (17 siswa) yang tuntas, sedangkan 56.41% (22 siswa) belum tuntas.
4.2. Hasil Penelitian Siklus I
Setelah penggunaan Media gambar pada siklus I, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi sistem peredaran darah , hal ini terlihat dari hasil tes belajar yang diperoleh oleh siswa.
Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penggunaan Media gambar pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
No Nama L/P KKM Nilai Keterangan
1 Adilla Lutfi Amanda L 70 60 Belum tuntas
2 Afif Suhendra L 70 70 Tuntas
3 Anisa Humaira P 70 50 Belum tuntas
4 Anjafna P 70 100 Tuntas
5 Arif Maulana L 70 70 Tuntas
6 Aulia Rizky L 70 70 Tuntas
7 Aura Fatia P 70 80 Tuntas
8 Balqis Al-Faiza P 70 60 Belum tuntas
9 Diana Salsabila P 70 90 Tuntas
10 Faris L 70 70 Tuntas
11 Fauzul Akhyar Pratama L 70 80 Tuntas
12 Fika Munayya P 70 50 Belum tuntas
13 Haris Naufal L 70 90 Tuntas
14 Harsya Dzakky Mubarak L 70 80 Tuntas
15 Junaidi L 70 60 Belum tuntas
16 Kaysan Naufal L 70 100 Tuntas
17 Khairina Humaira P 70 60 Belum tuntas
18 M. Faiz Zalfa L 70 70 Tuntas
19 M. Hamzah Jefri L 70 80 Tuntas
20 M. Rafa Fahlevi L 70 80 Tuntas
21 M. Zikri Julian Saputra L 70 70 Tuntas
22 Muhammad Arif A L 70 80 Tuntas
23 Muhammad Farhan L 70 50 Belum tuntas
24 Muhammad Ikhsan L 70 80 Tuntas
25 Muhammad Rasya L 70 90 Tuntas
26 Muhammad Razil Ghufran L 70 70 Tuntas
27 Nadhirah P 70 90 Tuntas
28 Naiva Navila P 70 70 Tuntas
29 Paris Umar L 70 60 Belum tuntas
30 Raihanul Jannah P 70 100 Tuntas
31 Rajulul Muassir L 70 80 Tuntas
32 Rifki L 70 70 Tuntas
33 Rifqan Hadil L 70 60 Belum tuntas
34 Rizky Munandar L 70 80 Tuntas
35 Sami Sanusi L 70 50 Belum tuntas
36 Syifa Ramadhanti P 70 80 Tuntas
37 Syifaul Auliana P 70 70 Tuntas
38 Zahrina Humaira P 70 60 Belum tuntas
39 Zikrullah L 70 60 Belum tuntas
Jumlah 2.840
Jumlah Rata-rata 72.82
Persentase (%) 69.23%
Keterangan:
KKM : 70 Tuntas : 27 siswa Tidak Tuntas : 12 siswa
Berdasarkan Tabel 2, hasil belajar siswa pada siklus I telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pretest sebelum diterapkannya Media gambar, dengan jumlah nilai 2.840 dari jumlah nilai keseluruhan siswa. Nilai rata-rata siswa 72.82 didapat dari jumlah keseluruhan nilai siswa dibagi jumlah siswa dikali 100, dan nilai tertinggi siswa 100 dan nilai terendah 50. Terbukti dari 39 siswa hanya 27 (69.23%) orang yang mampu mencapai nilai ketuntasan belajar, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar 12 orang (30.76%). Hasil tes pada siklus I jelas menunjukkan bahwa nilai rata-rata mencapai 72.82 sudah berada pada kriteria keberhasilan yang ditentukan peneliti sebelumnya yaitu 70%
walaupun belum meningkat pesat, perlu dilakukan kembali perbaikan pembelajaran pada siklus II yang mungkin lebih sedikit lagi dapat mencapai presentase ketuntasan klasikal yang ditetapkan.
4.3. Hasil Penelitian Siklus II
Setelah penggunaan Media gambar pada siklus II, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi sistem peredaran darah , hal ini terlihat dari hasil tes belajar yang diperoleh oleh siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penggunaan Media gambar pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Belajar Siswa pada Siklus II
No Nama L/P KKM Nilai Keterangan
1 Adilla Lutfi Amanda L 70 70 Tuntas
2 Afif Suhendra L 70 80 Tuntas
3 Anisa Humaira P 70 60 Belum tuntas
4 Anjafna P 70 100 Tuntas
5 Arif Maulana L 70 80 Tuntas
6 Aulia Rizky L 70 80 Tuntas
7 Aura Fatia P 70 90 Tuntas
8 Balqis Al-Faiza P 70 70 Tuntas
9 Diana Salsabila P 70 100 Tuntas
10 Faris L 70 80 Tuntas
11 Fauzul Akhyar Pratama L 70 90 Tuntas
12 Fika Munayya P 70 60 Belum tuntas
13 Haris Naufal L 70 100 Tuntas
14 Harsya Dzakky Mubarak L 70 90 Tuntas
15 Junaidi L 70 70 Tuntas
16 Kaysan Naufal L 70 100 Tuntas
17 Khairina Humaira P 70 70 Tuntas
18 M. Faiz Zalfa L 70 80 Tuntas
19 M. Hamzah Jefri L 70 90 Tuntas
20 M. Rafa Fahlevi L 70 90 Tuntas
21 M. Zikri Julian Saputra L 70 80 Tuntas
22 Muhammad Arif A L 70 90 Tuntas
23 Muhammad Farhan L 70 60 Belum tuntas
24 Muhammad Ikhsan L 70 90 Tuntas
25 Muhammad Rasya L 70 100 Tuntas
26 Muhammad Razil Ghufran L 70 80 Tuntas
27 Nadhirah P 70 100 Tuntas
28 Naiva Navila P 70 80 Tuntas
29 Paris Umar L 70 70 Tuntas
30 Raihanul Jannah P 70 100 Tuntas
31 Rajulul Muassir L 70 90 Tuntas
32 Rifki L 70 80 Tuntas
33 Rifqan Hadil L 70 70 Tuntas
34 Rizky Munandar L 70 90 Tuntas
35 Sami Sanusi L 70 60 Belum tuntas
36 Syifa Ramadhanti P 70 90 Tuntas
37 Syifaul Auliana P 70 80 Tuntas
38 Zahrina Humaira P 70 70 Tuntas
39 Zikrullah L 70 70 Tuntas
Jumlah 3.200
Jumlah Rata-rata 82.05
Persentase (%) 89.74%
Berdasarkan Tabel 3, hasil belajar siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I, dengan jumlah nilai 3.200 dari jumlah nilai keseluruhan siswa. Nilai rata-rata siswa 82.85 didapat dari jumlah keseluruhan nilai siswa dibagi jumlah siswa dikali 100, dan nilai tertinggi siswa 100 dan nilai terendah 60. Terbukti dari 39 siswa, sudah 35 (89.74%) orang yang mampu mencapai nilai ketuntasan belajar, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar 4 orang (10.25%). Hal tersebut sudah mencapai tingkat ketuntasan belajar yang telah ditetapkan dan tingkat pemahaman siswa dalam memahami materi sistem peredaran darah sudah memuaskan, maka peneliti tidak melanjutkan siklus berikutnya.
4.4. Pembahasan Perbandingan Antar Siklus
Media gambar adalah sebuah gambar yang berkaitan dengan materi pelajaran yang berguna untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Media gambar ini bisa membantu siswa untuk mengungkapkan informasi yang terkandung dalam masalah sehingga hubungan antara komponen dalam masalah tersebut bisa terlihat dengan lebih jelas. Persentase ketuntasan yang didapatkan pada siklus I, telah mencapai indikator siklus II yang ingin dicapai oleh peneliti.
Berdasarkan hasil tes, hasil dari observasi serta refleksi yang telah dilakukan pada siklus I, maka perbaikan yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II, telah memberikan hasil yang sesuai dengan harapan penulis. Pada siklus II, terlihat adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa menjadi lebih baik. Pada siklus II, persentase ketuntasan siswa telah mengalami peningkatan dan telah mencapai indikator siklus II yang ditetapkan oleh peneliti.
Pada siklus II, tidak semua siswa mencapai ketuntasan belajar yang sesuai dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum), akan tetapi terlihat adanya peningkatan nilai pada setiap siswa walaupun ada beberapa siswa yang hanya memiliki peningkatan hasil belajar yang sedikit. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I dan II, penggunaan media gambar telah memberikan nilai yang positif terhadap peningkatan hasil belajar IPA siswa terutama pada materi sistem peredaran darah.
Perbandingan persentase hasil belajar siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 1. Perbandingan Persentase Hasil Belajar Siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II.
Berdasarkan gambar 1, terlihat bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Pada pra siklus persentase ketuntasan belajar siswa sebelum penggunaan Media gambar dalam pembelajaran hanya 43.58%. Pada siklus I, penggunaan Media gambar telah
43,58%
69,23%
89,74%
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
70,00%
80,00%
90,00%
100,00%
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Perbandingan Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada Pra Siklus, Siklus I,
dan Siklus II
Pra Siklus Siklus I Siklus II
mampu memberikan persentase hasil belajar siswa yaitu sebesar 69.23%, dan telah mengalami peningkatan menjadi 89.74% pada siklus II.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Penggunaan media gambar mampu meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V-5 MIN 20 Aceh Besar pada materi pokok sistem peredaran darah. Hal ini ditunjukkan oleh data sebelum penggunaan media gambar rata-rata hasil belajar hanya 62.82 dengan ketuntasan belajar 43.58%. Setelah penggunaan media gambar, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I meningkat menjadi 72.82 dengan ketuntasan belajar 69.23%. Pada siklus II nilai rata–rata hasil belajar siswa mencapai 82.85 dengan ketuntasan belajar 89.74%.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian serta kesimpulan yang diperoleh, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1) Bagi Sekolah
Pembelajaran menggunakan media gambar dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, karena berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
2) Bagi Guru IPA
Agar dalam penerapan pembelajaran menggunakan media gambar benar-benar efektif, guru harus mengikuti prosedur atau cara-cara penerapan metode ini, berusaha untuk mengubah kebiasaan belajar siswa dengan member pengertian tentang pembelajaran mengunakan media gambar. Di samping itu guru harus lebih meningkatkan semangat belajar siswa agar siswa aktif dan terpacu untuk meningkatkan hasil belajarnya.
3) Bagi Siswa
Agar siswa selalu antusias dalam kegaiatn belajar mengajar, lebih jujur dan percaya diri dengan kemampuannya, menghargai pendapat orang lain, berani bertanya, menjawab dan beragumen membiasakan bekerjasama dengan teman kelompoknya, membiasakan aktif dalam kegiatan belajar mengajar, mengaktualisasikan materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari- hari, karena itu merupakan jalan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.
4) Bagi Penulis
Mempunyai wawasan dan pengetahuan praktis di bidang penelitian sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik yang professional.
6. DAFTAR PUSTAKA
[1] Agus Nur Hidayat. 2013. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar IPA dengan Metode Demonstrasi pada Siswa Kelas V MIN Karangmojo Gunungkidul Tahun Pelajaran 2012/2013.
Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Depdiknas. 2006. Silabus IPA SD Kelas V. http://www.guruonline.com.
[3] Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta.
[4] Dinn Wahyudin, dkk. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
[5] Hermawan, dkk. Belajar dan Pembelajaran SD. http://.repository.upi.edu.
[6] Poerwadarminta.1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.
[7] Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer Mengembangkan Profesionalisme Guru Abad 21. Bandung: ALFABETA.
[8] Slameto. 2002. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta:Rineka Cipta.
[9] Winataputra. 2001. Strategi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Universitas Terbuka.