Pada uraian pendekatan dan metodologi, merupakan pembahasan dalam usulan teknis ini yang menjelaskan tentang pandangan konsultan tentang pendekatan dan metode apa yang akan digunakan, sehingga dapat menyelesaikan kegiatan tersebut yang berkualitas sesuai dengan apa yang diinginkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Untuk lebih jelasnya, sebagaimana pada pembahasan berikut:
A. Pendekatan Umum
Perencanaan adalah keputusan untuk waktu yang akan datang, apa yang akan dilakukan, bilamana akan dilakukan dan siapa yang akan melakukan. Sekalipun waktu yang akan datang jarang dapat diperkirakan secara tepat, terutama faktor-faktor di luar jangkauannya, tetapi dengan proses intelektual perencanaan diharapkan akan dapat mendekati kebenaran. Hal ini berdasarkan atas pertimbangan bahwa keputusan harus berdasarkan atas maksud/tujuan organisasi, pengetahuan dan perkiraan yang diperhitungkan.
Jelasnya perencanaan dimaksudkan untuk memperoleh sesuatu dalam waktu yang akan datang, dan usaha/cara yang efektif untuk pencapaiannya. Oleh karena itu perencanaan adalah suatu keputusan apa yang akan diharapkan dalam waktu yang akan datang.
Perencanaan bukan suatu tindakan tetapi suatu proses, yaitu suatu proses yang tidak mempunyai penyelesaian atau titik akhir. Proses ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemecahan. Selama perencanaan masih dalam proses tidak dibatasi berapa jumlah pembahasan sebelum diambil keputusan, sebab mungkin selalu diadakan perubahan baik sistemnya maupun materinya. Hal ini dapat dimengerti karena sedikit kemungkinan adanya suatu perkiraan yang tepat, sebab keadaan waktu yang datang itu selalu berubah, penuh dengan risiko dan tidak berketentuan.
Bab ini membahas data awal yang terdiri dari pekerjaan tanah, pekerjaan struktur, pekerjaan atap, pekerjaan dinding dan pelapis dinding, pekerjaan pelapis lantai, pekerjaan
plafond dan pekerjaan finishing cat serta beberapa batasan material yang ditentukan oleh pihak develover. Dari hasil perencanaan menghasilkan perhitungan waktu pekerjaan, kebutuhan tenaga kerja dan biaya proyek yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Dari data-data tersebut dibuat eveluasi perencanaan dalam bentuk perhitungan biaya dan jumlah tenaga kerja yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Metodologi
1. Alat dan Sumber Daya Manusia
Alat-alat yang digunakan kontraktor untuk membantu penyelesaian pekerjaan adalah sebagai berikut :
1) Bar Bender 2) Bar Cutter
3) Mesin Potong Keramik 4) Mesin Bor
5) Scafolding 6) Pompa Air
7) Mesin Diesel Molen 8) Vibrator
9) Dan lain sebagainya
Untuk tenaga kerja yang dipakai dalam pembangunan rumah 2 lantai ini sendiri terdiri dari :
1) Mandor 2) Kepala Tukang 3) Tukang
4) Pekerja atau Kenek 2. Organisasi Proyek
Organisasi proyek adalah sebagai sarana dalam pencapaian tujuan dengan mengatur dan mengorganisasi sumber daya, tenaga kerja, material, Bab IIIMetode PerencanaanIII- 4 peralatan dan modal secara efektif dengan menerapkan sistem manajemen sesuai kebutuhan proyek. Agar tujuan organisasi dapat tercapai dilakukan proses sebagai berikut :
1) Identifikasi dan pembagian kegiatan
2) Pengelompokan penanggung jawab kegiatan 3) Penentuan wewenang dan tanggung jawab 4) Menyusun mekenisme pengendalian.
Secara umum yang dimaksud dengan mengorganisir adalah mengatur unsur- unsur sumber daya perusahaan yang terdiri dari tenaga kerja, tenaga ahli, material, dana dan lain-lain dalam suatu gerak langkah yang sinkron untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien.
3. Rencana Kerja dan Spesifikasi Teknis A. Spesifikasi Umum
1. Kontraktor diwajibkan mempelajari secara seksama seluruh gambar kerja serta uraian pekerjaan dan persyaratan teknis yang telah ditetapkan.
2. Kontraktor diwajibkan mengikuti beberapa batasan Spesifikasi material yang telah ditentukan oleh pihak Konsultan.
B. Lingkup Pekerjaan
1. kerjaan yang harus dilaksanakan sesuai yang dinyatakan dalam gambar kerja.
2. Menyediakan tenaga kerja yang ahli, bahan-bahan, peralatan berikut alat bantu lainnya.
3. Mengadakan pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap bahan, alat-alat kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan berlangsung sehingga seluruh pekerjaan selesai dengan sempurna.
C. Shop Drawing
1. Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum tercakup dalam gambar kerja.
2. Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh bahan.
D. Sarana Kerja
1. Kontraktor wajib memasukkan identitas, nama, jabatan, keahlian masing- masing anggota kelompok kerja dalam pekerjaan ini.
2. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/material dilapangan harus aman dari segala kerusakan, kehilangan dan hal-hal yang dapat menggangu pekerjaan lain serta memenuhi persyaratan penyimpanan barang tersebut.
E. Syarat Bahan
1. Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus dalam keadaan baik tidak cacat, sesuai dengan spesifikasi yang diminta dan bebas dari noda lainnya yang dapat menggangu kualitas maupun penampilan.
2. Untuk pekerjaan khusus, selain harus mengikuti standart yang dipergunakan juga harus mengikuti persyaratan pabrik yang bersangkutan.
F. Persyaratan Pekerjaan
1. Kontraktor wajib melaksanakan semua pekerjaan dengan mengikuti petunjuk dan syarat pekerjaan, peraturan persyaratan pemakaian bahan bangunan yang dipergunakan sesuai dengan uraian pekerjaan &
persyaratan pelaksanaan teknis.
2. Sebelum melaksanakan setiap pekerjaan dilapangan, kontraktor wajib memperhatikan dan melakukan koordinasi kerja dengan pekerjaan lain yang menyangkut pekerjaan struktur, arsitektur, mekanikal, elektrikal, plumbing/sanitasi dan mendapatkan ijin tertulis dari direksi.
G. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Semua ukuran dan posisi termasuk pemasangan patok-patok dilapangan harus tepat sesuai gambar kerja.
2. Sebelum memulai pekerjaan kontraktor wajib memeliti gambar kerja dan melakukan pengukuran kondisi lapangan.
4. Persyaratan Teknis
A. Pekerjaan Tanah Untuk Lahan Bangunan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-alat dan pengangkutan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan tanah seperti tertera pada gambar rencana dan spesifikasi, berikut. Semua pembersihan dan penebasan/pembabatan, galian dan untuk bangunan seperti yang ditentukan direksi pengawas.
1) Pekerjaan Galian a) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan galian harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan didalam gambar. Kontraktor menjaga supaya tanah dibawah dasar elevasi seperti pada gambar rencana atau ditentukan oleh direksi pengawas tidak terganggu. Jika terganggu kontraktor harus mengalinya dan mengurug kembali lalu dipadatkan sesuai syarat yang tertera dalam spesifikasi dibawah ini.
b) Syarat-syarat pelaksanaan
Semua galian harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan syarat-syarat yang ditentukan sesuai keperluan.
Dasar dari semua galian harus waterpass.
Terhadap kemungkinan adanya air didasar galian, baik pada waktu pengalian mupun pada waktu pekerjaan pondasi harus disediakan pompa air.
Kontraktor harus memperhatikan pengamanan terhadap dinding tepi galian agar tidak longsor.
2) Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Yang dimaksud disini adalah pekerjaan pengurugan dan pemadatan tanah dengan syarat khusus dimana tanah hasil urugan ini akan dipergunakan sebagai pemikul beban.
a) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan alat bantu yang dibutuhkan demi terlaksanannya pekerjaan ini dengan baik.
B. Pekerjaan Beton Struktural 1) Lingkup Pekerjaan
a) Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b) Meliputi .pekerjaan beton praktis (sloof, kolom, ring balok,, plat meja) serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
2) Persyaratan Bahan a) Semen Portland
Yang digunakan harus dari mutu yang terbaik memenuhi persyaratan. Semen yang telah mengeras tidak dibenarkan untuk digunakan.
b) Pasir Beton harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan-bahan organis, lumpur dan lain sebagainya dan harus memenuhi komposisi butir serta kekerasan yang dicantum dalam PBI 1971.
c) Koral Beton/Split Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta mempunyai gradasi kekerasan sesuai yang dicantumkan dalam PBI 1971.
d) Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali dan bahan-bahan organis lainnya yang dapat merusak mutu beton.
e) Besi Beton Harus bersih dari minyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih dan sebagainya. Penampang besi bulat harus memenuhi syarat-syarat PBI 1971.
3) Syarat-syarat pelaksanaan a) Mutu Beton
Mutu beton struktural yang digunakan adalah K-225 dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan sesuai dengan PBI 1971.
b) Pembesian
Pembuatan tulangan harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam PBI 1971.
Pemasangan tulangan beton harus sesuai dengan gambar.
Tulangan beton harus diikat kuat untuk menjamin besi agar tidak berubah
c) Cara Pengadukan
Cara pengadukan harus mengunakan beton molen.
Takaran untuk semen portland, pasir dan split harus disetujui terlebih dahulu oleh direksi pengawas dan kekentalan adukan harus diawasi dengan memeriksa slump pada setiap campuran baru. Pengujian slump 12 cm.
d) Pengecoran Beton
Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiram cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran tulangan.
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan dari direksi pengawas.
Pengecoran dilakukan dengan sebaik mungkin dengan menggunakan alat pengetar.
e) Pekerjaan Acuan Eksisisting
Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan.
Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan- perkuatan sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah.
Acuan harus rapat tidak bocor, permukaan licin bebas dari kotoran-kotoran seperti tahi gergaji, potongan-potongan kayu, tanah dan sebagainya.
Bagian-bagian yang tertanam dalam beton seperti pasang angkur, sparing atau instalansi harus diperhatikan letaknya agar tidak mengurangi kekuatan struktur.
C. Pekerjaan Sub Lantai 1) Lingkup Pekerjaan
a) Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan ini, hingga didapat hasil pekerjaan yang bermutu baik.
b) Pekerjaan sub lantai ini dilakukan dibawah lapisan finishing lantai yang berlangsung diatas tanah.
2) Persyaratan Bahan
a) Semen portland harus memenuhi NI-8, SII 0013-81 dan ASTM C 1500-78A
b) Pasir beton yang digunakan harus memenuhi PUBI 82 pasal 11 dan SII 0404-80.
c) Koral/Split harus memenuhi PUBI 82 pasal 12 dan SII 0079-79/0087- 75/0075-75.
d) Air harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 82 pasal 9.
D. Pekerjaan Kramik Lantai 1) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi pemasangan keramikuntuk pekerjaan finishing lantai, plint lantai setinggi 10 cm seperti yang tercantum pada gambar kerja.
2) Persyaratan Bahan
a) Jenis : Keramik/Homogeniouse tile b) Permukaan: Polish
c) Ketebalan : 6 mm
d) Ukuran : 60 x 60 cm (lantai umum), 30 x 60 cm (lantai toilet) e) Produk : ex. Roman/setara, warna ditentukan kemudian.
3) Persyaratan Pelaksanaan
a) Pemasangan keramik lantai dan dinding sebaiknya pada tahap akhir untuk menghindari kerusakan akibat pekerjaan yang belum selesai.
b) Permukaan lantai maupun dinding yang akan dipasang keramik harus cukup bersih, cukup kering dan rata air.
c) Sebelum dipasang keramik lantai maupun dinding direndam air terlebih dahulu.
d) Setiap jalur pemasangan sebaiknya ditarik benang dan rata air.
e) Adukan semen untuk pemasangan keramik harus jenuh, baik dipermukaan dasar maupun badan belakang keramik lantai atau dinding yang terpasang.
E. Pekerjaan Dinding Batu Bata
1) Lingkup Pekerjaan Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi pekerjaan dinding bangunan dan seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
2) Persyaratan Bahan
Batu bata yang dipasang adalah batu bata press dengan mutu terbaik.
Syarat-syarat batu bata harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam NI-10.
3) Syarat-syarat Pelaksanaan
a) Seluruh dinding dari pasangan batu bata dengan adukan campuran 1 pc :4 psr, kecuali pasangan batu bata semen trasram.
b) Untuk dinding trasram/rapat air dengan adukan 1 pc : 2 psr, yakni pada dinding dari atas permukaan sloof, balok, pondasi sampai mínimum 200 cm diatas permukaan lantai setempat untuk sekeliling dinding ruang basah (toilet, WC serta pasangan batu bata dibawah permukaan tanah).
c) Pasangan dinding batu bata tebal ½ batu harus menghasilkan dinding finish setebal 15 cm setelah diplester (lengkap acian) pada kedua belah sisinya.
F. Pekerjaan Plasteran Dinding 1) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi :
Plesteran
Plesteran kedap air
Plesteran halus/aci halus 2) Persyaratan Bahan
Persyaratan Bahan semen, pasir dan air harus memenuhi syarat seperti spesifikasi teknis pekerjaan beton.
3) Persyaratan Pelaksanaan
a) Plesteran adalah campuran 1 pc :4 psr, adukan plesteran ini untuk menutup semua permukaan dinding pasangan batu bata bagian dalam bangunan terkecuali yang dinyatakan kedap air seperti tercamtum dalam gambar.
b) Plesteran adalah campuran 1 pc : 3 psr, adukan plesteran ini untuk menutup semua permukaan dinding pasangan batu bata bagian luar/tepi luar bangunan, semua bagian dan keseluruhan permukaan dinding pasangan batu bata yang tercamtum dalam gambar.
c) Plesteran halus/aci halus adalah campuran PC dengan air yang dibuat sedemikian rupa sehingga mendapatkan campuran yang homogen.
Plesteran halus ini adalah pekerjaan finishing yang dilaksanakan setelah adukan plesteran sebagai lapisan dasar berumur 7 hari.
d) Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding, kolom, lantai yang dinyatakan dalam gambar kerja. Tebal plesteran minimal 1 cm dan maksimal 2,5 cm. Jika melebihi dari 3 cm harus mengunakan kawat ayam yang dikaitkan kepermukaan pasangan.
G. Pekerjaan Plafon 1) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pemasangan plafond gypsum seperti ditunjukkan pada gambar yaitu :
Gypsum board untuk ruang tamu, kamar tidur, dan selasar.
Gypsum water resistant untuk daerah basah 2) Persyaratan Bahan
a) Jenis : gypsum board dan GRC b) Tebal : 9 mm dan 4 mm
c) Produk : jayaboard
d) Berat : 10,5 kg/m² dan 4,7 kg/m e) Rangka : Metal furing, lis alumunium 3) Syarat-syarat Pelaksanaan
a) Sebelum kontraktor melakukan pemesanan bahan, terlebih dahulu mengajukan contoh bahan kepada direksi pengawas untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis.
b) Rangka plafond harus dibuat dari logam galvanized dalam bentuk, ukuran dan pola pemasangan sesuai gambar.
c) Setelah rangka langit-langit terpasang, permukaan harus rata waterpass, tidak bergelombang dan batang-batang rangka harus tegak lurus.
d) Harus diperhatikan adanya pekerjaan elektrikal dan perlengkapan instalasi yang diperlukan.
H. Pekerjaan Cat
1) Lingkup Pekerjaan
Pengecatan dinding dilakukan pad bagian luar dan dalam serta pada seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar.
2) Syarat-syarat Bahan
Semua bahan cat yang digunakan adalah cat produk ICI 3) Syarat-syarat Pelaksanaan
a) Semua bidang pengecatan harus betul-betul rata, tidak tedapat cacat (retak, lubang dan pecah-pecah).
b) Bidang pengecatan harus bebas dari debu, lemak minyak dan kotoran- kotoran lain yang dapat merusak atau mengurangi mutu pengecatan.
c) Seluruh bidang pengecatan diplamur dahulu sebelum dilapis dengan cat dasar, bahan pamur dari produk yang sama dengan cat yang digunakan.
I. Pekerjaan Penutup Atap Genteng 1) Lingkup Pekerjaan
a) Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
b) Pekerjaan ini meliputi pengadaan, penyetelan dan pemasangan penutup atap genteng beton atau sesuai yang disebutkan/dinyatakan dalam gambar.
2) Persyaratan Bahan
a) Bahan atap genteng beton yang digunakan adalah produk Leak Proof Roof.
b) Accessories dan alat bantu lainnya yang digunakan harus sesuai persyaratan dari pabrik yang bersangkutan.
c) Sesudah proyek selesai kontraktor harus menyediakan 5% dari jumlah genteng yang terpasang sebagai persediaan untuk perawatan.
3) Syarat-syarat Pelaksanaan
a) Sebelum pelaksanaan dimulai, kontraktor diwajibkan memeriksa gambar-gambar pelaksanaan termasuk lapisan-lapisan isolasi seperti yang dinyatakan dalam gambar, serta melakukan pengukuran- pengukuran setempat.
b) Kontraktor atas dasar gambar pelaksanaan diwajibkan menyediakan shop drawing yang memperlihatkan sambungan antara bahan yang satu dengan yang lain, pengakhiran-pengakhiran dan lain- lainnya yang belum/tidak tercakup dalam gambar kerja, namun memenuhi persyaratan pabrik.
J. Proses Pekerjaan Perancangan
Gambar Skema Tahapan dalam Perancangan
K. Kriteria, Azas-Azas, Penterjemahan Informasi Dan Metoda Pendekatan Metodologi
Perencanaan teknik merupakan kelanjutan dari perkerjaan perencanaan tata letak dan pra rancangan bangunan yang dilengkapi dengan masukan-masukan baru yang lebih detail dan mencakup seluruh aspek bangunan. Dasar perencanaan menggunakan peraturan bangunan yang berlaku setempat, minimal
mengacu/merujuk pada SII dan peraturan-peraturan yang berlaku secara nasional (PBN, PBI, PKKI, PUIL, dsb).Material dan teknologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan di lapangan mengutamakan menggunakan produksi dalam negeri khususnya produksi setempat.
Tahap awal yang dilakukan dari studi untuk mendapatkan data dan mengolahnya lebih lanjut dilakukan pada tahap ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini pada dasarnya dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran berikut ini:
1. Tersepakatinya metoda, lingkup, dan rencana kerja.
2. Berkembangnya substansi pekerjaan dan gagasan/ide-ide yang mendukung pencapaian tujuan dan sasaran pekerjaan.
3. Teridentifikasinya kebutuhan data dan alat analisisnya.
4. Terumuskannya rancangan survei dan format kompilasi data.
L. Metoda Pendekatan Metodologi
Teknik pengumpulan data berorientasi pada cara data dikumpulkan, yaitu data primer dan data sekunder. Kerangka teknik pengumpulan data pada studi ini adalah sebagai berikut :
a. Survey sekunder:
Survey desk study, yaitu pengumpulan data dan
informasi yang relevan dari perpustakaan untuk memperoleh informasi tentang kebijaksanaan, rencana, permasalahan, serta tujuan dan sasaran pembangunan, konsep pengembangan, metode pendekatan, teknik analisis, standar serta kasus yang telah diteliti.
Survey data instansional, yaitu pengumpulan atau perekaman data dari instansi-instansi terkait.
b. Survey primer:
Survey penelitian, yaitu survey sistematik suatu populasi untuk mengumpulkan data yang berkait dengan kebijaksanaan yang tidak tersedia di sumber lain.
Survey lapangan, yaitu pemeriksaan keadaan lapangan yang selanjutnya dituangkan pada laporan, statistik, atau peta.
c. Interview
Yaitu untuk melengkapi ketiga survey tersebut apabila dirasakan sangat penting guna memperoleh bahan/keterangan yang lebih rinci.
d. Observasi Lapangan
Dilakukan dengan melibatkan beberapa observer guna melakukan pengamatan serta wawancara secara intensif di lapangan. Dalam observasi tersebut disertai dialog dengan masyarakat setempat mengenai masalah- masalah social budaya dan hubungan masyarakat sehubungan dengan perencanaan pembangunan gedung
Data yang diperlukan :
- Data keadaan sekitar lingkungan.
- Data keadaan topografi lokasi.
- Data kondisi eksisting bangunan yang akan ditingkatkan
Sedangkan Teknik Pengolahan Data dilakukan setelah seluruh kegiatan pengamatan langsung, wawancara, kuisioner dan pengumpulan data sekunder selesai dilaksanakan oleh tim pelaksana, semua data dan informasi yang terkumpul kemudian diseleksi, diadakan uji keabsahan data dan klarifikasi.
Data yang tidak dapat dipercaya dibuang, sedangkan data yang meragukan dan tidak jelas diadakan cek ulang ke lapangan. Hasil pengolahan data tersebut akan digunakan sebagai acuan dari perencanaan pembangunan gedung
M. Aspek Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) a. Lingkup Pekerjaan
Mengkaji dampak penting yang akan terjadi akibat interaksi antara komponen kegiatan yang direncanakan dengan komponen lingkungan hidup yang perlu dikelola dan dipantau agar dampak negatif dapat ditekan sekecil mungkin serta mengembangkan dampak positif yang terjadi.
Tinjauan dilakukan dengan Studi RPL dan RKL dimana hasil studi harus dapat memberikan masukan terhadap desain dan pelaksanaan kegiatan proyek.
b. Dasar Hukum
Sebelum dilaksanakan pembuatan perencanaan pembangunan gedung perlu dilaksanakan pembuatan Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL), sebagai upaya pengendalian lingkungan oleh Pemerintah Daerah yang dalam hal ini sebagai pihak yang berwenang dalam perencanaan di Wilayahnya sebagai penanggung jawab pekerjaan.
Dasar peraturan tentang perlunya pengendalian lingkungan tertuang dalam Kepmen Lingkungan Hidup No. 86 tahun 2002. Oleh karenanya dibawah ini akan dibahas langkah-langkah yang akan dilaksanakan serta dasar pemikiran dalam pembuatan Studi UKL & UPL mendatang.
c. Dampak yang Akan Terjadi
Kegiatan perencanaan pembangunan bangunan budidaya indoor yang akan dilaksanakan diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Perkiraan dampak yang timbul terhadap komponen lingkungan dilakukan dengan menggunakan cara matematika, pemodelan secara empiris, studi banding dengan kegiatan sejenis, studi literatur, serta pandangan dan atau pendapat pakar yang sesuai dengan bidangnya.
Berdasarkan uraian dampak yang diperkirakan akan timbul, maka ditentukan keputusan mengenai perlu tidaknya pengelolaan lingkungan terhadap sesuatu kegiatan proyek agar tidak menimbulkan dampak potensial terhadap lingkungan. Uraian secara terperinci mengenai besaran dampak yang diperkirakan timbul dari masing-masing tahapan kegiatan yaitu pra-konstruksi, konstruksi, operasi dan paska operasi adalah sebagai berikut :
1) Dampak yang timbul pada masa prakonstruksi diperkirakan sebagai berikut :
a) Persepsi Masyarakat
Umumnya penduduk menginginkan kejelasan mengenai proyek dan mereka dapat mengetahui sedini mungkin mengenai tata letak proyek, sehingga kebutuhan lahan dapat diketahui.
Berdasarkan pengamatan di lapangan umumnya penduduk telah mengetahui rencana proyek dan lahan yang akan digunakan.
Pertimbangan lainnya bahwa spekulasi harga tanah di daerah setempat mungkin akan melonjak. Karena pada tahap survey ini akan menimbulkan berbagai persepsi masyarakat maka dampak negatif yang timbul perlu dikelola.
b) Perubahan Fungsi Ruang
Berubahnya fungsi ruang, lahan dan tanah akibat adanya proyek akan diikuti perubahan fungsi lahan sekitar proyek yang awalnya didominasi lahan terbuka atau sawah menjadi fungsi lain seperti rumah/jalan hantar. Perubahan fungsi lahan tersebut khususnya akan terjadi sepanjang jalan hantar yaitu akan bermunculan rumah tinggal karena jalan tersebut akan membuka akses yang selama ini tidak ada sekitar proyek. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perubahan fungsi lahan akibat adanya pembebasan lahan dianggap negatif dan perlu dikelola.
2) Dampak yang timbul pada saat Tahap Konstruksi diperkirakan sebagai berikut:
a) Mobilisasi Tenaga Kerja
Timbulnya peluang usaha baru dalam hal tenaga kerja proyek dan munculnya warung-warung yang akan meningkatkan pendapatan penduduk setempat.
Kemungkinan terjadinya kerawanan sosial antara penduduk setempat dengan tenaga kerja pendatang. Dampak yang terjadi adalah dampak positif dan juga negatif yang perlu dikelola.
b) Mobilitas Alat Berat dan Material Konstruksi c) Penurunan kualitas udara
Kegiatan mobilisasi alat berat dan material konstruksi yang berasal dari kendaraan pengangkut pada saat melewati jalan proyek yang berupa jalan tanah. Kegiatan mobilisasi alat berat dan material konstruksi diperkirakan akan menimbulkan penurunan kualitas udara akibat peningkatan kadar debu lokal.
Hal ini terjadi sebagai akibat terhamburnya butiran tanah dan menyebur tertiup angin pada saat kendaraan pengangkut alat berat dan material konstruksi melewati jalan tanah (jalan proyek).
Selain itu dampak yang terjadi adalah peningkatan kebisingan pada saat kegiatan mobilisasi alat berat dan material konstruksi.
Kebisingan berasal dari suara mesin kendaraan pengangkut alat berat dan material konstruksi.
d) Pekerjaan Sipil
Pelaksanaan pembangunan akan berdampak pada
Kualitas Udara
Sumber dampak terhadap penurunan kualitas udara adalah pada saat pembangunan jalan, bangunan dan prasarana lainnya. Pekerjaan tersebut akan menimbulkan debu lokal sehingga akan menurunkan kualitas udara. dan secara estetika kurang baik yang akan menyebabkan penurunan nilai estetika lingkungan khususnya terhadap bangunan rumah sekitar jalan masuk proyek.
Dampak tersebut walaupun terjadi selama pekerjaan sipil sekitar 12 bulan atau lebih, tetapi akan menimbulkan ketidakpuasan terhadap proyek sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan konflik sosial antara masyarakat setempat dan proyek.
Kebisingan
Jenis kebisingan yang ditimbulkan oleh alat berat tergolong jenis impulsif yang pemaparannya tidak terus-menerus, sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap fungsi pendengaran tetapi terbatas kepada kenyamanan istirahat
penduduk dan menjauhnya fauna dari sekitar jalan proyek khususnya jenis burung.
Dampak kebisingan akan terasa apabila pekerjaan sipil dilakukan pada malam hari karena penduduk sedang beristirahat (tidur). Tolak ukur dampak adalah baku mutu kebisingan untuk lingkungan pemukiman sebesar 55 dB dan ruang terbuka hijau sebesar 50 dB berdasarkan KEPMENLH No. KEP/48/MENLH/11/1996.
Gangguan kenyamanan akan berlangsung selama konstruksi yaitu 1 (satu) tahun atau lebih, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan konflik antara penduduk dan proyek.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dampak terhadap peningkatan terhadap kebisingan perlu dikelola.
Kualitas Air
Kegiatan pembangunan kemungkinan akan menimbulkan dampak berupa menurunnya kualitas air dikarenakan kemungkinan adanya sedimentasi akibat terbawanya material/ tanah galian dan dikuatirkan akan terjadi pelumpuran yang menyebabkan pendangkalan sungai.
Kebersihan Material Sisa Operasional
3) Dampak yang Timbul Pada Saat Tahap Pascakonstruksi/ Operasi Tahap Pasca Konstruksi adalah tahap operasional perencanaan pembangunan bangunan Gedung dimana kegiatan pelayanan telah berjalan.
Dampak yang terjadi tahap operasional Gedung adalah sebagai berikut :
a) Kualitas Udara
Sirkulasi udara tidak normal akibat pembangunan bangunan dinas yang cukup tinggi terhadap lingkungan sekitar.
b) Kebisingan
Sumber kebisingan berasal dari generator meskipun pemakaiannya hanya sebagai cadangan dalam waktu tertentu.
c) Kualitas Air
Sumber dampak terhadap penurunan kualitas air ditimbulkan dari limbah kimia, limbah diterjen.
d) Limbah Padat
Limbah padat (sampah) berupa sampah berasal dari dapur, kantor dan halaman.
N. Analisis Aspek Teknis
Kelebihan (Strengths) dan peluang (Opportunities) secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Analisis SWOT membandingkan antara faktor external peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan.
Kajian Aspek Teknis di dalam Studi Kelayakan lebih terfokus pada kondisi lahan, kondisi topografi dan kondisi geologi, untuk memberikan gambaran umum mengenai kelayakan lahan. Sedangkan aspek-aspek teknis lain yang mempengaruhi perancangan bangunan akan dibahas didalam tahap selanjutnya yaitu Rencana Pengembangan Fisik.
O. Kriteria Umum
Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh konsultan perencana seperti yang dimaksud pada KAK harus memperhatikan kriteria umum bangunan disesuaikan berdasarkan fungsi dan kompleksitas bangunan, yaitu:
1. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas
a. Menjamin bangunan yang didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di daerah yang bersangkutan.
b. Menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya c. Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat dan lingkungan 2. Persyaratan arsitektur dan lingkungan
a. Menjamin terwujudnya bangunan yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan, ketentuan wujud bangunan dengan lingkungan
b. Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya c. Menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan 3. Persyaratan Struktur Bangunan
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat alam dan manusia
b. Menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan
c. Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur
d. Menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur
4. Persyaratan sarana jalan masuk dan keluar
a. Menjamin terwujudnya bangunan yang mempunyai akses yang layak, aman dan nyaman ke dalam bangunan dari fasilitas serta layanan didalamnya
b. Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari kesakitan atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat
c. Menjamin tersedianya aksebilitas bagi penyandang cacat, khususnya untuk fasilitas umum dan sosial
5. Persyaratan transportasi dalam gedung
a. Menjamin tersedianya transportasi yang layak, aman dan nyaman didalam bangunan gedung
b. Menjamin tersedianya aksebilitas bagi penyandang cacat, khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial
6. Persyaratan Instalasi Listrik
Menjamin terpasang instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan sesuai dengan fungsinya
7. Persyaratan Sanitasi
a. Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan didalam bangunan sesuai dengan fungsinya
b. Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan
c. Menjamin upaya beroperasi peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik
8. Persyaratan ventilasi dan pengkondisian udara
a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup, baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik
9. Persyaratan Pencahayaan
a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik
10. Persyaratan kebisingan dan getaran
a. Meminimalkan gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan b. Menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang
menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan
P. Daftar SNI Tentang Pekerjaan Bangunan/ Gedung
1. SNI 03-0675-1989 Spesifikasi Ukuran Kusen Pintu Kayu, Kusen Jendela Kayu, Daun Pintu Kayu Untuk Bangunan Rumah dan Gedung
Spesifikasi ini bertujuan untuk mewujudkan pembuatan, pemasangan, dan pengawasan pelaksanaan yang optimal
2. SNI 03-1726-2002 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung
Standar ini menetapkan ketentuan, perencanaan umum struktur gedung, perencanaan struktur gedung tak beraturan, kinerja struktur gedung, pengaruh gempa pada struktur bawah, pengaruh gempa pada unsur sekunder, unsur arsitektur dan instalasi mesin listrik. Syarat-syarat perencana struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam standar ini tidak berlaku untuk bangunan sebagai berikut:
Gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau yang masih memerlukan pembuktian tentang kelayakannya;
Gedung dengan sistem isolasi landasan (hase isolation) untuk meredam pengaruhi gempa terhadap struktur atas;
Bangunan teknik sipil seperti jembatan, bangunan air, dinding, dan dermaga pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non gedung lainnya;
Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung non-teknis lainnya 3. SNI 03-1727-1989 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah
dan Gedung
Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung, termasuk beban-beban hidup untuk atap miring, gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan.
Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa, yang pemakaiannya optional, bukan keharusan, terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau
4. SNI 03-1728-1989 Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung
Tata cara ini digunakan untuk memberikan landasan dalam membuat peraturan-peraturan mendirikan bangunan di masing-masing daerah, dengan tujuan menyeragamkan bentuk dan isi dari peraturan-peraturan bangunan yang akan dipergunakan di seluruh kota-kota di Indonesia 5. SNI 03-1729-2002 Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja Untuk
Gedung
Tata cara ini digunakan untuk mengarahkan terciptanya pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan baja yang memenuhi ketentuan minimum serta mendapatkan hasil pekerjaan struktur yang aman, nyaman dan ekonomis.
6. SNI 03-1734-1989 Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung
Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku.
7. SNI 03-1735-2000 Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung.
Tata cara ini digunakan dalam merencanakan bangunan dan lingkungannya khususnya dalam hal pencegahan terhadap bahaya kebakaran meliputi pengamanan dan penyelamatan terhadap jiwa, harta benda dan kelangsungan fungsi bangunan
8. SNI 03-1736-2000 Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan untuk perencanaan struktur bangunan terhadap pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
9. SNI 03-1745-2000 Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan sebagai panduan dalam pemasangan sistem hidran untuk memberikan persyaratan minimum pada pemasangan sistem hidran dalam upaya pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
10. SNI 03-1746-2000 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Gedung
Digunakan untuk pemasangan alat bantu evakuasi dalam upaya penyelamatan manusia dan meningkatkan keamanan terhadap bahaya kebakaran
11. SNI 03-1963-1990 Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung
Tata cara ini digunakan sebagai pegangan dasar dalam merencana rumah dan gedung menggunakan koordinasi modular. Tujuannya untuk mewujudkan rencana teknis bangunan rumah dan gedung yang optimal.
12. SNI 03-1964-1990 Metode Pengujian Berat Jenis Tanah Judul direvisi menjadi Cara Uji Berat Jenis Tanah
Metode ini digunakan untuk mengetahui besarnya berat jenis (specific gravity) tanah
13. SNI 03-1972-1990 Metode Pengujian Slump Beton Judul Di revisi menjadi : Cara Uji Slump Beton
Cara uji ini meliputi penentuan nilai slump beton, baik di laboratorium maupun di lapangan. Nilai-nilai yang tertera dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan digunakan sebagai standar.
14. SNI 03-1973-1990 Metode Pengujian Berat Isi Beton Judul Di Revisi Menjadi : Cara Uji Berat Isi, Volume Produksi Campuran dan Kadar Udara Beton
Metode ini digunakan untuk menentukan berat isi (unit weight) beton segar (fresh concrete) serta banyaknya semen per meter kubik beton.
Cara uji ini meliputi penentuan berat isi dari campuran beton segar dan beberapa formula untuk menghitung volume produksi campuran, kadar semen, dan kadar udara dalam beton.
15. SNI 03-2396-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung
Standar ini menetapkan cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung yang mencakup persyaratan minimal sistem pencahayaan alami siang hari dalam bangunan gedung.
16. SNI 03-2410-1994 Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok Dengan Cat Emulsi
Tata cara ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk teknis dalam mengerjakan pengecatan dinding tembok dengan cat emuisi agar
diperoleh hasil yang baik, dan memuat tentang persyaratan bahan dan alat, pelaksanaan pengecatan, dan cara penanggulangan bila terjadi kegagalan dalam pengecatan.
17. SNI 03-2453-2002 Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan Untuk Lahan Pekarangan
Standar ini menetapkan cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan termasuk persyaratan umum dan teknis mengenai batas muka air tanah (MAT), nilai permeabilitas tanah, jarak terhadap bangunan, perhitungan dan penentuan sumur resapan air hujan. Air hujan adalah air hujan yang ditampung dan diresapkan pada sumur resapan dari bidang tadah
18. SNI 03-2461-2002 Spesifikasi Agregat Ringan Untuk Beton Ringan Struktur
Standar ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai pegangan bagi produsen/ perencana dan pelaksanaan pekerjaan beton dalam menilai mutu agregat ringan yang memenuhi persyaratan. Spesifikasi ini mencakup ketentuan mengenai agregat ringan yang digunakan dalam pembuatan beton struktural dengan pertimbangan utamanya adalah ringannya bobot dan tingginya kekuatan, yang meliputi persyuaratan mengenai komposisi kimia, sifat fisis serta penggantian pasir alam. Nilai dinyatakan dalam satuan metrik yang digunakan sebagai standar
19. SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal
Tata cara ini digunakan untuk merencanakan proporsi campuran beton tanpa menggunakan bahan tambahan dan bertujuan untuk mendapatkan proporsi campuran yang dapat menghasilkan mutu beton sesuai dengan rencana.
20. SNI 03-2853-1992 Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pondasi Jalan dengan Batu Pecah
Tata cara ini digunakan untuk mendapatkan lapis pondasi jalan menggunakan batu pecah yang memenuhi syarat sebagai lapis pondasi 21. SNI 03-2916-1992 Spesifikasi Sumur Gali Untuk Sumber Air Bersih
Spesifikasi ini bertujuan memberikan persyaratan teknis sumur gali sebagai sumber air baku untuk air bersih yang terlindung dari pencemaran.
22. SNI 03-3399-1994 Metode Pengujian Kuat Tarik Kayu di Laboratorium Metode ini digunakan untuk menentukan nilai kuat tarik sejajar serat dan tegak lurus serat kayu.
23. SNI 03-3400-1994 Metode Pengujian Kuat Geser Kayu di Laboratorium Metode ini digunakan untuk menentukan nilai kuat geser sejajar serat kayu
24. SNI 03-3430-1994 Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang Untuk Bangunan Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan yang menggunakan struktur pasangan blok beton berongga bertulang 25. SNI 03-2397-1991 Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan
Angin
Tata cara ini memuat tentang persyaratan teknis untuk perencanaan rumah sederhana di daerah rawan angin, guna memberikan jaminan bagi penghuninya, mencakup perancangan konstruksi dan cara meningkatkan ketahanan struktur rumah terhadap angin.
Q. Perencanaan Arsitektur
Pekerjaan perancangan arsitektur ini dimaksudkan untuk pedoman dalam penyusunan pokok-pokok dan sistematika perancangan keseluruhan. Proses studi perancangan ini juga diharapkan dapat menghasilkan data dasar fungsional kebutuhan ruang-ruang dan bangunan.
Perencanaan pembangunan Gedung harus memenuhi:
a. Kriteria Umum
Bangunan harus mencerminkan filosofi kenyamanan dalam berkunjung.
Ketahanan bangunan menerima beban manusia, peralatan maupun kekuatan alam.
Ketahanan bahan bangunan terhadap kelesuhan dan keausan, karena penggunaannya terhadap bangunan, sifat bahan dan cuaca.
Keselamatan penghuni pada saat terjadinya bencana karena ulah manusia, alam, atau pencemaran yang mengancam kesehatan.
Bangunan harus memberi manfaat, hemat energi dalam pengoperasiannya.
Bangunan dapat menampung kegiatan secara efisien sesuai dengan fungsinya.
b. Kriteria Khusus
Bangunan diupayakan dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi alami (pencahayaan alami, pada kondisi tertentu dapat diupayakan pengkondisian udara alami).
Pengelompokan fungsi dalam bangunan dilakukan sesuai dengan sifat dan hierarki serta berada dalam kesatuan yang utuh.
Jaringan sirkulasi manusia atau barang harus disusun seefisien mungkin dan tidak mengganggu fungsi bangunan.
Mendukung kemungkinan pengembangan prasarana dan sarana yang harmonis dan terintegrasi baik secara fisik maupun fungsional.
Segi arsitektur harus memperhitungkan faktor iklim, geografis, ciri khas dan ciri khas Indonesia yang serasi dengan lingkungan sekitarnya tanpa mengorbankan fungsinya.
c. Azas-azas
Desain bangunan hendaknya fungsional, efesien, menarik, aman dan direncanakan bentuk yang harmonis dengan lingkungannya.
Kreativitas desain hendaknya tidak ditekankan pada kemewahan material, tetapi pada kemampuan mengadakan sublimasi antara fungsi teknik dan teknik sosial bangunan.
Desain bangunan hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga pembangunannya dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan dapat dimanfaatkan secepatnya.
Bangunan yang direncanakan hendaknya turut meningkatkan kualitas dan berdampak positif terhadap lingkungan sekitarnya.
R. Dasar-dasar Perencanaan
a. Perencanaan Arsitektur mempunyai 2 tujuan pokok, yaitu:
Menciptakan ruangan-ruangan dimana dapat diselenggarakan secara sebaik-baiknya semua kegiatan yang direncanakan.
Menciptakan lingkungan fisik dan non fisik yang diinginkan.
b. Terciptanya ruangan-ruangan yang tepat guna bagi kegiatan operasional fungsi ini.
c. Lingkungan fisik yang tercipta sebaiknya:
Menggambarkan penampilan bangunan sebagai sarana pelayanan umumnya/masarakat.
Adaptif dengan lingkungan sekitar.
Selaras dengan sosial budaya setempat.
d. Lingkungan non fisik yang ingin diciptakan yakni suasana lingkungan bekerja dan pelayanan yang harmonis.
1. Pedoman Perencanaan
a) Kriteria umum yang meliputi :
Persyaratan fungsional.
Persyaratan teknis teknologi.
Keselarasan terhadap lingkungan fisik dan sosial budaya setempat.
b) Kriteria khusus meliputi :
Penampilan sebagai sarana pelayanan yang tidak lepas dari lingkungan setempat.
Pencerminan dari bangunan yang berada di daerah tropis.
Pemanfaatan potensial alami semaksimal mungkin.
Pengelompokan fungsi yang jelas.
Jaringan sirkulasi baik manusia maupun kendaraan yang efisien.
Penggunaan bahan-bahan produksi dalam negeri.
c) Ketentuan-ketentuan lain yang umumnya berlaku untuk pembangunan gedung seperti standard, pedoman, dan peraturan-peraturan.
Ketentuan tentang fasilitas.
Ketentuan ruang dan jenis ruang.
Ketentuan tentang pengaturan ruang sesuai organisasi.
Keserasian terhadap lingkungan.
Sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.
2. Pendekatan Lingkungan
Kondisi existing lahan serta lingkungan sekitarnya merupakan titik tolak dalam melakukan pemantapan rencana tapak.
Hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
Kondisi fisik dan biotik lahan dan lingkungan sekitar.
Kondisi sosial ekonomi lingkungan.
Kondisi iklim setempat.
3. Pendekatan Simbiolisme
Selaku sarana pelayanan, bangunan ini sedapat mungkin dapat menunjukan keberadaannya. Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai ini, yaitu :
a. Skala pandang
Skala ini merupakan ukuran visual antar fasilitas, proporsi dan keseimbangan terhadap komposisi massa.
b. Patokan pandang
Adanya unsur tertentu yang dapat ditonjolkan sehingga menimbulkan citra khas yang dapat mewakili seluruh kawasan lingkungan. Identitas ini dicapai dengan menerapkan unsur-unsur Arsitektur setempat yang merupakan hasil modifikasi bentuk dari beberapa komponen, misalnya:
Bentuk masa bangunan.
Bentuk atap.
Bentuk dan letak tangga.
Sistem struktur.
Ornamen bangunan.
Bentuk dan jarak kolom.
4. Analisis Program Kebutuhan Ruang
Analisis program kebutuhan ruang merupakan analisis yang menilai kebutuhan ruang serta fasilitas yang dibutuhkan bagi aktivitas yang diusulkan dalam suatu pengembangan lahan.
Dalam hubungannya dengan penataan perencanaan pembangunan gedung di dalam Site Plan, maka yang diperlukan adalah memperhatikan standar kebutuhan ruang yang dibutuhkan, jumlah orang yang dapat ditampung, serta standar fasilitas atau sarana pendukung (meja, kursi, tangga, parkir, dll). Hal ini pada dasarnya untuk menghasilkan suatu desain yang aman, nyaman, sekaligus memenuhi persyaratan fungsional dan estetika.
5. Persyaratan Ruang
Yang dimaksud dengan persyaratan ruang disini adalah segala hal yang dapat melengkapi serta meningkatkan mutu fungsi ruang yaitu: penghawaan, penerangan, pengendalian kebisingan, penetrasi matahari, dan kenyamanan audial/visual.
Pada prinsipnya adalah cukup penerangan, cukup ventiliasi dan tidak lembab serta tidak silau, maka dipertimbangkan persyaratan sebagai berikut :
Memanfaatkan cahaya alami secara optimal dan juga menggunakan pencahayaan buatan.
Setiap ruang harus mendapatkan ventilasi alami kecuali ruang-ruang tertentu yang perlu pengkondisian buatan terhadap tata udara.
Hubungan antar ruang terutama didasarkan pada fungsi serta arus kegiatan yang timbul sesuai dengan organisasi ruang dari masing-masing fasilitas.
Untuk menjaga kelembaban udara dalam ruangan perlu pengaturan temperatur antara lain membuat jendela/bukaan yang cukup.
6. Rencana Ruang Tepat Guna
Dasar-dasar rancangan tetap guna adalah jumlah, luas dan susunan ruangan-ruangan harus sesuai dengan kebutuhan yang diperhitungkan dengan jumlah penghuni dan pola kegiatan.
Jumlah luas ruangan diambil sesuai dengan petunjuk yang tercantum didalam TOR. Pada waktunya, guna mendapatkan penataan ruangan yang sesungguhnya diperlukan penelaahan yang seksama mengenai hal ini.
S. Material
a. Kriteria pemilihan bahan bangunan yang dikembangkan untuk mendukung konsep massa bangunan (bentuk) dan tentunya konsep interior adalah :
Bahan yang mudah dalam perawatan.
Mudah didapat dan mudah diperbaiki.
Sesuai kebutuhan, fungsi dan efisien.
Diutamakan bahan produksi dalam negeri atau produksi lokal.
Berkualitas baik.
Memenuhi standar-standar dan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk bahan bangunan.
b. Pemilihan material yang digunakan antara lain : a) Lantai :
Marmer lokal/ homogenous tile
Karpet, yang biasa diperuntukan pada Mushola.
Keramik, diperuntukkan pada ruang tunggu, selasar/ koridor
Rabat beton/ paving block/ paving grass, diperuntukkan pada ruang luar (parkir).
Aspal, diperuntukkan pada jalur sirkulasi untuk kendaraan.
Pearlstone atau bahan lainnya untuk ornamen lantai pada taman.
b) Pasangan dinding, kombinasi antara beton bertulang, dinding batu bata, dinding/bataco.
c) Lapisan Dinding :
Marmer lokal, ruang-ruang khusus
Plester difinish wallpaper pada Gedung Serba Guna (GSG).
Plester difinish cat, pada ruang interior lainnya.
Kaca tempered pada ruang-ruang yang membutuhkan cahaya/udara alami.
Bagian bawah dinding luar dilapis dengan menggunakan batu alam keras sehingga mencerminkan kekokohan.
d) Plafond
Desain khusus, untuk hall dari bahan gypsum flat.
GRC Board 5 mm, untuk KM / WC dan ruang penunjang lainnya.
e) Seluruh kusen jendela/ pintu menggunakan alumunium dengan warna silver dengan menggunakan kaca tempered. Non tempered dan laminated yang berwarna. Sedangkan untuk kusen interior menggunakan bahan alumunium dengan warna silver.
T. Tahap Perumusan Strategi dan Konsep
Tahapan ini merupakan pemikiran terhadap strategi dan konsep pemecahan masalah yang ingin diaplikasikan ke dalam tapak, yang mengacu kepada gagasan-gagasan pemecahan fungsional dan operasional. Kumpulan konsep yang bersifat programatik ini divisualisasikan ke dalam bentuk rencana skematik dengan peta dasar dari bangunan dan tapak yang dirancang.
Penjabaran dari tahapan ini adalah sebagai berikut:
a. Strategi Penataan Bangunan dan Ruang Luar.
Di sini diaplikasikan pertimbangan arsitektural seperti tema komponen pembentuk ruang, bentuk/gaya/style, fungsi ruang kesan ruang, nilai ruang, komposisi, skala, warna, bahan material, sistem konstruksi, estetika, tekstur, dan lainnya.
b. Konsep Penataan Fisik Bangunan dan Ruang Luar
Konsep Zonasi, Konsep Penataan Bangunan, Konsep Sirkulasi, Konsep Pengembangan Infrastruktur, dan Konsep Penataan Ruang Terbuka Hijau/Taman.
U. Perancangan Struktur Dan Konstruksi
Perencanaan/perhitungan struktur dan konstruksi disesuaikan dengan lingkup yang dikerjakan oleh bidang Teknik Sipil, terutama mengenai struktur dan konstruksi karena pembebanan berat dan kekuatan terhadap gempa.
V. Kriteria Dasar Perencanaan Struktur
a. Struktur bangunan (termasuk pondasi) harus memenuhi persyaratan : kekuatan (strenght), kekakuan (stiffness), kestabilan (stability), dan ekonomis (optimum design).
b. Perhitungan harus berdasarkan peraturan-peraturan teknis yang berlaku di Indonesia, diantaranya :
FBI-1971
Peraturan Muatan Indonesia (PMI.1970).
Peraturan Perencanaan Tahan gempa Indonesia untuk Gedung 1983.
Konsep Peraturan Perencanaan Baja Indonesia.
Peraturan lainnya tentang Bahan Bangunan Struktur yang dikeluarkan. Oleh DTPI/Departemen Pekerjaan Umum.
c. Perhitungan konstruksi pondasi harus berdasarkan beban-beban luar (menara angin, gempa, dan lain-lain yang terkait) dan laporan hasil penyelidikan tanah yang bersangkutan
d. Pembebanan
1) Beban Vertikal:
Beban hidup
Beban lantai ruang 2) Beban Horizontal:
Beban Angin
Beban Gempa
Beban Konstruksi
Konstruksi Pondasi
W. Kriteria Perencanaan Struktur
Penggunaan bahan-bahan konstruksi secara ekonomis.
Kesederhanaan demi mudahnya pelaksanaan.
Keberuntungan unsur-unsur struktur untuk kemungkinan pelaksanaan yang cepat dan tepat.
Bangunan berlantai majemuk cukup digunakan sistem portal terbuka (open frame system) tanpa shear wall.
Untuk bangunan bertingkat unsur-unsur struktural, perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin dan sejauh mungkin mereduksi ketebalan/ketinggian suatu rancangan struktural guna mendapatkan ruang yang semaksimal mungkin.
Siar dilatasi harus ditempatkan diantara dua bangunan yang berbeda ketinggian, untuk mendapatkan kejelasan prilaku dinamik akibat gempa bumi.
Analisis struktur harus dilakukan dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.
Analisis dengan komputer harus disertai dengan penjelasan mengenai prinsip cara kerja program, data masukan serta penjelasan mengenai data keluaran.
Percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritis.
Analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematis yang menstimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsur-unsurnya.
X. Sistem Struktur
a. Sistem struktur bangunan ini dapat dibagi atas dua bagian, yaitu : 1) Sistem struktur bagian atas :
Struktur lantai-lantai tingkat dipilih plat beton yang dicor monolit dengan balok-balok anak dan balok-balok portal yang dipikul oleh kolom-kolom beton bertulang. Jika dikehendaki atau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, dapat digunakan pelat balok- balok bertulang.
Struktur pendukung atap dipilih dari balok baja sayap lebar (monobeam), dengan pertimbangan sistem ini akan mampu memberikan dukungan penuh kepada arsitek untuk mengembangkan desain langit-langit (plafond). Struktur dari balok monobeam ini juga menjamin pelaksanaan yang lebih sederhana dan lebih cepat, jika dibandingkan dengan struktur rangka batang yang biasa. Untuk kecepatan pelaksanaan dan kekuatan serta kekakuan yang terjamin, gording-gording menggunakan profil tipis bentuk C yang di pabrik dibentuk dalam keadaan dingin (cold formed steel), diperkuat dengan batang-batang tarik (trekstang) pada sumbu-sumbu lemahnya.
Struktur tangga dipilih dari beton bertulang untuk menjamin kenyamanan pemakai tangga (tangga bebas dari getaran).
2) Sistem Struktur Bagian Bawah.
Untuk menjamin pondasi yang stabil dan aman dari penurunan (settlement) dan mengikat gedung ini terdiri dari satu atau dua lantai, maka untuk pondasi kolom-kolom dipilih sistem pondasi sampai mencapai lapisan tanah keras. Untuk kedalaman tanah keras lebih dari 10 m atau muka air tanah dangkal, dipilih pondasi tiang pancang mini dengan penampang segitiga. Bagian pertemuan dengan kaki-kaki kolom ditutup dengan poer beton bertulang dan disatukan dengan balok-balok kopel beton bertulang.
Untuk pondasi tembok-tembok di lantar dasar, digunakan pondasi lajur dari pasangan batu kali.
Sistem pondasi dapat ditentukan dengan lebih ekonomis dan efesien, apabila sudah diperoleh hasil penyelidikan atas kondisi dan sifat-sifat tanah dimana bangunan ini akan didirikan (tapak proyek).
Y. Persyaratan Umum Pondasi
1. Kedalaman, cukup unuk menjamin tidak ada desakan dari tanah (tidak bergeser) (min 60 cm) bebas dari perubahan musim/ gangguan alam (min 1 m) atau dibawah level scouring dan tanah organik
2. Sistem pondasi aman terhadap gesaear, guling, kapasitas dukung tanah/
settlement dan longsor massa pada daerah berbukit (banyak parameter yang tidak diketahui).
3. Pondasi aman terhadap bahan-bahan reaktif (awet), tidak boleh retak dan tidak boleh melentur berlebihan
4. Pondasi ekonomis baik dalam tinjauan struktur maupun pelaksanaan 5. Pondasi ramah lingkungan (tidak menarik bangunan sekitar akibat
settlement)
6. Pondasi fleksibel terhadap kondisi sekitar (perencana harus meninjau kondisi lapangan sebelum mendesain pondasi)
b. Desain Struktur dan Konstruksi
Desain (perancangan dan perhitungan) struktur dan konstruksi dilaksanakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia, khususnya untuk menjamin agar struktur bangunan ini memenuhi persyaratan sebagai bangunan tahan gempa.
Kriteria-kriteria desain struktur yang digunakan, adalah :
1) Kekuatan, untuk menjamin kekuatan struktur dalam memikul berbagai macam kombinasi pembebanan yang mungkin bekerja pada struktur tersebut.
2) Kekuatan, untuk menjamin kenyamanan pemakai gedung.
3) Stabil, terhadap berbagai macam kombinasi pembebanan yang mungkin terjadi pada struktur tersebut.
4) Teknis pelaksanaan pembangunannya sederhana dan cepat.
5) Ekonomis.
Desain struktur dilaksanakan sesuai dengan :
6) Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI- 1.3.53.1987, UDC : 624.042).
7) Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung (SKBI-1.3.53.1987, UDC : 699.841).
8) Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (NI-2).
9) Pedoman Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung (SKBI-1.3.53.1987, UDC : 693.814).
10) Standard Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK BNI T – 15 – 1991 – 03).
Z. Metode Perkuatan (Strengthening)
Untuk kondisi eksisting lapangan dengan bermacam variasi tipe kondisi bangunan, maka perlu juga direncanakan perbaikan kondisi bangunan saat ini sehingga memiliki kekuatan dan kondisi yang sama dengan yang baru.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kekuatan struktur dibandingkan dengan kekuatan semula.
Tindakan-tindakan yang termasuk jenis ini :
a. Menambah daya tahan terhadap beban lateral dengan jalan menambah dinding, menambah kolom, dll.
b. Menjadikan bangunan sebagai satu kesatuan dengan jalan mengikat semua unsur penahan beban satu dengan lainnya.
c. Menghilangkan sumber-sumber kelemahan atau yang dapat menyebabkan terjadinya konsentrasi tegangan di bagian-bagian tertentu :
Penyebaran letak kolom yang tidak simetris.
Penyebaran letak dinding yang tidak simetris.
Beda kekakuan yang menyolok antara lantai yang satu dengan yang lainnya.
Bukaan-bukaan yang berlebihan.
d. Menghindarkan terjadinya kehancuran getas dengan cara memasang tulangan sesuai dengan detail-detail untuk mencapai daktilitas yang cukup.
AA. Teknik Restorasi
a. Teknik Restorasi Pada Dinding
Pengisian bagian yang retak (tidak dalam) dengan adukan semen.
Jaringan kawat ayam pada bagian yang retak (dalam) b. Teknik Restorasi pada Kolom
Untuk kolom yang mengalami retak sedang, bagian yang rusak dibobok dan dibersihkan, setelah itu dicor kembali.
Untuk kolom yang rusak berat, yaitu kolom yang berkurang kekuatannya berdasarkan pengamatan dan perhitungan, bagian yang rusak dibobok dan setelah itu (kalau perlu) kolom dibungkus dengan tambahan tulangan baru dan sengkang, kemudian dicor kembali.
BB. Teknik Perkuatan
a. Teknik Perkuatan Bangunan Tembok 1) Perkuatan dengan tulangan
Gambar Perkuatan Dinding dengan Tulangan 2) Perkuatan dengan anyaman
Gambar Perkuatan Dinding dengan Anyaman
b. Teknik-Teknik Perkuatan Konstruksi Beton Bertulang 3) Tabel Teknik untuk Meningkatkan Kekuatan
4) Teknik untuk Meningkatkan Daktilitas