• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjanjian yang Dilarang materi ke 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Perjanjian yang Dilarang materi ke 3"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

Perjanjian yang Dilarang

materi ke 3

(2)

Pada bagian ini secara khusus akan dibahas mengenai pengaturan perjanjian yang dilarang

menurut Pasal 1 angka (7) Undang-undang No.5/1999

• perjanjian didefinisikan sebagai: “Suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.”

• Sedangkan menurut Pasal 1313 Kitab Undang- undang Hukum Perdata, Perjanjian hanya didefinisikan : “Suatu perbuatan dengan mana 1 (satu) orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap 1 (satu) orang lain atau lebih.”

(3)

• Pasal 1233 KUH Perdata dikatakan bahwa suatu perikatan ada yang lahir karena perjanjian dan ada yang dilahirkan karena undang-undang.

• Suatu prestasi dalam suatu perikatan menurut Pasal 1234 KUH Perdata dapat berupa 3 macam.

Pertama kewajiban untuk memberikan sesuatu.

Kedua, kewajiban untuk berbuat sesuatu, dan ketiga kewajiban untuk tidak berbuat sesuatu.

(4)

• Prof. Wirjono menafsirkan perjanjian sebagai perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak dalam hal mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk

melakukan sesuatu hal atau untuk tidak

melakukan suatu hal, sedang pihak lainnya

berhak menuntut pelaksanaan dari perjanjian itu.

• Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perjanjian, (Bandung: PT. Eresto,1989) p. 9.

(5)

• Sedangkan Prof. Subekti menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu peristiwa, dimana seseorang berjanji kepada orang lain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk

melaksanakan sesuatu hal.

R. Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta:

Intermasa,1985) p. 1.

(6)

• Dengan adanya definisi perjanjian yang dirumuskan oleh Undang-undang No.5/1999, dapat diartikan bahwa perjanjian yang tidak tertulispun dapat diakui atau digunakan sebagai alat bukti di pengadilan, dimana sebelumnya perjanjian tidak tertulis umumnya sulit untuk diterima sebagai alat bukti di pengadilan, karena biasanya pengadilan hanya mau menerima suatu perjanjian sebagai alat bukti jika perjanjian tersebut dibuat secara tertulis saja.

(7)

• Seandainya pengadilan hanya mau menerima perjanjian tertulis saja sebagai alat bukti yang dapat dipergunakan di pengadilan, mungkin perkara- perkara pelanggaran terhadap Undang-Undang Persaingan Usaha sulit untuk ditindak karena biasanya sangat sulit untuk menemukan bukti tertulis mengenai suatu perjanjian yang dikategorikan melanggar Undang-Undang Persaingan Usaha.

(8)

Undang-undang Nomor 5/1999 mengatur beberapa perjanjian yang dilarang untuk dilakukan oleh pelaku usaha, yaitu:

1) Oligopoli (Pasal 4 UU No.5/1999);

2) Penetapan harga

a. price fixing (Pasal 5 UU No.5/1999);

b. Diskriminasi harga / price discrimination (Pasal 6 UU No.5/1999);

c. Predatory Pricing (Pasal 7 UU No.5/1999);

d. Resale Price Maintenance (Pasal 8 UU No.5/1999);

3) Pembagian wilayah / market division (Pasal 9 UU No.5/1999);

4) Pemboikotan (Pasal 10 UU No.5/1999);

5) Kartel (Pasal 11 UU No.5/1999);

6) Trust (Pasal 12 UU No.5/1999);

(9)

7) Oligopsoni (Pasal 13 UU No.5/1999) ;

8) Integrasi vertikal (Pasal 14 UU No.5/1999);

9) Perjanjian Tertutup

• a. exclusive distribution agreement (Pasal 15 ayat (1) UU No.5/1999);

• b. tying agreement (Pasal 15 ayat (2) UU No.5/1999);

• c. vertical agreement on discount (Pasal 15 ayat (3) UU No.5/1999);

10) Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri.

(10)

1) Oligopoli

Pasal 4

(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama- sama melakukanpenguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa, sebagaimana dimaksud ayat (1), apabila 2 (dua) atau 3 (tiga) pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

(11)

• Teori oligopoli memiliki sejarah yang cukup panjang.

Istilah oligopoly pertama kali digunakan oleh Sir Thomas Moore dalam karyanya pada tahun 1916, yaitu “Utopia”

• Dalam karya tersebut dikatakan bahwa harga tidak harus berada pada tingkat kompetisi ketika perusahaan di pasar lebih dari satu.

Sumber :

• Carl Shapiro, “Theories of Oligopoly Behavior”, Handbook of Industrial Economics eds. R.

Schmalensee, and R.D Willig, Vol. 2. (North-Holland, Amsterdam, 1989) p.303.

(12)

Karakteristik Pasar Oligopoli

1. Terdapat Beberapa Penjual (Few Sellers) 2. Saling Ketergantungan (Interdependence)

(13)

• Perlu ditekankan disini bahwa bentuk pasar

oligopoli bukanlah merupakan hal yang luar biasa, oligopoli terjadi hampir di semua negara. Oligopoli menurut ilmu ekonomi merupakan salah satu

bentuk struktur pasar, dimana di dalam pasar

tersebut hanya terdiri dari sedikit perusahaan (few sellers).

• Setiap perusahaan yang ada di dalam pasar tersebut memiliki kekuatan yang (cukup) besar untuk

mempengaruhi harga pasar dan perilaku setiap perusahaan akan mempengaruhi perilaku

perusahaan lainnya dalam pasar.

(14)

• Pasal 4 Undang-undang No.5/1999 merupakan pasal yang ditafsirkan menggunakan prinsip Rule of Reason, oleh karena itu sebenarnya pelaku

usaha tidak dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama

melakukan penguasaan produksi dan/atau

pemasaran barang dan/atau jasa atau membuat perjanjian oligopoli selama tidak mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat dan mempunyai alasan-alasan yang dapat diterima sebagai dasar pembenar dari perbuatan mereka tersebut.

(15)

• Namun demikian pada umumnya perjanjian

oligopoli dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal ini disebabkan dalam oligopoli sangat mungkin terjadi perusahaan-perusahaan yang ada akan saling

mempengaruhi untuk menentukan harga pasar,

menentukan angka produksi barang dan jasa, yang kemudian dapat mempengaruhi perusahaan

lainnya, baik yang sudah ada (existing firms)

maupun yang masih di luar pasar (potential firms).

(16)

• Terjadinya kerjasama atau kolusi pada pasar oligopoli dapat terjadi secara sengaja atau secara diam-diam tanpa adanya kesepakatan diantara para pelaku usaha (tacit collusion). Kolusi secara diam-diam dapat terjadi karena adanya ”meeting of mind” diantara para pelaku usaha untuk kebaikan mereka bersama untuk menetapkan harga atau produksi suatu barang. Kolusis yang seperti ini disejajarkan dengan kolusi karenanya dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha

(17)

Selanjutnya pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri yang membutuhkan capital intensive dan keahlian tertentu seperti mobil, semen, kertas, dan peralatan mesin, dimana di dalam proses produksinya baru akan tercapai tingkat efesiensi (biaya rata-rata minimum) jika di produksi dalam skala besar.

Dengan demikian, perjanjian oligopoli dapat saja mempunyai alasan-alasan yang dapat diterima dan tidak menimbulkan akibat yang begitu merugikan. Oleh karena itu Pasal 4 Undang-undang No.5/1999 yang mengatur mengenai oligopoli dirumuskan secara Rule of Reason, agar penegak hukum dalam menegakan Undang-undang Persaingan Usaha dapat mempertimbangkan secara baik, apakah oligopoli yang terjadi merupakan suatu hal yang alamiah (industri yang memiliki capital intensiveyang tinggi), atau mempunyai alasan-alasan yang dapat diterima, ataukah perjanjian oligopoli tersebut dibuat hanya bertujuan sekedar untuk membatasi persaingan belaka.

(18)

Pasal 5-6 UU NO.5 THN 1999

(19)

Bagian Kedua Penetapan Harga

Pasal 5

(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan

pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh

konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi:

a. suatu perjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patungan; atau

b. suatu perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku.

(20)

• Apabila dilihat dari rumusnya, maka pasal yang mengatur mengenai penetapan harga ini dirumuskan secara per se illegal, sehingga penegak hukumdapat langsung menerapkan pasal ini kepada pelaku usaha yang melakukan perjanjian penetapan harga tanpa harus mencari alasan-alasan mereka melakukan perbuatan tersebut atau tidak diperlukan membuktikan perbuatan tersebut menimbulkan terjadinya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat.

(21)

Pasal 5 ayat (1) Undang-undang No.5/1999 sebenarnya kurang memberikan penjelasan mengenai seperti apa penetapan harga yang dimaksudkan oleh undang-undang, apakah penetapan harga maksimum atau penetapan harga minimum? Atau termasuk syarat-syarat pembayaran yang lain? Karena yang biasanya yang menjadi permasalahan dalam praktek usaha sehari-hari adalah penetapan harga minimum.

Karena terkadang penetapan harga maksimum, yang biasanya sering dilakukan pemerintah, tujuannya

adalah untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, bukan bertujuan untuk menghindari persaingan diantara pelaku usaha.

(22)

Lebih lanjut menurut Pasal 5 ayat (2) Undang-undang No.5/1999 sebenarnya tidak semua price fixing agreement dilarang, untuk suatu perjanjian price fixing yang dibuat dalam suatu usaha patungan dan yang didasarkan kepada undang-undang yang berlaku, price fixing tidak dilarang.

Mengenai pengecualian pemberlakuan ketentuan penetapan harga terhadap suatu perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku tidak menjadi permasalahan karena sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa ketentuan dari suatu undang-undang dapat mengecualikan pemberlakuan undang-undang persaingan usaha, tetapi yang jadi permsalahan adalah pengecualian pemberlakuan ketentuan mengenai penetapan harga terhadap suatu perjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patungan.

(23)

Mengenai perumusan aturan price fixing di dalam Pasal 5 ayat (1) UU No.5/1999 yang dirumuskan secara Per se dapat dikatakan sudah tepat, karena memang hampir sebagian besar Undang-Undang Persaingan Usaha di beberapa negara merumuskan price fixing secara Per se, namun walaupun begitu terkadang hakim dalam menggunakan ketentuan ini pun menerapkan secara rule of reason.

(24)

• Apabila kita lihat perumusan Pasal 5 ini, maka

ketentuan dalam pasal ini dapat ditafsirkan secara per se illegal. Artinya apabila telah terbukti adanya perjanjian mengenai harga atas suatu barang atau jasa, maka perbuatan tersebut secara otomatis

telah bertentangan dengan ketentuan dalam pasal dimaksud, tanpa perlu melihat alasan-alasan dari pelaku usaha melakukan perbuatan tersebut.

Putusan KPPU ini adalah tepat, karena kesepakatan harga yang dilakukan oleh para pelaku usaha dalam kasus ini jelas-jelas telah terbukti dan akan

merugikan konsumen.

(25)

Pasal 6 Undang-Undang No.5/1999 melarang setiap perjanjian diskriminasi harga tanpa memperhatikan tingkatan yang ada pada diskriminasi harga, dimana

bunyi dari pasal tersebut antara lain Pasal 6

• Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang

mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama.

(26)

• Dengan adanya praktek yang seperti disebutkan Pasal 6 Undang-undang No.5/1999 dapat menyebabkan pembeli tertentu (dimana pembeli tersebut merupakan pelaku usaha juga) yang terkena kewajiban harus membayar dengan harga yang lebih mahal dibandingkan pembeli lain (yang juga merupakan pelaku usaha) yang sama-sama berada dalam pasar yang sama, dapat menyebabkan pembeli yang mengalami diskrimisasi tersebut tersingkir dari pasar.

(27)

Memasukkannya ketentuan mengenai diskriminasi harga ke dalam kelompok perjanjian sulit dicarikan dasar argumentasinya, bahkan dalam praktek pun

ketentuan ini jarang terjadi, karena biasanya tindakan diskriminasi harga merupakan tindakan yang sepihak

dari seorang pelaku usaha (penjual), dan sangat jarang dilakukan berdasarkan atau melalui suatu perjanjian.

dan hal ini dapat menjadi kendala bagi penegak hukum untuk menegakkan ketentuan diskriminasi harga ini

karena sebagian besar praktek diskriminasi harga yang terjadi tidak berdasarkan perjanjian. Jadi lebih mudah apabila ketentuan ini tidak dimasukan dalam kelompok perjanjian yang dilarang.

(28)

Bila melihat kepada rumusan Pasal 6 Undang-Undang No.5/1999, ketentuan yang mengatur mengenai diskriminasi harga ini, diatur secara Per Se, sehingga berakibat pelaku usaha yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Pasal 6 tersebut dapat dijatuhi sanksi hukum oleh penegak hukum tanpa terlebih dahulu melihat bahwa yang dilakukan tersebut menimbulkan akibat tertentu atau tidak. Dalam praktek, Pasal 6 UU No.5/1999 tidak mudah untuk dibuktikan, karena menurut teori, diskriminasi harga selalu dimungkinkan jika ada perbedaan volume pembelian, waktu, dan jarak antara penjual dengan pembeli.

Dan di dalam pasal tersebut juga tidak di jelaskan dengan siapa pelaku usaha membuat perjanjian, apakah dengan sesama pelaku usaha ataukah dengan pembeli?.

(29)

Perjanjian diskriminasi harga adalah perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya dimana untuk suatu produk yang sama dijual kepada setiap konsumen dengan harga yang berbeda-beda.

Secara sederhana, suatu diskriminasi harga telah terjadi apabila terjadi perbedaan harga antara satu pembeli dengan pembeli lainnya. Namun demikian, dapat terjadi bahwa diskriminasi harga tersebut

disebabkan karena adanya perbedaan biaya atau karena kebutuhan persaingan lainnya seperti biaya iklan dan lain-lain.

(30)

Terdapat beberapa syarat untuk terjadinya diskriminasi harga yaitu:

1) Para pihak haruslah mereka yang melakukan kegiatan bisnis, sehingga diskriminasi harga akan merugikan apa yang disebut “primary line” injury yaitu dimana diskriminasi harga dilakukan oleh produsen atau grosir terhadap pesaingnya. Begitu pula diskriminasi harga dapat pula merugikan “secondary line” apabila diskriminasi harga dilakukan oleh suatu produsen terhadap suatu grosir, atau retail yang satu dan yang lainnya mendapatkan perlakuan khusus. Hal ini akan menyebabkan grosir atau retail yang tidak disenangi tidak dapat berkompetisi secara sehat dengan grosir atau retail yang disenangi.

(31)

2) Terdapat perbedaan harga baik secara lagsung maupun tidak langsung, misalnya melalui diskon, atau pembayaran secara kredit, namun pada pihak lainnya harus cash dan tidak ada diskon.

3) Dilakukan terhadap pembeli yang berbeda. Jadi dalam hal ini paling sedikit harus ada dua pembeli.

4) Terhadap barang yang sama tingkat dan kualitasnya.

5) Perbuatan tersebut secara substansial akan merugikan, merusak atau mencegah terjadinya persaingan yang sehat atau dapat

menyebabkan monopoli pada suatu aktifitas perdagangan.

(32)

• Apabila kita lihat rumusan pasal diatas, maka nampaknya pembuat undang-undang tidak membedakan siapa pembelinya, apakah

perseorangan ataukah pelaku usaha. Menurut hemat penulis, karena yang dilihat disini adalah pengaruhnya terhadap persaingan usaha, maka yang dimaksudkan pembeli disini akan lebih

tepat kalau hanya meliputi pelaku usaha.

(33)

• Dengan adanya praktek diskriminasi harga seperti dirumuskan dalam Pasal 6 Undang-undang No.5/1999, maka dapat menyebabkan pembeli tertentu (dimana pembeli tersebut merupakan pelaku usaha juga) terkena kewajiban harus membayar dengan harga yang lebih mahal dibandingkan pembeli lain (yang juga merupakan pelaku usaha) yang sama-sama berada dalam pasar yang sama, sehingga dapat menyebabkan pembeli yang mengalami diskriminasi tersebut tersingkir dari pasar karena dia akan kalah bersaing dengan pelaku usaha lainnya yang memperoleh harga yang lebih rendah.

(34)

• Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana

penerapan Pasal 4, 5, 6 ini dalam kasus yang pernah terjadi. Salah satu kasus yang pernah diputus oleh KPPU mengenai oligopoli ini

adalah Putusan No. 10/KPPU-L/2005

mengenai perdagangan garam ke Sumatera Utara.

(35)

1. Terlapor I, Perseroan Terbatas Garam (Persero) (PT Garam) yang beralamat kantor di Jl. Raya Kalianget 9, Sumenep, Madura 69471; -

2. Terlapor II, Perseroan Terbatas Budiono Madura Bangun Perkasa (PT Budiono), yang beralamat kantor di Jl. Raya Tlanakan KM 8, Pamekasan, Madura; -

3. Terlapor III, Perseroan Terbatas Garindo Sejahtera Abadi (PT Garindo), yang beralamat kantor di Jl. Perak Barat Nomor 281, Surabaya;-

4. Terlapor IV, Perseroan Terbatas Graha Reksa Manunggal (PT Graha Reksa), yang beralamat kantor di Jl. Kol. Sugiono No.

40 (6A/B), Medan 20151;-

(36)

• PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD

Jangkar Waja dan UD Sumber Samudera yang dikenal dengan istilah ‘G4’

• PT Garam, PT Budiono dan PT Garindo yang dikenal dengan istilah ‘G3’

(37)

5. Terlapor V, Perseroan Terbatas Sumatera Palm Raya (PT Sumatera Palm), yang beralamat kantor di Jl.

Timor Nomor 10 OO, Medan 20151; -

6. terrlapor VI, Usaha Dagang Jangkar Waja (UD Jangkar Waja), yang beralamat kantor di Jl. Medan - Belawan KM 7,9 (Jl. Rumah Potong Hewan No. 31), Medan Deli, Sumatera Utara 20242;

7. Terlapor VII, Usaha Dagang Sumber Samudera (UD

Sumber Samudera), yang beralamat kantor di Jl. Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang,

Sumatera Utara;

(38)

Kasus bermula dari laporan tentang adanya kesulitan melakukan pengiriman garam bahan baku ke Sumatera Utara selain juga ada kesulitan melakukan pembelian garam bahan baku di Sumatera Utara. Dalam kasus ini yang menjadi Terlapor adalah PT. Garam, PT Budiono, dan PT Garindo dengan PT Graha Reksa, PT Sumatra Palm, UD. Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudera.

Dari pemeriksaan ditemukan bahwa kebutuhan garam bahan baku

di Sumatera Utara hanya dipasok oleh PT Garam, PT Budiono dan PT Garindo. Sebagian besar pasokan garam bahan baku dibeli oleh G4 dari G3. Penguasaan pembelian garam bahan baku yang dipasok oleh G3 ke Sumatera Utara oleh G4 mencerminkan struktur pasar yang bersifat oligopsoni. G3 dan G4 secara bersama menguasai lebih dari 75% pangsa pasar garam di Sumatra Utara. Bahwa jumlah garam bahan baku yang dikirim oleh G3 ke S

(39)

Bahwa jumlah garam bahan baku yang dikirim oleh G3 ke Sumatera Utara hanya disesuaikan dan atau ditentukan berdasarkan pada jumlah permintaan G4 dan sesama G3 lainnya saja. Tindakan penyesuaian jumlah pasokan garam

bahan baku tersebut mengakibatkan kebutuhan garam bahan baku selalu terpenuhi oleh G4 dan sesama G3 lainnya. Juga ditemukan apabila jumlah garam bahan baku yang dikirim ke Sumatera Utara melebihi jumlah permintaan G4 dan sesama G3 lainnya maka kelebihan tersebut selalu dititipk an ke gudang G4 yang juga dikenal dengan istilah sistem titip simpan dan titip jual karena G3 tidak dikenakan sewa gudang dan G4 baru akan membayar kelebihan tersebut setelah garam bahan baku yang dititipkan tersebut terjual. Bahwa tindakan penyesuaian jumlah pasokan serta tindakan pengontrolan atas kelebihan jumlah

pengiriman tersebut dilakukan oleh semua anggota G3 dan G4 secara sistematis, teratur dan telah berlangsung lama.

(40)

• KPPU memutuskan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 4 Undang- undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

• Putusan KPPU ini telah tepat karena walaupun tidak terdapat perjanjian secara tertulis, namun dengan adanya koordinasi antara para Terlapor dan juga danya kerjasama menitipkan barang yang berlebih pada Terlapor lainnya telah membuktikan adanya kerjasama ataupun perjanjian antar Pelaku usaha.

(41)

Struktur Pasar Garam Bahan Baku di Sumatera Utara Bersifat Oligopolistik;

2.1.1 Pasokan Garam Bahan Baku ke Sumatera Utara ---

2.1.1.1 Bahwa kebutuhan garam bahan baku di Sumatera Utara hanya dipasok oleh PT Garam, PT Budiono dan PT Garindo; ---

2.1.1.2 Bahwa dengan demikian ketiga perusahaan tersebut menguasai keseluruhan pasokan garam bahan baku ke Sumatera Utara;---

2.1.1.3 Bahwa penguasaan pasokan hanya oleh 3 (tiga) pelaku usaha tersebut mencerminkan struktur pasar yang bersifat oligopolistik;

2.1.2 Pembelian Garam Bahan Baku dari G3----

2.1.2.1 Bahwa sebagian besar pasokan garam bahan baku dibeli oleh G4

sebagaimana telah diuraikan pada butir 1.3.2.5 dan 1.3.2.6 Bagian Tentang Hukum;

2.1.2.2 Bahwa penguasaan pembelian garam bahan baku yang dipasok oleh G3 ke Sumatera Utara oleh G4 mencerminkan struktur pasar yang bersifat oligopsoni;

2.1.3 Pemasaran garam bahan baku di Sumatera Utara ---

2.1.3.1 Bahwa pemasaran garam bahan baku di Sumatera Utara hanya dilakukan oleh G3 dan G4;---

2.1.3.2 Bahwa penguasaan pemasaran garam bahan baku oleh G3 dan G4 di Sumatera Utara mencerminkan struktur pasar yang bersifat oligopolistik;

(42)

2.6.3 Dampak Bagi Kepentingan Umum dan atau Konsumen;- 2.6.3.1 Bahwa adanya sistem pemasaran garam bahan baku yang

diterapkan G3 dan G4 berakibat jumlah garam bahan baku yang masuk ke Sumatera Utara selalu dikontrol oleh G3 dan G4;

2.6.3.2 Bahwa dengan adanya pengontrolan tersebut konsumen hanya dapat membeli atau memenuhi kebutuhannya dari G3 dan G4 dengan harga yang relatif lebih tinggi dan atau membayar margin keuntungan G3 dan G4 yang tidak wajar;

2.6.3.3 Bahwa garam bahan baku yang diperoleh konsumen dari G3 dan G4 digunakan lebih lanjut untuk keperluan industri pengasinan ikan, industri makanan, industri garam konsumsi beriodium serta industri lainnya;---

2.6.3.4 Bahwa dengan biaya garam bahan baku yang relatif lebih tinggi maka harga produk yang mempergunakan garam bahan baku menjadi lebih mahal;

2.6.3.5 Bahwa dengan demikian konsumen dan masyarakat umum harus membayar harga garam lebih mahal dan tidak wajar sehingga

mengakibatkan kerugian bagi kepentingan umum

(43)

Pasal 4 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, mengandung

unsur-unsur sebagai berikut: - 3.2.1 Pelaku usaha; -

3.2.1.1 Bahwa yang dimaksud pelaku usaha berdasarkan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan

berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha;

3.2.1.2 Bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudera sebagaimana diuraikan dalam butir 1.1 Bagian Tentang Hukum adalah pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada butir 3.2.1.1 tersebut; ---

3.2.1.3 Bahwa dengan demikian unsur pelaku usaha terpenuhi;

(44)

3.2.2 Perjanjian untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan pemasaran barang; --- 3.2.2.1 Bahwa yang dimaksud perjanjian berdasarkan

Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih

pelaku usaha lain dengan nama apa pun, baik tertulis maupun tidak tertulis; ---

3.2.2.2 Bahwa dalam memasok garam bahan baku ke Sumatera Utara, anggota G3 bersepakat untuk

mengatur jumlah pasokan, untuk menyalurkan garam bahan baku sebagian terbesar ke G4 dan

menetapkan harga kepada G4;

(45)

3.2.2.3 Bahwa kesepakatan tersebut mengakibatkan

keteraturan dan keseragaman jumlah pasokan dan kebijakan harga sebagaimana diuraikan pada butir 2.2 Bagian Tentang Hukum;---

3.2.2.4 Bahwa dengan struktur pasar garam bahan baku di Sumatera Utara yang bersifat oligopolistik sebagaimana diuraikan dalam butir 2.1 Bagian Tentang Hukum maka

rangkaian tindakan G3 dan G4 sebagaimana diuraikan pada butir 2.2 Bagian Tentang Hukum mengakibatkan tidak

mungkin ada pesaing baru di pasar bersangkutan sehingga rangkaian tindakan tersebut merupakan perjanjian untuk secara bersama-sama mempertahankan penguasaan

pemasaran garam bahan baku di Sumatera Utara; ---

3.2.2.5 Bahwa dengan demikian unsur perjanjian untuk secara bersamasama melakukan penguasaan pemasaran barang terpenuhi;

(46)

3.2.3 Pelaku Usaha Lain; ---

3.2.3.1 Bahwa yang dimaksud dengan pelaku usaha lain adalah pelaku usaha yang ikut bersepakat dan

mengikatkan diri serta ikut mempertahankan sistem pemasaran tersebut; ---

3.2.3.2 Bahwa PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo merupakan pelaku usaha lain diantara mereka sendiri yang melakukan pemasaran garam bahan baku ke

Sumatera Utara;

3.2.3.3 Bahwa PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD

Jangkar Waj dan UD Sumber Samudera merupakan pelaku usaha lain bagi PT. Garam, PT Budiono, dan PT Garindo

dalam pemasaran garam bahan baku di Sumatera Utara;

Bahwa dengan demikian unsur pelaku usaha lain terpenuhi

(47)

3.2.4 Mengakibatkan Praktek Monopoli --- 3.2.4.1 Bahwa yang dimaksud dengan Praktek Monopoli

berdasarkan

Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau

jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum; -- 3.2.4.2 Bahwa pemusatan kekuatan ekonomi adalah

penguasaan yang nyata atas suatu pasar bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat

menentukan harga barang dan atau jasa;

(48)

• .2.4.3 Bahwa dengan struktur pasar yang bersifat oligopolistik dan dikuasainya pemasaran garam bahan baku oleh G3 dan G4 sebagaimana telah dibuktikan pada butir 3.2.2 putusan ini

menunjukkan adanya penguasaan yang nyata atas pasar garam bahan baku di Sumatera Utara oleh G3 dan G4;---

3.2.4.4 Bahwa penguasaan yang nyata atas pasar

garam bahan baku di Sumatera Utara oleh G3 dan G4 mengakibatkan pelaku usaha selain G3 dan G4 mengalami kesulitan dalam mendapatkan garam bahan baku secara kontinu dengan harga yang bersaing; ---

(49)

3.2.4.5 Bahwa hambatan bagi pelaku usaha selain G3 dan G4 untuk mendapatkan garam bahan baku tersebut di atas

menunjukkan adanya bentuk persaingan usaha tidak sehat;

---

3.2.4.6 Bahwa akibat penguasaan yang nyata atas pasar garam bahan baku di Sumatera Utara oleh G3 dan G4 menyebabkan konsumen tidak memiliki pilihan lain untuk mendapatkan

garam bahan baku yang bersaing baik dari sisi harga maupun kualitas sebagaimana diuraikan pada butir 2.6.3 Bagian

Tentang Hukum;--

3.2.4.7 Bahwa dampak bagi konsumen tersebut juga mengakibatkan kerugian bagi kepentingan umum

sebagaimana diuraikan pada butir 2.6.3 Bagian Tentang Hukum; --

3.2.4.8 Bahwa dengan demikian unsur mengakibatkan praktek monopoli terpenuhi

(50)

3.3 Bahwa ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 menyatakan “Pelaku usaha dilarang membuat

perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar

oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama”; ---

3.4 Menimbang bahwa Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, mengandung unsur-unsur sebagai berikut: --- 3.4.1 Pelaku Usaha; ---

3.4.1.1 Bahwa pelaku usaha yang dimaksud adalah PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo;---

3.4.1.2 Bahwa unsur pelaku usaha telah terpenuhi sebagaimana diuraikan dalam butir 3.2.1 putusan ini; ---

3.4.1.3 Bahwa dengan demikian maka unsur pelaku usaha terpenuhi;

(51)

3.4.2 Perjanjian untuk Menetapkan Harga atas Suatu Barang;

3.4.2.1 Bahwa yang dimaksud dengan perjanjian telah diuraikan pada butir 3.2.2.1 putusan ini; ---

3.4.2.2 Bahwa PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo saling mengikatkan diri untuk membuat kebijakan penetapan

harga jual garam bahan baku di Sumatera Utara secara

seragam atau sistematis atau teratur sebagaimana diuraikan pada butir 2.2.2 Bagian Tentang Hukum;

---

3.4.2.3 Bahwa pengikatan diri oleh PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo tersebut menunjukkan adanya perjanjian

untukmenetapkan harga jual garam bahan baku di Sumatera Utara;----

3.4.2.4 Bahwa dengan demikian maka unsur perjanjian untuk menetapkan harga atas suatu barang terpenuhi

(52)

3.4.4 Konsumen;---

3.4.4.1 Bahwa yang dimaksud dengan konsumen

berdasarkan Pasal 1 angka 15 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah setiap pemakai dan atau

pengguna barang dan atau jasa baik untuk

kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan pihak lain; -

3.4.4.2 Bahwa konsumen dari PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo adalah G4 dan pelaku usaha selain G4 yang merupakan pengguna atau pemakai garam bahan baku dari G3 baik untuk kepentingan diri sendiri maupun

untuk kepentingan pihak lain; -

3.4.4.3 Bahwa dengan demikian maka unsur konsumen terpenuhi

(53)

• 3.4.5 Pasar Bersangkutan;

• 3.4.5.1 Bahwa yang dimaksud dengan pasar bersangkutan berdasarkan Pasal 1 angka 10

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah pasar yang berkaitan dengan jangkauan atau daerah

pemasaran tertentu oleh pelaku usaha atas barang dan jasa

yang sama atau sejenis atau substitusi dari barang dan atau jasa tersebut; -

• 3.4.5.2 Bahwa pasar bersangkutan dalam hal ini adalah sebagaimana diuraikan dalam butir 1.2 Bagian Tentang Hukum

(54)

3.4.5.3 Bahwa PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo melakukan kegiatan usaha pada pasar bersangkutan yang sama; --- 3.4.5.4 Bahwa dengan demikian maka unsur pasar bersangkutan

terpenuhi;

3.5 Menimbang bahwa ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 menyatakan “Pelaku usaha dilarang membuat

perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus

membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama;

3.6 Menimbang bahwa Pasal 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 mengandung unsur-unsur sebagai berikut: Pelaku Usaha;

3.6.1.1 Bahwa pelaku usaha yang dimaksud adalah PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo;

3.6.1.2 Bahwa unsur pelaku usaha telah terpenuhi sebagaimana diuraikan dalam butir 3.2.1 putusan ini; ---

3.6.1.3 Bahwa dengan demikian maka unsur pelaku usaha terpenuhi;

(55)

3.6.2 Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar

dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang yang sama; ---

3.6.2.1 Bahwa yang dimaksud dengan perjanjian adalah sebagaimana telah diuraikan pada butir 3.2.2.1 putusan ini;

3.6.2.2 Bahwa PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo telah membuat

perjanjian penetapan harga sebagaimana telah dibuktikan padabutir 3.4.2 putusan ini; ---

3.6.2.3 Bahwa adanya perjanjian tersebut mengakibatkan pelaku usaha selain G3 dan G4 harus membayar harga garam bahan baku lebih tinggi

dibandingkan dengan harga yang harus dibayar G4 sebagaimana diuraikan pada butir 2.2.2.2 Bagian TentangHukum;---

3.6.2.4 Bahwa kesepakatan tersebut merupakan perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk garam bahan baku di Sumatera Utara;---

3.6.2.5 Bahwa dengan demikian unsur perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang yang sama, terpenuhi; --

(56)

Putusan KPPU No. 02/KPPU-I/2003 mengenai Kargo (Jakarta- Pontianak) adalah sbb:

Adapun yang menjadi pihak dalam kasus ini adalah Pelaku Usaha Angkutan Laut Khusus Barang Trayek Jakarta-Pontianak, yaitu PT.

Perusahaan Pelayaran Nusantara Panurjwan (Terlapor I) , PT.Pelayaran Tempuran Emas, Tbk. (Terlapor II), PT. Tanto Intim Line (Terlapor III) dan PT. Perusahaan Pelayaran Wahana Baruna khatulistiwa (Terlapor IV), karena telah melakukan perjanjian kesepakatan bersama besaran tarif uang tambang untuk trayek Jakarta- Pontianak-Jakarta.

Dalam kasus ini dapat diketahui bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV telah menandatangani kesepakatan bersama tarif uang tambang petikemas Jakarta-Pontianak-Jakarta No: 01/ SKB/ PNP-TE-WBK-TIL/ 06/ 2002 yang diketahui dan ditandatangani juga oleh Ketua Bidang Kontainer DPP INSA dan Direktur Lalulintas Angkutan Laut Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan.

(57)

Para Terlapor mendalilkan bahwa kesepakatan bersama tarif untuk menghindari perang tarif ataupun terjadinya persaingan yang sangat tajam (cut throat competition) antar pelaku usaha semenjak meningkatnya permintaan dan masuknya pelaku usaha baru dalam industri ini.

KPPU memutuskan bahwa penetapan tarif ini melanggar Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1999 karena selain akan mengurangi persaingan dan meniadakan alternatif pilihan tarif baik yang akan ditawarkan oleh penyedia jasa sesuai dengan variasi kualitas pelayanannya, maupun yang akan dipilih oleh konsumen sesuai dengan kebutuhannya, kesepakatan ini juga akan sangat merugikan industri bersangkutan karena terciptanya hambatan masuk (entry bariers) yang cukup besar yang akan menghambat pelaku usaha baru untuk memasuki pasar bersangkutan.

(58)

SEKIAN

Referensi

Dokumen terkait

Volume 16, Nomor 4 April 2022 E-ISSN: 2549-2918 DAFTAR ISI Pemodelan Penurunan Kapasitas Kolom Gedung Akibat Korosi Seragam Uniform Corrosion pada Tulangan Baja Pinta Astuti

• Pasal 4 ayat 1 Undang-undang No.5/1999 yang berbunyi: “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi