• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Hukum Waris di Indonesia

N/A
N/A
Vania Dwi Listiarini

Academic year: 2024

Membagikan " Perkembangan Hukum Waris di Indonesia"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

PERKEMBANGAN HUKUM WARIS DI INDONESIA

Dosen Pengampu

Ibu Hj. Ina Budhiarti Supyan, S.H., M.H

Disusun oleh :

Daffa Arkan Rizquloh (224301005) Mita Nurhasanah (224301020) Mardiana Rahayu Hermiati (224301029) Dimas Priyatno (224301036)

Dika Wijaya (224301038)

Vania Dwi Listiarini (224301042)

MATA KULIAH HUKUM ADAT SEKOLAH TINGGI HUKUM BANDUNG

2023

(2)

PERKEMBANGAN HUKUM WARIS DI INDONESIA Kelompok 2

Dosen Pengampu : Hj. Ina Budhiarti Supyan, S.H., M.Kn.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan adat, termasuk ke dalam hal pewarisan. Suatu hubungan kekeluargaan tak luput dari permasalahan yang bersangkutan dengan warisan. Warisan adalah harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris kepada ahli waris, sedangkan ahli waris adalah orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan (mewarisi) orang yang meninggal, baik karena hubungan keluarga, pernikahan, maupun karena memerdekakan hamba sahaya. Dalam menghitung dan membagi warisan hampir selalu ada permasalahan, entah itu pembagian yang kurang rata atau permasalahan dari ahli warisnya. Maka agar pembagian waris tersebut rata dan tidak timbul persengketaan, perlu adanya sistem hukum waris yang digunakan sebagai pedoman.

Masalah warisan akan mengenai setiap orang apabila ada seseorang di keluarganya yang meninggal dunia, oleh karena itu hukum waris sangat penting dalam kehidupan manusia terutama para ahli waris, karena menyangkut kelangsungan hidup dan kebutuhan bagi yang akan menerima warisan tersebut.

Kelangsungan kepemilikan dan pemanfaatan harta warisan serta keharmonisan hubungan keluarga antara ahli waris. Dalam perkembangan hukum waris di Indonesia, terdapat tiga sistem hukum yang hidup dan berkembang serta diakui keberadaannya, yakni sistem hukum adat, sistem hukum Islam, dan sistem hukum waris menurut KUH Perdata. Ketiga sistem hukum tersebut telah berlaku di Indonesia, walaupun keadaan dan saat mulai berlakunya tidaklah sama. Hukum

(3)

adat telah lama berlaku di tanah air kita. Bila mulai berlakunya tidak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi dapat dikatakan bahwa hukum adatlah yang tertua umurnya dibandingkan dengan sistem hukum yang lain.

Hukum adat waris memiliki 3 (tiga) sistem kewarisan adat, yaitu sistem kewarisan individual, kolektif, dan mayorat. Masing-masing dari ketiga sistem kewarisan adat ini memiliki ciri harta peninggalan yang berbeda. Dengan adanya beragam bentuk sistem kewarisan hukum adat dapat menimbulkan akibat yang berbeda pula. Maka dari itu dengan mempelajari perkembangan hukum waris di Indonesia kita dapat mengetahui bahwa hukum waris harus disesuaikan dengan adat dan kebudayaan masing-masing daerah dengan kelebihan dan kekurangan yang ada pada sistem kewarisan tersebut.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dari itu identifikasi masalah yang akan dibahas dalam artikel ini adalah sebagai berikut.

a. Pengertian Hukum Waris Adat

b. Sistem Kewarisan dalam Hukum Adat c. Perkembangan Hukum Waris di Indonesia

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum Waris Adat

Bagian-bagian hukum adat besar pengaruhnya terhadap hukum waris adat dan sebaliknya hukum waris pun berdiri sentra dalam hubungan hukum-hukum adat lainnya, sebab hukum waris meliputi aturan-aturan hukum yang berlainan dengan proses yang terus-menerus dari abad ke abad, ialah suatu penerusan dan peralihan kekayaan baik materil maupun immateril dari suatu angkatan ke angkatan berikutnya.1

Soepomo mengatakan bahwa “Hukum adat waris memuat peraturan- peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (Immateriele Goederen) dari suatu angkatan manusia (Generatie) kepada turunannya. Proses ini telah dimulai dalam waktu orang tua masih hidup. Tidak menjadi “akuut (mempengaruhi) oleh sebab orang tua meninggal dunia, memang meninggalnya bapak dan ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu, akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut.2 Inti dari pandangan Soepomo di atas adalah seluruh harta keluarga, baik harta suami, harta isteri, serta harta bersama yang akan menjadi hak dari keturunannya.

Hal yang penting dalam masalah warisan ini adalah bahwa pengertian warisan itu memperlihatkan adanya tiga unsur, yang masing-masing merupakan unsur esensialia atau unsur mutlak, yakni :

1 Muhammad, Bushar, Pokok-Pokok Hukum Adat, (Jakarta : PT. Pradnya Paramitha), 2002, hlm 39.

2 Soepomo, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta : PT Pradnya Paramitha), 1986, hlm 79

(5)

a. Seorang peninggal warisan yang pada wafatnya meninggalkan harta kekayaan;

b. Seorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak menerima kekayaan yang ditinggalkan itu; dan

c. Harta warisan atau harta peninggalan, yaitu kekayaan “in concreto”, yang ditinggalkan dan sekali beralih kepada para ahli waris itu.

Masing-masing unsur ini pada pelaksanaan proses penerusan serta pengoperan kepada orang yang berhak menerima harta kekayaan itu, selalu menimbulkan persoalan seperti berikut :

a. Unsur pertama menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai di mana hubungan seorang peninggal warisan dengan kekayaannya dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan di mana si peninggal warisan itu berada;

b. Unsur kedua menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai di mana harus ada tali kekeluargaan antara peninggal warisan dan ahli waris;

dan

c. Unsur ketiga menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai di mana ujud kekayaan yang beralih itu, dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan di mana si peninggal warisan dan si ahli waris bersama- sama berada.3

Hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan itu dialihkan penguasaan dan pemilikannya dari pewaris kepada ahli waris. Hukum waris adat sesungguhnya adalah hukum penerusan harta kekayaan dari suatu generasi kepada keturunannya.4 Istilah waris dalam kelengkapan istilah hukum waris adat diambil alih dari bahasa Arab yang telah menjadi bahasa Indonesia. Hukum waris adat tidak semata-mata hanya akan menguraikan tentang waris dalam hubungannya dengan ahli waris, tetapi lebih luas dari itu.

3 Wignjodipoero, Soerojo. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta : PT Toko Gunung Agung), 1995, hlm 162.

4 Hadikusuma, Hilman. Hukum Waris Adat, (Bandung : Citra Aditya Bakti), 2003, hlm 7

(6)

B. Sistem Kewarisan dalam Hukum Adat

Di Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kewarisan dalam hukum adat, yaitu sebagai berikut.

a. Sistem kewarisan individual, yaitu cirinya harta peninggalan dapat dibagi- bagikan di antara para ahli waris, sebagaimana berlaku menurut KUH Perdata (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), dan Hukum Islam.

Begitu juga berlaku di lingkungan masyarakat adat seperti pada keluarga- keluarga Jawa, yang parental, atau juga pada keluarga-keluarga Lampung yang patrilineal. Pada umumnya sistem ini cenderung berlaku di kalangan msyarakat keluarga mandiri, yang tidak terikat kuat dengan hubungan kekerabatan.5

b. Sistem kewarisan kolektif, yaitu cirinya harta peninggalan itu diwarisi oleh sekumpulan ahli waris yang bersama-sama merupakan semacam badan hukum di mana harta tersebut, yang disebut harta pusaka, tidak boleh dibagi-bagikan pemilikannya di antara para ahli waris dimaksud dan hanya boleh dibagi-bagikan pemakaiannya saja kepada mereka itu (hanya mempunyai hak pakai saja) seperti dalam masyarakat matrilineal di Minangkabau.6

c. Sistem kewarisan mayorat, yaitu ciri harta peninggalan diwaris keseluruhannya atau sebagian besar (sejumlah harta pokok dari satu keluarga) oleh seorang anak saja, seperti halnya di Bali di mana terdapat hak mayorat anak laki-laki yang tertua dan di Tanah-Semendo di Sumatera Selatan di mana terdapat hak mayorat anak perempuan yang tertua.7

Ketiga sistem kewarisan ini tidak langsung menunjuk kepada suatu bentuk susunan masyarakat tertentu di sistem kewarisan itu berlaku, karena sistem kewarisan di atas dapat ditemukan juga dalam berbagai bentuk susunan

5 Sugangga, I.G.N., Hukum Waris Adat, (Semarang : UNDIP), 1995, hlm 11 6 Wignjodipoero, Soerojo, op.cit, hlm 165.

7 Wignjodipoero, Soerojo, ibid, hlm 165.

(7)

masyarakat atau dalam satu bentuk susunan masyarakat dan ada juga lebih dari satu sistem kewarisan di atas.

C. Perkembangan Hukum Waris di Indonesia 1. Sebelum Masa Pemerintahan Belanda

Sebelum masa pemerintahan Belanda pemberlakuan hukum Islam telah banyak dilakukan oleh kerajaan Islam di Nusantara seperti kerajaan Pasai, Demak, Cirebon, Buton, dan Ternate. Pada umumnya paham yang dianut adalah bermazhab Syafi’i. Kerajaan tersebut telah menerapkan norma-norma hukum Islam. Dalam pelaksanaan hukum Islam pada kerajaan-kerajaan tersebut tidak parsial. Menurut Gibb dalam bukunya “The Modern Trends in Islam” yang dikutip A. Rahmat Rosyadi dan M. Rais Ahmad, bahwa orang- orang Islam menaati hukum Islam karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul- Nya. Dengan demikian apabila mereka telah menerima Islam sebagai agamanya, maka otomatis mereka akan menerima otoritas hukum Islam terhadap dirinya. Bagi orang Islam saat itu, hukum Islam adalah kehendak Allah dan tradisi Rasul. 8 Selanjutnya dalam sebuah teori syahadat yang disebut teori krido, yaitu teori yang mengharuskan pelaksanaan hukum Islam oleh mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai konsekuensi logis dari pengucapan kredonya.9

Pada kerajaan dan kesultanan selalu membentuk badan-badan peradilan untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara berdasarkan hukum acara peradilan Islam (mukhasamat) dilihat dari sudut penataan hukum Islam, melaksanakan syari’at Islam yang dilengkapi degan institusi-institusi keagamaan, seperti pengadilan agama merupakan fardu kifayah (kewajiban sosial). Hal ini merupakan salah satu pendekatan syariat Islam. Dari sinilah, kerajaan dan kesultanan itu menerapkan hukum waris sebagai hukum yang hidup (living law) di masyarakat sekaligus menjadi budaya hukum Indonesia

8 A. Rahmad Rosyadi dan M. Rais Ahma, Formulasi Syari’at Islam dalam Perspektif Tata Hukum Indonesia, (Bogor : Ghalia Indonesia), 2006, hlm 74.

9 Syaukani, Imam, Rekonstruksi Epistimologi Hukum Islam Indonesia dan Relevansinya bagi Pembangunan Hukum Nasional, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 2006, hlm 67.

(8)

pada masanya. Selanjutnya dikatakan bahwa Pengadilan Agama di masa kerajaan dan kesultanan pada waktu itu sudah menunjukkan keberhasilannya dalam menyelesaikan perkara kewarisan orang-orang Islam.

Selanjutnya pemberlakuan hukum Islam di Indonesia berdasarkan pada mazhab yang dianut oleh para Sultan ketika itu, Islam telah mengubah pola pemikiran dan cara pandang kesadaran masyarakat Indonesia sehingga menjadikannya sebagai adat dan perilaku keseharian, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaukani biasanya pemberlakuan hukum Islam pada kerajaan- kerajaan Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang dianut oleh para Sultan10, misalnya masyarakat Aceh menyatakan hukum Islam adalah adatnya, adatnya adalah hukum Islam. Di Minangkabau berlaku kaidah, adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah. Demikian juga di Pulau Jawa, pengaruhnya sangat kuat sehingga Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, dan qiyas telah dijadikan ukuran kebenaran ilmiah dan pedoman perilaku.

Kerajaan dan kesultanan Islam saat itu telah berhasil mempengaruhi keberagamaan masyarakat Indonesia untuk menjalankan syariat Islam.

2. Masa Pemerintahan Belanda (Penjajahan)

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, salah satu kebijakan pemerintah dalam merespon pemikiran dan mengimplementasikan hukum Islam adalah dengan merumuskan dan menformulasikan teori-teori yang berkenaan dengan cita-cita hukum dan adat masyarakat Indonesia. ketika pemerintah Hindia Belanda datang, Indonesia sudah melaksanakan hukum agama Islam, yang kemudian tetap dilanjutkan dan diakui kewenangan hukumnya.11 Selanjutnya, Van den Berg mengonsepkan Staatsblat 1882 Nomor 152 yang berisi ketentuan bagi rakyat pribumi atau rakyat jajahan harus berlaku hukum agama di lingkungan hidupnya, teori ini merupakan rumusan hasil pergulatan pemikirannya, setelah memperhatikan dan mencermati fakta-fakta hukum

10 Syaukani, Imam, op.cit, hlm 68.

11 A. Rahmad Rosyadi dan M. Rais Ahmad, op.cit, hlm 76.

(9)

yang terjadi pada masyarakat pribumi. Di antara teori yang dikenal luas adalah :

a. Teori receptio in complexu oleh Lodewijke William Christian Van den Berg pada tahun 1884 menulis buku dengan nama “Muhammadagch recht” atau Asas-Asas Hukum Islam menyatakan hukum Islam berlaku bagi orang-orang Islam Indonesia walaupun dengan sedikit penyimpangan-penyimpangan12, pendapat Van den Berg ini dikenal dengan teori reception in complexu. Substansi teori tersebut adalah setiap sengketa antara orang-orang Indonesia yang beragama Islam diberlakukan hukum Islam. Hukum agama, adat, dan kebiasaan itu juga dipakai oleh hakim Eropa pada Pengadilan yang lebih tinggi.

Sengketa antara orang Indonesia atau dipersamakan dengan itu dipakai harus tunduk pada keputusan Hakim Agama menurut hukum agama.

Demikian bagi orang Arab dan orang China yang dipersamakan dengan orang Indonesia baik yang beragama Islam maupun bukan beragama Islam diberlakukan dengan hukum yang sama.13

Menurut Muhammad Daud Ali, dari ketentuan peraturan dan Undang- Undang tersebut, bahwa di masa pertama pemerintahan Hindia Belanda, hukum Islam itu diakui eksistensinya sebagai hukum positif yang berlaku bagi orang Indonesia terutama mereka yang beragama Islam, dan perumusan-perumusan, ketentuan-ketentuan itu dalam perundang-undangan ditulis satu nafas dan sejajar dengan hukum adat, bahkan sejak zaman VOC pun keadaan ini telah berlangsung demikian, seperti terkenal compendium freijer, dapat juga dikatakan hukum adat dapat diberlakukan jika diresepi atau diterima oleh hukum Islam. 14

12 Thalib, Sayuti, Receptie a Contrario, Hubungan Hukum Adat dengan Hukum Islam, (Jakarta : Bina Aksara), 1980, hlm 7.

13 Asro Sostroatmodjo dan A. Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta : Bulan Bintang), 1978, hlm 11.

14 Ali, Muhammad Daud. Hukum Islam di Peradilan Agama, (Jakarta : Raja Grafindo Persada), 2002, hlm 225.

(10)

b. Teori receptie oleh Christian Snouck Hoergronje, penasihat Pmerintah Hindia Belanda tentang masalah-masalah Islam dan anak negeri.

Memperkuat kritikan Van Vollenhoven terhadap teori receptio in complexu. Menurut Snouck Hoergronje, hukum yang berlaku bagi orang-orang Islam adalah hukum adat mereka masing-masing.

c. Hukum Islam dapat berlaku apabila telah diresepsi oleh hukum adat.

Pendapat Snouck Hoergronje ini disebut dengan teori receptie. Jadi adatlah yang menentukan ada tidaknya hukum Islam. Teori ini berpijak pada asumsi dan pemikiran bahwa jika orang-orang pribumi mempunyai kebudayaan yang sama atau dekat dengan kebudayaan Eropa, maka penjajahan atas Indonesia akan berjalan dengan baik dan tidak akan timbul guncangan-guncangan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu, Pemerintah Hindia Belanda harus mendekati golongan-golongan yang akan menghidupkan hukum adat dan memberikan dorongan kepada mereka, untuk mendekatkan golongan hukum adat kepada pemerintah.

Perubahan teori ini juga berdampak bagi pengadilan agama.

Kewenangan pengadilan agama di Jawa dan Madura diubah dengan Staatsblad 1937 no 116 dan no 610. Masalah kewarisan yang sebelumnya menjadi kewenangan pengadilan agama diserahkan menjadi pengadilan umum, dengan pertimbangan hukum waris belum menjadi hukum adat. 15

3. Masa Pemerintahan Indonesia

Indonesia menyatakan diri merdeka pada tanggal 17 Agustus dan tanggal 18 Agustus 1945 hasil rumusan Rancangan Undang-Undang Dasar oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Panitia Sembilan) dan disahkan menjadi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan pernyataan Indonesia merdeka berarti berpengaruh terhadap sistem hukum di Indonesia. Selanjutnya, Pasal II tentang Aturan Peralihan Undang-

15 Tohari, Ilham, Ragam Hukum Waris di Jombang, Study tentang Sosial Masyarakat Muslim dalam Penyelesaian Perkara Waris, (IAIN Sunan Ampel Surabaya : Disertasi), 2013, hlm 11

(11)

Undang 1945 ditekankan bahwa hukum warisan kolonial Belanda masih tetap berlaku selama jiwanya tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.

Dalam hal ini Hazairin memahami pasal tersebut bahwa hukum kolonial Belanda yang hasil produk teori receptie dianggap tidak berlaku lagi karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul (teori receptie exit). 16

Dengan populasi warga Negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dan dalam memahami ajaran agamanya bersifat totalitas maka perkembanan selanjutnya ahli hukum Islam Indonesia berusaha agar hukum Islam itu menjadi hukum nasional, dengan upaya seminar nasional dalam pembentukan hukum, hukum Islam dijadikan sebagai salah satu sumber di samping hukum Eropa dan hukum Adat. Karena itu, nilai-nilai hukum Islam tidak boleh dari doktrin agama Islam. Suatu realitas sejarah yang tidak dapat dipungkiri oleh ahli hukum nasional sosok Hazairin dengan teori kewarisan bilateral dan konsep mawalinya.

Hazairin dengan keahliannya dalam bidang hukum maka menurutnya Teori receptie yang dicetuskan oleh Snouck Hoergronje pada akhir abad 19 telah menjadikan hukum Islam tersingkir oleh hukum adat. Oleh karena itu Hazairin menyebut teori ini sebagai “teori iblis”17. Sanggahan atas teori ini kemudian ditindaklanjuti oleh muridnya yaitu Sayuti Thalib dengan teori receptio a contrario. Dalam memahami keyakinan tersebut menurut Sayuti Thalib bahwa 1) bagi orang Islam berlaku hukum Islam; 2) hal tersebut sesuai dengan keyakinan dan cita-cita hukum, cita-cita moral; 3) hukum adat berlaku bagi orang Islam jika tidak bertentangan dengan agama Islam dan hukum Islam. Ide Hazairin dalam pembaharuan hukum waris yang pada intinya adalah pertama, ahli waris perempuan sama dengan ahli laki-laki dapt menghalangi ahli waris yang lebih rendah. Jadi, selama masih ada anak, baik laki-laki maupun perempuan, maka saudara baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terhalang untuk mendapatkan warisan. Kedua, hubungan kewarisan melalui garis laki-laki sama kuatnya dengan garis perempuan.

16 A. Rahmad Rosyadi dan M. Rais Ahmad, loc.cit.

17 Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional, cetakan kedua, (Jakarta : Tintamas), 1968, hlm 5

(12)

Karena penggolongan ahli waris menjadi ashabah dan Zawu Al-Arham tidak diakui dalam teori ini. Ketiga, adanya ahli waris pengganti tidak terhalang oleh ahli waris lain (utama). Jadi, cucu dapat mewarisi bersama dengan anak apabila orangtuanya meninggal lebih dulu dari kakeknya dan bagian yang diterima sama besarnya dengan yang diterima oleh orangtuanya (seandainya masih hidup).

Selanjutnya Hazairin membagi ahli waris menjadi 3 (tiga) kelompok, yakni : Zawu Al-Faraid, Zawu Al-Qarabat, dan Mawali. Zawu Al-Faraid adalah ahli waris yang telah ditetapkan bagiannya dalam Al-Qur’an. Sistem pembagiannya dikeluarkan dari sisa harta setelah harta peninggalan dibayarkan untuk wasiat, utang, dan biaya kematian. Adapun Zawu Al- Qarabat adalah ahli waris yang tidak termasuk Zawu Al-Faraid menurut sistem bilateral. Mereka mendapatkan warisan dari sisa harta peninggalan setelah dibayar wasiat, utang, biaya kematian, dan bagian untuk Zawi Al- Faraid. Sedangkan Mawali adalah ahli waris pengganti, konsep ini diistinbatkan oleh Hazairin dari Q.S An-Nisa ayat 33. Konsep Mawali (ahli waris pengganti) merupakan konsep baru dalam ilmu faraid (waris). Adapun yang dimaksud Mawali adalah ahli waris yang menggantikan seseorang dalam memperoleh bagian harta peninggalan yang tadinya akan diperoleh orang yang akan digantikannya. Hal ini terjadi karena orang yang digantikan tersebut telah meninggal lebih dulu dari si pewaris. Posisi orang yang digantikan adalah penghubung antara yang menggantikan dengan pewaris (yang meninggalkan harta warisan). Ahli waris Mawali adalah keturunan anak pewaris, keturunan saudara pewaris, ataupun keturunan orang yang mengadakan semacam perjanjian (misalnya dalam bentuk wasiat) dengan si pewaris.18

Pada akhir tahun 1989 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan komitmen Pemerintah memperjuangkan dengan alot untuk menjadikan pengadilan agama mempunyai kedudukan, tugas dan fungsi yang sederajat dengan pengadilan yang lain ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang

18 Thalib, Sayuti. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, cetakan keempat, (Jakarta : Sinar Grafika), 1993, hlm 80-81

(13)

Peradilan Agama, dengan memiliki kewenangan dalam perkara perkawinan, waris, wasiat, wakaf dan hibah berdasarkan hukum Islam, wakaf dan sadakah (Pasal 49). Selanjutnya berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang amandemen UU Nomor 7 Tahun 1989 kata “berdasarkan hukum Islam”

dihilangkan, maka pengadilan agama memiliki kewenangan dalam perkara perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, sadakah, dan ekonomi syari’ah.

Dalam perkembangan hukum Islam di Indonesia selanjutnya lahirlah Kompilasi Hukum Islam (KHI), setelah eksistensi Peradilan Agama diakui dengan hadirnya UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. KHI adalah kitab yang merupakan himpunan atau rangkaian kitab Fiqh, serta bahan-bahan lainnya yang merupakan hukum materiil Peradilan Agama dalam menyelesaikan masalah perkawinan, kewarisan dan wakaf. Kehadiran KHI ini dilatarbelakangi antara lain karena ketidakpastian dan kesimpangsiuran putusan Peradilan Agama terhadap masalah-masalah yang menjadi kewenangannya, disebabkan dasar acuan putusannya adalah pendapat para ulama yang ada dalam kitab-kitab fiqh yang sering berbeda tentang hal yang sama antara yang satu dengan lainnya, sehingga sering terjadi putusan yang berbeda antara satu Peradilan Agama dengan Peradilan Agama lainnya dalam masalah yang sama.19

Tema utama penyusunan KHI ialah mempositifkan hukum Islam di Indonesia, yang dijadikan pedoman oleh para hakim dalam melaksanakan tugasnya sehingga terjamin adanya kesatuan dan kepastian hukum. Karena untuk berlakunya hukum Islam di Indonesia, harus ada antara lain hukum yang jelas dan dapat dilaksanakan oleh aparat penegak hukum dan masyarakat. Dengan lahirnya KHI, semua hakim di lingkungan Peradilan Agama diarahkan kepada persepsi penegakan hukum yang sama. KHI terdiri atas 3 (tiga) buku, yaitu Buku I tentang Perkawinan, Buku II tentang Kewarisan dan Buku III tentang Perwakafan. Pasal-pasal hukum perkawinan

19 Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika), 2017, hlm 172.

(14)

dalam Buku I yang terdiri dari 170 pasal, telah memuat materi hukum yang rinci. Di samping itu selain Buku I KHI juga telah ada UU lain yang mengatur tentang perkawinan, seperti UU No. 1 Tahun 1974 dan PP No. 9 Tahun 1975.

Berbeda dengan hukum kewarisan dalam Buku II yang begitu singkat jika dibandingkan dengan hukum perkawinan. Hukum kewarisan hanya terdiri dari 23 pasal (pasal 171-193). Hukum perwakafan dalam Buku III juga singkat, yaitu 15 pasal, namun untuk hukum perwakafan ada perundang-undangan lain yang mengaturnya, yaitu PP No. 28 Tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik.

Ketaatan hukum lahir dari suatu proses pemberlakuan hukum, yang oleh Soerjono Soekanto dikenal tiga keberlakuan hukum, yaitu keberlakuan sosiologis.20 Keberlakuan yuridis bagaimana hukum itu memiliki suatu kepastian, apabila tidak diikuti dengan keberlakuan sosiologis maka hukum sebatas aturan yang tidak mempunyai kemanfaatan. Keberlakuan filosofis berarti hukum itu sebatas tataran ide tidak memiliki kemampuan untuk membumi, apabila tidak diikuti dengan keberlakuan legalitas yuridis. Dan keberlakuan sosiologis bagaimana hukum dapat dirasakan manfaatnya, apabila tidak didasari pada suatu kepastian dan rasa keadilan hukum. Menurut Abdul Gani Abdullah, KHI dalam hierarki perundang-undangan di Indonesia (yang bentuk hukumnya melalui instrumen Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 dan secara organik ditindaklanjuti Keputusan Menteri Agama Nomor 154 Tahun 1991 itu) mempunyai kedudukan dalam tata hukum yang dilematis, sebab secara organik dari sudut implementasi legislatif telah memperlihatkan bahwa Inpres itu berkemampuan efektif di samping instrumen lain dalam tata hukum yang lebih tinggi, karenanya dalam praktik hukum di Pengadilan Agama, Inpres tersebut mempunyai daya atur dalam hukum positif Indonesia.

Namun dari segi lain Inpres tidak tampak sebagai salah satu instrumen hukum dalam tata hukum yang dominan.21

20 Soekanto, Soerjono, Penegakan Hukum, cetakan pertama, (Bandung : Bina Cipta), 1983, hlm 29

21 Moh. Mahfud MD dkk, Politik Hukum di Indonesia, (Depok : Rajawali Pers), 2018, hlm 62

(15)

Adapun menurut pendapat Ismail Suny, bahwa hukum materiil yang diatur dalam KHI dapat saja berbentuk inpres, karena dalam bidang hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan, yang digunakan adalah hukum Islam, maka muatan hukum materiilnya dapat saja ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden atau Instruksi Presiden sama saja, sebab dasar hukum KHI secara langsung merujuk kepada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 4 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Kekuasaan Presiden untuk memegang kekuasaan pemerintah Negara”.22

Hukum wasiat Islam di Indonesia menjadi salah satu bagian dari KHI, dalam sudut teori hukum bahwa penggunaan instrumen hukum dalam bentuk inpres itu tidak termasuk dalam rangkaian tata urutan dan hierarki peraturan perundang-undangan yang menjadi sumber hukum tertulis, melainkan dari sudut ilmu hukum lebih bersifat sebagai hukum tidak tertulis, meskipun itu dituliskan, sebab bukan undang-undang atau peraturan pemerintah, namun hanya menunjukkan bahwa KHI itu merupakan hukum yang hidup dalam kehidupan sehari-hari sehingga bersifat dinamis pada sebagian besar masyarakat Indonesia yang beragama Islam, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Namun apabila masalahnya dilihat dari Buku I dan Buku III KHI, sebenarnya telah diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 jo Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 jo Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Perwakafan, maka sumber-sumber tersebut dapat mengangkat citra KHI menjadi sumber hukum tertulis, meskipun bentuk hukumnya lebih rendah dari sumber-sumber tersebut di atas. Dan apabila dilihat dari muatannya Buku I dan Buku III KHI itu tidak bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi. Dalam hal ini berbeda dengan Buku II yang cenderung sebagai hukum tidak tertulis, karena muatan pasal-pasalnya

22 Suny, Ismail. Kompilasi Hukum Islam ditinjau dari sudut Pertumbuhan Teori Hukum di Indonesia, dalam Mimbar Hukum, Nomor 4 Tahun II/1991, hlm 3.

(16)

merupakan hukum baru atau penemuan hukum yang belum memiliki bentuk hukum sebelumnya yang mengikat seperti Undang-Undang dan peraturan pemerintah di atas, sebab materi hukumnya digali dan ditemukan sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat Indonesia dengan menitikberatkan pada pengambilan kaidah hukum dari yurisprudensi Indonesia dan hukum terpilih yang sesuai dengan kaidah hukum Islam dalam bidang kewarisan Islam.

Mengenai norma hukum wasiat bagi ahli waris non-muslim belum diatur dalam KHI, meskipun telah dipraktikkan oleh para hakim di Pengadilan Agama dan para hakim di Mahkamah Agung. Hal ini sejalan dengan teori maslahah yang memberikan penegasan bahwa hukum Islam disyari’atkan untuk mewujudkan dan memelihara maslahat umat manusia. Jadi, jelas bahwa fundamental dari bangunan pemikiran hukum Islam adalah maslahat, maslahat manusia universal atau keadilan sosial, karena itu tawaran ijtihadi baik didukung dengan nas atau tidak, yang dapat mewujudkan kemaslahatan manusia adalah sah, dan umat Islam terikat untuk mengambilnya dan merealisasikannya. Sebaliknya tawaran ijtihadi yang secara meyakinkan tidak mendukung terjaminnya maslahat, lebih membuka kemungkinan terjadinya kemudaratan adalah fasid, dan umat Islam secara perorangan atau bersama- sama terikat untuk menolak dan mencegahnya.

KHI telah menunjukkan adanya law and rule dalam praktiknya di Pengadilan Agama, meskipun masih bersifat sebagai sumber hukum pendukung utama dalam memeriksa dan memutuskan setiap perkara di Pengadilan Agama. Dalam hal ini Ismail Suny berpendapat bahwa kedudukan KHI dapat digunakan sebagai pedoman, landasan, dan pegangan bagi hakim- hakim di Pengadilan Agama, Pengadilan Tinggi Agama, dan hakim-hakim di Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutuskan setiap perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama di Indonesia. 23

BAB III

23 Suny, Ismail. Kompilasi Hukum Islam ditinjau dari sudut Pertumbuhan Teori Hukum di Indonesia, dalam Mimbar Hukum, Nomor 4 Tahun II/1991, hlm 3

(17)

PENUTUP

Hukum kewarisan di Indonesia pada dasarnya sudah dikenal sejak zaman kerajaan, terbukti dengan banyaknya kerajaan-kerajaan Islam yang sudah menerapkan hukum kewarisan di daerah masing-masing. Ketika masa penjajahan datang, Indonesia sudah melaksanakan hukum agama Islam, yang kemudian tetap dilanjutkan dan diakui kewenangan hukumnya, karena ini terbukti mereka membuat aturan agar rakyat Indonesia tetap memakai hukum yang sudah berlaku di lingkungannya, hanya saja ketika Snouck Hoergronje datang yang mereka angkat sebagai konsultan hukum mereka, muncullah ide dari beliau agar hukum Islam (kewarisan) diresepsi (disesuaikan) dengan hukum adat. Setelah masa kemerdekaan teori receptie ini diubah oleh Hazairin dengan teori receptie exit dan menurutnya teori ini adalah teori Iblis, dan dilanjutkan oleh Sayuti Thalib selaku murid dari Hazairin dengan teori receptio a contrario yang berarti bagi orang Islam berlaku hukum Islam. Selanjutnya hukum Islam di Indonesia ada Kompilasi Hukum Islam atau KHI, yang tema utamanya ialah mempositifkan hukum Islam di Indonesia yang dapat dijadikan pedoman oleh para hakim dalam melaksanakan tugasnya sehingga terjamin adanya kesatuan dan kepastian hukum.

DAFTAR PUSTAKA

(18)

Ali, Muhammad Daud. 2002. Hukum Islam di Peradilan Agama. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Fahimah, Iim. 2018. Sejarah Perkembangan Hukum Waris di Indonesia.

Bengkulu : IAIN Bengkulu. (Jurnal).

Hadikusuma, Hilman. 2003. Hukum Waris Adat. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Hazairin. 1968. Hukum Kekeluargaan Nasional. Jakarta : Tintamas.

Muhammad, Bushar. 2002. Pokok-Pokok Hukum Adat. Jakarta : PT Pradnya Paramitha.

Moh. Mahfud MD, dkk. 2018. Politik Hukum di Indonesia. Depok : Rajawali Pers.

Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid. 2017. Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika.

Rosyadi, A. Rahmad. 2006. Formulasi Syari’at Islam dalam Perspektif Tata Hukum Indonesia. Bogor : Ghalia Indonesia.

Soekanto, Soerjono. 1983. Penegakan Hukum. Bandung : Bina Cipta.

Soepomo. 1986. Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Jakarta : PT Pradnya Paramitha.

Sostroatmodjo, Asro. 1978. Hukum Perkawinan di Indonesia. Jakarta : Bulan Bintang.

Sugangga, I.G.N. 1995. Hukum Waris Adat. Semarang : UNDIP.

Suny, Ismail. 1991. Kompilasi Hukum Islam ditinjau dari sudut Pertumbuhan Teori Hukum di Indonesia, dalam Mimbar Hukum, Nomor 4 Tahun II/1991.

Syaukani, Imam. 2006. Rekonstruksi Epistimologi Hukum Islam Indonesia dan Relevansinya bagi Pembangunan Hukum Nasional. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Thalib, Sayuti. 1993. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika.

Thalib, Sayuti. 1980. Receptie a Contrario, Hubungan Hukum Adat dengan Hukum Islam. Jakarta : Bina Aksara.

Tohari, Ilham. 2013. Ragam Hukum Waris di Jombang, Study tentang Sosial Masyarakat Muslim dalam Penyelesaian Perkara Waris. Surabaya : IAIN Sunan Ampel. (Disertasi).

(19)

Wignjodipoero, Soerojo, 1995. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat. Jakarta : PT Toko Gunung Agung.

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan penafsiran Hazairin pada point dua di atas, Halman menyatakan persoalan perkawinan dan kewarisan khususnya bagi umat Islam Indonesia jika terjadi

Perbedaan ahli waris pengganti menurut Hukum Kewarisan Islam dengan Hukum Kewarisan menurut KUHPerdata salah satunya adalah hak yang diperoleh ahli waris pengganti itu belum

Bidang hukum kewarisan, Wasiat dan hibah telah diatur dalam Buku II KHI, dan bidang perwakafan juga telah diatur dalam Peraturan pemerintah Nomor 28 tahun 1977

yang berlaku dalam arti Undang-Undang yang sah atau hukum positif. Jadi hukum kewarisan yang terdapat dalam materi hukum Kompialsi Hukum Islam belum menjadi hukum positif

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa sistem ahli waris pengganti dalam kedua hukum kewarisan, hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan KUH

Juga berdasarkan „illat hukum kewarisan (dalālah naṣ), yaitu nasab dan perkawinan (dalam al-Qur‘an) dan semangat tolong-menolong (menurut pendapat yang membolehkan),

Sedangkan sistem kewarisan dalam perkawinan bleket adat rejang yang dilakukan secara tidak murni yaitu tidak menyalahi hukum syara’ karena hal tersebut tidak terputusnya hak waris

"Rekonstruksi hukum kewarisan anak dari perkawinan sirri di pengadilan agama", IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 2016 Publication Muchammad Ichsan.. "THE LEGALITY OF