IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ANTIDUMPING DI INDONESIA DALAM RANGKA PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA (ACFTA)
Paper
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan Di bimbing oleh : Dr. H. Bambang Santoso Haryono, MS.
Kelas J
Oleh :
Ikrom Laily Shiyamah 115030101111103
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA November, 2013
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ANTIDUMPING DI INDONESIA DALAM RANGKA PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA (ACFTA)
Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu Negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia adalah Negara Heterogen dengan berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia telah banyak mengalami perubahan yang sangat pesat di berbagai bidang. Salah satu perubahannya dapat dilihat dibidang ekonomi. Dimana dahulunya sistem perdagangan Indonesia masih tersentral, sedangkan sekarang sistem perdagangan Indonesia sudah menjadi pasar bebas. Yang mana, barang-barang dari luar bisa bebas keluar masuk ke suatu Negara.
Perdagangan bebas di Indonesia dulunya masih dimonopoli oleh Eropa dan Amerika.
Namun, dengan menurunnya perekonomian Eropa dan tidak stabilnya perekonomian Amerika, maka economic centre of grafity bergeser ke Asia pasca krisis yang terjadi pada tahun 2008 dengan kecepatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, akan terbentuk ASEAN Economy Community pada tahun 2015.
ASEAN Economy Community merupakan salah satu pilar dari ASEAN Community.
ASEAN Economic Community ini dibentuk dengan misi menjadikan perekonomian di ASEAN menjadi lebih baik serta mampu bersaing dengan Negara-negara yang perekonomiannya lebih maju dibandingkan dengan kondisi Negara ASEAN saat ini.
Sedangkan ASEAN Community sendiri dibentuk dengan tujuan untuk lebih mempererat integrasi ASEAN dalam menghadapi perkembangan konstelasi internasional baik dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun keamanan dan pertahanan.
ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan bentuk perdagangan bebas yang dirumuskan oleh negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Economy Community yang meliputi Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam dengan China terkait dengan isu globalisasi. Sedang yang menjadi penggagas ACFTA sendiri adalah pemerintah Indonesia, berdasarkan kesepakatan bersama semua angguta ASEAN guna menarik investasi dan memajukan sektor perdagangan di negara- negara ASEAN.
Terkait dengan adanya kesepakatan ACFTA, akan menimbulkan suatu dampak. Baik itu dampak positif maupun dampak negative dari perjanjian tersebut. . Dampak positif dari perjanjian ACFTA tersebut akan dinikmati langsung oleh sektor yang produknya diekspor ke China, sementara dampak negatif dirasakan oleh produsen dalam negeri yang produknya dipasarkan di dalam negeri dan memiliki tingkat daya saing yang relatif kurang kompetitif yang harus bersaing dengan produk China.
Dalam lima tahun terakhir peningkatan impor dari China pada umumnya diatas 20 % pertahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa produk-produk China berpotensi dan sudah menjadi ancaman terhadap pasar domestic untuk produk yang sejenis. Pada tahun 2010, produk China praktis menguasai setiap lini di Indonesia. Dimana kualitas barangnya yang tidak begitu bagus, namun dengan haraganya yang murah membuat produk China laku keras.
Data perdagangan akhir 2010, neraca perdagangan Indonesia-China defisit di pihak Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke China 49,2 miliar dollar AS, sementara nilai impor dari China sebesar 52 miliar dollar AS.
ACFTA telah menuai dampak negative dimana sekitar 20% sektor industri manufaktur beralih ke sektor perdagangan. Survey yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia langsung ke Shanghai dan Guangzhou, China, menemukan adanya praktik banting harga (dumping) untuk beberapa produk yang diekspor ke Indonesia.
Dari 190 barang yang diekspor ke Indonesia, ditemukan 30 produk dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga di pasar local mereka. Artinya, China telah menerapkan politik dumping.
Sebagai negara yang turut ambil bagian dalam perdagangan multilateral, Indonesia telah meratifikasi Agreement Estabilihing WTO melalui Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1994, sebagai konsekuensinya Indonesia kemudian membuat ketentuan dasar tentang antidumping dengan cara menyisipkannya dalam Undang-undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan ditindak lanjuti dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1996 tentang Bea Masuk Antidumping dan BeaMasuk Imbalan dan diikuti dengan beberapa Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ketentuan Antidumping ini hanya dikenakan pada produk yang mengancam produk industri dalam negeri karena menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.
Dalam menghadapi China dalam perdagangan bebas ini, peran pemerintah Indonesia sangat dibutuhkan untuk melindungi produk industri dalam negeri terutama industri kecil dan
menengah. Karena dalam menghadapi pasar bebas dan persaingan global, Industri dalam negeri masih sangat rentan dan lemah. Disinilah perlindungan dari pemerintah sangat dibutuhkan melalui perangkat hukum internasional dan nasional mengenai antidumping sebagai tindakan balasan terhadap politik dumping yang dilakukan China.
1. Gambaran Umum tentang ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) Kebijakan perdagangan bebas Asean-China merupakan suatu kebijakan yang digagas pemerintah Indonesia berdasarkan pada kesepakatan bersama semua anggota ASEAN guna menarik investasi dan memajukan sektor perdagangan di negara-negara ASEAN. Kebijakan perdagangan bebas ini, dirumuskan oleh negara-negara anggota ASEAN yang meliputi Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam dengan China terkait dengan isu globalisasi. Isu globalisasi yang diusung dalam perumusan kebijakan perdagangan bebas inilah yang kemudian menjadikan disepakatinya perjanjian ACFTA oleh semua anggota ASEAN. Dengan disepakatinya perjanjian tersebut, maka Pemerintah Indonesia meratifikasi UU tentang perjanjian ACFTA yang kemudian disepakati oleh Presiden menjadi sebuah kebijakan perdagangan bebas Asean-China yang harus dijalankan oleh masyarakat Indonesia mulai tahun 2010.
Perjanjian ACFTA adalah perjanjian perdagangan antara Negara-negara di ASEAN dengan Negara Cina. Dimana sudah efektif berjalan pada bulan Januari 2010. Sudah beberapa tahun memang perjanjian ini telah berlalu, terlepas dari berbagai macam kontroversi akan pemberlakuan perjanjian ini. Terutama sejak diratifikasinya Perjanjian Perdagangan ini pada 2 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja dalam Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation Between ASEAN and the People’s Republic of China (Kerangka Perjanjian). Dari Framework Agreement ini dilanjutkan dengan tiga buah kesepakatan perdagangan dibidang barang tanggal 29 November 2004, Agreement on Trade and Service atau kesepakatan perdagangan dibidang jasa pada tanggal 14 Januari 2007 dan Agreement on Investment atau kesepakatan dibidang investasi pada tanggal 15 Agustus 2007 (Muchtar A.F., 2010). Sebagai konsekuensi dari kebijakan tersebut menyebutkan bahwa tarif ekspor-impor dikedua belah pihak (ASEAN dan Cina) adalah nol untuk sebagian besar komoditas.
Fenomena adanya Perjanjian ACFTA merupakan suatu bentuk regionalisasi didalam hal perdagangan Internasional. Negara-negara yang termasuk dalam perjanjian ini, membentuk semacam aturan main tersendiri untuk mengatur dan mengikat segala hal yang
berkaitan dengan kegiatan perdagangan antar Negara-negra tersebut. Kesepakatan ini esensinya merupakan suatu hal yang mutlak dibutuhkan untuk membendung dan sebagai sarana proteksi diri terhadap ketidakseimbangan kekuatan perekonomian dengan Negara- negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Dimana seperti telah diketahui, antar Negara Eropa secara lebih dulu telah membentuk suatu perjanjian Regionalisasi Perdagangan Internasional, yaitu Uni Eropa.
Blok perdagangan antar Negara ASEAN dan Cina timbul dengan dilatar belakangi oleh pergeseran keseimbangan kekuatan Ekonomi yang mulai bergerak dari Eropa ke Asia pasca krisis yang terjadi pada tahun 2008. Hal ini terlihat dari peforma perekonomian dari Negara Cina yang menunjukkan peningkatan yang sangat mengesankan. Yang mana ditunjukkan dengan indikator besarnya tingkat pertumbuhan Ekonomi di Negara tersebut dimana selalu berada dilevel 10% per tahun, sering surplusnya Neraca perdagangan, dan besarnya cadangan devisa yang dimiliki. Serta besarnya PDB yang dimiliki, yaitu mencapai US$ 2.224 miliar pada tahun 2005 (ADB 2007).
Perekonomian Cina yang menjadi primadona memang tak lepas dari 2 faktor penting diantaranya: besarnya Sumber Daya Alam Negara tersebut dan penduduk yang melimpah.
Maka tak hayal Cina mampu mengambil alih hegemoni perekonomian dari tangan Amerika.
Mengingat, Negara Amerika terutama setelah terjadinya krisis 2008, menunjukkan perform perekonomian yang buruk. Diantaranya: meningkatnya pengangguran, membengkaknya defisit Negara tersebut, dan pertumbuahan ekonomi yang rendah.
Melihat hal tersebutlah, para petinggi ASEAN memutuskan untuk mau bekerjasama dalam hal perdagangan bebas dengan Negara Cina yang tertuang didalam perjanjian ACFTA tersebut. Dimana gagasan pembentukan ACFTA untuk pertama kalinya disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-7 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, pada November 2001. Ketika itu ASEAN menyetujui pembentukan ACFTA dalam waktu 10 tahun yang dirumuskan dalam ASEAN-Cina Framework Agreement on Economic Cooperation yang disahkan pada KTT ASEAN berikutnya di Phnom Penh, Kamboja, November 2002.
Dalam rangka ACFTA, barang yang diperdagangkan antara Indonesia dan Cina yaitu sebanyak 5.250 kategori produk wajib diimplementasikan penurunan/penghapusan tarifnya dengan mengikuti skema dan waktu sebagai berikut (Cordenilo,2005):
1. Early Harvest Program (EHP) yang mulai diberlakukan per 1 Januari 2004 secara bertahap dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun, dengan tarif bea masuk untuk produk yang termasuk EHP sejumlah 449 produk menjadi 0%.
2. Normal Track I, sejumlah 3.913 kategori produk dengan penurunan tarif bea masuk menjadi 0% mulai tahun 2005.
3. Normal Track II, sejumlah 490 kategori produk dengan penurunan bea masuk mulai tahun 2012.
4. Sensitive/Higly sensitive, sebanyak 398 kategori produk yang jumlah penurunannya masih dirundingkan sampai saat ini.
ASEAN dan Cina menyetujui dibentuknya ACFTA dalam dua tahapan waktu yaitu:
tahun 2010 dengan Negara pendiri ASEAN, yang meliputi Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina, dan pada tahun 2012 dengan kelima Negara anggota baru ASEAN yakni Brunei Darusalam, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar).
a. Proses Terbentuknya Kesepakatan ACFTA
Dalam membentuk ACFTA, para Kepala Negara Anggota ASEAN dan China telah menandatangani ASEAN - China Comprehensive Economic Cooperation pada tanggal 6 Nopember 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam.
Sebagai titik awal proses pembentukan ACFTA para Kepala Negara kedua pihak menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and People’s Republic of China di Phnom Penh, Kamboja pada tanggal 4 Nopember 2002. Protokol perubahan Framework Agreement ditandatangani pada tanggal 6 Oktober 2003, di Bali, Indonesia. Protokol perubahan kedua Framework Agreement ditandatangani pada tanggal 8 Desember 2006.
Indonesia telah meratifikasi Ratifikasi Framework Agreement ASEAN-China FTA melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004. Setelah negosiasi tuntas, secara formal ACFTA pertama kali diluncurkan sejak ditandatanganinya Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Laos.
Persetujuan Jasa ACFTA ditandatangani pada pertemuan ke-12 KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada bulan Januari 2007. Sedangkan Persetujuan Investasi ASEAN China ditandatangani pada saat pertemuan ke-41 Tingkat Menteri Ekonomi ASEAN tanggal 15 Agustus 2009 di Bangkok, Thailand.
Governments of Member States of the Association of Southeast Asian Nations and the Government of the People’s Republic of China Strengthening Cooperation in the Field Standards, Technical Regulations and Conformity Assesment, ditanda tangani di Thailan pada tanggal 25 Oktober 2009.
Memorandum of Understanding between the Governments of Member States of the Association of Southeast Asian Nations and the Government of the People’s Republic of China on Cooperation in the Field of Intellectual Property. Ditandatangani pada tanggal 21 desember 2009.
Second Protocol to Amend Agreement on Trade in Goods of the Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-operation between the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China. Ditandatangani di Kuala Lumpur pada tanggal 29 Oktober 2010.
b. Peraturan Nasional terkait ACFTA
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004 tentang Pengesahan Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the Associaton of Southeast Asean Antions and the People’s Republic of China.
2. Keputusan Menteri Keuangan Republi Indonesia Nomor 355/KMK.01/2004 tanggal 21 Juli 2004 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam rangka Early Harvest Package ASEAN-China Free Trade Area.
3. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK.010/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN- China Free Trade Area.
4. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 21/PMK.010/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
5. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 04/PMK.011/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Perpanjangan Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
6. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 53/PMK.011/2007 tanggal 22 Mei 2007 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN- China Free Trade Area.
7. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 235/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area.
c. Tujuan ACFTA
Memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara negara-negara anggota.
Meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa serta menciptakan suatu sistem yang transparan dan untuk mempermudah investasi.
Menggali bidang-bidang kerjasama yang baru dan mengembangkan kebijaksanaan yang tepat dalam rangka kerjasama ekonomi antara negara-negara anggota.
Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dari para anggota ASEAN baru (Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam – CLMV) dan menjembatani kesenjangan pembangunan ekonomi diantara negara-negara anggota.
d. Pengaruh dari Adanya Perjanjian ACFTA terhadap Perekonomian Indonesia Semenjak digulirkanya ACFTA, banyak kalangan yang memprediksi bahwa perjanjian ACFTA akan membuat Perekonomian di Indonesia akan semakin memburuk. Hal tersebut tidaklah beralasan, karena sebelum ACFTA sudah banyak produk Cina yang membanjiri pasar di Indonesia. Harga barang-barang Cina jauh lebih murah dibawah harga barang-barang yang diproduksi oleh pengusaha di Indonesia. Sebagai konsumen yang rasional, masyarakat Indonesia juga meminati produk-produk dari Cina karena pertimbangan harga. Dengan semakin banyaknya produk murah Cina yang membanjiri pasar Indonesia, maka konsumen akan memiliki banyak pilihan barang, akan memangkas pengeluaran mereka, menambah pilihan, akan semakin banyak bagian pendapatan yang bisa untuk ditabung, dan pada akhirnya akan menambah tingkat kesejahteraan meraka. Namun, hal tersebut adalah dampak jangka pendeknya.
Jika ditinjau dari jangka panjangnya, maka membanjirnya produk Cina justru malah akan merugikan perekonomian di Indonesia. Karena akan mendorong masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang konsumtif dan terjadi ketergantungan dengan produk-produk Cina.
Dan dari segi eksistensi usaha-usaha di Indonesia, membanjirnya produk-produk Cina akan mengancam usaha-usaha domestik. Usaha-usaha di Indonesia terancam gulung tikar karena kalah berkompetisi/bersaing dengan Cina. Menurut Sri Adiningsih,PhD. Dosen FEB UGM sekaligus pakar studi Asia Pasifik menyebutkan, bahwa selain karena faktor harga barang
Cina murah, Cina bisa menang dalam konteks ACFTA karena produk-produk Cina itu sifatnya mudah untuk diperoleh serta supply chainya yang pendek. Berkaitan dengan supply chain, hal ini merupakan masalah yang cukup serius juga bagi pemerintah Indonesia. Karena hal ini menyangkut maslah ketersediaan infrastruktur. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa infrastruktur di Indonesia itu kurang memadai. Jadi, membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius karena mempengaruhi cost produksi juga. Dan pada akhirnya akan mempengaruhi daya saing suatu produk juga.
Kemudian dengan semakin tingginya tingkat ketergantungan akan produk-produk Cina, maka dikhawatirkan akan semakin mengurangi tingkat produktivitas masyarakat di Indonesia. Sebelum ACFTA saja tingkat produktivitas masyarakat Indonesia cenderung rendah. Bahkan, sebelum ACFTA digulirkan saja tingkat produktivitas tenaga kerja di Indonesia cenderung rendah jika dibandingkan dengan dengan Negara-negara ASEAN lainnnya.
2. Dampak ACFTA terhadap Ekonomi Indonesia
Dengan dibukanya ACFTA pada tahun 2011 di negara Indonesia mengalami beberapa hambatan, terjadi pro dan kontra di kalangan para pelaku ekonomi, para ekonom, pelaku industri dan elite politik. Dalam proses berlangsungnya ACFTA terjadi beberapa efek atau dampak terhadap kondisi perekonomian di negara Indonesia, dampak tersebut terbagi kepada 2, yaitu : dampak positif dan dampak negatif yang di timbulkan.
Dampak positif ACFTA terhadap ekonomi negara Indonesia diantaranya sebagai berikut :
1. Kegiatan ekonomi dalam negeri meningkat
Dengan bermunculannya barang – barang yang baru dari luar produk lokal , membuat suatu persaingan sehat yang memberikan rangsangan ekonomi kepada para pelaku ekonomi lokal untuk bisa berproduksi ebih banyak lagi dalam mengantisipasi ekspansi produk luar.
Dengan bermunculannya barang baru dan jumlah barang yang banyak, membuat tingkat konsumsi seseorang untuk mengkonsumsi barang tersebut semakin meningkat karena adanya komoditas barang dalam skla besar membuat harga barang menurun.
2. Kegiatan produksi akan effisien
Hal ini akan sangat terjadi karena akan terjadinya kesepakatan suatu harga yang bertujuan untuk saling menguntungkan diantara negara – negara yang melaksanakan perdagangan bebas.
3. Ekspor Meningkat
Adanya ACFTA memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk melakukan sebanyak – banyak ekspor barang potensial Indonesia ke seluruh negara anggota ACFTA, karena dengan pengurangan tarif dan peniadaan tarif memberikan kesempatan untuk mempermudah masuk barang ke luar negeri.
4. Investasi Meningkat
Kebijakan dalam perdagangan bebas dengan memberikan kemudahan masuknya barang di area negara ASEAN – Cina, memberikan potensi investasi tinggi untuk para pelaku industri dari luar untuk berinvestasi dalam negeri, dari investasi itu bisa diputar lagi untuk peningkatan ekspor.
Dampak tersebut dilihat dari hal-hal sebagai berikut : (i) jaminan perlakuan yang sama untuk penanam modal asal China ataupun ASEAN antara lain dalam hal manajemen, operasi, likuidasi; (ii) pedoman yang jelas mengenai ekspropriasi, kompensasi kerugian dan transfer serta repatriasi keuntungan; (iii) kesetaraan untuk perlindungan investasi dalam hal prosedur hukum dan administratif. Apabila terjadi sengketa yang muncul antar investor dan salah satu pihak, persetujuan ini memberikan mekanisme penyelesaian yang spesifik disamping adanya kesepakatan semua pihak untuk terus berupaya menjamin perlakuan yang sama atau non-diskriminatif.
Adapun dampak negatif ACFTA terhadap Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri).
Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008.
Diproyeksikan 5 tahun kedepan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan
sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustriantahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina ( Bisnis Indonesia, 9/1/2010).
2. Dengan lebih murahnya harga barang – barang dari Cina dibandingkan dengan barang – barang dalam negeri, dikhawatirkan akan merebut pasar dalam negeri, karena tidak hanya konsumen yang akan beralih ke produk – produk cina tetapi para pedagangnya pun akan ikut beralih.
3. Apabila sektor – sektor Industri dalam negeri tidak bisa bersaing dengan produk – produk dari Cina, dikhawatirkan sektor – sektor industri itu akan mengalami penurunan produksi atau bahkan sampai gulung tikar dan bisa menyebabkan terjadinya pengangguran.
4. Karakterisasi perekonomian Indonesia akan semakin lemah dan tidak mandiri, karena segalanya akan bergantung kepada impor, dari hal itu jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor-sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka kekuatan ekonomi Indonesia tidak bisa diharapkan lagi
5. Neraca perdagangan Indonesia masih dalam kondisi deficit karena produk-produk dalam negeri belum mampu bersaing dengan produk luar negeri.
3. Langkah Pemerintah untuk Mengantisipasi Dampak ACFTA
Pemerintah secara umum telah menerapkan sepuluh kebijakan yaitu. (Dampak Penerapan ACFTA Bagi Perdagangan Indonesia)
1. Mengevaluasi dan merevisi semua Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sudah kadaluarsa dan menerapkannya secara wajib dengan terlebih dahulu menotifikasikan ke WTO;
2. Mengefektifkan fungsi Komite Anti Dumping dan menangani setiap kasus dugaan praktek dumping dan pemberian subsidi secara langsung oleh mitra dagang;
3. Mengefektifkan fungsi komite Pengaman Perdagangan Indonesia (KPPI) dalam menanggulangi lonjakan barang impor di pasar dalam negeri;
4. Meningkatkan lobi pemerintah untuk mengamankan ekspor Indonesia antara lain dari ancaman dumping dan subsidi oleh Negara mitra dagang;
5. Mengakselerasi penerapan dari instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2008 tentang Fokus Ekonomi 2008-2009;
6. Melakukan harmonisasi tariff bea masuk (BM) pos tariff untuk produk hulu dan hilir, sehingga diharapkan akan memacu investasi dan daya saing;
7. Mengefektifkan tugas dan fungsi aparat kepabeanan, termasuk mengkaji kemungkinan penerapan jalur merah bagi produk yang rawan penyelundupan produk illegal;
8. Membatasi/melarang ekspor bahan baku mentah untuk mencukupi kebutuhan energi bagi industri dalam negeri sehingga dapat mendorong tumbuhnya industri pengolahan ditingkat hulu sekaligus memperkuat daya saing industri local;
9. Mempertajam kebijakan tentang fasilitas PPh untuk Penanaman Modal di bidang usaha tertentu dan / atau di daerah tertentu;
10. Melanjutkan kebijakan Permendag (Peraturan Menteri Perdagangan) No. 56 Tahun 2008 yang mengatur pembatasan pintu masuk pelabuhan untuk lima produk tertentu yaitu alas kaki, barang elektronik, mainan anak-anak, garmen serta makanan dan minuman.
4. Implementasi Kebijakan Antidumping di Indonesia
Penegakan Hukum Terhadap Produk Impor yang Berindikasi Dumping Untuk melindungi produk industri dalam negeri terhadap produk dumping melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta Komisi Anti Dumping Indonesia (KADI) telah melakukan beberapa upaya penegakan hukum baik secara preventif maupun represif.
Upaya Prenventif adalah merupakan upaya pencegahan terhadap pelanggaran penjual barang atau produk impor didalam negeri. Sehingga merugikan industri domestik yang memproduksi produk sejenis. Upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:
1. Melakukan sosialisasi, pendidikan dan training kepada para pelaku ekonomi (eksportir dan importir) tentang regulasi dan kebijakan ekspor- impor, baik terkait dengan upaya peningkatan kualitas produk industri dalam negeri maupun dalam mengantisipasi terhadap produk impor yang berindikasi menimbulkan kerugian terhadap produk industri domestik, sehingga diharapkan produk industri dalam negeri akan mampu bersaing di pasar bebas, baik domestik maupun internasional.
2. Melakukan pembinaan terhadap para aparatur pada lembagalembaga yang terkait dengan penyelesaian masalah perdagangan dan dumping.
3. Melakukan pengkajian terhadap mekanisme perizinan impor yang berindikasi menimbulkan kerugian terhadap industri sejenis di dalam negeri.
Upaya Represif adalah pengenaan sanksi balasan berupa pengenaan bea masuk tambahan yang disebut dengan “bea masuk anti dumping (BMAD). Untuk menindak lanjuti ketentuan tersebut, selanjutnya Pemerintah mengeluarkanUndang-Undang Kepabeanan No.
10 Tahun 1995 yang telah diubah menjadi Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2006. Dalam pasal 18 dinyatakan bahwa Bea Masuk Antidumping dikenakan terhadap barang impor dalam hal:
a. Harga ekspor dari barang tersebut lebih rendah dari nilai normalnya, dan b. Impor barang tersebut:
1. Menyebabkan kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut;
2. Mengancam terjadinya kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut; atau
3. Menghalangi pengembangan industri barang sejenis di dalam negeri.
Kesimpulan
Semenjak diberlakukannya perjanjian ACFTA, ada yang memandang bahwa perjanjian tersebut sebagai sebuah kesempatan dan ada juga yang menolak dan memandangnya sebagai ancaman dengan berbagai alasan diantaranya berpotensi membangkrutkan banyak perusahaan dalam negeri dan pekerja local akan terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai imbas dari membanjirnya produk China yang terbukti memiliki harga yang lebih murah.
Daftar Pustaka
Heng Mung Kei, 2005. ASEAN – Cina Relations : Realities and Prospect, Pasir Panjang, Singapura: ISEAS Publications
_______. 2010. ASEAN – China Free Trade Area.
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/Umum/Regional/Win/ASEAN%20-%20China
%20FTA.pdf. (Online), diakses tanggan 22 November 2013
Putrahasan, Fikri. 2010. Indonesia dalam ACFTA : Dampak, Posisi Strategis, Langkah Antisipasi dan Kesempatan Emas Atau Kecerobohan ?. http://Makalah%20_%20Fikri
%20Putrahasan.htm (Online), diakses tanggal 22 November 2013 Adam, Latif. ACFTA dalam Perspektif Hubungan Dagang Indonesia-China.
Chow, Michael Ewing. 2006. Asean-China F.T.A : Trade or Tribute. Singapore: Singapore Year Book of International Law
Greenwald, Alyssa. 2006. The ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA): a Legal Response to China’s Economic Rise?. Duke Journal of Comparative and International Law Joelyartini, Siti Tri. 2007. Dampak implementasi Perjanjian ASEAN-China FTA (Free Trade
Area terhadap Ekspor-Impor Indonesia-China. Buletin Kerjasama Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan Republik Indonesia, Edisi 43/2007
Tiara, Adi. 2011. Implementasi ACFTA dalam Hukum Nasional Indonesia.
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/136402-T%2028173-Implementasi%20acfta-full
%20text.pdf. (Online), diakses tanggal 22 November 2013
______. 2012. Arah Kebijakan Ekonomi Nasional di Era ASEAN Free Trade Agreement 2015. http://tomatcoklat.wordpress.com/2012/11/28/arah-kebijakan-ekonomi-
nasional-di-era-asean-free-tarde-agreement-2015/. (Onine), diakses tanggal 22 November 2013