PERILAKU MASYARAKAT TENTANG EKSISTENSI HUTAN DI KENAGARIAN HARAU KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMA
PULUH KOTA
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA I)
Dela Friska Safitri NIM. 09030125
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Bakaruddin, MS Farida, S.Si., M.Sc
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ( STKIP ) PGRI PADANG SUMATERA BARAT
2014
THE BEHAVIOR OF THE EXISTENCE OF THE FOREST IN THE HARAU SUB DISTRICT REGENCY HARAU DISTRICT LIMA PULUH KOTA
REGION Oleh :
Dela Friska Safitri *Bakaruddin**Farida**
*Student of Geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat
** Lecturer at Geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This research aimed to obtain, analyze and discuss the data the behavior of the public about the existence of the forest in Harau Regency Harau District Lima puluh Kota Region views of : 1 ) the destruction of forests , 2 ) preservation of forests and 3 ) forest turned into fields. This type of research is classified as descriptive. Population was all the heads of families residing in Harau regency totaling 761 households. Samples were taken in two ways, sample areas were taken by purposive sampling technique, taking Jorong Harau due to close and surrounded by forests, sample respondents drawn with proportional random sampling technique with a proportion of 25 % , so that the respondent amounted to 82 households. Collecting data using guided inquiry, statistical analysis used was descriptive using percentage formula.
The results showed as follows: 1 ) the behavior of the public about the destruction of forests in Harau Regency Harau District Lima puluh Kota Region average score was 2.45 with 61,2 % of respondents achievement levels that are in fairly good criteria, (2) people's behavior about forest conservation in in Harau Regency Harau District Lima puluh Kota Region average score was 1,97 with 49,1% of respondents achievement levels that are less well on the criteria and (3) the behavior of the public the forest turned into fields in Harau Regency Harau District Lima puluh Kota Region average score was 1,71 with 40,4% of respondents rate the performance criteria are not good
Key Words: behaviour, forest conservation,
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data, menganalisis dan membahas tentang perilaku masyarakat tentang eksistensi hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota dilihat dari: 1) kerusakan hutan, 2) kelestarian hutan dan 3) hutan yang dijadikan ladang.
Jenis penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah semua kepala keluarga yang bertempat tinggal di Nagari Harau yang berjumlah 761 KK. Sampel penelitian diambil dengan dua cara, sampel wilayah diambil dengan teknik purposive sampling, dengan mengambil Jorong Harau karena dekat dan dikelilingi oleh hutan, sedangkan sampel responden diambil dengan teknik proportional random sampling dengan proporsi 25%, sehingga responden berjumlah 82 kepala keluarga. Pengumpulan data menggunakan angket terbimbing, analisa yang digunakan adalah statistik Deskriptif dengan memakai formula Persentase.
Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut; 1) perilaku masyarakat tentang kerusakan hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota skor rata-ratanya adalah 2,45 dengan tingkat capaian responden 61,2% yang berada pada kriteria cukup baik, (2) perilaku masyarakat tentang kelestarian hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota skor rata-ratanya adalah 1,97 dengan tingkat capaian responden 49,1% yang berada pada kriteria kurang baik dan (3) Perilaku masyarakat tentang hutan yang dijadikan ladang di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota skor rata-ratanya adalah 1,71 dengan tingkat capaian responden 40,4% yang berada pada kriteria kurang baik.
PENDAHULUAN
Pengertian hutan atau definisi hutan yang diberikan Dengler adalah suatu kumpulan atau asosiasi pohon-pohon yang cukup rapat dan menutup areal yang cukup luas sehingga akan dapat membentuk iklim mikro yang kondisi ekologis yang khas serta berbeda dengan areal luarnya. Hutan merupakan salah satu kekayaan Indonesia, yang merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Bentangan hutan yang kita miliki menjadi suatu rangkaian hutan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Bentang hutan ini memiliki kekayaan berupa kayu, bahan tambang dan lain sebagainya. Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional, memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Hutan di Indonesia dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa dengan kekayaan alam berupa sumber daya alam yang melimpah baik yang berada di darat maupun yang berada didalam perairan. Sumber daya alam merupakan modal dasar pembangunan nasional disegala sektor (Dephut dan Perkebunan, 1998)
Hutan mempunyai peran nyata dalam pembangunan, pernyataan ini mengandung arti bahwa pembangunan kehutanan merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, saling kait berkait dan saling ketergantungan satu sama lain (Awang, 1988 dalam Sutera Niko 2008).
Kebijaksanaan dalam bidang kehutanan dalam rangka perlindungan dan kelestarian sumber daya hutan adalah dengan mengembangkan dari pengolahan serta pengelolaan hutan.
Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penompang kehidupan dunia. Hutan di Indonesia di anugrahkan Tuhan Yang Maha Esa dengan kekayaan alam berupa sumber daya alam yang melimpah baik yang berada di darat maupun yang berada diperairan. Sumber daya alam merupakan modal dasar pembangunan nasional, sumber daya alam tersebut harus dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Hutan perlu dijamin kesinambungan, keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan baik antara manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan diketahui bahwa banyak di antara masyarakat menggunakan hutan tidak sesuai dengan fungsinya. Dimana masyarakat tidak menyadari sistem ladang berpindah dan penebangan hutan secara liar akan mengakibatkan banyak kerugian terhadap hutan di Kenagarian Harau. Akibat tersebut, hutan akan menjadi gundul dan juga bisa menyebabkan timbulnya bencana alam, seperti tanah longsor dan lain sebagainya.
Sikap masyarakat dalam menjaga hutan belum terlihat adanya sikap masyarakat untuk melestarikan hutan. Dari banyaknya masyarakat masih menganggap hutan adalah warisan yang dapat dipergunakan sesuka hati tanpa memelihara hutan tersebut.
Keadaan hutan di Kenagarian Harau mengalami perubahan, terutama perubahan fungsi hutan menjadi fungsi lain. Dimana berubah hutan menjadi ladang. Peralihan fungsi hutan ini terutama disebabkan oleh alasan ekonomi, dimana kebanyakan hutan yang berkurang tersebut di jadikan areal perladangan oleh masyarakat disekitar Kenagarian Harau.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi, menganalisis dan membahas tentang Perilaku masyarakat tentang kerusakan hutan, Perilaku masyarakat tentang kelestarian hutan, Perilaku masyarakat tentang hutan yang dijadikan ladang.
METODE PENELITIAN
penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Penelitin deskriptif adalah penelitian yang benar-benar hanya memaparkan apa yang terdapat atau terjadi dalam sebuah kancah, lapangan atau wilayah tertentu (Arikunto, 2010). Sesuai dengan jenis dan tujuan penelitian yang hendak dicapai maka data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder adalah keadaan geografis atau data yang mendukung dan menunjang dalam
penulisan. Data primer yang akan dikumpulkan berupa sikap. Data sekunder diperoleh dari Kantor Wali Nagari. Data primer di dapat dari responden atau sampel anggota rumah tangga. Data sekunder diperoleh dari wawancara, observasi dan pencatatan sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Data primer dikumpul melalui penyebaran angket dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah ditetapkan sebelumnya.
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif dengan menggunakan rumus formula persentase dikemukakan oleh Sudijono 2010 yaitu:
P= 𝒇
𝒏× 𝟏𝟎𝟎%
Ket : P = Tingkat persentase f = Frekuensi jawaban n = Jumlah sampel
Untuk menginterpretasikan hasil analisis deskriptif maka digunakan kriteria TCR dikemukakan oleh Sudjana 2001 adalah sebagai berikut:
𝑇𝐶𝑅 =𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚𝑥100%
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pertanyaan penelitian didapatkan hasil pengolahan data tentang kerusakan hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota, skor rata-ratanya adalah 2,45 dengan tingkat capaian responden 61,2% yang berada pada kriteria cukup baik dalam memperbaiki hutan.
Berdasarkan pertanyaan penelitian didapatkan hasil pengolahan data tentang perilaku masyarakat tentang kelestarian hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota, skor rata- ratanya adalah 1,97 dengan tingkat capaian responden 49,1% yang berada pada kriteria
kurang baik dalam menjaga kelestarian hutan.
Berdasarkan pertanyaan penelitian didapatkan hasil pengolahan data tentang perilaku masyarakat tentang hutan yang dijadikan ladang di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota skor rata-ratanya adalah 1,71 dengan tingkat capaian responden 40,4% yang berada pada kriteria kurang baik dalam menjaga hutan.
KESIMPULAN
a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan maka diambil kesimpulan bahwa Perilaku masyarakat tentang kerusakan hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota berada pada kriteria cukup baik dalam memperbaiki hutan, perilaku masyarakat tentang kelestarian hutan di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota berada pada kriteria kurang baik dalam menjaga kelestarian, perilaku masyarakat tentang hutan yang dijadikan ladang di Kenagarian Harau Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota berada pada kriteria kurang baik dalam menjaga hutan.
b. Saran
Adapun saran yang penulis kemukakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan kerusakan hutan yang terjadi di sekitar lingkungan sehingga dapat mengurangi dampak dari kerusakan hutan.
2. Disarankan kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan, terutama sumber daya alam hayati.
3. Diharapkan kepada pemerintah untuk meningkatkan lagi perhatiannya terhadap kelestarian dan kerusakan hutan.
4. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk melihat perilaku masyarakat
terhadap kelestarian dan kerusakan hutan dilihat dari indikator lain yang belum diteliti pada penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI.
1998 Panduan Kehutanan Indonesia.
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan.
Sudijono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sudjana, Nana. 2001. Penelitian dan penilaian pendidikan. Bandung: PT Sinar Baru Aksesindo.
Sutra, Niko (2003). Sikap Masyarakat Terhadap Perlindungan Hutan (Studi Kasus di Kenagarian Simanau Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok). Skripsi FPIPSIKIP Padang.