PERKEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI IMAM Al-GHAZALI
Herianti (601022023006)
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone Email: [email protected]
Lisdayanti (601022023022)
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone Email:[email protected]
Dosen Pengajar Dr. Hukmiah H., LC.,M.Ag
Abstract
Al-Ghazali merupakan salah satu pemikir besar dalam ekonomi Islam.
Lewat karya monumental Ihya Ulumuddin, al-Mustashfa Mizan, al-Amal an At- Tibr al-Masbuk fi al Nasihah al-Muluk Al-Ghazali mengupas secara tuntas aspek- aspek subtansial dari ekonomi Islam. Karena menurutnya perkembangan ekonomi sebagai bagian dari tugas-tugas kewajiban sosial yang sudah ditetapkan Allah.
Dalam karya-karyanya tersebut Al-Ghazali menitik beratkan kepada keadilan, kedamaian dan stabilitas sebagai fondasi dari ketersediaan ekonomi baik dalam bidang produksi, konsumsi, maupun distribusi. Untuk itu, peran negara sangat penting untuk menjaga itu semua.
Keywords; Al-Ghazali, Ekonomi, Moneter
A. Pendahuluan
Menurut Al-Ghazali, kegiatan ekonomi merupakan kebajikan yang dianjurkan oleh islam. Al-Ghazali membagi manusia dalam tiga kategori, yaitu: pertama, orang yang mementingkan kehidupan duniawi golongan ini akan celaka.
Kedua, orang yang mementingkan tujuan akhirat daripada tujuan duniawi golongan ini akan beruntung. Ketiga, golongan yang kegiatan duniawinya sejalan dengan tujuan-tujuan akhirat.
Al-Ghazali menegaskan bahwa aktivitas ekonomi harus dilakukan secara efisien karena merupakan bagian dari pemenuhan tugas keagamaan seseorang. Ia mengidentifikasi tiga alasan mengapa seseorang harus melakukan aktivitas- aktivitas ekonomi, yaitu: pertama, untuk mencukupi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Kedua, untuk mensejahterakan keluarga. Ketiga, untuk membantu orang lain yang membutuhkan.
Manusia dipandang sebagai maximizers dan selalu ingin lebih. Al-Ghazali tidak hanya menyadari keinginan manusia untuk mengumpulkan kekayaan tetapi juga kebutuhannya untuk persiapan dimasa depan. Namun demikian ia memperingatkan bahwa jika semangat selalu ingin lebih ini menjurus kepada keserakahan dan pengejaran nafsu pribadi, hal itu pantas dikutuk. Dalam hal ini, ia memandang kekayaan sebagai ujian terbesar.
Lebih jauh, Al-Ghazali menyatakan bahwa pendapatan dan kekayaan seseorang berasal dari tiga sumber, yaitu pendapatan melalui tenaga individual, laba perdagangan, dan pendapatan karena nasib baik. Namun, ia menandaskan bahwa berbagai sumber pendapatan tersebut harus diperoleh secara sah dan tidak melanggar hukum agama.
Mayoritas pembahasan Al-Ghazali mengenai berbagai pembahasan ekonomi terdapat dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din.
Bahasan ekonomi Al-Ghazali dapat dikelompokkan menjadi:
pertukaran sukarela dan evolusi pasar, produksi, barter dan evolusi uang, serta peranan negara dan keuangan publik.1
B. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian pustaka. Ini berarti penelitian ini akan memanfaatkan sumber-sumber literatur untuk menganalisis perkembangan pemikiran ekonomi islam menurut al-ghazali.
2. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian dalam hal ini adalah pemikiran ekonomi Imam Al- Ghazali yang mencakup berbagai prinsip dan konsep ekonomi yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali yang bermazhab syafi'i (yang artinya salah satu sumber hukum islam setelah al-quran dan hadist).
Objek penelitian adalah perkembangan pemikiran ekonomi Imam Al- Ghazali yang mencakup Moneter (Uang), evolusi pasar, aktivitas produksi serta peran negara dan keuangan publik.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi yaitu dengan melakukan studi pada literatur-literatur terkait.
1Moh.Faisal “Studi Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Ekonomi Islam” Jurnal IGM Vol. I, No.1,Agustus 201, hal.1
C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Biography Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy- Syafi’i, lahir di Thus; 1058/450 H, meninggal di Thus; 1111/14 Jumadil Akhir 505 H; usia 52-53) adalah seorang filsuf dan teolog Muslim Persia yang dikenal di dunia Barat abad pertengahan sebagai Algazel. Gelarnya al-Ghazali ath-Thusi terkait dengan ayahnya, yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing, dan tempat kelahirannya, Ghazalah, di kota Khurasan, Persia (sekarang Iran). Padahal gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa ia termasuk golongan Syafi’i. Dia berasal dari keluarga miskin.
Ambisi sang ayah tinggi, yaitu ingin anaknya menjadi orang yang alim dan shaleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, pemikir dan filsuf Islam terkemuka yang sangat mempengaruhi perkembangan umat manusia. Ia pernah bekerja sebagai wakil kepala sekolah di Madrasah Nizhamiyah, sebuah pusat pembelajaran di Bagdad. Imam Al-Ghazali wafat pada hari ke-14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah yang bertepatan dengan tahun 1111 Masehi. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya. Ia dianggap sebagai Mujaddid abad ke-5, seorang pembaharu agama; yang menurut hadis kenabian, muncul setiap 100 tahun untuk memulihkan keimanan masyarakat Muslim. Karya-karyanya sangat dipuji oleh orang-orang
sezamannya sehingga al-Ghazali mendapat gelar kehormatan "Bukti Islam"; (Hujjat al-Islam). Al-Ghazali meyakini bahwa tradisi spiritual Islam hampir mati dan ilmu-ilmu spiritual yang diajarkan generasi pertama umat Islam telah dilupakan. Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk menulis karya besarnya yang berjudul Ihya Ulumuddin (diterjemahkan sebagai Kebangkitan Ilmu Agama). Di antara karyanya yang lain adalah Tahafut al-Falasifah (The Incoherence of the Philosophers in Transl. The Inconsistency of the Philosophers) merupakan tonggak sejarah filsafat karena mengedepankan kritik terhadap ilmu pengetahuan Aristoteles yang kemudian berkembang di Eropa pada abad ke-14. Al-Ghazali tidak hanya menghasilkan karya dalam bidang tasawuf, namun juga beberapa karya dalam bidang filsafat dan logika. Di bidang tasawuf, karya-karyanya antara lain Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama), karya terkenal Kimiya as-Sa’adah (The Chemistry of Happiness) dan Misykah al-Anwar (The Niche of Lights). Dalam bidang filsafat yaitu Maqasid al- Falasifah, kitab ini mengupas kelemahan para filosof pada masa itu.
Kemudian di bidang logika, Mi’Yar al-Ilm (standar ukuran ilmu), Al- Qistas al-Mustaqim (Keseimbangan yang adil), Mihakk al-Nazar fi al- Manthiq (batu ujian pembuktian dalam logika).
Di sini kita akan membahas karyanya yang paling terkenal yaitu Ihya ulumuddin. Ini mencakup hampir semua bidang ilmu Islam: fiqh (yurisprudensi Islam), kalam (teologi) dan tasawuf. Karya ini memuat empat bagian utama: Tindakan ibadah atau Rub al-ibadat, Norma kehidupan sehari-hari (Rub Al-Adatat), jalan menuju kehancuran (Rub al- muhlikat) dan Jalan Keselamatan (Rub al-munjiyat). Ihya menjadi teks Islam yang paling sering dibaca setelah Al-Qur'an dan hadis. Prestasi
besarnya adalah menyatukan teologi ortodoks Suni dan mistisisme Sufi dalam panduan yang bermanfaat dan komprehensif untuk setiap aspek kehidupan dan kematian Muslim. Buku ini diterima dengan baik oleh para cendekiawan Islam seperti al-Nawawi yang menyatakan bahwa:
“Seandainya kitab-kitab Islam akan hilang, kecuali hanya Ihya', cukuplah untuk menggantikan semuanya.2
Selain itu Al-ghazali juga merumuskan 3 alasan kenapa seseorang itu harus melakukan kegiatan ekonomi yang pertama, untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sebagai makhluk sosial, kedua untuk mensejahterakan keluarga, dan yang ketiga untuk membantu antar sesama makhluk sosial yang membutuhkan.
Dari tiga aktivitas ekonomi diatas membuktikan bahwa kesejahteraan seseorang akan tercapai bila tingkat kebutuhan mereka terpenuhi. Untuk mencapai tingkat kemaslahatan tidak akan terlepas dari satu faktor yaitu harta, karena harta adalah objek utama dalam memenuhi kebutahan jasmani khususnya sandang, pangan, papan.
Dan menurut Al-Ghazali harta juga alat atau wasilah yang berfungsi sebagai penghubung dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun pendapat Al-ghazali harta itu adalah alat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi harta bukanlah tujuan akhir atau tujuan utama manusia hidup dimuka bumi ini. Melainkan sarana yang ALLLAH berikan untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai umat muslim.
Oleh karena itu, kesejahteraan atau kemaslahatan sosial menurut A-ghazali tidak hanya membahas tentang kebutuhan hidup di dunia saja
2https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali, di akses jam 20.39 Selasa, 21 November 2023
tetapi membahas tentang kebutuhan untuk mencapai falah (kebahagian) di dunia dan di akhirat kelak.3
2. Konsep Uang Menurut Al-Ghazali
Sebelum melangkah lebih jauh tentang pendapat Al-Ghazali mengenai Uang, alangkah lebih baik kita mengetahui dari sumber dan pedoman kita sebagai umat islam yaitu al-Quran dan hadist. Ternyata Uang sudah di gunakan oleh manusia sejak ribuan tahun sebelum kelahiran Rasulullah.
Terbukti dalam al-Qur’an, Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf yang dijual oleh para musafir sebagai budak, sebagaimana firman allah dalam Q.S Yusuf;
20)
“dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Qs. Yusuf; 20)4
Ayat tersebut menceritakan kisah Nabi Yusuf yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Yusuf kecil ditemukan oleh musafir yang menimba air di sumur tersebut, lalu mereka menjual Yusuf sebagai budak dengan harga yang murah yaitu beberapa dirham saja.
Dengan jelas ayat ini menyebutkan kata Dirham sebagai mata uang logam dari perak.
Kata Dinar disebutkan satu kali dalam al-Qur’an (Qs. Al-Imran;75) yaitu:
3https://www.kompasiana.com/dilamarsha7381/638228f54addee2ce31ded72/konsep- kesejahteraan-maslahah-imam-al-ghazali?page=2&page_images=1 di akses jam 19.20 Kamis, 23 November 2023
4 https://tafsirq.com/12-yusuf/ayat-20 di akses 20.33 Selasa, 21 November 2023
“Diantara ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya...”5
Pada masa itu yang menjadi alat pembayaran, pembelian atau alat tukar adalah Dirham dan Dinar. Dimana pada masa itu Dirham sebagai mata uang logam dari Perak Sementara Dinar mata uang logam dari Emas. Selain itu Dirham dan Dinar adalah jenis mata uang yang di gunakan sebelum adanya Islam maupun sesudah-Nya.
Maka dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa Uang merupakan sesuatu yang dapat diterima sebagai alat pembayaran dalam suatu wilayah tertentu atau sebagai alat pembayaran utang, atau sebagai alat untuk melakukan pembelian barang dan jasa. Namun seiring berkembang-Nya zaman mata uang dirham dan dinar berubah hingga kini menjadi uang kertas.
Al-Ghazali memandang perkembangan ekonomi sebagai bagian dari tugas-tugas kewajiban sosial (fard al-kifayah) yang sudah ditetapkan Allah SWT: jika hal-hal ini tidak dipenuhi, kehidupan dunia akan runtuh dan kemanusiaan akan binasa. Tiga alasan mengapa seseorang harus melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi, yaitu untuk mencukupi kebutuhan hidup yang bersangkutan, untuk mensejahterakan keluarga dan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, Dan untuk memenuhi itu semua peranan mata uang sangat dibutuhkan.
5 https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-75 di akses 20.57 Selasa, 21 November 2023
Setiap manusia memerlukan bermacam-macam materi dalam hal kebutuhan sandang pangan dan kebutuhan lainnya. (tapi) terkadang ia tidak mampu menemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut sedangkan saat itu ia memiliki barang yang sedang tidak ia butuhkan. Karena itu diperlukan adanya suatu alat tukar (uang) dan alat pengukur nilai bagi benda-benda yang akan dipertukarkan. Karena tidak mungkin seseorang yang memiliki unta menyerahkan unta yang dimilikinya (hanya) untuk mendapatkan za’faran.
Lagi pula tidak ada korelasi antara za’faran dengan unta yang dapat menunjukkan perbandingan harga antara keduanya.”
Analisa Al-Ghazali dalam perekonomian berdasarkan perkataan di atas adalah :
1. Double Coincedence of wants yakni harus ada pertemuan kebutuhan yang saling bersesuaian antara dua orang yang akan melakukan transaksi dengan barang yang dimiliki oleh masing-masing pihak.
2. Valuation, dalam hal melakukan perbandingan nilai atau harga dari dua jenis barang yang akan dipertukarkan, misal 1 Kg beras dengan seekor sapi, tentu nilainya tidak sebanding dan untuk menentukan perbandingan nilainya tidak mungkin sapi tersebut harus dipotong- potong menjadi bagian kecil yang setara dengan nilai beras tersebut.6 Inilah yang kemudian menjadi konsep dasar keuangan al-Ghazalî, dari pernyataan di atas dapat diambil suatu definisi uang menurut al-Ghazalî, yaitu:
a. Barang atau benda yang berfungsi sebagai sarana mendapatkan barang lain. Dengan kata lain uang adalah barang yang disepakati fungsinya sebagai media pertukaran (medium of exchange);
6 https://www.islampos.com/uang-menurut-imam-al-ghazali-228150/ Di akses Jam 20.44 Kamis,23 November 2023
b. Benda tersebut tidak memiliki nilai sebagai barang (nilai intrinsik);
c. Nilai benda yang berfungsi sebagai uang ditentukan terkait dengan fungsinya sebagai alat tukar. Dengan kata lain yang lebih berperan dalam benda yang berfungsi sebagai uang adalah nilai tukar dan nilai nominalnya.7
Al-Ghazali menyadari bahwa salah satu penemuan terpenting dalam perekonomian adalah Uang. Ia menjelaskan bagaimana uang mengatasi permasalahan yang timbul dari suatu pertukaran barter.
Dari sini kita dapat pahami bahwa pentingnya uang bukan hanya pada zaman kita saat ini tapi di zaman-zaman sebelumnya bahkan zaman sebelum Nabi Muhammad Saw.
lahir. Adapun Evolusi Uang adalah sebagai berikut:
a) Sistem Barter (Barter System)
Al-Ghazali mempunyai wawasan yang sangat komprehensif mengenai berbagai problema barter yang dalam istilah modern disebut sebagai:
a) Kurang memiliki angka penyebut yang sama (lack of common denominator).
b) Barang tidak dapat dibagi-bagi (indivisibility of goods).
c) Keharusan adanya dua keinginan yang sama (double coincidence of wants).
Walaupun dapat dilakukan, pertukaran barter menjadi sangat tidak efisien karena adanya perbedaan karakteristik barang-barang (seperti unta dan kunyit).8
b) Uang Barang (Commodity Money)
7 Jalaluddin “Konsep Uang Menurut Al-Ghazalî” Jurnal, Hal.6
8Moh. Muafi Bin Thohir “Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Ekonomi Islam Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin” Jurnal IAISLI, hal.11-12
Uang komoditas dipandang sebagai bentuk yang paling lama. Sejak orang-orang menemukan kesulitan dalam sistem barter, mereka kemudian menjadikan salah satu barang komoditas yang bisa diterima secara luas, dan dari segi kuantitas mencukupi kebutuhan untuk berfungsi sebagai alat tukar menukar dan unit hitungan terhadap barang komoditi dan jasa lainnya. Bangsa Arab masa jahiliyyah menggunakan unta atau kambing. Di Yaman, kerbau sangat berperan penting dalam proses jual beli, sedangkan di Tebet menggunakan teh ikat, ataupun di suku-suku di Afrika menggunakan sapi dan kambing. Sedangkan penduduk Virginia menggunakan tembakau ikat, begitupun di suku Indian menggunakan gula dan wol, dan di Ethiopia menggunakan garam.
c) Uang Logam (Metal Money)
Penggunaan logam merupakan fase kemajuan dalam sejarah uang.
Media uang logam digunakan sejak masyarakat merasakan kesulitan ketika menggunakan uang komoditi. Para ahli ekonomi mengembalikan jenis-jenis uang logam yang beragam, ini di wujudkan dalam dua bentuk utama, yaitu sistem satu macam logam dan sistem dua macam logam. Pertama, sistem dimana uang utamanya terbatas pada satu cetakan logam saja. Sedangkan yang selanjutnya adalah sistem dua logam, yaitu sistem yang cetakannya ter-diri dari emas dan perak dalam bentuk yang sama sebagai mata uang utama.
d) Uang Kertas
Uang kertas muncul pertama pada tahun 910 M di China. Kelebihan tersendiri bagi penduduk China sebagai penemu utama. Pada awalnya mereka menggunakan uang kertas atas dasar penopang logam emas dan perak. Pada abad 10 M, pemerintahan China menerbitkan uang kertas yang tidak ditopang, dan pada abad 12 M, China sudah mengenal uang kertas yang tidak bisa ditukarkan dengan emas dan perak. Meskipun emas dan perak dianggap sebagai bahan terbaik untuk dijadikan uang, tetapi al-Ghazalî menyebutkan bahwa hal tersebut bukanlah suatu keharusan. Menurutnya boleh saja mata
uang terbuat dari benda selain emas dan perak, tetapi pemerintah harus menjaga dan mengendalikan stabilitas nilainya. Negara akan mempraktikan sistem uang emas atau perak, jika negara tersebut menggunakan mata uang tersebut dalam transaksinya, baik ke dalam maupun ke luar negaranya, ataupun apabila di dalam negara tersebut mempergunakan mata uang kertas yang bisa ditukarkan menjadi emas9.
Kalo relevansi uang kertas di kehidupan sekarang saya rasa semua bisa menyaksikan dan mengalami-nya sendiri melalui transaksi-transaksi yang kita lakukan. Namun ada beberapa hal kejadian langsung yang pernah saya alami sendiri atau mungkin teman-teman pernah alami yaitu ketika uangnya robek dan tidak terlihat jumlah nominal pada gambar maka uang kertas ini tidak bernilai lagi. Jadi kelemahan dari uang kertas ini salah satu-nya adalah mudah rusak/robek.
3. Peranan Negara dan Keuangan Publik
Al-Ghazali memberikan nasihat dan komentar rinci mengenai tata urusan negara. Dalam hal itu ia tidak ragu menghukum para penguasa. Ia menganggap negara sebagai lembaga yang penting tidak hanya untuk berjalannya aktivitas ekonomi dari suatu masyarakat dengan baik, tetapi juga untuk memenuhi kewajiban sosial sebagaimana yang diatur oleh wahyu allah swt. Al-Ghazali menitik beratkan peranan utama negara diantara empat industry dalam, kategori pertamanya, yakni sebagai suatu yang esensial untuk menjaga hidup orang bersama dan harmonis. Negara harus berjuang untuk kebaikan masyarakat melalui kerjasama dan rekonsiliasi. Al- Ghazali menitik beratkan dalam meningkatkan kemakmuran ekonomi, negara harus menegakkan keadilan, kedamaian, dan keamanan, serta stabilitas. Ia menekan perlunya “aturan yang adil dan seimbang”. Ia menekan bahwa negara harus mengambil suatu tindakan yang perlu untuk menegakkan
9Asysyariahhttps://www.researchgate.net/publication/329560763_konsep_uang_menurut _al-ghazali di akses pada jam 10.45 sabtu, 07 oktober 2023
kondisi keamanan internal dan eksternal. Ia menganjurkan kepada para penguasa untuk tidak larut dalam memperturutkan hasrat-hasrat duniawi sesuatu yang bertentangan dengan nilai Islam dan menganggu penyelenggaraan negara.
a. Sumber-Sumber Pendapatan Negara
Seharusnya berbagai pendapatan negara hanya dapat dikumpulkan dari seluruh penduduk, baik Muslim maupun non-Muslim, dalam Islam terdapat beberapa perbedaan dari pengumpulan pendapatan dari setiap kelompok. Al- Ghazali merasa pemungutan pajak yangterjadi di zamannya adalah melanggar hukum. Ia merasa pembayaran pajak dilakukan karena merupakan kebiasaan sebelumnya bukan berdasarkan hukum Illahi.
Al-Ghazali menyebutkan bahwa salah satu sumber pendapatan yang halal adalah harta tanpa ahli waris yang pemiliknya tidak dapat dilacak, ditambah sumbangan sedekah atau wakaf yang tidak ada pengelolanya. Pajak yang dikumpulkan dari non Muslim berupaghanimah, fai, jizyah, dan upeti. Ia menyarankan pengeluaran publik harus memilki manfaat yang besar bagi negara dan lebih fleksibel dalam pemanfaatan untuk negara. Berdasarkan prinsip umum keadilan, ia menganjurkan konsep kemampuan-bayar, konsep yang dimaksudkan sebagai sebuah sistem pajak yang sangat progresif.
disarankan juga agarmasyarakat tahu pemanfaatan sumber daya mereka.
b. Utang Publik
Pada masa ini, utang publik diperbolehkan oleh Al-Ghazali di adakannya utang publik jika memungkinkan untuk menjamin pembayaran kembali dari pendapatan dimasa yang akan datang. Dimasa kini contoh utang publik adalah revenue bonds yang digunakan secara luas oleh pemerintah pusat dan lokal di Amerika Serikat.
c. Pengeluaran Publik
Penggambaran fungsional pengeluaran publik yang direkomendasikan Al-Ghazali bersifat longgar dan luas, yakni penegakkan keadilan sosio ekonomi, keamanan, dan stabilitas negara, serta pengembangan suatu masyarakat yang makmur. Pengeluaran publik dapat diadakan untuk fungsi- fungsi seperti pendidikan, hukum, dan administratif publik, pertahanan, dan pelayanan kesehatan. Selain itu ia menekan kejujuran dan efisiensi dalam urusan disktor publik. Perbendaharaan publik yang dipegang penguasa tidak boleh bersikapboros dengan keadaan sosial yang stabil dan aman.10
4. Pasar
1. Pertukaran Suka Rela Dan Evolusi Pasar
Al-Ghazali menyatakan bahwa timbulnya pasar didasarkan pada kekuatan permintaan dan penawaran untuk menentukan harga dan laba. Selain itu, pasar berevolusi sebagai bagian dari ”hukum alam” segala sesuatu, yakni sebuah eksperesi berbagai hasrat yang timbul dari diri sendiri untuk saling memuaskan kebutuhan ekonomi.
Menurut Al-Ghazali secara alami manusia selalu membutuhkan orang lain; petani membutuhkan ikan yang ada pada nelayan, sebaliknya nelayan membutuhkan beras yang ada pada petani, dan lain sebagainya. Dalam memenuhi kebutuhan itu, manusia pun memerlukan tempat penyimpanan dan pendistribusian semua kebutuhan mereka. Tempat inilah yang kemudian didatangi manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dari sinilah munculnya pasar. Petani ataupun nelayan yang tidak dapat secara langsung melakukan barter atau pertukaran barang milik mereka dengan barang yang mereka butuhkan. Hal ini menjadi faktor yang mendorong
10Avi Dinda Putri Sheila “Pemikiran Ekonomi Islam Menurut Imam Al-Ghazali”, Jurnal, Hal.8-9
mereka untuk melakukan transaksi di pasar. Para pedagang melakukan jual beli dengan tingkat keuntungan tertentu.
Jika petani tidak mendapatkan pembeli dan barang yang dibutuhkannya, ia akan menjual barangnya dengan harga yang lebih murah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa harga ditentukan oleh permintaandan penawaran.
2. Aktivitas Produksi
Al-Ghazali menggambarkan aktivitas produksi menurut kepentingan sosial dan menitik beratkan perlunya kerja sama dan koordinasi serta fokus utamanya adalah tentang jenis aktivitas yang sesuai dengan prinsip-prinsip produksi dalam Islam. Karenanya, Islam mengajarkan umatnya untuk mendahulukan kepentingan ekonomi dan akhlak, berkaitan dengan aktivitas produksi, pemeliharaan nilai dan keutamaan yang diajarkan agama. Kesatuan antara ekonomi dan akhlak, akan semakin jelas pada langkah-langkah ekonomi, baik yang berkaiatan dengan produksi, konsumsi dan distribusi.11
Adapun prinsip-prinsip Produksi dalam islam adalah berproduksi dalam lingkaran halal, keadilan dalam berproduksi, seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang islam, kegiatan produksi harus memperhatikan aspek social-kemasyarakatan, permasalahan ekonomi muncul bukan hanya karena kelangkaan tapi lebih kompleks.12
3. Produksi Barang-Barang Kebutuhan Dasar Sebagai Kewajiban Sosial
11 Fadli Dewangga https://www.scribd.com/document/654828018/makalah-pemikiran- ekonomi-islam-imam-al-ghazali di akses on 6 Oktober 2023
12 Widya Sari https://media.neliti.com/media/publications/publications/255702- produksi-distribusi-dan-konsumsi-dalam-i-79c429f6.pdf diakses on 19.50, Jumat 20 Oktober 2023,
Al-Ghazali menganggap bahwa kerja sebagai bagian dari ibadah seseorang. Bahkan, produksi barang-barang kebutuhan dasar sebagai kewajiban sosial (fard alkifayah).
Hal ini berarti, jika telah ada sekelompok orang yang berkecimpung di dunia usaha yang memproduksi barang- barang tersebut dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan masyarakat, maka kewajiban seluruh masyarakat telah terpenuhi. Namun, jika tidak ada seorang pun yang
melibatkan diri dalam kegiatan
tersebut atau jika jumlah yang diproduksi tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, semua orang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat. Dalam hal ini, pada prinsipnya, negara harus bertanggung jawab dalam menjamin kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Di samping itu, ketidak seimbangan antara jumlah barang kebutuhan pokok yang tersedia dengan yang dibutuhkan masyarakat cenderung akan merusak kehidupan masyarakat13.
13Fadli Dewangga https://www.scribd.com/document/654828018/makalah-pemikiran- ekonomi-islam-imam-al-ghazali di akses on 6 Oktober 2023
SIMPULAN
Dari pemaparan materi diatas dapat kita simpulkan bahwa teori pemikiran Ekonomi Al-Ghazali saat ini masih relevan dengan zaman sekarang ini terbukti dari dengan adanya karya-nya yang berjudul Ihya Ulumuddin, yang mencakup hampir semua bidang ilmu Islam yaitu fikih (yurisprudensi Islam), ilmu kalam (teologi) dan tasawuf. Karya ini berisi empat bagian utama: Tindakan ibadah (Rub' al-'ibadat), Norma Kehidupan sehari-hari (Rub' al-'adatat), Jalan menuju Kebinasaan (Rub' al-muhlikat), dan Jalan Menuju Keselamatan (Rub' al- munjiyat). Karyanya inilah yang menjadi teks Islam yang paling sering dibaca setelah Al-Qur'an dan hadis. Di Indonesia sendiri karya Imam Al-Ghazali inilah yang menjadi acuan bagi majelis ulama Indonesia (MUI) selain dari al-quran dan hadist.
Selain Al-Ghazali juga merumuskan 3 alasan kenapa seseorang itu harus melakukan kegiatan ekonomi yang pertama, untuk memenuhi kebutuhan hidup
kita sebagai makhluk sosial, kedua untuk mensejahterakan keluarga, dan yang ketiga untuk membantu antar sesama makhluk sosial yang membutuhkan.
Dari tiga aktivitas ekonomi diatas membuktikan bahwa kesejahteraan seseorang akan tercapai bila tingkat kebutuhan mereka terpenuhi. Untuk mencapai tingkat kemaslahatan tidak akan terlepas dari satu faktor yaitu harta, karena harta adalah objek utama dalam memenuhi kebutahan jasmani khususnya sandang, pangan, dan papan. Berbicara mengenai kebutuhan tersebut maka tidak akan terlepas dari yang namanya moneter (uang), evolusi pasar, aktivitas produksi serta peran negara dan keuangan public.
DAFTAR REFERENSI
Faisal Moh. “Studi Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Ekonomi Islam” Jurnal IGM Vol. I, No.1,Agustus 201, hal.1
https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali, di akses jam 20.39 Selasa, 21 November 2023
https://www.kompasiana.com/dilamarsha7381/638228f54addee2ce31ded72/konse p-kesejahteraan-maslahah-imam-al-ghazali?page=2&page_images=1di akses jam 19.20 Kamis, 23 November 2023
https://tafsirq.com/12-yusuf/ayat-20 di akses 20.33 Selasa, 21 November 2023
https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-75 di akses 20.57 Selasa, 21 November 2023
https://www.islampos.com/uang-menurut-imam-al-ghazali-228150/ Di akses Jam 20.44 Kamis,23 November 2023
Jalaluddin “Konsep Uang Menurut Al-Ghazalî” Jurnal, Hal.6
Thohir Bin Muafi Moh. “Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Ekonomi Islam Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin” Jurnal IAISLI, hal.11-12
Asysyariahhttps://www.researchgate.net/publication/329560763_konsep_uang_m enurut_al-ghazali di akses pada jam 10.45 sabtu, 07 oktober 2023
Sheila Putri Dinda Avi “Pemikiran Ekonomi Islam Menurut Imam Al-Ghazali”, Jurnal, Hal.8-9
Dewangga Fadli https://www.scribd.com/document/654828018/makalah- pemikiran-ekonomi-islam-imam-al-ghazali di akses on 6 Oktober 2023
Sari Widya https://media.neliti.com/media/publications/publications/255702- produksi-distribusi-dan-konsumsi-dalam-i-79c429f6.pdf diakses on 19.50, Jumat 20 Oktober 2023,