• Tidak ada hasil yang ditemukan

pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013"

Copied!
433
0
0

Teks penuh

6 Perubahan sebaran suhu, salinitas dan klorofil terhadap jumlah tangkapan lemur di perairan Selat Bali pada musim angin tenggara. 91 Kajian Awal Model Perambatan Tsunami di Perairan Maluku Sebagai Mitigasi Bencana Tsunami di Pelabuhan Perikanan Maluku.

OPERATIONAL OCEANOGRAPHY

HIDRO-OSEANOGRAFI & OCEAN FORECASTING SYSTEM)

PENDAHULUAN

Dengan demikian, dengan memahami karakteristik gelombang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan dinamika perairan. Salah satu ciri khas perilaku gelombang adalah kestabilannya. Gelombang yang ditimbulkan oleh angin dan terbentuk di perairan laut dalam akan bergerak menuju pantai (Triatmodjo, 1999). Pantai merupakan salah satu perairan dangkal, sehingga gelombang yang merambat dari perairan laut dalam menuju perairan pantai akan mengalami perubahan kedalaman.

METODE PENELITIAN

Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik gelombang di perairan sekitar Selat Madura Kabupaten Bangkalan yang diduga mempengaruhi erosi dan sedimentasi.

HASIL DAN DISKUSI

Dengan adanya perubahan kedalaman, gelombang yang terbentuk di laut lepas akan mengalami perubahan ketinggian akibat ketidakstabilan gelombang, hingga akhirnya pecah sehingga menimbulkan arus pantai (Gambar 4) (Triatmodjo, 1999; Azis, 2006). Secara keseluruhan karakteristik gelombang di lokasi penelitian menunjukkan sebaran kecil berdasarkan data bulan Agustus dan September 2008-2012.

Gambar 3.Windrose Bulan September 2008-2012  Tabel 1. Parameter Gelombang
Gambar 3.Windrose Bulan September 2008-2012 Tabel 1. Parameter Gelombang

KESIMPULAN

Teluk Ambon merupakan teluk yang relatif sempit, sehingga secara teori arus dominan yang berkembang adalah arus pasang surut. Arus pasang surut yang terjadi di Teluk Ambon secara teoritis dikategorikan sebagai arus pasang surut bolak-balik.

METODE PENELITIAN 2.1. Deskripsi Teluk Ambon

  • Data
  • Desain Model Hidrodinamika

Data masukan yang digunakan untuk simulasi model hidrodinamik adalah data batimetri pada area model dan data tinggi pasang surut yang ditempatkan pada batas model. Data tinggi pasang surut pada batas terbuka (lihat Gambar 2) diperoleh dari software TMD (Tide Model Driver) versi 1.2 tahun 2005 yang dikembangkan oleh Padman dan Erofeeva (2005).

Gambar 3. Batimetri 3 Dimensi Teluk Ambon Tampak Depan
Gambar 3. Batimetri 3 Dimensi Teluk Ambon Tampak Depan

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Verifikasi

  • Simulasi Model Hidrodinamika
  • PENDAHULUAN

Massa air yang masuk dan keluar perairan Selat Bali cenderung berasal dari badan air permukaan. Secara fisik, daerah dataran tinggi ditandai dengan massa air yang lebih dingin dan salinitas yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Gambar 6. Verifikasi Arah Arus Hasil Model dan Observasi
Gambar 6. Verifikasi Arah Arus Hasil Model dan Observasi

DATA DAN METODOLOGI

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Profil Vertikal Dekat Pantai dan Lepas Pantai

Melihat profil DO di atas, teridentifikasi adanya peningkatan kadar DO akibat letak badan air Indian Central Water (ICW) yang berada di lepas pantai. Kadar DO pada kedalaman 500 meter pada musim Barat dan Timur menunjukkan perbedaan dimana kadar DO pada musim Timur relatif lebih rendah dibandingkan pada musim Barat.

Gambar 5. Profil Vertikal DO Bulan Desember untuk (a) Lokasi Dekat Pantai dan (b)  Lokasi Lepas Pantai
Gambar 5. Profil Vertikal DO Bulan Desember untuk (a) Lokasi Dekat Pantai dan (b) Lokasi Lepas Pantai

Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5

  • METODOLOGI 2.1. Data
    • Pengolahan Data
  • HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Gelombang Pasang Surut
    • Gelombang Permukaan
  • KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
    • Saran
  • LATAR BELAKANG
  • MATERI DAN METODE 2.1. Lokasi penelitian
    • Pengambilan data fisika-kimia perairan
    • Analisa data
  • HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil
    • Kondisi Umum Perairan
    • Kondisi Fisika-Kimia Perairan
    • Pembahasan

Gelombang laut, seperti pasang surut dan gelombang permukaan, mempengaruhi banyak aktivitas di laut dan pesisir. Perekaman gelombang pasang dan permukaan dilakukan di perairan sekitar Sangrawyang, Palabuhanrat dengan menggunakan RBR TWR2050.

Gambar 1. Peta lokasi kegiatan penelitian
Gambar 1. Peta lokasi kegiatan penelitian

PERUBAHAN IKLIM

INTERKASI LAUT-ATMOSFER DAN

METODE PENELITIAN 2.1. Data dan Lokasi penelitian

Hasil penelitian adalah signifikansi data suhu bawah permukaan dari 12 pelampung TRITON di Pasifik barat (Gambar 1) terhadap perubahan SPL di perairan Indonesia yang terbagi menjadi 16 wilayah (Gambar 2). Wilayah H (Selat Makassar) dan J (Laut Maluku) keduanya mempunyai signifikansi kuat (99%) dengan 2 pelampung (pelampung 7 dan 10) di Pasifik barat dengan kedalaman terbaik yang berbeda. Massa air Pasifik mulai dari lapisan permukaan hingga termoklin masih mempengaruhi perubahan SPL di perairan Indonesia.

Kedua hal ini pula yang menyebabkan perbedaan pola kepentingan pelampung di Samudera Pasifik dalam kaitannya dengan perubahan SPL di perairan Indonesia.

Gambar 2. Pembagian wilayah perairan Indonesia  2.2. Pengolahan dan analisis data
Gambar 2. Pembagian wilayah perairan Indonesia 2.2. Pengolahan dan analisis data

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Variasi Bulanan SPL di Raja Ampat
  • Spektrum Energi SPL
  • Korelasi dengan Faktor Meteorologis

Menurut DKP-KRA (2006) sebaran SPL di perairan selatan Raja Ampat dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda. Pola SST di Stasiun Wayag (Utara) menyerupai pola SST di Samudera Pasifik Selatan, sedangkan pola SST di STEOOL STEOOL (Selatan) menyerupai pola SPL di Laut Banda seperti terlihat pada Gambar 4.1-4.3. Peningkatan SPL di Stasiun Wayag terjadi pada bulan Maret-Juni dan suhu mulai menurun pada bulan Juli-Agustus.

Rata-rata SST harian di perairan Raja Ampat relatif hangat dengan suhu antara 28,38 °C di stasiun SE Misool (selatan) dan 29,09 °C di stasiun Mike's Point (utara) dari Juli 2005 hingga September 2008.

Gambar 1. Batimetri Perairan Kepulauan Raja Ampat
Gambar 1. Batimetri Perairan Kepulauan Raja Ampat

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kebakaran Hutan

  • Hasil Survei Lapangan di perairan Kepulauan Riau
    • Amonia
    • Nitrat dan Nitrit
    • Fosfat

Hasil analisis sampel air ditinjau dari kadar unsur hara (amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat) pada saat kebakaran hutan di Riau tahun 2013 dibandingkan dengan hasil analisis sampel yang dilakukan Sundarambal di Selat Singapura yang diambil. selama kebakaran. dan pada saat tidak terjadi kebakaran hutan pada tahun 2006. Pada kondisi kebakaran, penelitian Sundarambal memperoleh kandungan unsur hara sebesar 0,00637 mg/L, dimana nilai tersebut menunjukkan adanya peningkatan kandungan amonium pada saat terjadi kebakaran hutan. Angin yang bertiup pada tanggal 19-28 Juni 2013 bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan rata-rata 0,3 m/detik membawa debu akibat kebakaran hutan di Riau ke perairan Kepulauan Riau.

Pada saat terjadi kebakaran hutan kandungan unsur hara lebih tinggi dibandingkan pada saat normal atau pada saat tidak terjadi kebakaran hutan, sehingga dampak kebakaran hutan mempengaruhi unsur hara yang ada di laut.

Gambar 2. Foto Sebaran Aerosol Tanggal (a) 19 JUNI, (b) 21 Juni dan (c ) 24 Juni  2013 dari Satelit Aqua MODIS serta Daerah Kajian (Kotak Warna Ungu)
Gambar 2. Foto Sebaran Aerosol Tanggal (a) 19 JUNI, (b) 21 Juni dan (c ) 24 Juni 2013 dari Satelit Aqua MODIS serta Daerah Kajian (Kotak Warna Ungu)

KEBIJAKAN KELAUTAN, MITIGASI BENCANA KELAUTAN

DAN WISATA BAHARI

Kualitas Perairan Fisika

Nilai kekeruhan atau kekeruhan yang diukur di lokasi penelitian berkisar antara 0 – 3,3 NTU dengan rata-rata NTU. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai kekeruhan/kekeruhan perairan di lokasi penelitian masih sangat baik untuk wisata bahari. Sebaran kekeruhan (NTU) dan kedalaman (m) di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi Tenggara pada bulan Mei 2013.

Jumlah penduduk yang sedikit menjadi salah satu faktor rendahnya kadar sampah rumah tangga yang masuk ke pesisir dan laut. Berdasarkan kriteria parameter fisik di atas, terlihat perairan TNW di lokasi penelitian masih dalam kondisi baik untuk wisata bahari.

Gambar 2. Parameter fisika di TNW Mei 2013
Gambar 2. Parameter fisika di TNW Mei 2013

Kualitas Perairan Kimia Derajat Keasaman (pH)

Sigma t berkaitan erat dengan kepadatan, dimana sigma t adalah pengurangan kepadatan air laut relatif terhadap kepadatan air tawar. Perbedaan kecil kepadatan secara horizontal (misalnya karena perbedaan pemanasan permukaan) dapat menyebabkan arus laut yang sangat kuat, sehingga penentuan kepadatan sangat penting dalam oseanografi. Kepadatan meningkat seiring dengan meningkatnya salinitas dan penurunan suhu, kecuali pada suhu di bawah kepadatan maksimum.

Beberapa parameter Baku Mutu Air Laut untuk Wisata Bahari dan Biota Laut (Kepmennegneg LH No. 51 Tahun 2004) dengan hasil pengukuran dari TNW Sulawesi Tenggara.

Gambar 9. Distribusi salinitas (PSU) di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW  Sulawesi Tenggara  bulan Mei 2013
Gambar 9. Distribusi salinitas (PSU) di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi Tenggara bulan Mei 2013

Analisis karakteristik habitat

Panel kiri atas menunjukkan parameter sigma t, konduktivitas dan salinitas, yang berperan cukup besar pada sumbu positif 1 dan sumbu negatif 2. Kedalaman arus berperan pada sumbu positif 1 dan 2, sedangkan kecepatan arus memainkan peran besar pada sumbu negatif 1 dan positif. Panel bawah menjelaskan keberadaan parameter berdasarkan sumbu 1 dan sumbu 3 (F1XF3) sebesar 65,96%, menunjukkan bahwa hampir semua parameter (7 parameter) berperan cukup besar pada sumbu 1, baik sumbu positif maupun negatif, dan sumbu 2 adalah positif, hanya satu parameter yaitu sigmat t yang berperan agak besar pada sumbu positif, baik sumbu 1 maupun sumbu 2.

STUDI AWAL MODEL PERJALANAN TSUNAMI DI PERAIRAN MALUKU SEBAGAI APLIKASI BENCANA TSUNAMI DI PELABUHAN PERIKANAN.

Gambar 11. Grafik analisis PCA karakteristik fisika kimia habitat perairan TNW.
Gambar 11. Grafik analisis PCA karakteristik fisika kimia habitat perairan TNW.

METODOLOGI PENELITIAN

  • Bathymetri
  • Perubahan Garis Pantai
  • Elevasi/Kelerengan
  • Tinggi Gelombang

Indeks kerentanan pantai yang diperoleh menunjukkan bahwa pesisir Pulau Sebuku mempunyai kerentanan yang tinggi dengan nilai indeks 3,02-3,82. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi dan kerentanan pesisir, serta memetakan tingkat kerentanan pesisir di Pulau Sebuku. Setelah dilakukan pengukuran dan pengecekan lapangan, data kerentanan pesisir Pulau Sebuku diolah dengan menggunakan analisis GIS.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa dampak pasang surut air laut terhadap kerentanan pesisir Pulau Sebuku sangat tinggi (Tabel 1).

Gambar 3. Area Studi Pemodelan Penjalaran Tsunami, dan Lokasi Tide Gauge  Hipotetik yang Ditunjukkan Oleh Titik Berwarna Biru
Gambar 3. Area Studi Pemodelan Penjalaran Tsunami, dan Lokasi Tide Gauge Hipotetik yang Ditunjukkan Oleh Titik Berwarna Biru

METODE PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian

  • Tehnik Transplantasi Lamun
  • Faktor Pendukung Pelaksanaan Transplantasi Lamun

Pemulihan habitat lamun yang terdegradasi melalui transplantasi lamun dirintis oleh Addy pada tahun 1947 dengan menggunakan bibit dan bibit vegetatif lamun Zostera marina dekat Woods Hole, Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan penelitian transplantasi lamun dengan mengemas teknik transplantasi bibit Thalassia tunggal dan kelompok bibit ke suatu atraksi wisata bahari beserta faktor pendukung dan pengaturan pelaksanaannya. Hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan pedoman teknis transplantasi lamun sebagai daya tarik kegiatan wisata bahari dan membuka peluang bagi peneliti lain untuk lebih meningkatkannya.

Keberhasilan teknik transplantasi lamun akan mendukung program restorasi padang lamun yang rusak dan penciptaan padang lamun baru, termasuk rekolonisasi biota dan peningkatan sumber daya perikanan.

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Tehnik Transplantasi Lamun

  • Faktor Pendukung Pelaksanaan Transplantasi Lamun
  • Pelaksanaan Transplantasi Lamun
  • Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan
  • Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan
  • Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan
  • Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut
  • Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan
  • Uji Validasi Kinerja

Di Minapolitan digunakan lahan budidaya rumput laut seluas 3,20 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Simulasi Lahan Budidaya (Km2), Jumlah Petak (Satuan), Kebutuhan Bibit (Ton), Panen Kering (Ton), Pengeluaran, Pendapatan dan Keuntungan (Rp) pada Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Sulamu Tahun 2007-2037. Simulasi panen kering (ton), surplus penjualan kering, dodol dan pilus (rp) industri pengolahan rumput laut di Kabupaten Sulamu tahun 2007–2037 disajikan pada Tabel 3.

Simulasi panen kering (ton), keuntungan penjualan kering, Dodol dan Pilus (Rp) dari Industri Pengolahan Rumput Laut di Kabupaten Sulamu tahun 2007-2037.

Gambar 2. Lokasi-lokasi Penelitian Transplantasi Lamun di Dunia.
Gambar 2. Lokasi-lokasi Penelitian Transplantasi Lamun di Dunia.

TERUMBU KARANG DAN

MANAJEMEN SUMBERDAYA LAUT

BAHAN DAN METODE

Dari hasil pengamatan di setiap lokasi pengamatan, jumlah jenis karang yang ditemukan terbanyak terdapat pada Stasiun 1 (48 jenis) kemudian pada Stasiun 2 (37 jenis), sedangkan yang terendah terdapat pada Stasiun 6 (2 jenis) (Tabel 2). Dari hasil yang diperoleh di Gunung Kidul, Stasiun 8 (Pantai Drin) mempunyai 14 jenis karang dan Stasiun 9 mempunyai 13 jenis karang. RECRUITMENT KARANG DI PULAU SERIBU BAGIAN SELATAN. ​​RECRUITMENT KARANG DI PULAU SERIBU BAGIAN SELATAN.

Perekrutan karang scleractinian adalah proses penambahan koloni karang baru ke dalam populasi karang.

Tabel 1. Persentase Tutupan Karang di Teluk Prigi  Type of benthic
Tabel 1. Persentase Tutupan Karang di Teluk Prigi Type of benthic

BAHAN DAN METODE 2.1. Pengambilan sampel

  • Ukuran koloni karang
  • Indeks keragaman dan similaritas
  • Hubungan antara persentase tutupan karang, kecerahan dan rekrutmen karang
  • Waktu dan Lokasi Penelitian
  • Pengambilan Data Data terumbu karang
  • Persentase Tutupan
  • Kelimpahan Biota yang Hidup di dalam Karang Masif Porites (Biota Asosiasi)

HUBUNGAN ANTARA KONDISI JUMLAH KARANG DENGAN BIOTA YANG HIDUP DI PORITA KARANG MASSA HUBUNGAN ANTARA KONDISI JUMLAH KARANG DAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan dengan kondisi terumbu karang yang lebih baik, biota yang hidup di karang Porites masif akan lebih sedikit. Hubungan kondisi terumbu karang dengan biota yang hidup pada karang masif Porites dilakukan secara deskriptif.

Sayangnya, perairan dengan kondisi terumbu karang yang lebih baik akan memiliki lebih sedikit biota yang hidup di karang besar Porites (biota terkait).

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Teluk Jakarta
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Teluk Jakarta

METODOLOGI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan ekosistem terumbu karang di perairan Biak saat ini, khususnya di sekitar perairan kota Biak yang meliputi sepanjang pantai selatan Biak Timur dan beberapa pulau yang termasuk dalam Kepulauan Padaido (P. Owi), P. Auki, P. Wundi dan P. Pai) serta untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman jenis karang keras. Kode yang digunakan untuk masing-masing biota dan bentuk kehidupan substrat (benthic life form) disajikan pada Tabel 1. Penilaian kondisi terumbu karang didasarkan pada nilai persentase tutupan karang keras (AC+NA) yang mengacu pada kriteria biota dan substrat. Gomez dan Yap (1988).

Selain menghitung persentase tutupan, jumlah keberadaan pada setiap stasiun juga dihitung untuk setiap jenis karang keras.

Gambar 2. Ilustrasi pengambilan data terumbu karang
Gambar 2. Ilustrasi pengambilan data terumbu karang

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Persentase Tutupan

Selain genus karang keras yang umumnya berasal dari Ordo Scleractinia (Kelas: Anthozoa; Subkelas: Hexacorallia), Heliopora Blue Coral (Kelas: Anthozoa; Subkelas: Octocorallia; Ordo: Helioporacea) dan Millepora Fire Coral (Kelas: Hydrozoa; Ordo : Milleporina). Porites lutea, Porites lobata dan Pocillopora verrucosa merupakan tiga spesies karang keras yang mendominasi lokasi penelitian. Ketiga jenis hard coral ini mendominasi 31,22% dari total frekuensi hard coral yang ditemukan di lokasi penelitian (Gambar 4).

Kedua jenis karang keras ini merupakan spesies yang banyak ditemukan di seluruh perairan Indonesia (Riegl &.

Gambar 2. Tutupan biota dan substrat di masing-masing stasiun penelitian
Gambar 2. Tutupan biota dan substrat di masing-masing stasiun penelitian

GEOLOGI LAUT DAN

REKAYASA KELAUTAN

Referensi

Dokumen terkait