i RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) TERHADAP APLIKASI KOMBINASI PUPUK KASCING DAN Trichoderma Sp.
SKRIPSI
FERDIALDUS TINO OLA 45 14 031 013
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BOSOWA 2019
i Respon Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Terhadap
Aplikasi Kombinasi Pupuk Kascing Dan Trichoderma Sp.
SKRIPSI
FERDIALDUS TINO OLA 45 14 031 013
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Bosowa
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BOSOWA 2019
ii HALAMAN PENGESAHAN
Respon Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.) Terhadap Aplikasi Kombinasi Pupuk Kascing Dan Trichoderma Sp.
FERDIALDUS TINO OLA 45 14 031 013
Skripsi Telah Di Periksa Dan Disetujui Oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. A. Muhibuddin, MP. Ir. Rahmadi Jasmin, MP.
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi Agroteknologi
Dr. Ir. Syarifuddin, MP. Dr. Ir. H. Abri, MP.
Tanggal Lulus : 30 Agustus 2019
iii RINGKASAN
FERDIALDUS TINO OLA (45 14 031 013) Respon Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.) Terhadap Aplikasi Kombinasi Pupuk Kascing Dan Trichoderma Sp. di bimbing oleh A. Muhibuddin dan Rahmadi Jasmin.
Penelitian ini dilaksanakan di Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Kampus Universitas Bosowa di Desa Bonto Ramba Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan berlangsung selama tiga bulan dimulai dari bulan Maret 2019 sampai dengan bulan Juni 2019.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi dosis terbaik pupuk kascing dengan Trichoderma Sp. dalam berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Cabai Rawit.
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan dan disusun menurut Rancangan Percobaan Acak kelompok (RAK) yang terdiri lima (5) perlakuan dan tiga (3) ulangan yaitu : P0 = Kontrol (tanpa perlakuan pupuk kascing dan Trichoderma Sp.), P1 = 200 gr Kascing + 20 gr Trichoderma Sp, P2 = 300 gr Kascing + 30 gr Trichoderma Sp, P3 = 400 gr Kascing + 40 gr Trichoderma Sp, P4 = 500 gr Kascing + 50 gr Trichoderma Sp.
Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi kombinasi yang memberikan pengaruh terbaik adalah pada P4 (500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp.) kecuali pada berat buah P3 (500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp.) memberi pengaruh terbaik namun tidak berbeda nyata dengan P4.
Kata Kunci : Pupuk Organik Kascing, Trichoderma Sp.
iv KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan cinta kasihnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang berjudul “Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.) Terhadap Pengaplikasian Pupuk Organik Kascing dan Trichoderma Sp.”.
Dalam penyusunannya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada kedua Orang tua serta keluarga besar yang sudah mendukung sampai saat ini, kepada Bapak Dr. Syarifuddin, S.Pt. MP, selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar, Bapak Dr. H. Abri, MP. selaku Ketua Jurusan Agroteknologi yang senantiasa menuntun mahasiswa-mahasiswa Agroteknologi dalam urusan akademik. Kepada Bapak Prof. Dr. Ir. A. Muhibuddin,MP. Selaku pembimbing I dan Bapak Ir. Rahmadi Jasmin, MP. selaku pembimbing II yang telah membimbing penulis menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.
Terima kasih pula kepada teman-teman seperjuangan, yang selalu memberikan dukungan materi maupun moril sehingga segala urusan berkaitan dengan penyusunan tugas akhir ini bisa terselesaikan.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran demi penyempurnaan tugas akhir ini. Semoga hasilnya bermanfaat bagi semua orang dan khususnya bagi diri saya sendiri.
Makassar, Juli 2019
Penulis
v DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
RINGKASAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Hipotesis ... 4
Tujuan Penelitian ... 4
Manfaat Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Botani Cabai... 5
Klasifikasi Tanaman Cabai Rawit ... 5
Morfologi ... 6
Syarat Tumbuh ... 7
Keadaan Iklim ... 7
Pemupukan ... 8
Pupuk Kascing ... 9
Trichoderma Sp. ... 9
vi BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu ... 11
Alat dan Bahan ... 11
Metode Penelitian ... 11
Pelaksanaan Penelitian ... 12
Variable Pengamatan ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 15
Pembahasan... 24
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 27
Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 25
LAMPIRAN ... 26 LAMPIRAN GAMBAR
vii DAFTAR TABEL
1. Rata-rata tinggi tanaman (cm) 15, 30, 45 Hst ... 15
2. Rata-rata panjang daun (cm) 15, 30, 45 Hst ... 16
3. Rata-rata lebar daun (cm) 15, 30, 45 Hst ... 17
4. Rata-rata jumlah daun 15, 30, 45 Hst ... 18
5. Rata-rata Jumlah bunga 30, 45, 60 Hst ... 19
6. Rata-rata Umur Berbunga (hari) ... 20
7. Berat Buah Pertanaman (gr ... 20
viii DAFTAR LAMPIRAN
1. Denah percobaan ... 26
2. Hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) 15 Hst ... 27
3. Sidik ragam pengamatan tinggi tanaman (cm) 15 Hst ... 27
4. Hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) 30 Hst ... 28
5. Sidik ragam pengamatan tinggi tanaman (cm) 30 Hst ... 28
6. Hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) 45 Hst ... 29
7. Sidik ragam pengamatan tinggi tanaman (cm) 45 Hst ... 29
8. Hasil pengamatan panjang daun (cm) 15 Hst ... 30
9. Sidik ragam pengamatan panjang daun (cm) 15 Hst ... 30
10. Hasil pengamatan panjang daun (cm) 15 Hst ... 31
11. Sidik ragam pengamatan panjang daun (cm) 30 Hst ... 31
12. Hasil pengamatan panjang daun (cm) 15 Hst ... 32
13. Sidik ragam pengamatan panjang daun (cm) 45 Hst ... 32
14. Hasil pengamatan lebar daun (cm) 15 Hst ... 33
15. Sidik ragam pengamatan lebar daun (cm) 15 Hst ... 33
16. Hasil pengamatan lebar daun (cm) 30 Hst ... 34
17. Sidik ragam pengamatan lebar daun (cm) 30 Hst ... 34
18. Hasil pengamatan lebar daun (cm) 45 Hst8 ... 35
19. Sidik ragam pengamatan lebar daun (cm) 45 Hst ... 35
20. Hasil pengamatan jumlah daun 15 Hst ... 36
21. Sidik ragam pengamatan jumlah daun 15 Hst ... 36
22. Hasil pengamatan jumlah daun 30 Hst ... 37
23. Sidik ragam pengamatan jumlah daun 30 Hst ... 37
ix
24. Hasil pengamatan jumlah daun 45 Hst ... 38
25. Sidik ragam pengamatan jumlah daun 45 Hst ... 38
26. Hasil pengamatan jumlah bunga 30 Hst ... 39
27. Sidik ragam pengamatan jumlah bunga 30 Hst ... 39
28. Hasil pengamatan jumlah bunga 45 Hst ... 40
29. Sidik ragam pengamatan jumlah bunga 45 Hst ... 40
30. Hasil pengamatan jumlah bunga 60 Hst ... 41
31. Sidik ragam pengamatan jumlah bunga 60 Hst ... 41
32. Hasil Pengamatan Umur Berbunga (hari) ... 42
33. Sidik Ragam Pengamatan Umur Berbunga ... 42
34. Hasil Pengamatan Berat Buah (gr) ... 43
35. Sidik Ragam Pengamatan Berat Buah (gr) ... 43
x DAFTAR GAMBAR
1. Grafik rata-rata tinggi tanaman 15, 30 dan 45 Hst ... 16
2. Histogram rata-rata lebar daun 15, 30 dan 45 Hst ... 17
3. Grafik rata-rata jumlah daun 15, 30 dan 45 Hst ... 18
4. Grafik rata-rata jumlah bunga 30, 45 dan 60 Hst ... 19
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian Indonesia merupakan salah satu sektor yang memegang peranan yang cukup penting di dalam perekonomian Nasional. Hal ini dapat di pahami mengingat Indonesia merupakan Negara Agraris, artinya sebagian besar penduduknya hidup dan bekerja pada sektor pertanian. Disamping itu di dukung oleh penelitian di beberapa Daerah, hampir 80% dari angkatan kerja berada di Daerah Pedesaan diantaranya 75 % mata pencarian di bidang Pertanian, (Mubyarto, 2009).
Memasuki era pasar bebas saat ini, peran sektor Pertanian dalam pembangunan Nasional semakin penting dan strategis sebagai andalan bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Nasional. Pada masa mendatang peranan sektor Pertanian akan semakin berat dan dituntut mampu menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian Nasional dan menyediakan bahan pangan pokok, peningkatan pendapatan petani, penyediaan lapangan kerja serta produksi bahan dasar olahan. Di era krisis ekonomi moneter, ketangguhan sektor Pertanian telah teruji yang di buktikan dari angka pertumbuhan yang positif, (Suryana, 2004).
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Karena buahnya, selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikan pendapatan petani, sebagai bahan baku industry, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja serta sebagai sumber Vit. C (Deptan, 2007).
Cabai dibawa ke Indonesia oleh seorang pelaut portugis bernama Ferdinand Magellan (1480-1521 M). Ia melakukan pelayaran pada tahun 1519 melalui jalur laut dan membawa tanaman lain, seperti jagung pada saat pelayaran tersebut. Penyebaran
2 cabai di tanah air juga turut dilakukan oleh para pedagang India, mereka membawa cabai melalui pulau Sumatera (Marwoto, 2011).
Jenis cabai juga cukup bervariasi, beberapa jenis di bedakan berdasarkan ukuran, bentuk, rasa pedasnya dan warna buahnya. Di Indonesia jenis cabai yang banyak dibudidayakan antara lain cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, dan cabai paprika (Anonim, 2013).
Tanaman cabai rawit (Capcicum frutescens L.) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tropik, menyukai daerah kering, dan di temukan pada ketinggian 0,5 - 1,025 km dpl. Perdu tahun, percabangan yang banyak, tinggi 50 cm - 100 cm.
Batangnya berbuku-buku bagian atas bersudut, daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5 cm - 9,5 cm dan lebar 1,5 cm - 5,5 cm, berwarna hijau.
Bunganya keluar dari ketiak daun, mahkota berbentuk bintang, bunga tunggal atau 2 - 3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu.
Tanaman Cabai rawit adalah tumbuh-tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Saat ini cabai menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak di butuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabai, semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara.
Budidaya ini menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor (Santika, 2008).
Oleh karena itu perlu adanya revolusi di bidang Pertanian dalam hal pola perlakuan dari pertanian konvensional kepada pertanian alami yang ramah lingkungan.
Pertanian organik ramah lingkungan adalah cara bercocok tanam yang berasal dari alam
3 yang tidak mencemari atau meracuni tanah, tanaman, binatang dan manusia. Pertanian Indonesia sebagian besar masih memakai system pertanian konvensional, yaitu cara bercocok tanam dengan menggunakan bahan-bahan buatan pabrik, misalnya menggunakan pupuk kimia, pestisida, perangsang tumbuh, antibiotika, dan lain-lain untuk meningkatkan produksi. Selain harga bahan-bahan ini mahal yang membuat petani semakin mengalami kerugian yang begitu besar, apabila pemakaiannya terlalu berlebihan akan bersifat racun yang pelan-pelan tetapi pasti, akan meracuni lingkungan (Pracaya, 2008).
Pupuk organic merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat di gunakan untuk meningkatkan produksi dan mutu tanaman karena mengandung unsur hara makro dan mikro tinggi sebagai hasil senyawa organic bahan alami tumbuhan yang mengandung sel-sel hidup aktif dan aman terhadap lingkungan dan pemakai (Desa tiga, 2009)
Pupuk organic atau pupuk alami merupakan hasil dari perubahan atau peruraian bagian-bagian atau sisa-sisa tanaman atau binatang, misalnya kompos, pupuk kandang, pupuk hijau, bungkil, baik yang berbentuk padat maupun cair, yang mampu menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian ( Mul Mulyani S., 2010)
Pengembalian bahan organic kedalam tanah merupakan hal yang mutlak dilakukan untuk mempertahankan hasil yang optimal, untuk itu penggunaan pupuk harus memperhatikan jenis , dosis, waktu dan pemberian. Mengingat hasil pemupukan pada jenis tanaman tidak selalu memberikan hasil yang baik maka ada hal yang perlu diperhatikan yaitu sifat pupuk yang diberikan, untuk tanaman semusim yang jarak tanam yang agak rapat baik pula dilakukan pemupukan lewat daun umumnya dilakukan dengan cara melarutkan pupuk tersebut ke dalam air lalu disemprotkan ke daun dan dapat pula dilakukan dengan menyiram ke bagian perakaran tanaman. Penggunaan
4 pupuk cair dan pupuk daun mempunyai kelebihan penyerapan haranya lebih cepat dibandingkan dengan pupuk yang diberikan lewat akar (Montgomerry, D.C., 1991).
Meskipun secara keseluruhan total produksi cabai dunia cenderung meningkat, namun produksi perwilayah cenderung menurun. Mungkin terjadi karena Negara bersangkutan mengalami masalah dalam penyediaan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Selain itu, adanya peningkatan konsumsi cabai oleh masyarakat dan industry menyebabkan selisi produksi dan konsumsi di beberapa Negara menjadi minus (Setiadi, 2011).
Hipotesis
Terdapat salah satu kombinasi pupuk organik kascing dan Trichoderma Sp.
yang dapat memberi pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Cabai rawit.
Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pupuk kascing dan Trichoderma Sp. yang memberi pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Cabai rawit.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat sebagai peningkatan kemampuan mahasiswa dalam bidang keilmuan dan tentunya diharapkan dapat menjadi bahan informasi yang berguna bagi petani dan menjadi acuan tentang penggunaan beberapa pupuk organik dalam memacu pertumbuhan dan produksi Cabai rawit.
5 TINJAUAN PUSTAKA
Botani
Cabai Rawit rasanya sangat pedas, sangat bagus digunakan saus, sambal atau dikeringkan untuk dijadikan tepung. Tepung cabai banyak diperlukan baik oleh perusahaan pembuat makanan atau pencampur obat tradisional. Harganya mahal, para petani membudidayakan tanaman ini sebagian hasilnya diolah menjadi tepung untuk diekspor (kartasapoetra, 1988)
Klasifikasi tanaman cabai rawit menurut Wiranata (2006) adalah sebagai berikut;
Kingdom : Plantae
Devisio : Spermatophyta Sub Devisio : Angiospermae Classis : Dycotyledoneae Ordo : Solanales Family : Solanaceae Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum frutescens L.
Cabe benar-benar komoditas sayuran yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, permintaan cabai untuk industri juga terus meningkat seiring dengan semakin maraknya industri pengolahan bahan makanan yang menggunakan cabai sebagai bahan baku utamanya, seperti industry sambal, saus, mie instan hingga industry farmasi, seperti koyo dan balsem (final prajnata, 1967).
Buah cabai memiliki kandungan vitamin A dan vitamin C serta capsakin yang dapat menstimulir delektor panas dalam kelenjar hiptotalamus, menyebabkan perasaan
6 tetap sejuk, walaupun udara yang panas zat mukokinetik yang ada pada cabai dapat mengatur, mengurangi dan mengeluarkan lender yang ada dalam paru-paru. Oleh karena itu, cabai sangat efektif membantu penyembuhan bronchitis, influenza, sinusitis, dan asma (Prapati utami, 2008).
Morfologi
Batang tanaman cabai rawit memiliki struktur yang keras dan berkayu, berwarna hijau gelap, berbentuk bulat, dan bercabang banyak. Batang utama tumbuh tegak dan kuat. Percabangan terbentuk setelah batang tanaman mencapai ketinggian sekitar 30 cm – 45 cm. Cabang tanaman beruas, setiap ruas ditumbuhi daun dan tunas (cabang).
Daun cabai rawit berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata (tidak bergerigi). Ukuran daun lebih kecil dibandingkan dengan daun tanaman cabai besar. Daun yang dimiliki merupakan daun tunggal dengan kedudukan agak mendatar, memiliki tulang daun menyirip dan tangkai tunggal yang melekat pada batang atau cabang. Jumlah daun cukup banyak sehingga tanaman tanpa rimbun.
Bunga tanaman cabai rawit merupakan bunga tunggal yang berbentuk batang.
Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun, dengan mahkota bunga berwarna putih.
Penyerbukan bunga termasuk penyerbukan sendiri, namun dapat juga terjadi secara silang, dengan kebersihan sekitar 50 %.
Buah Cabai rawit akan terbuka setelah terjadi penyerbukan. Buah memiliki keanekaragaman dalam hal ukuran, bentuk, warna, dan rasa buah cabai rawit berbentuk bulat pendek dengan ujung runcing atau benrtuk kerucut, ukuran buah berfaombolsi, menurut jenisnya, cabai rawit yang kecil-kecil memiliki ukuran panjang antara 2 cm – 2,5 cm dan lebar 5 mm. Sedangkan cabai rawit yang agak besar memiliki ukuran panjang mencapai 3,5 cm dan lebar mencapai 12 mm.
7 Syarat Tumbuh
Di Indonesia beberapa syarat tumbuh tanaman cabai diantaranya adalah keadaan iklim, suhu dan keadaan tanah. Namun kebiasaan petani menanamnya di awal musim hujan , kecuali untuk tanah sawah. Kandungan unsur hara yang berlebih membuat tanaman tumbuh subur, hanya produksi buahnya minim. Sedangkan di tanah yang unsur haranya lebih rendah, daun tanaman tidak begitu subur namun produksi buahnya bisa lebih baik.
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai, semua varietas umumnya tidak tahan pada curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang baik bertanam cabai adalah 1.000 m/tahun. Jika curah hujan rendah, akan menyebabkan kekeringan pada tanaman begitupun sebaliknya curah hujan tinggi akan menyebabkan kerusakan pada tanaman, lahan becek, kelembapan tinggi dan hama penyakit mudah menyebar (Hari Marwoto, 2011). Tanaman cabai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki kelembapan antara 70-80 %, kelembapan tinggi di atas 90 % memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman. Sebaliknya keadaan kering dapat merusak pertumbuhan fase generatifnya, terutama saat pembentukan bunga, penyerbukan dan pembentukan buah.
Keadaan Iklim
Tanaman cabai rawit lebih senang tumbuh di daerah yang tipe iklimnya lembab dan senang curah hujan yang lebih lebat, tetapi pada saat stadia tertentu perlu banyak air. Di daerah yang iklimnya sangat basah, tanaman mudah terserang penyakit daun seperti bercak hitam (antrakonosa), penyakit yang terdapat dalam kelopak Bunga yaitu thrips, hama ini berukuran sangat kecil dan lembut, thrips muda berwarna kuning sedangkan yang dewasa kecoklatan dengan kepala hitam. Oleh karena itu tanaman cabai sangat baik ditanam pada awal musim kemarau. Pada musim hujan tanaman juga
8 mudah mengalami tekanan (stress), sehingga bunganya sedikit, dan banyak yang tidak mampu menjadi buah. Kalaupun bisa berbuah, buahnya akan mudah gugur, karena tekanan air hujan yang lebat (Sunaryono, 2003). Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai rawit berkisar antara 600 -1200 mm/tahun, dengan jumlah bulan basah 3-9 bulan. Walaupun demikian, apabila pada waktu berbunga tanaman cabai kekurangan air, maka akan banyak yang akan gugur dan tidak mampu menjadi buah. Tanah yang air tanahnya dangkal dan prositasnya rendah menyebabkan tanaman cabai mudah terserang hama dan penyakit akar, penyakit layu, dan keguguran pada daun dan buahnya. pH tanah yang baik untuk tanaman cabai berkisar antara 5 ½ - 6 ½ . Namun begitu tanaman cabai sangat toleran terhadap tanah masam yang pH nya kurang dari 5, hanya saja buahnya kurang lebat dan pertumbuhannya kerdil, Martodireso, 2011).
Pemupukan
Seiring dengan peningkatan produksi persatuan luas, tentu terjadi pengangkutan unsur hara dari dalam tanah terutama pada waktu dilakukan panen. Dengan demikian pemupukan mutlak dilakukan guna menghindari kekurangan unsur hara pada lahan.
Kondisi atau sifat fisik tanah terutama aspek tekstur tanah memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Struktur tanah dapat diperbaiki dengan pemberian pupuk. Pemupukan merupakan pemberian unsur hara ke dalam tanah dengan maksud memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Bahan yang diberikan ini dapat bermacam-macam, misalnya berupa pupuk kandang, pupuk organik yang bisa didapat dalam bentuk padat maupun dalam bentuk cair.
9 Kascing
Kascing adalah merupakan bahan organic hasil dari kotoran cacing yang bercampur dengan tanah atau bahan organic lainnya. Pupuk kascing merupakan bahan organik yang cukup baik karena selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah khususnya pada tanah ultisol, juga tidak mempunyai efek negative terhadap lingkungan yang tedapat pada daerah sub tropis basah dimana proses pelapukan sudah lanjut. Kandungan hara dan sifat kimia kascing lebih beragam dibanding kompos dan pupuk organic lainnya.
Pupuk kascing mengandung unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg, S, F dan unsur lainnya yang dibutuhkan oleh tanaman. Palungkun, (1999), menyatakan bahwa komponen-komponen biologis yang terkandung dalam pupuk kascing adalah hormone pengatur tumbuh giberelin, sitokinin, dan hormone auksinjuga tidak mempunyai efek negatif terhadap lingkungan.
Tabel 1. Komposisi komponen-komponen kimia pada pupuk kascing.
Komponen-komponen kimiawi Komposisi (%)
Nitrogen (N) 1,1 – 4,0
Fosfor (P) 0,3 – 3,5
Kalium (K) 0,2 – 2,1
Belerang (S) 0,24 – 0,63
Magnesium (Mg) 0,3 – 0,63
Besi (Fe) 0,4 – 1,6
Sumber: Palungkun, 1999 Cendawan Trichoderma Sp.
Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah adalah jamur Trichoderma Sp. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti, T. Harzianum, T. Viridae, T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai
10 tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma diberikan ke areal tanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida yang berperan mengendalikan organisme pathogen penyebab penyakit tanaman.
Trichoderma dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxiporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsi. Di samping kemampuan sebagai pengendali hayati Trichoderma harzianum memberikan pengaruh positif terhadap perakaran tanaman, pertumbuhan tanaman, hasil produksi tanaman. Sifat ini menandakan bahwa juga Trichoderma harzianum berperan sebagai Plant Growth Enhancer.
Salah satu mikroorganisme yang berperan dalam penguraian bahan organik adalah jamur tanah, diantaranya Trichoderma Sp. Pengomposan adalah proses yang mengubah limbah organik menjadi pupuk organik melalui kegiatan biologi kondisi yang terkontrol. Trichoderma Sp. mempunyai kemampuan untuk mempercepat penguraian serasah tanaman yang sulit terurai (Widyastuti, et al, 1998).
11 BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Pertanian Universitas Bosowa di Desa Bonto Ramba Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan berlangsung selama tiga bulan dimulai dari bulan Maret 2019 sampai dengan bulan Juni 2019.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari; benih cabai rawit, pupuk kascing dan Trichoderma Sp.
Alat-alat yang digunakan adalah ember, parang, cangkul, alat tulis menulis, timbangan, kamera, polybag dan meteran.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan yang disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empat (5) perlakuan dan tiga (3) kali ulangan sehingga terdapat 25 plot percobaan dan 75 populasi tanaman keseluruhan, dengan percobaan jenis media tanam yang sama dan pengaplikasian dosis pupuk yang berbeda dengan perbandingan sebagai berikut :
P0 = Kontrol (tanpa perlakuan pupuk kascing dan Trichoderma Sp.) P1 = 200 g Kascing + 20 g Trichoderma Sp
P2 = 300 g Kascing + 30 g Trichoderma Sp P3 = 400 g Kascing + 40 g Trichoderma Sp P4 = 500 g Kascing + 50 g Trichoderma Sp
12 Pelaksanaan Penelitian
Persemaian
Media persemaian merupakan campuran dari pupuk Kascing dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Benih yang telah disediakan direndam terlebih dahulu dalam air hangat dengan suhu 500C selama 24 jam guna untuk melihat biji yang bernas serta memecah dormansi benih, setelah itu lakukan seleksi benih. Benih yang terapung tidak digunakan dan benih yang tenggelam ditiriskan untuk disemai kedalam media persemaian yang terbuat dari Polybag kecil berukuran 8 x 9 cm, penyemaian dilakukan dengan menanam satu benih pada satu Polybag.
Pemeliharaan Bibit
Bibit yang telah ditanam di polybag kecil berukuran 8 x 9 cm selanjutnya dilakukan pemeliharaan dengan melakukan penyiraman pada pagi dan sore hari secara rutin. Pemindahan bibit ke Polybag besar dengan ukuran berat 5 kg yang telah disiapkan dan dilakukan setelah bibit tanaman cabai berumur 21 hari setelah semai dan ditandai dengan jumlah daun dewasa sebanyak 3-4 lembar. Persiapan media tanam dilakukan setelah penyemaian benih. Tanah untuk media dibersihkan dari sisa–sisa tanaman atau rumput dan sampah lainnya yang tidak dianggap perlu. Kemudian dicampur dengan pupuk organik kascing yang telah dicampur dengan Trichoderma Sp.
Selanjutnya campuran media tersebut dimasukkan kedalam Polybag besar, dengan berat 5 kg yang telah disiapkan. Sebelum penanaman, terlebih dahulu media disiram dengan air hingga jenuh, lakukan pengacakan dan pemberian label. Jarak tanam antar plot 60 cm (ke samping kanan atau kiri) dan 50 cm (kedepan atau belakang).
Penanaman
Penanaman dilakukan pada sore hari agar bibit tidak mengalami stres akibat suhu yang tinggi. Setiap polybag ditanami satu bibit cabai. Penanaman dilakukan
13 dengan melepaskan medium dalam polybag pembibitan, bibit beserta tanah dimasukan kedalam lubang polybag besar disesuaikan dengan ukuran polybag pembibitan, selanjutnya dilakukan penyiraman.
Pemupukan
Pemupukan dilaksanakan pada saat sebelum mengisi polybag, pupuk Kascing dicampurkan dengan tanah yang akan diisi kedalam polybag sebagai pemupukan dasar.
Perlakuan pupuk kascing yang dicampur dengan Trichoderma Sp. dilakukan dua minggu sekali dihitung setelah bibit dipindahkan ke polybag besar.
Pemasangan Ajir
Pemasangan ajir dilakukan dengan menggunakan bambu, tiap – tiap tanaman ditancapkan bambu berukuran kecil dengan panjang 1 meter, dan bambu tersebut untuk menjadi tumpuan atau penopang tiap tanaman cabai pada Polybag.
Penyiangan
Pemberantasan gulma juga harus diperhatikan karena gulma dapat menimbulkan dampak berbahaya bagi tanaman, yang dapat mengakibatkan munculnya hama atau penyakit pada tanaman yang disebabkan oleh gulma. Oleh karena itu keberadaan gulma pada tanaman sangatlah perlu di berantas keberadaannya. Selain itu juga mencegah terjadinya persaingan dalam memperoleh unsur hara dalam tanah dengan tanaman.
Panen
Umur panen cabai biasanya 70‐90 hari tergantung varietasnya, yang ditandai dengan 60% cabai sudah berwarna merah. Untuk dijadikan benih maka cabai dipanen bila buah sudah menjadi merah semua. Panen pertama cabai dataran rendah sudah dapat dilakukan pada umur 70‐75 hari. Sedang di dataran tinggi panen baru dapat dimulai pada umur 4‐5 bulan. Setelah panen pertama, setiap 3‐4 hari sekali dilanjutkan dengan
14 panen rutin. Biasanya pada panen pertama jumlahnya sedikit di bandingkan dengan jumlah panen berikutnya. Namun setelah panen ketiga hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi. Tanaman cabai dapat dipanen terus‐
menerus hingga berumur 6‐7 bulan.
Cabai yang sudah berwama merah sebagian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen cabainya pada saat masih muda (berwarna hijau).
Pemetikan dilakukan dengan hati‐hati agar percabangan/tangkai tanaman tidak patah.
Variabel pengamatan
Komponen pengamatan dalam percobaan ini antara lain :
1. Tinggi tanaman (cm), diukur pada saat umur tanaman 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST), diukur sampai titik tumbuh tertinggi.
2. Panjang daun (cm), di ukur pada saat umur tanaman 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST)
3. Lebar daun (cm), diukur pada saat umur tanaman 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST)
4. Jumlah daun, diukur pada saat umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST) 5. Jumlah bunga, dihitung pada saat tanaman mulai berbunga umur 30, 45 dan 60
hari setelah tanam (HST).
6. Umur berbunga tanaman (hari)
7. Berat buah pertanaman (g), ditimbang saat panen terakhir. Menimbang semua hasil panen dari panen pertama sampai panen terakhir.
15 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Tinggi Tanaman (cm) Umur 15, 30 dan 45 HST
Hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) 15, 30, 45 Hst dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel Lampiran 1b, 2b dan 3b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing + Trichoderma Sp. dengan perbandingan 500 gr pupuk kascing + 50 gr Trichoderma Sp. (P4) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15, 30, 45 Hst. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman.
Tabel 1. Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) 15, 30 dan 45 Hst.
Perlakuan
Rata Rata
Nilai Sig
15 Hst 30 Hst 45 Hst
P0 13.5c 20.6c 28.6c
> 005
P1 14.8b 21.4b 31.8b
P2 15.6ab 22.1ab 32.6ab
P3 15.9ab 23.2a 34.3ab
P4 16.3a 23.5a 35.6a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Gambar 1. Grafik rata-rata tinggi tanaman cabai rawit
13,5 14,8 15,6 15,9 16,3
20,6 21,4 22,1 23,2 23,5
28,6 31,8 32,6 34,3 35,6
0 10 20 30 40
P0 P1 P2 P3 P4
Tinggi tanaman (cm)
Perlakuan
Grafik Rata-rata Tinggi tanaman
15 Hst 30 Hst 45 Hst
16 Panjang Daun (cm) Umur 15, 30 dan 45 Hst
Hasil pengamatan panjang daun (cm) 15, 30, 45 Hst dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel Lampiran 4b, 5b dan 6b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing + Trichoderma Sp. dengan perbandingan 500 gr pupuk kascing + 50 gr Trichoderma Sp. (P4) berpengaruh nyata terhadap panjang daun pada umur 15, 30 dan 45 Hst. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap panjang daun.
Tabel 4. Rata-rata Panjang Daun (cm) 15, 30 dan 45 Hst
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Gambar 2. Histogram Rata-rata Panjang Daun cabai rawit
0 2 4 6 8 10 12
P0 P1 P2 P3 P4
7,4 7,5 8 8 8,3
7,8 9,3 8,1 9,8 8,3 10,3 8,6 10,9 8,7 11,7
Panjang Daun (cm)
Perlakuan
Histogram Rata-rata Panjang Daun
15 Hst 30 Hst 45 Hst
Perlakuan
Rata Rata
Nilai Sig
15 Hst 30 Hst 45 Hst
P0 7.4b 7.8b 9.3b
> 0,05
P1 7.5b 8.1a 9.8b
P2 8.0a 8.3a 10.3ab
P3 8.0a 8.6a 10.9ab
P4 8.3a 8,7a 11.7a
17 Lebar Daun (cm) Umur 15, 30 dan 45 Hst
Hasil pengamatan lebar daun (cm) 15, 30, 45 Hst dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel Lampiran 7b, 8b, 9b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing + Trichoderma Sp. dengan perbandingan 500 gr pupuk kascing + 50 gr Trichoderma Sp. (P4) berpengaruh nyata terhadap lebar daun pada umur 15, 30 dan 45 Hst. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun.
Tabel 7. Rata-rata Lebar Daun (cm) 15, 30 dan 45 Hst Perlakuan
Rata Rata
Nilai Sig
15 Hst 30 Hst 45 Hst
P0 3.0a 3.5b 4.0b
< 0,05
P1 3.0a 3.6ab 4.1ab
P2 3.0a 3.3b 4.0b
P3 3.1a 3.5ab 4.4ab
P4 3.4a 4.0a 5.0a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Gambar 3. Grafik rata-rata lebar daun cabai rawit
3 3 3 3,1 3,4
3,5 3,6 3,3 3,5 4
4 4,1 4 4,4
5
0 2 4 6 8 10 12 14
P0 P1 P2 P3 P4
Lebar daun (cm)
Perlakuan
Grafik Rata-rata Lebar Daun
45 Hst 30 Hst 15 Hst
18 Jumlah Daun Umur 15, 30 dan 45 HST
Hasil pengamatan jumlah daun (cm) 15, 30, 45 Hst dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel Lampiran 10b, 11b, 12b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing + Trichoderma Sp. dengan perbandingan 500 gr pupuk kascing + 50 gr Trichoderma Sp. (P4) berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 15, 30 dan 45 Hst. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun.
Tabel 10. Rata-rata jumlah Daun (cm) 15, 30 dan 45 Hst Perlakuan
Rata Rata
Nilai Sig
15 Hst 30 Hst 45 Hst
P0 10.1c 30.3c 52.1c
> 0,05
P1 13.3b 37.7b 64.0b
P2 15.8ab 43.5ab 74.1ab
P3 17.4ab 46.5ab 85.7ab
P4 20.9a 50.4a 101.0a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Gambar 4. Grafik rata-rata jumlah daun cabai rawit
10,1 13,3 15,8 17,4 20,9
30,3 37,7 43,5 46,5 50,4
52,1
64
74,1 85,7
101
0 50 100 150 200
P0 P1 P2 P3 P4
Jumlah Daun
Perlakuan
Grafik Rata-rata Jumlah Daun
45 Hst 30 Hst 15 Hst
19 Jumlah Bunga Umur 30, 45 dan 60 HST
Hasil pengamatan jumlah bunga 30, 45, 60 Hst dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 13b, 14b dan 15b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing + Trichoderma Sp. (P3 dan P4) berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga pada umur 30, 45 dan 60 Hst. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun.
Tabel 13. Rata-rata jumlah Bunga (cm) Umur 30, 45 dan 60 Hst
Perlakuan
Rata Rata
Nilai Sig
30 Hst 45 Hst 60 Hst
P0 0.5c 2.9c 6.3c
> 0,05
P1 1.5b 4.1b 8.8b
P2 2.0ab 5.2ab 10.5b
P3 3.5a 6.8ab 12.3ab
P4 3.9a 7.8a 14.2a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Gambar 5. Grafik rata-rata jumlah bunga cabai rawit
0,5 1,5 2
3,5 3,9
2,9
4,1 5,2
6,8 7,8
6,3
8,8
10,5
12,3
14,2
0 2 4 6 8 10 12 14 16
P0 P1 P2 P3 P4
Jumlah bunga
Perlakuan
Grafik Rata-rata Jumlah Bunga
30 Hst 45 Hst 60 Hst
20 Umur Berbunga Tanaman
Hasil pengamatan umur berbunga tanaman (hari) dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel 16b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing +Trichoderma Sp. P4 Memberikan pengaruh sangat nyata terhadap umur berbunga tanaman. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga.
Tabel 16. Rata-rata Umur Berbunga
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Berat Buah Pertanaman (g)
Hasil pengamatan berat buah (g) pertanaman di hitung hingga panen terakihir dan sidik ragamnya di sajikan pada Tabel 17b. Sidik ragamnya menunjukan bahwa pemberian pupuk kascing +Trichoderma Sp. P4 Memberikan pengaruh sangat nyata terhadap berat buah pertanaman. Namun pada P0 tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga.
Tabel 17 : Rata-rata Berat Buah (g)
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf < 0,05
Perlakuan Rata-Rata Nilai Sig
P0 51.67a
> 0.05
P1 45.33ab
P2 34.33b
P3 32.33b
P4 29.33c
Perlakuan Rata-rata Nilai sig
P0 186.73c
> 0,05
P1 196.07b
P2 220.36ab
P4 251.85a
P3 259.36a
21 Pembahasan
Pertumbuhan dan produksi suatu tanaman selain ditentukan oleh factor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan tersebut adalah suplai unsur-unsur hara, tanaman akan tumbuh dengan baik bila semua unsur hara yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah yang cukup seimbang. Dalam keadaan yang sama bila memperoleh unsur hara yang berbeda, menghasilkan tingkat kesuburan tanaman yang berbeda pula, bahkan hingga hasil produksi yang bervariasi.
Percobaan terhadap tanaman Cabai rawit (Capsicum Frustences L.) dengan pengaplikasian pupuk organik Kascing + Trichoderma Sp. Dengan dosis yang berbeda- beda, tentunya memberi pengaruh yang berbeda pula terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman, meskipun dalam jumlah yang tidak signifikan.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan di Kebun Pertanian Universitas Bosowa Makassar, Desa Bonto Ramba Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa tanaman Cabai Rawit secara keseluruhan memperoleh hasil yang variasi setiap perlakuan yang diberikan.
Pengamatan tinggi tanaman menunjukan bahwa pada hasil P3 dan P4 dengan perbandingan 400 g pupuk kascing + 30 g Trichoderma Sp dan 500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp. berpengaruh baik di bandingkan dengan P0, P1 dan P2. Diduga karena dengan perbandingan yang lebih tinggi akan memberi pengaruh yang lebih baik kepada pertumbuhan tanaman.
Pengamatan panjang daun dan lebar daun tanaman menunjukan hasil pertumbuhan pada P2, P3, dan P4 yang berpengaruh baik di bandingkan dengan P0 dan P1 yang hanya memperoleh rata-rata 13,5 cm dan 14,8 cm, sehingga dapat pastikan
22 perbedaan tersebut oleh karena perolehan unsur hara yang sedikit di bandingkan dengan perlakuan yang lain.
Pengamatan jumlah daun tanaman cabai rawit menunjukan hasil berpengaruh baik pada hamper semua perlakuan selain P0 yang sebagai control pada percobaan.
Meskipun terdapat pertbedaan antara perlakuan P1, P2, P3, dan P4, namun tidak begitu signifikan seperti yang di lampirkan pada Tabel 10, Tabel 11 dan Tabel 12. Ini menunjukan kombinasi pupuk organik kascing dengan Trichoderma Sp tidak memberikan perbedaan yang Nampak terhadap jumlah daun tanaman.
Hasil pengamatan jumlah bunga yang di lampirkan pada Tabel 13, Tabel 14 dan Tabel 15 menunjukan P4 memperoleh hasil yang sangat baik dibandingkan P3, P2, P1 dan P0. Pembungaan pada tanaman Cabai rawit dengan kombinasi pupuk organik kascing dan Trichoderma Sp. menampilkan perbedaan berdasarkan dosis pemberian pupuk. Terlihat hasil P0 cendrung paling rendah setiap pengamatan yang dilakukan.
Pengaruh pemberian kascing pada sifat fisik tanah memperbaiki struktur tanah, porositas, permeabilitas, meningkatkan kemampuan menahan ai. Disamping itu kascing dapat memperbaiki kimia tanah seperti meningkatkan kemampuan untuk menyerap kation sebagai sumber hara makro dan mikro (Kartini, 2005).
Pupuk organik kascing merupakan salah satu jenis pupuk organik yaitu pupuk organik yang dibuat dengan stimulator cacing tanah (Lumbricus rubellus). Kotoran cacing (kascing) yang menjadi kompos merupakan pupuk organik yang sangat baik bagi tumbuhan, karena mudah diserap dan mengandung unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman (Ashari, 1995). Penggunaan kascing merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki sifat fisik tanah meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
23 Dalam kaitan dengan percobaan yang dilakukan ini, kascing sebagai pupuk yang baik bagi pertumbuhan tanaman di kombinasi dengan Trichoderma Sp. dengan perbandingan atau dosis yang berbeda-beda. Fungsi Trichoderma Sp. sebagai pupuk dan decomposer tentunya menambah dampak yang baik dan mempercepat proses penyerapan akar tanaman terhadap unsur hara, sehingga memicu produksi tanaman yang maksimal. Berdasarkan pengamatan berat buah menunjukan bahwa produksi tanaman cabai rawit berpengaruh nyata, seperti yang ditunjukan pada tabel 17b.
Dimana P4 dengan rata-rata tertinggi yakni 251,85 g, dan P0 dengan rata-rata 186,73 g, seperti yang ditunjukan pada tabel 17a. Produksi tanaman Cabai rawit ini cendrung baik.
24 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa aplikasi kombinasi pupuk organik Kascing + Trichoderma Sp. pada tanaman cabai rawit, yang memberikan pengaruh terbaik adalah pada P4 (500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp.) kecuali pada berat buah P3 (500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp.) memberi pengaruh terbaik namun tidak berbeda nyata dengan P4.
Saran
Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman Cabai rawit (Capsicum frustences L.) yang baik di sarankan agar menggunakan perbandingan P3 (400 g pupuk kascing + 40 g Trichoderma Sp.) dan P4 (500 g pupuk kascing + 50 g Trichoderma Sp.), namun tetap memperhatikan faktor-faktor yang lain selain memperbaiki media tanam.
25 DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2019, himagroubb.files.wordpress.com//pendahuluan-jurnd. diakses 06 Februari 2019
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya, Penebar Swadaya. Jakarta.
Desa tiga, 2009. Panen Raya Cabe Besar Setinggi 2 meter Di Bandit. Nusa Tenggara Barat.
Montgomerry, D.C.,1991. Pupuk dan Pemupukan.
Mul Mulyani, S.,2010. Peranan Pukuk Kompos.
Kartini, N. L. 2005. Pupuk Kascing Kurangi Pencemaran Lingkungan. Http://
kascing.com/News/2005/5/pupuk - kascing - kurangi - pencemaran lingkungan.
Diakses pada Juli 2018
Palungkun, 1999. Sukses Beternak Cacing Tanah Lumbricus rebellus. Penebar Swadaya.
Samekto, R., 2006. Pupuk kandang. PT. Citra Aji Parama. Yogyakarta.
Santika, 2008. Agribisnis Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wiryanta, W., 2003. Bertanam Cabai Hibrida Secara Intensif. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
26 LAMPIRAN
Gambar Denah Percobaan
U I U II U III
U
S P4
P2
P1
P3
P0
P3
P2 P4
P3 P4
P1 P0
P2 P1
P0
27 Tabel 1a : Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 15 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 13.5 13.8 13.3 40.6 13.5
P1 15.0 14.3 15.0 44.3 14.8
P2 15.8 15.5 15.5 46.8 15.6
P3 16.0 15.7 16.0 47.7 15.9
P4 16.5 16.0 16.3 48.8 16.3
TOTAL 76.8 75.3 76.2 228.3 76.1
Tabel 1b : Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 15 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .185 .093 1.440tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 14.257 3.564 55.404** 3,83 7,00
Galat 8 .515 .064
Total 14 14.957
KK = 6,3 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
28 Tabel 2a : Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 30 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 20.5 20.7 20.7 61.8 20.6
P1 21.5 21.3 21.5 64.3 21.4
P2 22.0 22.3 22.0 66.3 22.1
P3 23.5 23.0 23.0 69.5 23.2
P4 23.7 23.7 23.3 70.6 23.5
TOTAL 111.2 111.0 110.4 332.6 110.9
Tabel 2b : Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 30 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .052 .026 .622tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 17.557 4.389 104.924** 3,83 7,00
Galat 8 .335 .042
Total 14 17.944
KK = 3,1 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
29 Tabel 3a : Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 45 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 28.5 28.5 28.7 85.7 28.6
P1 31.5 31.8 32.0 95.3 31.8
P2 33 32.7 32.3 97.9 32.6
P3
34.5 34.0 34.3 102.8 34.3
P4 36 35.7 35.0 106.7 35.6
TOTAL 163.5 162.6 162.3 488.3 162.8
Tabel 3b : Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 45 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .049 .025 .197tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 85.620 21.405 170.558** 3,83 7,00
Galat 8 1.004 .126
Total 14 86.673
KK = 6,3 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
30 Tabel 4a : Hasil Pengamatan Panjang Daun (cm) 15 HST
Tabel 4b : Sidik Ragam Pengamatan Panjang Daun (cm) 15 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .217 .109 .885tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 1.697 .424 3.455** 3,83 7,00
Galat 8 .983 .123
Total 14 2.897
KK = 12,6 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 7.3 7.5 7.5 22.3 7.4
P1 7.0 7.5 8.0 22.5 7.5
P2 8.0 7.9 8.0 23.9 8.0
P3 8.0 8.0 8.0 24.0 8.0
P4 8.0 9.0 8.0 25.0 8.3
TOTAL 38.3 39.9 39.5 117.7 39.2
31 Tabel 5a : Hasil Pengamatan Panjang Daun (cm) 30 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 7.5 8.0 8.0 23.5 7.8
P1 8.0 8.0 8.2 24.2 8.1
P2 8.0 9.0 8.0 25.0 8.3
P3 8.5 9.0 8.7 26.2 8.7
P4 8.7 9.0 8.2 25.9 8.6
TOTAL 40.7 43.0 41.1 124.8 41.6
Tabel 5b : Sidik Ragam Pengamatan Panjang Daun (cm) 30 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .208 .104 .753tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 1.711 .428 3.095** 3,83 7,00
Galat 8 1.105 .138
Total 14 3.024
KK = 13 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
32 Tabel 6a : Hasil Pengamatan Panjang Daun (cm) 45 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 9.0 9.0 10.0 28.0 9.3
P1 9.5 10.0 9.8 29.3 9.8
P2 10.0 10.5 10.3 30.8 10.3
P3 11.0 10.7 11.0 32.7 10.9
P4 12.0 12.0 11.0 35.0 11.7
TOTAL 51.5 52.2 52.1 155.8 51.9
Tabel 6b : Sidik Ragam Pengamatan Panjang Daun (cm) 45 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .665 .333 2.712tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 10.231 2.558 20.851** 3,83 7,00
Galat 8 .981 .123
Total 14 11.877
KK = 10,95 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
33 Tabel 7a : Hasil Pengamatan Lebar Daun (cm) 15 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 3.0 3.0 3.0 9.0 3.0
P1 3.0 3.0 3.0 9.0 3.0
P2 3.0 3.0 3.0 9.0 3.0
P3 3.1 3.0 3.1 9.2 3.1
P4 3.5 3.4 3.4 10.3 3.4
TOTAL 15.6 15.4 15.5 46.5 15.5
Tabel 7b : Sidik Ragam Pengamatan Lebar Daun (cm) 15 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .004 .002 1.714tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 .427 .107 91.429** 3,83 7,00
Galat 8 .009 .001
Total 14 .440
KK = 1,7 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
34 Tabel 8a : Hasil Pengamatan Lebar Daun (cm) 30 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 3.5 3.5 3.5 10.5 3.5
P1 3.6 3.6 3.6 10.8 3.6
P2 3.3 3.2 3.3 9.8 3.3
P3 3.6 3.6 3.2 10.4 3.5
P4 4.0 4.0 4.0 12.0 4.0
TOTAL 18.0 17.9 17.6 53.5 17.8
Tabel 8b : Sidik Ragam Pengamatan Lebar Daun (cm) 30 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .033 .017 1.667tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 .880 .220 22.000** 3,83 7,00
Galat 8 .080 .010
Total 14 .993
KK = 5,5 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
35 Tabel 9a : Hasil Pengamatan Lebar Daun (cm) 45 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
PO 4.0 4.0 4.0 12.0 4.0
P1 4.2 4.0 4.0 12.2 4.1
P2 4.0 4.1 4.0 12.1 4.0
P3 4.4 4.3 4.4 13.1 4.4
P4 5.0 5.0 5.0 15.0 5.0
TOTAL 21.6 21.4 21.4 64.4 21.5
Tabel 9b : Sidik Ragam Pengamatan Lebar Daun (cm) 45 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .017 .009 3.059tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 2.129 .532 187.882** 3,83 7,00
Galat 8 .023 .003
Total 14 2.169
KK = 2,6 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
36 Tabel 10a : Hasil Pengamatan Jumlah Daun 15 HST
Tabel 10b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Daun 15 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .149 .075 .615tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 202.309 50.577 416.846** 3,83 7,00
Galat 8 .971 .121
Total 14 203.429
KK = 8,9 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 10 10 10.2 30.2 10.1
P1 13.4 13.6 13 40 13.3
P2 15.4 15.8 16.2 47.4 15.8
P3 17.4 17.2 17.6 52.2 17.4
P4 20.4 21 21.4 62.8 20.9
TOTAL 76.6 77.6 78.4 232.6 77.5
37 Tabel 11a : Hasil Pengamatan Jumlah Daun 30 HST
Tabel 11b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Daun 30 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .533 .267 1.818tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 740.123 185.031 1261.573** 3,83 7,00
Galat 8 1.173 .147
Total 14 741.829
KK = 6,3 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 30.2 30.4 30.4 91 30.3
P1 37.6 37.8 37.8 113.2 37.7
P2 43.6 43.8 43.2 130.6 43.5
P3 46.2 46.8 46.4 139.4 46.5
P4 49.6 50.4 51.2 151.2 50.4
TOTAL 207.2 209.2 209.0 625.4 208.5
38 Tabel 12a : Hasil Pengamatan Jumlah Daun 45 HST
Tabel 12b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Daun 45 HST
KK = 4,5 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 52 52.2 52 156.2 52.1
P1 64.2 64.2 63.6 192 64.0
P2 74 74.2 74.2 222.4 74.1
P3 86.4 85.8 85 257.2 85.7
P4 100.8 101.4 100.8 303 101.0
TOTAL 377.4 377.8 375.6 1130.8 376.9
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .485 .243 1.876tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 4314.437 1078.609 8339.763** 3,83 7,00
Galat 8 1.035 .129
Total 14 4315.957
39 Tabel 13a : Hasil Pengamatan Jumlah Bunga 30 HST
Tabel 13b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Bunga 30 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .016 .008 .194tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 22.837 5.709 138.129** 3,83 7,00
Galat 8 .331 .041
Total 14 23.184
KK = 13,4 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 0.4 0.6 0.6 1.6 0.5
P1 1.4 1.4 1.8 4.6 1.5
P2 2.0 2.0 2.0 6.0 2.0
P3 3.6 3.2 3.6 10.4 3.5
P4 3.6 4.0 4.0 11.6 3.9
TOTAL 11.0 11.2 12.0 34.2 11.4
40 Tabel 14a : Hasil Pengamatan Jumlah Bunga 45 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 2.8 3.0 2.8 8.6 2.9
P1 4.2 4.2 4.0 12.4 4.1
P2 5.2 5.2 5.2 15.6 5.2
P3 6.8 6.8 6.8 20.4 6.8
P4 7.8 7.4 8.2 23.4 7.8
TOTAL 26.8 26.6 27 80.4 26.8
Tabel 14b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Bunga 45 HST
SK DB JK KT F.hit F.tabel
0,05 0,01
Kelompok 2 .064 .032 .828tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 47.323 11.831 305.966** 3,83 7,00
Galat 8 .309 .039
Total 14 47.696
KK = 8,3 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
41 Tabel 15a : Hasil Pengamatan Jumlah Bunga 60 HST
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 6.6 6.0 6.4 19.0 6.3
P1 8.8 8.8 8.8 26.4 8.8
P2 10.6 10.4 10.4 31.4 10.5
P3 12.0 12.4 12.4 36.8 12.3
P4 14.0 14.0 14.6 42.6 14.2
TOTAL 52.0 51.6 52.6 156.2 52.1
Tabel 15b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Bunga 60 HST
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 2 .037 .019 .286tn 4,46 8,64
Perlakuan 4 111.077 27.769 425.041** 3,83 7,00
Galat 8 .523 .065
Total 14 111.637
KK = 7,7 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
42 Tabel 16a: Hasil Pengamatan Umur Berbunga (hari)
Tabel 16b : Sidik Ragam Pengamatan Umur Berbunga (hari)
SK DB JK KT F.hit
F.tabel 0,05 0,01
Kelompok 4 19.6 4.9 0.99tn 4,46 8,64
Perlakuan 2 1078.267 539.1333 108.55** 3,83 7,00
Galat 8 39.73 4.97
Total 14 1137.60
KK = 5,8 %
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 49 52 54 155 51.67
P1 45 44 47 136 45.33
P2 34 37 32 103 34.33
P3 32 31 34 97 32.33
P4 26 29 33 88 29.33
TOTAL 186 193 200 579 193.00
43 Tabel 17a : Hasil Pengamatan Berat Buah (gr)
PERLAKUAN
ULANGAN
JUMLAH RATA-RATA
I II III
P0 85.74 164.4 310.06 560.2 186.73
P1 89.92 172.48 325.82 588.22 196.07
P2 100.945 193.965 366.17 661.08 220.36
P3 124.38 225.94 427.76 778.08 259.36
P4 115.34 222.04 418.16 755.54 251.85
TOTAL 516.325 978.825 1847.97 3343.12 1114.37
Tabel 17b : Sidik Ragam Pengamatan Berat Buah (gr)
SK DB JK KT F.hitung
F.tabel 0,05 0,01 Kelompok 2 182839.85 91419.92 259.14** 4,46 8,64 Perlakuan 4 12604.16 3151.04 8.93** 3,83 7,00
Galat 8 2822.31 352.79
Total 14 198266.32
KK : 8.43%
tn = tidak berpengaruh nyata
**= berpengaruh sangat nyata
44
GAMBAR
Gambar 1. Benih Cabai Rawit Dewata F1
Gambar 2. Pupuk Kascing
45 Gambar 3. Media tanam cabai Rawit
Gambar 4. Trichoderma Sp.
46 Gambar 5. Pemindahan bibit Cabai Rawit ke Polybag Besar
Gambar 6. Gambar Umur Tanaman 30 Hst
47 Gambar 7. Pengukuran Tinggi Tanaman 14 Hst
Gambar 8. Pengukuran Tinggi Tanaman 30 Hst
48 Gambar 9. Pengukuran Panjang Daun
Gambar 10. Pengukuran lebar Daun
49 Gambar 11. Buah yang terkena penyakit busuk buah
Gambar 12. Pengukuran tinngi tanaman 45 Hst