• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA MATOBE KECAMATAN SIPORA SELATAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA MATOBE KECAMATAN SIPORA SELATAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA MATOBE KECAMATAN SIPORA SELATAN

KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN (STKIP

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA MATOBE KECAMATAN SIPORA SELATAN

KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

ARTIKEL

MUDIONO 09070020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG 2015

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA MATOBE KECAMATAN SIPORA SELATAN

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN

(2)
(3)
(4)

Society Perception of To Traditional Medication

in Countryside of Matobe of Subdistrict of Sipora South Arch Regency of Laugh Archipelago

Mudiono1 , Drs. Nilda Elfemi, M.Si2 , Yenita Yatim, S.Sos, M.Pd3

Sociology Department of STKIP PGRI West Sumatra

ABSTRACT

Traditional Medication at Laugh society is generally done/conducted by sikerei of as one who own the ability to cure the disease. Traditional medication represent an inseparable matter from life of Laugh society, specially Countryside of Matobe of Subdistrict of Sipora South arch.

From other side the medication in sis in this time by dozens swallow the made drug and expense by sintesispun not yet of course guarantee the body health of because containing chemical Iihat vitamin. This research aim to for the mendeskripsikan of society perception to traditional medication in Countryside of Matobe of Subdistrict of Sipora of South Arch of Regency of Laugh Archipelago

Theory used by is theory fenomenologi of according to Alfred Schutz. Research Method used by is method qualitative. Appliance of data collecting in the form of circumstantial interview, observation, document study with the its analysis unit is individual model the analysis of data of Miles and Huberman consisted of by the data collecting, reduce the data, displayed by data or presentation of data and conclusion withdrawal result of Penelitiaan field indicate that there are some society perception to traditional medication namely: 1). considered to be by Traditional medication of medication which can cure all disease, good of disease in physical and also disease of effect of incured by a eveil ghost and or disease of because philtra, 2). considered to be by Traditional medication of medication which can clean the disease cause ( disease incured by a eveil ghost and or philtra), 3). considered to be by Traditional medication of effective medication.

Others also traditional medication is which is from this sikerei represent the first medication place for Laugh society, specially society Matobe and in course of the medication there are two process that is: a). Sikerei only give the ingredient medicinize to sisakit and b). Sikerei to do the medication by ritual.

Keyword : Perception, Medication

____________________

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2009 2Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

3 Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

(5)

Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan

Kabupaten Kepulauan Mentawai

Mudiono1 , Drs. Nilda Elfemi, M.Si2 , Yenita Yatim, S.Sos, M.Pd3

Program Studi Pendidikan Sosiologi.

(STKIP PGRI) Sumatera Barat.

ABSTRAK

Pengobatan tradisional pada masyarakat Mentawai umumnya dilakukan oleh sikerei sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit. Pengobatan tradisional merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Mentawai, khususnya Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan. Disamping pengobatan secara medik saat ini tidak sedikit menelan biaya dan obat yang terbuat secara sintesispun belum tentu menjamin kesehatan tubuh karena mengandung zat kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Teori yang digunakan adalah teori fenomenologi menurut Alfred Schutz. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Alat pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, studi dokumen dengan unit analisisnya individu model analisis data Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, display data atau penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitiaan dilapangan menunjukkan bahwa ada beberapa persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional yakni: 1). Pengobatan tradisional dianggap sebagai pengobatan yang bisa mengobati semua penyakit, baik penyakit secara fisik maupun penyakit akibat dari terkena roh jahat ataupun penyakit karena guna-guna, 2). Pengobatan tradisional dianggap sebagai pengobatan yang dapat membersihkan penyebab penyakit ( penyakit terkena roh jahat ataupun guna-guna), 3). Pengobatan tradisional dianggap sebagai pengobatan yang mujarab. Selain itu juga pengobatan tradisional yang dari sikerei ini merupakan tempat pengobatan pertama bagi masyarakat Mentawai, khususnya masyarakat Matobe dan dalam proses pengobatan tersebut terdapat dua proses yaitu: a). Sikerei hanya memberikan ramuan obat kepada sisakit dan b). Sikerei melakukan pengobatan secara ritual.

Kata Kunci : Persepsi, Pengobatan

____________________

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2009 2Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

3 Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

(6)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negeri yang dianugerahi keanekaragaman hayati sangat besar oleh Tuhan Yang Maha Esa, dimana puluhan ribe spesies flora dan fauna yangh seolah-olah sengaja ditempatkan agar dimanfaatkan, tentunya dengan tetap menjaga kelestariannya. Menurut Agoes (dalam Daulay, 2011:34-35) masyarakat lokal di Indonesia sudah berabad-abad menggunakan keanekaragaman hayati sebagai ramuan untuk mengobati penyakit dan menjaga kesehatan. Kekayaan flora yang melimpah telah membawa Indonesia sebagai salah satu negara penghasil komoditi obat-obatan yang potensial. Dari berbagai penelitian menyebutkan dari sekitar 30.000 spesies tumbuhan di Indonesia sebanyak 6.000 jenis berkhasiat untuk obat. Sumber lain menyebutkan, tumbuhan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 7.000 jenis dan sekitar 1.000 jenis digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit, (Notoatmodjo 2007:330).

Untuk itu pengetahuan mengenai alam flora tentu merupakan salah satu pengetahuan dasar bagi kehidupan manusia dalam masyarakat kecil, terutama kalau mata pencaharian hidupnya yang pokok adalah bercocok tanam, tetapi suku-suku bangsa pemburu, peternak atau nelayan juga tidak dapat mengabaikan pengetahuan tentang alam tumbuh-tumbuhan yang ada di sekelilingnya. Hampir semua suku bangsa yang hidup dalam masyarakat kecil mempunyai pengetahuan tentang tumbuh- tumbuhan berkhasiat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit, atau untuk upacaara keagamaan dan pengobatan alternatif, (koentjaraningrat 2005:214).

Perlu diketahui bahwa, pemerintah secara formal sudah memberikan perhatian terhadap pengobatan tradisional ini, sebagai mana yang tertuang dalam undang-undang RI No 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 1 ayat 16 mengatakan bahwa pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun-temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan

diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Di Indonesia sebagian masyarakat asli masih tergantung pada pengetahuan tradisional sebagai bagian integral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka melestarikan pengetahuannya dengan mengalihkannya dari generasi ke generasi.

Mereka mengatur cara-cara kepemilikan, penggunaan dan pengalihan pengetahuan itu sesuai dengan kaidah-kaidah adat yang mereka taati, (Daulay 2011:172).

Dalam masyarakat yang belum banyak dipengaruhi ilmu kedokteran modern, pengetahuan tentang tubuh manusia pun umumnya sangat luas. Pengetahuan dan ilmu menyembuhkan penyakit dalam masyarakat lokal sering dilakukan oleh para dukun, yang karena itu seringkali disebutilmu dukun.

Ilmu dukun biasanya memang banyak menggunakan ilmu gaib, disamping pengetahuan yang luas tentang berbagai ciri dan sifat tubuh manusia, letak serta susunan urat, dan sebagainya, (koentjaraningrat 2005:214-215).

Ilmu dan cara penyembuhan tradisional diwariskan secara informal dalam ikatan keluarga, kekerabatan atau sahabat dekat, yang lazimnya diterima dan dipercaya begitu saja tanpa bersikap kritis. Sampai saat ini penerimaan masyarakat terhadap penyembuhan tradisional masih tetap tinggi, bukan saja pada masyarakat pedesaan tetapi juga masyarakat perkotaan, golongan bawah dan juga golongan menengah keatas. Hal ini disebabkan oleh faktor budaya, sistem nilai dan tradisi yang mempengaruhi sikap dan pengetahuan mereka tentang sakit, penyakit dan upaya penyembuhannya.

Masyarakat memilih pengobatan tradisional disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengetahuan masyarakat megenai pengobatan tradisional, apakah masyarakat telah mengetahui dampak yang akan terjadi bila melakukan pengobatan tradisional tersebut atau bahkan tingkat pendidikan dan pekerjaan, hal ini terlihat pada masyarakat yang memiliki pendidikan rendah dan tidak memiliki pekerjaan akan lebih memilih pengobatan tradisional dibandingkan ke pengobatan modern.

(7)

Pembangnan tempat untuk pengobatan modern di Kepulauan Mentawai terus ditingkatkan, seperti pembangunan poskesdes. Desa Matobe sebagai salah satu desa yang mendapatkan pembangunan poskesdes sebagai sarana pengobatan modern. Ketersediaan pelayanan yang mulai memadai, tingkat pengetahuan dari pemberi pelayanan kesehatan dan jumlah sarana dan prasarana kesehatan yang terus dilengkapi, sehingga peningkatan pelayanan kesehatan modern dapat menimbulkan kecenderungan masyarakat untuk meninggalkan cara-cara pengobatan tradisional yang telah membudaya. Pelayanan kesehatan didirikan berdasarkan asumsi bahwa masyarakat membutuhkannya. Namun kenyataannya baru mau mencari pengobatan (pelayanan kesehatan) setelah benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Hal ini pun bukan berarti mereka harus mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern tetapi ke fasilitas pengobatan tradisional yang kadang-kadang menjadi pilihan pertama, (Notoatmodjo 2007: 193).

Kepulauan Mentawau merupakan salah satu Kabupaten yang terdapat di propinsi Sumatera Barat yang mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan mayoritas penduduk Sumatera Barat. Masyarakat Mentawai mempunyai pengobatan yang khas, berbeda dengan pengobatan modern. Pengobatan di Mentawai umumnya dilakukan dengan upacara-upacara penyembuhan yang dilakukan oleh seorang dukun (sikerei) yang memiliki pengetahuan gaib dan ramuan obat-obatan. Biasanya sikerei (dukun) melakukan pengobatan dengan cara yaitu pasilaggek, jenis pengobatan ini hanya dengan memberikan ramuan obat tradisional tanpa melakukan sebuah ritual dan pabetei (ritual) yang mana pengobatan ini dilakukan setelah ramuan obat yang diberikan sebelumnya tidak bisa menyembuhkan si sakit. Dalam hal ini, keluarga si sakit perlu menyiapkan segala keperluan upacara atau ritual penyembuhan misalnya babi atau ayam, (Hernawati 2007:90-91).

Dukun (sikerei) yang melakukan pengobatan tradisional merupakan bagian masyarakat, berada ditengah-tengah

masyarakat, dekat dengan masyarakat, dan pengobatan yang dihasilkan adalah kebudayaan masyarakat, lebih diterima oleh masyarakat dari pada dokter, mantri, bidan, yang masih asing bagi mereka, seperti juga pengobatan yang dilakukan dan obat- obatnya pun merupakan kebudayaan mereka.

Desa Matobe merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Desa ini terdiri dari 4 dusun. Berdasarkan observasi awal, masyarakat desa lebih memilih pengobatan tradisionaldari pada berobat di rumah sakit pusat kesehatan desa (poskesdes), sekalipun rumah sakit atau pusat kesehatan desa itu berada di daerah tersebut. Hal ini terlihat dari anggota masyarakat ketika mengalami gangguan kesehatan (sakit), yang mereka lakukan mencari dan memanfaatkan pengobatan tradisional. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian deskriptif dengan menggunakan jenis data primer dan sekunder teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumentasi.

Informan penelitian

Pemilihan informan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dimana pengambilan informan berdasarkan pertimbangan tertentu, pertimbangan tersebut adalah orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang masalah yang dikaji.

Informan pada penelitian ini

1. Kepala Desa Matobe dan tenaga kesehatan (poskesdes).

2. Sikerei (Dukun) sebagai pelaku pengobatan tradisional.

3. Masyarakat Desa Matobe (Pemanfaat pengobatan tradisional).

Jenis data penelitian

(8)

Dalam penelitian ini yang menjadi sumber primer adalah masyarakat (pemanfaat pengobatan tradisional), sikerei (dukun) dan kepala desa dan tenaga kesehatan (poskesdes) di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan yang mengetahui permasalahan, dan sumber sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber yang ada kaitannya dengan penelitian ini seperti: cacatan, laporan, dokumentasi, foto dan sumber pendukung lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional di desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Pengobatan tradisional masuk dala ruang lingkup pengetahuan tradisional, dimana pada masyarakat tradisional memiliki konsekuensi terhadap pengetahuan pengobatan tradisional. Hal inilah yang tampak pada masyarakat Mentawai pada umumnya yang belum sepenuhnya tersentuh oleh kemodernnan. Pengobatan tradisional merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Mentawai, khususnya di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan.

Pada masyarakat Mentawai pada umumnya, lebih percaya bahwa penyebab penyakit bukan karena pertama kurang makan atau minum, kedua diabetes, kecapek an struk, kurang mengkonsumsi vitamin ataupun yang lainnya. Tetapi masyarakat lebih percaya bahwa penyebab penyakit tersebut disebabkan oleh terkenak roh jahat ataupun guna-guna (santet). Pada masyarakat Mentawai pengobatan tradisional ini dilakukan oleh sikerei yang memiliki pengetahuan akan ramuan obat- obatan tradisional dan pengetahuan gaib.

Adapun penyakit yang diobati sikerei pada masyarakat umumnya yakni: penyakit rematik, campak sakit perut, demam, darah tinggi, sakit kepala, dan sampai kepada penyakit yang bisa tidak bisa dideteksi melalui medis yakni kerasukan dan penyakit akibat dari ketidak seimbangan antara kondisi tubuh dan roh manusia atau yang

berhubungan dengan terkenak roh jahat atau guna-guna.

Berdasarkan hal diatas penulis dapatkan menunjukan bahwa ada beberapa persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional yang dapat mempengaruhi sikap masyarakat untuk terus memanfaatkan pengobatan tradisional

1. Pengobatan Tradisional Dianggap Sebagai Pengobatan Yang Bisa Mengobati Semua Penyakit.

Pengobatan ada dua macam yakni pengobatan modern dan pengobatan tradisional. Pengobatan modern merupakan pengobatan yang dilakukan oleh para medis yang sudah terlatih dan pengobatannya hanya bisa mengobati penyakit biasa (penyakit yang tanpa pengaruh dari terkenak roh jahat atau guna-guna), sedangkan pengobatan tradisional merupakan pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun (sikerei)yang berpengalaman dalam hal pengobatan maupun dalam hal meramu obat-obatan tradisional yang bisa mengobati semua penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit akibat dari terkena roh jahat atau guna-guna.

2. Pengobatan Tradisional Dianggap Sebagai Pengobatan Yang Bisa Membersihkan Penyebab Penyakit Kepercayaan masyarakat mentawai segala penyakit bukan hanya disebabkan oleh kondisi fisik yang sudah tidak kuat lagi namun dalam hal ini ada anggapan lain bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh berbagai macam yakni akibat terkena roh jahat atau karena guna-guna, sehingga pengobatannya dilakukan oleh sikerei dengan ramuan obat-obatannya.

Dalam hal ini, sikerei sebagai pelaku pengobatan tradisional ini melakukan pengobatan dengan mengusir atau mengeluarkan penyebab penyakit tersebut dengan cara pasibitbit dan mengembalikan roh baik kedalam tubuh sisakit untuk menguatkan jasmani dan rohani sisakit. Pada masyarakat Mentawai umumnya, pitok salah satu roh yang mengganggu roh manusia dan membuat manusia itu sakit. Pitok adalah orang mati yang tinggal dikuburan. Kadang-

(9)

kadang ia cemburu terhadap orang yang masih hidup sehingga meninggalkan kuburan untuk mengganggu orang lain yang masih hidup terutama orang yang bersalah.

Sikerei dipanggil untuk mengusir pitok, dengan ucapan pergilah kekampungmu di sini akan dipersembahkan seekor babi atau ayam. Sikerei bertugas mengusir pitok. Dia menggunakan daun. Pisik dan apei, kemudian dia mengajak pitok masuk kedalam dedaunan itu, sambil berkata konan kam tai pitok, bak kuddukan senek kalalep, tuitui kam kiatkam kakudduatmui. Artinya marilah pitok jangan bermukim di rumah ini, tapi pergilah dari sini jangan ganggu roh manusia.

3. Pengobatan Tradisional Dianggap Sebagai Pengobatan Yang Mujarab Pengobatan tradisional dikenal sebagai pengobatan yang dilakukan oleh seorang sikerei yang merupakan ahli pengobatan serta ahli dalam meramu obat-obatannya yang mujarab. Ramuan obata-obatannya diambil dari berbagai macam tumbuhan, mulai dari daun, batang, buah, bunga dan akarnya bahkan dari hewan.

Masyarakat mentawai khususnya masyarakat Desa Matobe percaya dengan pengobatan tradisional yang dilakukan oleh sikerei, itu karena setiap penyakit yang diobatinya selalu mujarab dan sembuh. Obat yang diberikan bukanlah obat yang memakai bahan kimia yang dibuat pabrik-pabrik tetapi dari hanya beberapa tumbuhan yang ada di kawasan itu dikumpulkan kemudian diramu menjadi sebuah obat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas maka dapat disimpulakan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai berikut:

1. Masyarakat menganggap pengobatan tradisional yang dari sikerei ini sebagai, pengobatan yang bisa mengobati semua penyakit, baik penyakit biasa (tanpa guna-guna) maupun penyakit akibat terkenak roh jahat ataupun penyakit karena guna-guna.

2. pengobatan yang dapat membersihkan penyebab penyakit, (penyakit terkenak roh jahat ataupun guna-guna),

3. pengobatan yang mujarab, dimana pengobatan tersebut obat-obatan mampu mengobati penyakit dalam waktu yang tidak cukup lama.

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, Zainul. 2011. Pengetahuan Tradisional; Konsep, Dasar Hukum Dan Praktiknya. Jakarta.

PT Raja Grafindo Persada Hernawati S. 2007. Uma Fenomena

Keterkaitan Manusia Dengan Alam. Padang. Yayasan Citra Mandiri

Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi. Jakarta. PT Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta. Rineka Cipta

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis memperoleh bahwa pengobatan tradisional pada penyakit dompo kini masih bertahan eksistensinya dikalangan

Agustino, Awang Syah. Sistem Pengobatan Gigi Tradisional Omprong di Kalangan Masyarakat Desa Tlahap Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara. Skripsi, Jurusan Sosiologi

6.2.1 Kepercayaan yang Menyimpang Efektivitas negatif yang dimaksudkan disini seperti susahnya mengubah suatu kepercayaan ataupun keyakinan masyarakat terhadap

pasien yang datang, mereka menempuh pengobatan dengan datang ke pengobat (tradisional) bukan karena rumah pasien jauh dari fasilitas kesehatan atau di

Paparan Tentang Pengobatan Tradisional Yang Menggunakan Ayat- Ayat Al-Qur’an Di Desa Tamban Muara Baru Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Provinsi

Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pengambilan keputusan masyarakat pada pengobatan tradisional sangkal putung diawali dari masyarakat mengenal pengobatan tradisional

Bentuk satuan lingual berupa kata tunggal berkategori nomina mencakup nama penyakit dalam kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional masyarakat dayak kanayatn

.Persepsi atau pandangan masyarakat terhadap pengobatan tradisional dan mistis ini sangat berkaitan dengan hubungan social masyarakat karena saling memberikan