• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Perairan Fisika

Dalam dokumen pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013 (Halaman 109-114)

DAN WISATA BAHARI

3.1. Kualitas Perairan Fisika

Parameter kualitas perairan fisika meliputi 6 paremeter yaitu suhu, konduktifitas, turbiditas, TDS, kecepatan dan arah arus dapat dilihat pada Gambar 2 kecuali arah arus.

Suhu

Suhu perairan pada lokasi penelitian di TNWberkisar antara 29.33 – 34.3 ˚C dengan rata-rata 30.589±1.23˚C. Suhu perairan merupakan suhu alami yang terukur secara in situ pada saat penelitian. Berdasarkan KepmennegLH no 51 tahun 2004 (Lampiran 1), suhu perairan yang baik untuk daerah wisata bahari merupakan suhu alami dengan kisaran nilai suhu untuk daerah terumbu karang 28 -30 ˚C. Kisaran suhu pada tahun 2012 di perairan TNW berkisar antara 29.42 – 30.2 ˚C (Rangka dan Paena, 2012). Hasil pengukuran secara in situ yang merupakan suhu alami terlihat lebih tinggi untuk daerah terumbu karang dibandingkan dengan suhu yang tercantum

Analisis Kualitas Perairan Kaitannya dengan Keberlanjutan Ekosistem untuk Wisata Bahari di...

Gambar 2. Parameter fisika di TNW Mei 2013

dalam KepmennegLH No. 51 tahun 2004 dan penelitian Rangka dan Paena, 2012. Hal ini dapat disebabkan oleh kisaran waktu pengukuran pada waktu siang hari yang cerah pada lapisan permukaan air. Untuk lebih detail terkait dengan tingginya suhu permukaan laut perlu di lakukan pengukuran secara time series dengan memasang alat pengukur suhu di lokasi yang terindikasi suhu tinggi pada saat pengukuran.

Pentingnya pengamatan suhu karena suhu merupakan salah satu faktor pembatas bagi ekosistem dan biota laut, dimana perubahan suhu dapat mempengaruhi proses fisika, kimia dan biologi di badan air. Adanya peningkatan suhu perairan dari kisaran suhu alami dapat menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2

dan terjadi peningkatan kelarutan untuk gas CO2, N2 dan CH4 (Sanusi, 2006).Selain itu, daerah penelitian merupakan daerah ekosistem terumbu, naiknya suhu dapat menyebabkan pemutihan karang yang dekat dengan permukaan (coral bleaching).

Oleh karena itu pemantauan suhu sangat perlu dilakukan terutama di daerah yan terindikasi, khususnya di stasiun WQ16A, di sebelah barat P Wangi-Wangi (Gambar 1 dan Gambar 3).

Gambar 3. Distribusi suhu di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Longa1 Longa2 Patuno2 Waha2 Sombu2 Sombu1 Waha1 Bungi1 Patuno1 WQ10A WQ15A WQ11A WQ14A WQ13A WQ12A US P Kapota WQ16A WQ09A P32 P34 P33 Pantai Matahora P35 P31

Kec. Arus (m/s) Kedalaman (m) Konduktifitas Turbiditas Suhu (oC)

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Suhu (oC) 29,33

34,3 Longa1 Longa2

Patuno2 Waha2 Sombu2 Sombu1 Waha1 Bungi1 Patuno1 WQ10A WQ15A WQ11A WQ14A WQ13A WQ12A Uj. Selatan P. Kapota WQ16A WQ09A P32 P34 P33 Pantai Matahora P35 P31

Rustam et al.

Gambar 3 memperlihatkan nilai suhu di seluruh stasiun pengamatan dengan nilai rata-rata sebesar 30,589 ⁰C yang berada diatas ketentuan KepmennegLH no 51 tahun 2004 untuk wisata bahari ekosistem terumbu karang (28 ⁰C – 30 ⁰C). Terdapat 16 stasiun dari 24 stasiun penelitian atau sekitar 66,67 % yang memiliki suhu di atas 30 ⁰C. Nilai suhu terendah cukup tinggi yaitu 29.33 ⁰C di stasiun Longa 1 yang berada di sebelah utara P Wangi-Wangi yang berhadapan langsung dengan laut Banda (Gambar 1 dan Gambar 3). Ini memperkuat perlunya monitoring dilakukan di lokasi penelitian.

Konduktivitas

Konduktivitas air laut bergantung pada jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan mobilitas ion-ion tersebut. Satuannya adalah mS/cm (milli-Siemens per centimeter) atau S/m (Siemens per meter).Secara umum, faktor yang paling dominan dalam perubahan konduktivitas di laut adalah suhu. Konduktivitas yang terukur di perairan TNW terlihat seragam dengan kisaran antara 4.44– 4.59 mS/m dengan rata- rata 4.53±0.046 mS/m. Nilai konduktivitas yang di dapat di lokasi penelitian menunjukkan nilai konduktivitasalami perairan TNW yang masih bagus tidak adanya masukan limbah logam berat mempengaruhi nilai konduktivitas perairan (Gambar 5).

Gambar 4. Distribusi konduktifitas di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi Tenggara bulan Mei 2013

Gambar 4 merupakan distribusi konduktifitas dimana nilai konduktifitas tertinggi pada stasiun P31 yang berada di sebalah timur P Wangi-Wangidan terendah di stasiun Bungi1 yang berada di utara P Wangi-Wangi. Nilai konduktitas tertinggi dan terendah terlihat tidak berada pada stasiun yang sama dengan nilai suhu baik tertinggi ataupun terendah. Hal ini di perkuat dengan analisa regresi linear sederhana antara suhu dan konduktifitas yang menunjukkan tidak adanya keterkaitan antara keduanya (Gambar 5)

.

4,35 4,4 4,45 4,5 4,55 4,6

Konduktifitas 4,44

4,59

Longa1 Longa2 Patuno2 Waha2 Sombu2 Sombu1 Waha1 Bungi1 Patuno1 WQ10A WQ15A WQ11A WQ14A WQ13A WQ12A Uj. Selatan P. Kapota WQ16A WQ09A P32 P34 P33 Pantai Matahora P35 P31

Analisis Kualitas Perairan Kaitannya dengan Keberlanjutan Ekosistem untuk Wisata Bahari di...

Gambar 5. Keterkaitan suhu dan konduktifitas di perairan TNW bulan Mei 2013 Gambar 5 memperlihatkan tidak adanya adanya keterkaitan nilai konduktivitas dengan suhu.Hal ini dapat menunjukkan bahwa tingginya nilai suhu pada saat penelitian tidak mempengaruhi nilai konduktifitas perairan.

Kekeruhan (Turbiditas) dan Kedalaman

Nilai kekeruhan atau turbiditas yang terukur pada lokasi penelitian berkisar antara 0 - 3, 3 NTU dengan rata rata 0.644±1.03 NTU. Nilai turbiditas atau kekeruhan berdasarkan KepmennegLH no 51 tahun 2004 untuk wisata bahari < 5 NTU. Hasil pengukuran menunjukkan nilai kekeruhan/turbiditas perairan di lokasi penelitian masih sangat baik untuk wisata bahari.

Gambar 6. Distribusi turbiditas (NTU) dan kedalaman (m) di perairan P Wangi- Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi Tenggara bulan Mei 2013

Gambar 6 memperlihatkan sebaran nilai turbiditas yang terukur secara in situ

y = -13,504x + 91,768 R² = 0,253

29 30 31 32 33 34 35

4,4 4,45 4,5 4,55 4,6

Suhu (⁰C)

Konduktifitas (mS/m)

Rustam et al.

menunjukkan visibility perairan sangat jernih. Adanya nilai turbiditas lebih banyak disebabkan karena terangkatnya substrat dasar (pasir) karena proses fisik dangkalnya perairan. Umumnya pada kedalaman 10 m nilai turbiditas rendah bahkan nilainya nihil atau nol.

Kecepatan dan Arah Arus

Pengukuran kecepatan dan arah arus dengan menggunakan alat pengukur arus (current meter), mendapatkan hasil kecepatan arus berkisar antara 0 – 1.6 m/s dengan rata-rata 0.5478±0.544 m/s. Rangka dan Paena (2012) mendapatkan pengukuran kecepatan arus di kabupaten Wakatobi berkisar antara 0.011 – 0.07 m/s.

Gambar 7. Distribusi kecepatan arus (m/s) di perairan P Wangi-Wangi dan P Kapota, TNW Sulawesi Tenggara bulan Mei 2013

Gambar 7 menunjukkan distribusi kecepatan arus di lokasi penelitian.

Pengukuran arah arus menunjukkan arus bergerak tidak jelas. Ada yang menjauhi daratan atau pulau, ada yang menuju daratan. Hal ini mengindikasikan pada saat penelitian (bulan Mei) merupakan musim peralihan dari musim barat ke musim timur, dimana kondisi angin dan cuaca tidak dapat di prediksi dengan baik.

Visibility, Warna dan Bau Perairan

Warna perairan diukur berdasarkan pengamatan secara visual. Warna perairan didapat berdasarkan absorbsi cahaya oleh perairan yaitu biru kehijauan cerah dimana cuaca pada saat penelitian cerah tidak berawan. Visibility perairan 80 -100 %, seluruh stasiun pengamatan jernih sehingga tampak dasar perairan baik berpasir putih ataupun paparan terumbu karang. Bau perairan di stasiun pengamatan beraroma laut yang segar tidak tercium bau tidak sedap seperti sampah. Hal ini dapat dipahami bahwa lokasi penelitian TNW tidak memiliki sungai besar yang membawa limbah maupun sedimen dari daratan. Jumlah penduduk yang sedikit merupakan salah satu faktor rendahnya limbah rumah tangga masuk ke pesisir dan laut.Berdasarkan kriteria parameter fisika di atas menunjukkan perairan TNW di lokasi penelitian masih dalam kondisi bagus untuk wisata bahari.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6

Kec. Arus (m/s)

Longa2 Patuno2 Waha2 Sombu2 Sombu1 Waha1 Bungi1 WQ14A WQ13A WQ12A WQ16A WQ09A P34 P31

Analisis Kualitas Perairan Kaitannya dengan Keberlanjutan Ekosistem untuk Wisata Bahari di...

3.2. Kualitas Perairan Kimia

Dalam dokumen pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013 (Halaman 109-114)