35
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL TERHADAP PEMENUHAN KESELAMATAN KONSTRUKSI DI
INDONESIA
*Ulfa Fatmasari Faisal1, Ilham Fansuri2
1Program Studi Sarjana Teknik Sipil, FTSP, Universitas Trisakti
2Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin
Received: ……. Revised: …….. Accepted: ……..
Abstract
It is known that currently digital development is very rapid and has great benefits in helping to make construction work easier and more efficient. With the benefits it has, the construction industry is also not immune from developments in digital technology, such as fulfilling construction safety. Based on Minister of PUPR Regulation No.10/2021, in implementing SMKK it must meet Security, Safety, Health and Sustainability Standards. Fulfillment of these standards ensures construction engineering safety, occupational health and safety, public safety and environmental safety. This study will discuss technological developments towards fulfilling Construction Safety by referring to the substance of the SMKK and K4 Standards that have been established. Based on this, data collection was carried out based on construction projects in Indonesia through scientific journals, proceeding papers, books, and/or related official websites. The data is then processed using descriptive analysis to obtain patterns or descriptions of technological developments related to construction safety in Indonesia. It was concluded that the development of digital technology related to construction safety has been developed and implemented in Indonesia. However, there are still other aspects of construction safety that could be opportunities for further research. There is also limited information regarding the fulfillment of construction safety that can be accessed in general, so further research is needed to find out more comprehensive developments in construction safety technology.
Keywords: Digital Construction; K3 Construction; SMKK; Construction Safety Technology;
Abstrak
Diketahui saat ini perkembangan digital sudah sangat pesat dan memiliki manfaat yang besar dalam membantu penyelenggaraan pekerjaan konstruksi menjadi lebih mudah dan efisien. Dengan manfaat yang dimilikinya, industry konstruksi juga tidak luput dari perkembangan teknologi digital seperti salah satunya pada pemenuhan Keselamatan Konstruksi. Berdasarkan Permen PUPR No.10/2021, bahwa dalam penerapan SMKK harus memenuhi Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Keberlanjutan. Adapun dalam pemenuhan standar tersebut menjamin keselamatan keteknikan konstruksi, keselamatan dan Kesehatan kerja, keselamatan public, dan keselamatan lingkungan. Pada studi ini akan membahas perkembangan teknologi terhadap pemenuhan Keselamatan Konstruksi dengan mengacu pada substansi SMKK dan Standar K4 yang telah ditetapkan. Berdasarkan hal tersebut, pengumpulan data dilakukan berdasarkan pada proyek konstruksi di Indonesia melalui jurnal ilmiah, proceeding paper, buku, dan/atau website resmi terkait. Data tersebut kemudian diolah dengan Analisa deskriptif untuk mendapatkan pola ataupun gambaran dari perkembangan teknologi terkait dengan keselamatan konstruksi di Indonesia. Diperoleh kesimpulan bahwa perkembangan teknologi digital terkait keselamatan konstruksi telah berkembang dan diimplementasikan di Indonesia.
Walaupun demikian, masih terdapat aspek keselamatan konstruksi lainnya yang dapat menjadi peluang untuk di penelitian selanjutnya. Juga terbatasnya informasi terkait pemenuhan keselamatan konstruksi yang dapat diakses secara umum sehingga diperlukan penelitian lanjutan agar dapat mengetahui perkembangan teknologi keselamatan konstruksi yang lebih komprehensif.
Kata kunci: Digital Konstruksi; K3 Konstruksi; SMKK; Teknologi Keselamatan Konstruksi;
E-ISSN : 2621-4164 Vol. 6 No. 2
https://doi.org/10.25105/cesd.v6i2.18811
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL
TERHADAP PEMENUHAN KESELAMATAN
KONSTRUKSI DI INDONESIA CESD Vol. 6, No. 2, Desember 2023
36 Pendahuluan
Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih cukup tinggi dimana setiap tahun jumlahnya mengalami peningkatan (Sulistyaningtyas, 2021).
Sedangkan tenaga kerja pada sektor konstruksi mencakup 7-8% dari jumlah tenaga kerja di seluruh sektor, dan menyumbang 6,45% dari PDB di Indonesia. Sektor jasa konstruksi adalah salah satu sektor yang paling berisiko terhadap kecelakaan kerja disamping sektor utama lainnya.
(Sulistyaningtyas, 2021). Berdasarkan hasil olah data kecelakaan kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) dari program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaan tahun 2022, masih menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus setiap tahunnya. Pada tahun 2021 tercatat sebanyak 234.370 kasus yang menyebabkan kematian pekerja/buruh sebanyak 6.552 orang, meningkat sebesar 5,7 % dibandingkan dengan tahun 2020 (Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 2022).
Diketahui pula bahwa faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan yaitu faktor manusia, faktor mesin, dan faktor material (Bastuti, 2019).
Hal tersebut juga ditemukan bahwa secara garis besar faktor penyebab kecelakaan kerja diakibatkan oleh faktor manusia (Unsafe actions), seperti perilaku pekerja, pengalaman, kerja, usia dan tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kecelakaan kerja, lalu diikuti faktor lingkungan dan peralatan (Sulistyaningtyas, 2021). Faktor manusia lainnya yang dapat menyebab kecelakaan kerja yaitu tidak mengikuti prosedur, pandangan terhadap potensi bahaya, kelelahan, kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman, serta kurangnya pengawasan. Lalu penyebab kecelakaan kerja pada faktor lingkungan yaitu terbatasnya informasi keselamatan, lingkungan kerja tidak aman, kurang rambu keselamatan serta terbatasnya fasilitas keselamatan (Andriani dkk, 2022).
Dengan berbagai macam faktor penyebab kecelakaan kerja tersebut, maka diharapkan komitmen dari perusahaan untuk lebih aktif dalam mengambil langkah dan juga pengendalian agar dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja (Sulistyaningtyas, 2021) serta koordinasi dalam manajemen proyek untuk mengoptimalkan pengawasan terhadap keselamatan kerja (Andriani dkk, 2022).
Dengan perkembangan teknologi di era digitalisasi saat ini, sangat berpengaruh dalam peningkatan pekerjaan industri konstruksi. Sama halnya dengan perkembangan industri yang semakin meningkat, perkembangan teknologi pun dapat meningkatkan efektivitas dari pelaksanaan konstruksi, seperti efisiensi, pengurangan biaya dan peningkatan kesehatan dan keselamatan konstruksi (Mohd, dkk 2019).
Teknologi digital hampir digunakan di semua sektor industri termasuk pada sektor kesehatan dan keselamatan konstruksi. Terdapat beberapa implementasi teknologi yang dilakukan baik pada tahap pre-construction maupun pada tahap pelaksanaan konstruksi (Hongling Guo, 2017). Selain itu kebutuhan akan teknologi dalam dunia konstruksi juga menjadi pusat perhatian setelah adanya pandemi Covid-19, baik itu dari kebutuhan Pemerintah maupun penyedia jasa (Permatasari dkk., 2021).
Berbagai macam jenis teknologi telah digunakan untuk membantu dalam penyelenggaraan konstruksi, seperti pada pelatihan K3 menggunakan Virtual Reality, Augmented Reality, dan Game (Mohd dkk., 2019). Studi juga mengungkapkan bahwa pengawasan terhadap pekerja masih secara manual dan hal tersebut dianggap kurang efisien, sehingga dibutuhkannya tools untuk membantu mendeteksi terkait kelengkapan APD (Nurfirmansyah & Dijaya, 2022). Dalam pemanfaatannya, biasanya ditemukan beberapa teknologi untuk mendapatkan hasil yang maksimal, seperti mengintegrasikan teknologi berbasis sensor dengan BIM sehingga dapat meningkatkan manajemen keselamatan konstruksi, mengurangi kecelakaan kerja, namun dengan pemanfaatannya tentu akan meningkatkan biaya proyek (Asadzadeh dkk., 2020).
Adapun teknologi digital yang akan dibahas pada studi kali yaitu teknologi pemanfaatan visual, seperti VR, AR, CNN, BIM, Drone dan Motion Graphic (2D). Lalu kemudian ada teknologi pakai (wearable devices) dan teknologi berbasis sensor. Teknologi-teknologi yang disebutkan ini merupakan teknologi yang umum digunakan pada dunia K3 konstruksi, baik di dalam maupun diluar negeri.
Terlihat dari beberapa penemuan teknologi yang telah digunakan untuk memenuhi Keselamatan Konstruksi dari beberapa aspek keselamatan. Keselamatan Konstruksi di Indonesia pun telah diatur oleh PP No. 14 tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang No. 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi dan juga diatur secara khusus dalam Permen PUPR No.10 tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi.
37
Gambar 1. Substansi dan Penerapan SMKK berdasarkan Permen PUPR No. 10 Tahun 2021
Berdasarkan peraturan tersebut, Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat SMKK adalah bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi untuk menjamin terwujudnya Keselamatan Konstruksi. Adapun pekerjaan konstruksi yang dimaksud adalah keseluruhan atau sebagian kegiatan yang meliputi pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, pembongkaran, dan pembangunan kembali suatu bangunan. Sedangkan yang dimaksud Keselamatan Konstruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk mendukung Pekerjaan Konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Keberlanjutan yang menjamin keselamatan keteknikan Konstruksi, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, keselamatan publik, dan keselamatan lingkungan (Standar K4).
Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa dalam Keselamatan Konstruksi tidak hanya menyebutkan mengenai Kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, namun juga menjelaskan aspek keselamatan lainnya. Untuk mendukung pemenuhan keselamatan konstruksi tersebut, maka perlu untuk mengetahui ruang lingkup di aspek tersebut yang ] juga tertuang pada SE Menteri PUPR No. 10 tahun 2022 tentang Panduan Operasional Tertib Penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi Kementerian PUPR.
Pada studi kali ini penulis akan mencoba untuk merangkum dan membahas teknologi digital yang digunakan pada aspek kesehatan dan keselamatan konstruksi dan membaginya berdasarkan pemenuhan substansi SMKK, sehingga nantinya akan terlihat area atau aspek keselamatan konstruksi yang dapat terpenuhi dengan pemanfaatan teknologi digital ini.
Diharapkan juga dengan adanya studi ini pembaca mendapat pengetahuan baru dan dapat melihat bagaimana perkembangan teknologi terhadap pemenuhannya dalam Keselamatan Konstruksi dan juga dapat mengetahui peluang dalam mengembangkan teknologi terkait keselamatan konstruksi selanjutnya.
Metode
Metode yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan strategi penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Seperti disebutkan Ulvania, U. (2022) diketahui bahwa penelitian deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan suatu gejala (fenomena) atau sifat tertentu sesuai dengan kondisi terkini (Rukajat, 2018), metode faktual status status objek atau suatu keadaan dalam saat ini dengan interpretasi yang benar (Purba dkk, 2021), yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena yang ada, baik fenomena alam ataupun buatan manusia (Adiputra dkk, 2021). Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian untuk melihat bagaimana perkembangan teknologi dan peluang untuk mengembangkannya terkait dengan keselamatan konstruksi.
Adapun data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data penelitian kuantitatif, yang dimana nantinya data-data yang dikumpulkan dalam bentuk angka atau data kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk angka yang diperoleh dengan mengubah nilai tersebut menjadi nilai kuantitatif (Ramdhan, M., 2021). Data yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu penelitian dan juga literatur pendukung yang terkait dengan teknologi digital yang sedang berkembang saat ini, yang digunakan dalam mengimplementasikan keselamatan konstruksi pada proyek konstruksi.
Pengumpulan data sekunder ini dilakukan melalui jurnal ilmiah, proceeding paper, buku, dan/atau website resmi terkait. Mengingat bahwa pada studi ini menggunakan Peraturan Pemerintah dan juga Peraturan Menteri PUPR, sehingga data terkait yang dikumpulkan merupakan studi/penelitian hanya yang bersumber atau berlangsung dari dalam negeri saja.
Setelah mengumpulkan data-data tersebut, kemudian diolah hingga menghasilkan model penelitian seperti pada Tabel 1 dan dilakukan analisis untuk mencari hubungan ataupun pola pemanfaatan teknologi digital terhadap pemenuhan Keselamatan Konstruksi melalui SMKK.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa telah dilakukan beberapa kajian terdahulu terkait penggunaan teknologi digital dalam pemenuhan Keselamatan Konstruksi, seperti penggunaan Virtual Reality, Augmented Reality, Convolutional Neural Network (CNN), BIM, Unmanned Aerial Vehicle (Drone), Motion Graphic (2D), dan Sensor- based atau Internet of Things (IoT) pada proyek konstruksi di Indonesia.
38
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)
Berdasarkan PP No. 14 tahun 2021 dan Permen PUPR No.10 tahun 2021 untuk memenuhi Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Keberlanjutan (K4) pada pekerjaan konstruksi, maka terdapat 4(empat) aspek SMKK yang perlu diperhatikan dalam implementasinya. Sehingga dengan pemenuhan aspek tersebut, maka telah ikut dalam mewujudkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yang baik. Dengan melihat setiap aspek di SMKK, maka dapat dilihat bahwa terdapat beberapa substansi yang tercakup didalamnya.
Dengan menjadikan variabel dari setiap substansi pada penelitian ini diharapkan dapat melihat gambaran atau kondisi terkini terkait implementasi teknologi untuk memenuhi Sistem
Manajemen Keselamatan Konstruksi di Indonesia.
Diperoleh hasil bahwa terdapat 16 penelitian yang membahas keselamatan keteknikan konstruksi, yaitu terkait bangunan/ asset konstruksi, peralatan dan material. Lalu terdapat 28 penelitian yang membahas mengenai keselamatan dan Kesehatan kerja yang terkait dengan pemilik/pemberi kerja, tenaga kerja konstruksi, serta tamu, pemasok dan subpenyedia jasa. Terdapat 10 penelitian yang membahas keselamatan publik terkait masyarakat di sekitar proyek dan masyarakat yang terpapar.
Dan terdapat 12 penelitian membahas mengenai keselamatan lingkungan yang terkait dengan lingkungan kerja, lingkungan yang terdampak, lingkungan alam dan lingkungan terbangun.
Namun dari keseluruhan penelitian tersebut, diketahui bahwa hanya terdapat 5(lima) penelitian
Tabel 1. Klasifikasi Terkini Teknologi Terhadap Pemenuhan Substansi Keselamatan Konstruksi (SMKK) di Indonesia
Substansi SMKK VR AR CNN BIM Drone (UAV)
Motion Graphic
(2D)
Sensor- Based Keselamatan Keteknikan Konstruksi
- Bangunan/ asset konstruksi
* * *** * **
- Peralatan, material
** ** * * * *
Keselamatan & Kesehatan Kerja - Pemilik/
pemberi pekerjaan
* *** * ****
- Tenaga kerja konstruksi
** ** ****** * * * ***
- Pemasok, tamu, subpenyedia jasa
* * *
Keselamatan Publik - Masyarakat di
sekitar proyek
* *** * ***
- Masyarakat terpapar
**
Keselamatan Lingkungan - Lingkungan
kerja
** * ** ** * ****
- Lingkungan terdampak proyek - Lingkungan
alam - Lingkungan
terbangun
Sumber: Olahan Penulis yang hanya mencakup atau memenuhi 1(satu)
substansi SMKK saja, dan terdapat 16 penelitian
yang tersebar atau memenuhi beberapa substansi SMKK. Sehingga dapat dikatakan terdapat 21
39
penelitian yang membahas pemanfaatan teknologi untuk memenuhi keselamatan konstruksi di Indonesia.
Dari beberapa jenis teknologi tersebut yang terdapat pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa teknologi sensor-based merupakan teknologi yang dominan dibahas pada penelitian terdahulu dan juga diaplikasikan pada pekerjaan konstruksi di Indonesia. Dan secara umum, pemanfaatan teknologi pada keselamatan konstruksi ditujukan bagi tenaga pekerja konstruksi, pemilik atau pemberi pekerjaan, bangunan atau asset konstruksi, peralatan dan material, serta lingkungan kerja.
Dari hasil penelitian ini juga diperoleh bahwa sekitar 75% teknologi yang digunakan untuk memenuhi keselamatan konstruksi hadir dalam bentuk visual. Menurut Hongling Guo dkk., (2017), pemanfaatan teknologi visualisasi pada K3 konstruksi sangat berkembang dan banyak digunakan dalam meningkatkan manajemen keselamatan. Penggunaan teknologi visualisasi dapat dikategorikan berdasarkan waktu penggunaannya, yaitu visualisasi teknologi pada saat sebelum konstruksi (pre-construction) dan juga visualisasi teknologi pada saat pelaksanaan konstruksi. Sedangkan penggunaan visualisasi teknologi K3 pada saat pelaksanaan konstruksi dapat berupa pengecekan kebiasaan atau perilaku pekerja dan umumnya termasuk informasi lokasi dan gerakan, sehingga data informasi tersebut divisualisasikan dan dianalisa untuk membantu manajemen keselamatan di lokasi pekerjaan.
Virtual Reality – Augmented Reality
Seperti pada teknologi VR-AR banyak digunakan pada pelatihan K3, baik itu pelatihan penggunaan alat maupun pelatihan kebakaran (Hamonangan H.A., 2023). Dengan adanya VR-AR aplikasi mobile ini akan memudahkan para pekerja untuk mengenal lingkungan pekerjaannya dan juga meningkatkan produktivitas pekerjaan (Putri, F.A., 2022).
Peluang penggunaan Virtual Reality dalam simulasi pelatihan juga sangat besar karena kemudahan dalam penggunaan, persepsi kenikmatan dan keinginan seseorang untuk menggunakan VR (Arifin & Sudiarno, 2023). Juga disebutkan bahwa aplikasi AR juga dapat membantu para calon pekerja baru untuk mengetahui alat yang akan mereka gunakan dan juga rambu-rambu K3 di lapangan (Suandi dkk., 2020). Selain itu dengan adanya VR mampu mempermudah sebuah perusahaan dalam memberikan pelatihan alat berat kepada para pekerja, mengingat dengan adanya keterbatasan waktu, biaya, dan meminimalisir kecelakaan kerja (Nugraha & Firda, 2021).
Hal ini juga sejalan bahwa pemanfaatan visual pun digunakan pada teknologi Realita Maya
(Virtual Reality). Menurut Melinda & Widjaja (2022), “Virtual Reality adalah teknologi simulasi yang berbasis komputer dengan memanfaatkan visual dan pendengaran untuk menampilkan suatu lingkungan maya (virtual) ke dalam sistem koordian Cartesian. Adapun pemanfaatan Virtual Reality cocok untuk dunia pendidikan karena karakteristik yang dimilikinya”. Hal yang sama pun diungkapkan Nair dkk. (2021), “Virtual Reality adalah teknologi yang memudahkan komputer untuk berinteraksi dengan lungkungan tersimulasi, meningkatkan pelatihan desain produk, dan menyelesaikan permasalahan di dunia nyata”.
Tidak jauh berbeda dengan teknologi visual lainnya, teknologi Virtual Reality-Mixed Reality (VR-MR) mampu untuk melakukan identifikasi, menghindari, komunikasi dan tanggap bahaya, serta keselamatan alat berat (Moore &
Gheisari, 2019). Melalui Virtual Reality, seseorang juga mampu untuk belajar mengenai keselamatan konstruksi secara maksimal dan dalam kondisi aman (Le, Pedro dkk., 2015 dan Bin dkk., 2019).
Walaupun begitu, teknologi visualisasi pada pelatihan keselamatan masih tergolong terbatas karena dari beberapa studi terdahulu hanya sebatas informasi visual saja, belum mempertimbangkan interaksi ataupun kerja sama timbal balik dari teknologi tersebut (Hongling Guo dkk., 2017). Seperti teknologi visualisasi dengan identifikasi dan manajemen JHA disebutkan bahwa sudah mampu untuk mengidentifikasi hazard tipe kecelakaan besar seperti insiden jatuh dari ketinggian, kecelakaan diakibatkan material jatuh ataupun tabrakan spasial. Namun pada identifikasi JHA ini masih sebatas hazard yang bersifat temporer saja, sehingga masih membutuhkan pendekatan yang lebih potensial untuk digunakan pada industri konstruksi (Hongling Guo dkk., 2017). Sedangkan teknologi visualisasi untuk monitoring keselamatan dan peringatan di lokasi proyek sudah banyak mengenai monitoring keselamatan on-site yang terintegrasi dengan posisi dan gerakan pekerja, progress pekerjaan dan operasi peralatan konstruksi, namun masih terbatas pembahasan mengenai pengumpulan data berbasis gambar atau sensor (Hongling Guo dkk., 2017).
Convolution Neural Network (CNN)
Convolution Neural Network (CNN) merupakan sebuah teknologi yang mampu untuk merekognisi sebuah citra atau gambar yang telah didefinisikan/ diprogram sebelumnya. Adapun waktu yang diperoleh untuk mendeteksi penggunaan helm proyek yaitu 9,44 detik (Susanti dkk, 2023). Teknologi CNN ini juga kerap dikaitkan atau diintegrasikan dengan Artificial Neural Network (ANN) dan You Only Look Once (YOLO) yang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dari hasil penelitian ini ditemukan
40
beberapa pemanfaatan teknologi CNN, ANN, dan YOLO, baik digunakan secara individual maupun kombinasi diantaranya.
Untuk teknologi Convolution Neural Network (CNN) sendiri dominan digunakan untuk keselamatan pekerja konstruksi karena kemampuannya dalam mendeteksi benda yang telah mendapatkan pelatihan atau deep learning sebelumnya, sehingga mudah dimanfaatkan untuk mendeteksi sebuah benda yang berada dalam deteksi, seperti dapat mendeteksi kelengkapan rambu K3 melalui kamera atau cctv real-time (Mashita S.N., 2020), dan mendeteksi kelengkapan APD pada para pekerja konstruksi (Widodo B., dkk., 2021; Rachman F.F., dkk., 2021; Laily dkk, 2022; Mailoa & Santoso, 2022; Nugroho dkk., 2023).
Building Information Modelling (BIM)
Adapun teknologi visualisasi lainnya yang digunakan dalam Kesehatan dan Keselamatan Konstruksi yaitu Building Information Modelling (BIM). Dengan BIM ini, data informasi terkait proyek konstruksi mulai dari tahap desain hingga tahap pemeliharaan dan perawatan dapat diintegrasikan, sehingga dapat membantu dalam mitigasi risiko terkait K3 proyek. Di dalam BIM model tersebut nantinya akan terintegrasi dengan data register K3 konstruksi sehingga pada setiap model yang berpotensi sebagai sumber kecelakaan kerja akan diberikan atribut khusus. Melalui visualisasi BIM model tersebut, akan membantu untuk memitigasi kecelakaan kerja pada proyek konstruksi (Muzafar, 2019).
Dengan adanya BIM yang dapat digunakan pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi, maka sangat memudahkan perencana, pelaksana dan juga pengguna jasa sebagai strategi untuk meningkatkan keselamatan bahaya kebakaran pad bangunan gedung tinggi (Fasha NZ, A. A., 2022).
Kemampuan BIM sebagai alat yang dapat menyimpan informasi terintegrasi juga sehingga dapat digunakan hampir di semua aspek keselamatan konstruksi. Seperti pemenuhan pada keselamatan keteknikan, BIM yang terintegrasi dengan sensor dapat membantu untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko, pelatihan pekerja konstruksi (Nugroho, dkk., 2022).
Masih di dalam studi yang sama, penggunaan teknologi visualisasi yang dapat dilakukan pada saat pre-construction yaitu digunakan sebagai pelatihan keselamatan, yang dimana menggabungkan teknologi BIM dan VR sehingga menciptakan situasi dan lingkungan pekerjaan yang mirip dengan kondisi di lapangan, sehingga para pekerja akan mudah untuk mengenali
potensi bahaya yang kemungkinan akan mereka temui selama bekerja (Hongling Guo dkk., 2017).
Selain itu, visualisasi pada tahap pre- construction dapat dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengelola job hazard area (JHA) dengan bantuan teknologi BIM. Melalui BIM ini nantinya akan diperoleh lokasi atau daerah yang terdapat lubang atau sudut yang berpotensi sebagai JHA, dan nantinya akan memberikan informasi kepada pekerja letak dari JHA tersebut (Hongling Guo dkk., 2017).
Drone (UAV)
Teknologi lainnya yang dapat digunakan dalam pemenuhan keselamatan konstruksi yaitu drone. Dengan kemampuan drone yang dapat melakukan monitoring akan sangat membantu dalam melakukan pengawasan pekerjaan dan meminimalisir kecelakaan kerja yang mungkin dapat terjadi (MT Hardjo dkk., 2020).
Penggunaan drone juga bisa dilihat dalam kemampuannya untuk melakukan pemantauan lalu lintas, patroli keamanan, pemantauan transportasi publik, dan penyampaian barang (Dinas Perhubungan Aceh, 2023). Hal ini sejalan yang dimana dalam pekerjaan konstruksi juga melibatkan keselamatan publik dan lingkungan.
Namun pada konstruksi di Indonesia sendiri belum banyak studi atau penelitian yang membahas mengenai pemanfaatan drone untuk keselamatan konstruksi, walaupun mungkin saja sudah banyak pemanfaatan drone untuk keselamatan konstruksi namun memiliki akses informasi yang terbatas. Hal ini ditandai dengan hanya menemukan 1(satu) penelitian/studi kasus pada proyek konstruksi di Indonesia.
Wearable Devices
Selain teknologi berbasis visual juga terdapat teknologi dapat digunakan langsung (wearable devices) oleh pekerja konstruksi untuk memantau kesehatan dan keselamatan kerja.
Teknologi yang dapat dipakai dapat memantau dan mengukur berbagai metrik performa keselamatan di industri konstruksi secara efektif, dan juga berpotensial untuk meningkatkan pelaksanaan manajemen keselamatan (Awolusi, dkk, 2018).
Hal ini sama dengan terbatasnya artikel ilmiah ataupun penelitian terdahulu yang membahas mengenai penggunaan teknologi wearable devices pada pekerjaan konstruksi.
Padahal teknologi ini mampu untuk memantau kondisi kesehatan pekerja selama melakukan pekerjaan dan dapat memantau lokasi pekerja (Awolusi dkk. 2018).
Padahal banyak penelitian yang telah dilakukan sebelumnya diluar negeri terkait dengan
41
wearable device pada pekerja konstruksi, namun belum belum banyak diterapkan pada industri konstruksi Indonesia. Walaupun terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai wearable device di dalam negeri (Rosima & Suwardoyo, 2022 dan Kamajaya dkk., 2023) namun penggunaannya masih sebatas untuk pasien umum dalam dunia kesehatan (telemedicine).
Dalam studinya diperoleh beberapa penemuan dalam penggunaan teknologi wearable ini, yaitu (1) Potensi bahaya kesehatan dan keselamatan konstruksi, yang dimana matrik data yang diperoleh berupa data fisiologis pekerja, sensor lingkungan, deteksi jarak dan deteksi lokasi.
(2) Karakteristik performa teknologi wearable, yang dimana terkait dengan ukuran, berat, sumber daya, sensitivitas dan sensor, monitor multi- parameter, akurasi, ruang penyimpanan, posisi penggunaan alat, biaya dan perawatan, pita frekuensi, permasalahan sosial, pengolahan serta transmisi data. (3) Teknologi wearable terintegrasi untuk memantau performa keselamatan konstruksi.
Disebutkan bahwa teknologi wearable ini terdiri dari beberapa jenis sensor dan sistem yang dapat digunakan untuk mengukur dan memantau sejumlah matrik keselamatan konstruksi (Awolusi dkk. 2018).
Beberapa contoh sensor yang dapat digunakan pada teknologi wearable, yaitu Infrared, Magnetometer, Radar, RFID, Sonar, Bluetooth, GPS Accelerometer, Gyroscope, Ultrasound, UWB, Wi-Fi, Capacitive sensor, EKG/ECG, EMG, GSR, Sensor Kelembapan, Sensor Cahaya, Sensor Suara, Sensor Tekanan dan Sensor Suhu (Awolusi dkk. 2018).
Adapun dari teknologi yang dapat dipakai lainnya yaitu dengan jenis sistem Physiological Status Monitoring (PSM) yang digunakan kepada 2 (dua) pekerja operator diperoleh data matrik berupa detak jantung, laju pernapasan, sudut postur tubuh, kecepatan perjalanan, dan percepatan tubuh (Shen dkk., 2017). Hasil yang diperoleh dari penggunaan teknologi PSM tersebut yaitu terjadinya peningkatan detak jantung selama pekerjaan di waktu pagi dan sore hari. Lalu penurunan detak jantung secara drastis di saat waktu istirahat karena operator dalam posisi istirahat atau tidak dalam bekerja. Tidak hanya matrik data fisiologis, melalui teknologi yang dapat dipakai juga dapat dilakukan metode berbasis penginderaan (sensing) lainnya seperti sensor gerakan (unit pengukuran inersia).
Teknologi sensor ini dapat mendeteksi potensi bahaya pada lokasi pekerjaan dan juga kesehatan pekerja konstruksi selama bekerja.
Manfaat lain dari teknologi ini yaitu mencegah gangguan muskuloskeletal, mencegah jatuh, menilai beban kerja fisik dan kelelahan, mengevaluasi kemampuan mengenali bahaya, dan memantau status mental pekerja (Ahn dkk., 2019).
Namun teknologi wearable memiliki tantangan yang menghambat pengembangan lebih lanjut dan penerapan teknologi wearable, khususnya artefak sinyal dan kebisingan dalam pengukuran lapangan sensor wearable, standar variabel untuk risiko keselamatan dan kesehatan pribadi dalam konstruksi, penolakan pengguna terhadap adopsi teknologi, dan ketidakpastian mengenai dampaknya pada investasi (Ahn dkk., 2019).
Motion Graphic (2D)
Salah satu media teknologi lainnya yang dapat digunakan untuk memenuhi keselamatan konstruksi yaitu dengan motion graphic, yang dimana penggabungan antara ilustrasi (visual) dan teks sehingga informasi yang tersampaikan menjadi lebih maksimal (Pernando & Kaharuddin, 2022).
Media teknologi animasi 2D ini dianggap menarik karena mampu menyampaikan pesan kepada para pekerja dan dapat menyesuaikan tergantung sasaran/ audience. Dengan Motion graphic ini sendiri pun mampu untuk menyalurkan kreatifitas dan estetika dalam pengalaman media digital (Ji Z., 2013).
Berbasis Sensor (Sensor-Based)
Teknologi lainnya yang umum digunakan pada keselamatan konstruksi yaitu berbasis sensor (sensor-based). Perkembangan teknologi berbasis sensor dapat mempemudah manajemen keselamatan konstruksi karena kemampuannya untuk mengumpulkan data, transmisi data dan mengolahnya, sehingga manajemen keselamatan konstruksi menjadi lebih efisien, data terkini (real- time), pengolahan dan pengumpulan data yang akurat.
Selain itu, sensor-based atau biasa dikenal dengan alat pendeteksi juga banyak digunakan pada fase pemeliharaan dan perawatan bangunan (O&M), yang dimana umumnya pemilik atau pengguna bangunan yang menjadi substansi dari kesehatan dan keselamatan konstruksi. Sedangkan lingkup SMKK sendiri hanya mencakup sampai pada tahap konstruksi serah terima hingga masa pemeliharaan penyedia jasa konstruksi, sehingga pada tahap O&M, Kesehatan dan Keselamatan Kerja akan diatur dan diutamakan namun pada lingkup berbeda oleh pengguna jasa atau pemilik asset.
Beberapa contoh teknologi sensor-based yang telah dilakukan pada penelitian terdahulu seperti pendeteksi asap yang mengirimkan peringatan melalui smartphone (Najih, 2021), pendeteksi asap untuk sekolah (Nurzakiah dkk., 2022), proteksi kebakaran IGD rumah sakit (Fadilah dkk., 2019), monitoring dan notifikasi kualitas udara ruangan (Waworundeng &
42
Lengkong, 2018), serta monitoring tingkat kebisingan pada lingkungan kerja (Febriyanti, 2023).
Potensi ini dapat berkembang jika melihat teknologi berbasis sensor yang mampu memberikan kemampuan lebih dari itu. Adapun teknologi berbasis sensor yang telah digunakan pada keselamatan konstruksi dinegara lain yaitu sensor berbasis lokasi, sensor berbasis penglihatan (vision), jaringan sensor nirkabel, dll (Zhang dkk., 2017). Jaringan sensor nirkabel (Network Sensor Wireless) yang dapat mendeteksi objek dan alat juga dapat diintegrasikan dengan Building Information Modelling, sehingga memudahkan pengawasan secara visual dan data terkait kondisi lingkungan lainnya (Cheung dkk., 2018).
Beberapa kegunaan teknologi berbasis sensor pada manajemen keselamatan yaitu memudahkan dalam mengidentifikasi potensi bahaya (hazard), baik mengidentifikasi bahaya secara langsung yang berkaitan dengan perilaku ataupun dengan tempat bekerja, dan juga mengidentifikasi bahaya secara tidak langsung;
melakukan asesmen risiko; mengontrol risiko; serta meninjau tindakan pengendalian (Review Control Measures). Secara umum menjelaskan bahwa teknologi sensor tidak hanya pada manajemen keselamatan kerja, namun juga berkaitan dengan manajemen risiko keselamatan kerja (Asadzadeh dkk., 2020).
Selain itu, walaupun studi di Indonesia belum menyebutkan mengenai Kesehatan pada lingkungan kerja konstruksi, akan tetapi teknologi ini dapat menjadi potensi untuk diadaptasi pada pekerjaan konstruksi local untuk mengidentifikasi potensi bahaya pada udara di lingkungan kerja terbatas.
Kesimpulan
Dari studi literatur ini dapat dilihat bahwa, baik dari kajian maupun implementasi, pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan keselamatan konstruksi telah berlangsung dalam 5(lima) tahun terakhir ini. Walaupun demikian, masih dibutuhkannya penelitian ataupun pembahasan lebih lanjut apa yang mempengaruhi pemanfaatan teknologi di konstruksi Indonesia belum bisa diadopsi seperti negara-negara lainnya.
Selain itu masih terdapat beberapa aspek keselamatan yang belum dimanfaatkan didalam penggunaan teknologi tersebut, seperti aspek keselamatan lingkungan dan juga keselamatan publik. Padahal sudah banyak inovasi teknologi yang ada saat ini yang dapat diimplementasikan di proyek konstruksi Indonesia, seperti penggunaan sensor traffic di sekitar lingkungan proyek konstruksi ataupun sensor kualitas udara.
Sehingga dari studi ini dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi digital sudah cukup berkembang dan sudah beberapa diantaranya digunakan dalam pemenuhan keselamatan konstruksi di beberapa proyek konstruksi di Indonesia, walaupun masih terdapat banyak area penelitian yang bisa menjadi peluang untuk penelitian ataupun penerapan teknologi selanjutnya.
Selain itu, untuk penelitian selanjutnya dibutuhkan observasi dan survey langsung kepada pengguna dan penyedia jasa konstruksi terkait dengan pemanfaatan teknologi pada aspek keselamatan konstruksi. Hal ini disebabkan karena saat ini masih terbatasnya informasi yang didapatkan melalui studi literatur ilmiah karena tidak semua implementasi dan inovasi teknologi K3 terdukemntasi ke dalam jurnal ilmiah, sehingga kemungkinan masih banyak teknologi lainnya yang tidak termasuk ke penelitian ini.
Daftar Pustaka
Aceh, D. P. (2023, 11 7). Cara Pemanfaatan Drone Untuk Pemantauan Lalu Lintas. Diambil
kembali dari
https://dishub.acehprov.go.id/informasi/pe rbedaan-gerbong-dan-kereta/
Adiputra, I. M. S., Trisnadewi, N. W., Oktaviani, N.
P. W., Munthe, S. A., Hulu, V. T., Budiastutik, I., Faridi, A., Ramdany, R., Fitriani, R. J., Tania, P. O. A., & others.
(2021). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Yayasan Kita Menulis.
Ahn, C. R., Lee, S., Sun, C., Jebelli, H., Yang, K.,
& Choi, B. (2019). Wearable Sensing Technology Applications in Construction Safety and Health. Journal of Construction Engineering and Management, Volume 145, Issue 11 .
Andriani, N. D., Wayuni, I., & Kurniawan, B.
(2022). Analisis Faktor Penyebab Kecelakaan KerjaKonstruksi Pada Proyek Highrise Building dengan Metode Fault Tree Analysis(FTA). Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan 4(2), 235-241.
Arifin, R., & Sudiarno, A. (2023). Pengukuran Niat Penggunaan Virtual Reality Sebagai Alat SImulasi Pelatihan. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK), 10(4), 717-724.
Asadzadeh, A., Arashpour, M., Li, H., Ngo, T., Bab-Hadiashar, A., & Rashidi, A. (2020).
Sensor-based safety management.
Automation in Construction, Volume 113.
Awolusi, I., Marks, E., & Hallowell, M. (2018).
Wearable technology for personalized
43
construction safety monitoring and trending: Review of applicable devices.
Automation in Construction 85, 96-106.
Bastuti, S. (2019). Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Metode Failure and Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) Untuk Menurunkan Tingkat Risiko Kecelakaan Kerja (PT Berkah Mirza Insani). TEKNOLOGI Vo.2 Nomor 1.
Bin, F., Xi, Z., Yi, C., & Ping, W. G. (2019).
Construction safety education system based on virtual reality. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering.
Cheung, W.-F., Lin, T.-H., & Lin, Y.-C. (2018). A Real-Time Construction Safety Monitoring System for Hazardous Gas Integrating Wireless Sensor Network and Building Information Modeling Technologies. Sensors, 18(2).
Fadilah, F., Supriyanto, & Fathimah, A. (2019).
Kajian Sistem Proteksi Kebakaran Gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Leuwiliang Kabuapten Bogor Tahun 2018.
PROMOTOR Jurnal Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 2(2), 112-120.
Fasha NZ, A. A. (2022). Strategi Penggunaan BIM Untuk Meningkatkan Keselamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung Tinggi di Indonesia, Skripsi Thesis, Universitas Jenderal Soedirman.
Febriyanti, N. T. (2023). Perancangan Sistem Monitoring Kebisingan Secara Realtime Berbasis Website Dalam Lingkungan Kerja Sebagai Pendukung Data Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) . Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Guo, H., Yu, Y., & Skitmore, M. (2017).
Visualization technology-based construction safety management: A review. Automation in Construction Vol.73, pages 135-144.
Hamonangan, H. A. (2023). Pengembangan Media Pembelajaran Game Simulasi Berbasis Virtual Reality Pada Materi Evakuasi Kebakaran di Bangunan Gedung. Skripsi Thesis, Universitas Negeri Jakarta.
Ji, Z. (2013). Foundation Analysis on Motion Graphic Design. Art and design.
Kamajaya, L., Pracoyo, A., Palupi, L. N., &
Hidayat, A. R. (2023). Sistem Telemonitoring Kesehatan Berbasis IoT.
Jurnal Elkolind, 10(2), 137-145.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
(2022). Profil Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Indonesia Tahun 2022.
Jakarta Selatan: Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Laily, M. E., Fajri, F. N., & Oktagalu Pratamasunu,
G. Q. (t.thn.). Deteksi Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja Menggunakan Metode Mask Region Convolutional Neural Network (Mask R-CNN). Jurnal Politeknik Caltex Riau.
Le, Q. T., Pedro, A., & Park, C. S. (2015). A Social Virtual Reality Based Construction Safety Education System for Experiential Learning. Journal of Intelligent & Robotic Systems, 79, 487-506.
Mailoa, R. M., & Santoso, L. W. (2022). Deteksi Rompi dan Helm Keselamatan Menggunakan Metode YOLO dan CNN.
Jurnal INFRA, 10(2).
Mashita, S. N. (2020). Implementasi Deep Learning Object Detection Rambu K3 Pada Video Menggunakan Metode Convolutional Neural Network (CNN) Dengan Tensorflow. Skripsi Thesis, Universitas Islam Indonesia.
Melinda, V., & Widjaja, A. E. (2022). Virtual Reality Applications in Education.
International Transactions on Education Technology (ITEE), 1(1), 68-72.
Mohd, I. N., Ariffin, H. L., Nordin, M. Y., Ramly, Z. M., Mat Dzahir, M. A., Omar, S. R., &
Asmawi, M. F. (2019). Mini-Review on Technology in Safety Training Delivery.
Sustainable and integrated Engineering International Conference (SIE).
Moore, H. F., & Gheisari, M. (2019). A Review of Virtual and Mixed Reality Applications in Construction Safety Literature. Safety, (5)3.
MT Hardjo, M. R., Wahyuni, A., & Rahim, M. R.
(2020). Gambaran Keselamatan Pekerja Menggunakan Teknologi Pemantauan Drone Pada Proyek Konstruksi PT. X Makassar. Hasanuddin Journal ofPublic Health, 1(2), 142-151.
Muzafar, M. (2019). Building Information Modelling to Mitigate the Health and Safety Risks Associated with the Construction Industry: A Review.
International Journal of Occupational Safety and Ergonomics.
44
Nair, A. D., Mittal, A., & Sharma, V. (2021). A Brief Study on Virtual Reality.
International Journal for Research in Applied Science & Engineering Technology (IJRASET), Vol.9 Issue IV.
Najih, M. A. (2021). Rancang BAngun Alat Deteksi Asap Rokok dan Nyala Api Dengan Interface Aplikasi Telegram Berbasis Arduino. Jakarta: Universitas Mercu Buana.
Nugraha, B. S., & Firda, I. N. (2021). Perancangan Ruang Lingkungan 3d Untuk Aplikasi Virtual Reality Simulator Pengoperasian Alat Berat. Jurnal Teknologi Informasi, XVI(1).
Nugroho, P. S., Latief, Y., Mulyono, B., & Najmu Zaman, A. A. (2022). Penggunaan BIM Untuk Meningkatkan Keselamatan Kebakaran Pada Bangunan Geduung Tinggi. Jurnal Komposit, 6(1), 29-39.
Nugroho, A., Widhining K., D. A., & Fiolana, F. A.
(2023). Klasifikasi Helm Keselamatan Mengunakan Metode Convolutional Neural Network(CNN). Zetroem, 5(2), 94- 102.
Nurfirmansyah, A., & Dijaya, R. (2022). Deteksi Kelalaian Alat Pelindung DIri (APD) Pada Pekerja Konstruksi Bangunan. Seminar Nasional Inovasi Teknologi (hal. 058- 063). Kediri: Prosiding SEMNAS INOTEK, 6(1).
Nurzakiah, N. R., Khairunnisa, N. A., Ulhaq, H. D., Nurhikmah, W., Faridah, Y. H., & Yusup, M. (2022). Alat Multisensor Pendeteksi Kesehatan dan Kenyamanan Bangunan Dalam Mempersiapkan Bangunan Sekolah Untuk Pembelajaran Tatap Muka. Jurnal Difusi, 5(1).
Permatasari, R., Mahardika, I., & Soemardi, B. W.
(2021). Kajian Penerapan Teknologi Konstruksi Oleh Kontraktor Dalam Menghadapi Kondisi Pandemi Covid-19.
Konferensi Nasional Teknik Sipil 15.
Semarang.
Pernando, Y., & Kaharuddin. (2022). Perancangan Motion Graphic Sebagai Media Komunikasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Pekerja Operasional di Pelabuhan Teluk Bayur di PT Sea Asih Lines Padang. Journal Science and Social Network, V(2), 254-261
Putri, F. A. (2022). Development of Virtual Reality and Augmented Reality- Based
Occupational Health and Safety Management Systems. IC-ITECHS, 3(1).
Purba, E., Purba, B., Syafii, A., Khairad, F., Damanik, D., Siagian, V., Ginting, A. M., Silitonga, H. P., Fitrianna, N., SN, A., &
others. (2021). Metode Penelitian Ekonomi. Yayasan Kita Menulis.
Rachman, F. F., Bethaningtyas, H., & Iskandar, R.
F. (2021). Analisis Sistem Deteksi Penggunaan Hard Hat Pada Pekerja Konstruksi Menggunakan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Konvolusi. e- Proceeding of Engineering, 8(1) (hal. 327- 333). Telkom University.
Ramdhan, M. (2021). Metode penelitian. Cipta Media Nusantara.
Rosima, I., & Suwardoyo, U. (2022). Monitoring Detak Jantung Berbasis Internet of Things.
Jurnal Sintaks Logika, 2(3), 17-22.
Rukajat, A. (2018). Pendekatan Penelitian Kuantitatif: Quantitative Research Approach. Deepublish.
Susanti, S., Aulia, S., & Irawati, I. D. (2023).
Deteksi Helm Otomatis Untuk Keselamatan Kerja di Tempat Proyek Berbasis Yolo. e-Proceeding of Applied Science, 9(1) (hal. 28-32). Bandung:
Telkom University.
Shen, X., Awolusi, I., & Marks, E. (2017).
Construction Equipment Operator Physiological Data Assessment and Tracking. Practice Periodical on Structural Design and Construction, ASCE, Volume 22, Issue 4.
Suandi, Wibowo, S. A., & Auliasari, K. (2020).
Pengenalan Tools Keselamatan Kerja Menggunakan Augmented Reality Berbasis Android. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 4(1).
Sulistyaningtyas, N. (2021). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Akibat Kerja Pada Pekerja Konstruksi: Literature Review.
Journal of Health Quality Development, E-ISSN: 2798-2025; Vol.1, No.1, pages 51-59.
Ulvania, Ulvania (2022). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Guru dan Staf Tata Usaha (Studi Kasus pada MTsN 10 Tanah Datar Kecamatan Sungayang), Skripsi Thesis, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta.
45
Waworundeng, J. M., & Lengkong, O. (2018).
Sistem Monitoring dan Notifikasi Kualitas Udara dalam Ruangan dengan Platform IoT. Cogito Smart Journal, 4(1).
Widodo, B., Armanto, H., & Setyati, E. (2021).
Deteksi Pemakaian Helm Proyek Dengan Metode Convolutional Neural Network.
Journal of Intelligent Systems and Computation, 23-29.
Zhang, M., Cao, T., & Zhao, X. (2017). Applying Sensor-Based Technology to Improve Construction Safety Management.
Sensors, 17(8).