PERSEPSI PENGGUNA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT (JAMKESMAS) TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN
DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Ilmu Sosial Ilmu Politik
SKRIPSI
Diajukan Oleh :
SITI CHOTIMAH LUBIS 050902055
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLOTIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2008
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Siti Chotimah Lubis
NIM : 050902055
Departemen : Ilmu Kesejahetraan Sosial
Judul : Persepsi Pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) Terhadap Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan.
Medan, Maret 2009
PEMBIMBING
( Mastauli Siregar S.Sos, M.Sp) NIP : 132 297 180
KETUA DEPARTEMEN
(Drs. Matias Siagian, M.Si) NIP : 132 054 339
DEKAN FISIP USU
(Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A) NIP : 131 757 010
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim …..
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas rahmad dan anugerah-Nya penulis mendapat kesempatan untuk menyelsaikan studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU dan atas pertolongan- Nya pula penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai jadwal. Serta Shalawat dan salam ke pangkuan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa ummat manusia ke jalan kebenaran.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat wajib bagi setiap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mendapat gambaran langsung tentang ilmu yang diperoleh dibangku kuliah dan menambah bekal pengalaman yang berhubungan dengan ilmu sosial dan ilmu politik secara khusus.
Dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi yang membahas mengenai “Persepsi Pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) terhadap Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan”, penulis dibantu oleh banyak pihak. Bantuan tersebut berupa materi, moril, maupun spiritual sehingga penuli dapat termotivasi untuk menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis, diantaranya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, selaku Dekan FISIP USU.
2. Bapak Drs. Matias Siagian, M.Si, selaku Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial.
3. Bapak Husni Thamrin, M.Sp, selaku Sekertaris Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial.
4. Ibu Mastauli Siregar, S.Sos, M.Sp, selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi petunjuk serta arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Hairani Siregar S.Sos, M.Sp, selaku dosen wali yang membantu penulis selama masa perkuliahan.
6. Seluruh Dosen dan Pegawai Depatemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU.
7. Bapak Direktur Utama dan Rumah Sakit Haji Medan besarta seluruh staf dan pegawainya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian di rumah sakit tersebut.
8. Khususnya kepada ayahanda tersayang M.Rajab Lubis dan ibunda tersayang Hotma Sari Matondang yang telah memberikan kasih sayang, perhatian, bantuan materi, moril maupu n spiritual.
9. Saudara-saudaraku tersayang, Bang rahmat, Kak Lia, Ila dan Manca.
10. Keluarga Opung, Ujing Ema, Udak Mes, Ujing Butet, Ujing Ita, dan sepupu- sepupuku (Midah, Mael, Asrul, dll).
11. Seluruh saudara-saudaraku di Medan, Tangga Bosi dan dimana pun kalian berada.
12. Sahabat SMA ku (Sakinah dan Fazil).
13. Sahabat seperjuangan Kesos ‘05(Eti, Febri, Joni, Tyo, Anti, Selfi, Mele, Ramot, Samri, Gita, Dewi, Agung, Rizki “Papi”), makasih ya woi !!!
14. Teman-teman di Kessos angkatan 2005.
15. Senior-seniorku (Bang Januardi, Bang Teguh, Bang Yono, Bang Fajar,Bg.
Mirza, dll).
Akhirnya dengan keterbatasan ilmu yang penulis miliki, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Walaupun demikian skripsi ini mudah-mudahan berguna untuk membangun ilmu pengetahuan di bidang kesejahteraan sosial khususnya dan sosial dan politik umumnya. Terima Kasih.
Medan, Maret 2009 Penulis
Siti Chotimah Lubis NIM : 050902055
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ABSTRAK
Persepsi Pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) Terhadap Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan
Pemerintah sebagai instansi tertinggi yang bertanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan penduduk atau masyarakat harus pula memenuhi kewajiban dalam menyediakan sarana pelayanan kesehatan, serta menyelenggarakan sistem asuransi kesehatan sehingga penduduk yang sakit dapat disembuhkan. Salah satu program yang dibuat pemerintah adalah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Rumah Sakit Haji Medan merupakan salah satu dari 17 rumah sakit di Medan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada pengguna Jamkesmas. Pelayanan kesehatan yang diberikan Rumah Sakit Haji Medan kepada pengguna atau peserta Jamkesmas antara lain pelayanan Rawat Jalan Tindak Lanjutan (RJTL) dan pelayanan Rawat Inap Tindak Lanjutan (RITL) yang mencakup tindakan pelayanan obat, penunjang diagnosik, pelayanan darah serta pelayanan lainnya. Rumah Sakit Haji Medan selaku lembaga yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terindikasi kurang memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan kepada pasiennya.
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan tepatnya di terletak di Jalan RS. Haji Medan Estate No.1, Kabupaten Deli Serdang. Tipe penelitian yang digunakan adalah bersifat deskripif dengan populasi sebanyak 95 orang, yang menadi sampel adalah 17 orang untuk pasien Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) dan 78 orang untuk pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL).
Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sample. Teknik pengumpulan data dengan metode angket, wawancara, observasi dan library research atau studi kepustakaan. Sedangkan teknik analisis data adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kaulitatif.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi pengguna Jamkesmas terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan adalah positif. Terlihat dari tingginya tingkat kepuasan pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) yang menjadi responden terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan yaitu sebesar 88,5 % dan juga tingginya tingkat kemaksimalan pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Haji Medan kepada responden yaitu sebesar 87,2 %. Sedangkan untuk pasien yang Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) tingkat kepuasannya sebesar 82,4 % dan tingkat kemaksimalnnya adalah sebesar 94,1 %.
Kata Kunci : Pelayanan, Kesehatan.
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR……….i
ABSTRAK ………..iii
DAFTAR ISI ………. iv
DAFTAR GAMBAR ………..vi
DAFTAR TABEL ………..vii
DAFTAR LAMPIRAN ………...x
BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………1
1.2 Perumusan Masalah ………6
1.3 Tujuan Penelitian ………6
1.4 Manfaat Penelitian ………..6
1.5 Sistematika Penulisan ……….7
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi ………...8
2.2 Jamkesmas ………..15
2.3 Pelayanan Kesehatan ………..20
2.4 Kerangka Pemikiran ………...25
2.5 Definisi Konsep dan Definisi Operasional ……… 27
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian ……….30
3.2 Lokasi Penelitian ……….30
3.3 Populasi dan Sampel ………30
3.4 Teknik Pengumpulan Data ………..32
3.5 Teknik Analisa Data ………33
BAB IV : DESKRIPSI LOKASI
4.1 Sejarah Singkat ………...35 4.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Haji Medan …………...38 4.3 Fasilitas Rumah Sakit Haji Medan ……… 44
BAB V : ANALISA DATA
5.1 Identitas/ Karakteristik Responden ……….47 5.2 Pengetahuan Dan Pemahaman Responden Tentang
Program Jamkesmas ………...51 5.3 Pelayanan Kesehatan yang Diberikan Kepada
Responden ………. 55
BAB VI : KESIMPULN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ………70 6.2 Saran ………..70
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Hal
2.2.3 Alur Pelayanan di Rumah Sakit ……….. 18 2.4 Bagan Kerangka Pemikiran ………. 26 4.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Haji Medan ………. 43
DAFTAR TABEL
No. Tabel Hal
1. Tabel Jumlah Pasien Jamkesmas yang Berobat
di Rumah Sakit Haji Medan ………... 31
2. Jumlah tempat tidur untuk pasien ……….. 45
3. Distribusi Menurut Jenis Kelamin ………..48
4. Distribusi Menurut Umur ………. 48
5. Distribusi Menurut Agama ……… 49
6. Distribusi Menurut Mata Pencaharian 7. Distribusi Menurut Suku……….50
8. Tingkat Pengetahuan Responden tentang Pengertian Program Jamkesmas ……… 51
9. Tingkat Pengetahuan Responden tentang Tujuan Program Jamkesmas ……… 52
10. Penilaian Responden terhadap Adanya Program Jamkesmas ………. 53
11. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Rumah Sakit di Medan Penerima Pengguna Jamkesmas ………. 54
12. Lama Pasien Dirawat Inap ……….. 55
13. Penggunaan Kartu Jamkesmas di Rumah Sakit Haji ……….. 55
14. Yang Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Responden ………56
15. Intensitas Dokter Melakukan Pemeriksaan Tiap Hari ……… 57
16. Penilaian Responden terhadap Ketepatan Waktu Dokter dalam Melakukan Pemeriksaan Kesehatan ………57
17. Penilaian Responden terhadap Kesigapan Dokter atau Perawat …… 58 18. Penilaian Responden terhadap Kemampuan Dokter dalam
Menjelaskan Penyakit Responden ………. 59 19. Penilaian Responden terhadap Sikap Dokter dan Perawat ………… 60 20. Penilaian Responden terhadap Prosedur Administrasi untuk
Rawat Jalan ……… 61 21. Penilaian Responden tentang Rumah Sakit yang Selalu Memberian
Petunjuk atau Informasi yang sebenarnya kepada Responden …….. 62 22. Penilaian Responden terhadap Rumah Sakit Haji yang Lebih
Mengutamakan Pasien Non-Jamkesmas daripada Pasien
Jamkesmas ………. 63 23. Penilaian Responden terhadap Kondisi Kamar Inap Rumah Sakit
Haji Medan ………. 64 24. Penilaian Responden Terhadap Kebersihan Kamar Inap Rumah
Sakit Haji Medan ……… 64 25. Penilaian Responden terhadap Kelengkapan Obat ………. 65 26. Penilaian Responden terhadap Kualitas Obat yang Diberikan
Rumah Sakit Haji Medan……… 66 27. Penilaian Responden terhadap Peningkatan Mutu Pelayanan ……… 67 28. Penilaian Responden terhadap Kepuasan Pelayanan yang
Diberikan …... 67 29. Alasan Responden Menggunakan Kartu Jamkesmas di Rumah Sakit
Haji Medan ………. 68
30. Penilaian Responden tentang Ada atau Tidaknya Hal-hal yang Mengganggu Kelancaran dalam Mendapatkan Pelayanan
Kesehatan ………. 69
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Hal
1. Contoh Surat Keabsahan Peserta (SKP) ……… 74
2. Bukti Rawat Jalan Peserta Jamkesmas ……….. 75
3. Resep Dokter ………. 76
4. Keputusan Komisi Pembimbing ………77
5. Berita Acara Seminar Proposal ………..78
6. Permohonan Izin Penelitian di Rumah Sakit Haji Medan ……… 79
7. Surat Izin Riset oleh Rumah Sakit Haji Medan ……… 80
8. Surat Selesai Riset oleh Rumah Sakit Haji Medan ………81
9. Kuesioner Penelitian ………..82
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan dibidang kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional, pemerintah sebagai institusi tertinggi yang bertanggungjawab atas pemeliharaan kesehatan harus pula memenuhi kewajiban dalam penyediaan sarana pelayanan kesehatan. Sebagaimana diketahui pembangunan kesehatan merupakan kunci sukses yang mendasari pembangunan lainnya, dengan kata lain kesehatan merupakan kebutuhan manusia yang utama dan menjadi prioritas yang mendasar bagi kehidupan. Pelaksanaan pembangunan dibidang kesehatan melibatkan seluruh warga masyarakat Indonesia, hal tersebut dapat dimengerti karena pembangunan kesehatan mempunyai hubungan yang dinamis dengan sektor lainnya.
Namun pada kenyataannya, tingkat derajat kesehatan masyarakat Indonesia terutama masyarakat miskin dan kurang mampu masih rendah. Menurut data BPS tahun 2007 derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur Harapan Hidup 70,5 Tahun.
Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya masyarakat miskin maupun kurang mampu mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya yaitu tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan yang mahal.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/ 1992 tentang Kesehatan, ditetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggungjawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Oleh karena itu, pada awal pemerintahan SBY – JK telah diambil kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Sejak 1 Januari 2005 program ini menjadi Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Maskin (JPKMM) yang populer dengan nama Askeskin (Prapatan, 2008).
Program ini bertujuan meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan tidak mampu. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta penurunan angka kelahiran disamping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan masyarakat miskin umumnya (Keputusan Menteri Kesehatan No.125/Menkes/SK/II/2008 Tanggal 6 Februari 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat).
Pada awal tahun 2005 sasaran program berjumlah 36,1 juta jiwa penduduk miskin di seluruh Indonesia. Sejalan dengan usulan Pemerintah Daerah dan bersamaan dengan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM), mulai pertengahan tahun 2005 sampai tahun 2006 sasaran disesuiakan dengan jumlah rumah tangga (RTM) atau sekitar 76,4 juta jiwa.
Masyarakat miskin memperoleh pelayanan kesehatan secara berjenjang mulai dari rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas, sampai rujukan rawat spesifikasi dan rawat inap di kelas tiga rumah sakit (Prapatan, 2008).
Pada tahun 2008 program Askeskin ini diubah namanya menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang tidak mengubah jumlah sasaran. Program ini bertujuan untuk memberi akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sangat miskin, miskin dan mendekati miskin berjumlah 76.4 juta jiwa (Keputusan Menteri Kesehatan No.125/Menkes/SK/II/2008 Tanggal 6 Februari 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat).
Untuk penduduk Provinsi Sumatera Utara jumlah kuota masyarakat miskin yang ditanggung pada 2008 sama jumlahnya dengan 2007 yaitu 4.124. 247 jiwa dari 12.122.520 jiwa seluruh penduduk Sumatera Utara berarti sekitar 34,02
% (yaahowu, 2008). Khusus untuk wilayah Kota Medan penerima Jamkesmas ditetapkan berjumlah 412.249 jiwa.
Rumah sakit sebagai wadah pelayanan kesehatan harus mempunyai fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi penderita. Sehubungan dengan itu dapatlah dinyatakan rumah sakit adalah sisi pemberi pelayanan kepada masyarakat dengan segala latar belakang sosial kulturnya, tanpa pandang bulu sebagai sisi yang mengharapkan akan menerima pelayanan dengan baik. Dalam mendukung pelaksanaan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin atau yang sekarang lebih dikenal dengan Jamkesmas, rumah sakit memiliki peranan yang sangat penting.
Peranannya adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang menjadi pengguna atau peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Menurut Kadis Kesehatan Kota Medan dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI, mulai saat ini sudah ada 17 Rumah Sakit Umum (RSU) yang siap melayani pasien Jamkesmas. Beberapa rumah sakit selain RSU Pirngadi Medan , RS Haji Medan, RSU H Adam Malik, di antaranya RSU Bina Kasih, RSU Martha Friska dan RSU Imelda, RSU Angkatan Laut Belawan, RSU Tentara Putri Hijau Medan, RSU Estomihi, RSU Mitra Sejati, RSU Maya Sari, RSU Boloni, RSU Malahayati, RSU Sundari, RSU Bina Azis, RSU Wulan Windi dan RSU Tanjung Morawa (Pemkomedan, 2008).
Rumah Sakit Haji Medan merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang jasa perawatan medis dan merupakan salah satu rumah sakit yang bernafaskan islam di Kota Medan. Rumah sakit ini berdiri tanggal 04 Juli 1992 dan terletak di jalan RS. Haji-Medan Estate Kabupaten Deli Serdang dan termasuk dalam 17 rumah sakit di Kota Medan yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi pengguna atau peserta Jamkesmas.
Pelayanan kesehatan yang diberikan Rumah Sakit Haji Medan kepada pengguna atau peserta Jamkesmas antara lain pelayanan Rawat Jalan Tindak Lanjutan (RJTL) dan pelayanan Rawat Inap Tindak Lanjutan (RITL) yang mencakup tindakan pelayanan obat, penunjang diagnosik, pelayanan darah serta pelayanan lainnya.
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, penulis menemukan ada beberapa permasalahan terutama menyangkut dalam pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit Haji Medan kepada pasiennya. Hal ini terungkap karena penulis seringkali mendengar keluhan dari beberapa pasien yang Non Jamkesmas bahwa belum memuaskannya pelayanan kesehatan yang
diberikan baik dari kualitas perlengkapan maupun kualitas pelayanan lainnya seperti pelayanan medik, pelayanan obat-obatan dan pelayanan administrasi.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa Rumah Sakit Haji Medan selaku lembaga yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terindikasi kurang memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan kepada pasien Non- Jamkesmas yang notabene adalah pasien yang menanggung biaya rumah sakit secara pribadi. Bila pasien yang Non Jamkesmas saja pelayanan kesehatan yang diberikan kurang memuaskan, bagaimana lagi pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang termasuk dalam pengguna Jamkesmas. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengetahui apakah Rumah Sakit Haji Medan sebagai salah satu dari 17 rumah sakit di Medan yang menerima pengguna Jamkesmas melakukan pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi pengguna Jamkesmas dengan cara mencari tahu bagaimana “Persepsi pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan”.
1.2 Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukakan yaitu bagaimana “Persepsi pengguna Jamkesmas terhadap pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Haji Medan ?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui “Persepsi pengguna Jamkesmas terhadap pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Haji Medan”.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau referensi dalam rangka mengembangkan konsep-konsep, teori-teori, terutama model pemecahan masalah pelayanan kesehatan yang diberikan Rumah Sakit Haji Medan kepada pengguna Jamkesmas khususnya dan bagi instansi yang terkait baik pemerintahan maupun pihak yang lainnya.
1.5 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat serta sistematika penulisan penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan objek yang diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan definisi operasional.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan, tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.
BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini berisikan gambaran umum lokasi penelitian dimana penulis mengadakan penelitian.
BAB V : ANALISA DATA
Bab ini berisikan uraian data yang diperoleh penulis dari hasil penelitian dan pembahasannya
BAB VI : PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang penulis berikan sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Persepsi
2.1.1 Pengertian Persepsi
Pada dasarnya persepsi merupakan suatu proses yang terjadi di dalam pengamatan seseorang terhadap orang lain. Persepsi terhadap satu objek yang ada disekitar manusia pada dasarnya berbeda dengan lainnya karena sebagai makhluk individu setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pemahamannya. Semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap suatu objek yang dipersepsikan maka semakin baik bentuk persepsi orang tersebut terhadap objek begitu pula sebaliknya.
Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris perception berasal dari bahasan Latin perception; dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil (Sobur, 2003). Persepsi seseorang bisa diartikan sebagai proses, pemahaman terhadap sesuatu informasi yang disampaikan oleh orang lain yang sedang saling berkomunikasi, berhubungan atau kerjasama. Jadi setiap orang tidak terlepas dari persepsi.
Persepsi menurut Morgan, King dan Robinson (Rukminto, 1994), persepsi menunjuk bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, mengecap dan mencium dunia sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat pula didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dialami oleh manusia.
Sedangkan menurut Kimbal Young (Walgito, 1999), persepsi adalah sesuatu yang menunjukkan aktifitas, merasakan, mengidentifikasikan dan
memahami objek baik fisik maupun sosial. Definisi ini menekankan bahwa persepsi akan timbul setelah seseorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek dan setelah dirasakan akan menginterpretasikan objek yang dirasakannya tersebut.
2.1.2 Proses Persepsi
Adapun proses persepsi menurut Udai Pareek (Sobur, 2003) antara lain:
1. Proses menerima rangsangan
Proses pertama dalam persepsi ialah menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui pancaindera. Kita melihat sesuatu, mendengar, mencium, merasakan, atau menyentuhnya, sehingga kita mempelajari segi-segi lain dari sesuatu itu.
2. Proses menyeleksi rangsangan
Setelah diterima, rangsangan atau data diseleksi. Tidaklah mungkin untuk memperhatikan semua rangsangan yang telah diterima. Demi menghemat perhatian yang digunakan, rangsangan-rangsangan itu disaring dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut. Ada dua kumpulan faktor menentukan seleksi rangsangan itu, yaitu:
a. Faktor-faktor intern 1) Kebutuhan psikologis
Kebutuhan seseorang mempengaruhi persepsinya. Kadang-kadang, ada hal yang “kelihatan” (yang sebenarnya tidak ada), karena kebutuhan psikologis. Misalnya, seorang yang haus bisa melihat air di banyak tempat; fatamorgana seperti itu biasa sekali terjadi di padang pasir.
Jika seseorang kehilangan hal tertentu yang dibutuhkan, mereka lebih sering melihat barang itu.
2) Latar belakang
Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam persepsi.
Orang-orang dengan latar belakang tertentu mencari orang-orang dengan latar belakang yang sama.
3) Pengalaman
Pengalaman mempersiapkan seseorang untuk mencari orang-orang, hal-hal, dan gelaja-gejala yang mungkin serupa dengan pengalaman pribadinya. Seseorang yang mempunyai pengalaman buruk dalam bekerja dengan jenis orang tertentu, mungkin akan menyeleksi orang- orang ini untuk jenis persepsi tertentu.
4) Kepribadian
Kepribadian juga mempengaruhi persepsi. Seorang yang introvert mungkin akan tertarik kepada orang-orang yang serupa atau sama sekali berbeda. Berbagai faktor dalam kepribadian mempegaruhi seleksi dalam persepsi.
5) Sikap dan kepercayaan umum
Sikap dan kepercayaan umum juga mempengaruhi persepsi. Orang- orang yang mempunyai sikap tertentu terhadap karyawan wanita atau karyawan yang termasuk kelompok bahasa tertentu, besar kemungkinan akan melihat berbagai hal kecil yang tidak diperhatikan oleh orang lain.
6) Penerimaan diri
Penerimaan diri merupakan sifat penting yang mempengaruhi persepsi.
Beberapa telah menunjukkan bahwa mereka yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan lebih tepat menyerap sesuatu dari pada mereka yang kurang ikhlas menerima realitas dirinya. Untuk yang terakhir ini cenderung mengurangi kecermatan persepsi. Implikasi dari fakta ini ialah kecermatan persepsi dapat ditingkatkan dengan membantu orang-orang untuk lebih menerima diri mereka sendiri.
b. Faktor Ekstern 1) Intensitas
Pada umumnya, rangsangan yang lebih intensif, mendapatkan lebih banyak tanggapan dari pada rangsangan yang kurang intens.
2) Ukuran
Pada umumnya, benda-benda yang lebih besar lebih menarik perhatian. Barang yang lebih besar lebih cepat dilihat.
3) Kontras
Biasanya, hal-hal lain dari biasa kita lihat akan cepat menarik perhatian. Jika orang biasa mendengar suara tertentu dan sekonyong- konyongnya ada perubahan dalam suara itu, hal itu akan menarik perhatian. Banyak orang secara sadar atau tidak, melakukan hal-hal yang aneh untuk menarik perhatian. Prilaku yang luar biasa menarik perhatian karena prinsip-prinsip perbedaan itu.
4) Gerakan
Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada hal-hal yang diam.
5) Ulangan
Biasanya hal-hal yang berulang dapat menarik perhatian. Akan tetapi, ulangan yang terlalu sering, dapat menghasilkan kejenuhan semantik dan dapat kehilangan arti perseptif.
6) Keakraban
Hal-hal yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian. Hal ini terutama jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka tertentu.
7) Sesuatu yang baru
Faktor ini kedengarannya bertentangan dengan faktor keakraban. Akan tetapi, hal-hal baru juga menarik perhatian. Jika orang sudah biasa dengan kerangka yang sudah dikenal, sesuatu yang baru menarik perhatian.
3. Proses Pengorganisasian
Rangsangan yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalan suatu bentuk.
Ada tiga dimensi utama dalam pegorganisasian rangsangan, yaitu : a. Pengelompokan
Berbagai rangsangan yang telah diterima dikelompokkan dalam suatu bentuk. Beberapa faktor digunakan untuk mengelompokkan rangsangan itu, antara lain :
1) Kesamaan, rangsangan-rangsangan yang mirip dijadikan satu kelompok.
2) Kedekatan, hal-hal yang lebih dekat antara satu dan yang lain juga dikelompokkan menjadi satu.
3) Ada suatu kecenderungan untuk melengkapi hal-hal yang dianggap belum lengkap.
b. Bentuk timbul dan latar
Prinsip lain dari dalam mengatur rangsangan disebut bentuk timbul dan latar. Hal ini merupakan salah satu proses persepsi yang paling menarik dan paling pokok. Dalam melihat rangsangan atau gejala, ada kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada gejala-gejala tertentu yang timbul menonjol, sedangkan rangsangan atau gejala lainnya berada di latar belakang.
c. Kemampuan persepsi
Ada suatu kecenderungan untuk menstabilkan persepsi, dan perubahan- perubahan konteks tidak mempengaruhinya. Dunia perspsi diatur menuut prinsip kemantapan. Dalam persepsi dunia tiga dimensional, faktor ketetapan memainkan peranan yang penting.
4. Proses Penafsiran
Setelah rangsangan atau data diterima dan diatur, si penerima lalu menafsirkan data itu dengan berbagai cara. Dikatakan bahwa telah terjadi persepsi setelah data itu ditafsirkan. Persepsi pada pokoknya memberikan arti pada berbagai data dan informasi yang diteima.
5. Proses Pengecekan
Sesudah data diterima dan ditafsirkan, si penerima mengambil beberapa tindakan untuk mengecek apakah penafsirannya benar atau salah. Proses pengecekan ini mengkin terlalu cepat dilakukan dari waktu ke waktu untuk menegaskan apakah penafsiran atau persepsi dibenarkan atau data baru.
Data atau kesan-kesan itu dapat dicek dengan menanyakan kepada orang- orang lain mengenai persepsi mereka.
6. Proses Reaksi
Tahap terakhir dari proses perceptual ialah bertindak sehubungan dengan apa yang telah dicerap. Hal ini biasanya dilakukan jika seseorang berbuat suatu sehubungan dengan persepsinya. Misalnya, seseorang bertindak sehubungan dengan persepsi yang baik atau yang buruk yang telah dibentuknya. Lingkaran persepsi itu belum sempurna sebelum menimbulkan suatu tindakan. Lingkaran persepsi ini bisa tersembunyi dan bisa pula terbuka. Tindakan tersembunyi berupa pembentukan pendapat atau sikap, sedangkan tindak yang terbuka berupa tindakan nyata sehubungan dengan persepsi itu. Satu gelaja yang telah menarik perhatian sehubungan dengan tindakan tersembunyi ialah “pembentukan kesan”.
Pembentukan kesan ialah cara seorang pencerap membentuk kesan tertentu atas suatu objek atau atas seseorang menurut cirri-ciri yang dicerapnya, atau data yang ia terima dari berbagai sumber.
2.2 Jamkesmas
2.2.1 Pengertian Jamkesmas
Jamkesmas merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat dan merupakan bagian dari pengentasan kemiskinan yang bertujuan agar akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dapat ditingkatkan sehingga tidak ada lagi Maskin yang kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan karena alasan biaya (Prapatan, 2008).
2.2.2 Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Umum
Meningkatkan akses dan mutu kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan Rumah Sakit.
b. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
c. Terselanggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.
3. Sasaran
Sasaran program adalah masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa, tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya.
2.2.3 Prosedur Pelayanan Kesehatan
Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut :
1. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya.
2. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunujukkan Kartu Jamkesmas.
3. Apabila peserta Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapat pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus emergensi.
4. Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di rumah sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta dan surat rujukan dari puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero).
Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya memeproleh pelayanan kesehatan.
5. Untuk memperoleh pelayanan rawat inap di rumah sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta dan surat rujukan dari puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Akes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya memeproleh pelayanan inap.
6. Pada kasus-kasus tertentu yang dilayani di IGD termasuk kasus gawat darurat di rumah sakit, peserta harus menunjukkan kartu peserta dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPTRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT. Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan surat keabsahan peserta (SKP). Bagi pasien yang tidak dirawat prosesnya sama dengan proses rawat jalan, sebaliknya bagi yang dinyatakan rawat inap prosesnya sama dengan proses rawat inap.
Gambar 2.2.3
Alur Pelayanan di Rumah Sakit
2.2.4 Jenis-Jenis Pelayanan Kesehatan
Adapun jenis-jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di rumah sakit yaitu :
1. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), yang meliputi :
a. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis atau umum.
b. Rehabilitasi Medik
c. Penunjang diagnosik : laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik d. Tindakan medis kecil atau sedang
e. Pemeriksaan dan pengobatan gigi tingkat lanjutan
f. Pemberian obat yang mengacu pada Formalium Rumah Sakit Peserta Loket
RS SKP Pelayanan
Kesehatan
RJTL
RITJ
Pulang
Daftar Peserta Jamkesmas menurut SK
Bupati / Walikota
Kasus Emergency
Verifikasi Kepesertaan oleh PPTRS ( PT.Askes)
g. Pelayanan darah
h. Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan penyulit 2. Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), yang meliputi :
a. Akomodasi rawat inap pada kelas III
b. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan
c. Penunjang diagnosik : laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik d. Tindakan medis
e. Operasi sedang dan besar f. Pelayanan rehabilitasi medis g. Perawatan intensif (ICU)
h. Pemberian obat mengacu Formalium Rumah Sakit i. Pelayanan darah
j. Persalinan dengan resiko tinggi dan penyulit
2.3 Pelayanan Kesehatan
2.3.1 Pengertian Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Azwar, 1995).
2.3.2 Konsep Pelayanan Kesehatan Dasar
Konsep pelayanan kesehatan dasar mencakup nilai-nilai dasar tertentu yang berlaku umum terhadap proses pengembangan secara menyeluruh, tetapi dengan penekanan penerapan di bidang kesehatan seperti berikut, (WHO, 1992) : 1. Kesehatan secara mendasar berhubungan dengan tersedianya dan penyebaran
sumberdaya – bukan hanya sumberdaya kesehatan seperti dokter, perawat, klinik, obat, melainkan juga sumberdaya sosial – ekonomi yang lain seperti pendidikan, air dan persediaan makanan.
2. Pelayanan kesehatan dasar dengan demikian memusatkan perhatian kepada adanya kepastian bahwa sumberdaya kesehatan dan sumberdaya sosial yang ada telah tersebar merata dengan lebih memperhatikan mereka yang paling membutuhkannya.
3. Kesehatan adalah satu bagian penting dari pembangunan secara menyeluruh.
Faktor yang mempengaruhi kesehatan adalah factor sosial, budaya, dan ekonomi di samping biologi dan lingkungan.
4. Pencapaian taraf kesehatan yang lebih baik memerlukan keterlibatan yang lebih banyak dari penduduk, seperti perorangan, keluarga, dan masyarakat, dalam pengambilan tindakan demi kegiatan mereka sendiri dengan cara menerapkan perilaku sehat dan mewujudkan lingkungan yang sehat.
2.3.3 Karakteristik Pelayanan Kesehatan
Menurut Evan (Astaqauliyah, 2008) dibandingkan dengan kebutuhan hidup manusia yang lain, kebutuhan pelayanan kesehatan mempunyai tiga ciri utama yang terjadi sekaligus dan unik yaitu : uncertainty, asymetri of information dan externality. Ketiga ciri utama tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan sangat unik dibandingkan dengan produk atau jasa lainnya.
1. Uncertainty
Uncertainty atau ketidakpastian menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat maupun besarnya biaya yang dibutuhkan. Dengan ketidakpastian ini sulit bagi seseorang untuk menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatannya. Penduduk yang penghasilannya rendah tidak mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak diketahui datangnya, bahkan penduduk yang relatif berpendapatan memadai sekalipun seringkali tidak sanggup memenuhi kecukupan biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan medisnya.. Maka dalam hal ini seseorang yang tidak miskin dapat menjadi miskin atau bangkrut mana kala ia menderita sakit.
2. Asymetry of Information
Sifat kedua asymetry of Information menunjukkan bahwa konsumen pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah sedangkan provider(dokter dan petugas kesehatan lainnya) mengetahui jauh lebih banyak tentang manfaat dan kualitas pelayann yang dijualnya. Ciri ini juga ditemukan oleh para ahli ekonomi kesehatan lain seperti Feldstein, Jacos, Rappaport, dan Phelps. Dalam pelayanan kesehatan, misalnya kasus ekstrim pembedahan, pasien hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui apakah ia membutuhkan pelayanan tersebut atau tidak. Kondisi ini sering dikenal dengan consumen ignorence atau konsumen yang bodoh, jangankan ia mengetahui berapa harga dan berapa banyak yang diperlukan, mengetahui apakah ia memerlukan tindakan bedah saja tidak sanggup dilakukan meskipun pasien mungkin seorang profesor sekalipun.
3. Externality
Externality menunjukkan bahwa konsumsi pelayanan kesehatan tidak saja mempengaruhi pembeli tetapi juga bukan pembeli.. Contohnya adalah konsumsi rokok yang mempunyai resiko besar pada bukan perokok, akibat dari ciri ini, pelayanan kesehatan membutuhkan subsidi dalam berbagai bentuk, oleh karena pembiayaan pelayanan kesehatan tidak saja menjadi tanggung jawab diri sendiri, akan tetapi perlunya digalang tanggung jawa bersama (publik). Ciri unik tersebut juga dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi kesehatan seperti Feldstein (1993).
2.3.4 Syarat-Syarat Pelayanan Kesehatan
Agar pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan yang diinginkan, banyak syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang dimaksud paling tidak mencakup delapan hal pokok yakni tersedia (Available), wajar (Appropriate), berkesinambungan (Continue), dapat diterima (Acceptable), dapat dicapai (Accesible), dapat dijangkau (affordable), efisien (efficient) serta bermutu (quality) (Azwar, 1995).
1. Ketersediaan Pelayanan Kesehatan (Available)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut tersedia di masyarakat.
2. Kewajaran Pelayanan Kesehatan (Appropriate)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut bersifat wajar, dalam arti dapat mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.
3. Kesinambungan Pelayanan Kesehatan (Continue)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut bersifat berkesinambungan, dalam arti tersedia setiap saat, baik menurut waktu atau kebutuhan pelayanan kesehatan.
4. Penerimaan Pelayanan Kesehatan (Acceptable)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut dapat diterima oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
5. Ketercapaian Pelayanan Kesehatan (Accesible)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat dicapai oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan tersebut.
6. Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan (Affordable)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
7. Efisiensi Pelayanan Kesehatan (Efficient)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut dapat diselenggarakan secara efisien.
8. Mutu Pelayanan Kesehatan (Quality)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat menyembuhkan pasien serta tindakan yang dilakukan aman.
Adapun kriteria-kriteria pelayanan yang memuaskan menurut DR. Bob Woworutu (Noveniawanata, 2008) adalah :
1. Kebutuhan masyarakat dapat di penuhi.
2. Mampu memberikan pelayanan yang baik.
3. Tidak berbelit-bekit.
4. Menyingkat waktu tunggu masyarakat.
5. Dapat menguntungkan semua pihak.
Mutu pelayanan hanya dapat diketahui apabila sebelumnya telah dilakukan penilaian, baik terhadap tingkat kesempurnaan, sifat, totalitas dari wujud serta ciri atau pun terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam kenyataannya melakukan penilaian ini tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan mutu pelayanan tersebut bersifat multi-demensional yang artinya setiap orang dapat saja melakukan penilaian yang berbeda-beda tergantung dari latar belakang dan kepentingan masing-masing orang (Azwar, 1995).
2.4 Kerangka Pemikiran
Sulitnya akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya yaitu tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan yang mahal.
Oleh karena itu, pada awal pemerintahan SBY – JK telah diambil kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Sejak 1 Januari 2005 program ini menjadi Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Maskin (JPKMM) yang popular dengan nama Askeskin yang kemudian pada tahun 2008 diubah namanya menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas.
Apabila masyarakat miskin yang sudah terdaftar sebagai pengguna Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan, maka mereka berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Salah satu rumah sakit di Medan yang menerima pengguna Jamkesmas adalah Rumah Sakit Haji Medan. Dengan demikian Rumah Sakit Haji Medan harus memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna Jamkesmas yang memerlukan pelayanan kesehatan, yang meliputi pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) dan pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL).
Setelah mendapatkan pelayanan kesehatan dari rumah sakit Haji Medan, para pengguna Jamkesmas akan mempunyai persepsi baik itu bersifat positif atau negatif tentang bagaimana pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Haji Medan. Untuk itulah peneliti ingin mengetahui bagaimana persepsi pengguna Jamkesmas tersebut terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit Haji Medan.
Gambar. 2.4
Bagan Kerangka Pemikiran
Rumah Sakit Haji Medan
1. Sarana dan prasarana.
2. Pelayanan medis 3. Pelayanan
administrasi
Persepsi pengguna Jamkesmnas terhadap pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit Haji Medan Pengguna Jamkesmas Pelayanan kesehatan yang
diberikan RS Haji Medan
2.5 Definisi Konsep & Definisi Operasional 2.5.1 Definisi Konsep
Konsep adalah istilah atau definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1989). Definisi konsep bertujuan untuk merumuskan dan mendefinisikan istilah-istilah yang digunakan secara mendasar agar tercipta suatu persamaan persepsi dan menghindari salah pengertian yang dapat mengaburkan penelitian.
Untuk memfokuskan penelitian ini maka peneliti memberikan batasan konsep yang diangkat dalam penelitian ini :
1. Persepsi adalah proses, pemahaman terhadap sesuatu informasi yang disampaikan oleh orang lain yang sedang saling berkomunikasi, berhubungan atau kerjasama.
2. Jamkesmas merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat dan merupakan program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
3. Pelayanan Kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
2.5.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah informasi ilmiah yang membantu peneliti dengan menggunakan satu variabel atau dengan kata lain definisi operasional adalah semacam petunjuk pelaksanaan bagiamana mengukur suatu variabel.
Adapun yang menjadi definisi operasional dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Bebas
Variabel bebas (X) adalah segala gejala faktor atau unsur yang menentukan atau mempengaruhi munculnya variabel kedua yang disebut sebagai variabel terikat. Tanpa variabel ini maka variabel berubah sehingga akan muncul menjadi variabel terikat yang berbeda atau lain atau bahkan sama sekali tidak ada yang muncul (Nawawi, 1995). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengguna Jamkesmas dengan indikator :
a. Pengguna Jamkesmas yang memiliki Kartu Jamkesmas.
b. Pasien RITL yang menginap di ruang kelas III minimal 3 hari di rumah sakit.
c. Pasien RJTL minimal 3 kali berobat ke Rumah Sakit Haji Medan.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat (Y) adalah sejumlah gejala atau faktor maupun unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan adanya variabel bebas dan bukannya karena adanya variabel lain (Nawawi, 1995). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pelayanan kesehatan dengan indikator :
a. Kebutuhan pasien dapat di penuhi.
Tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap bagi pasien RITL dan RJTL pengguna Jamkesmas seperti kamar inap, obat-obatan, peralatan dan perlengakapan pelayanan kesehatan lainnya.
b. Mampu memberikan pelayanan yang baik.
1) Cepatnya tanggapan dari petugas kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien RITL dan RJTL pengguna Jamkesmas.
2) Sikap yang baik dari petugas kesehatan dalam melayani pasien RITL dan RJTL pengguna Jamkesmas .
3) Adanya komuniksi yang baik antara petugas kesehatan dengan pasien RITL dan RJTL pengguna Jamkesmas.
c. Tidak berbelit-belit.
1) Administrasi masuk rumah sakit yang mudah bagi pasien RITL pengguna Jamkesmas.
2) Administrasi yang mudah untuk berobat bagi pasien RJTL penggguna Jamkesmas.
3) Adanya kejelasan yang tepat tentang jenis penyakit yang diderita pasien pengguna Jamkesmas.
d. Menyingkat waktu tunggu pasien.
Dipermudah dan dipercepat pelayanan pengurusan administrasi bagi pasien RJTL dan RITL sehingga pasien tidak harus mengantri berjam-jam lamanya.
e. Dapat menguntungkan semua pihak.
1) Bagi rumah sakit dapat menigkatkan pendapatan atau keuntungan untuk rumah sakit.
2) Bagi pasien RITL dan RJTL mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskripstif yaitu suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek peneleitian (seseorang, lembaga, masayarkat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagimana adanya ( Nawawi, 1990).
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi pengguna Jamkesmas terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan yang terletak di Jalan RS. Haji Medan Estate No.1, Kabupaten Deli Serdang.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penulisan yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakter tertentu dalam suatu penelitian (Nawawi, 1990).
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah rata-rata jumlah pengguna Jamkesmas yang menerima pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan dengan perincian sebagai berikut :
Tabel 1.
Jumlah Pasien Jamkesmas yang Berobat di Rumah Sakit Haji Medan
No Bulan Jumlah Pasien
Rawat Inap (/Pasien)
Jumlah Pasien Rawat Jalan
(/Pasien) 1.
2.
3.
4.
5.
6.
April Mei Juni Juli Agustus September
222 209 184 165 186 67
858 1092
901 690 836 316
JUMLAH 1033 4693
Sumber : Rumah Sakit Haji Medan. 2008
3.3.2 Sampel
Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 2004). Pada penelitian ini jumlah sampel tidak dapat dihitung dengan pasti. Hal ini dikarenakan yang menjadi sampel adalah pasien yang menggunakan Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Haji Medan yang tiap hari atau bulannya tidak bisa dipastikan jumlahnya.
Pasien yang menggunakan Kartu Jamkesmas di Rumah Sakit Haji Medan dari bulan April sampai Desember 2008 berjumlah 1033 orang untuk rawat inap dan 4693 orang untuk rawat jalan, jadi rata-rata yang pasien yang berobat tiap bulannya adalah 172 orang untuk rawat inap dan 782 untuk rawat jalan. Maka penulis hanya mengambil 10 % dari jumlah pasien yang berobat
28
setiap bulannya yaitu 17 orang untuk rawat inap dan 78 untuk rawat jalan, sehingga total responden yang akan peneliti teliti berjumlah 95 orang.
Adapun teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan teknik purposive sampling, yaitu penentuan sampel dilakukan dengan sengaja. Dalam hal ini, yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pengguna Jamkesmas yang memiliki kriteria-kriteria, sebagai berikut : a. Pengguna Jamkesmas yang memiliki Kartu Jamkesmas.
b. Pasien RITL yang menginap di ruang kelas III minimal 3 hari di rumah sakit.
c. Pasien RJTL minimal 3 kali berobat ke Rumah Sakit Haji Medan.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut :
a. Metode Angket
Metode angket juga disebut sebagai metode kuesioner. Metode ini berbentuk rangkaian atau kumpulan pertanyaan yang disusun secara sistematis dalam sebuah daftar pertanyaan, kemudian dikirim kepada responden untuk diisi.
Setelah diisi, angket dikembalikan kepada peneliti.
b. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.
Pada penelitian ini penulis menggunakan guide interview yang ditujuan kepada informan kunci (key informan) yaitu pegawai, perawat maupun dokter yang bekerja di Rumah Sakit Haji Medan.
c. Metode Observasi
Observasi adalah mengumpulkan data tentang gejala tertentu yang dilakukan dengan mengamati, mendengar, mencatat kejadian yang menjadi sarana penelitian.
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan library research (studi kepustakaan), yaitu dengan membuka, mencatat dan mengutip data yang berkaitan dengan masalah penelitian dan dapat mendukung terlaksananya penelitian ini.
3.5 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data pada peelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana pengolahan data dilakukan dengan manual, data dikumpulkan dari hasil kuesioner dan wawancara. Kemudian ditabulasi dalam bentuk frekuensi dan kemudian dianalisa. Dimana analisa data yang dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Editing, yaitu meneliti data-data yang diperoleh dari penelitian.
2. Pracoding, yaitu untuk mengetahui kategori-kategori jawaban apa yang ada untuk mengkalsifikasikan jawaban sehingga jawaban yang beraneka ragam menjadi singkat.
3. Coding, yaitu mengklasifikasikan jawaban menurut macamnya.
4. Membuat kategori untuk mengklasifikasikan jawaban sehingga jawaban yang beraneka ragam menjadi singkat.
5. Menghitung besarnya frekuensi data pada masing-masing kategori.
6. Tabulasi, disini data dalam keadaan ringkas dan tersusun dalam suatu Tabel Tunggal sehingga dapat dibaca dengan mudah.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Sejarah Singkat
Sejak awal tahun 1960 sudah mulai terdengar suara-suara dari kalangan ummat Islam di sumatera Utara, khususnya di Kotamadya Medan yang mendambakan terwujudnya sebuah rumah sakit yang bernafaskan Islam. Hal ini disebabkan karena rumah sakit yang telah ada dirasakan belum mampu memberikan dakwah dan misi secara menyeluruh.
Pada musim haji tahun 1990 terjadi musibah terowongan Mina yang banyak menimbulkan korban jemaah haji Indonesia dan kebetulan sekali gagasan dan pelaksanaan pembangunan rumah sakit ini sejalan pula dengan niat pemerintah untuk membangun Rumah Sakit Haji di Empat embarkasi calon jemaah haji Indonesia.
Pada tanggal 28 Februari 1990 di Jakarta, Presiden Republik Indonesia menandatangani prasasti untuk pembangunan empat Rumah Sakit Haji di Indonesia, yakni ; Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Medan melalui Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Provinsi Sumatera Utara No. 445.05/712.K.
Tanggal 7 Maret 1991 dibentuk Panitia Pembangunan Rumah Sakit Haji Medan dan akhirnya peletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Haji Medan dilakukan oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia yaitu Bapak H.
Munawir Sadjali dan Bapak Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara yaitu Bapak Raja Inal Siregar pada pada tanggal 11 Maret 1991.
Gagasan untuk mendirikan rumah sakit yang bernafaskan Islam dicetuskan oleh Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara setelah mengadakan studi perbandingan ke beberapa Daerah Tingkat I di Indonesia, sperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Dari studi perbandingan ini diperoleh informasi bahwa pemerintah daerah stempat sudah sejak lama mengusahakan infak dari para calon jemaah haji agar terkumpul dan dimanfaatkan untuk pembangunan saran fisik yang dibutuhkan oleh ummat Islam di daerah tersebut. Dalam suatu keputusan, DPRD Tingkat I Sumatera Utara menyarankan agar hal yang sama dapat pula dilaksanakan di Medan.
Pengumpulan infak di mulai dari Jema’ah Haji Sumatera Utara pada musin haji tahun 1991 M/1410 H yang deprogram untuk membangun Rumah Sakit Islam di Sumatera Utara. Dalam rangka pembangunan Rumah Sakit Islam tersebut, maka pada tanggal 31 Juli 1991 diadakan pertemuan di kantor KDH Tingkat I Sumatera Utara, gagasan ini dikembangkan kepada masyarakat Sumatera Utara.
Pada awalnya ada keraguan dikalangan ummat Islam Sumatera Utara.
Hal ini disebabkan pengalaman masa lalu, karena terlalu sering dilontarkan pada masyarakat tetapi kemudian hilang dan lenyap begitu saja. Namun setelah langkah-langkah nyata terlihat, masyarakat mulai yakin dan percaya.
Keyakinan ini segera diikuti dengan memberikan partisipasi masing- masing secara lebih efektif dan nyata, sementara gagasan mendirikan Rumah Sakit Islam terus berkembang. Secara kebetulam gagasan dan pelaksanaan pembangunan rumah sakit yang pada waktu itu tengah dalam proses, segera mendapat persetujuan dan dukungan dari pemerintah pusat yakni berupa
penyaluran bantuan dari Garuda Indonesia Airways (GIA) melalui Departemen Agama Republik Indonesia dan Yayasan Amal Bhakti Pancasila Jakarta, bahkan bantuan dari instansi lain yang ada di Jakarta diusahakan. Kemudian pada tanggal 4 Juli 1992 Rumah Sakit Haji Medan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto dan pada tanggal 15 Juli 1992 telah mulai melaksanakan pelayanan kesehatan pada masyarakat umum dan Jemaah Haji Embarkasi Bandara Polonia Medan.
Kemudian melalui Surat Kepala Dinas Kesehatan Tingkat I Provinsi Sumatera Utara tanggal 7 September 1995 No. 440.441/373/IX/195 tentang pembolehan izin sementara kepada Ketentuan Umum Panitia Pembangunan Rumah Sakit Haji Medan untuk mendirikan dan menyelenggarakan Rumah Sakit Umum dengan nama Rumah Sakit Haji Medan yang terletak di jalan RS. Haji – Medan Estate Kabuapaten Deli Serdang.
VISI
Mewujudkan RS. Haji Medan sebagai Rumah Sakit yang bernafaskan Islam dalam semua kegiatannya, di Sumatera Utara.
Misi
1. Pelayanan Kesehatan yang Islami, professional dan bermutu dengan tetap peduli pada kaum du’afa.
2. Melaksanakan dakwah Islamiah dalam setiap kegiatannya.
3. Sebagai sarana untuk menimba ilmu bagi calon cendikiawan muslim.
Falsafah
Rumah Sakit Haji Medan adalah perwujudan dari Iman Amal Saleh, dan ibadah kepada Allah SWT.
Motto
Bekerja sebagai ibadah, Ikhlas dalam pelayanan dan Istiqomah dalam pendirian.
4.2 Stuktur Organisasi Rumah Sakit Haji Medan
Dari struktur organisasi di atas dapat dilihat tugas masing-masing bagian, yaitu :
1. Direktur
a. Menetapkan kebikasanaan pokok pengelolaan rumah sakit yang meliputi barang-barang.
b. Memimpin, mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi semua pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan.
c. Pengelolaan keuangan dan administrasi rumah sakit.
d. Menetapkan program kerja dan sasaran rumah sakit setiap tahun setelah mendapatkan persetujuan pemilik.
e. Mengkoordinasi penyelenggaraan fungsi-fungsi pelayanan medis, administrasi dan keuangan serta perawatan.
f. Menetapkan pengangkatan promosi, demosi, dan pemberhentian kepala bagian dan seleksi serta tingkat tinggi rumah sakit.
2. Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan
a. Menetapkan dan mengkoordinasikan serta mengendalikan penyelenggaraan kegiatan pelayanan medis dan perawatan pada pasien.
b. Menetapkan tarif dan jasa pelayanan kepada pasien setelah berkonsultasi dengan Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan dan mendapat persetujuan dari Direktur/Kepala Rumah Sakit.
c. Mengambil keputusan mengenai masalah-masalah penting yang menyangkut kelangsungan penyelenggaraan pelayanan medis dan perawatan kepada pasien.
3. Kepala Bidang Medis
a. Melaksanakan diagnosa pengobatan, pencegahan akibat penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan serta penyuluhan kesehatan.
b. Memberikan pelayanan medis secara terpadu kepada pasien di instalasi sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing.
4. Kepala Bagian Perawatan
a. Melakukan bimbingan pelaksanaan kegiatan pencegahan asuhan dan pelayanan perawatan dan mutu keperawatan.
b. Melakukan penyusunan standar asuhan dan pelayanan keperawatan.
c. Melakukan pengawasan, pengendalian dan penilai pelaksanaan.
d. Melakukan penempatan tenaga para medis, perawatan atas usulan kepala bidang terkait.
5. Wakil Direktur Medis dan Pendidikan
a. Menetapkan dan mengkoordinasikan dan mengendalikan kebutuhan penunjang medis.
b. Menetapkan dan menyelenggarakan pendidikan, latihan dan penelitian penunjang media.
c. Menetapkan dan menyelenggarakan pendidikan, latihan dan penelitian terhadap para tenaga medis.
6. Kepala Bidang Penunjang Medis
a. Melakukan penyusunan kebutuhan tenaga medis, non medis, obat-obatan dan bahan untuk kebutuhan fasilitas pelayanan penunjang medik.
b. Melakukan penyediaan fasilitas pelayanan penunjang medis.
c. Melakukan pengawasan dan pengendalian pasien.
7. Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian
a. Melakukan penyelenggaraan program pendidikan dan enilaian medis dan non medis.
b. Memberikan bimbingan, asuhan, dan informasi kepada tenaga medis dan non medis.
c. Memberikan bimbingan sekaligus mendampingi serta membantu bagi siswa yang akan melakukan penelitian.
8. Wakil Direktur Umum dan Keuangan
a. Menggerakkan, mengkoordinasikan, mengevaluasikan proses pengelolaan tuga dari bimbingan umum, penyusunan anggaran dan perbendaharaan, akuntansi perencanaan dan rekan medik serta kerohanian.
b. Melaksanakan fungsi manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian dan penganggaran.
c. Mengusulkan pengangkatan promosi, demosi dan pemberhentian karyawan di lingkungan administrasi umum dan keuangan.
9. Kepala Bagian Umum
a. Bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijaksanaan yang telah dibuat pimpinan yang berkaitan dengan ketatuasahaan kepegawaian serta hal-hal umum lainnya.
b. Melaksanakan kebijakan organisasi.
c. Melaksanakan kebijakan berbagai prosedur, metode dan sistem perkantoran serta menetukan standar pekerjaan kantor.
d. Menerima laporan pemasukan dan pendistribusian alat-alat dan perlengkapan medis setiap harinya.
e. Menerima laporan akhir bulan dari sub bagian tata usaha berkaitan dengan persediaan barang.
f. Membuat laporan perpindahan, pemberhentian, pengundur diri dan penambahan pegawai atas persetujuan pimpinan.
g. Mengkonsep surat-surat ke luar dan ke dalam sesuai dengan petunjuk pimpinan.
10. Kepala Bagian Penyusunan Anggaran dan Perbendaharaan
a. Bertanggung jawab atas penyusunan rencana, mobilitasasi dana, pemasaran dan pembelian rumah sakit.
b. Mengkoordinasikan dan melakukan pengawasan terhadap setiap sub bagian di bagian anggaran perbendaharaan.
c. Mengembangkan metode baru dalam melaksanakan pekerjaan untuk menciptakan suatu sistem kerja yang efisien dan efektif.
d. Menyeleksi setiap[ usulan-usulan pembelian yang datang dari unit-unit bagian yanga ada dalam rumah sakit untuk selanjutnya diteruskan ke Direktur/Wakil Direktur Administrasi Keuangan.
11. Kepala Bagian Akuntansi
a. Memimpin pelaksanaan kegiatan akuntansi yang meliputi pengumpulan dan pengelolaan data penyusunan laporan dengan sistem akuntansi yang ditetapkan.
b. Memeriksa keabsahan setiap bukti pembukuan dan transaksi.
c. Membukukan setiap faktur yang masuk yang telah dtetapkan jatuh tempo ke buku besar pendapatan uang.
d. Mencatat honor dokter ke buku besar dokter.
12. Kepala Bagian Perencanaan dan Rekam Medik
a. Melaksanakan pengawasan kerja terhadap setiap sub bagian rekam medik dan perencanaan.
b. Menerima laporan posisi keuangan harian pertanggungjawaban saldo kas ke bank.
c. Membuat laporan posisi keuangan, tagiahan-tagihan maupun uatng-utang yang jatuh tempo.
d. Memiliki kebenaran tentang daftar gaji, uang lembur, honor dokter dan lain-lain yang akan dibayarkan oleh bagian keuangan.
e. Bertanggung jawab terhadap perhitungan dan pembayaran pajak rumah sakit, karyawan maupun dokter.
f. Menyusun anggaran bagian keuangan untuk disampaikan kepada pimpinan melalui bagian perencanaan dan anggaran.
4.3 Fasilitas Rumah Sakit Haji 4.3.1 Fasilitas Rawat Jalan
Adapun fasilitas yang disediakan Rumah Sakit Haji Medan untuk pasien yang ingin rawat jalan, antara lain :
a. Poliklinik Bedah
b. Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan c. Poliklinik Penyakit Dalam
d. Poliklinik Anak e. Poliklinik Mata
f. Poliklinik Kulit dan Kelamin g. Poliklinik Syaraf
h. Poliklinik Jiwa i. Poliklinik Paru j. Poliklinik Gigi k. Poliklinik THT l. Poliklinik Jantung m. Poliklinik Fisioterapi n. Poliklinik Orthopedi
o. Klinik VCT (Voluntary Conseling and Testing) p. Instalasi Gawat Darurat
4.3.2 Fasilitas Rawat Inap
Adapun fasilitas yang disediakan Rumah Sakit Haji Medan untuk pasien yang ingin rawat inap dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2.
Jumlah tempat tidur untuk pasien
TEMPAT TIDUR JUMLAH Utama A
Utama B I-A I-B II III ICU
Ranjang Bayi
4 17 17 28 68 87 14 15
J u m l a h 250
Sumber : Rumah Sakit Haji Medan, 2009
4.3.3 Pelayanan Penunjang
Adapun pelayanan penunjang yang disediakan Rumah Sakit Haji Medan untuk para pasien, antara lain :
a. Rehabilitasi Medis b. Farmasi
c. Ambulance d. Laundry
e. Dapur atau Kitchen f. Incenerator
g. Kerohanian
4.3.4 Dokter
Rumah Sakit Haji Medan memiliki 100 orang dokter ahli, yaitu : a. Dokter ahli bedah 12 orang
b. Dokter ahli kebidanan dan kandungan 13 orang c. Dokter ahli penyakit dalam 5 orang
d. Dokter ahli anak 8 orang e. Dokter ahli mata 4 orang
f. Dokter ahli penyakit kulit dan kelamin 4 orang g. Dokter gigi 4 orang
h. Doketr ahli THT 4 orang i. Dokter ahli paru 7 orang
j. Dokter ahli jantung dan pembuluh darah 4 orang k. Dokter ahli syaraf 3 orang
l. Dokter ahli patologi klinik 2 orang m. Dokter ahli patologi anatomi 3 orang n. Dokter penyakit jiwa 3 orang
o. Dokter ahli Anaestesi 10 orang p. Dokter ahli Radiologi 3 orang q. Dokter umum 11 orang
BAB V ANALISA DATA
Bab ini penulis menyajikan data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan melalui penyebaran kuesioner atau daftar pertanyaan. Kuesioner diisi oleh pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan dan pasien Rawat Inap Tingkat Lanjutan sebagi sampel sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yaitu pada bab Metode Penelitian bahwa sampel yang akan diambil sebanyak 78 orang untuk pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan dan 17 orang untuk Pasien Rawat Inap Tingkat Lanjutan. Pengambilan sampel ini adalah untuk mengetahui persepsi pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Haji Medan.
Dalam pengumpulan kembali kuseioner yang disebar ternyata 95 orang yang telah disebar semuanya terkumpul dan semua pertanyaan dalam pertanyaan terjawab dengan benar.
5.1 Identitas/ Karakteristik Responden Pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL)
5.1.1 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin
Jumlah pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan dan Rawat Inap Tingkat Lanjutan yang menjadi responden peneliti berjumlah 95 orang dimana jumlah responden yang berjenis kelamin wanita sebesar 68 orang dan pria sebesar 27 orang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.
Distribusi Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.
2.
Wanita Pria
68 27
71,6 % 28,4%
J U M L A H 95 100 %
Sumber : Kuesioner. 2009
Berdasarkan Tabel 3 di atas jumlah responden yang berjenis kelamin wanita lebih banyak yaitu 68 orang atau 71,6 %, sedangkan jumlah responden yang berjenis kelamin pria sebanyak 27 orang atau 28,4 %. Hal ini dikarenakan selama peneliti melakukan penelitian di Rumah Sakit Haji Medan, pasien yang melakukan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) dan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) yang menjadi responden kebanyakan dari kaum wanita.
5.1.2 Karakteristik Responden Menurut Kategori Umur Tabel 4.
Distribusi Menurut Umur
No Kategori Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
10 – 20 21 – 30 31 – 40 41 – 50 51 – 60 61 – 70 71 ke atas
4 15 23 31 8 10
4
4,2%
15,8 % 24,2 % 32,7 % 8,4%
10,5%
4,2%
J U M L A H 95 100 %
Sumber : Kuesioner. 2009
Berdasarkan Tabel 4 di atas jumlah responden menurut umur yang paling banyak adalah berkisar umur 41-50 tahun yaitu sebesar 31 orang atau 32,7
%, sedangkan jumlah responden yang paling sedikit adalah umur 10 – 20 tahun dan 71 ke atas sebesar 4 orang atau 4,2 %. Hal ini dikarenakan ketika peneliti