• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Tanaman Ginseng Jawa yang Dipengaruhi Volume Penyiraman

N/A
N/A
rina putri johan

Academic year: 2023

Membagikan "Pertumbuhan Tanaman Ginseng Jawa yang Dipengaruhi Volume Penyiraman"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PASPALUM : Jurnal Ilmiah Pertanian

Vol. 10 No. 2 Bulan September Tahun 2022

DOI: http://dx.doi.org/10.35138/paspalum.v10i2.445

Pertumbuhan Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn) yang Dipengaruhi Volume Penyiraman

Intan Nurcahya, Visi Tinta Manik, Nahiqal Ilham Matira, Dedi Natawijaya, dan Tini Sudartini Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi

[email protected]

(Received: 08-02-2022; Reviewed: 09-15-2022 Published: 09-30-2022)

ABSTRACT

Javanese ginseng (Talinum paniculatum Gaertn) is one of the medicinal plants which its roots (tubers) and leaves can be used as a medicine. The productivity of javanese ginseng is influenced by the availability of water.

The purpose of this study was to determine the growth of javanese ginseng under the differences of watering volume. Watering volume treatment consisted of 7 treatments with 4 replications using a Randomized Block Design (RBD). Watering volume treatment consisted of 80% of field capacity (control), 50% of field capacity, 60% of field capacity, 70% of field capacity, 90 of field capacity, 100% of field capacity and 110% of field capacity. Watering volume treatment on javanese ginseng gave significantly different effect on plant height, number of leaves, root length, wet weight, and chlorophyll content, while the insignificant difference was shown in the number of stomata and relative moisture content. The best growth for plant height, number of leaves, root length, wet weight and chlorophyll content of javanese ginseng was shown in the treatment of watering volume of 50% of field capacity.

Keywords: field capacity; javanese ginseng; watering volume

ABSTRAK

Tanaman ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn) adalah salah satu tanaman obat yang dapat dimanfaatkan akar (umbi) dan daunnya sebagai obat. Produktivitas tanaman ginseng jawa salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan air. Tujuan dari penelitan ini yaitu untuk mengetahui pertumbuhan tanaman ginseng jawa yang dipengaruhi oleh perbedaan volume penyiraman. Perlakuan volume penyiraman terdiri dari 7 perlakuan dengan 4 kali ulangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan volume penyiraman terdiri dari 80%

dari kapasitas lapang (kontrol), 50% dari kapasitas lapang, 60% dari kapasitas lapang, 70% dari kapasitas lapang, 90 dari kapasitas lapang, 100% dari kapasitas lapang dan 110% dari kapasitas lapang. Perlakuan volume penyiraman pada tanaman ginseng jawa memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah, dan kadar klorofil, sedangkan perbedaan yang tidak nyata ditunjukkan pada jumlah stomata dan kadar air relatif daun. Pertumbuhan terbaik untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah dan kadar klorofil pada tanaman ginseng jawa diitunjukkan pada perlakuan volume penyiraman 50% dari kapasitas lapang.

Keywords: ginseng jawa; kapasitas lapang; volume penyiraman

ISSN : 2088-5113 (Printed) ISSN : 2598-0327 (electric)

(2)

PENDAHULUAN

Sumber daya alam di Indonesia begitu berlimpah. Indonesia memiliki berbagai macam hasil bumi yang salah satunya didapatkan dari hasil pertanian. Pertanian mencakup kegiatan budidaya pada berbagai macam komoditas tanaman salah satunya tanaman obat. Tanaman obat merupakan tanaman yang bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan penyakit. Hal ini dikarenakan tanaman obat mengandung bahan aktif yang dapat diperoleh dari salah satu atau semua bagian tanaman tertentu (Dalimarta (2000), Wijayakusuma (2008) dalam (Sada &

Tanjung, 2010). Terdapat 80.000 spesies tanaman obat di dunia dari 250.000 spesies tumbuhan tingkat tinggi yang ada dan 5000 diantaranya berfungsi utuk menyembuhkan penyakit (Joy et al., 1998).

Salah satu tanaman obat yang dapat dibudidayakan di Indonesia adalah ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn). Ginseng jawa dapat dimanfaatkan daun dan akar (umbi) sebagai bahan obat. Teknologi budidaya untuk tanaman ginseng jawa belum banyak tersedia ditingkat petani maupun perusahaan sehingga belum banyak dibudidayakan. Faktor penting dalam budidaya tanaman ginseng jawa seperti kondisi iklim, cara budidaya, kesuburan tanah bahkan faktor ketersediaan air menjadi hal yang mempengaruhi dalam peningkatan produktivitas tanaman ginseng jawa (Darwati et al. (2000) dalam (Solichatun et al., 2005)).

Kebutuhan air bagi tanaman harus dipenuhi dengan adanya ketersediaan air yang cukup. Peran air bermacam-macam yaitu sebagai pelarut unsur hara dari tanah ke dalam tanaman, sebagai penyusun utama dari protoplasma, transportasi fotosintat dari sumber (source) ke lumbung (sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan pembukaan stomata, dan pengatur suhu bagi tanaman (Salehi-Lisar & Bakhshayeshan- Agdam, 2016).

Air menyumbang antara 80-95 % dari biomassa segar tanaman non-kayu dan memainkan peran penting dalam banyak aspek

pertumbuhan tanaman, perkembangan, dan metabolisme (Hirt et al., (2004) dan Salehi- lisar (2012) dalam (Salehi-Lisar &

Bakhshayeshan-Agdam, 2016)). Menurut Levitt (1980) dalam (Solichatun et al., 2005) air yang dibutuhkan oleh tanaman bergantung pada fase pertumbuhan dan jenis tumbuhannya.

Laju evapotranspirasi tanaman akan melebihi laju absorbsi air yang disebabkan kurangnya pasokan air di daerah perakaran pada musim kemarau sedangkan pada musim hujan, tanaman akan mengalami kondisi jenuh air.

Iklim tropis di Indonesia menyebabkan musim terbagi dua yaitu musim hujan dan musim kemarau. Perubahan iklim yang terjadi saat ini menyebabkan adanya pergeseran musim yang mengakibatkan lamanya musim kemarau dan semakin mundurnya musim hujan ataupun sebaliknya (Rahayu et al., 2018). Dampak dari musim kemarau yang panjang terhadap tanaman yaitu tanaman akan mengalami kekeringan sedangkan musim hujan yang panjang dapat menyebabkan tanaman tergenang air. Air menjadi salah satu faktor pembatas tanaman. Volume air yang terlalu sedikit akan mengakibatkan cekaman kekeringan sedangkan volume air yang terlalu banyak akan mengakibatkan genangan dan menimbulkan cekaman aerasi.

Menurunnya jumlah daun, luas daun dan menutupnya stomata pada tanaman Vicia faba yang diberi perlakuan cekaman kekeringan menunjukkan pengaruh terhadap fisiologis daun (Hidayati (1996) dalam (Sukarman et al., 2020)). Meningkatnya cekaman kekeringan akan menurunkan respon fisiologis akar (bobot kering akar, jumlah dan efektivitas bintil akar).

Proses pertumbuhan dan terjadinya perubahan pada distribusi asimilat akan terganggu apabila terjadi cekaman kekeringan yang mengakibatkan berkurangnya ukuran tanaman, perakaran, luas daun, dan hasil tanaman (Miglietta et al. (1988) dalam (Kandowangko, 2019)

Cekaman genangan pada tanaman jagung dapat mengakibatkan penurunan, penghambatan daya tumbuh pada tanaman yang berpengaruh terhadap metabolisme tanaman akibat

(3)

terhambatnya suplai oksigen melalui akar (Suwarti et al., 2013).

METODE

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2021 di rumah kaca dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi dengan ketinggian tempat 351 mdpl.

Alat penelitian yang digunakan adalah, tray semai, polybag, cangkul, kored, tali rapia, toples, gelas ukur, penggaris, ember, autoklaf, timbangan digital, oven, cutter, cawan petri, klorofil meter, kutek bening, tisu, mikroskop, neraca analitik, tabung ukur, cover glass, gelas objek, erlenmeyer, pipet, plastik solasiban.

Bahan penelitian yang digunakan adalah benih ginseng jawa berasal dari Bumi Herbal Dago, air, tanah, aquadest, pupuk urea, SP36 dan KCl.

Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan metode eksperimen digunakan sebagai rancangan penelitian. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji F pada taraf nyata 5% dan uji jarak berganda Duncan dengan taraf nyata 5%. Penelitian terdiri dari 7 perlakuan volume penyiraman (50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%, dan 110% kapasitas lapang) dengan 4 ulangan.

A = 80% dari kapasitas lapang (Kontrol) B = 50% dari kapasitas lapang

C = 60% dari kapasitas lapang D = 70% dari kapasitas lapang E = 90% dari kapasitas lapang F = 100% dari kapasitas lapang G = 110% dari kapasitas lapang

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman ginseng jawa diamati pada 2 Minggu Setelah Tanam (MST), 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST. Dari hasil analisis statistik terlihat bahwa pemberian

volume penyiraman pada tinggi tanaman umur 2 MST tidak berbeda nyata. Hasil analisis yang berbeda nyata ditunjukkan pada tinggi tanaman 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST (Gambar 1).

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman pada 2 MST, 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST

Perlakuan B menunjukkan tinggi tanaman tertinggi sedangkan perlakuan E menunjukkan tinggi tanaman terendah. Semua perlakuan pada umur 2 MST masih menunjukkan pertumbuhan yang seragam namun mulai umur 4 MST, tanaman sudah menujukkan perbedaan dalam merespon pemberian volume penyiraman. Perlakuan B memenuhi kebutuhan air yang terbaik bagi pertumbuhan tanaman ginseng jawa dibandingkan perlakuan E. Tinggi tanaman dengan perlakuan volume penyiraman diatas 60% dari kapasitas lapang menunjukkan tinggi tanaman yang rendah, hal ini dikarenakan kondisi tanah yang mengalami kelebihan air, mengakibatkan tanaman tidak mampu melakukan proses metabolisme secara optimal.

Jumlah Daun

Pengamatan jumlah daun dilakukan pada 2 MST, 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST.

Hasil analisis statistik jumlah daun pada 2 MST tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, sedangkan pada 4 MST, 6 MST dan 8 MST jumlah daun menunjukkan perbedaan nyata (Gambar 2).

(4)

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun pada 2 MST, 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST

Perlakuan B menunjukkan jumlah daun tertinggi berkisar 7,15-15,25 sedangkan perlakuan E menunjukkan jumlah daun terendah. Pada perlakuan volume penyiraman diatas 60% dari kapasitas lapang terjadi pengurangan jumlah daun yang dimulai dari umur 6 MST. Hal ini dikarenakan sampai dengan umur 4 MST, tanaman masih membutuhkan volume air yang cukup tinggi untuk melakukan proses fotosintesis namun setelah 4 MST, volume penyiraman pada perlakuan E yang cukup tinggi, tidak lagi sesuai dengan kebutuhan tanaman yang menyebabkan kondisi anaerob. Konsentrasi oksigen rendah di akar akan menghambat respirasi akar dan mengakibatkan terbatasnya pasokan energi untuk penyerapan nutrisi dan transportasi (Boru et al., 2003).

Panjang Akar

Pengamatan panjang akar dilakukan pada 10 MST. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian volume penyiraman menunjukkan perbedaan nyata pada panjang akar (Gambar 3).

Gambar 3. Grafik Panjang Akar 10 MST

Perlakuan B menunjukkan panjang akar tertinggi 18,97 sedangkan perlakuan E menunjukkan panjang akar terendah 11,05.

Kondisi air yang berlebih, menyebabkan kondisi anaerob dalam tanah sehingga mengakibatkan terganggunya metabolisme tanaman. Kurangnya energi pada saat proses metabolisme dapat mengganggu terhadap pengangkutan hasil fotosintesis terutama ke ujung akar (Safrizal et al., 2008).

Berat Basah

Berat basah tanaman diamati pada 10 MST. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian volume penyiraman berbeda nyata terhadap berat basah tanaman (Gambar 4).

Gambar 4. Grafik Berat Basah pada 10 MST

(5)

Perlakuan B menunjukkan berat basah tertinggi sedangkan perlakuan E menunjukkan berat basah terendah. Komponen utama dari cekaman kelebihan air adalah kekurangan oksigen (Christianson et al., 2010). Kelebihan air juga menyebabkan perubahan fisiologis pada tanaman. Perubahan fisiologis termasuk pengurangan fotosintesis. Perubahan ini mempengaruhi cadangan karbohidrat dan translokasi (Parent et al., 2008).

Jumlah Stomata

Pengamatan jumlah stomata dilakukan pada 10 MST. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian volume penyiraman tidak menunjukkan perbedaan nyata pada jumlah stomata (Gambar 5).

Gambar 5. Grafik Jumlah Stomata pada 10 MST

Jumlah stomata antar perlakuan tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan semua perlakuan volume penyiraman mampu mempertahankan penambahan jumlah stomata.

Jumlah stomata berbanding terbalik dengan ukuran stomata.

Kadar Klorofil

Pengamatan kadar klorofil dilakukan pada 8 MST, 9 MST dan 10 MST. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian volume penyiraman menunjukkan berbeda nyata terhadap kadar klorofil (Gambar 6).

Perlakuan B menunjukkan kadar klorofil tertinggi sedangkan perlakuan E menunjukkan kadar klorofil terendah. Pemberian perlakuan volume penyiraman yang tinggi mengakibatkan kadar klorofil tanaman ginseng jawa

berkurang, hal ini berkolerasi dengan jumlah daun tanaman ginseng jawa yang juga menghasikan jumlah daun yang lebih rendah dibandingkan dengan kadar klorofil dan jumlah daun yang diberi perlakuan volume pemyiraman air yang rendah. Menurut (Lee et al., 2014) penuaan dini pada daun dan penurunan kandungan klorofil daun secara signifikan disebabkan oleh kelebihan air.

Gambar 6. Grafik Kadar Klorofil pada 10 MST

Kadar Air Relatif Daun

Pengamatan kadar air relatif daun dilakukan pada 10 MST. Hasil analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan nyata pada kadar air relatif daun setelah pemberian volume penyiraman (Gambar 7).

Gambar 7. Grafik Kadar Air Relatif Daun pada 10 MST

Kadar air relatif daun pada semua perlakuan tidak berbeda nyata karena volume penyiraman yang diberikan tidak berpengaruh

(6)

secara signifikan terhadap kadar air relatif daun.

KESIMPULAN

Perlakuan volume penyiraman pada tanaman ginseng jawa menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman (4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST), jumlah daun (4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST), panjang akar 10 MST, berat basah 10 MST, dan kadar klorofil 10 MST, sedangkan perbedaan yang tidak nyata ditunjukkan pada jumlah stomata dan kadar air relatif daun.

Pertumbuhan terbaik untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah dan kadar klorofil pada tanaman ginseng jawa diitunjukkan pada perlakuan volume penyiraman 50% dari kapasitas lapang.

DAFTAR PUSTAKA

Boru, G., Vantoai, T., Alves, J., Hua, D., &

Knee, M. 2003. Responses of Soybean to Oxygen Deficiency and Elevated Root- Zone Carbondioxide Concentration.

Annals of Botany, 91(4), 447–453.

https://doi.org/10.1093/aob/mcg040 Christianson, J. A., Llewellyn, D. J., Dennis,

E. S., & Wilson, I. W. 2010. Global Gene Expression Responses to Waterlogging in Roots and Leaves of Cotton (Gossypium hirsutum L.). Plant and Cell Physiology, 51(1), 21–37.

https://doi.org/10.1093/pcp/pcp163 Joy, P. P., Thomas, J., Mathew, S., & Skaria,

B. P. 1998. Importance and Scope. In Medicinal Plants (1st ed.). Kerala Agricutural University.

Kandowangko, N. Y. 2019. Solusi Kekeringan Tanaman Jagung (Pemanfaatan Mikroba Azospirillum dan Mikoriza Arbuskula) (1st ed.). Ideas Publishing.

Lee, Y. H., Kim, K. S., Jang, Y. S., Hwang, J.

H., Lee, D. H., & Choi, I. H. 2014.

Global Gene Expression Responses to Waterlogging in Leaves of Rape Seedlings. Plant Cell Reports, 33(2), 289–299. https://doi.org/10.1007/s00299- 013-1529-8

Parent, C., Capelli, N., Berger, A., Crèvecoeur, M., & Dat, J. F. 2008. An Overview of Plant Responses to Soil Waterlogging An Overview of Plant Responses to Soil Waterlogging. Plant Stress, 2(1), 20–27.

Rahayu, N. D., Sasmito, B., & Bashit, N.

2018. Analisis Pengaruh Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) terhadap Curah Hujan di Pulau Jawa. Jurnal Geodesi Undip, 7(1), 57–67.

https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/g eodesi/article/view/19299/18313

Sada, J. T., & Tanjung, R. H. R. 2010.

Keragaman Tumbuhan Obat Tradisional di Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara, Kabupaten Supiori – Papua.

Jurnal Biologi Papua, 2(2), 39–46.

https://doi.org/10.31957/jbp.560

Safrizal, Santosa, E., & Bakhtiar. 2008.

Pengaruh Penggenangan Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Cabai.

J.Floratek, 3, 61–67.

Salehi-Lisar, S. Y., & Bakhshayeshan-Agdam, H. 2016. Drought Stress in Plants : Causes , Consequences , and Tolerance.

In Drought Stress Tolerance in Plants (Vol. 1, pp. 1–16). Springer, Cham.

https://doi.org/10.1007/978-3-319- 28899-4_1

Solichatun, Anggarwulan, E., & Mudyantini, W. 2005. Pengaruh Ketersediaan Air terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Bahan Aktif Saponin Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn).

Biofarmasi, 3(2), 47–51.

https://doi.org/10.13057/biofar/f030203 Sukarman, Darwati, I., & Rusmin, D. 2020.

Karakter Morfologi dan Fisiologi Tapak Dara (Vinca rosea L.) pada Beberapa Cekaman Air. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 6(2), 50.

https://doi.org/10.21082/jlittri.v6n2.2000.

50-54

Suwarti, Iriani, N., & Pabbage., M. S. 2013.

Seleksi Plasma Nutfah Jagung terhadap Cekaman Genangan Air. Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 116–132.

Referensi

Dokumen terkait

Interaksi antara perlakuan pemberian pupuk dan penyiraman leri memberikan pengaruh nyata terhadap berat basah tanaman bayam merah tetapi tidak pada tinggi dan

Pengaruh perlakuan jarak waktu penyiraman pada rata-rata jumlah daun tanaman ubi kayu umur 8 dan 16 minggu setelah tanam (MST).. Pengaruh perlakuan jarak waktu penyiraman pada

Sidik Ragam Jumlah Helaian Daun (helai) Umur 3 MST pada Perlakuan Varietas dan Frekuensi Penyiraman terhadap. Tanaman Bawang

Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa frekuensi penyiraman (P) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, sebagaimana ditunjukkan

Berdasarkan sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan varietas berbeda nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST s/d 8 MST, sedangkan perlakuan pupuk serta interaksi antara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tingkat salinitas air penyiraman menurunkan pertumbuhan tanaman turi dan lamtoro yang dicerminkan oleh tinggi tanaman namun

Hasil penelitian mengenai jumlah daun, tinggi tanaman dan bobot kering daun gugur pada volume penyiraman yang berbeda disajikan pada Tabel 1... JURNAL JUKIM Vol 2

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis pengaruh aplikasi vermikompos dan volume penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pre nursery dapat diambil kesimpulan yaitu,tidak