• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEREKONOMIAN INDONESIA

N/A
N/A
Hariani .H

Academic year: 2025

Membagikan "PEREKONOMIAN INDONESIA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Latar Belakang Masalah.

Masalah Pola pembangunan bangsa Indonesia saat ini memerlukan penanganan yang serius terutama bidang politik, ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan. Di tengah memburuknya situasi politik yang semakin tidak menentu, ekonomi pun ikut terpuruk sehingga mengakibatkan kesejahteraan masyarakat menurun. Bahkan bidang pendidikan lebih parah lagi. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia secara umum jauh dari yang diharapkan.

Pembangunan yang seharusnya dilakukan pembangunan yang terpusat pada manusia dan masyarakat Indonesia dengan sasaran utama pada peningkatan SDM sehingga mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan, mandiri dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas nasional dalam menghadapi dan mengatasi tantangan serta permasalahan yang muncul dari dalam dan luar negeri.

Tempat yang terbaik untuk membangun bangsa sendiri adalah masyarakat bukan menggantungkan diri kepada pemerintah. Tugas pemerintah adalah bagaimana membina masyarakat berperan aktif dalam pembangunan. Bentuk pembinaan tersebut dapat ditempuh dengan jalur pendidikan karena walau bagaimanapun pendidikan tetap merupakan modal dasar keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan. Namun, di tengah memburuknya kualitas sumber daya manusia di Indonesia, timbul pula beberapa faktor yang menghambat dalam proses pendidikan yaitu kemiskinan dan pengangguran.

Pengangguran nampaknya menjadi ancaman yang serius bagi pola pembangunan Indonesia.

Pengangguran ini dapat mengakibatkan terputusnya pendidikan dan kemiskinan yang semakin meningkat. Dengan semakin merebaknya budaya penganggur maka secara langsung akan dirasakan akibatnya dapa masalah sosial di masyarakat. Pengangguran adalah masalah sosial yang mendasar.

Apalagi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini telah membuat pengangguran semakin merebak.

(2)

Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, menjadikan negara ini negara dengan penduduk terpadat ke-4 di dunia. Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat di dunia, dengan lebih dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar New York.

Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berhubungan namun berbeda. Sejak kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu) menyebar ke seluruh. penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun bahasa daerah juga masih tetap banyak dipergunakan.

Dari segi kependudukan, Indonesia masih menghadapi beberapa masalah besar anatara lain:

Penyebaran penduduk tidak merata, sangat padat di Jawa sangat jarang di Kalimantan dan Irian.

Piramida penduduk masih sangat melebar, kelompok balita dan remaja masih sangat besar.

Angkatan kerja sangat besar, perkembangan lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penambahan angkatan kerja setiap tahun.

Distribusi Kegiatan Ekonomi masih belum merata, masih terkonsentrasi di Jakarta. dan kota-kota besar dipulau Jawa.

Pembangunan Infrastruktur masih tertinggal; belum mendapat perhatian serius Indeks Kesehatan masih rendah; Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih tinggi

Berdasarkan masalah di atas penulis mencoba untuk mengkajinya dengan judul Makalah:

"Kependudukan dan Ketenagakerjaan"

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakgn yang ada penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana laju pertumbuhan penduduk di Indonesisa?

2. Bagaimana karateristik kependudukan Indonesia?

3. Bagaimana pandangan umum tentang ketenagakerjaan di Indonesia?

4. Bagaimanakah pekerjaan dan tingkat upah yang berlaku dilndonesia?

5. Bagaimana campur tangan pemerintah tentang kependudukan dan tenagakerjaaan?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah.

1. Untuk mengetahui jumlah, kepadatan, dan laju pertumbuhan penduduk.

2. Untuk mengetahui karakteristik kependudukan di Indonesia.

3. Untuk mengetahui ketenagakerjaan di Indonesia.

4. Untuk mengetahui angkatan kerja dantingkat upah di Indonesia.

5. Untuk mengetahui kebijaksanaan kependudukann dan ketenagakerjaan.

(4)

BAB II KAJIAN TEORITIS

2.1 Penduduk di Indonesia

Dalam wikipedia dijelaskan bahwa penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Angka Jumlah penduduk

Indonesia dapat dijumpai pada hasil Sensus Penduduk terbitan Biro Pusat Statistik

2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk

Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025 (Tabel 2.1). Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990- 2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun. kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan 0,92 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian, namun penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada penurunan karena kematian. Crude Birth Rate (CBR) turun dari sekitar 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi, sedangkan Crude Death Rate (CDR) tetap sebesar 7 per 1000 penduduk dalam kurun waktu yang sama.

Salah satu ciri penduduk Indonesia adalah persebaran antar pulau dan provinsi yang tidak merata.

Sejak tahun 1930, sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, padahal luas pulau itu kurang dari tujuh persen dari luas total wilayah daratan Indonesia. Namun secara perlahan persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 59,1 persen pada tahun 2000 menjadi 55,4 persen pada tahun 2025. Sebaliknya persentase penduduk yang tinggal di pulau pulau lain meningkat seperti, Pulau Sumatera naik dari 20,7 persen menjadi 22,7

(5)

persen, Kalimantan naik dari 5,5 persen menjadi 6.5 persen pada periode yang sama. Selain pertumbuhan alami di pulau-pulau tersebut memang lebih tinggi dari pertumbuhan alami di Jawa, faktor arus perpindahan yang mulai menyebar ke pulau-pulau tersebut juga menentukan distribusi penduduk.

Jumlah penduduk di setiap provinsi sangat beragam dan bertambah dengan laju pertumbuhan yang sangat beragam pula. Bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan periode 1990-2000, maka terlihat laju pertumbuhan penduduk di beberapa provinsi ada yang naik pesat dan ada pula yang turun dengan tajam (data tidak ditampilkan). Sebagai contoh, provinsi- provinsi yang laju pertumbuhan penduduknya turun tajam minimal sebesar 0,50 persen dibandingkan periode sebelumnya (1990-2000) adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Papua. Sementara, provinsi yang laju pertumbuhannya naik pesat minimal sebesar 0,40 persen dibandingkan periode sebelumnya adalah Lampung, Kep.

Bangka Belitung, DKI Jakarta dan Maluku Utara.

PENGERTIAN PENDUDUK DAN TENAGA KERJA

1. Pengertian Penduduk

Dalam arti luas, penduduk atau populasi berarti sejumlah makhluk sejenis yang mendiami atau menduduki tempat tertentu. Bahkan populasi dapat pula dikenakan pada benda-benda sejenis yang terdapat pada suatu tempat. Dalam kaitannya dengan manusia, maka pengertian penduduk adalah manusia yang mendiami dunia atau bagian-bagiannya.

a. Teori penduduk modern

Pandangan-pandangan tentang Teori penduduk modern, diantaranya:

(6)

Pandangan Merkantilisme, jumlah penduduk yang banyak sebagai elemen yang penting dalam kekuatan negara yaiti merupakan faktor yang penting di dalam kekuatan negara dan memegang peranan dalam meningkatkan pengahasilan dan kekayaan negara.

Pandangan Kaum Fisiokrat, kesempatan untuk meningkatkan jumlah produksi pertanian dalam rangka menunjang pertambahan penduduk.

Pandangan Cantilion (Merkantilisme), tanah merupakan faktor utama yang dapat menentukan tinggi rendahnya kesejahteraan, selain itu, dinyatakan pula bahwa jumlah penduduk akan terbatas karena jumlahnya akan dibatasi oleh jumlah makanan yang dapat diproduksi oleh tanah.

Menurut Quesnay (Fisiokrat), suatu negara harus mempunyai jumlah penduduk yang cukup, namun dengan syarat dapat mencapai taraf hidup yang layak.

Pertumbunhan penduduk (populatin growth) di suatu negara adalah peristiwa berubahnya jumlah penduduk yang disebabkan oleh adanya pertambahan alami dengan migrasi neto. Pertambahan alami (natural increase) adalah pertambahan penduduk yang diperoleh dari selisih antara jumlah kelahiran dan jumlah kematian. Migrasi neto (nett migration) adalah pertambahan penduduk yang diperoleh dari selisih antara jumlah imigran dan jumlah emigran.

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya kependudukan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, antara lain:

Kemajuan IPTEK.

(7)

Dorongan atau hasrat naluri manusia yang selalu memperoleh kondisi yang lebih baik dari sebelumnya di dalam kehidupannya baik material maupun intelektual.

Keterbatasan kemampuan dukungan alam dan SDA serta dukungan lainnya yang diperlukan.

2. Pengertian Tenaga kerja

Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.

Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Oleh karenanya, setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan lapangan usaha, dengan harapan penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan.

Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun 64 tahun. Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja.

a. Klasifikasi Tenaga Kerja

(8)

Berdasarkan penduduknya, dibagi menjadi dua, yaitu:

Tenaga kerja

Tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja. Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja, mereka yang dikelompokkan sebagai tenaga kerja yaitu mereka yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun.

Bukan Buruh

Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada permintaan bekerja. Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk di luar usia, yaitu mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-anak.

Berdasarkan batas kerja, dibagi menjadi dua, yaitu:

Tenaga kerja

Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.

Bukan tenaga kerja

(9)

Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kelompok ini adalah:

1. Anak sekolah dan mahasiswa

2. Para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan

3. Para pengangguran sukarela

Berdasarkan kualitasnya dibagi menjadi tiga, yaitu:

Tenaga kerja terdidik

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang mempunyai keahlian atau keterampilan dalam bidang tertentu melalui sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Misalnya: pengacara, dokter, guru, dll.

Tenaga kerja terampil

Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerjayang memiliki keahlian dalam bidang tertentudengan melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini dibutuhkan latihan secara berulang-ulang sehingga mampu menguasai pekerjaan tersebut. Contohnya: apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lain- lain.

(10)

Tenaga kerja yang tidak berpendidikan

Tenaga kerja tidak terdidik adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja.

Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga, dan sebagainya.

b. Masalah Ketenagakerjaan

Berikut ini beberapa masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Rendahnya kualitas tenaga kerja

Kualitas tenaga kerja dalam suatu negara dapat ditentukan denganmelihat tingkat pendidikan negara tersebut. Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia, tingkat pendidikannya masih rendah.

Hal ini menyebabkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi rendah. Minimnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadaprendahnya kualitas hasil produksi barang dan jasa.

Jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja

Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang tidak diimbangi oleh perluasan lapangan kerja akan membawa beban tersendiri bagi perekonomian. Angkatan kerja yang tidak tertampung dalam lapangan kerja akan menyebabkan pengangguran. Padahal harapan pemerintah, semakin banyaknya jumlah angkatan kerja bisa menjadi pendorong pembangunan ekonomi.

Persebaran tenaga kerja yang tidak merata

(11)

Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia berada di Pulau Jawa. Sementara di daerah lain masih kekurangan tenaga kerja, terutama untuk sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Dengan demikian di Pulau Jawa banyak terjadi pengangguran, sementara di daerah lain masih banyak sumber daya alam yang belum dikelola secara maksimal.

Pengangguran

Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia banyak mengakibatkan industri di Indonesia mengalami gulung tikar. Akibatnya, banyak pula tenaga kerja yang berhenti bekerja. Selain itu, banyaknya perusahaan yang gulung tikar mengakibatkan semakin sempitnya lapangan kerja yang ada. Di sisi lain jumlah angkatan kerja terus meningkat. Dengan demikian pengangguran akan semakin banyak

c. Konsep dan Definisi

Tenaga kerja dipilah pula kedalam dua kelompok yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Yang termasuk angkatan kerja ialah adalah penduduk berumur 15 tahun keatas yang selama seminggu sebelum pencacahan bekerja atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja dan mereka yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mencari kerja

Angkatan kerja itu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu pekerja dan pengangur. Yang dimaksud dengan pekerja adalah adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah (www.tempointeraktif.com). Pengangguran merupakan usaha mendapatkan pekerjaan yang tidak terbatas dalam jangka waktu seminggu yang lalu saja, tetapi bisa dilakukan beberapa waktu sebelumnya asalkan masih dalam status menunggu jawaban

(12)

lamaran, dalam kurun waktu seminggu sebelum pencacahan. Penganguran semacam ini oleh BPS dinyatakan sebagai pengangguran terbuka.

Berikut jenis & jenis pengangguran lainnya:

Pengangguran Friksional/Frictional Unemployment

Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan.

Pengangguran Struktural/Structural Unemployment

Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.

Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment

Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.

Pengangguran Siklikal

(13)

Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.

B. PERAN PENDUDUK DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Kapasitas yang rendah dari Negara sedang berkembang ntuk meningkatkan output totalnya harus diimbangi dengan penurunan tngkat penduduk, sehingga penghasilan rill per kapita akan dapat meningkat. Dengan kapasitas yang rendah untuk menaikkan output totalnya dan tanpa diimbangi dengan turunya tingkat perkembangan pendududk, maka akan terjadi penundaan pembangunan ekonomi.

Ada 4 aspek penduduk yang perlu diperhatikan di negra-negara sedang berkembang, yaitu:

Adanya tingkat perkembangan penduduk yang relatif tinggi

Adanya struktur umur yang tidak favorable

Tidak adanya distribusi penduduk yang seimbang/merata

Tidak adanya tenaga kerja yang terdidik dan terlatih

3. Struktur Umur Yang Tidak Favorable

(14)

Negara-negara yang sedang berkembang memiliki tingkat kelahiran yang tinggi dan tingkat kematian yang rendah seperti sudah berulang kali kita bicarakan di depan. Hal ini mengakibatkan adanya segolongan besar penduduk usia muda lebih besar proporsinya dari pada golongan penduduk usia dewasa Kondisi populasi ini disebut dengan populasi “ekspansif”.

Proporsi yang besar dari penduduk usia muda ini tidak menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, Karen:

Penduduk golongan muda usia, cenderung untuk memperkecil angka penghasilan per kapita dan mereka semua merupakan konsumen dan bukun produsen dalam perekonomian tersebut

Adanya golongan penduduk usia muda yang besar jumlahnya di suatu Negara akan mengakibatkan lebih banyak alokasi factor-faktor produksi ke arah “investasi-investasi sosial dan bukan ke

“investasi-investasi kapital”. Oleh karena itu paling tidak ia akan menunda perkembangan ekonomi.

4. Distribusi Penduduk Yang Tidak Seimbang

Tingkat urbanisasi yang tinggi pada umumnya telah dihubungkan dengan daerah-daerah yang secara ekonomis telah maju dan bersifat industri. Urbanisasi ini mempunyai pengaruh dan akibat- akibat yang berbeda di Negara-negara yang sedang berkembang

Di Negara-negara maju hanya sebagian kecil penduduk yang bekerja di sector pertanian.

Urbanisasi biasanya terjadi karena adanya tingkat upah yang lebih menarik di sector industry (di kota) dari pada tingkat upah di desa (sector pertanian)

(15)

5. Kualitas Tenaga Kerja Yang Rendah

Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan penghalang pembangunan ekonomi suatu Negara.

Ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi, terutama industry, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.

Dengan nama lain pendidikan merupakan factor penting bagi berhasilnya pembangunan ekonomi.

Bahkan menurut schumaker pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibanding factor-faktor produksi lain.

C. LEDAKAN PENDUDUK

Dari banyak penelitian kita mengetahui bahwa factor utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian, tingkat kelahiran dan tingkat perpindahan penduduk (migrasi).

1. Tingkat Kematian

Ada empat factor yang menyumbang terhadap penurunan angka kematian pada umumnya:

Adanya kenaikan standar hidup sebagai akibat kemajuan teknologi dan meningkatnya produktivitas tenaga kerja serta tercapainya perdamaian dunia yag cukup lama..

Adanya perbaiakan pemeliharaan kesehatan umum (kesehatan masyarakat), maupun kesehatn individu.

(16)

Adanya kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran serta diperkenalkannya lembaga-lembaga kesehatan umum yang modern.

Meningkatnya pengahsilan rill per kapita, sehingga orang mampu membiayai hidupnya dan bebas.

Dari kelaparan dan penyakit, dan selanjutnya dapat hidup sehat.

2. Tingkat Kelahiran

Di Negara-negara industry pertumbuhan pendududuk berlangsung terus di samping adanya penurunan tingkat kelahiran. Tingkat kelahiran lebih dihubungkan dengan perkembangan ekonomi melalui pola- pola kebudayaan seperti: umur perkawinan, status wanitanya, kedudukan antara rural dan urban serta sifat-sifat dari dari system family yang ada.

3. Migrasi

Migrasi mempunyai peranan juga dalam menentukan tingkat pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat diperhitungkan hanya dari tingkat kelahiran dan tingkat kematian saja. Penduduk di amerika latin dan amerika utara meningkat karena alas an migrasi.

E. PEMANFAATAN SUMBER DAYA MANUSIA

1. Beberapa Konsep Ketenagakerjaan

(17)

Pembangunan ekonomi banyak dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dengan factor-faktor produksi yang lain dan juga sifat-sifat manusia itu sendiri. Yang kita maksud dengan “human resourses” disini ialah penduduk sebagai suatu keseluruhan. Dari segi penduduk sebagai factor produksi, maka tidak semua penduduk dapat bertindak sebagai factor produksi. Hanya penduduk yang berupa tenaga kerja (human power) yang dapat dianggap sebagi factor produksi. Tenaga kerja adalh penduduk pada usia kerja yaitu: antara 15 sampai 64 tahun. Penduduk dalam usia kerja ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

2. Jenis Pengangguran

Dalam pembangunan ekonomi ada tenaga-tenaga manusia yang disebut menganggur adalah meraka yang ada dalam umur angkatan kerja dan sedang mencari pekerjaan tidak digolongkan dalam angkatan kerja dan juga bukan penganggur. Jumlah tenaga kerja yang menganggur, cukup banyak di Negara-negara yang dapat berkembang pengangguran dapat digolongkan ke dalam 3 jenis yaitu:

Pengangguran yang terlihat.

Visible underemployment akan timbul apabila jumlah tenaga kerja yang sungguh-sungguh digunakan lebih sedikit daripada waktu kerja yang disediakan untuk bekerj egasnya, ini merupakan suatu penggangguran. Meskipun pengangguran itu terdapat di sector-sektor kerajinan dan industry-industri sedang mampu besar, namun cukup penting bagi Negara-negara sedang berkembang karena adanya sifat-sifat khas kegiatan sector pertanian.

Pengangguran tak kentara

(18)

Pengangguran tak-kentara terjadi apabila para pekerja telah menggunakan waktu kerjanya secara penuh dalam suatu pekerjaan dapat ditarik ke sector-sektor atau pekerjaanlain tanpa emgurangi output di sector yang ditinggalkan. Sebagai misal kalau pada saat panen atau tanam padi, tetapi caranya lebih diorganisir, maka pengurangan beberapa tenaga kerja pada saat giat-giatnya pekerjaan panen atau tanam tersenut tidak akan mengurangi atau menurunkan output.

Pengangguran potensial

Pengangguran potensial merupakan suatu perluasan dari “disguised unemployment” dalam arti bahwa para pekerja dalam suatu sector dapat ditarik dalam sector tersebut tanpa mengurangi output, tetapi harus dibarengi dengan perubahan-perubahan fundamental dalam metode produksi yang memerlukan pembentukan capital yang berarti.

F. KUALITAS TENAGA KERJA

Sejauh ini kita memperhatikan peranan tenaga kerja sebagai salah satu fakor produksi yang akan mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional dari segi kualitas atau jumlah saja.

Sementara itu kita beranggapan balıwa kalau jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam usaha produksi meningkat, maka jumlah produksi yang bersangkutan juga meningkat. Dengan kata lain kalau tidak ada peningkatan jumlah tenaga kerja maka jumlah produksi akan tetap. Pernyataan yang demikian ini, tidak dapat seluruhnya dianggap benar karena walaupun jumlah tenaga kerja itu tidak berubah, tetapi bila kualitas dari tenaga kerja menjadi lebih baik, maka dapat terjadi bahwa tingkat produksi akan meningkat pula.

KESIMPULAN

(19)

Telah kita ketahui bahwa tujuan pembangunan ekonomi adalah peningkatan standar hidup penduduk Negara yang bersangkutan, yang tidak bias diukur dengan kenaikan pendapatan rill per kapita. Pendapatan rill per kapita adalah sama dengan pendapatan nasional rill atau output secara keseluruhan yang dihasilkan selama satu tahun dibagi dengan jumlah penduduk seluruhnya.

Jadi standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali output total meningkat dengan baik cepat dari pada pertumbuhan jumlah penduduk. Untuk mempengaruhi perkembangan output total diperlukan penambahan investasi yang cukup besar agar supaya dapat menyerap pertambahan penduduk, yang berarti naiknya pendapatan rill per kapita.

Pengertian Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Kependudukan merujuk pada jumlah dan karakteristik penduduk suatu wilayah, negara, atau daerah pada suatu waktu tertentu. Ini mencakup berbagai aspek, termasuk jumlah total penduduk, komposisi usia, jenis kelamin, tingkat kelahiran, tingkat kematian, migrasi, urbanisasi, dan distribusi geografis penduduk. Pengertian kependudukan juga mencakup studi tentang bagaimana faktor-faktor demografis ini mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

Ketenagakerjaan merujuk pada jumlah dan karakteristik individu-individu yang aktif dalam pasar tenaga kerja, baik yang sedang bekerja maupun yang mencari pekerjaan. Ini mencakup semua orang yang bekerja, mencari pekerjaan, atau yang secara potensial dapat bekerja dalam suatu populasi atau wilayah tertentu. Ketenagakerjaan adalah elemen penting dalam ekonomi karena berhubungan erat dengan produktivitas, penghasilan, dan pertumbuhan ekonomi.

Berikut adalah beberapa elemen penting dalam pengertian ketenagakerjaan:

(20)

1. Tenaga Kerja Aktif: Ini adalah bagian dari populasi yang saat ini terlibat dalam kegiatan ekonomi, seperti bekerja untuk penghasilan atau mencari pekerjaan aktif. Orang-orang ini dapat berstatus sebagai pekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu, pekerja lepas (freelancer), atau buruh kasar, tergantung pada jenis pekerjaan dan status mereka.

2. Angkatan Kerja: Angkatan kerja adalah subkelompok populasi yang termasuk dalam tenaga kerja aktif, yaitu mereka yang bekerja atau mencari pekerjaan. Ini mencakup pekerja yang bekerja secara penuh waktu atau paruh waktu dan pencari kerja yang aktif mencari pekerjaan.

3. Tingkat Partisipasi: Tingkat partisipasi dalam angkatan kerja mengukur sejauh mana anggota populasi berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Ini biasanya dinyatakan sebagai persentase dari populasi yang berusia kerja.

4. Tingkat Pengangguran: Tingkat pengangguran mengukur persentase dari angkatan kerja yang mencari pekerjaan tetapi tidak bekerja. Ini adalah indikator penting untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja dan tingkat ketidakpastian ekonomi.

5. Jenis Pekerjaan: Ketenagakerjaan juga melibatkan berbagai jenis pekerjaan, termasuk pekerjaan fisik, pekerjaan kantor, pekerjaan profesional, dan banyak lagi. Jenis pekerjaan ini memiliki implikasi pada tingkat pendapatan, keamanan pekerjaan, dan kualitas hidup pekerja.

6. Upah dan Penghasilan: Ketenagakerjaan sangat terkait dengan tingkat upah dan penghasilan. Upah yang adil dan penghasilan yang layak penting untuk mendorong partisipasi dalam angkatan kerja dan meningkatkan kualitas hidup.

7. Kualifikasi dan Pendidikan: Tingkat pendidikan dan kualifikasi pekerja dapat memengaruhi akses mereka ke pekerjaan tertentu dan potensi pendapatan. Tingkat

(21)

pendidikan yang lebih tinggi seringkali berhubungan dengan pekerjaan yang lebih tinggi bayar dan lebih berkualitas.

Ketenagakerjaan adalah subjek penting dalam analisis ekonomi dan perencanaan kebijakan karena memiliki dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah, bisnis, dan organisasi lainnya sering memonitor dan mengukur data ketenagakerjaan untuk membuat keputusan ekonomi dan sosial yang informasional.

Berangkat dari dua pengertian di atas, antara kependudukan dan ketenagakerjaan, maka terdapat keterkaitan antara keduanya, keterkaitan tersebut merupakan aspek kunci dalam ilmu ekonomi, seperti struktur usia penduduk, urbanisasi, pendidikan, migrasi, dan distribusi pendapatan berperan besar dalam memengaruhi pasar tenaga kerja suatu negara atau wilayah. Misalnya, populasi yang memiliki jumlah besar individu dalam usia kerja memiliki potensi tenaga kerja yang besar, tetapi tingkat pendidikan dan kualifikasi pekerja juga memainkan peran penting dalam jenis pekerjaan yang tersedia dan penghasilan yang diperoleh.

Selain itu, urbanisasi memengaruhi peluang pekerjaan, sementara migrasi dapat memengaruhi ketidakseimbangan pasar tenaga kerja. Faktor-faktor ini juga berdampak pada distribusi pendapatan dan ketidaksetaraan ekonomi dalam suatu populasi. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang hubungan antara kependudukan dan ketenagakerjaan sangat penting dalam perencanaan ekonomi, pengambilan kebijakan, dan upaya untuk menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks dan berubah-ubah.

Pada bulan Februari 2023, jumlah penduduk usia kerja mencapai 211,59 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 3,05 juta orang jika dibandingkan dengan bulan Februari 2022. Mayoritas dari mereka termasuk dalam angkatan kerja, yang berjumlah 146,62 juta orang, sedangkan sisanya tidak termasuk dalam angkatan kerja, sebanyak 64,97 juta orang.

Komposisi angkatan kerja pada bulan Februari 2023 terdiri dari 138,63 juta orang yang

(22)

sedang bekerja dan 7,99 juta orang yang menganggur. Jika dibandingkan dengan bulan Februari 2022, jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak  2,61 juta orang, dengan penambahan 3,02 juta orang yang bekerja dan pengurangan 0,41 juta orang yang menganggur. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan Februari 2022. TPAK pada bulan Februari 2023 mencapai 69,30 persen, naik 0,24 persen poin dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. TPAK mengindikasikan persentase besar penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi dalam suatu negara atau wilayah. Dilihat dari jenis kelamin, pada bulan Februari 2023, TPAK laki-laki mencapai 83,98 persen, yang lebih tinggi daripada TPAK perempuan yang mencapai 54,42 persen. Dibandingkan dengan bulan Februari 2022, TPAK laki-laki dan perempuan mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,33 persen poin dan 0,15 persen poin.

2. Hubungan antara Kependudukan dan Ketenagakerjaan di Indonesia

Hubungan antara kependudukan dan ketenagakerjaan di Indonesia adalah hal yang tidak bisa diabaikan dalam konteks pembangunan ekonomi dan sosial negara. Indonesia yang merupakan negara dengan salah satu populasi terbesar di dunia, dinamika kependudukan Indonesia memiliki dampak signifikan pada pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Perubahan dalam jumlah, struktur usia, tingkat pendidikan, dan migrasi penduduk memiliki implikasi yang mendalam terhadap tingkat pengangguran, distribusi pendapatan, serta kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan yang diterapkan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang hubungan ini menjadi kunci dalam merancang strategi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif bagi Indonesia.

2.1 Karakteristik Penduduk Bekerja

Bekerja merujuk pada melakukan pekerjaan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan setidaknya selama satu jam dalam seminggu terakhir. Untuk memahami

(23)

lebih lanjut tentang populasi yang bekerja, perlu memeriksa berbagai karakteristiknya.

Karakteristik penduduk yang bekerja dapat dianalisis berdasarkan lapangan pekerjaan utama, status pekerjaan utama, tingkat pendidikan tertinggi yang telah diselesaikan, jumlah jam kerja selama seminggu terakhir, dan aktivitas komuter. Selain itu, informasi tambahan mengenai tren dan pola kerja dalam masyarakat dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam.

2.1.1 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Menurut hasil Survei Ketenagakerjaan Nasional (Sakernas) Februari 2023, komposisi penduduk yang bekerja dalam lapangan pekerjaan utama mencerminkan struktur tenaga kerja di pasar kerja Indonesia. Terdapat tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja terbanyak, yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan persentase sebesar 29,36%, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor sebesar 18,93%, serta Industri Pengolahan sebesar 13,58%.

Dibandingkan dengan Februari 2022, terdapat peningkatan jumlah pekerja dalam semua lapangan pekerjaan, dengan pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum (sebanyak 0,51 juta orang), Aktivitas Jasa Lainnya (sebanyak 0,51 juta orang), serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (sebanyak 10,44 juta orang).

2.1.2 Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

Pada bulan Februari 2023, mayoritas penduduk yang bekerja memiliki status sebagai buruh, karyawan, atau pegawai, dengan persentase sebesar 36,34%, sementara jumlah yang paling sedikit memiliki status sebagai berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar, dengan hanya 3,54%. Dibandingkan dengan bulan Februari 2022, terdapat peningkatan dalam persentase individu yang berusaha sendiri, yang memiliki pekerja berbayar tetap, dan

(24)

pekerja bebas di sektor pertanian, masing-masing naik sebesar 0,83%, 0,23%, dan 0,07%.

Namun, untuk jenis pekerjaan lainnya, terjadi penurunan persentase terbesar pada kategori buruh, karyawan, atau pegawai, dengan penurunan sebesar 0,38%.

Berdasarkan status pekerjaan utama mereka, penduduk yang bekerja dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kegiatan formal dan informal. Kegiatan formal mencakup mereka yang berstatus sebagai berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar dan juga buruh, karyawan, atau pegawai. Sementara sisanya digolongkan sebagai kegiatan informal, termasuk yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga yang tidak dibayar. Pada bulan Februari 2023, jumlah penduduk yang bekerja dalam kegiatan informal mencapai 83,34 juta orang (60,12%), sementara yang bekerja dalam kegiatan formal sebanyak 55,29 juta orang (39,88%).

3. Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk Dan Tingkat Pengangguran Di Berbagai Wilayah Indonesia

3.1 Situasi Tenaga Kerja di Indonesia

Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada bulan Februari 2023, terdapat 146,62 juta orang dalam angkatan kerja, mengalami peningkatan sebesar 2,61 juta orang dibandingkan dengan Februari 2022. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat sebesar 0,24 persen poin. Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 138,63 juta orang, meningkat sebanyak 3,02 juta orang dibandingkan dengan Februari 2022. Lapangan pekerjaan yang paling signifikan mengalami peningkatan adalah Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum serta Aktivitas Jasa Lainnya, masing-masing dengan penambahan sebesar 0,51 juta orang.

Sebanyak 83,34 juta orang (60,12 persen) bekerja dalam sektor informal, mengalami peningkatan sebesar 0,15 persen poin dibandingkan dengan Februari 2022. Persentase

(25)

individu yang bekerja sebagai setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,95 persen poin dan 0,33 persen poin, berturut-turut, jika dibandingkan dengan Februari 2022. Jumlah pekerja komuter pada bulan Februari 2023 mencapai 7,18 juta orang, mengalami peningkatan sebesar 0,11 juta orang dibandingkan dengan Februari 2022.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2023 adalah sebesar 5,45 persen, mengalami penurunan sebesar 0,38 persen poin dibandingkan dengan Februari 2022. Ada 3,60 juta orang (1,70 persen) penduduk usia kerja yang terdampak oleh COVID-19. Dari jumlah tersebut, terdapat pengangguran karena COVID-19 sebanyak 0,20 juta orang, Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 sebanyak 0,26 juta orang, sementara tidak bekerja karena COVID-19 sebanyak 0,07 juta orang, dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 sebanyak 3,07 juta orang.

3.3. Angkatan Kerja Indonesia

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2004 dan Februari 2005 Jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang, bertambah 1,8 juta orang dibandingkan bulan Agustus 2004 yang besarnya 104,0 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja dalam 6 bulan yang sama hanya bertambah 1,2 juta orang, dari 93,7 juta menjadi 94,9 juta orang, yang berarti menambah jumlah penganggur bare sebesar 600 ribu orang.

Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada bulan Februari 2005 mencapai 10,3 persen, lebih tinggi sedikit dibanding TPT pada bulan Agustus 2004 yang besarnya 9,9 persen. Jumlah penduduk yang bekerja tidak penuh (underemployment) pada bulan Februari 2005 mencapai 29,6 juta orang atau 31,2 persen dari seluruh penduduk yang bekerja, angka ini lebih tinggi dari keadaan Agustus 2004 sebesar 29,8 persen. Jumlah pekerja informal pada Februari 2005 mencapai 60,6 juta orang atau 63,9 persen dari seluruh

(26)

penduduk yang bekerja, angka ini lebih tinggi dari keadaan Agustus 2004 sebesar 63,2 persen.

3.4 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Pada kondisi Pebruari 2005, di Indonesia terdapat 155,5 juta penduduk usia kerja, sekitar 60,61 persen dari mereka berada di Pulau Jawa. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja. untuk setiap 100 angkatan kerja.

TPAK Indonesia pada Pebruari 2005 sebesar 68,02 persen, berarti telah mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen dibandingkan dengan kondisi Agustus 2004 yang besarnya 67,54 persen. Kenaikan TPAK ini antara lain disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi nasional yang belum stabil, sehingga memberikan pengaruh terhadap faktor-faktor produksi di Indonesia. Secara langsung naik turunnya faktor produksi ini akan memberikan dampak terhadap tinggi rendahnya faktor permintaan dan penawaran tenaga kerja.

TPAK antar propinsi mempunyai variasi yang cukup besar. Pada Februari 2005, provinsi Maluku mempunyai TPAK terendah 59,22 persen dan tertinggi Nusa Tenggara Timur 79,45 persen. Sejalan dengan angka tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) antar provinsi juga bervariasi cukup besar, dengan provinsi DKI dan Jawa Barat memiliki persentase tertinggi sebesar 14,73 persen dan terendah di provinsi Bali sebesar 4,03 persen.

Selama bulan Agustus 2004 sampai dengan Februari 2005 terdapat beberapa provinsi yang mengalami peningkatan TPAK yang sangat besar, antara lain terdapat tiga provinsi masing- masing sebagai berikut: NAD (Nanggru Aceh Darussalam) 6,18 persen, Kalimantan Timur

(27)

3,72 persen, dan Sumatera Utara 3,38 persen. Khusus provinsi NAD, peningkatan TPAK yang besar diikuti oleh TPT yang besar pula, yaitu dengan peningkatan TPT sebesar 3,15 persen. Sementara itu propinsi lain yang mengalami peningkatan TPT yang cukup nyata adalah Sulawesi Utara 3,49 persen, Jambi 2,55 persen, Sulawesi Tengah 1,78 persen, dan NTB (Nusa Tenggara Barat) 1,45 persen. Menurut golongan umur terlihat bahwa TPAK terendah pada kelompok umur 15-19 tahun, yaitu 38,79 dan meningkat seiring bertambahnya umur. Sedangkan TPAK tertinggi pada kelompok umur 45-59 tahun sebesar 80,88. Selanjutnya pada kelompok umur yang lebih tua, TPAK akan berangsur-angsur mengalami sedikit penurunan. Pada kelompok lansia (umur 60+). TPAK turun tajam menjadi hampir 52,20 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dari 100 orang lansia, yang aktif dalam kegiatan ekonomi sekitar 50 orang.

3.5 Pekerjaan dan Tingkat Upah

Sebaran pekerjaan angkatan kerja dapat ditinjau dari tiga aspek yaitu

• Lapangan pekerjaan Status pekerjaan

• Jenis pekerjaan

BAB IV PENUTUP

Dari penjabaran artikel diatas dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, menjadikan negara ini negara dengan penduduk terpadat ke-4 di dunia. Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat di dunia, dengan lebih dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar New York.

(28)

Pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000- 2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 19902000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan 0,92 persen per tahun

Struktur umur penduduk Indonesia masih tergolong muda, walaupun dari hasil sensus dan survei-survei yang lalu proporsi penduduk muda tersebut menunjukkan kecenderungan makin menurun. Susunan umur penduduk hasil proyeksi yang disajikan pada label 2.4.

sampai dengan label 2.6 juga menunjukkan pola yang sama. Asumsi tentang penurunan tingkat kelahiran dan kematian Indonesia seperti diuraikan di atas sangat mempengaruhi susunan umur penduduk. Proporsi anak-anak berumur 0-14 tahun turun dari 30,7 persen pada tahun 2000 menjadi 22,8 persen pada tahun 2025 (Tabel 2.5).

Dalam kurun yang sama mereka yang dalam usia kerja, 15-64 tahun meningkat dari 64,6 persen menjadi 68,7 persen (label 3.5) dan mereka yang berusia 65 tahun ke atas naik dari 4,7 persen menjadi 8,5 persen (Tabel 3.6). Perubahan susunan ini mengakibatkan beban ketergantungan (dependency ratio) turun dari 54,70 persen pada tahun 2000 menjadi 45,50 persen pada tahun 2025. Menurunnya rasio beban ketergantungan menunjukkan berkurangnya beban ekonomi bagi penduduk umur produktif (usia kerja) yang menanggung penduduk pada umur tidak produktif.

DAFTAR PUSTAKA

Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D, Edisi ke II Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2008

Pengantar Ilmu Kependudukan, Edisi Revisi, Said

Rusli, LP3ES, Jakarta, 1998.

(29)

Dasar-dasar Demografi, Lembaga Demografi, FE UI Jakarta, 1999

Ekonomi Manajemen Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan, Sonny Sumarsono, Graha Ilmu Jogjakarta, 2003

Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, Edisi Ke

II, Payaman J. Simanjuntak, Lembaga Penerbit FEUI

Jakarta, 2001

Referensi

Dokumen terkait

Dengan tidak tersedianya kesempatan kerja yang mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja tersebut, jumlah tenaga kerja yang bekerja dan pengangguran mengalami peningkatan

Berbeda dengan periode sebelumnya yang merupakan sub sampel perkotaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), sampel rumah tangga STK tahun 2015 merupakan sub sampel dari

Pengangguran dapat diartikan sebagai perbedaan antara angkatan kerja dan penggunaan tenaga kerja yang sebenarnya. Angkatan kerja yaitu Jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam

Persentase pelaksanaan pencacahan lapangan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang lengkap, akurat, dan tepat waktu 100 % Penyediaan dan Pengembangan

Pada kasus Pencacahan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), pendidikanlah merupakan salah satu yang dipertanyatakan lebih dahulu guna memperoleh keterangan mengenai

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik mencatat selama periode Agustus 2010 sampai dengan Agustus 2015 terjadi

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2015 yang diakukan oleh BPS Provinsi Jawa Timur, jumlah Angkatan Kerja di Jawa Timur mencapai sebanyak

Laporan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2022 mencakup tingkat pengangguran, jumlah tenaga kerja, dan kondisi pasar kerja