• Tidak ada hasil yang ditemukan

perbedaan tingkat kecerdasan adversity

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "perbedaan tingkat kecerdasan adversity"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah

Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam

Oleh:

DYAH DWI LESTARI NIM. D20173036

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KH ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS DAKWAH

JANUARI 2022

(2)

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah

Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam

Oleh:

DYAH DWI LESTARI NIM. D20173036

Disetujui Pembimbing

Muhammad Ali Makki, M.Si NIP.197503152009121004

(3)
(4)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

(Terjemahan QS. Al-Baqarah:286)

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan (Bekasi: Mulya Agung 2015) 286

(5)

1. Ibu Nurhayati dan Bapak Zaenuri orang tuaku tercinta, terima kasih atas segala dukungan, doa tulus serta kasih sayang yang telah diberikan selama ini.

2. Dymas Trihadi Nugroho adikku tersayang, terima kasih atas dukungan yang selalu di berikan kepadaku.

3. Amimmatus Sabilah, sahabatku yang selalu memberikan dukungan kepadaku berupa motivasi dan doa tulusnya. Semoga kebaikanmu dibalas oleh-Nya dan semoga kita dapat menjadi orang sukses.

4. Teman-teman seperjuanganku Bimbingan dan Konseling Islam 01 angkatan 2017, terimakasih telah memberikan motivasi dan semangat selama masa kuliah.

(6)

kepada Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya segala tahap penyusunan skripsi yang berjudul "Perbedaan tingkat kecerdasan adversity pada mahasiswa perantau dan non perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kh Achmad Siddiq Jember" sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan baik.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak.

Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Universitas Islam

Negeri KH Achmad Siddiq Jember.

2. Bapak Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag,. selaku Dekan Fakultas Dakwah.

3. Bapak Muhammad Muhib Alwi, MA., selaku ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam.

4. Bapak Muhammad Ali Makki, M.Si selaku Dosen pembimbing yang telah memberikan masukan, bimbingan dan arahan yang sangat berarti dalam penelitian ini.

5. Bapak Muhibbin, S.Ag., M.Si selaku penguji utama yang turut serta dalam memberikan masukan serta kritik yang membangun pada penelitian ini.

6. Ibu Anisah Prafitralia, M.Pd selaku sekretaris sidang yang turut serta dalam memberikan masukan serta kritik yang membangun pada penelitian ini.

7. Seluruh Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam yang telah memberikan wawasan, ilmu dan pengalamannya

8. Mahasiswa Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember atas kesediaan dan segala bantuan selama penelitian dan penulisan

(7)

Jember, 23 November 2021 Dyah Dwi Lestari

NIM. D20173036

(8)

Kata Kunci: Kecerdasan adversity, perantau, non perantau

Setiap individu pasti akan menghadapi tantangan dari tindakan yang dilakukan. Kecerdasan Adversity menggambarkan bentuk kecerdasan yang melatar belakangi kesuksesan seseorang saat menghadapi sebuah tantangan, kesulitan atau kegagalan . Banyak para ahli dan pakar pendidikan yang mencari dan mencoba mengembangkan pentingnya kecerdasan adversity pada peserta didik sebagai calon individu yang diharapkan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, kuat dan tetap berprestasi dalam bidangnya di masa depan.

Rumusan masalah dalam diteliti ini adalah: Apakah terdapat perbedaan tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember?

Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparasi. Populasi mahasiswa Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember Tahun Akedemik 2018-2019 sebanyak 726 orang dan sampel yang digunakan sebanyak 74 orang. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan skala kecerdasan adversity. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan independent sampel t-test

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember dengan sig = 0,000; p<0,05, dengan nilai t = 4,315. Rata-rata skor tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau yaitu 101,67 sedangkan untuk mahasiswa non perantau yaitu 97,51. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa perantau memiliki skor rata-rata tingkat kecerdasan adversity lebih tinggi daripada mahasiswa non perantau, meskipun rata-rata keduanya berada pada kategori tingkat kecerdasan adversity sedang.

(9)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

F. Definisi Operasional ... 14

G. Asumsi Penelitian ... 15

H. Hipotesis ... 15

I. Sistematika Pembahasan ... 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 18

A. Penelitian Terdahulu ... 18

B. Kajian Teori ... 20

(10)

Adversity ... 24

4. Tiga Tingkatan Kesulitan ... 28

5. Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Adversity ... 30

6. Dimensi Kecerdasan Adversity ... 33

7. Mahasiswa Perantau dan Mahasiswa Non Perantau ... 37

8. Pandangan Islam Terhadap Kecerdasan Adversity ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 41

B. Populasi dan Sampel ... 42

C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan data ... 45

D. Analisis data ... 48

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 41

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 41

B. Penyajian Data ... 42

C. Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 55

D. Pembahasan ... 59

BAB V PENUTUP ... 65

A. Simpulan ... 65

B. Saran-Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

3.1 Jumlah Populasi Mahasiswa Fakultas Dakwah Universitas Islam negeri

KH Achmad Siddiq Jember Tahun Akademik 2018/2019 ... 42

3.2 Rincian Jumlah Sampel Mahasiswa Perantau dan Non Perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember... 44

3.3 Skoring Skala Kecerdasan Adversity ... 46

3.4 Blueprint Skala Kecerdasan Adversity ... 46

4.1 Deskripsi Variabel Kecerdasan Adversity ... 53

4.2 Distribusi Frekuensi Kategorisasi Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau dan Non Perantau Universitas Islam negeri KH Achmad Siddiq Jember ... 54

4.3 Hasil Uji Normalitas ... 55

4.4 Hasil Uji Homogenitas ... 57

4.5 Hasil Uji Statistik Kecerdasan Adversity ... 58

4.6Hasil Independent Sampel T-Test Tingkat Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau dan Non Perantau ... 59

(12)

2.1 Hirarki Kebutuhan Maslow ... 26 2.2 Tiga Tingkatan Kesulitan ... 28 4.1 Frekuensi Data Tingkat Kecerdasan Adversity ... 54

(13)

LAMPIRAN 3. Surat Izin Penelitian

LAMPIRAN 4. Blueprint Skala Kecerdasan Adversity LAMPIRAN 5. Skala Kecerdasan Adversity

LAMPIRAN 6. Rekapitulasi Data Kecerdasan Adversity LAMPIRAN 7. Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas LAMPIRAN 8. Hasil Uji Independent Sampel T-Test LAMPIRAN 9. Biodata Penulis

(14)

A. Latar Belakang

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, ataupun institut1. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 1 Ayat (1) yang berbunyi2: "Mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang Pendidikan Tinggi." Secara harfiah maha berarti besar, sedangkan “siswa”

adalah murid, sehingga mahasiswa dapat diartikan bagi murid yang telah dewasa, secara perkembangan emosional, psikologis, fisik, dan kemandirian.

Mahasiswa pada umumnya berada pada masa dewasa awal, yaitu usia sekitar 18-22 tahun yang mana memiliki salah satu ciri khas sebagai usia banyak masalah3.

Masalah-masalah yang sering dialami oleh mahasiswa di antaranya yaitu perbedaan latar belakang, perbedaan budaya, status ekonomi, gaya hidup dengan teman yang berada di lingkungan kampus, serta motivasi rendah karena program studi yang tidak sesuai dengan yang diinginkan, dan masalah ekonomi yang membuat mahasiswa perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember mengalami beberapa masalah yang akhirnya membuat mahasiswa tidak bahagia. Beberapa

1 Dudih Sutrisman, Pendidikan Politik, Persepsi, Kepemimpinan, Dan Mahasiswa(Sumedang : Guepedia, 2019),115.

2 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 1 Ayat (1)

3 Rita Eka. Perkembangan Peserta Didik. (Yogyakarta: UNY Press. 2008),156.

(15)

masalah tersebut, diantaranya adalah mahasiswa merasa tidak nyaman dengan lingkungan sosial ataupun teman-teman yang berada di lingkungan kampus yang akhirnya mengakibatkan mahasiswa kurang percaya diri dan minder, mahasiswa juga merasa tertekan dikarenakan adanya jadwal yang begitu padat entah itu aktivitas akademik ataupun non akademik. Akan tetapi tekanan lain juga muncul dikarenakan adanya tuntutan dari orang tua yang menginginkan anaknya untuk tetap menjadi lebih baik namun masih belum dapat diwujudkan dikarenakan terhalang oleh hal yang telah disebutkan tadi.

Tidak semua mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember kuliah dengan program studi yang sesuai keinginannya, hal tersebut dapat mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa menjadi rendah bahkan mahasiswa akan merasa kesulitan dalam mengikuti perkuliahan karena kurang mudah memahami materi yang diajarkan. Hal lain yang menyebabkan masalah bagi mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember adalah hubungan dengan lawan jenis. Ketika mahasiswa memiliki masalah dengan pasangan maka akan mengganggu kebahagiaan mahasiswa dan dapat mempengaruhi kegiatan akademik mahasiwa. Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember berasal dari berbagai daerah, mahasiswa dari luar Jember tentunya tinggal jauh dari orang tua dan hal tersebut sering kali membuat mahasiswa mengalami homsick.

Mahasiswa di Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember dibedakan menjadi dua kelompok yaitu mahasiswa perantau dan mahasiswa non perantau.

Mahasiswa perantau adalah mahasiswa yang pergi dari daerah asalnya untuk

(16)

tinggal beberapa waktu di daerah lain. Ketika seorang mahasiswa telah memutuskan untuk menjadi mahasiswa perantau mau tak mau seseorang harus menghadapi tantangan-tantangan baru dalam hidupnya. Menjadi mahasiswa perantau bukanlah hal yang mudah, karena seorang individu harus memulai beradaptasi dari nol, seperti mempelajari budaya baru, kebiasaan baru, teman- teman baru dan lingkungan tempat tinggal yang baru. Menjadi mahasiswa perantau harus mampu menghadapi permasalahan yang datang dengan seorang diri tanpa bantuan keluarga. Ada berbagai macam masalah yang muncul seperti masalah pendidikan, masalah pergaulan dan masalah dengan lingkungan tempat tinggal yang baru. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi mahasiswa perantau maka individu akan dituntut menjadi seseorang yang mandiri dalam menyelesaikan semua permasalahan yang ada4. Dalam penelitian ini sasaran mahasiswa perantau yaitu mahasiswa yang berdomisili dari luar Jember seperti, Kediri, Gresik, Surabaya, Jakarta, dan lain sebagainya.

Menurut wawancara (pada tanggal 26 Agustus 2021) terhadap 6 mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember (3 perantau5 dan 3 non perantau6) dari angkatan 2018-2019, ditemukan bahwa ada mahasiswa perantau yang merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru di mana kebudayaan, sosial, bahasa dan bahkan makanan yang terdapat di kota rantau berbeda dengan kota asalnya. Masalah lain yang ditemukan yaitu ketakutan

4 Nina, I. “Suka dan Duka Mahasiswa Rantau”. Diakses 20 September, 2021 http://www.berkuliah.com/2014/11/suka-dan-dukamahasiswa-rantau.html

5 Reza, Irma, dan Tarisha, diwawancarai oleh penulis melalui aplikasi WhatsApp,26 Agustus 2021.

6 Devy,Achi,dan Wafa, diwawancarai oleh penulis, Jember, 26 Agustus 2021.

(17)

mahasiswa perantau di tolak oleh lingkungan baru di kampus dan kesulitan beradaptasi bahasa. Mahasiswa perantau juga seringkali merasakan homesick karena baru pertama kali jauh dari rumah. Hal ini menimbulkan stress dan rasa cemas pada diri individu, karena biasanya di rumah semua kebutuhan sudah di sediakan oleh orang tua, sedangkan di kota rantau mahasiswa harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Maka dari itu diperlukanlah sebuah ketangguhan dan ketahanan serta kemandirian untuk menghadapi sebuah permasalahan atau tantangan, selain itu pengendalian emosi yang baik juga sangat penting untuk mahasiwa perantau ketika sedang menghadapi sebuah permasalahan.

Meskipun demikian, mahasiswa perantau menujukkan sikap daya juang yang tinggi karena tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuannya.

Masalah-masalah yang dialami mahasiswa perantau sering menjadi halangan dalam meraih kesuksesan akademik mahasiswa, namun juga dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa perantau untuk meraih kesuksesan lebih dari yang lainnya. Pada mahasiswa non perantau juga ditemukan beberapa mahasiswa yang mengalami masalah kesulitan beradaptasi namun lebih pada strict parents atau orang tua yang mengatur anaknya sesuai dengan kemauannya sendiri. Masalah lain yaitu ada beberapa mahasiswa non perantau yang merasa tidak sesuai dengan program studinya, hal itu membuat mahasiswa kurang semangat dalam menjalani kegiatan perkuliahan. Masalah-masalah yang dialami mahasiswa non perantau juga menghambat pencapaian akademik mahasiswa karena mahasiswa tersebut belum mengetahui bagaimana cara

(18)

menyelesaikan masalahnya dengan baik. Masalah yang dihadapi mahasiswa cenderung beragam,sehingga mahasiswa perlu memiliki kemampuan bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan mengatasi kesulitan agar bisa mencapai kesuksesan yang diinginkan7. Maka dari itu, mahasiswa perlu memiliki kecerdasan adversity untuk mencapai kesuksesan meskipun banyak kesulitan atau masalah yang terjadi di tengah perjalannya menjadi seorang mahasiswa. Hal tersebut juga ditinjau dari penelitian yang dilakukan oleh Huijuan yang menyebutkan apabila ada hubungan signifikan antara kecerdasan adversity dan performa akademik mahasiswa8. Setiap mahasiswa memiliki tingkat kecerdasan adversity yang berbeda-beda, oleh sebab itu ada yang mampu bertahan sementara yang lain gagal bahkan menyerah9.

Individu dibagi menjadi tiga tipe pendaki puncak keberhasilan yaitu quitters, campers, dan climbers. Tipe quitters ialah orang-orang yang berhenti dan memilih untuk keluar, menghindari kewajiban,dan mundur. Tipe campers adalah orang-orang yang cepat puas dengan sesuatu yang telah dicapai. Tipe climbers adalah orang yang terus berusaha untuk mencapai puncak jika diibaratkan sebagai pendaki gunung. Climbers akan terus berusaha mencapai kesuksesan setinggi mungkin dengan selalu menghadapi kesulitan yang terjadi10. Mahasiswa perantau maupun mahasiswa non perantau dengan peran dan tugasnya, hendaknya memiliki ciri-ciri seperti climbers yang akan terus

7 Paul G.Stoltz. Adversity Quotient : Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. (Jakarta: PT Gramedia, 2009), 8.

8 Huijuan, Zhou. “The Adversity Quotient and Academic Performance Among College Students at St. Joseph’s College Quezon City” (Thesis. The Department of Arts and Sciences St. Joseph’s College, Quezon City,2009),53.

9 Paul G.Stoltz. Adversity Quotient : Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. (Jakarta: PT Gramedia, 2009), 6.

10 Stoltz, 18-24

(19)

berusaha mencapai kesuksesan dan selalu menghadapi kesulitan agar dapat meraih prestasi yang baik selama pekuliahan dan dapat menyelesaikan studinya dengan lancar. Mahasiswa yang memiliki ciri-ciri seperti climbers pasti akan berusaha apabila diberi tugas oleh dosen sehingga mengerjakan tugas tersebut dengan maksimal tanpa menunda. Mahasiswa tersebut juga selalu berusaha mencari cara agar dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami.

Setiap orang memiliki tingkat kecerdasan adversity yang berbeda-beda, begitupula dengan mahasiswa, sehingga kemampuan mahasiswa dalam menghadapi kesulitan juga berbeda. Untuk menghadapi kesulitan dan meraih kesuksesan khususnya dalam studi, mahasiswa diharapkan memiliki tingkat kecerdasan adversity yang tinggi. Cornista & Marcasaet dalam penelitiannya menyebutkan apabila ada hubungan antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi11. Dalam penelitian Desi Kumalasari disebutkan apabila ada hubungan positif antara kecerdasan adversity dengan prestasi belajar, sehingga jika tingkat kecerdasan adversity tinggi maka prestasi belajar tinggi12.Oleh sebab itu, seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan adversity tinggi maka akan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi juga karena motivasi berpengaruh pada kecerdasan adversity seseorang. Setiap individu pasti juga memperoleh sebuah tantangan dari tindakan yang dilakukannya. Tantangan tersebut digunakan tolak ukur sebagai penentuan bagaimana tingkat

11 Cornista, Guillian AL & Marcasaet, Charmaine JA. “Adversity Quotient and Achienement Motivation of Selected Third Year and Fourth Year Psychology Students of De La Salle Lipa A.Y. 2012-2013. (Thesis.

The Faculty of the College of Education, Art, and Sciences- De La Sale Lipa,2013)46.

12 Desi Kumalasari. “Hubungan Kecerdasan Adversity dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas VII SMP N 1 Tempel”. (Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan-UNY,2013),75.

(20)

keberhasilan dari setiap tindakan13. Pada hakikatnya seseorang mempunyai kekuatan yang berbeda ketika menghadapi hambatan yang sedang terjadi.

Kekuatan itu dalam teori Paul G Stoltz disebut dengan Adversity Quetient /Kecerdasan Adversity. Dalam konsep yang dikemukakan oleh Paul G Stoltz ini, ialah suatu konsep baru untuk memahami kesuksesan dan bagaimana menghadapi kesulitan14.

Kecerdasan adversity juga merupakan pemahaman penting tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Sukses tidaknya individu dalam kehidupan ditentukan oleh Kecerdasan adversity karena kecerdasan ini dapat menentukan dan memberitahukan sejauh mana individu mampu bertahan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi. Individu mana yang mampu dan individu mana yang tidak mampu, individu mana yang akan menyerah dan individu mana yang akan bertahan15. Istilah kecerdasan adversity dipopulerkan oleh Paul G Stoltz, dalam bukunya yang berjudul " adversity Quetient : Mengubah Hambatan Menjadi Peluang", buku tersebut disusun berdasarkan pengalamannya terjun ke dunia kerja dan menjadi konsultan di dunia pendidikan. Paul G Stoltz memanfaatkan tiga cabang ilmu pengetahuan yaitu, Psikologi Kognitif, Psikoneuroimunologi, dan Neurofisiologi 16. Tiga cabang ilmu pengetahuan tersebut merupakan theoretical building block adversity

13 Paul G Stoltz, Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, (Jakarta:

Grasindo,2007),16

14 Siti Amiah Nurpriani, “Perbedaan Adversity Quotient Antara Mahasiswa Anggota Dan Bukan Anggota Pecinta Alam Universitas Negeri Jakarta” (Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, 2011)15.

15Paul G Stoltz, Adversity Quotient:Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Jakarta:

Grasindo,2000),117.

16 Rany Fitriany,”Hubungan Adversity Quotient : Dengan Penyesuaian iri Sosial Paa Mahasiswa Perantauan i UIN Syarif Hiayatullah Jakarta” (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hiayatullah Jakarta,2008),16-17.

(21)

quetient, yaitu teori-teori pendukung kecerdasan adversity. Ketiga ilmu pengetahuan tersebut dapat memberikan sebuah pemahaman dan dapat meningkatkan efektifitas manusia, terutama dalam menghadapi sebuah kesulitan/kegagalan yang kemudian menjadikan kesulitan dan kegagalan tersebut menjadi sebuah peluang untuk tetap meraih kesuksesan17

Kecerdasan adversity telah dijelaskan dalam beberapa penelitian.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh :

1. Annisa Dessy.P (2018) tentang “Kemandirian Mahasiswa Rantau Ditinjau Dari Kecerdasan Emosi dan Adversity Quetient”.18

2. Siti Amiah.N (2011) tentang "Perbedaan adversity Quetient Antara Mahasiswa Anggota dan Bukan Anggota Pecinta Alam Universitas Negeri Jakarta".19

3. Novilita.H & Suharnan (Vol 8 No. 1, April 2013) tentang "Konsep Diri Adversity Quetient dan Kemandirian Belajar Siswa".20

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Annisa Dessy.P, Siti Amiah.N, dan Novilita.H & Suharnan tentang Kecerdasan Adversity dapat diambil kesimpulan bahwa Kecerdasan adversity merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia karena berkontribusi secara penuh dalam

17 Nida'u Diana,”Study Deskriptif Tentang Adversity Quotient Pada Siswa Kelas Akselerasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Malang” (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang,2008), 2.

18 Annisa Dessy.P, “Kemandirian Mahasiswa Rantau Ditinjau Dari Kecerdasan Emosi dan Adversity Quotient” (Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta,2018),7.

19 Siti Amiah N,”Perbedaan Adversity Quotient Antara Mahasiswa Anggotan dan Bukan Anggota Pecinta Alam Universitas Negeri Jakarta” (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan,Universitas Negeri Jakarta,2011),11.

20 Hairina Novilita dan Suharnan, "Konsep Diri Adversity Quotient dan Kemandirian Belajar Siswa," Jurnal Psikologi 8, no.1 (April,2013):610-632, https://jurnal.unmer. ac.id/index. php/

jpt/article/ view/218.

(22)

proses kehidupan seseorang.

Konsep islam yang memandang dan menunjukkan bahwasanya orang yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi ialah orang yang mampu bersikap sabar, optimis dan juga pantang menyerah. Karena orang yang sudah memiliki intelegensi yang cukup tinggi akan memiliki kepercayaan yang tinggi, bahwasanya bagaimana pun susahnya cobaan, ujian yang dialami pada hidup ini pasti bisa terselesaikan dengan benar dan baik selama adanya daya bersama Allah SWT. Bersikap optimis dalam mencari nikmat Allah SWT yang sangat banyak dalam kehidupan ini dengan berbagai bentuk upaya, usaha yang tidak kenal putus asa, maka pasti Allah akan memudahkan jalannya.

Seperti firman Allah SWT21



















































Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS.ArRaad (13):11)

Performansi Kecerdasan adversity sebagai kecerdasan yang melatar belakangi kesuksesan dalam menghadapi tantangan setelah terjadi kegagalan, mulai banyak digali dan diteliti khususnya dalam dunia pendidikan saat ini.

Banyak para ahli dan pakar pendidikan yang mencari dan mencoba mengembangkan pentingnya kecerdasan adversity pada peserta didik sebagai

21 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-qur'an dan terjemahan (Bekasi: Mulia Agung 2015),11.

(23)

calon individu yang diharapkan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, kuat dan tetap berprestasi dalam bidangnya di masa depan. Begitu pula yang terjadi pada mahasiswa, dengan lingkungan kampus mahasiswa mempunyai bermacam dinamika, peran, dan tanggung jawab. Dikarenakan status dan posisinya tersebut, setiap mahasiswa memiliki bentuk penyikapan yang berbeda-beda terhadap tanggung jawab dan perannya22.

. Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Perbedaan Tingkat Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau dan Non Perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember".

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan permasalahan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau di fakultas dakwah universitas islam negeri kh achmad siddiq jember?

C. Tujuan Penelitian

Dapat dilihat dari rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau di fakultas dakwah universitas islam negeri kh achmad siddiq jember.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

22 Siti Amiah Nurpriani “i”(Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, 2011)17.

(24)

1. Manfaat Teoritis

a. Diharapkan dalam penelitian ini bisa memberikan kontribusi ilmiah agar dapat menambah pengetahuan bagi pengembangan ilmu Bimbingan dan Konseling Islam di Perguruan Tinggi khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan adversity mahasiswa.

b. Pada penelitian ini juga diharapkan bisa dijadikan landasan untuk menerapkan metode penelitian, lebih khusus yang berhubungan dengan kecerdasan adversity mahasiswa.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis

Memberikan pengalaman dan juga pemahaman pada penelitian yang berkaitan dengan sejauh apa tingkat kecerdasan adversity mahasiswa perantau dan non perantau.

b. Bagi Mahasiswa

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, juga sebagai sumber informasi untuk mahasiswa lebih khusus tentang informasi masalah yang sedang terjadi dalam proses perkuliahan.

c. Bagi Peneliti Berikutnya

Pada penelitian ini diharapkan bisa dijadikan masukan dan gambaran data sebagai bahan penelitian selanjutnya.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Variabel Penelitian

Pada umumnya variabel penelitian merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan

(25)

ditarik kesimpulan. Sugiyono mengatakan23 terdapat 2 jenis variabel yakni;

a. Variabel Independent (Variabel Bebas) ialah suatu variabel yang dapat mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent. Maka dalam penelitian ini yang menjad variabel bebas adalah Mahasiswa.

b. Variabel Dependent (Variabel Terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas yang akan menjadi variabel terikat yaitu kecerdasan adversity.

2. Indikator Variabel

Stoltz menyebutkan24, ada empat macam aspek atau dimensi dasar yang bisa memperoleh kemampuan kecerdasan adversity tinggi, yaitu:

a. C (Control)

Control atau kendali, dapat diartikan sebesar apa individu bisa mengkontrol dan menghadapi kesulitan yang datang, juga sejauh mana seseorang mampu memahami bahwasanya peristiwa yang dapat menimbulkan kesulitan ialah peran dari kontrol itu sendiri. Karena jika kendali yang dilakukan seseorang semakin besar, maka bisa jadi individu memiliki kemampuan yang cukup besar untuk bertahan dalam kesulitan dan mencari penyelesaian atas kesulitan yang sedang dialaminya. Begitu juga sebaliknya, jika semakin rendah kendali,

23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung : Alfabeta,2016),38

24 Paul G Stoltz, Adversity Quotient:Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Jakarta : Grasindo,2000),140-162.

(26)

akibatnya individu tersebut mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

b. O² (Origin dan Ownership)

Dari dimensi origin menjelaskan mengenai bagaimana seseorang melihat sumber masalah yang ada. Sejauh mana seseorang menyalahkan diri sendiri ketika kesalahan tersebut berasal dari dalam dirinya, atau sejauh mana seseorang menyalahkan orang lain atau lingkungan yang menjadi sumber kesulitan atau kegagalan seseorang.

Sedangkan dimensi ownership menjelaskan sejauh mana seseorang mengakui akibat-akibat kesulitan yang datang dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan tersebut.

c. R (Reach)

Reach atau jangkauan, dapat diartikan bahwasanya sejauh mana kesulitan dapat dijangkau dalam kehidupan seseorang. Apabila reach yang dimiliki oleh seseorang semakin besar, bisa jadi semakin besar juga individu mampu membatasi reach yang datang dalam kehidupannya begitpun sebaliknya.

d. E (Endurance)

Endurance atau daya tahan, dimensi endurance menjelaskan tentang suatu hal yang berhubungan dengan situasi hal baik atau buruk. Ketika seseorang memiliki daya tahan yang tinggi maka mempunyai sikap optimis saat mendapati hambatan yang datang dalam kehidupannya. Begitupun sebaliknya, seseorang yang memiliki daya

(27)

tahan yang rendah, pasti menganggap hambatan yang sedang dihadapi sulit untuk diperbaiki dan individu tersebut mudah menyerah.

F. Definisi Operasional

Dalam penelitian yang berjudul “Perbedaan Tingkat Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau dan Non Perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember”, istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:

1. Kecerdasan Adversity

Kecerdasan adversity adalah suatu kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi segala masalah atau kesulitan dalam meraih kesuksesan. Kecedasan adversity dapat dipengaruhi oleh genetika, bakat, kemauan, pendidkan, kineja, kesehatan, keyakinan, karkter, kecerdasan, dan lingkungan.

2. Mahasiswa Perantau dan Mahasiswa Non Perantau

Mahasiswa merupakan siswa yang belajar di suatu perguruan tinggi dan dianggap telah dewasa dari aspek emosional, psikologis, fisik, dan kemandiriannya. Dalam penelitian ini mahasiswa dibagi menjadi 2, mahasiswa perantau adalah mahasiswa yang pergi dari daerah asalnya untuk tinggal beberapa waktu di daerah lain (mahasiswa yang jauh dengan lingkungan keluarga). Dan mahasiswa non perantau adalah mahasiswa yang dekat dengan lingkungan keluarga. Sasaran mahasiswa perantau dan non perantau disini adalah dilihat dari domisili mereka. Apabila domisili luar Jember dapat dikatakan perantau dan apabila domisili Jember

(28)

dikatakan non perantau.

G. Asumsi Penelitian

Asumsi penelitian adalah kerangka pemikiran teoritis yang digambarkan dalam alur pikir penelitian25. Dalam penelitian ini, harus dirumuskan secara jelas asumsi penelitiannya, sebelum melakukan penelitian pada penelitian ini asumsi nya adalah mahasiswa perantau dan non perantau dianggap memiliki perbedaan tingkat kecerdasan adversity.

H. Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan atau praduga yang timbul karena suatu masalah yang perlu dihadapi dan juga perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data lebih lengkap dan menunjang26. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecerdasan adversity pada mahasiswa perantau dan non perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember. Berikut ini perumusan hipotesis yang ada dalam penelitian ini:

H0 : Tidak terdapat perbedaan tingkat kecerdasan adversity antara mahasiswa perantau dan non-perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember

Ha : Terdapat perbedaan tingkat kecerdasan adversity antara mahasiswa perantau dan non-perantau di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember

25 Firdaus Fakhry, Aplikasi Metodologi Penelitian (Sleman : Deepublish, 2018), 59.

26 Bambang Suharjo, Statistika Terapan : Diseratai Contoh Aplikasi dengan SPSS (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2013), 49.

(29)

I. Sistematika Pembahasan BAB I. Pendahuluan

Dibagian BAB ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup peneltian, definisi operasional, asumsi penelitian, hipotesis, dan kegunaan sistematika penelitian.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

Pada BAB ini berisikan uraian tentang tinjauan pustaka terdahulu dan kerangka teori relevan yang terkait dengan tema skripsi.

BAB III. METODE PENELITIAN

BAB ini memuat secara rinci metode penelitian yang digunakan peneliti beserta alasannya, jenis penelitian, lokasi, populasi dan sampel, metode pengumpulan data dan variable, serta analisis data yang digunakan.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini berisi: (1) Hasil Penelitian, klasifikasi bahasan disesuaikan dengan pendekatan, sifat penelitian, dan rumusan masalah atau fokus penelitiannya, (2) Pembahasan, sub bahasan dan dapat digabung menjadi satu kesatuan, atau dipisah menjadi sub bahasan tersendiri.

BAB V. PENUTUP

Pada bab terakhir ini berisi kesimpulan, saran-saran atau rekomendasi.

Kesimpulan menyajikan secara ringkas seluruh penemuan penelitian yang ada keterkaitannya dengan masalah penelitian. Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Saran-saran dirumuskan berdasarkan hasil penelitian, berisi uraian

(30)

mengenai langkah-kangkah apa yang perlu diambil oleh pihak-pihak terkait dengan hasil penelitian yang bersangkutan.

(31)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian terdahulu ini memiliki tujuan yaitu sebagai salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga dapat memperkaya teori yang digunakan, guna serta menghindari timbulnya plagiasi pada penelitian peneliti. terdapat beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini, diantaranya adalah:

1. Aris Soleman (Vol. 1. No. 1, Juli 2020, 8-17) “Tingkat Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau di Manado”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur dan menggambarkan kecerdasan adversity mahasiswa perantau di kota Manado. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa perantau yang ada di kota Manado. Sedangkan sampel yang diambil adalah sebanyak 100 orang mahasiswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Quota Sampling. Teknik untuk menganalisis data dilakukan dengan menggunakan program Ms. Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada tingkat kecerdasan Adversity yang sedang. Tidak ada responden yang memiliki tingkat kecerdasan Adversity yang tinggi27.

27 Aris Soleman “Tingkat Kecerdasan Adversity Mahasiswa Perantau di Manado Journal of Behaviour and Mental Health l, no.1 (Juli 2020): 8-17) http://journal.iain- manado.ac.id/index.php/JIVA/article/view/1162

(32)

2. Djafar Ayub, dkk. (Vol 6, No 1, Juni 2018) di Kota Kendari, tentang "The Difference of Adversity Quetient and Emotional Maturity of Youth based on sex". Setiap individu memiliki Adversity Quetient yang tinggi dan rendah.

Adapun karakteristik individu yang memiliki Adversity Quetient yang tinggi, antara lain optimis, gigih, dan ulet dalam menghadapi masalah, berpikir dan bertindak secara matang dan bijaksana, dapat memotivasi diri sendiri, berani mengambil resiko dalam menghadapi tantangan dan perubahan hidup.

Sedangkan karakteristik individu yang memiliki Adversity Quetient yang rendah, yaitu pesimis dan mudah frustasi dalam menghadapi masalah, berpikir dan bertindak cenderung tidak kreatif dan tidak berani mengambil resiko. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ayub Djafar, Saragih Sahat, dkk ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu dari populasi yang diketahui ciri dan sifatnya, dengan menggunakan 3 Variabel, dan 150 responden. Pada penelitian ini menunjukkan hasil dari analisis kuantitatif dengan Independent Sample T-Test-Test membuktikan bahwa, tidak terdapat perbedaan Adversity Quetient dan kematangan emosi remaja SMP ditinjau dari jenis kelamin28. 3. Asjarul Jannah (2016), Skripisi Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah

Malang. "Perbedaan Tingkat Kemandirian Mahasiswa Merantau dan Mahasiswa Tidak Merantau.". Penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat kuantitatif yang menggunakan teknik analisa komparasi. Penelitian ini bertujuan agar mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kemandirian

28 Ayub d jafar, IGAA Noviekayati dan Sahat Saragih, "The Difference of Adversity Quotient and Emotional Maturity of Youth based on sex." Jurnal Psikogenesis 6, no.1 (Juni 2018): 61-68, https://doi.org/10.24854/jps.v6i1.633.

(33)

pada mahasiswa yang merantau dan mahasiswa yang tidak merantau.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Asjarul Jannah, didapatkan hasil bahwasanya ada perbedaan tingkat kemandirian mahasiswa merantau dan mahasiswa yang tidak merantau, dan diketahui pula bahwa tingkat kemandirian mahasiswa merantau lebih tinggi daripada tingkat kemandirian mahasiswa yang tidak merantau. Teknik pengambilan data menggunakan accidental sampling dan dibagikan kepada mahasiswa baru di berbagai jurusan kampus 3 dan kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang.

Analisa data yang digunakan ialah Independent Sample T-test. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini p > sig (0,05 > 0,021). Maka hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa hipotesa diterima, karena terdapat perbedaan tingkat kemandirian mahasiswa merantau dan mahasiswa tidak merantau, dan tingkat kemandirian mahasiswa merantau lebih tinggi daripada tingkat kemandirian mahasiswa tidak merantau. Hal ini dapat diketahui dari nilai mean (111,87 > 109, 42)29.

B. Kajian Teori

1. Kecerdasan Adversity

Kecerdasan adversity dipopulerkan pertama kali oleh Paul G. Stoltz dalam dua bukunya berjudul "Adversity Quotient (2000) dan "Adversity Quotient at Work (2003). Paul G. Stoltz merupakan seorang konsultan yang begitu terkenal dalam hal kepemimpinan di dunia pendidikan berbasis skill dan di dunia kerja. Faktor penentu kesuksesan yang banyak dibicarakan

29 Asjarul Jannah , “Perbedaan Tingkat Kemandirian Mahasiswa Merantau d an Mahasiswa Tidak Merantau." (Skripisi Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang, 2016), 9.

(34)

tentu saja seputar Intelegence Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient. Namun ada lagi faktor penentu kesuksesan yang belum banyak dibicarakan orang, yaitu Adversity Quotient (Kecerdasan Adversity) yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz, AQ digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang menghadapi masalah rumit dan penuh tantangan dan bahkan merubahnya menjadi sebuah peluang30.

Secara bahasa, adversity berasal dari kata adverse yang artinya kesengsaraan, kondisi tidak menyenangkan, kemalangan. Jika diartikan dalam bahasa indonesia memiliki makna kesulitan. Jadi dapat diartikan bahwa adversity adalah kesulitan, masalah, musibah, hambatan. Secara ringkas Stoltz mendefinisikan kecerdasan adversity sebagai kemampuan seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimilki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk menyelesaikannya. Terutama dalam penggapain sebuah tujuan, cita-cita, harapan dan yang paling penting adalah kepuasan pribadi dari hasil kerja sendiri31. Dengan demikian kecerdasan adversity mampu memprediksi seseorang atau individu pada tampilan motivasi, pemberdayaan, kreativitas, produktivitas, pembelajaran, kesehatan mental dan fisik, daya tahan, perbaikan sikap, energy dan respon terhadap perubahan32.

30 Ratna dan Risma, Konsep Adversity & Problem solving skill (Palembang:Bening Media Publishing,2020), 12.

31 Poul G Stoltz, Mengubah Hambatan Menjadai Peluang, Terj.T. Hermaya (Jakarta: Grasindo, 2005),10-13.

32 Nida'u Diana,”Study Deskriptif Tentang Adversity Quotient Pada Siswa Kelas Akselerasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Malang” (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang,2008),16-17.

(35)

Kecerdasan adversity ialah suatu kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Kecerdasan adversity atau adversity quotient adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan33. Kecerdasan adversity juga dikenal sebagai ilmu ketahanan, untuk mengukur kemampuan individu dalam menangani kesulitan hidup. Kebanyakan manusia tidak hanya belajar dari tantangan tetapi mereka juga meresponnya untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Kecerdasan adversity juga dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain.

kecerdasan adversity dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan.

Dengan kecerdasan adversity kita dapat menentukan bagaimana cara merespon ketika kesulitan itu terjadi menyerang kita. Apabila kita memiliki kecerdasan adversity yang tinggi maka kita dapat melampaui kesulitan yang datang., dan apabila kita memiliki kecerdasan adversity yang rendah maka kita tidak dapat melampaui kesulitan yang datang.. Dapat dilihat, dari penguraian mengenai kecerdasan adversity di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan adversity merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis dalam menghadapi permasalahan yang sedang dialami. Kecerdasan adversity yang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk mengarahkan diri, mengubah cara berfikir dan mengambil

33 Ratna dan Risma, Konsep Adversity & Problem solving skill (Palembang:Bening Media Publishing,2020), 2.

(36)

tindakannya ketika menghadapi suatu hambatan ataupun kesulitan34. 2. Teori-teori pendukung Kecerdasan Adversity

Kecerdasan Adversity dibentuk dengan memanfaatkan tiga cabang ilmu pengetahuan35, yaitu:

a. Psikologi Kognitif

Psikologi kognitif ialah ilmu yang mempelajari tentang bagiamana seseorang mempresentasikan, menyimpan, memperoleh, serta mengenali kembali pengetahuan yang dapat dipakai kembali agar dapat memecahkan masalah. Psikologi kognitif didefinisikan sebagai studi tentang kognisi, proses-proses mental yang mendasari perilaku manusia. Orang yang mengerti bahwasanya kesulitian itu kekal, maka kendali dan jangkauan mereka begitu sulit, tetapi yang beranggapan kalau kesulitan itu mudah dan cepat berlalu, maka dia akan tumbuh pesat dan maju.

b. Neurofisiologi

Neurofisiologi ini merupakan bagian ilmu fisiologi yang mempelajari tentang studi fungsi sistem saraf. Dalam ilmu ini juga menyumbang pengetahuan bahwa otak secara ideal dilengkapi oleh sarana membentuk kebiasaan kebiasaan, yang dapat dengan segera diinterupsi dan diubah, dengan demikian kebiasaan seseorang merespon terhadap kegagalan dapat segera diubah. Dengan demikian kebiasaan lama akan melemah dan kebiasaan baru bertumbuh dan berkembang

34 Ratna & Risma, 3-4.

35 Stoltz, Paul G , Adversity Quotient:Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Jakarta : Grasindo, 2000),74.

(37)

dengan peningkatan yang baik36. c. Psikoneurominologi

Pada psikoneurominologi, ilmu ini berisi tentang bukti yang berhubungan dengan fungsional otak dan sistem kekabalan tubuh pada manusia, apapun yang hendak difikirkan dan dirasakan oleh individu baik secara langsung da terukur kepada kegagalan dan kesehatan mental juga fisik37. Hakikatnya perasaan dan pikiran begitu apik dimediasi oleh neuromodulator dan neurotransmitter yang juga mengatur ketahanan tubuh. Kendali diri yang sangat esensial bagi panjang umur dan kesehatan. Bagaimana individu bisa mengahadapi kegagalan yang mempengaruhi fungsi-fungsi kekebalan, kesembuhan dari pembedahan dan kerentanan kepada penyakit-penyakit yang dapat mengancam hidup manusia. Pola respon yang lemah dari individu akan menimbulkan depresi.

Dari ketiga penopang teoritis tersebut dapat bersama-sama membentuk kecerdasan adversity dengan tujuan utama menghasilkan sebuah pemahaman baru, timbulnya pengertian baru, adanya ukuran dan seperangkat alat agar bisa meningkatkan efektifitas manusia menghadapi segala macam masalah di dalam hidupnya.

3. Tipe-tipe Manusia Berdasarkan Tingkat Kecerdasan Adversity

Stoltz membagi manusia menjadi tiga tipe berdasarkan pada pengalaman mendaki gunung. Stoltz menyebutkan hidup seperti mendaki

36 Stoltz,100

37 Stoltz,113

(38)

gunung karena kepuasan atau kesuksesan dicapai melalui kerja keras38. Dalam menghadapi masalah, ada tiga macam tipe manusia yaitu sebagai berikut39:

a. Quitters, (mereka yang berhenti) adalah orang yang lebih memilih untuk berhenti dan mundur dalam usahanya untuk mencapai kesuksesan. Orang seperti ini mudah meninggalkan impian yang sudah ditata dan lebih memilih jalan yang mereka anggap mudah. Orang tipe ini cenderung gampang putus asa, dan mudah menyerah, mudah puas dengan pemuas kebutuhan dasar fisiologis saja, cenderung pasif, tidak bergairah untuk mencapai puncak keberhasilan. Kelompok ini cenderung menolak perubahan karena kapasitasnya yang minimal

b. Campers, (pekemah), dalam tipe ini seseorang yang sudah berusaha namun apabila telah merasa puas dan bosan mereka akan menghentikan usahanya. Tipe campers ini ialah orang-orang yang cepat puas dengan pencapaian yang telah mereka dapatkan dengan mencukupkan diri dan tidak mau mengembangkan diri. Orang yang memiliki tipe seperti ini lebih baik dari quitters, yaitu masih mengusahakan terpenuhinya kebutuhan rasa aman dan kebersamaan, serta masih bisa melihat dan merasakan tantangan. Pada skala hirarki Maslow kelompok ini juga tak tinggi kapasitasnya untuk perubahan karena terdorong oleh ketakutan dan hanya mencari keamanan dan kenyamanan. Dalam menghadapi kesulitan

38 Ratna dan Risma, Konsep Adversity & Problem solving skill (Palembang:Bening Media Publishing,2020), 13.

39 Stoltz, Paul G , Adversity Quotient:Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Jakarta : Grasindo, 2000),18

(39)

akan menimbang resiko dan imbalan sehingga tak pernah mencapai apa yang seharusnya dapat tercapai dengan potensinya.

c. Climbers, (pendaki) dalam urutan tiga tipe manusia berdasarkan tingkat kecerdasan adversity, climbers ini merupakan yang paling tinggi diantara ketiga tipe tersebut. Climbers merupakan orang yang selalu berupaya mencapai puncak pendakian yaitu kebutuhan aktualisasi diri pada skala kebutuhan Maslow, siap menghadapi berbagai rintangan. Climbers tahu bahwa banyak hal yang akan diraih apabila mereka terus berusaha dalam menggapai puncak kesuksesan. Berbeda dengan quitters dan campers, climbers tidak akan diam dan mereka tidak akan cepat puas dengan hasil yang sudah merek daptkan, akan tetapi mereka akan menghadapi hambatan sehingga menjadikannya sebagai peluang kesuksesan.

Dalam hirarki kebutuhan maslow dapat dijelaskan hubungan quitters, campers,dan climbers, sebagai berikut:

Gambar 2.1

Hirarki Kebutuhan Maslow40

40 Stoltz, Paul G “Adversity Quotient(Mengubah Hambatan Menjadi Peluang ” (Jakarta: PT Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan Penghargaan Kebutuhan Kasih Sayang

Kebutuhan Rasa Aman Kebutuhan Fisiologis

(40)

Quitters terletak di dasar piramida yang hanya bisa memenuhi kebutuhan fisiologis seperti KDM (Kebutuhan Dasar Manusia) yaitu minum, makan, tidur, bernafas,dan lain sebagainya. Sedangkan, Campers individu seperti ini sudah berusaha agar mampu naik satu tingkat di tingkat kebutuhan melebihi quitters, yaitu kebutuhan rasa aman.

Setidaknya mereka telah berusaha agar isa menjauhkan diri sendiri dari bermacam bahaya yang datang. Dan untuk Climbers, individu seperti itu tetap akan terus berusaha semaksimal mungkin agar bisa mencapai di titik kebutuhan aktualisasi diri meskipun harus melewati tahap kebutuhan fisiologi, juga rasa aman, juga kasih sayang, dan terkahir penghargaan yang akhirnya bisa mencapai pada titik kebutuhan aktualisasi diri. Tipe climbers ini tidak akan berhenti pada titik kebutuhan tertentu, karena mereka terus berusaha mencapai puncak kebutuhannya yaitu aktualisasi diri.

Kemampuan quitters, campers dan climbers dalam menghadapi kesulitan memang berbeda. Quitters akan lebih memilih untuk berhenti dan menolak untuk menghadapi kesulitan dalam hidupnya bahkan mereka menolak untuk mendapatkan kesempatan baik dalam kehidupannya.

Campers mereka setidaknya telah berusaha menghadapi kesulitan namun mereka akan cepat puas dengan suatu hal yang telah mereka dapatkan, jadi jika mereka merasa cukup maka mereka akan berhenti berusaha dalam mencapai kesuksesan. Sedangkan, climbers adalah satu-satunya

Gramedia,2009), 23

(41)

tipe yang tidak pernah merasa takut untuk menghadapi kesulitan dalam hidup. Kesuksesan yang diraih berkaitan langsung dengan kemampuan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan setelah yang lain menyerah, dan climbers ini merupakan tipe kecerdasan adversity yang tinggi.

4. Tiga Tingkatan Kesulitan

Di dalam kehidupan seseorang, ada salah satu bagian dalam hidup yang pasti ada dimana-mana, begitu nyata dan tidak akan bisa ditolak, yaitu kesulitan. Dalam kecerdasan adversity, terdapat 3 tingkatan yang akan digambarkan pada piramida berikut ini41:

Gambar 2.2

Tiga Tingkatan Kesulitan42

Pertama, kesulitan yang terjadi pada masyarakat. Saat ini manusia sedang mengalami peralihan besar di banyak sekali kehidupan bidang pada antara lain harta milik, ketidakpastian akan masa depan, taraf kejahatan yg semakin tinggi secara dramatis, rasa cemas yang memuncak terhadap kondisi perekonomian, kerusakan lingkungan yang sebelumnya

41 Stoltz, Paul G “Adversity Quotient(Mengubah Hambatan Menjadi Peluang ” (Jakarta: PT Gramedia,2009), 50.

42 Stoltz, 53.

Masyarakat

Tempat Kerja

Individu

(42)

tidak pernah terjadi, pandangan terhadap kehidupan berumah tangga yg berubah secara radikal, krisis moral yg melanda seluruh bangsa, serta gudang kepercayaan terhadap forum-lembaga, termasuk sistem pendidikan. seluruh perubahan tersebut artinya kesulitan rakyat.

Kedua, kesulitan di kantor. banyak orang yang mencemaskan posisi pada perekonomian di periode globalisasi karena situasi sulit di kantor semakin meningkat. Kaum pekerja jerih payah menaikkan pengetahuan dan keterampilan, terdorong oleh rasa takut sebab menyadari bahwa setiap orang sebenarnya bekerja sendiri. Para pekerja ini bekerja lebih banyak dan mendapatkan upah lebih sedikit, sebagai akibat rasa frustrasi menumpuk. Hal tersebut dinamakan kesulitan di tempat kerja. Jika dihubungkan dengan mahasiswa yang mencemaskan nasibnya setelah lulus apakah dapat bekerja sesuai dengan bidangnya atau tidak. Mahasiswa berusaha belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk mendapatkan gelar sarjana sehingga nanti dapat bekerja seelah lulus. Meskipun gelar sarja tidak akan menjamin seseorang dapat bekerja karena persaingan di dunia kerja begitu ketat. Hal seperti itu akan menyebabkan rasa putus harapan.

Ketiga, kesulitan setiap individu, sudah pasti selalu mengalir ke bawah, maksudnya kesulitan akan berakhir pada kesulitan individu yang disebabkan oleh kesulitan baik di masyarakat dan di tempat kerja apabila tidak bisa menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut. Salah satu fakta yang menyebutkan jika rata-rata anak berusia 6 tahun tertawa 3000 kali setiap

(43)

harinya. Rata-rata orang dewasa tertawa 17 kali saja. Hal tersebut merupakan akibat menumpuknya kesulitan dari waktu ke waktu43. Berdasakan penjelasan tiga tingkatan kesulitan dalam kecerdasan adversity, dapat disimpulkan bahwa tiga tingkatan kesulitan tersebut yaitu kesulitan di masyarakat, kesulitan di tempat kerja, dan kesulitan individu.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Adversity

Dalam bukunya Paul G. Stoltz menggambarkan potensi dan daya tahan individu dalam sebuah pohon yang disebut pohon kesuksesan. Ada dua macam faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan aadversity,

44diantarnya yaitu:

a. Faktor Internal 1) Genetika

Warisan genetis tidak akan menentukan nasib seseorang tetapi pasti ada pengaruh dari faktor ini. Beberapa riset-riset terbaru menyatakan bahwa genetika sangat mungkin mendasari perilaku. Yang paling terkenal adalah kajian tentang ratusan anak kembar identik yang tinggal terpisah sejak lahir dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Saat mereka dewasa, ternyata ditemukan kemiripan kemiripan dalam perilaku.

43 Stoltz, 55-58.

44 Stoltz, 93-102.

(44)

2) Keyakinan

Keyakinan mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu masalah serta membantu seseorang dalam mencapai tujuan hidup.

3) Bakat

Kemampuan dan kecerdasan seseorang dalam menghadapi suatu kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya salah satunya dipengaruhi oleh bakat. Bakat adalah gabungan pengetahuan, kompetensi pengalaman, dan keterampilan

4) Kemauan

Untuk mencapai kesuksesan dalam hidup diperlukan tenaga pendorong yang berupa keinginan atau disebut kemauan.

Kemauan atau hasrat menggambarkan motivasi, antusias gairah, kemandirian, dorongan, ambisi, dan semangat.

5) Karakter

Seseorang yang berkarakter baik, semangat, tangguh, dan cerdas akan memiliki kemampuan untuk mencapai kesuksesan.

Karakter merupakan bagian yang penting bagi kita untuk meraih kesuksesan dan hidup berdampingan secara damai.

6) Kinerja

Merupakan bagian yang mudah dilihat oleh orang lain sehingga seringkali hal ini dievaluasi dan dinilai. Salah satu keberhasilan seseorang dalam menghadapi masalah dan meraih

(45)

tujuan hidup dapat diukur lewat kinerja.

7) Kecerdasan

Bentuk-bentuk kecerdasan kini dipilah menjadi beberapa bidang yang sering disebut sebagal multiple intelligence. Bidang kecerdasan yang dominan biasanya mempengaruhi karier, pekerjaan, pelajaran, dan hobi

8) Kesehatan

Kesehatan emosi dan fisik dapat memepengaruhi seseorang dalam menggapai kesuksesan. Seseorang yang dalam keadaan sakit akan mengalihkan perhatiannya dari masalah yang dihadapi. Kondisi fisik dan psikis yang prima akan mendukung seseorang dalam menyelesaikan masalah.

b. Faktor Eksternal 1) Pendidikan

Pendidikan dapat membentuk kecerdasan, pembentukan kebiasaan yang sehat, perkembangan. watak, keterampilan, hasrat, dan kinerja yang dihasilkan. Penelitian yang dilakukan Gest.

Dick, menyebutkan bahwa meskipun seseorang tidak menyukai kesengsaraan yang diakibatkan oleh pola hubungan dengan orang tua, namun permasalahan orangtua secara langsung kut berperan dalam perkembangan ketahanan remaja. Salah satu sarana dalam pembentukan sikap dan perilaku adalah melalui pendidikan.

(46)

2) Lingkungan

Lingkungan tempat individu tinggal dapat mempengaruhi bagaimana individu beradaptasi dan memberikan respon kesulitan yang dihadapinya. Individu yang terbiasa hidup dalam lingkungan sulit akan memiliki kecerdasan adversity yang lebih tinggi.

Menurut Stoltz, individu yang terbiasa berada di lingkungan yang sulit akan memiliki kecerdasan adversity yang lebih besar karena pengalaman dan kemampuan beradaptasi yang lebih baik dalam.

mengatasi masalah yang dihadapi.

6. Dimensi Kecerdasan Adversity

Kecerdasan adversity memiliki empat dimensi yang masing masing merupakan bagian dari respon seseorang dalam menghadapi masalah.

Dimensi tersebut antara lain control, origin dan ownership, reach, dan endurunce. Semakin besar nilai AQ, maka semakin besar kecerdasannya dalam menghadapi kesulitan. Biasanya yang mempunya nilai tinggi, orang- orang yang berpengalaman atau pernah mengalami tingkat kesulitan yang tinggi tapi bisa bertahan hingga sukses. Paul G. Stoltz mengemukakan bahwa rumus pengukuran Adversity Quotient seseorang adalah C 02 + R E45.

Kecerdasan adversity sebagai suatu kemampuan yang terdiri dari empat dimensi yang disingkat dengan sebutan CO2RE yaitu dimensi control, origin ownership, reach, dan endurance. Berikut empat aspek atau

45 Ratna dan Risma, Konsep Adversity & Problem solving skill (Palembang:Bening Media Publishing,2020), 5.

(47)

dimensi dasar kecerdasan adversity yang46, yaitu:

a. Control

Control atau kendali, dapat diartikan sebesar apa individu bisa mengkontrol dan menghadapi kesulitan yang datang, juga sejauh mana seseorang mampu memahami bahwasanya peristiwa yang dapat menimbulkan kesulitan ialah peran dari kontrol itu sendiri. Karena jika kendali yang dilakukan seseorang semakin besar, maka bisa jadi individu memiliki kemampuan yang cukup besar untuk bertahan dalam kesulitan dan mencari penyelesaian atas kesulitan yang sedang dialaminya. Begitu juga sebaliknya, jika semakin rendah kendali, akibatnya individu tersebut mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Orang yang memiliki skor rendah pada dimensi kendali ini cenderung akan berpikir:

1) Tugas ini terlalu sulit untuk saya!

2) Tidak ada yang dapat saya lakukan!

3) Saya tidak bisa mengerjakan tugas ini.

Sementara itu, orang yang memiliki kecerdasan adversity dan skor pada dimensi kendali lebih tinggi apabila berada dalam situasi yang sama, kemungkinan akan berpikir:

a) Ini sulit! Tapi, saya pernah menghadapi yang lebih sulit.

b) Pasti saya dapat melakukan sesuatu.

c) Saya pasti dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

46Paul G Stoltz, Adversity Quotient:Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Jakarta:Grasindo,2000),140-162

(48)

d) Pasti ada jalan untuk melewati kesulitan ini.

b. Origin dan Ownership

Dari dimensi ini mempertanyakan sejauh mana seseorang mengakui dirinya sebagai penyebab kesulitan. Dimulai dari origin yang berkaitan dengan rasa bersalah. Orang yang memiliki kecerdasan adversity rendah akan cenderung menyalahkan diri sendiri secara berlebihan apabila mereka penyebab dari permasalahan yang terjadi.

Rasa bersalah sebenarnya memiliki dua fungsi penting. Pertama, rasa bersalah dapat membantu seseorang untuk belajar, dan rasa bersalah menjurus pada penyesalan. Penyesalan dapat memaksa seseorang untuk instrospeksi diri apakah hal-hal yang dilakukan telah melukai hati orang lain. Penyesalan merupakan motivator yang sangat kuat bila digunakan dengan sewajarnya.

Dimensi ownership atau pengakuan, orang yang mengakui kesalahan dan akibat dari kesalahan tersebut akan menganggap jika dirinya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat.

Seseorang yang memiliki skor pengakuan tinggi maka akan mengakui akibat-akibat dari suatu perbuatan, apapun penyebabnya. Sebaliknya, semikin rendah skor pengakuan maka semakin besar kemungkinan untuk tidak mengakui akibat-akibatnya, apapun penyebabnya.

c. Reach

Reach atau jangkauan, dapat diartikan bahwasanya sejauh mana kesulitan dapat dijangkau dalam kehidupan seseorang. Misalnya terjadi

(49)

pada mahasiswa yang mengajukan beberapa judul skripsi kepada ketua jurusannya, akan tetapi semua judul ditolak. Padahal mahasiswa tersebut sudah menyiapkan judul-judul skripsi dengan matang sebelumnya. Hal tersebut membuat mahasiswa panik karena belum memiliki judul di saat teman-temannya sudah memiliki judul yang disetujui, sulit tidur, murung, dan membuatnya tidak nafsu makan. Semakin rendah skor reach, semakin besar kemungkinannya menganggap peristiwa-peristiwa buruk sebagai bencana, dengan membiarkannya meluas hingga membuat tidak bahagia dan pikiran tidak tenang saat masalah sedang berlangsung. Sebaliknya jika memiliki skor reach tinggi maka akan semakin besar kemungkinannya seseorang membatasi jangkauan masalahnya pada kejadian yang sedang dihadapi, tidak membiarkan masalah tersebut menyebabkan hidupnya tidak bahagia dan penuh dengan beban pikiran.

d. Endurance

Endurance atau daya tahan, dimensi endurance menjelaskan berapa lama kesulitan atau masalah akan berlangsung. Selain itu, dimensi ini juga berkaitan dengan persepsi seseorang akan lama atau tidaknya kesulitan itu berlangsung. Orang dengan daya tahan rendah akan menganggap apabila kesulitan dan penyebabnya berlangsung lama47. Respon-respon orang yang memiliki daya tahan rendah, diantaranya adalah:

47 Nida'u Diana,”Study Deskriptif Tentang Adversity Quotient Pada Siswa Kelas Akselerasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Malang” (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang,2008),27

(50)

1) Saya tidak bisa menggunakan SPSS.

2) Hidup saya berantakan.

3) Saya selalu menunda-nunda pekerjaan.

Semakin tinggi tingkat kecerdasan adversity dan skor seseorang dalam dimensi endurance maka seseorang akan memandang kesuksesan sebagai sesuatu yang berlangsung lama bahkan permanen, dan memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan c

Gambar

Tabel 4.3  Hasil Uji Normalitas

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, sehingga dapat dijadikan sebagai

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian adalah: “Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan ibu rumah tangga tentang pemberantasan sarang nyamuk pada

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecerdasan emosi antara karyawan yang sudah

Mengacu pada latar belakang diatas problematika masalah yang dibahas akan dijawab dalam penelitian ini yaitu bagaimana tingkat kecerdasan intelektual, tingkat kecerdasan

Hal ini dikarenakan, adanya perbedaan tingkat adversity quotient pada ketiga informan penelitian sebagai mahasiswa difabel yaitu perbedaan kemampuan untuk

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, sehingga dapat menerapkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara kecerdasan emosional, adversity quotient terhadap kemampuan pemecahan masalah

Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hasil penelitian tentang perbedaan tingkat status gizi diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara