• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan 4 PEMBAGIAN KELAS KATA

N/A
N/A
riyo

Academic year: 2024

Membagikan "Pertemuan 4 PEMBAGIAN KELAS KATA "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAGIAN KELAS KATA

A. Pendekatan Pendeskripsian Kelas Kata

Pengkodifikasian kelas kata dalam sistem bahasa selama ini telah menghabiskan waktu yang panjang, tidak hanya dalam bahasa Indonesia tetapi juga dalam bahasa-bahasa Eropa dan lainnya di dunia. Di Eropa, pembahasan tentang kelas kata, menurut Kridalaksana (1990:1-5) dimulai pertama sekali oleh Aristoteles pada abad ke-4 SM, namun barulah oleh D. Thrax pada abad ke-1 M konsep kelas kata mulai jelas, meskipun masih belum memadai. Kemudian, penyelidikan tentang kelas kata terus berjalan sampai pada abad 19 M yang dinamai Era Tradisional, dalam era ini kelas kata diperlakukan sebagai ‘inti garamatika’ dibandingkan aspek bahasa lainnya. Selanjutnya, pada abad ke-20, yang disebut Era Modern, pengkajian kelas kata mulai berkembang karena para linguis sudah menggunakan berbagai teori dengan beraneka penggarapan sehingga kekayaan teoretis ketika itu ditandai sebagai ciri kemajuan wawasan tentang bahasa. Baru, pada era modern inilah dimulai perubahan paradigma para linguis bahwa kategorisasi kata hanya sebagai salah satu ‘aspek gramatika yang sejajar’ dengan aspek lainnya yang harus mendapat perlakuan seimbang dalam mendeskripsian gramatika’.

Lebih jauh, Kridalaksana (1990:6-7) menjelaskan bahwa sesungguhnya pendekatan yang digunakan dalam pembahasan kelas kata dalam dua era tersebut dapat dibedakan atas tiga paham, yaitu (1) tradisionalisme, (2) universalisme, dan (3) deskriptivisme.

a. Pendekatan Tradisionalisme

Paham tradisional ini dianut oleh N. Chomsky yang dipopulerkan melalui bukunya Aspect of the Theory of syntax (1965) bersama penganut aliran Transformasi-Generatif. Pendekatan ini ditandai dengan ciri penerimaan ‘tanpa reserve’ klasifikasi kata dalam kerangka Gramatika Yunani Latin tanpa mempedulikan ciri-ciri tiap kelas kata. Menurut Chamsky, teorinya hanyalah meneruskan teori Linguis Rasionalis Abad Pertengahan yang menganggap usaha pencarian ciri kelas kata hanyalah bagian dari discoveri procedure yang sifatnya tidak penting dalam teori linguistik.

Pertemuan

4

(2)

b. Pendekatan Universalisme

Pahan universal dipelopori O. Jepersen, diantaranya melalui bukunya The Philosophy of Grammar (1924). Pendekatan ni ditandai dengan ciri ‘menghubungkan alam di luar bahasa (khususnya logika) dengan sistem bahasa (gramatika). Dalam paham ini, diperoleh hanya lima kelas kata yang bersifat universal, yaitu substantif, ajektif, pronominal, verba, dan partikel; akan tetapi perwujudannya berbeda-beda dalam tiap-tiap bahasa.

c. Pendekatan Deskriptivisme

Paham deskriptif dipelopori oleh Edward Sapir dalam bukunya Language (1921).Pendekatan deskriptivisme ditandai dengan ciri bahwa “karena tiap bahasa mempunyai skema tersendiri, maka tiap bahasa mempunyai sistem kelas kata sendiri”. Pendekatan ini berhasil mendeskripsikan kelas kata dalam bahasa-bahasa lain, sehingga membuktikan bahwa kategori Yunani Latin tidak selalu dapat diterapkan ke dalam bahasa-bahasa bukan Eropa, seperti yang ditulis dalam buku Word Classes, Lingua (1996). Pendekatan ini juga diterapkan oleh C.C. Fries dan R. Quirk dalam bahasa Inggris, sehingga diperoleh sistem kelas kata yang lebih memadai dibandingkan pendekatan tradisional.

2. Pembagian Kelas Kata Selama Ini

Mengetahui pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia hanya dapat dilakukan dengan menelusuri karya-karya yang ditulis oleh para ahli dalam buku-buku kelas kata selama ini. Menurut Kridalaksana (1990:9) penelusuran ini tidak hanya dari buku-buku tentang bahasa Indonesia saja tetapi juga melalui buku-buku tentang bahasa Melayu.

Lebih jauh Kridalaksana (1990:9-10) menjelaskan bahwa dalam sejarah gramatika (tata bahasa) bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, berdasarkan tujuannya dapat dikelompokkan dua bentuk pembahasan tentang kelas kata, yaitu berdasarkan (1) gramatika pedagogis dan (2) gramatika teknis. Selain faktor bentuk pembahasan dan tujuannya, dua pengelompokkan tersebut juga didasarkan atas tahun terbit buku-buku tersebut.

Secara sepintas, pengelompokkan tersebut semacam suatu ‘keanomalian’ dalam pertumbuhan suatu bahasa. Namun, hal ini tidak bisa diingkari bahwa hal demikian memang suatu fakta dalam sejarah bahasa Indonesia karena kenyataannya bahasa Indonesia terlahir dari pengajaran bahasa. Artinya, teori-teori bahasa Indonesia dikodifikasi dan dideskripsikan lebih belakangan daripada pengajaran bahasa yang terlebih dahulu harus dilaksanakan. Pengaruh sejarah panjang kemerdekaan bangsa Indonesia turut mempengaruhi secara legal-formal lambatnya penyusunan teori-teori bahasa Indonesia. Lain halnya di Eropa, bahasa-bahasa Eropa dilahirkan

(3)

dari filsafat. Hal tersebut adalah suatu kewajaran karena filsafat adalah induk dari semua ilmu pengetahuan.Artinya, di Eropa tersusun terlebih dahulu tata bahasanya secara teknis, barulah disusun kemudian tata bahasa pedagogis.

Namun demikian, terlepas daripada kenyataan-kenyataan tersebut, sejarah pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia perlu ditelusuri lebih jauh sehingga didapat pemahaman yang lebih komprehensif tentang pembagian kelas kata dalam karya-karya terdahulu dengan segala konsekwensinya terhadap perkembangan pendeskripsian dan teori-teori bahasa Indonesia selama ini. Lalu, membandingkannya dengan pembagian kelas kata secara deskriptif sebagaimana disajikan dalam buku ini dengan tujuan agar lebih fungsional.

a. Gramatika Pedagogis

Secara teoretis, gramatika pedagogis merupakan pendeskripsian bahasa yang disusun sebagai alat bantu dalam pengajaran bahasa yang lebih menekankan pada penggunaan segi-segi gramatikal dan bukan segi teoretis (Kridalaksana, 1993:67). Dengan demikian, buku-buku tata bahasa yang berorientasi pedagogis ditulis dengan tujuan sebagai pelengkap bagi pengajaran bahasa. Karena itu, kejelasan kriteria tiap-tiap kelas kata secara terinci, sebagai ciri-ciri suatu pengelompokan, tidak ditemukan dalam gramatika pedagogis. Buku-buku kelas kata yang termasuk dalam gramatika pedagogis, menurut Kridalaksana (1990:10-18), antara lain buku-buku yang ditulis oleh J. Roman (1653), G.H. Wendly (1736), W. Marsden (1812), J. Crawfurd (1852), R. A. Haji (1957; 1959), J.J. de Hollander (1882), G. van Wijk (1889), K. Sasrasoeganda (1919), Ch.A.van Ophuysen (1915), R.O. Winstedi (1914), St. M. Zain (1943), S. T. Alisyahbana (1953), M. Lubis (1954), I.R. Pudjawijatna dan P.J Zoetmulder (1955), dan C.A. Mees (1957). Selain itu, beberapa buku ditulis dalam gramatika pedagogis berorientasi linguistik, diantaranya oleh R. R. Macdonald (1976) dan G.

Keraf (1969).

Kelemahan pengdeskripsian kelas kata dalam buku-buku yang beorientasi pedagogis tersebut menurut Kridalaksana (1990: 26-28) tidak perlu disoroti karena tujuan penulisannya bukanlah untuk mengkodifikasi ciri bahasa dengan tujuan mencari kesahihan ilmiah, melainkan melayani pengajaran bahasa dengan sasaran hasil dari materi dan metode pengajaran bahasa yang diterapkan. Karena itu, Kridalaksana (2002: 13) menyebut buku-buku tersebut sebagai karya pedagogis deskriptif. Akan tetapi, untuk buku-buku gramatika pedagogis yang berorientasi linguistik yang ditulis Keraf (1969) menurut Kridalaksana kelemahannya terletak pada ‘kriteria morfologis’

yang digunakannya sebagai dasar pembagian kelas kata, diantaranya dalam pendefinisian kata benda yang dirumuskannya sebagai ‘kata yang mengandung morfem terikat ke-an, pe-an, pe-, -an, dan ke-‘. Jika demikian, bagaimana dengan kata-kata yang tidak berimbuhan seperti rumah,

(4)

jalan,dsb., padahal kriteria morfologis hanya digunakan sebagai pembantu perilaku sintaksis, dan hanya bisa digunakan dalam kata-kata turunan. Selain itu, Keraf juga menggolongkan kata bilangan sebagai kata sifat; padahal kata tersebut tidak mampu bergabung dengan kata paling, lebih, dan sekali sebagai indikator atau ciri kata sifat (lihat Kridalaksana, 1990:27).

b. Gramatika Teknis

Gramatika teknis merupakan pendeskripsian bahasa atas dasar linguistik. Dalam gramatika teknis, pendeskripsian kelas kata merupakan salah satu upaya untuk memahami bahasa dengan menjelaskan kriteria untuk tiap-tiap kelas sehingga jelas perbedaan bentuk dan tugas masing-masing kategorinya (Kridalaksana, 1990:10). Lebih lanjut Kridalaksana mengidentifikasi buku-buku yang tergolong dalam gramatika teknis, diantaranya yang ditulis oleh Slametmuljana (1957), A.M.

Moeliono (1967), S. Wojowasito (1978), M. Ramlan, (1985), Samsuri (1985). Selain itu, beberapa buku gramatika teknis yang berorientasi Melayu Modern ditulis oleh Z. A. bin A. Za’ba (1940), Payne (1964), A. H. Omar (1980), dan L. Y. Fang (1985).

Kelemahan pendeskripsian kelas kata berdasarkan gramatika teknis tersebut menurut Kridalaksana diantaranya terletak pada ketidakkonsistenan pengklasifikasian subkategori sebuah kelas dengan subkategori kelas kata yang lain; diantaranya antara kata keadaan subkategori kelas pertama dengan kata keadaan yang termasuk subkategori kelas tiga dalam buku Slametmuljana.

Lalu, tidak adanya kelas numeralia dalam penggolongan kata dalam buku Moeliono. Kemudian, dalam buku Ramlan terjadi pengacauan analisis kategori (kata) dan fungsi (sintaksis), diantaranya (1) kata kemarin, tadi, nanti disebutnya ‘kata keterangan’, padahal kata-kata tersebut termasuk kelas

‘nomina’ (yang mengacu pada waktu); (2) kata-kata tolong, mari, silakan disebutnya ‘kata suruh’, padahal bisa digolongkan pada ‘interjeksi’ (dalam ranah kategori) karena makna suruh dari kata tersebut digunakan dalam ranah fungsi sintaksis (membentuk kalimat suruh); (3) kata-kata seperti pak dan bu disebutnya sebagai ‘kata seru’ dan disamakan dengan kata wah, aduh, ah; padahal pak dan bu termasuk kelas kata ‘nomina’ karena berasasal dari kata bapak dan ibu (lihat Kridalaksana, 1990:28-29).

Komentar lain tentang pembagian kelas kata menurut Kridalaksana ialah dalam buku Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia (1988) yang disebutnya sebagai tata bahasa standar. Meskipun sudah menggunakan hasil penelitian linguistik, tetapi masih belum menerapkan kriteria hierarki dengan konsisten sehingga menurutnya pendeskripsian kelas kata dalam buku tersebut masih ‘mendua’: di satu pihak ingin menerapkan kriteria sintaksis (dibantu kriteria semantis), di pihak lain terdapat penggeneralisasian kelas kata dengan membagi sesedikit mungkin kata utama (verba, nomina, ajektiva, adverbial, nomina, pronominal, dan numeralia) sedangkan kelas lain yang tidak

(5)

diklasifikasikan disebut saja kata tugas (preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas); padahal kata tugas tersebut dapat digolongkan pada kelas tersendiri karena masing- masing mempunyai kriteria yang berbeda secara sintaksis (Kridalaksana, 1990:30-31).

3. Prinsip Pembagian Kelas Kata

Berdasarkan sejarah pembagian kelas kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia sebagaimana telah dipaparkan di atas, jelas sekali belum adanya kesamaan prinsip dengan ciri-ciri atau indikator penanda yang sama yang digunakan oleh para ahli selama ini sehingga menghasilkan penamaan dan jumlah pengategorian yang berbeda-beda. Karena itu, pada era modern ini –yakni ilmu bahasa (linguistik) semakin berkembang-- maka selayaknyalah pencarian akan fakta empiris atas aspek-aspek bahasa semakin diperlukan agar terkodifikasi kaidah bahasa yang memenuhi kriteria kesahihan ilmiah sesuai dengan karakter bahasa yang bersangkutan, diantaranya bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa daerah atau Nusantara. Karena itu, prinsip pembagian kelas kata dalam buku ini mengikuti kriteria yang telah dikemukakan oleh Kridalaksana dalam beberapa bukunya yang relevan (1985; 1990; 2007), yaitu (1) kriteria sintaksis dan (2) kriteria morfologis.

Selain itu, kriteria lain yang perlu dipertimbangkan ialah istilah yang digunakan untuk menyebut masing-masing kategori dan hirarki susunan masing-masingnya dalam kelas kata, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Karena kelas kata merupakan satuan gramatikal, menurut Kridalaksana (1990:43-44) diperlukan ‘kriteria utama’ dalam pemeriannnya, yaitu ‘paradigma sintaksis’ karena kelas kata dan sub-subkelasnya merupakan perangkat kata yang memiliki perilaku sintaksis yang sama. Lebih lanjut, Kridalaksana menjelaskan bahwa konsep perilaku sintaksis yang ‘paling diutamakan’ dalam pemerian kelas kata adalah: (1) kemungkinan posisi satuan gramatikal tersebut secara nyata dalam satuan yang lebih besar; (2) kemungkinan keterdampingan satuan gramatikal tersebut oleh satuan lain dalam sebuah konstruksi; dan (3) kemungkinan satuan gramatikal tersebut disubstitusikan dengan satuan lain. Selanjutnya, ditambahkan dengan dua ciri sintaktis berikut yang dipergunakannya seperlunya, yaitu: (4) fungsi sintaktis (S, P, O, Pel, K) untuk pendeskripsian perilaku kata dalam tataran di atasnya (frasa), sekaligus mempertegas bahwa analisis kelas (kategori) tidak boleh dikacaukan dengan analisis fungsi (sintaksis) dan (5) paradigma sintaktis (seperti aktif-pasif, dsb.) diperlukan dalam pendeskripsian kelas tertentu (misalnya subkategori verba) dalam hubungannya dengan peran, sehingga diperlukan juga (6) semantik gramatikal dalam penjelasan (proposisi, argumen, peran pelaku, penanggap, penderita, dsb.) karena satuan gramatikal adalah pengungkap satuan semantis melalui leksem. Selain paradigma sintaksis sebagai kriteria utama, Kridalaksana (1990:45) juga menambahkan ‘kriteria pendukung’ dalam

(6)

pendeskripsian kelas kata, yaitu (7) paradigma morfologis, terutama kata turunan sebagai akibat terjadinya (a) proses morfologis, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan abreviasi, dan (b) perpindahan kelas, seperti verba berbatu, berjalan, dan bersepeda merupakan verba denominal karena berasal dari kelas nomina jalan, batu, dan sepeda; begitu juga dengan nomina deadverbial kelebihan dan keterlaluan yang berasal dari kelas adverbial lebih dan terlalu; dan bentuk-bentuk kata yang berhubungan dengan infleksi.

Selain dua kriteria tersebut, yang perlu juga mendapat perhatian adalah penggunaan ‘istilah Latin’ oleh Kridalaksana dalam penamaan masing-masing kelas kata dalam bahasa Indonesia, yang menurut penulis sangat rasional dan universal. Dengan menggunakan istilah Latin seperti nomina (N) untuk kata benda, verba (V) untuk kata kerja, ajektiva (Aj) untuk kata sifat, dst; maka akan memperjelas bahwa bukan hanya kata yang dapat dikategorikan tetapi juga tataran diatas kata, seperti frasa dan klausa, sehingga sejalan dengan istilah frasa nominal (FN), frasa verbal (FV), dan sebagainya. Selain itu, penggunaan istilah nomina, verba, dan ajektiva dapat memperjelas bahwa kelas tersebut sebagai kategori gramatikal; sedangkan istilah benda, kerja, sifat, dan sebagainya bukanlah sebutan untuk kelas kata, melainkan lebih tepat sebutan untuk fenomena di luar bahasa.

Prinsip lain yang juga penting diperhitungkan ialah urutan yang digunakan dalam pengklasifikasian kelas kata, yaitu verba menduduki urutan pertama. Sebab, verba merupakan dasar pembentukan kata, misalnya kata pengajar (N) diturunkan dari mengajar (V) dan pelajar dari belajar. Begitu juga dengan gejala yang terjadi dalam masyarakat meskipun tertulis tea bag (N) disebut juga teh celup, dan sebagainya (Kridalaksana, 1990:46). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa lebih merujuk sesuatu sebagai proses daripada sebagai benda. Urutan kedua adalah ajektiva karena berperilaku sintaksis yang sama dengan verba. Kelompok berikutnya nomina dan pronomina; seterusnya numeralia, interogativa, demonstrativa; adverbial berperilaku sintaksis tersendiri; berikutnya artikula, preposisi, konjungsi harus didampingi kelas lain; kategori fatis dengan indikator berbeda. Interjeksi tidak dapat didampingi kelas lain karena berada di luar struktur kalimat, sedangkan verba sampai fatis bagian dari struktur kalimat. Untuk pemahaman yang komprehensif, telusuri penjelasan visual pada tabel 1.

Keterangan tanda V : terdapat atau dikenai dengan ciri-ciri tersebut + tidak : dapat didampingi dengan tidak

- tidak : tidak dapat didampingi dengan tidak

± tidak : ada yang dapat dan ada yang tidak dapat didampingi tidak + K : harus didampingi dengan kelas lain

- K : tidak dapat didampingi dengan kelas lain

± K : ada yang dapat dan ada yang tidak dapat didampingi kelas lain

(7)

Tabel 1

Prinsip dan Ciri Pembagian Kelas Kata dan Subkelasnya

KELAS KATA DAN SUBKELASNYA

PRINSIP DAN CIRI

SINTAKSIS MORFO-

LOGIS Po-

sisi

Pendam- Pingan

Sub- stiutsi

Fungsi Sintak- sis

Para- digma Sintaksis

Hub.

Sematis

Paradigma Morfologis 1. Verba (V)

V Intransitif & Transitif V Aktif & Pasif V Ergatif & Antipasif V Resiprokal &Nonresiprok V Refleksif &Nonrefleksif V Kopulatif & Ekuatif V Telis & Atelis

V Peformatif & Konstatatif

+ tidak V V V V V V V V

V V V

V V

V V

V V V V

V V V 2. Ajektiva (Aj)

Aj Predikatif Aj Atributif Aj Bertaraf Aj Tidak Bertaraf

+ tidak, sangat, lebih, agak

V V V V

V V

V

3. Nomina (N) N Bernyawa - N Persona

- N Flora dan Fauna N tak Bernyawa - N Terbilang - N Tak Terbilang N Kolektif N Bukan Kolektif

- tidak, + dari

V V V V V V V

V V V V V V 4. Pronomina (Pron)

Pron Intratekstual Pron Ekstratekstual - Pron Takrif - Pron tak Takrif

V V V V

V V V V V

V V 5. Numeralia (Num)

Num Takrif - Num Utama - Num Tingkat - Num Kolektif Num tak Kolektif

- tidak, ±

K V

V V V V

V V 6. Adverbia (Adv)

Adv Intraklausal Adv Ekstraklausal

V V

± tidak

± K

7. Interogativa (Intg) - tidak

± K

V V

8. Demonstrativa (Dem) Dem Intratekstual Dem Ekstratekstual

V V

- tidak

± K

V V V

9. Artikula (Art) + K

10. Preposisi (Prep) V + K

11. Konjungsi (Konj) Konj Intrakalimat Konj Ekstrakalimat - Konj Intratekstual - Konj Ekstratekstual

V V V V V

+ K

12. Fatis (Fat) V ± K V

13. Interjeksi (Intj) V - K V

(Diadaptasi dari Kridalaksana 1990;2007

Referensi

Dokumen terkait

Analisis kesalahan siswa pada pelafalan fonem /z/, /c/, /s/, /zh/, /ch/, /sh/ dan /r/ dalam kosa kata bahasa Mandarin di kelas X immersi A dan X immersi B SMA Negeri 4

Apabila data terkumpul dihitung dengan rumus tersebut maka dapat diketahui hasil analisis minat membaca buku fiksi siswa, untuk mengetahui hasil tersebut dimasukkan kedalam kategori