MANAJEMEN SUMBERDAYA LAUT
II. BAHAN DAN METODE
Pengamatan dilakukan pada bulan Mei 2011 dan Maret 2012. Lokasi Penelitian berada di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek dan Gunung Kidul, Yogyakarta sebanyak 10 stasiun (Gambar 1). Pengamatan karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) mengikuti English et al. (1997) dengan beberapa modifikasi. Panjang garis transek 10 m dan diulang 3 kali. Teknis pelaksanaan di lapangan yaitu seorang penyelam meletakkan pita berukuran panjang 70 m sejajar garis pantai dimana posisi pantai ada di sebelah kiri penyelam. Kemudian
Siringoringo
LIT ditentukan pada garis transek 0-10 m, 30-40 m dan 60-70 m. Semua biota dan substrat yang berada tepat di garis tersebut dicatat dengan ketelitian hingga sentimeter. Untuk melengkapi data sebaran karang dilakukan koleksi bebas sampai batas maksimal pertumbuhan karang. Identifikasi langsung dilakukan di lapangan namun jika ada jenis yang masih meragukan namanya, difoto lalu diambil sampel untuk diidentifikasi di laboratorium. Identifikasi menggunakan buku (Veron, 2000) vol 1,2 dan 3. Dari data hasil LIT tersebut bisa dihitung nilai persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat yang berada di bawah garis transek.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Karang batu yang dijumpai di Perairan Teluk Prigi umumnya tumbuh berupa spot-spot dengan rugositas dan diversitas yang rendah. Persentase tutupan karang mulai 10,93% - 17,30% dengan rerata 14,73 % atau dapat dikategorikan “rusak”
(Tabel 1). Hal ini disebabkan karena kondisi perairan yang berombak dan keruh.
Jumlah kehadiran karang batu di Teluk Prigi secara berurutan didominasi oleh jenis Montipora informis, Cyphastrea microphthalma, Porites lobata dan Favia sp.
Tabel 1. Persentase Tutupan Karang di Teluk Prigi Type of benthic
organism ST. 1 ST. 2 ST. 3 ST. 4 ST. 5
Live Coral 15.80 17.30 15.43 10.93 14.17
Acropora 0.70 0.00 0.80 1.37 3.23
Non Acropora 15.10 17.30 14.63 9.57 10.93
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan di perairan Teluk Prigi dan Gunung Kidul baik dengan menggunakan garis transek maupun pengamatan bebas diperoleh 82 jenis karang batu yang termasuk ke dalam 33 genera, 13 famili (Tabel 2).
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan lokasi lain di Perairan Samudra Hindia seperti di Perairan Kabupaten Kaur, Bengkulu, tercatat sebesar 129 jenis (LIPI, 2013). Rendahnya keragaman karang di lokasi ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi fisik yang selalu mendapatkan gempuran ombak. Dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, (Siringoringo, 2013) menyebutkan bahwa rendahnya nilai persentase tutupan karang dan keragaman karang di Teluk Prigi dipengaruhi oleh kondisi substrat. Kondisi substrat yang labil akan sulit bagi larva karang untuk dapat menempel dan tumbuh dengan baik.
Jika dibandingkan kedua lokasi pengamatan, distribusi jenis karang lebih tinggi di Teluk Prigi. Kondisi perairan yang lebih terlindung karena berada di dalam teluk lebih memungkinkan bagi komunitas karang untuk dapat berkembang.
Komunitas karang di lokasi ini merupakan spot-spot yang umumnya berbentuk encrusting sebagai mekanisme untuk dapat bertahan dengan kondisi perairan yang berarus dan bergelombang.
Dari hasil pengamatan di setiap lokasi pengamatan, jumlah jenis karang batu yang paling banyak dijumpai adalah di Stasiun 1 (48 jenis) kemudian Stasiun 2 (37 jenis), hingga yang terendah di Stasiun 6 (2 jenis) (Tabel 2). Meskipun dalam lokasi perairan yang sama, namun kemampuan karang untuk tumbuh pada masing-masing lokasi sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan seperti energi gelombang dan posisinya terhadap arus dan gelombang tersebut. Selanjutnya, tipe substrat juga
Sebaran Jenis Karang Batu di Perairan Pantai Selatan Jawa
mempengaruhi kemampuan larva untuk menempel (Burt et al., 2009). Pemilihan dan selektivitas larva terkait dengan tekstur substrat. Pada umumnya larva karang lebih menyukai penempelan pada bagian yang terlindung dari subsrat yaitu di antara lekukan atau dalam lubang di permukaan substrat (Erwin et al., 2008).
Tabel 2. Distribusi Jenis Karang di Teluk Prigi, dan Pantai Gunung Kidul
No Suku Jenis ST.1 ST.2 ST.3 ST.4 ST.5 ST.6 ST.7 ST.8 ST.9 ST.10 I. POCILLOPORIDAE
1. P. damicornis +
2. P. meandrina +
3. P. verrucosa + + +
II. ACROPORIDAE
4. M. digitata +
5. M. grisea + + +
6. M. hispida + +
7. M. informis + + + +
8. M. incrassata +
9. Montipora sp + + +
10. Acropora cytherea +
11. A. irregularis + + + + +
12. A. millepora +
13. A. palifera +
14. A. tenuis +
15. Acropora sp. + + + + + +
III. PORITIDAE
16. P. lobata + + + + + + +
17. P. lutea + + + + +
18. P. solida + + +
19. Porites sp + + + +
20. G. lobata + +
21. G. minor + +
22. Goniopora sp +
IV. SIDERASTREIDAE
23. Psammocora contigua + 24. P. frondifera +
25. P. varians + + +
26. P. speciosa + +
VI. FUNGIIDAE
27. C. echinata + + +
28. Fungia concinna +
29. F. fungites + +
30. F. horrida + + +
31. F. repanda + + +
32. F. Paumetensis +
33. Fungia sp +
34. Herpolitha limax +
35. Polyphyllia talpina + + +
36. H. pileus +
37. Podabacia crustacea + +
VII. OCULINIDAE
Siringoringo
No Suku Jenis ST.1 ST.2 ST.3 ST.4 ST.5 ST.6 ST.7 ST.8 ST.9 ST.10 VIII. PECTINIIDAE
40. Oxypora lacera +
41. Mycedium elephantotus + IX. MUSSIDAE
42. Acanthastrea echinata + + 43. Acanthastrea sp +
44. S. radians + + +
X. MERULINIDAE
.45. Hydnophora exesa + + +
XI. FAVIIDAE
46. Favia danae +
47. Favia lizardinensis +
48. F. matthaii + + + +
49. F. rotundata +
50. F. speciosa + + +
51. F. steligera +
52. F. veroni + + + + +
53. Favia sp1 + + + +
54. Favia sp2 +
55. Favites abdita + + + + +
56. F. halicora + + + +
57. Favites sp +
58. G. edwardsi + +
59. G. favulus + +
60. G. retiformis + +
61. Platygyra verweyi +
62. P. daedalea + +
63. P. lamellina + + +
64. P. sinensis +
65. Oulastrea crispata + +
66. Oulophyllia bennetae + + +
67. Olophyllia crispa + + + + +
68. Oulophyllia sp +
69. Montastrea curta + +
70. Montastrea sp + + +
71. Plesiastrea versipora + + +
72. Diploastrea heliopora + + + +
73. L. purpurea + + + +
74. L. transversa + + + + + +
75. Leptoria Phrygia +
76. C. chalcidicum +
77. C. microphthalma + + + +
78. C. serailia + + + +
XII. DENDROPHYLLIIDAE
79. T. frondens + + + + +
80. T. mesenterina + +
81. Turbinaria sp +
XIII. MILLEPORIDAE
82. Millepora sp. +
Jumlah jenis 48 37 33 13 29 2 6 14 13 7
Sebaran Jenis Karang Batu di Perairan Pantai Selatan Jawa
Dari hasil transek dan koleksi bebas yang dilakukan, Famili Faviidae terlihat mendominasi diantara famili yang lain dengan jumlah jenis mencapai 33 jenis. Suku Faviidae mempunyai konstruksi yang solid dan mempunyai sebaran geografi yang luas (Veron, 2000). Konstruksi yang solid ini, kebanyakan berbentuk kubah massif dan datar (flat), memungkinkan mampu bertahan pada kondisi yang ekstrim seperti arus dan terekspose sinar UV dibandingkan dengan jenis karang yang bercabang (fast- growing corals) (Gambar 2). Jenis–jenis karang dengan morfologi tersebut dikategorikan sebagai slow-growing corals (McClanahan et.al., 2004). Menurut Loya et. al. (2001), respirasi dan metabolisme protein yang lebih tinggi pada slow–growing corals memungkinkan radikal oksigen yang berbahaya tereliminasi dengan cepat dan mempunyai jaringan yang tebal (polip) sehingga memberikan proteksi yang lebih baik terhadap zooxanthellae terutama pada kondisi terekspose sinar UV yang kuat di daerah intertidal dan perairan dangkal. Selain itu, slow-growing corals tumbuh dengan konstruksi yang lebih solid sehingga tidak mudah mengalami kerusakan fisik (patah) pada saat terjadi gelombang dan arus yang ekstrim.
A B
Gambar 2. Famili Faviidae. A. Favia sp ; B. Leptoria phrygia
Pantai Gunung Kidul mempunyai energi yang cukup besar dan hal ini bisa dilihat dari gelombang yang tinggi arus pasang yang kuat. Kondisi seperti ini tentu saja akan memberikan dampak tersendiri bagi karang batu. Menurut Birkeland (1997), faktor-faktor yang menentukan efek yang akan ditimbulkan dari kondisi arus yang kuat adalah intensitas, tinggi gelombang, kecepatan arus dan pasang surut. Efek yang ditimbulkan berupa kerusakan pada karang batu meliputi kerusakan secara fisik, meningkatnya sedimentasi dan turbiditas perairan, meningkatnya runoff setelah hujan.
Hasil yang diperoleh di Teluk Prigi mencapai 73 jenis karang batu yang terbagi ke dalam 13 famili.Perbedaan yang signifikan dari hasil yang diperoleh dikarenakan habitat yang berbeda antara daerah intertidal (Gunung Kidul) dengan habitat slope area (Teluk Prigi) sehingga banyak jenis karang yang terdistribusi di slope area tidak ditemukan di daerah intertidal. Selain itu, gelombang yang besar di Pantai Gunung Kidul menjadi hambatan yang besar terutama bagi karang yang bercabang (fast-growing corals) untuk tumbuh. Menurut Birkeland (1997), karang batu yang rentan terhadap pada kondisi ekstrim seperti adanya badai di kawasan Indo- Pasifik dan Caribbean adalah jenis-jenis karang bercabang. Kondisi tersebut menyebabkan karang-karang tersebut patah menjadi fragmen-fragmen, namun masih memungkinkan untuk kembali apabila kerusakan jaringan tidak terlalu berlebihan dan kondisi ekstrim lingkungan mereda untuk jangka waktu yang lama. Di daerah Gunung
Siringoringo
Kidul, kondisi perairan dengan energi besar mempunyai mempunyai intensitas yang tinggi dan akan lebih terlihat ketika air pasang.
Adaptasi morfologi juga terjadi pada Oulophyllia bennetae dan Favia veroni dimana bentuk morfologi yang umumnya massive terlihat flat (Gambar 3).
Umumnya jenis-jenis tersebut akan tumbuh ke atas membentuk pola berbentuk kubah, namun karena adanya arus yang selalu terjadi di daerah intertidal menyebabkan pola pertumbuhan ke atas lebih diminimalisir dan lebih mengutamakan untuk tumbuh ke samping sehingga area yang terpapar arus lebih diminimalisir.
Porites lutea Favia veroni
Gambar 3. Adaptasi morfologi yang berbentuk datar (flat)
Dari hasil yang diperoleh di Gunung Kidul, Stasiun 8 (Pantai Drini) mempunyai jumlah jenis karang batu sebanyak 14 jenis dan Stasiun 9 dengan 13 Jenis. Adanya goba-goba yang selalu terendam air meskipun dangkal pada saat surut dan alur aliran air yang selalu membawa nutrisi memungkinkan karang untuk tumbuh di tempat-tempat tersebut. Selain itu kontur pantai yang membentuk teluk kecil di Pantai Drini juga mempengaruhi arus dan gelombang yang masuk ke dalam teluk, memungkinkan energinya relatif lebih kecil karena terpecah lebih dahulu oleh tebing baik di sebelah kanan maupun kiri sebelum akhirnya masuk ke dalam teluk.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan karang di Teluk Prigi dan Pantai Gunung Kidul, tercatat 82 jenis karang, 32 Marga dan 13 suku. Sebaran jenis karang lebih tinggi di Teluk Prigi dibandingkan dengan Pantai Gunung Kidul. Persentase tutupan karang sebesar 14,73% atau masuk kaegori “rusak”. Karang batu didominasi oleh bentuk pertumbuhan merayap sebagai mekanisme terhadap lingkungan yang
berenergi gelombang besar. Karang yang dominan dijumpai adalah dari marga Favia, Montipora, Cyphastrea, dan Porites. Kelompok karang Faviid yang lebih banyak dijumpai karena jenis ini mampu bertahan pada kondisi perairan yang ekstrim.
DAFTAR PUSTAKA
Birkeland, C. 1997. Life and Death of Coral Reefs.International Thomson Publishing.
526pp.
Burt, J., A. Bartholomew, A. Bauman, A. Saif & P. F. Sale. 2009. Coral Recruitment and Early Benthic Community Development on Several Materials Used in The Construction of Artificial Reefs and Breakwaters. Journal of Exp. Mar.
Biology and Ecology. 373: 72-78.
Sebaran Jenis Karang Batu di Perairan Pantai Selatan Jawa
Dubinsky, Z. & N. Stambler. 2011. Coral Reefs: An Ecosystem in Transition.
Springer, New York, 522pp.
English, S., C. Wilkinson & V. Baker 1997. Survey manual for tropical marine
resources. Second edition. Australian Institute of Marine Science. Townsville : 390 pp.
Erwin, P.M., B. Song and A.M. Szmant. 2008. Settlement behavior of Acropora palmata planulae: Effects of biofilm age and crustose coralline algal cover.
Prod. Int Coral Reef Symp. Ft. Lauderdale, Florida, 7-11 July 2008: 1219- 1223.
LIPI, 2013. Ekosistem Pesisir Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, Laporan kegiatan penelitian tematik, Puslit Oseanografi, LIPI.
Loya, Y., K. Sakai, K. Yamazato, H. Nakano, H. Sambali & R. Van Woesik. 2001.
Coral Bleaching: The winners and losers. Ecology Letters, 4; 122-131.
McClanahan, T., N. Polunin & T. Done.(2002). Ecological States and Resilience of Coral Reefs.Conservation Ecology 6.
Siringoringo R.M, 2013.Kondisi dan Karakteristik Karang Batu di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek. OLDI vol 38 (3) 391 - 400.
Suharsono. 2007. Pengelolaan terumbu karang di Indonesia, Orasi pengukuhan Profesor riset bidang ilmu oseanografi, Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, Jakarta. 112 hal.
Suharsono. 2008. Jenis-jenis karang di Indonesia. Indonesian Institute of Sciences, Pusat Penelitian Oseanografi. LIPI press Jakarta. 344 hal.
Veron, J. 2000. Corals of The World Vol 3rd. Australian Institute of Marine Science, Townsville. 489 pp.
Siringiringo & Hadi
REKRUTMEN KARANG BATU DI KEPULAUAN SERIBU BAGIAN SELATAN CORAL RECRUITMENT IN SOUTHERN PART OF SERIBU ISLAND
Rikoh Manogar Siringoringo dan Tri Aryono Hadi
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI email: [email protected]
Abstrak
Rekrutmen karang batu (Scleractinian) adalah suatu proses penambahan koloni karang baru ke dalam suatu populasi karang. Rekrutmen yang dilakukan di Kepulauan Seribu bagian selatan adalah suatu bagian untuk mengetahui kemampuan ekosistem terumbu karang dalam menghadapi kondisi perairan yang memburuk, yaitu dilihat dari jumlah dan jenis karang anakan yang muncul. Penelitian dilakukan dengan menggunakan peralatan selam SCUBA pada kedalaman antara 5-10 m dan mengambil lokasi sebanyak sepuluh pulau di Kepulauan Seribu bagian selatan. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat (1x1 m) yang dipasang dengan interval 10 m pada transek garis sejauh 100 m sejajar garispantai. Hasil penelitian mendapatkan 23 jenis anakan karang dan hanya jenis Oulastrea crispata yang tersebar hampir disemua lokasi penelitian. Ukuran karang yang paling banyak ditemukan adalah 2-5 cm. Jumlah jenis rekrutmen berkorelasidengan kecerahan, sedangkan jumlah rekruitmen tidak selalu berkorelasi dengan persentase tutupan karang.
Kata kunci: Rekrutmen, karang batu, tutpan karang, kecerahan, Kepulauan Seribu
Abstract
Recruitment of stony corals is a process of getting new coral colonies (scleractinian) in a coral population. This recruitment study carried out in the southern part of Seribu Islands is an attempt to know the ability of coral reef ecosystems in encountering Jakarta bay’s deteriorating water conditions by considering the number and types of juvenile corals. The study took place in ten islands in the southern part of Seribu Islandby using SCUBA diving equipment at depths between 5-10 m. The method used quadrat transect (1x1 m) installed at intervals 10 m along the line transect as far as 100 m parallel to the coastline. The results indicates there were 23 types of juvenil corals, one of which is Oulastrea crispatathat wasvirtually spread in all of the study sites. The range size of coralis mostly between 2-5 cm. The number of the recruitment species is always correlated with transparancy, whereas the number of coral recruitment is not always in the same line with the percentage of coral cover.
Keywords: recruitmen, stony corals, coral cover, transparancy, Kepulauan Seribu
I. PENDAHULUAN
Karang batu mempunyai kemampuan untuk memperbaharui populasinya melalui proses reproduksi baik secara seksual maupun aseksual (fragmentasi dan pembelahan) yang pada akhirnya dapat meningkatkan kelangsungan hidup karang.
Penambahan koloni-koloni karang baru dalam suatu populasi karang batu disebut sebagai rekrutmen karang (Acosta et al., 2011). Dalam proses panjang siklus hidup biota karang, rekrutmen menjadi batasan kritis dalam mempertahankan dan memperluas sebaran serta penentu kelimpahan jenisnya di alam (Harrison & Wallace, 1990).
Proses rekrutmen yaitu meliputi pembentukan individu baru yang dihasilkan melalui mekanisme reproduksi tertentu yang mengakhiri kehidupannya sebagai plankton dan menempel pada substrat yang cocok. Kemudian individu baru ini akan menjadi bagian dari komunitas terumbu karang (Acosta et al, 2011). Jumlah rekrutmen karang bervariasi menurut lokasi dan faktor ekologi (Van Woesik, 1996).
Rekrutmen Karang Batu di Kepulauan Seribu Bagian Selatan
Pengukuran kelimpahan rekrutmen karang pada habitat alami didasarkan pada jumlah anakan karang atau junevil yang didefinisikan sebagai koloni karang dengan ukuran ≤ 5 cm (Golbuu et al., 2007), 2 dan 5 cm (Miller et al., 2000), 0,5-5,0 cm (McClanahan et al., 2005), dan ≤ 10 cm (Obura dan Grimsditch, 2009). Berdasarkan batasan ukuran tersebut, maka rekrutmen dapat dibagi menjadi tiga kategori ukuran yaitu untuk mengetahui sejauh mana karang anakan dapat tumbuh, yaitu mulai dari ≤ 2cm, 2 – ≤ 5 cm dan 5 – ≤10 cm (Engelhart, 2000).
Kepulauan Seribu merupakan pulau-pulau karang yang awalnya memiliki kekayaan dan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada penelitian yang pernah dilakukan di lokasi ini menggambarkan bahwa kondisi terumbu karang yang semakin memprihatinkan. Pemantauan terhadap kondisi terumbu karang yang dilakukan selama 3 dekade mulai tahun 1985-2009 menggambarkan kondisi karang yang semakin menurun (Yosephine, 2010).
Aktifitas kota Jakarta yang sangat tinggi mengakibatkan pencemaran yang cukup serius. Penelitian kualitas air dengan menggunakan transmisi cahaya menunjukkan bahwa semakin dekat jarak ke Jakarta, kondisi perairan makin keruh (Surinati, 2010). Fachrul et al. (2005) menyatakan bahwa perairan Teluk Jakarta tercemar mulai dari kategori sedang hingga berat yaitu dengan didominasi bahan pencemar organik.
Melihat kecenderungan menurunnya kondisi terumbu karang dan kualitas perairan di Teluk Jakarta, maka pengamatan terhadap rekrutmen karang batu dilakukan untuk mengetahui proses regenerasi atau rekolonisasi yang terjadi di daerah tersebut, terutama yang dekat dengan Teluk Jakarta yaitu dengan mengidentifikasi jenis-jenis karang rekrutmen serta kaitan dengan persentase tutupan dan kecerahan perairan. Dengan mengetahui informasi tentang rekrutmen karang akan memberikan pengetahuan tentang kemampuan rekrutmen karang pada masing-masing lokasi.
Selain itu akan didapatkan data jenis-jenis karang yang mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang sangat tercemar.
II. BAHAN DAN METODE