PERLINDUNGAN DESAIN INDUSTRI DALAM INDUSTRI PAKAIAN Prata Vitha Maysha Rado, Shivva Amalia Khoiralla,
Mohammad Reza Adiyanto SP, MM
Email : [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Dalam menciptakan sebuah desain pakaian, tentu kita membutuhkan proses pembuatan desain busana dengan membutuhkan waktu yang tidak singkat serta inovasi dan kreatifitas agar dapat menciptakan desain-desain busana dengan kualitas yang baik. Namun, dalam proses yang panjang tersebut, tekadang menyebabkan banyak orang yang tidak menghargai desain sebuah pakaian yang telah kita ciptakan. Hingga, pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai pelanggaran hak kekayaan intelektual yang dapat merugikan pendesain tersebut, seperti penggunaan desain tanpa izin, pelanggaran hak cipta, dan pemalsuan merek. Perlindungan hak kekayaan intelektual ini diperlukan untuk memastikan pendesain mendapatkan pengakuan dan imbalan yang adil atas karya mereka, serta mencegah penggunaan karya tersebut oleh pihak lain tanpa izin. Seorang desainer yang telah mendaftarkan karyanya maka tentunya akan memperoleh jaminan perlindungan hukum atas karyanya di negaranya atau di negara lain dimana ia mendaftarkan desainnya menggunakan Hak Prioritas. Pentingnya memberikan perlindungan hukum kepada Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) telah mendorong negara-negara maju khususnya, untuk membentuk TRIPs (Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights) yaitu suatu persetujuan yang berkenaan dengan, aspek dagang dari HaKI. Sesungguhnya TRIPs rnerupakan sebagian ketentuan yang ada dalam WTO (World Trade Organization) yaitu Organisasil''Perdagangan Dunia, dimana Indonesia sebagai salah satu anggota dari organisasi ini.
Melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 Indonesia telah menandatangani dan meratifikasi Konvensi WTO.
Kata Kunci : Desain industri, Perlindungan hukum, kekayaan intelektual.
PENDAHULUAN
Dalam menciptakan sebuah desain pakaian, tentu kita membutuhkan proses pembuatan desain busana dengan membutuhkan waktu yang tidak singkat serta inovasi dan kreatifitas agar dapat menciptakan desain-desain busana dengan kualitas yang baik.
Namun, dalam proses yang panjang tersebut, tekadang menyebabkan banyak orang yang tidak menghargai desain sebuah pakaian yang telah kita ciptakan. Hingga, pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai pelanggaran hak kekayaan intelektual yang dapat merugikan pendesain tersebut, seperti penggunaan desain tanpa izin, pelanggaran hak cipta, dan pemalsuan merek. Perlindungan hak kekayaan intelektual ini diperlukan untuk memastikan pendesain mendapatkan pengakuan dan imbalan yang adil atas karya mereka, serta mencegah penggunaan karya tersebut oleh pihak lain tanpa izin. Seorang desainer yang telah mendaftarkan karyanya maka tentunya akan memperoleh jaminan perlindungan hukum atas karyanya di negaranya atau di negara lain dimana ia mendaftarkan desainnya menggunakan Hak Prioritas.
Pentingnya memberikan perlindungan hukum kepada Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) telah mendorong negara-negara maju khususnya, untuk membentuk TRIPs (Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights) yaitu suatu persetujuan yang berkenaan dengan, aspek dagang dari HaKI. Sesungguhnya TRIPs rnerupakan sebagian ketentuan yang ada dalam WTO (World Trade Organization) yaitu Organisasil'Perdagangan Dunia, dimana Indonesia sebagai salah satu anggota dari organisasi ini. Melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 Indonesia telah menandatangani dan meratifikasi Konvensi WTO. Sebagai konsekwensi dari keikutsertaan Indonesia di WTO, Indonesia diwajibkan untuk memenuhi dan mentaati isi perjanjian dalam WTO maupun TRIPs.
Dengan konsekuensi tersebut, lndonesia harus mengupayakan untuk memberikan perlindungan kepada HaKI, yang sama yakni harus ditiadakan adanya distriminasi adtara warga. Negara sendiri dengan asing sesama anggota WTO melalui pengaturan dalam Undang-Undang sebagaimana ditentukan oleh TRIPs.
Untuk memenuhi ketentuan tersebut Indonesia telah membuat Undang-Undang Hak Cipta Merk dan paten yang sesuai dengan ketentuan dalam TRIPs Pengaturan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, yang mulai berlaku 20 Desember 2000. Sebelumnya ketentuan tentang Desain ladustri lebih banyak mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Dengan hadirnya Undang-Undang tentang Desain Industri maka ketentuan yang mengatur tentang Desain Industri dalam UndangUndang Perindustrian dinyatakan tidak berlaku.
Desain Industri yang merupakan bagian dari HaKI, sudah selayaknya untuk diberikan perlindungan hukum yang layak dan memadai, hal ini disamping untuk lebih mendorong kreatifitas para pendesain dalam melahirkan karya-karayanyajuga temyata bahwa terdapat nilai atau manfaat ekonomi yang besar di dalamnya Dapat dibayangkan bagaimana keadaan drmia ini jika tidak Desain. Karena temyata Desain sangat berkaitan efat dengan berbagal aspek kehidupan manusia. Desain telah memberikan suatu wama dan keindahan dalam kehidupan ini. Betapaun majunya suatu teknologi tanpa adanya dari Desain tidak berarti apa-apa, bahkan sekarang ini dalam perkembangan industri, para industriawan tidak hanya bersaing dalam segi teknologi namm juga berusahb untuk memadukan antara keduanya.
Keadaan ini hendaknya tidak menjadikan pendesain berbesar kepala dan sembrono dalam melahirkan karya-karya desainnya dan hanya mementingkan segi keuntungan saja.
Melainkan dalam berkarya harus memperhatikan etika profesi, tanggung jawab moral maupun ketentuan peraturan yang ada.
Lahirnya Undang-Undang tentang Desain Industri, sekalipun berangkat dari konsekwensi keanggotaan kita di WTO, ada harapan yang mendalam yakni sebagian dorongan bagi desainer tanah air untuk lebih berkeatifitas dan dapat bersaing dikancah perdagangan internasional- Oleh karena itu dalam hrlisan ini akan membahas dan menganalisa mengenar persyaratan-persyaratan apa yang harus dipenuhi agar Desain Industri tersebut mendapatkan perl indungan hukum dan bagaimana sistem perlindungan diberikan serta beberapa jangka waktunya.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian hukum yang sedang dilakukan oleh penulis ini, menggunakan suatu metode penelitiann, yakni dengan menggunakan metode penelitian hukum berupa kajian yuridis normatif, dimana masalah yang diangkat penulis, akan diulas dengan bahan hukum yang berkaitan, lalu juga dihubungkan dengan prinsip serta asas hukum, serta didukung bahan analsis berupa peraturan perundang-undangan maupun teori yang berhubungan, dengan nantinya akan dijabarkan secara analitis deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pasal 1 butir (1), Perlindungan Hukum diberikan pada bentuk luaran/tampilan luar (physical appearance) yang memberi kesan estetis dan bukan pada fungsi sebuah benda.
Namun kesan estetis ini bersifat umum. Kreasi Desain Industri harus dipisahkan atau dibedakan dari benda itu, karena desain merupakan sebuah “konsep” yang diterapkan pada produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan dan tidak melekat menjadi satu dengan barangnya. “Pemegang Hak Desain Industri” yang memiliki hak eksklusif dapat melaksanakan dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya. Subjek hak Desain Industri meliputi:
1) Pendesain atau yang menerima hak tersebut dari Pendesain,
2) Jika Pendesain terdiri atas beberapa orang secara bersama, Hak Desain Industri diberikan kepada mereka secara bersama, kecuali jika diperjanjikan lain. Pemegang Hak Desain Industri adalah pihak yang untuk dan/atau dalam Dinasnya Desain Industri itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain dan Perlindungan Hukum Desain Industri menganut sistem Konstitutif dengan prinsip “First to File Principle”.
Konsekwensinya, jika suatu Desain Industri yang dimiliki tidak terdaftar, maka tidak akan mendapatkan perlindungan hukum. Sebagai contoh, di Kabupaten Jepara memiliki banyak Pendesain/ Kreator, banyak belum mendapat prioritas karena kreativitas yang dimiliki masyarakat belum diapresiasi dengan maksimal oleh Pemerintah Daerah. Sehingga Undang-undang Desain Industri belum dapat dimanfaatkan secara optimal khususnya “Pendesain Meubel Ukir”. Ada beberapa kendala yang timbul belum optimalnya hukum dapat diimplementasikan yang menurut Friedman karena substansi, struktur dan kulturnya belum sesuai dengan kondisinya. Substansi dari Undang-undang Desain Industri itu sendiri belum mampu memberikan perlindungan hukum yang mencerminkan nilai keadilan sosial, yang tidak mengakar dalam tradisi budaya masyarakat Indonesia yang tumbuh dalam tradisi hukum masyarakat Indonesia yang berakar pada budaya komunal (kebersamaan). Karena budaya Undang Undang Desain Industri yang berlaku kini dari sudut historisnya, adalah transplantasi dari produk kaum Kapitalis-Liberal.
Masyarakat Pancasila mencari dan mengutamakan keseimbangan antara hidup sebagai pribadi dan hidup sebagai warga masyarakat, antara kehidupan materi dan kehidupan rokhani.
Sedangkan untuk mendapatkan Perlindungan Pendesain maupun produknya, harus melalui pengajuan Permohonan Pendaftaran ke Ditjen HKI Departemen Hukum dan HAM-RI. Di sisi lain: (1) Pendesain rata-rata adalah UMKM merasa belum tertarik untuk mendaftar, karena ketidaktahuan mereka terhadap arti penting dampak pendaftaran, juga belum ada perhatian khusus dari Pemerintah Daerah terhadap Perlindungan Pendesain/ Kreator Desain Industri, baik melalui upaya Pemberdayaan UMKM khususnya Desain Industri “mebel ukir”; (2) Belum faham kriteria Desain Industri yang termasuk dalam kategori bisa mendapatkan perlindungan hukum; (3) Belum mengerti dan memahami syarat-syarat yang harus dilengkapi untuk Permohonan Pendaftaran; (4) Belum tahu manfaat ekonomis dan yuridis dari Pendaftaran Desain Industri yang mereka ciptakan; (5) Kesulitan mengakses informasi dalam mengaplikasi Desain Industri ke Direktorat HKI Departemen Kehakiman dan HAM dan kurang sosialisasi dari Pemerintah Daerah terkait; (6) Sikap mistifikasi terhadap karya yang dihasilkan dan pengaruh konsep budaya (komunal) yang melekat pada konsep berpikir Pendesain/Kreator; (7) SDM kurang termotivasi secara optimal; (8) Tidak ada bimbingan dan pendampingan yang intensif serta tidak adanya pemberian/ subsidi biaya; (9) Tidak adanya kebijakan pola jemput bola dari Pemda setempat sebagai wujud kepedulian atau perhatian dan bantuan dari Pemerintah Daerah dalam menyiasati atau sebagai dana pancingan; (10) Undangundang tentang Perlindungan Pendesain pada Hukum Desain Industri belum memenuhi rasa keadilan sosial. Kekurang perhatian Pemerintah Daerah berdampak terjadinya beberapa kasus pembajakan/ penyerobotan seperti Kasus
“Dugaan Eksploitasi Folklor Jepara oleh Christoper HarrisonInggris; Kasus penyerobotan pendaftaran yang dilakukan pengusaha mitra bisnis tanpa ijin, ke negara asal mitra kerjanya; yang berdampak terbalik desain tersebut jusru didaftarkan oleh mitra bisnis di negara asal mitra. Seperti dalam sebuah event pameran dengan cara memotret, orang lain bisa mendapatkan hak secara legal.
Pemegang Hak Desain Industri dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, melalui perjanjian lisensi atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.
Pengalihan Hak Desain Industri tersebut harus disertai dengan Dokumen tentang Pengalihan hak dan wajib dicatat dalam Daftar Umum Desain Industri, dengan membayar biaya, diumumkan dalam Berita Resmi Desain Industri.
PENTINGNYA DESAIN INDUSTRI DI INDONESIA
Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi pembentukan World Trade Organization (WTO) melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1994. Konsekwensi Indonesia harus melaksanakan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundangundangan nasionalnya dengan ketentuan WTO, termasuk yang berkaitan Agreement onTrade Related Aspects of Intellectual Property Rights. Tujuan utama persetujuan TRIPsWTO adalah untuk meningkatkan perlindungan yang efektif dan memadai terhadap HKI dan untuk menjamin bahwa prosedur langkah-langkah penegakan hukum HKI itu sendiri tidak menjadi hambatan terhadap perdagangan. Perjanjian mengenai Trade Related Aspects Of IntellectualProperty Rights (TRIPs) atau aspek Perdagangan HKI merupakan salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Uruguay Round yang telah berjalan dari tahun 1986 hingga 1994.
Perjanjian putaran Uruguay menentukan jenis-jenis hak atas kepercayaan intelektual yang termasuk dalam perjanjian. Hak tersebut menyangkut:
copyrights atau hak cipta dan hak-hak yang terkait, trade marks atau merek dagang, geographical indication, industrial design, paten, topografi mengenaiintegrated circuit undisclosed information atau rahasia dagang. Salah satu cabang HKI yang harus dilindungi di Indonesia adalah Desain Industri.
Indonesia telah memiliki UU No. 31. Tahun 2000 tentang Desain Industri.
Pembentukan Undang-undang ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum yang memadai terhadap Desain Industri, yang pada gilirannya akan mempercepat pembangunan industri nasional serta sekaligus mendorong lahirnya berbagai kreasi dan inovasi di bidang Desain Industri.Ada lima pendekatan dalam sistem perlindungan Hak Desain Industri yakni pendekatan paten, hak cipta, desain, merek dan persaingan tidak sehat. Dalam pelaksanaan Desain Industri, dikenal Hak Desain Industri. Hak Desain Industri secara umum melindungi fitur-fitur bentuk, konfigurasi atau ornamen yang diterapkan pada suatu barang dengan berbagai proses industri. Fitur-fitur ini berada dalam suatu produk jadi (finished article), dan dapat dilihat dan dinilai dengan mata (judge by the eye). Oleh karena itu, Hak Desain Industri melindungi desain yang diterapkan pada barang, dan harus memiliki kebaruan.
Orang yang menghasilkan desain sebagai pemiliknya, dan ia berhak menikmati hak eksklusif (exclusive rights) berkaitan dengan desain tersebut. Pada dasarnya ada dua jenis hak dalam Hak Desain Industri yang harus dilindungi, yakni hak ekonomi (economic right) dan hak moral (moral right).
Hak ekonomi adalah hak yang dimiliki pemegang hak untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari hak ekslusif yang dimilikinya, yang dapat berupa hak untuk mengizinkan atau melarang pihak lain untuk membuat, menawarkan/menjual, menempatkan di pasar, impor, ekspor atau menggunakan produk yang di mana Desain Industri tersebut diterapkan, atau menyimpan barang untuk tujuan komersial tersebut. Sedangkan hak moral adalah hak personal di mana seorang pendesain untuk disebutkan namanya atas suatu karya desain. Banyak negara-negara yang menempatkan hak moral sebagai bagian dari hak cipta tapi terlepas dari perlindungan minor dalam undang-undang Hak Cipta terhadap kesalahan dalam atribusi. Pasal 5 Ayat (1) UU No. 31 Tahun 2000, jangka waktu perlindungan Hak Desain Industri adalah 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan. Perlindungan hak Desain Industri biasanya diberikan berdasarkan suatu prosedur pendaftaran terhadap Desain Industri tersebut (registered design). Perlindungan hukum Hak Desain Industri didasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Hal ini sesuai dengan pendapat dari Oemar Senoadji dan Padmo Wahyono yang menyatakan bahwa sumber hukum untuk konteks Republik Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945. Tujuan negara Indonesia sebagaimana tertulis pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945 adalah: “membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, Sistem perekonomian nasional tidak hanya berorientasi pada pasar di dalam negeri, namun juga berorientasi terhadap pasar internasional.Perkembangan internasional memberikan pengaruh terhadap perkembangan hukum nasional, antara lain terjadinya keterkaitan antara perkembangan hukum internasional dengan hukum nasional, terciptanya arena transnasional dalam praktek hukum yang bersumber dari kekuatan-kekuatan dan logika yang bekerja dalam bidang ekonomi. Keikutsertaan Indonesia menjadi anggota World Trade Organization (WTO) adalah dalam rangka memenuhi tujuan negara untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, khususnya di bidang ekonomi (perdagangan internasional).Dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI), melalui keikutsertaan Indonesia dalam keanggotaan WTO, mewajibkan Indonesia untuk melaksanakan ketentuan Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPS/WTO), yang mengatur aspek-aspek Hak Kekayaan Intelektual dihubungkan dengan perdagangan.
Salah satu bidang yang termasuk dalam sistem HKI tersebut adalah perlindungan Hak Desain Industri. Dalam pembentukan hukum yang mengatur Desain Industri harus tetap memiliki orientasi pada kepentingan nasional, walaupun ketentuan dalam Persetujuan TRIPs/WTO tidak dapat diabaikan.
Kecenderungan rezim kapitalistik dalam berbagai undang-undang HKI (termasuk undang-undang Desain Industri) perlu diwaspadai. Untuk itu dalam pembentukan peraturan perundangundangan seyogyanya mengacu pada falsafah Pancasila yang mengedepankan keseimbangan antara hak-hak individual dan hak masyarakat (komunal), prinsipprinsip hukum yang terkandung dalam UUD 1945 dan realitas sosial bangsa Indonesia.
Perlindungan hukum Hak Desain Industri di Indonesia harus berpegang pada teori keadilan yang berdasarkan pada Pancasila. Hal ini dipertimbangkan atas dasar bahwa ilmu pengetahuan yang ingin dikembangkan di Indonesia harus berdasarkan pada nilainilai keTuhanan dan berpuncak pada nilainilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
CARA MEMPEROLEH HAK DESAIN INDUSTRI
Bagi masyarakat yang concern dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) mempertanyakan terkait dengan sistem Perlindungan Hukum dari HKI khususnya Desain Industri yang merupakan bagian dari HKI. Terbukti sampi kini Indonesia belum mampu memberikan perlindungan hukum dan pengelolaan atas kekayaan intelektual masyarakat Indonesia secara optimal, dan belum efektif. Salah satu faktor penyebab keengganan masyarakat pendesain untuk mendaftarkan desain kreatifnya, di samping kewenangan pengadministrasian HKI dan pengelolaan HKI di daerah belum dibentuk.
Pada prinsipnya setiap orang atau badan (kreator/pendesain) yang telah mendapat persetujuan dari Permohonan Pendaftaran Desain Industri ke Direktorat HKI maka mendapat Hak Desain Industri atau berhak untuk monopoli selama 10 (sepuluh) tahun.
Pemegang Hak Desain Industri ini mempunyai hak untuk memberi izin atau melarang orang lain untuk membuat, menjual, mengimpor, mengekspor atau mengedarkan barang yang telah diberikan Hak Desain Industri. Abdul Bari Azed menegaskan, Desain Industri akan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Bagaimanapun perlindungan terhadap Desain Industri akan meningkatkan desain kreatifitas dalam menciptakan bentuk produk yang beragam di sektor manufaktur serta kerajinan.
Namun, pemerintah sangat minim melakukan sosialisasi mengenai Desain Industri, sehingga wajar bila kemudian ada ketidaktahuan masyarakat terhadap Desain Industri.
Padahal fasilitas keringanan telah digulirkan untuk UMKM tetapi tingkat realisasinya masih sangat rendah. Ada biaya khusus yang diberikan untuk UMKM, pelajar atau mahasiswa dalam mendaftarkan desainnya. Kelompok ini mendapat keringanan 50 persen dari Rp 600.000 setiap kali pendaftaran, berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2001
KESIMPULAN
Dalam proses pembuatan desain pakaian, penting untuk menginvestasikan waktu dan kreativitas untuk memastikan desain berkualitas tinggi. Namun, beberapa orang gagal menghargai upaya yang dilakukan dalam desain ini, sehingga menyebabkan pelanggaran hak kekayaan intelektual seperti penggunaan tanpa izin, pelanggaran hak cipta, dan pemalsuan. Melindungi hak- hak ini penting untuk memastikan desainer menerima pengakuan dan kompensasi yang adil atas karya mereka, serta untuk mencegah penggunaan tanpa izin oleh pihak lain. Dengan mendaftarkan desainnya, desainer dapat memperoleh perlindungan hukum di dalam negeri maupun di luar negeri melalui penggunaan Hak Prioritas. Pentingnya perlindungan hukum terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) mendorong negara-negara maju untuk membentuk TRIPs (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights), sebuah perjanjian yang menjawab permasalahan tersebut.
Indonesia sebagai anggota WTO telah berupaya memberikan perlindungan yang setara terhadap HKI tanpa diskriminasi, sesuai dengan peraturan TRIPs.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut, Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang Hak Cipta, Merek Dagang, dan Paten, sejalan dengan ketentuan TRIPs. Secara khusus, Undang-Undang Desain Industri yang berlaku sejak tanggal 20 Desember 2000 menggantikan ketentuan sebelumnya dalam Undang-Undang Industri tahun 1984. Desain Industri sebagai bagian dari HKI berhak mendapatkan perlindungan hukum yang memadai untuk mendorong kreativitas desainer dan memanfaatkan nilai ekonomi yang signifikan. Desain memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, menambah estetika dan keindahan. Dalam perkembangan industri saat ini, perusahaan tidak hanya bersaing dalam hal teknologi, namun juga berupaya untuk mengintegrasikan desain ke dalam produknya.
DAFTAR PUSTAKA
Desain, P., Bagi, I., Yang, U., Sosial, B., Jurnal, S., Hukum, P., Berkeadilan, Y., & Sukarmi, S. (2016).
PERLINDUNGAN DESAIN INDUSTRI BAGI UMKM: Vol. III (Issue 1).
Istighfarrin, S., & Aliwarman, F. (2022). PERLINDUNGAN HUKUM DESAINER PAKAIAN YANG DESAINNYA DIGUNAKAN TANPA IZIN UNTUK KEPENTINGAN KOMERSIAL. Jurnal Yuridis, 8(2), 206. https://doi.org/10.35586/jyur.v8i2.2857
Niru, A., & Sinaga, S. H. (n.d.). PERLINDUNGAN DESAIN INDUSTRI SEBAGAI BAGIAN DARI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DI INDONESIA.
Amarullahi Ajebi. (2023, March). Bagaimana Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Industri Desain Busana? Https://Pdb-Lawfirm.Id/Bagaimana-Perlindungan-Hak-Kekayaan-Intelektual- Dalam-Industri-Desain-Busana.