PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR
(Studi Kasus di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji)
Disusun Oleh:
EKO WIBOWO NPM. 1502030025
Jurusan Al Ahwal Al Syakhsiyah Fakultas Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) METRO
1442 H / 2021 M
ii
PERLINDUNGAN ORANG TUA TERHADAP ANAK DALAM PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR
(Studi Kasus di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji)
‘
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh:
EKO WIBOWO NPM 1502030025
Pembimbing I : H. Husnul Fatarib, Ph.D Pembimbing II : Nurhidayati, M.H
Jurusan Al Ahwal Al Syakhsiyah Fakultas Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI METRO
1442 H / 2021 M
iii
iv
vi
vii ABSTRAK
PERLINDUNGAN ORANG TUA TERHADAP ANAK DALAM PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR
(Studi Kasus di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji) Oleh
Eko Wibowo
Pernikahan adalah salah satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan. Mengingat betapa besar tanggung jawab, baik suami maupun istri perlu memiliki kesiapan matang, baik fisik maupun psikis. Bagi laki-laki, ketahanan fisik lebih dituntut lagi seperti disebutkan dalam Al-Qur'an, laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.Undang-undang Pernikahan di Indonesia mengatur batasan umur bagi seseorang yang akan melangsungkan Pernikahan, dengan kata lain seseorang harus mencapai umur tertentu sehingga ia diizinkan atau dibolehkan untuk menikah. Batas umur yang ditentukan adalah Pernikahan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Peran orang tua dalam Pernikahan dibawah umur sangat berpengaruh pada kelangsungan Pernikahan tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana perlindungan orang tua terhadap anak yang menikah dibawah umur di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji.. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field reserch) dan bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi guna mendapatkan data yang dibutuhkan, dengan menggunakan metode analisisis secara induktif
Hasil penelitian yang sudah dilakukan didapat temuan yaitu Pernikahan dibawah umur dilakukan karena adanya pergaulan bebas, dasar suka sama suka serta dukungan dari orang tua. Pernikahan dibawah umur ini menyebabkan orang tua melakukan perlindungan terhadap anaknya dalam bentuk perlindungan fisik, perlindungan ekonomi, dan perlindungan psikologi secara mendalam. Akibat yang ditimbulkan dari perlindungan orang tua terhadap Anak dalam Pernikahan dibawah umur ini adalah tidak menumbuhkan kesungguhan berusaha untuk mecari rizki, tidak terbentuk rumah tangga yang mandiri dan tidak terpenuhinya hak dan kewajiban antara suami dan isteri.
Dengan demikian disarankan untuk orang tua, mereka harus lebih tegas pada anaknya yang sudah menikah agar bisa menjadi keluarga yang mandiri.
Orang tua harus bisa dijadikan motivator dalam perjalanan berumah tangga.
viii
ORISINALITAS PENELITIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Eko Wibowo NPM : 1502030025
Jurusan : Ahwalus Syakhsyiyyah Fakultas : Syariah
Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah asli hasil penelitian saya kecuali bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Metro, Juni 2021 Yang Menyatakan
Eko Wibowo NPM. 15020230025
ix MOTTO
َّ﴿اًرْسُي ِرْسُعْلا َعَم َّ ن ِاَف ٥
َّ﴿ اًرْسُي ِرْسُعْلا َّ نِا ﴾ ٦
﴾
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Q.S. Al-Insyirah: 5-6
x
PERSEMBAHAN
Dengan kerendahan hati dan rasa syukur kepada Allah SWT, peneliti persembahkan skripsi ini kepada:
1. Ayahanda Muhammad Satari dan Ibunda Tuwaltri yang senantiasa berdo’a, memberikan kesejukan hati, dan memberikan dorongan demi keberhasilan peneliti.
2. Abah Fathullah Hambari, S.Ag., M.Pd.I Sekeluarga yang senantiasa berdo’a, memberikan dukungan dan dorongan demi keberhasilan peneliti.
3. Kakakku Mustarudin dan Adikku tercinta Fitriyani yang senantiasa memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Istriku tercinta Dewi Astuti yang senantiasa menemani, memberikan dukungan serta keikhlasan do’a dalam penyusunan skripsi ini.
5. Almamater IAIN Metro.
6. Rekan Pengurus Pondok Pesantren Darunnasyi’in yang senantiasa memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Rekan-rekan AS yang senantiasa memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
xi
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini.
Penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan jurusan Ahwalus Syakhsyiyyah Fakultas Syariah IAIN Metro guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H).
Dalam upaya penyelesaian skripsi ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag, selaku Rektor IAIN Metro,
2. Bapak H. Husnul Fatarib, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Syariah, sekaligus Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.
3. Ibu Nurhidayati, MH, selaku Ketua Jurusan Ahwalus Syakhsyiyyah, sekaligus Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.
4. Kepala Desa dan segenap warga Desa Labuhan Mulya, Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji, yang telah memberikan sarana dan prasarana serta informasi yang dibutuhkan kepada peneliti dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen/Karyawan IAIN Metro yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan sarana prasarana selama peneliti menempuh pendidikan.
xii
Kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan dan diterima dengan lapang dada. Akhirnya semoga skripsi ini kiranya dapat bermanfaat bagi pengembang ilmu AkhwaluS Syakhsyiyyah.
Metro, Juni 2021 Peneliti,
Eko Wibowo NPM.1502030025
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
NOTA DINAS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN ABSTRAK ... vii
HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... viii
HALAMAN MOTTO ... ix
HALAMAN PERSEMBAHAN... x
HALAMAN KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 7
C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Penelitian Relavan ... 8
BAB II LANDASAN TEORI A. Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak... 10
1. Pengertian Anak ... 10
2. Asas Dan Tujuan Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak ... 12
3. Hak-Hak Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak ... 13
4. Kewajiban Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak ... 17
B. Pernikahan Dibawah Umur ... 19
1. Pengertian Pernikahan Dibawah Umur ... 19
2. Dasar Hukum Pernikahan Dibawah Umur ... 21
3. Batasan Usia PernikahanDibawah Umur ... 28
xiv
4. Faktor-Faktor Pernikahan Dibawah Umur ... 31
5. Dampak Pernikahan Dibawah Umur ... 34
C. Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur ... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Dan Sifat Penelitian... 40
B. Sumber Data ... 41
C. Metode Pengumpulan Data ... 43
D. Teknik Analisis Data ... 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Desa Labuhan Mulya ... 46
B. Praktik Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya ... 52
1. Profil Pasangan Pernikahan Dibawah Umur ... 53
2. Faktor Terjadinnya Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya ... 58
3. Proses Pelaksanaan Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya ... 57
C. Bentuk Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya ... 61
D. Akibat Perlindungan Orang Tua Terhadap Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya... 66
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 4.1. Jenis Tanah Desa ... 47 4.2. Distribusi Penduduk Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 47 4.3. Distribusi Penduduk Desa Labuhan Mulya Berdasarkan Mata
Pencaharian Tahun 2020... 48 4.4. Distribusi Penduduk Desa Labuhan Mulya Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tahun 2020 ... 49 4.5. Distribusi Penduduk Desa Labuhan Mulya Berdasarkan Agama Tahun
2020 ... 49 4.6. Sarana dan Prasarana Kesehatan Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 50 4.7 Sarana dan Prasarana Pendidikan Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 50 4.8 Jenis Tanaman Pangan di Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 51 4.9 Potensi Lembaga Pemerintah Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 51 4.10 Prasarana Pemerintahan Desa Labuhan Mulya Tahun 2020 ... 51
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
1. SK Pembimbing 2. Outline
3. APD (Alat Pengumpulan Data) 4. Surat Izin Research
5. Surat Tugas
6. Surat Balasan Reseach
7. Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi 8. Dokumentasi
9. Daftar Riwayat Hidup
A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan adalah salah satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan. Pada dasarnya, Pernikahan mempunyai peranan dalam kehidupan. Pernikahan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia bahkan menjadi kebutuhan dasar (basic demand) bagi setiap manusia normal dimana manusia dapat beranak, berkembang biak, melestarikan hidupnya. Tanpa Pernikahan, kehidupan seseorang tidak akan menjadi sempurna dan lebih dari itu, menyalahi fitrahnya. Sebab Allah SWT, telah menciptakan makhluk-Nya secara berpasang-pasangan. Dengan demikian, dalam mewujudkan tujuan Pernikahan masing-masing pasangan siap melakukan perannya yang positif.
Allah SWT telah memberikan batasan dengan peraturannya, yaitu dengan syari'at yang terdapat dalam Al-Quran, di antaranya hukum-hukum Pernikahan dan hukum-hukum lainnya yang saling terkait dengan Pernikahan, seperti kewajiban suami terhadap istri yaitu memberikan nafkah. Di dalam Al- Qur'an Allah SWT menegaskan di dalam surat Ar-Ruum ayat 21:
َتِل اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفْنَأ ْنِم ْمُكَل َقَلَخ ْنَأ ِهِتاَيآ ْنِمَو ََ َعَجَو اَََْْلِِ ااُُُكْس
ًةَمْحَرَو ًةَّ دَاَم ْمُكََُْْب
َّ نِِ ۚ يِف
َكِلََٰذ
ٍتاَيآَل
ٍمْاَقِل َنوُرَّ كَفَتَي
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda bagi kaum yang berfikir.1
Mengingat betapa besar tanggung jawab, baik suami maupun istri perlu memiliki kesiapan matang, baik fisik maupun psikis. Bagi laki-laki, ketahanan fisik lebih dituntut lagi seperti disebutkan dalam Al-Qur'an, laki- laki adalah pemimpin bagi wanita. Logikanya dia harus lebih siap dibanding wanita. Menurut kodratnya, laki-laki dituntut untuk mencukupikebutuhan istri dan Anak-anaknya dari kebutuhan sandang, pangan, papan, serta perlindungan dari segala ancaman.
Untuk melaksanakan suatu Pernikahan harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Pernikahan sebagai berikut:
1. Pernikahan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
2. Untuk melangsungkan Pernikahan seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua.
3. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat 2 Pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
1Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Jakarta: CV. Atlas, 2000),
4. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia, atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis turunan harus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya.
5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2), (3), dan (4) Pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak mengatakan pendapatnya maka pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan Pernikahan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3), dan (4) Pasal ini.
6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) Pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan yang lain.2
Pada syarat-syarat Pernikahan tersebut dijelaskan bahwa untuk dapat mengikatkan diri dalam Pernikahan bagi Anak yang belum mencapai umur dewasa harus memperoleh izin terlebih dahulu dari kedua orang tua mereka.
Alasan kenapa perlu izin yaitu karena Pernikahan tidak semata-mata hubungan antar calon mempelai, tetapi juga hubungan antar keluarga (besan) sehingga akan menjadi pertimbangan-pertimbangan juga bagi orang tua dalam menjodohkan Anaknya (izin dari orang tua diperlukan).
2Pasal 6 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Pernikahan
Undang-undang Pernikahan di Indonesia mengatur batasan umur bagi seseorang yang akan melangsungkan Pernikahan, dengan kata lain seseorang harus mencapai umur tertentu sehingga ia diizinkan atau dibolehkan untuk menikah. Batas umur yang ditentukan adalah Pernikahan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.
Perlindungan orang tua terhadap Pernikahan dibawah umur didesa Labuhan Mulya terjadi karena usia Pernikahan dari Anak yang belum matang.
Berawal dari belum matangnya usia Pernikahan sehingga menyebabkan keadaan ekonomi yang tidak stabil dan kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga. Bentuk perlindungan orang tua terhadap Pernikahan dibawar umur adalah Perlindungan Fisik, Perlindungan Ekonomi, dan Perlindungan Psikologi.
Perlindungan orang tua terhadap Anak dalam Pernikahan dibawah umur berkaitan dengan kewajiban dan bertanggung jawab orang tua terhadap Anaknya. Akan tetapi dalam hukum positif diIndonesia tidak terdapat peraturan yang mengatur adanya perlindungan orang tua terhadap Pernikahan dibawah umur. Kewajiban dan tanggung jawab orang tua dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan Anak pasal 26 yang menyebutkan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi Anak;
2. Menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya; dan
3. Mencegah terjadinya Pernikahan pada usia Anak.
4. memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilaibudi pekerti pada Anak
Dalam Undang-undang Nomor 16 tahun 2019 tentang Pernikahan juga tidak dijelaskan kewajiban orang tua terhadap Anaknya yang sudah menikah.
Pasal 45 Undang-undang ini dijelaskan bahwa kewajiban orang tua terhadap Anaknya hanya sampai Anaknya menikah dan dapat berdiri sendiri. Dari kedua Undang-undang ini dapat disimpulkan bahwa orang tua tidak mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap Pernikahan Anaknya.
Akan tetapi, jika dilihat dari pengertian Anak yang dijelaskan pada pasal 1 Undang-undang perlindungan Anak, menyebutkan bahwa yang dimaksud Anak adalah seorang yang belum usia 18 (delapan belas) tahun, termasuk Anak yang masih dalam kandungan. Maka bagi seseorang yang menikah pada usia dibawah 18 (delapan belas) tahun masih dikategorikan Anak yang berada pada tanggung jawab orang tua.
Berdasarkan survey menurut bapak Saifuddin (tokoh Agama) dan bapak Diswan (tokoh masyarakat) ada beberapa kasus-kasus Pernikahan Dibawah Umur yang terjadi di pedesaan. PernikahanDibawah Umur sering terjadi diakibatkan beberapa faktor, yaitu akibat pergaulan bebas, atas dasar suka sama suka, dukungan orang tua. Banyak beranggapan bahwa dengan Pernikahan Anaknya, meskipun Anak yang masih dibawah umur hal itu dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal hal itu dapat menghambat kreatifitas
serta mencegah Anak untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.3
Meskipun sudah ada Undang-Undang yang mengatur batas usia Pernikahan danUndang-Undang tentang perlindungan Anak namun dalam kehidupan masyarakat Desa Labuhan Mulya belum memahami mengenai perlindungan terhadap Anak.Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak telah mengamanatkan kewajiban dan tanggung jawab bagi keluarga dan orang tua untuk mencegah terjadinya Pernikahan pada usia Anak. Hal ini dimaksud agar Anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya.
Pada masalah ini peneliti melakukan observasi di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang. Ada tiga kasus Pernikahan Anak yang terjadi dimana salah satu kasus yang terjadi adalah seorang Anak perempuan berumur 15 (lima belas) tahun menikah dengan seorang laki-laki yang berumur 18 (sembilan belas) tahun Pernikahan terjadi karena pergaulan yang bebas dan kurangnya pendidikan dari orang tuanya maka mengakibatkan Pernikahan Dibawah Umur. Sehubungan dengan hal-hal tersebut maka peneliti berkeinginan mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Pernikahan dibawah umur dengan skripsi yang berjudul Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur (Studi Kasus Di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Sedang Kabupaten Mesuji).
3Wawancara Pra Survey Dengan Bapak Saifuddin Dan Bapak Diswan Selaku Tokoh Masyarakat Tanggal 7 November 2020 di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan penelitian ini yaitu: Bagaimana Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak dalam Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Bagaimana Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak dalam Pernikahan Dibawah Umur di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Serdang Kabupaten Mesuji
2. Manfaat Hasil Penelitian a. Manfaat SecaraTeoritis
Hasil studi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa tentang pentingnya Pernikahan diusia yang sudah matang atau sesuai dengan aturan aturan yang ada, khususnya memberikan prioritas terhadap variabel-variabel yang cukup berpengaruh pada Pernikahan usia dibawah umur.
b. Manfaat Secara Praktis
Hasil ini diharapkan dapat memberikan gambaran pada masyarakat akan pentingnya perlindungan Anak yang sudah ditetapkan menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
D. Penelitian Relevan
Berdasarkan penelitian yang ada, ditemukan beberapa karya ilmiah yang bertema Pernikahan di bawah umur. Peneliti Nur Hidayat Akbar ditahun 2013, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar dengan judul Faktor Penyebab Pernikahan Di Bawah Umur Dilihat Dari Hukum Islam Dan Hukum Adat. Tujuan dari peneliti adalah untuk mengetahui apa faktor- faktor yang menjadi penyebab Pernikahan dibawah umur yang dilihat dari hukum Islam dan hukum adat.
Adapun penelitian lainnya yaitu penilitian Afan Sabili ditahun 2018, Fakultas Syari;ah dan Hukum UIN Wali Songo Semarang dengan judul PernikahanDibawah Umur Dan Implikasi Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga, tujuan dari peneliti adalah untuk mengetahui implikasi terhadap keharmonisan rumah tangga yang disebabkan oleh Pernikahan dibawah umur.
Selanjutnya penelitian dari Mufidatul Umaroh ditahun 2010, Fakultas Syari’ah STAIN Tulung Agung dengan judul Pelaksanaan Pernikahan Dibawah Umur Menurut Hukum Adat Dan Undang-Undang N0.1 Tahun 1974 Tentang Pernikahan(Studi Di Kantor Urusan Agama Kalidawir Dan Pengadilan Agama Tulung Agung)Tujuan dari peneliti Ana Fitriana adalah untuk mengetahui bagaimana hukum Islam terhadap pelaku zina yang dilakukan oleh Anak dibawah umur.
Adapun persamaan penelitian yang dilakukan adalah sama-sama membahas tentang Pernikahan yang dilakukan oleh seorang Anak yang masih dibawah umur sedangkan perbedaan peneliti dengan penelitian yang terdahulu
yaitu peneliti membahas tentang Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur (Studi Kasus Di Desa Labuhan Mulya Kecamatan Way Sedang Kabupaten Mesuji). Disinilah hal yang membedakan antara peneliti dengan penelitian yang terdahulu. Dengan demikian hasil penelitian dapat simpulkan belum ada penelitian tentang Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur
A. Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak 1. PengertianAnak
Anak dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan, Anak juga mengandung sebagai manusia yang masih kecil.
Selain itu Anak pada hakikatnya seorang yang berada pada suat masa perkembangan tertentu yang mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.1
Pengertian Anak dalam bidang psikologi, dikenal tiga istilah, yakni Anak-Anak, remaja dan dewasa. Masa Anak-Anak dimulai dari usia 0-11 tahun, sementara masa remaja 12-22 tahun, dalam remaja ini sering dikenal dengan istilah masa transisi dari Anak-Anak menuju dewasa. Pada usia remaja seseorang belajar menjadi dewasa, tapi belum cukup matang psikologinya. Setelah masa remaja berakhir, kemudian barulah masuk dalam tingkatan dewasa. Hal tersebut dipengaruhi tingkat perkembangan psikologis seseorang, yang umumnya baru akan matang ketika seseorang telah berusia di atas 22 tahun.2
a. Anak Menurut Hukum Islam
Anak merupakan makhluk yang dhaif da mulia, yang keberadaannya adalah kewenangan dari kehendak Allah SWT dengan melalui proses penciptaan. Oleh karena itu Anak mempunyai
1 Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet-2, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), 30
2 Hendriati Aguatiani, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Refika Aditama, 2009), 29
kehidupan yang mulia dalam pandangan agama Islam, maka Anak harus diperlakukan secara manusiawi seperti di beri nafkah baik lahir maupun batin, sehingga kelak Anak tersebut menjadi Anak yang berakhlak mulia seperti dapat bertanggung jawab dalam mensosialisasikan dirinya untuk mencapai kebutuhan hidupnya di masa mendatang.
Dalam pengertian Islam Anak adalah titipan Allah SWT kepada orang tua, masyarakat bangsa dan Negara yang kelak akan memakmurkan dunia sebagai rahmatan lil’alamin dan sebagai pewaris ajaran Islam. Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap Anak yang dilahirkan harus diakui, diyakini dan diamankan sebagai implementasi amalan yang akan diterima oleh orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara.
b. Anak Menurut Undang-undang
Menurut ketentuan pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.
Menjelaskan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk Anak yang masih dalam kandungan.3 Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia pasal 1 Ayat 2 Nomor 4 Tahun 1979 Tentang kesejahteraan Anak. Bahwa yang
3Tim Penyusun, Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 3
dimaksud dengan Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.4
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian Anak pada umumnya adalah seseorang yang masih di bawah umur tertentu, yang belum dewasa dan belum pernah menikah, pada beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia mengenai batas umur kedewasaan seseorang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tergantung dari sudut manakah dilihat dan ditafsirkan.
2. Asas dan Tujuan Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak
Penyelenggaraan perlindungan Anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi: 5
a. Non diskriminasi;
b. Kepentingan yang terbaik bagi Anak;
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d. Penghargaan terhadap pendapat Anak.
Pada Pasal 3 disebutkan Perlindungan Anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak Anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
4 Tim Penyusun, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, (Yogyakarta: Pustaka Yutisia, 2009), 2
5 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
diskriminasi, demi terwujudnya Anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.6
3. Hak-Hak Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak
Hak-hak perlindungan Anak dalam Undang-UndangNomor 35 tahun 2014 Tentang PerlindunganAnak di sebutkan dalam beberapapasal diantaranya:
a. Pasal 4 di sebutkan setiap Anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
b. Pasal 5 di sebutkan setiap Anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.
c. Pasal 6 setiap Anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua.
d. Pasal 7 disebutkan
1) Setiap Anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.
2) Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang Anak, atau Anak dalam keadaan terlantar maka Anak tersebut berhak diasuh atau diangkat
6 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
sebagai Anak asuh atau Anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Pasal 8 disebutkan setiap Anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
f. Pasal 9 disebutkan
1) Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
2) Selain hak Anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi Anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi Anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.
g. Pasal 10 disebutkan setiap Anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.
h. Pasal 11 disebutkan setiap Anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan Anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.
i. Pasal 12 disebutkan setiap Anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.
j. Pasal 13 disebutkan
1) Setiap Anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawabatas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
a) Diskriminasi;
b) Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;
c) Penelantaran;
d) Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;
e) Ketidakadilan; dan f) Perlakuan salah lainnya.
2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh Anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.
k. Pasal 14 disebutkan Setiap Anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi Anak dan merupakan pertimbangan terakhir.
l. Pasal 15 disebutkan setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:
a) Penyalahgunaan dalam kegiatan politik;
b) Pelibatan dalam sengketa bersenjata;
c) Pelibatan dalam kerusuhan sosial;
d) Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan;
danPelibatan dalam peperangan m. Pasal 16 disebutkan
1) Setiap Anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.
2) Setiap Anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum.
3) Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara Anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
n. Pasal 17 disebutkan:
1) Setiap Anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk:
a) Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;
b) Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku;
dan
c) Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan Anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.
2) Setiap Anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.
o. Pasal 18 disebutkan setiap Anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.
p. Pasal 19 disebutkan setiap Anak berkewajiban untuk:
a) Menghormati orang tua, wali, dan guru;
b) Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman;
c) Mencintai tanah air, bangsa, dan negara;
d) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan e) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.
4. Kewajiban Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak
Tanggung jawab dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang PerlindunganAnak di sebutkan dalam beberapa pasal diantaranya:
a. Pasal 20 disebutkan negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan Anak.
b. Pasal 21 disebutkan negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap Anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik,
budaya dan bahasa, status hukum Anak, urutan kelahiran Anak, dan kondisi fisik dan/atau mental.
c. Pasal 22 disebutkan negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan Anak.
d. Pasal 23
1) Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan Anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap Anak.
2) Negara dan pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan Anak.
e. Pasal 24 disebutkan negara dan pemerintah menjamin Anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan Anak.
f. Pasal 25 disebutkan kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan Anak dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan Anak.
g. Pasal 26 disebutkan:
1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi Anak;
b. Menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan
c. mencegah terjadinya Pernikahan pada usia Anak dan
d. memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilaibudi pekerti pada Anak
2) Dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
B. Pernikahan Dibawah Umur
1. Pengertian Pernikahan Dibawah Umur
Pernikahan merupakan sunnatullah bagi manusia sebagai sarana untuk melangsungkan estafet kehidupan manusia. Selain itu Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk menjadikan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.7 Pernikahan berasal dari kata kawin menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Pernikahan disebut juga pernikahan, pernikahan berasal dari kata nikah, menurut bahsa artinya mengumpulkan, saling memasukan dan digunakan untuk arti bersetubuh dan kata nikah sendiri sering dipergunakan untuk arti persetubuhan, dan untuk arti akad nikah.8
Menurut Sajuti Thalib, Pernikahan ialah suatu perjanjian yang suci kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki
7 Tobibatussa’adah, Tafsir Ayat Hukum Keluarga 1, (Yogyakarta: Idea Press, 2013), 1
8 Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2003), 7
dengan seorang perempuan untuk membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih mengasihi, tenteram dan bahagia. Sedangkan menurut iman Syafi’i, nikah adalah suatu akad yang dengannya menjadi
halal hubungan seksual antara pria dengan wanita, menurut arti majazi (mathaporic) nikah adalah hubungan seksual.9
Pernikahan Dibawah Umur adalah Pernikahan yang di lakukan oleh seorang laki-laki dan seorang wanita di mana umur keduanya masih di bawah batas minimum yang di atur oleh Undang-Undang Republik Indonesia No 16 tahun 2019 Tentang Pernikahan Pasal 7 Ayat 1 yang berbunyi Pernikahan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.10 Ayat (2) dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), orang tua pihak pria dan / pihak orang tua wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.
Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.
9 Idris Ramulyo, Hukum Pernikahan Isalam, (Jakarta: Bumi Akasara, 1996), 2
10Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia No 16 Tahun 2019 Tentang Pernikahan
2. Dasar Hukum Pernikahan Dibawah Umur a. Dalil-Dalil Al-Qur’An
Mengenai usia Pernikahan pada dasarnya Hukum Islam tidak mengatur secara mutlak Tentang batas umur Pernikahan. Tidak adanya ketentuan agama Tentang batas umur minimal dan maksimal untuk melangsungkan Pernikahan, diasumsikan memberi kelonggaran bagi manusia untuk mengaturnya.
Al-Qur‟an mengisyaratkan bahwa orang yang akan melangsungkan Pernikahan haruslah orang yang siap dan mampu.11
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 32 yaitu:
ِداَبِع ْنِم َنِْحِلاَّ صلاَو ْمُكُِْم َٰىَماَيَأْلا ااُحِكْنَأَو ْمُكِئاَمَِِو ْمُك
ْنِِ ۚ
ااُناُكَي
َّءاَرَقُف
ُمَُِِْغُي
ُهَّ للا
ْنِم ِهِلْضَف
َّ للاَو ۚ
ٌمِْلَع ٌعِساَو ُه
Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin allah akan memampukan mereka dengan karunianya.
Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi maha mengetahui.12
Dalam ayat ini Allah menganjurkan Pernikahan dengan beberapa fasilitas. Karena Pernikahan merupakan jalan yang paling efektif untuk menjaga kehormatan diri menjauhkan dari seorang mukmin dari berbuat zina dan dosa-dosa lainnya. Pernikahan juga sebagai satu-satunya jalan untuk mendapat keturunan yang baik dan membina masyarakat yang ideal. Oleh karena itu ayat ini juga harus
11 Hasan Bastomi, Pernikahan Dibawah Umur Dan Dampaknya, (Tinjauan Batas Umur Pernikahan Menurut Hukum Islam Dan Hukum Pernikahan Indonesia) Yudisia, Vol.7, No. 2, Desember 2016, 361
12Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahan, (Jakarta: CV.Atlas. 2000)
mengharuskan orang tua untuk menjaga kehormatan keluarganya dengan cara Pernikahan tanpa terbebani masalah harta atau yang lainnya.13
Pernikahan merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada makhluk Allah, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Semua yang diciptakan oleh Allah berpasang- pasangan dan berjodoh-jodohan. Sebagaimana berlaku pada makhluk yang paling sempurna, yakni manusia. Menurut surat Adz-Dzaryat ayat 49 yang menyebutkan:
ُرَّ كَذَت ْمُكَّ لَعَل ِنَْْجْوَز اَُْقَلَخ ٍءْيَش ِ َ ُك ْنِمَو َنو
Artinya: Dan segala sesuatu yang Kami ciptakan berpasang- pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.14
Manusia tidak seperti binatang yang melakukan Pernikahan dengan bebas dan sekehendak hawa nafsunya. Bagi binatang Pernikahan hanya semata-mata kebutuhan birahi dan nafsu syahwatnya, sedang manusia, Pernikahan diatur oleh berbagai etika dan peraturan lainnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang beradab dan berakhlak. Oleh karena itu, Pernikahan manusia harus mengikuti peraturan yang yang berlaku.15
Tanpa Pernikahan, manusia tidak dapat melanjutkan sejarah hidupnya, karena keturunan dan perkembangbiakkan manusia disebabkan oleh adanya Pernikahan. Jika Pernikahan manusia tanpa
13 Thobibatussaadah, Tafsir Ayat Hukum Keluarga 1, (Yogyakarta: Idea Press, 2013), 4-5
14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahan, (Jakarta: CV. Atlas, 2000)
15 Beni Ahmad Saebani. Fiqh Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 2018), 16
didasarkan pada hukum Allah sejarah dan peradaban manusia akan hancur oleh bentuk-bentuk perzinaan. Dengan demikian manusia tidak berbeda dengan binatang yang tidak berakal dan hanya mementingkan hawa nafsunya.
Islam sangat menganjurkan kaum muslimin yang mampu untuk melangsungkan Pernikahan. Namun demikian, kalau dilihat dari segi kondisi orang yang melaksanakan serta tujuan melaksanakannya, maka melakukan Pernikahan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnat, haram, makruh, maupun mubah.
1) Wajib
Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk kawin dan dikhawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina seandainya tidak kawin maka hukum Pernikahan bagi orang tersebut adalah wajib. Hal ini berdasarkan pemikiran hukum bahwa setiap muslim wajib menjaga diri untuk tidak berbuat yang terlarang. Jika menjaga diri itu harus dengan melakukan Pernikahan, sedang menjaga diri itu wajib, maka hukum melakukan Pernikahan itupun wajib.16
2) Sunnah
Orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melangsungkan Pernikahan, tetapi kalau tidak kawin tidak
16 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenanda Media Group), 18-19
dikhawatirkan akan berbuat zina, maka hukum melakukan Pernikahan bagi orang tersebut adalah sunnah.
3) Haram
Bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai kemampuan serta tanggung jawab untuk melangsungkan kewajiban-kewajiban rumah tangga, sehingga apabila melangsungkan Pernikahan akan terlantarlah dirinya dan istrinya, maka hukum melangsungkan Pernikahan bagi orang tersebut adalah haram.
4) Makruh
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan Pernikahan juga cukup mempunyai kemampuan untuk menahan diri sehingga tidak memungkinkan dirinya tergelincir berbuat zina sekiranya tidak kawin. Hanya saja orang ini tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi kewajiban suami isteri dengan baik.
5) Mubah
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukannya, tetapi apabila tidak melakukannya tidak khawatir akan berbuat zina dan apabila melakukannya juga tidak akan menelantarkan isteri. Pernikahan orang tersebut hanya didasarkan untuk memenuhi kesenangan bukan dengan tujuan menjaga kehormatan agamanya dan membina keluarga sejahtera. Hukum
mubah ini juga bagi orang yang antara pendorong dan penghambatnya untuk kawin itu sama, sehingga menimbulkan keraguan orang yang akan melakukan kawin, seperti mempunyai keinginan tapi belum mempunyai kemampuan untuk melakukan tetapi belum mempunyai kemauan yang kuat.17
b. Dalil As-sunnah
Rosulullah SAW melalui sabdanya memberikan perintah menikah dengan beberapa cara, dengan menggunakan perintah bersyarat seperti dikitab Bulughul Marom hadis Al-Bukhari, Muslim sebagai berikut:
لا لاسر اُل لاق هُع هللا ىضر داعسم نب هللاا دبع نع هل
م عاطتسا نم بابشلا رشعم اي( :ملسو هْلع هللا ىلص مكُ
غا هناف جوزتْلف هءابلا مو جرفلل نصحاو رصبلل ض
عطتسي مل ن
18
. هْلع قفتم )ءاجو هل هناف ماصلاب هْلعف
Artinya: Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu berkata Rasulullah
ملسو هيلع هللا ىلص
bersabda pada kami: Wahai generasi muda, barang siapa diantara kamu yang telah mampu berkeluarga maka hendaklah ia kawin. Karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.barang siap belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu (mutafaq ‘alaih)19Dalam hadis di atas kata رصبلل ضغا (menjaga pandangan) dan جرفلل نصحاو (memelihara kehormatan) adalah suatu hal yang diwajibkan atas seseorang yang belum mampu dan siap untuk
17 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, .21-22
18 Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Bulughul Maram, (Ttp: Tnp, Tt), 210
19 Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Terjemah Bulughul Maram, (Jakarta: Fthan Prima Media, 2014), 256
melangsungkan pernikahan, mampu di sini tidak hanya dari segi perekonomian tetapi juga dar segi kematangan fisik, kematangan mental atau psikis.20
Dalam menjaga pandangan dan memelihara kehormatan, hal ini dapat mencegah terjadinya perbuatan zina yang dilakukan oleh seseorang yang sudah tidak mampu lagi dalam hal menjaga pandangan dan memelihara kehormatan tersebut. Sehingga dianjurkan bagi yang belum mampu untuk melakukan puasa. Dalam hal ini puasa sebagai salah satu alternatif yang dianggap dapat mengendalikan diri seseorang dari dorongan seksualitasnya
.
Berdasarkan hadis di atas, dapat dipahami menikah dalam rangka pembentukan keluarga bukan saja untuk pemenuhan kebutuhan naluri insani manusia. Tetapi pembentukan keluarga merupakan salah satu perintah agama, yang berfungsi untuk menjaga dan melindungi manusia dari berbagai bentuk penyelewengan dalam pemenuhan penyelewengan sosial.
Pernikahan di bawah umur menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah Pernikahan yang dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya, namun satu dari kedua mempelainya atau terkadang kedua mempelainya belum baligh dan secara psikis belum siap menjalankan tanggung jawab kerumahtanggaan.MUI memberikan rumusan al-
20 Enizar, Hadis Hukum Keluarga 1, (Metro: STAIN Press Metro, 2014), 6-7
ba`ah dengan batasan baligh. Sementara itu kriteria baligh sifatnya juga kualitatif dan sangat relatif bagi setiap orang.21
Pada hakikatnya Pernikahan Dibawah Umur juga mempunyai sisi positif. Kita tahu, saat ini yang dilakukan pasaran muda mudi acap sekali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampaui batas, dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat. Fakta ini dapat menunjukan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Pernikahan Dibawah Umur merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk yang bertanggung jawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak.22
Pernikahan dibawah umur tidak dihukumi secara mutlak apakah wajib, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram. Hanya saja sama seperti hukum pernikahan yang sudah ditetapkan oleh Jumhur Ulama‟, yaitu
kembali lagi pada tujuan dari pernikahan tersebut akan menimbulkan kemaslahatan atau kemudhratan. Hal ini kembali kepada pelaku Pernikahan di bawah umur.
21 Ali Imron, Perlindungan Anak Dan Kesejahteraan Anak Dalam Pernikahan Di Bawah Umur Al-Tahrir, Vol. 13, No. 2 November 2013, (253-272), 256
22 Slamet Abidin Dan Aminuddin, Fiqh Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 9
3. Batasan Usia Pernikahan Dibawah Umur a. Menurut Fiqh
Batas Pernikahan dalam literatur fiqh klasik tidak dijelaskan secara eksplisit, namun para fukaha membataskan pada usia balig, karena balig merupakan salah satu syarat Pernikahan. Balig ditandai dengan keluarnya sperma pada saat terjaga maupun tidur pada laki- laki. Pada perempuan ditandai dengan haid atau sebab mengandung.
Selain dari dua tanda-tanda tersebut balig balig juga ditentukan oleh usia. Para fukaha berbeda pendapat dalam mendefenisikan usia balig.
Hanafi membedakan batasan usia balig antara laki-laki dengan perempuan, yaitu menetapkan usia balig bagi Anak laki-laki delapan belas tahun dan Anak perempuan tujuh belas tahun.23 Maka apabila seorang perempuan telah mencapai usia tuju belas tahun, dia telah balig. Sedangkan laki-laki belum dianggap balig sampai mencapai umur delapan belas tahun. Maliki menetapkan usia balig pada usia tujuh belas tahun. Maliki tidak membedakan antara laki- laki dan perempuan, apabila telah mencapai usia tujuh belas tahun, maka telah balig. Sementara itu Syafi’i dan Hambali menatakan usia
balig untuk Anak laki-laki dan perempuan adalah lima belas tahun.
Jadi, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, apabila telah mencapai lima belas tahun maka sudah dianggap balig
23Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab, Penerjemah:
Abdullah Zaki Alkalaf, (Bandung: Hasyimi, 2012), 318
Berdasarkan ketentuan para ulama mengenai batasan usia balig dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan usia balig adalah lima belas tahun baik laki-laki maupun perempuan, karena dalam usia tersebut seorang Anak perempuan sebagian besar telah mengalami haid dan Anak laki-laki mengalami mimpi basah atau keluarnya sperma baik dalam keadaan terjaga atau tidak.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa batas usia Pernikahan Dibawah Umur dalam literatur fiqh klasik tidak dijelaskan secara eksplisit, namun para fuqaha membataskan pada usia balig, karena balig merupakan salah satu syarat Pernikahan dan batas usia balig adalah umur lima belas tahun bagi laki-laki maupun perempuan.
b. Menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak tidak menyebutkan secara eksplisit Tentang batasan usia Pernikahan, namun menegakkan usia yang dikategorikan sebagai Anak. Dalam pasal 1 ayat 1 undang-undang tersebut menyebutkan:
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk Anak yang masih dalam kandungan.24 Di dalam undang-undang ini dikatakan bahwa seseorang yang masih dibawah usia 18 tahun adalah orang yang belum dewasa.
24 Tim Penyusun, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 3
Pemerintah membentuk undang-undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak untuk melindungi hak-hak Anak, agar Anak dapat mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki sehingga dapat meneruskan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia.
Maka terlihat bahwa undang-undang ini tidak menyetujui Pernikahan dibawah umur. Hal tersebutdibuktikan dengan adanya pasal 26 dalam undang-undang ini yang berbunyi: orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: (a) mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi Anak; (b). Menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya; dan (c). Mencegah Pernikahan pada usia Anak dan. (d) memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilaibudi pekerti pada Anak
c. Menurut Undang-Undang Nomor No 16 Tahun 2019 Tentang Pernikahan
Undang-undang No 16 tahun 2019 Tentang Pernikahan dalam Pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa untuk melangsungkan Pernikahan seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun diharuskan mendapatkan izin dari orang tua. Pasal tersebut memberikan makna bahwa seseorang yang belum berusia 21 tahun belum bisa dianggap dewasa, maka diperlukan izin dari orang tua untuk melakukan pernikahan. Ketentuan dalam pasal ini didukung dalam Kompilasi Hukum Islam dalam pasal 15 ayat 2 yang menyatakan bahwa bagi calon mempelai yang belum berusia 21 tahun diharuskan mendapatkan izin sebagaimana yang diatur dalam
pasal 6 ayat 2, 3, 4, dan 5 Undang-Undang No 16 tahun 2019 Tentang Pernikahan.
Ketentuan batas usia di atas, diperkecil lagi dengan pasal 7 ayat 1 Undang-Undang No 16 tahun 2019 Tentang Pernikahan yang menegaskan bahwa: Pernikahan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.25 Berdasarkan pasal 7 ayat 1 Undang-Undang No 16 tahun 2019 Tentang Pernikahan, diketahui bahwa ketentuan Undang-Undang Pernikahan di Indonesia Tentang batasan usia Pernikahan dibataskan pada usia 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan.
4. Faktor-Faktor Pernikahan Dibawah Umur
Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat menikahkan Anaknya di bawah usia.
a. Faktor Ekonomi
Faktor Ekonomi, dimana orang tuanya yang sudah tidak mampu untuk membiayai Anaknya tersebut karena mereka memiliki lebih dari 5 Anak misalnya, lalu mereka berkeputusan untuk bisa menikahkan Anaknya dengan orang yang dianggap lebih mampu. Hal ini juga yang menyebabkan tingkat Pendidikan wanita rendah, karena lebih memilih menikah daripada melanjutkan Pendidikan, karena
25Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia No 16 Tahun 2019 Tentang Pernikahan
kalaupun mereka ingin bersekolah, orang tuanya tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyekolahkannya.26
b. Faktor Pendidikan
Faktor pendidikan yang rendah adalah yang sangat mempengaruhi pola pemikiran suatu masyarakat, baik dari pendidikan orang tua maupun si Anak sendiri. Suatu masyarakat yang memiliki pendidikan yang tinggi pasti akan berpikir dua kali untuk menikah dan menganggap bahwa pernikahan adalah hal yang kesekian.
Berbeda dengan masyarakat yang pendidikannya masih rendah, mereka pasti akan mengutamakan pernikahan karena hanya dengan cara tersebut mereka dapat mengisi kekosongan hari-hari Anak-Anak mereka dan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tingkat Pendidikan mempengaruhi tingkat kematangan kepribadian seseorang, dengan Pendidikan mereka akan lebih menyaring dan menerima suatu perubahan yang baik, dan merespon lingkungan yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir mereka.
c. Faktor Keinginan Sendiri
Faktor ini yang sangat sulit untuk dihindari, karena pria dan wanita berpikiran bahwa mereka saling mencintai bahkan tanpa memandang usia mereka, tanpa memandang masalah apa yang nanti akan dihadapi dan apakah mereka mampu untuk memecahkan suatu masalah. Apabila suatu masalah tidak dapat dipecahkan, suatu
26 Ana Latifatul Muntamah, Dian Latifiani, Ridwan Arifin, Pernikahan Dibawah Umur Di Indonesia: Faktor Dan Peran Pemerintah, (Perspektif Penegakan Dan Perlindungan Hukum Bagi Anak), Hukum, Volume 2 / Nomor 1 / Juni 2019, 17
pernikahan akan terancam bercerai dengan alasan bahwa pikiran mereka sudah tidak seirama lagi. Itulah seharusnya yang menjadi permasalahan dan pertimbangan apabila ingin menikah di usia muda.27
d. Orang Tua
Pada sisi lain, terjadinya pernikahan Dibawah Umur juga dapat disebabkan karena pengaruh bahkan paksaan orang tua. Ada beberapa alasan orang tua menikahkan Anaknya secara Dibawah Umur, karena khawatir Anaknya terjerumus pergaulan bebas dan berakibat negatif; karena ingin melanggengkan hubungan dengan relasinya dengan cara menjodohkan Anaknya dengan relasi atau Anaknya relasinya; menjodohkan Anaknya dengan Anaknya saudara dengan alasan agar harta yang dimiliki tidak jatuh ke orang lain, tetapi tetap dipegang oleh keluarga.28
e. Faktor Pergaulan Bebas
Kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua, Anak akan mencari jalan supaya mereka bisa merasa bahagia, yaitu dengan bergaul dengan orang-orang yang tidak dilihat terlebih dahulu kelakuannya (bebas). Hal yang sangat sering terjadi yakni hamil dahulu di luar ikatan pernikahan. Sehingga karena hal tersebut, mau
27Ana Latifatul Muntamah, Dian Latifiani, Ridwan Arifin, Pernikahan Dibawah Umur Di Indonesia: Faktor Dan Peran Pemerintah, (Perspektif Penegakan Dan Perlindungan Hukum Bagi Anak), Hukum, Volume 2 / Nomor 1 / Juni 2019, 17
28 Mubayaroh, Analisis Faktor Penyebab Penikahan Dibawah Umur Dan Dampaknya Bagi Pelakunya Dalam Jurnal Yudisia, Vol. 7, No. 2, Desember 2016, (385-411), 401
tidak mau orang tua akan memberi izin kepada Anaknya yang masih di bawah umur untuk menikah.29
5. Dampak Pernikahan Dibawah Umur
Setiap kejadian pasti memiliki dampak terhadap sesuatu, baik positif maupun negatif, begitu juga dengan terjadinya Pernikahan Dibawah Umur, akan memiliki dampak langsung bagi pelakunya.
Berbagai dampak Pernikahan Dibawah Umur atau Pernikahan dibawah umum dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Dampak Biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi sampai dengan hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksa justru akan menjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa Anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesataraan dalam hak reproduksi dalam istri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan terhadap seorang Anak.
b. Dampak Psikologis
Secara psikis Anak juga belum siap dan mengerti Tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa Anak yang sulit disembuhkan. Anak
29 Ana Latifatul Muntamah, Dian Latifiani, Ridwan Arifin Pernikahan Dibawah Umur Di Indonesia: Faktor Dan Peran Pemerintah, (Perspektif Penegakan Dan Perlindungan Hukum Bagi Anak, Dalam Jurnal Hukum, Volume 2 / Nomor 1 / Juni 2019, 17
akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada Pernikahan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu ikatan Pernikahan akan menghilangkan hak Anak untk memperoleh pendidikan (wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri Anak.30 c. Dampak Terhadap Suami isteri
Menurut norma-norma dalam keluarga inti, suami isteri harus bercinta kasih. Cinta kasih harus dibina secara sadar, terutama dalam Pernikahan yang diatur oleh orang tua, karena pasangan suami isteri yang masih berusia Dibawah Umur itu baru bertemu muka untuk pertama kali setelah Pernikahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada pasangan suami isteri yang melangsungkan Pernikahan usia muda tidak bisa memenuhi atau tidak mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami isteri. Hal tersebut timbul dikarenakan belum matangnya fisik mental mereka, sehingga cenderung memiliki sifat keegoisan yang tinggi. Ada beberapa maslah yang timbul dalam kehidupan pasangan suami isteri yakni:
1) Perselisihan yang menyangkut masalah keuangan dan
2) masalah berlainan agama dan soal kepatuhan untuk menjalankan ibadah agamanya masing-masing.
30 Fitri Olivia, Batasan Umur Dalam Pernikahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Lex Jurnalica, Volume 12 Nomor 3, Desember 2015, 208
d. Dampak Terhadap Anak-anaknya
Masyarakat yang telah melangsungkan Pernikahan pada usia muda atau dibawah umur akan membawa dampak negatif, selain berdampak pada pasangan suami isteri yang melangsungkan Pernikahan dibawah umur, Pernikahan usia muda juga berdampak pada Anak-anaknya. Karena bagi wanita yang melangsungkan Pernikahan dibawah umur 20 tahun apabila hamil akan mengalami gangguan-gangguan pada kandungannya. Pernikahan pada usia muda tentunya berdampak tersendiri, sering perselisihan bisa jadi akan menyebabkan perceraian. Banyak perceraian terjadi dikalangan rumah tangga pada pasangan usia Dibawah Umur, tetapi seringkali Anak sudah lahir sebelum perceraian itu terjadi. Anak-Anak itu kemudian dititipkan untuk sementara waktu atau selamanya kepada nenek dan kakeknya atau saudara ayah dan ibunya. Dengan adanya perceraian ini tentunya membawa dampak bagi perkembangan mental Anak apalagi jika Anak-anak mereka masih kecil.31
31Hasan Bastomi, Pernikahan Dibawah Umur Dan Dampaknya, (Tinjauan Batas Umur Pernikahan Menurut Hukum Islam Dan Hukum Pernikahan Indonesia), Jurnal YUDISIA, Vol. 7, No. 2, Desember 2016, (354-384), 378-379
C. Perlindungan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Pernikahan Dibawah Umur
Perlindungan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya perbuatan melindungi; pertolongan (penjagaan); memberi perlindungan kepada orang yang lemah sedangkan Anak menurut artinya keturunan.32
Menurut undang-undang Nomor 35 tahun 2014 pasal 1 Ayat 2 yang berbunyi perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.33
Terkait Pernikahan Dibawah Umur, Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak bahwa, Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
1. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi Anak;
2. Menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan
3. Mencegah terjadinya Pernikahan pada usia Anak dan
4. memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada Anak
Seperti yang ternyata dalam Pasal 26 ayat (1), sebenarnya orang tua memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya Pernikahan di bawah umur.
Tetapi kebanyakan kasus Pernikahan di bawah umur terjadi karena dorongan
32 Andi Syamsu Alam Dan M Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Prespektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), 76
33 Undang-UndangNomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 3
orang tua kepada Anak-anaknya. Hal tersebut bertentangan Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, Pasal 26 ayat (1) mengatakan bahwa kedua orang tua wajib mengasuh, memelihara dan mendidik Anak-Anak mereka serta menumbuh kembangkan Anak sesuai dengan bakat dan minatnya.
Begitu pula dengan Undang-undang Nomor 16 tahun 2019, Pasal 45 ayat (1) dimana orang tua wajib memelihara dan mendidik Anak-anaknya.
Jadi secara rinci kewajiban orang tua adalah memberikan perlindungan, memberikan pendidikan dan mewakili Anak dalam segala perbuatan hukum bagi yang umurnya 18 (delapan belas) tahun ke bawah dan belum pernah kawin. Apabila orang tua tidak melaksanakan kewajibannya atau orang tua melakukan perbuatan yang buruk kepada Anaknya maka orang tua dapat di cabut kekuasaannya.Apabila orang tua di cabut kekuasaannya maka menurut Pasal 50 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 tahun 2019Tentang Pernikahan yang menyatakan Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan Pernikahan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasaan wali.
Perlindungan bagi Anak-Anak yang melakukan Pernikahan Dibawah Umur sangat diperlukan. Karena akibat dari Pernikahan tersebut, haknya sebagai Anak menjadi terlanggar menurut Undang-undangNomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Setiap Anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar dan memperoleh perlindungan.
Perlindungan yang paling dekat berasal dari orang tua. Orang tua wajib
melindungi Anaknya dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan lainnya.
Undang-Undang yang sama menyebutkan bahwa Pernikahan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai dan izin dari orangtua diharuskan bagi mempelai yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun.
Maka, secara eksplisit tidak tercantum jelas larangan Pernikahan di bawah umur. Penyimpangan terhadapnya dapat dimungkinkan dengan adanya izin dari pengadilan atau pejabat yang berkompeten. Selain menimbulkan masalah sosial, Pernikahan di bawah umur bisa menimbulkan masalah hukum.
Pernikahan Dibawah Umur yang terdapat di Desa Labuhan Mulya membuka ruang kontroversi bahwa perkara Pernikahan Dibawah Umur ternyata disikapi secara berbeda oleh hukum adat, hukum Islam, dan hukum nasional. Kenyataan ini melahirkan, setidaknya dua masalah hukum. Pertama, harmoninasi hukum antar sistem hukum yang satu dengan sistem hukum lain.
Kedua, tantangan terhadap legislasi hukum Pernikahan di Indonesia terkait dengan Pernikahan di bawah umur. Ketentuan ini sebenarnya tidak menyelesaikan permasalahan dan tidak adil bagi Anak-Anak. Bagaimanapun kalau Pernikahan sudah berlangsung pasti membawa akibat terutama bagi Anak-Anak, baik dari aspek fisik maupun psikis.