HIDRO-OSEANOGRAFI & OCEAN FORECASTING SYSTEM)
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil
3.2. Pembahasan
Kondisi lingkungan perairan merupakan faktor pembatas ekosistem terumbu karang, khususnya pada hewan karang itu sendiri. Factor pembatas ini akan berakibat pada distribusi sebaran karang dan mempengaruhi bentuk pertumbuhan karang (Veron, 2000). Factor pembatas tersebut adalah suhu, salinitas, cahaya, kedalaman, turbiditas dan arus. Variasi bentuk pertumbuhan karang akibat factor pembatas tersebut dapat menyebabkan berbagai bentuk pertumbuhan karang di suatu tempat sebagai bentuk adaptif terhadap lingkungan. Bentuk umum pertumbuhan karang diantaranya massive, encrusting, tabular, laminar dan branching (bercabang).
Suhu air laut pada 6 lokasi stasiun penelitian menunjukkan range normal untuk pertumbuhan karang (29, 3 – 30, 3 oC) karena karang dapat mentolelir suhu pada kisaran 25-40 oC (Veron, 2000). Suhu kelihatan tinggi disekitar Waru-waru, dimungkinkan karena didaerah tersebut terdapat gumuk pasir yang masih menyimpan energy panas matahari waktu surut terendah, sehingga ketika pasang naik energy tersebut akan disalurkan diperaian sekitarnya. Karang sangat sensitif terhadap
o
Luthfi & Jauhari
mengalami kerusakan sehingga pigmen yang berada di dalam tubuh zooxanthellae rusak dan berakibat warna karang menjadi transparan dan terlihat kerangka kapur sehingga terkesan putih. Proses pemutihan karang (coral bleaching) juga diakibatkan oleh fungsi bakteri menjadi berubah yang dalam suhu normal bersimbiosis dengan karang, namun suhu memicu fungsi bakteri menjadi virulen/ musuh bagi inangnya dengan cara mengeluarkan enzim tertentu yang dapat mematikan kehidupan karang.
Pada masa lebih dari 8 minggu suhu perairan tidak turun atau kembali normal seperti semula karang yang mengalami pemutihan akan mati. Suhu perairan di semu stasiun akan mengalami penurunan seiring dengan kedalaman perairan. Hal ini dikarenakan berkurangnya intensitas cahaya dan energi matahari yang menembus kedalam perairan. Cahaya menjadi factor pembatas utama bagi karang karena karang disuplai energy sebesar 90 persen dari alga simbion yang hidup di dalam endodermis karang yang tergantung pada cahaya matahari untuk berfotosintesis.
Konduktifitas perairan erat kaitannya dengan kecepatan aliran energi ke suatu perairan. Semakin besar konduktifitas perairan maka daya hantar perairan terhadapa panas atau kelistrikan semakin tinggi. Suhu tinggi di sekitar Waru-waru juga merupakan faktor yang menyebabkan tingginya konduktifitas di stasiun pengamatan ini. Teknologi biorock yang dikembangkan saat ini juga tergantung pada konduktifitas perairan. Dalam teknologi tersebut menggunakan arus lemah listrik untuk mengikat kalsium yang berada diperairan kesuatu substrat, dan kecepatan kalsifikasinya ditentukan oleh konduktifitas perairan dan jenis anoda yang digunakan (Goreau and Hilbertz, 2005).
Salinitas pada semua stasiun di semua kedalaman menunjukkan batasan normal untuk pertumbuhan karang, yang memiliki toleransi salinitas 25-40 o/oo. Salinitas yang rendah mempengaruhi daya tahan karang terhadap suhu tinggi (Coles and Jokiel, 1978). Karang jenis Siderastrea siderea banyak ditemukan dipinggir pantai disekitar daerah pasang surut. Karang jenis ini mampu hidup pada salinitas 10
o/oo hingga 42 o/oo selama kurun 30 hari. Hasil penelitian Muthiga dan Szmant (1987) memperlihatkan bahwa salinitas akan mempengaruhi system respirasi dan laju fotosintesis karang dengan menurunnya jumlah clorofil per algal per sel. Studi yang sama mengenai perubahan salinitas air laut terhadap fisiologi karang dilakukan oleh Richmond (1993) yakni turunnya salinitas normal hingga 20% akan mengakibatkan fertilitas karang turun hingga 86%.
Klorofil-a merupakan indikator kesuburan suatu perairan, pada semua stasiun penelitian klorofil-a tampak sama, kecuali di stasiun Kondang Buntung (depan) memiliki konsentrasi klorofil-a lebih tinggi di dua kedalaman. Lebih suburnya wilayah ini dibandingkan dengan stasiun lainnya dimungkinkan terjadi pertambahan jumlah nutrient yang berasal dari sungai di Kondang Buntung yang disekitar muara tersebut juga ditemukan banyak tumbuhan mangrove. Konsentrasi tinggi klorofil-a di stasiun Kondang Buntung (depan) relatif sama di kedalaman 1 dan 5 m, menandakan jumlah fitoplankton di perairan ini melimpah hingga kedalaman 5 meter.
Turbiditas perairan cukup tinggi di wilayah Kondang Buntung (depan) dimungkinkan karena teraduknya pasir yang menjadi subtrat utama stasiun ini. Pasir akan teraduk oleh arus permukaan yang diakibatkan oleh angin maupun proses pasang surut air laut. Tingginya turbiditas pada perairan tentu akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari kedalam air laut sehingga akan mengurangi laju fotosintesis karang. Juga secara umum sedimen yang terlalu banyak akan mengakibatkan kematian pada biota karang karena polip karang akan tertutupi oleh partikel sehingga tidak bisa menangkap plankton didalam perairan. Namun pada kasus tertentu karang memiliki kemampuan beradaptasi (plastisiti), seperti penelitian
Assesmen Kondisi Fisika-Kimia Oseanografi Perairan Pulau Sempu Malang Selatan sebagai...
Anthony dan Fabricius (2000) menunjukkan pada jenis karang tertentu karang akan memanfaatkan suspended particulate matter (SPM) menjadi makanan dan akan membantu mempercepat pertumbuhan rangka karang. Turbiditas di P. Sempu di setiap stasiun merata dari kedalaman 1-5 m (gambar 2e) yang dimungkinkan adanya pergerakan arus air dari barat menuju ke timur atau sebaliknya tergantung musim.
pH menggambarkan keasaman suatu perairan. pH normal air laut selama ini yang dipahami berkisar 7-8,5 (Kepmenling, 2004). pH di Kondang Buntung (depan) sangat tinggi (8,8) dan stasiun lain berkisar 8,2 di semua kedalaman, dan semua masih dalam kisaran normal. Pengukuran pH di pantai timur dan barat di Australia juga menunjukkan perbedaan pH (Gagliano, et al., 2010), disebelah pantai sebelah barat pH rata-ratanya adalah 8.5 ± 0.014 dan pantai sebelah timur 8.14 ± 0,003.
perbedaan pH disuatu wilayah lebih sering disebabkan perbedaan produktifitas biologi yang berasal dari lapisan atas (permukaan) dan bawah (sediment) laut dan terjadi perputaran di badan perairan.
Studi mengenai kimia karbonat mengungkapkan bahwa rendah pH di sekitar terumbu bisa jadi disebabkan dikeluarkannya CO2 selama proses kalsifikasi didalam terumbu, yang biasanya terjadi pengurangan CO2 selama proses fotosintesis, menghasilkan air mengandung banyak pCO2 dan pH yang rendah disekitar lautan, sehingga mengapa di pantai sebelah timur Australia (Great Barrier Reef) memiliki pH lebih rendah dibandingkan dengan pantai sebelah barat.
Jumlah oksigen terlarut mutlak diperlukan oleh makhluk hidup untuk proses respirasi. Pada stasin 1 konsentrasi oksigen terlarutnya lebih tinggi dari yang lain, kemungkinan ada keterkaitan dengan jumlah klorofil-a yang tinggi ditempat ini.
Oksigen terlarut dilautan dihasilkan dan fitoplankton, lamun dan juga simbion karang. Hasil fotosintesis diwaktu siang hari adalah oksigen dan waktu malam karang akan menggunakannya untuk proses respirasi dengan rasio 1,9-5,8 (Kanwisher dan Wainright, 1967). Arus berperan penting dalam distribusi oksigen terlarut di laut, arus yang kuat akan membantu mendistribusikan oksigen dari tubuh karang lingkungan sekitarnya selama periode fotosintesis maksimal (Finelli et al., 2006).
Sebagai komponen penting pendukung kehidupan karang, faktor fisika-kimia perairan mutlak berperan dalam kesuksesan kehidupan karang. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian diatas adalah kondisi fisika-kimia perairan di P. Sempu masih sangat layak digunakan untuk pembuatan taman karang. Namun kesuksesan pembuatan taman karang nanti tidak hanya memerlukan daya dukung perairan saja, akan tetapi butuh variabel lain seperti laju sedimentasi, arus, perilaku masyarakat nelayan setempat, aktivitas wisata dan adanya payung hukum yang menaunginya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi Terumbu Karang (Acropora) dan Fisheries Diving Club (FishDic) yang telah banyak membantu pengambilan data dilapangan. Juga kami ucapkan terima kasih kepada Ditjen DIKTI, Kepmendikbud, yang telah mendanai penelitian ini melalui DIPA Universitas Brawijaya Nomor: DIPA- 023.04.2.414989/2013.
DAFTAR PUSTAKA
Coles, S. L., & Jokiel, P. L. 1978. Synergistic effects of temperature, salinity and light on the hermatypic coral Montipora verrucosa. Marine Biology, 49(3), 187-
Luthfi & Jauhari
Finelli, C. M., Helmuth, B. S., Pentcheff, N. D., & Wethey, D. S. 2006. Water flow influences oxygen transport and photosynthetic efficiency in corals. Coral Reefs, 25(1), 47-57.
Gagliano, M., McCormick, M. I., Moore, J. A., & Depczynski, M. 2010. The basics of acidification: baseline variability of pH on Australian coral reefs.Marine biology, 157(8), 1849-1856.
Goreau, T. J., & Hilbertz, W. 2005. Marine ecosystem restoration: costs and benefits for coral reefs. World Resource Review, 17(3), 375-409.
Heil, C. A., Glibert, P. M., & Fan, C. (2005). Prorocentrum minimum (Pavillard) Schiller: A review of a harmful algal bloom species of growing worldwide importance. Harmful Algae, 4(3), 449-470.
Heisler, J., Glibert, P.M., Burkholder, J.M., Anderson, D.M., Cochlan, W., Dennison, W.C., Dortch, Q., Gobler, C.J., Heil, C.A., Humphries, E., Lewitus, A., Magnien, R., Marshall, H.G., Sellner, K., Stockwell, D.A., Stoecke, D.K., Suddleson, M., 2008. Eutrophication and harmful algal blooms: a scientific consensus. Harmful Algae 8, 3–13.
Kanwisher, J. W., & Wainwright, S. A. 1967. Oxygen balance in some reef corals. The Biological Bulletin, 133(2), 378-390.
Kepmenling. 2004. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 TAhun 2004, tentang Baku Mutu Air Laut. Jakarta
Landsberg, J. H. 2002. The effects of harmful algal blooms on aquatic organisms.
Reviews in Fisheries Science, 10(2), 113-390.
Luthfi, O.M dan Jauhari, A. 2013. Stok dan Habitat Enhancement Terumbu Karang di Perairan Sendang Biru, Malang dalam Usaha Menghidupkan Kembali Live- Reef Fish Trade. LPPM Universitas Brawijaya (tidak dipublikasikan)
Newton, A., Icely, J.D., Falcao, M., Nobre, A., Nunes, J.P., Ferreira, J.G., Vale, C., 2003. Evaluation of eutrophication in the Ria Formosa coastal lagoon, Portugal. Continental Shelf Research 23, 1945–1961.
Richmond, R. H. 1993. Coral reefs: present problems and future concerns resulting from anthropogenic disturbance. American Zoologist 33, 524–536.
ReefCheck. 2006. Laporan Reef Check. Fisheries Diving Club. Malang
Veron, J.E.N. 2000. Corals of the World. Australian Institute of Marine Science:
Townsville.
Zaouali, J., Baeten, S., 1983. Impact de l’eutrophisation dans la lagune de Tunis (partie nord) 2éme partie : Analyses des correspondances. Rapp. Comm. Int.
Explor. Sci. Mer Médit. CIESM 7, 327–332.