• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Spiritual dan Pendidikan Tsania

N/A
N/A
Pak Guru Baihaqi

Academic year: 2025

Membagikan "Perjalanan Spiritual dan Pendidikan Tsania"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Syukurilah Pemberian-Nya!

Pernikahan merupakan bagian dari ajaran Islam dan termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang beliau sebut dapat menyempurnakan separuh agama.

Namun pernikahan yang seperti itu perlu terbentuk dari perpaduan sakinah, mawaddah dan rahmah. Itulah dambaan setiap muslim dan muslimah. Karena mereka yakin akan petunjuk ilahi, dengan mengikuti syariat-Nya, akan mendapat kebahagiaan di kehidupan dunia ini, bahkan sampai di akherat kelak.

Demikian halnya yang dialami oleh Tsania, gadis enerjik kesayangan orang tuanya yang berasal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Dia mendambakan pernikahannya kelak mendapatkan seorang suami yang bisa memanjakan dirinya, memperhatikannya, dapat menjaganya serta membimbingnya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu sejak masih di SMK kelas tiga, Tsania mulai serius mempelajari ilmu agama walaupun awalnya dengan terpaksa. Mengikuti berbagai majelis ilmu atau ‘halaqah taklim’ akhirnya menjadi kegiatan rutin mingguan baginya di sela-sela waktunya belajar di sekolah.

Setamat sekolah Tsania mencoba mempraktekan ilmunya yang didapat dari SMK dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Karena dirasa berat akhirnya keluar dan memilih diam di rumah. Suatu saat ada tawaran pekerjaan di tempat lain di kotanya. Setelah dipikir daripada menganggur di rumah lebih baik bekerja walaupun gajinya tidak sebanyak ketika bekerja di perusahaan swasta sebelumnya. Ternyata ini adalah sebuah awal perjalanan seorang Tsania menempa dirinya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menuntunnya untuk menjadi wanita salehah, siap menjadi istri dambaan suami saleh, dan tentunya Allah mempersiapkannya untuk menjadi ibu rumah tangga yang bijak dalam keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah seperti yang didambakannya sejak masih di bangku SMK.

Tibalah saatnya menikah yang ditunggu-tunggu. “Ankahtuka wa zawwajtuka mahbuubataka ....” ucap Naib -sebutan bagi pegawai pencatat nikah dari KUA- kepada mempelai pria, calon suami Tsania. “Qabiltu ....” sahut Ahmad, sang mempelai pria. Sejak itulah mereka berdua sah menjadi suami istri. “Baarakallaahu laka wabaaraka ‘alaika wajama’a bainakumaa fii khoir.” pimpin sang naib mengajak hadirin ikut mendoakan sepasang pengantin yang baru saja ia nikahkan. Satu persatu keluarga, sanak saudara, rekan- rekan, dan para hadirin menyalami dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Selamat menempuh hidup baru, Tsania! Semoga tercapai apa yang kau cita-citakan.

(2)

Belum genap setahun pernikahan mereka sudah dikaruniai anak. Anak pertama laki- laki yang sering ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang setelah menikah. Karena anak-laki merupakan penerus nasab keluarga. “Alhamdulillah, Mas, anak kita telah lahir dengan selamat,” kata Tsania kepada suaminya yang baru menemuinya di rumah sakit tempat Tsania melahirkan anak pertamanya. Suaminya tidak sempat menungguinya ketika ia melahirkan karena ada acara di kota asalnya yang masih ‘tetangga’ kota asal Tsania. “Maafkan aku Dik, tidak bisa menemanimu berjuang demi kelahiran anak kita. Semoga perjuanganmu dicatat oleh Allah SWT sebagai amal saleh,” jawab Ahmad melegakan istrinya yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit.

Setelah seminggu di rumah sakit Tsania diajak pulang ke rumah orang tuanya sendiri karena lebih dekat jaraknya dari rumah sakit. “Mulai sekarang kita dipanggil Abi dan Ummi, Mas,” ucap Tsania kepada suaminya. “Iya Dik, mulai sekarang aku panggil kamu Ummi, kamu panggil aku Abi agar anak kita terbiasa mendengar ucapan panggilan yang benar kepada orang tuanya,” jawab Ahmad gembira yang disambut dengan senyum mereka berdua. Setelah beberapa minggu kesehatan Tsania sudah pulih kembali. Begitu juga dengan bayinya sudah benar-benar sehat yang sebelumnya memang ada sedikit masalah kesehatan ketika lahir.

Akhirnya mereka bertiga pulang ke kota asal Ahmad dengan pandangan masa depan yang cerah.

Tsania merasa gembira sudah punya ‘hiburan’ di rumah mertuanya dengan mengurusi bayinya. Semenjak menikah dengan Ahmad, ia ikut bersama suaminya. Ia tinggalkan pekerjaan di kota asalnya demi mengikuti suaminya sebagai imam dalam keluarga, demi menempuh kehidupan baru dan demi mewujudkan impiannya memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Walaupun dalam hati kecilnya masih ingin menikmati masa-masa indah di awal pernikahannya. Sebagaimana orang-orang pada umumnya menikmati bulan madu mereka setelah menikah. Namun Allah SWT memberikan rezeki-Nya lebih cepat dari apa yang ia bayangkan.

“Abi, ternyata inilah hikmah kita diberi momongan lebih cepat dari perkiraanku.

Belum genap dua tahun usia anak kita, Abi mendapat pekerjaan yang gajinya lebih besar dari tempat Abi bekerja sebelumnya,” ucap Tsania kepada suaminya yang sudah bekerja di tempat yang baru. Memang Ahmad diberhentikan dari tempat kerja sebelumnya dan bekerja serabutan sebelum akhirnya mendapat pekerjaan tetap di tempat yang baru. “Iya Ummi, alhamdulillah Abi diterima di tempat kerja yang baru, mudah-mudahan menjadi berkah bagi keluarga kita,”

jawab Ahmad yang disambut dengan ucapan ‘amin’ mereka berdua.

(3)

Di usia pernikahan yang masih muda ini Ahmad menyempatkan diri untuk menghadiri majelis taklim yang ada di kotanya. Terkadang mengajak istri dan anaknya untuk mengikuti pengajian rutin yang digelar setiap hari Ahad itu. Walaupun Ahmad sendiri adalah lulusan pesantren namun tidak menyurutkan niatnya untuk menuntut ilmu. “Tidak ada kata berhenti dalam menuntut ilmu selama nyawa masih dikandung badan,” pikirnya. Dalam benaknya sudah terpatri dengan kata-kata hikmah “uthlubil ilma minal mahdi ilal-lahdi”, carilah ilmu sejak dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat. Apalagi setelah menikah, banyak ilmu yang harus ia pahami. Mulai dari ilmu tentang membina berumah tangga yang berhaluan ‘baiti jannati’, ilmu cara mendidik anak secara islami, ilmu bermasyarakat dan lain-lain.

“Ummi, besok pagi kita akan menghadiri kajian tentang membina mahligai rumah tangga di pendopo kecamatan,” ujar Ahmad kepada istrinya, “tolong Ummi persiapkan segala sesuatunya karena kita akan mengajak anak juga,” lanjutnya sebelum memejamkan mata untuk istirahat malam. “Iya, Abi, insya Allah akan Ummi persiapkan semua kebutuhan untuk kegiatan kita besok pagi. Mudah-mudahan kita bisa bangun lebih awal, untuk salat malam lalu membereskan pekerjaan rumah dan menyiapkan keperluan besok pagi,” jawab Tsania sambil memejamkan matanya tanda sudah siap untuk tidur malam.

Menuntut ilmu sudah dijalani bersama, seiring perjalanan berumah tangga mereka berdua. Namun kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Praktiknya tidak semanis teori. Sehingga muncul riak-riak kecil dalam kehidupan berumah tangga. Hal ini biasa terjadi, apalagi dalam rumah tangga yang masih berusia sangat belia seperti yang dialami keluarga kecil Tsania. Penginnya sih menerapkan pendidikan islami dalam keluarga. Tetapi karena masih tinggal serumah dengan mertua, membuat keinginannya tidak bisa terwujud secara maksimal. Bahkan sikap mertua yang dipandang berseberangan dengan visinya membuatnya patah semangat dan semakin jauh dari kata ‘berhasil’.

“Abi, kalau kita masih tetap tinggal serumah dengan orang tua, kita tidak bisa menerapkan pendidikan anak secara islami dengan baik,” tegas Tsania bernada protes.

“Kalau sekarang harus membuat rumah sendiri uangnya belum cukup. Kita coba dulu aja di rumah ini dengan berkomunikasi dengan orang tua, siapa tahu mereka mau memahami kemauan kita,” jelas Ahmad mencoba memberi solusi kepada istrinya.

“Tidak mau …! Pokoknya kalau mau program kita berjalan dengan baik mulai sekarang harus pisah rumah dengan mereka,” seru Tsania.

“Lha terus solusinya kita mau tinggal di mana?” balas Ahmad.

“Ya … terserah kamu! Cari kontrakan kek, atau apalah …,” pungkas Tsania berharap mendapat penyelesaian dari permasalahan yang sedang mereka hadapi.

(4)

Akhirnya mereka mengontrak rumah di tempat yang tidak jauh dari rumah orang tua Ahmad. Di sana mereka mulai menata kehidupan berumah tangga dengan program yang sudah mereka rencanakan bersama dan memulai belajar bermasyarakat dengan lingkungan masyarakat yang baru. “Terima kasih, Abi, sudah mencarikan solusi terbaik buat keluarga kita,” ucap Tsania berterima kasih kepada suaminya. “Iya, sama-sama. Semoga kamu kerasan tinggal di sini dan bisa fokus untuk menjalankan rencana kita,” jawab Ahmad penuh harap.

Tsania mulai mendidik putranya yang sudah berusia tiga tahun dengan dukungan penuh dari suaminya. Mereka juga masih tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua Ahmad dengan sesekali bersilaturahmi kepada mereka. Kadang sebaliknya orang tua Ahmad yang mengunjungi mereka berdua di rumah kontrakan. Di tempat kontrakan ini juga mereka mendapat amanah lagi dengan lahirnya putra yang kedua. Orang tua Ahmad pun ikut senang dan mendoakan, “Baarakallaahu laka fil mauhuubi laka, wa syakarta al-waahiba, wa balagha asyuddahu, wa ruziqta birrahu,” semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak.

Setelah menjalani kehidupan selama lima tahun di kontrakan mereka sepakat untuk membuat rumah sendiri di samping rumah orang tua Ahmad. Dengan mengumpulkan modal dana dan mencicil pembelian bahan bangunan serta menerapkannya secara berkala akhirnya rumah berukuran 6 x 10 m2 siap dihuni. Dengan diantar oleh para tetangga di rumah kontrakan mereka berangkat menuju rumah baru Ahmad dengan perasaan haru. Di satu sisi mereka senang Ahmad sudah bisa membuat rumah sendiri dan tidak mengontrak lagi. Namun di sisi lain mereka dengan berat hati melepas kepergian Ahmad dan keluarganya karena sudah terjalin komunikasi yang baik dengan mereka selama di lingkungan tempat kontrakan.

“Alhamdulillah, Ummi sudah siap mentalnya untuk kembali ke lingkungan orang tuaku,” kata Ahmad mengawali pembicaraan dengan istrinya di rumah barunya itu.

“Iya, Abi, itu juga berkat dukungan dan perhatian dari Abi,” jawab Tsania memuji suaminya.

“Mudah-mudahan Ummi lebih kerasan lagi di rumah ini karena kita akan melanjutkan program keluarga kita di sini,” pinta Ahmad kepada istrinya, “dan kita akan menjalin komunikasi lagi dengan masyarakat di lingkungan sini,” lanjutnya.

“Terima kasih, Abi, sudah membuatkan rumah yang indah dan nyaman buat keluarga kita, dan sudah mendoakan Ummi. Semoga Abi juga diberi kesehatan, ketabahan, dan rezeki yang halal,” jawab Tsania dengan disambut ucapan ‘amin’ mereka berdua.

(5)

Kegiatan rutin Tsania masih fokus memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

Mengajari mereka membaca, menulis, menghafal surat-surat pendek, mendidik adab dan sopan santun serta keterampilan lainnya. Disamping pekerjaan rumah tangga yang masih bisa dikerjakan sendiri, Tsania juga mulai mengasah keterampilannya kembali ilmu yang didapat di bangku sekolah. Minimal bisa diterapkan untuk kebutuhan keluarganya sendiri.

Ahmad yang sudah bekerja selama lima tahun di tempat kerja yang terakhir kini dimutasi ke tempat yang baru. Ternyata ia dipromosikan untuk menjadi kepala kantor di tempat itu. Setelah setahun bekerja di tempat baru itu ia resmi diangkat menjadi kepala kantor.

Walaupun ada pegawai yang meragukan kemampuannya, Ahmad tetap berusaha melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Setelah dua periode menjabat sebagai kepala kantor, terlihat kemajuan yang signifikan di lembaga tersebut. Kini, Ahmad sudah dimutasi lagi ke tempat kerja yang baru lagi dan kepemimpinan lembaga yang ditinggal itu diserahkan kepada pegawai yang sempat meragukan kemampuan manajerial Ahmad. Semoga beliau bisa melanjutkan kemajuan apa yang sudah dirintis oleh Ahmad.

Di lingkungan tempat tinggal Ahmad juga dipercaya menjadi ketua sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) di bidang dakwah karena ia memiliki basic pesantren. Walaupun hanya di tingkat ranting, ormas ini perlu penanganan yang serius karena sasarannya adalah masyarakat yang heterogen. Satu periode dipimpin oleh Ahmad ormas ini menunjukkan dinamika pergerakan yang sehat. Kegiatan rutin berjalan lancar, kegiatan sosial menunjukkan peningkatan, kegiatan ibadah pun mulai tertata. Kini, kepemimpinan itu dilanjutkan oleh orang lain karena Ahmad sudah menjadi anggota pimpinan di tingkat cabang.

Semenjak menikah dengan Tsania, Ahmad yang pernah belajar di pesantren selama enam tahun mulai memperlihatkan prestasi kepondokannya. Mulai dari juara ketiga lomba khotbah nikah tingkat kabupaten, juara pertama lomba kaligrafi tingkat kabupaten, bahkan pernah mendapatkan juara kedua pada lomba penulisan naskah khutbah jum’at tingkat nasional. Di masa pendemi ini juga mengukir prestasi dengan lulus mengikuti kursus Microsoft 365 tingkat Jawa Tengah, masuk sepuluh besar peserta kursus desain poster dakwah tingkat nasional dan menuju babak selanjutnya masuk kelas editing video. Tsania, istri Ahmad selama mendampinginya selalu bergumam, “Ternyata suamiku serba bisa ….”

Orang tua Tsania pernah berkata kepadanya, “Tsania anakku, bersyukurlah kamu mendapatkan suami yang saleh dan serba bisa. Dia orangnya baik, perhatian sama kamu, pintar, bahkan disuruh apa saja bisa. Membetulkan pintu kamar mandi, membuat meja, akuarium, memperbaiki alat elektronik yang rusak … pokoknya bisa semua. Kamu harusnya tambah sayang sama dia, rawatlah suamimu dengan baik, agar kalian tetap saling menyayangi.”

(6)

Orang tua Tsania melanjutkan penuturannya, “Alhamdulillah, doa ibu sudah dikabulkan oleh Allah, Nak. Karena ibu paling khawatir dengan kamu, ibu selalu berdoa untukmu mudah-mudahan kamu dipertemukan jodohmu yang mengerti kamu dan sayang kepadamu. Ternyata Allah berikan Ahmad untukmu.”

Ahmad juga bersyukur mendapatkan jodoh Tsania yang pernikahannya kini sudah berjalan selama 18 tahun. Sosok anak manja yang selalu minta diperhatikan orang tua. Seiring berjalannya waktu bisa merubah dirinya menjadi wanita salehah yang gigih untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidupnya. Wanita yang rela waktunya disibukkan untuk mengurusi rumah tangganya. Ternyata Tsania juga pintar memasak, bisa membuat suaminya selalu merindukan masakannya. Apa yang dihidangkannya selalu mendapat pujian ‘enak’ dari suami dan anak- anaknya. Inilah diantara penyebab suaminya betah tinggal di rumah. Di rumah serasa di surga.

Baiti, jannati.

Ya Allah, berkahilah keluarga bahagia ini, limpahkanlah nikmat-Mu kepada mereka, dan berikanlah ridha-Mu atas apa yang mereka kerjakan. Amin.

(7)

Dwi SM, lahir di Semarang, pada tanggal 19 Januari. Berasal dari keluarga yang sederhana. Anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini tinggal di Kendal bersama suami dan tiga anaknya. Memiliki hobi membuat kerajinan dari bahan daur ulang. Aktifitas sehari-hari mengurusi rumah tangga dan menekuni bidang jasa menjahit. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin adalah motto hidupnya sebagai salah satu penyemangat membina keluarga bahagia, dengan harapan generasi penerus keturunan dari keluarga ini harus lebih baik daripada orang tuanya. Motivasi menulis agar bisa menuangkan ide-ide pemikiran melalui tulisan dan bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Terima kasih saya ucapkan kepada suamiku tercinta atas bimbingannya dan juga kepada admin grup menulis event baiti jannati.

Referensi

Dokumen terkait

kaidah-kaid.ah nilai dan norma terse,but terarah kepada kondisi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah kehidupan yang berkarakter. Dalam

Laporan Tugas Akhir ini mengkaji tentang apa yang melatarbelakangi berdirinya Biro Perjalanan Wisata Khusnudhon Spiritual Tour dan juga dijelaskan langkah strategis

Orang yang beriman kepada Kitab Allah akan senaniasa meyakini bahwa ajaran Allah itu adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.. G

tujuan pemberian bantuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dalam bimbingan konseling islam dengan menggunakan terapi realitas yang dilakukan dengan

Dakwah merupakan kebutuhan pokok rohani umat Islam. Dakwah memiliki perang penting untuk membawa umat islam mennuju kebahagiaan dunia akhirat. Penyampaian dakwah

Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus melalui bebrapa tahapan salah satunya pendidikan dan pengajaran untuk memperoleh pengetahuan (ilmu) yang

Muhammad Rasyid Ridha berpandangan tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk memahami ajaran Islam yang sebenarnya, mencakup penguasaan terhadap aspek spiritual dan kemakmuran dunia,

Sumber etika dalam Islam berasal dari Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman hidup manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan