• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Persentase Tutupan

Dalam dokumen pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013 (Halaman 193-199)

MANAJEMEN SUMBERDAYA LAUT

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Persentase Tutupan

Di seluruh stasiun penelitian tidak dijumpai kategori SI (Lumpur) ataupun RK (Rock), karena substrat umumnya berupa pasir, pecahan karang ataupun karang mati yang telah ditumbuhi oleh alga. Di beberapa stasiun masih dijumpai banyak pecahan karang bercabang yang telah ditumbuhi alga. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan kadang masih terjadi di Kabupaten Biak. Giyanto et al. (2012a) melaporkan bahwa rendahnya tutupan karang hidup di Biak terutama dikarenakan kerusakan akibat badai kuat serta kerusakan tambahan yang diakibatkan oleh penggunaan bom dan peristiwa pemutihan karang (bleaching).

Pada tahun 2009 badai kuat terjadi di Biak dan menyebabkan banyak karang terbalik, termasuk karang yang berbentuk meja, sedangkan pada awal 2010 telah terjadi peningkatan suhu air laut terkait dengan pemanasan global yang terjadi di beberapa perairan Indonesian termasuk juga di perairan Biak sehingga menyebabkan pemutihan karang (Giyanto et al., 2012a). Karang yang memutih dan mati tersebut biasanya setelah beberapa minggu akan ditutupi oleh alga.

Pada penelitian ini, karang keras dikelompokkan kedalam dua kelompok yaitu kelompok Acropora (AC) dan Non Acropora (NA). Tutupan karang Acropora yang relatif tinggi (tutupan >25%) dijumpai di stasiun BIALT1 (Gambar 2). Stasiun ini berada pada lokasi yang lebih terbuka terhadap hempasan gelombang Samudera Pasifik dibandingkan dengan stasiun lainnya. Riegl & Velimirov (1994) menyatakan bahwa komunitas karang pada lokasi yang terbuka didominasi oleh jenis Acropora.

Pada lokasi perairan yang yang terbuka memiliki arus dan ombak yang kuat. Arus dan ombak dapat membantu Acropora, yang memiliki polip relatif kecil, untuk membersihkan dirinya dari sedimen (Sukarno, 1977), selain Acropora juga memerlukan intensitas cahaya yang tinggi (Braithwaithe, 1971).

Nilai rerata tutupan karang hidup beserta kesalahan bakunya berdasarkan hasil yang diperoleh di 13 stasiun adalah (34,85+4,59)% (Gambar 3), sehingga menurut Gomez & Yap (1988) dikategorikan dalam kondisi “cukup” atau “sedang”. Stasiun dengan tutupan karang keras yang tinggi (>50%) dijumpai di stasiun BIALT1 dan BIAL07 (Gambar 3). Stasiun BIALT1 lokasinya agak jauh dari kota Biak maupun daratan P. Biak. Selain itu, posisi stasiun BIALT1 berada di rataan terumbu antara P.

Wundi dan P. Pai, dimana jaraknya sekitar 3 km baik dari P. Wundi maupun P. Pai.

Letak yang agak jauh dari daratan didukung oleh kualitas perairan yang jernih mungkin menjadi salah satu penyebab tingginya tutupan karang keras di stasiun ini.

Sedangkan tingginya tutupan karang keras di stasiun BIAL07 lebih disebabkan karena stasiun ini merupakan lokasi yang oleh masyarakat setempat ditetapkan sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL) sehingga pengawasannya lebih ketat, terlebih lokasinya yang berada di pesisir dan dekat dengan pemukiman penduduk.

Lokasi yang berdekatan dengan kota Biak serta di stasiun-stasiun yang berada di P. Owi dan P. Auki umumnya memiliki tutupan karang yang rendah (Gambar 3).

Kecuali di Stasiun BIAL31, rendahnya tutupan karang di lokasi tersebut diikuti oleh meningkatnya tutupan kategori pecahan karang (R), pasir (S), karang mati yang telah ditumbuhi alga (DCA) ataupun kombinasi ketiga kategori tersebut. Pada stasiun BIAL31 dijumpai tutupan Halimeda (HA) dan karang lunak (SC) yang tinggi.

Struktur Komunitas Karang Keras di Perairan Biak, Papua

Meskipun tak sebanyak di stasiun BIAL31, karang lunak juga banyak dijumpai di stasiun BIAL22 dan BIAL32.

Gambar 2. Tutupan biota dan substrat di masing-masing stasiun penelitian

Gambar 3. Tutupan karang keras di masing-masing stasiun penelitian 3.2. Komposisi Jenis dan Frekuensi Kehadiran Karang Keras

Berdasarkan pengamatan di 13 stasiun di sepanjang garis transek, berhasil dijumpai karang keras sebanyak 143 spesies yang termasuk dalam 47 genera dan 17 famili. Disamping genus karang keras yang umumnya dari Ordo Scleractinia (Kelas: Anthozoa; Sub-kelas : Hexacorallia), juga ditemukan Karang Biru Heliopora (Kelas: Anthozoa; Sub-kelas : Octocorallia; Ordo: Helioporacea) dan Karang Api Millepora (Kelas: Hydrozoa; Ordo: Milleporina). Meskipun hanya beberapa koloni, Heliopora dijumpai di dua stasiun (BIAL29 dan BIALT1), sedangkan Millepora dijumpai di lebih banyak stasiun (8 stasiun) dimana kehadirannya di stasiun BIAL35 terlihat sangat banyak.

Jumlah jenis yang dijumpai di 13 stasiun penelitian di Kabupaten Biak

Giyanto

berdasarkan pada pengamatan yang berada tepat di garis transek. Sebagai perbandingan, penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 di 14 stasiun yang berada di sekitar perairan Ternate, Tidore dan pesisir barat P. Halmahera berhasil dijumpai 144 spesies karang keras (Giyanto et al., 2012), sedangkan berdasarkan penelitian CRITC-LIPI tahun 2011 yang dilakukan di perairan Raja Ampat yang meliputi perairan bagian selatan Pulau Waigeo dan Pulau-pulau Batang Pele dijumpai setidaknya sebanyak 156 jenis karang keras (Giyanto & Suharti, 2011). Berdasarkan hal tersebut, dapat dipastikan bahwa perairan Biak merupakan bagian dari pusat kekayaan keanekaragaman karang keras.

Porites lutea, Porites lobata dan Pocillopora verrucosa merupakan tiga jenis karang keras yang yang mendominasi di lokasi penelitian. Ketiga jenis karang keras ini mendominasi 31,22 % dari seluruh frekuensi kehadiran karang keras yang dijumpai di lokasi penelitian (Gambar 4).

Gambar 4. Plot dominansi kumulatif berdasarkan rangking spesies yang dijumpai di seluruh stasiun penelitian di Kabupaten Biak

Analisis MDS (Multi Dimensional Scaling) berdasarkan frekuensi kehadiran masing-masing jenis karang batu yang dijumpai di sepanjang garis transek menggunakan kemiripan Bray-Curtis diperoleh nilai stress=0,12. Meskipun nilai stress ini (stress<0,2) sudah baik untuk menggambarkan posisi antar stasiun tetapi karena nilainya masih lebih besar dari 0,1 maka dilakukan pengecekan ulang dengan analisis pengelompokan (cluster analysis) (Clarke & Warwick, 2001), sehingga dapat diyakini bahwa pengelompokkannya adalah seperti yang ditampilkan pada Gambar 5 dan Gambar 6. Dengan tingkat kemiripan 40 %, ke13 stasiun penelitian di Kabupaten Biak tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok berdasarkan komposisi jenis karang batunya. Masing-masing kelompok dicirikan oleh jenis karang keras tertentu (Tabel 3). Kelompok I yang merupakan kelompok terbesar terdiri dari enam stasiun (BIAL12, BIAL21, BIAL22, BIAL28, BIAL29 dan BIAL30) dicirikan oleh keberadaan karang masif dari jenis Porites lutea dan Porites lobata dengan kontribusi terhadap kemiripan di enam stasiun ini sebesar 69,83%. Kedua jenis karang keras ini merupakan jenis yang umum dijumpai di seluruh perairan Indonesia (Riegl &

Velimirov, 1994; Indarjo et al., 2004; Munasik & Siringoringo , 2011; Giyanto &

Suharti, 2011; Giyanto et al., 2011; Giyanto et al., 2012b).

Stasiun-stasiun yang berada di Kelompok I ini lokasinya berada di P. Owi, yang merupakan pulau terdekat dengan kota Biak, serta pesisir bagian timur P. Biak.

Struktur Komunitas Karang Keras di Perairan Biak, Papua

Kondisi perairannya relatif masih jernih, dan lokasinya agak terlindung dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang berada di P. Auki dan P. Pai. Riegl & Velimirov (1994) menyatakan bahwa jenis Porites mendominasi perairan yang terlindung. Munasik &

Siringoringo (2011) menduga bahwa tingginya keanekaragaman jenis karang di Pulau Marabatuan, Kalimantan Selatan kemungkinan akibat tingginya variasi jenis dari kelompok karang keras yang tahan (resistant) terhadap tekanan lingkungan seperti Porites masif.

Kelompok II terdiri dari stasiun BIAL31 dan BIAL35, dimana kontribusi Pocillopora spp. yang memiliki bentuk percabangan yaitu Pocillopora verrucosa, P.

eydouxi dan P. meandrina berkontribusi sebesar 56,67% terhadap kemiripan kedua stasiun tersebut (Gambar 6). Sedangkan lima stasiun sisanya tidak membentuk kelompok, melainkan saling berdiri sendiri dan dicirikan oleh kehadiran jenis karang keras seperti yang disajikan pada Tabel 3.

Gambar 4. MDS berdasarkan frekuensi kehadiran masing-masing jenis karang batu di masing-masing stasiun penelitian

Gambar 5. Analisis pengelompokan berdasarkan frekuensi kehadiran masing- masing jenis karang batu di masing-masing stasiun penelitian

Giyanto

Tabel 3. Ciri dari pengelompokan stasiun berdasarkan kehadiran karang keras

Kelompok Stasiun Ciri

I BIAL12, BIAL21, BIAL22,

BIAL28, BIAL29, BIAL30 Porites masif (Porites lutea, P. lobata) II BIAL31, BIAL35 Pocillopora bercabang (Pocillopora

verrucosa, P. eydouxi, P. meandrina)

III BIAL18 Montipora venosa, Porites lutea

IV BIAL07 Porites rus, Pocillopora verrucosa

V BIALT1 Acropora brueggemanni

VI BIAL02 Montipora capitata, Porites lutea

VII BIAL32 Porites nigrescens

IV. KESIMPULAN

Terumbu karang di perairan Biak, khususnya di sepanjang pesisir utara Biak Timur dan di pulau-pulau Padaido Bawah berada dalm kondisi “cukup”, dengan tutupan karang keras sebesar (34,85+4,59)%. Setidaknya dijumpai karang keras sebanyak 143 spesies yang termasuk dalam 47 genera dan 17 famili sehingga dapat dipastikan bahwa perairan Biak merupakan bagian dari pusat kekayaan keanekaragaman karang keras. Karang masif dari jenis Porites (Porites lutea dan P.

lobata), serta Pocillopora verrucosa merupakan tiga jenis karang keras yang paling dominan di perairan ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Sdr. Agus Budiyanto dan juga rekan-rekan di Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI atas kerjasama dan bantuannya selama kegiatan pengambilan data di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Braithwaite, C.J.R. 1971. Seychelles reefs: structure and development. In: Stoddart, D.R. and S.M. Yonge (eds.). Regional variation in Indian Ocean coral reefs.

Symposium of the Zoological Society London No.28, Academic Press, London:

39-63.

Burke, L., E. Selig & M. Spalding. 2002. Reefs at Risk in Southeast Asia. World Resources Institute, Washington DC. 76 p.

Clarke, K.R. & R.N. Gorley. 2001. PRIMER v5: User Manual/Tutorial. Plymouth:

PRIMER-E. 91p.

Clarke, K.R. & R.M. Warwick. 2001. Change in Marine Communities: An Approach to Statistical Analysis and Interpretation. Ed ke-2. Plymouth: PRIMER-E.

171p.

English, S.; Wilkinson C. & Baker V. 1997. Survey Manual for Tropical Marine Resources. 2nd ed. Townsville: AIMS. 390p.

Giyanto & S.R. Suharti. 2011. Pemantauan kesehatan terumbu karang Kabupaten Rajaampat. COREMAP II LIPI, Jakarta: xxiv + 134 hlm.

Giyanto; S. R. Suharti & I. H. Supriyadi. 2011. Pemantauan kesehatan terumbu karang Kabupaten Sikka. COREMAP II LIPI, Jakarta : xxii + 122 hlm.

Struktur Komunitas Karang Keras di Perairan Biak, Papua

Giyanto; A.E. Manuputty; S.R. Suharti & Suharsono. 2012a. Riset dan Monitoring Kesehatan Terumbu Karang. Dalam: Suharsono (ed.), Success Stories Perjalanan CRITC COREMAP. CRITC COREMAP II LIPI, Jakarta: 1-17.

Giyanto; R.M. Siringoringo; A. Budiyanto & N. Wahidin. 2012b. Kondisi Terumbu Karang dan Struktur Komunitas Karang Batu di Perairan Ternate, Tidore dan Sekitarnya. Dalam: Giyanto (ed.), Ekosistem Pesisir Ternate, Tidore dan Sekitarnya, Provinsi Maluku Utara. CRITC-Puslit Oseanografi LIPI, Jakarta:

19-39.

Gomez, E.D. & H.T. Yap. 1988. Monitoring Reef Condition. In: R.A. Kenchington, R.A. & B.E.T. Hudson (eds), Coral Reef Management Handbook. Unesco Publisher, Jakarta: 171-178.

Indarjo, A.; W. Wijatmoko & Munasik. 2004. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Pulau Panjang Jepara. Ilmu Kelautan, Vol. 9 (4) : 217 – 224.

Munasik dan R.M. Siringoringo. 2011. Struktur Komunitas Karang Keras (Scleractinia) di Perairan Pulau Marabatuan dan Pulau Matasirih, Kalimantan Selatan. Ilmu Kelautan, Vol. 16 (1): 49-58.

Pet-Soede L., H. Cesar, & J. Pet. 1996. Blasting Away: The Economics of Blast Fishing on Indonesian Coral Reefs. In: H. Cesar (ed.), Collected Essays on the Economics of Coral Reefs: 77-84.

Riegl, B. & B. Velimirov. 1994. The Structure of Coral Communities at Hurghada in the Northern Red Sea. Marine Ecology, 15 (3/4): 213-231.

Sukarno 1977. Fauna karang batu di terumbu karang Pulau Air dengan catatan tentang ekologinya. Dalam: M. Hutomo, K. Romimohtarto and Burhanuddin (eds.) Teluk Jakarta: sumberdaya, sifat-sifat oseanologis serta permasalahannya.

Proyek Penelitian Potensi Sumberdaya Ekonomi. Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI, Jakarta.

Veron, J.E.N. 2000a. Corals of the world. Vol 1. Townsville: AIMS. 463p.

Veron, J.E.N. 2000b. Corals of the world. Vol 2. Townsville: AIMS. 429p.

Veron, J.E.N. 2000c. Corals of the world. Vol 3. Townsville: AIMS. 490p.

GEOLOGI LAUT

Dalam dokumen pertemuan ilmiah nasional tahunan x isoi 2013 (Halaman 193-199)