p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
784 PERUBAHAN KUALITAS BERAS SELAMA MASA PENYIMPANAN
Faizah Mahi1*, Nurul Mukhlishah2, Herawaty3, Harlina4, Rosmiati5 Corresponding author: [email protected] ,
1,2,5 Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia Timur
3 Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Makassar
4 Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia Timur
Abstrak
Penyimpanan beras merupakan suatu tahap untuk menentukan kondisi ketersediaan beras dan menjamin kualitas beras. Selama proses penyimpanan, beras mengalami proses penyusutan kualitas maupun kuantitas karena adanya perubahan fisik, kimiawi, bahkan biologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kualitas beras selama proses penyimpanan dengan mengidentifikasi beberapa aspek. Aspek yang akan dianalisis antara lain kadar air, butir kepala, menir, patah, dan kuning, serta water uptake dan perkembangan Sitophilus oryzae. Pada proses pengamatan dan analisis akan menggunakan tiga jenis beras, yaitu beras A (Medium 25%), beras B (Medium 20%) dan beras C (Premium 15%). Beras tersebut ditempatkan dalam karung plastik berisi 10 kg dan disimpan pada keadaan ambient (temperatur 29–32°C dan kelembaban 65–95%).
Kualitas beras diamati setiap 15 hari, sedangkan pertumbuhan kutu diamati setiap minggu. Hasil menunjukkan bahwa kadar air beras jenis A dan B, dengan nilai awal <13,5%, mengalami kenaikan 0,03 %/hari sampai mendekati 14,5%, sementara jenis C dengan kadar air awal 15,5%, relatif konstan. Apabila beras memiliki kadar air >14% maka akan mengalami degradasi akibat reaksi maillard sehingga menyebabkan penjamuran dan terjadi warna kuning, penurunan water uptake, serta butir patah dan menir akan meningkat. Populasi kutu juga dapat meningkat dengan kecepatan 3-4 ekor/150gram selama satu minggu. Berdasarkan hal tersebut ditegaskan bahwa kadar air beras yang disimpan harus <14%, dan kelembaban udara di unit penyimpan harus diperhatikan serendah mungkin dengan persentase ≤ 65%.
Keyword: kualitas beras, penyimpanan, water uptake
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
785 ANALYSIS OF CHANGES IN RICE QUALITY DURING THE STORAGE PERIOD
Abstract
Rice storage is a stage to determine the condition of rice availability and ensure rice quality.
During the storage process, rice undergoes a process of shrinkage in quality and quantity due to physical, chemical and biological changes. This study aims to analyze changes in the quality of rice during the storage process by identifying several aspects. Aspects to be analyzed include water content, grain heads, groats, fracture, and yolk, as well as water uptake and development of Sitophilus oryzae. In the observation and analysis process, three types of rice will be used, namely rice A (Medium 25%), rice B (Medium 20%) and rice C (Premium 15%). The rice is placed in 10 kg plastic sacks and stored at ambient conditions (temperature 29–32°C and humidity 65–95%). Rice quality was observed every 15 days, while the growth of fleas was observed every week. The results showed that the water content of types A and B rice, with an initial value of <13.5%, increased by 0.03%/day to close to 14.5%, while type C with an initial moisture content of 15.5% was relatively constant. If rice has a moisture content of >14%, it will experience degradation due to the Maillard reaction, causing mildew and a yellow color, decreased water uptake, and increased broken grains and groats. The flea population can also increase at a rate of 3-4 heads/150 grams for one week. Based on this, it is emphasized that the moisture content of stored rice must be <14%, and the humidity in the storage unit must be kept as low as possible with a percentage of ≤ 65%.
Keywords: rice quality, storage, water uptake
PENDAHULUAN
Pertanian organik merupakan salah satu strategi alternatif untuk menyelesaikan persoalan lingkungan (Mahanani, 2021). Di dalam pengembangan produksi pangan pencemaran tanah, air dan udara merupakan masalah serius karena mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan dan berkurangnya sumber daya alam serta penurunan produktivitas tanah (Laylah & Samsudi, 2014).
Pertanian dengan ketergantungan bahan kimia yang cukup besar pada pupuk dan bahan pestisida mempengaruhi kualitas dan keamanan bahan pangan yang akan dihasilkan, kondisi kesehatan dan kehidupan lainnya (Ratnawati et al., 2013). Pengelolaan gabah organik dapat menjadi serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan kualitas beras organik yang bermutu tinggi. Proses pengolahan gabah organik meliputi proses penerimaan hasil panen, pengeringan, pembersihan dan sortasi, pengujian hasil panen, pengemasan dan terakhir adalah penyimpanan
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
786 beras tersebut. Setiap kegiatan dari rangkaian proses pengolahan beras organik tersebut akan berpengaruh pada mutu maupun kualitas beras organik yang dihasilkan (Nurrahman, 2005).
Penyimpanan beras dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan kondisi gabah agar tetap baik dalam penyimpanan dalam jangka waktu panjang. Pengolahan dan penyimpanan beras yang umumnya akan menyebabkan kerusakan pada beras, akibat tumbuh jamur serta munculnya beberapa binatang yang merusak beras seperti tikus dan serangga sehingga akan menyebabkan mutu dan kualitas beras menjadi turun. Penyimpanan dalam karung juga bertujuan untuk memudahkan identifikasi stok bahan yang disimpan. Pemeriksaan gabah dapat dilakukan setiap saat sehingga sanitasi dan kontrol perubahan cuaca dapat dilakukan lebih efektif (Hawa et al., 2018).
Aspek yang menjadi perhatian utama penataan karung antara lain sistem tumpukan dengan komposisi jumlah dan ukuran dan disertai adanya fumigasi, harus menggunakan palet yang dapat membantu sirkulasi udara, mencegah paparan langsung karung dan lantai yang menyebabkan lembab pada karung dan dapat mencegah kerusakan lantai, serta harus memperhatikan kapasitas gudang penyimpanan beras yang berpengaruh pada kualitas dan mutu fisik beras (Rahman et al., 2018). Mutu dari proses hasil penggilingan dapat diketahui dalam nilai derajat sosoh, ukuran dan karakter butir padi yang dihasilkan. Pada umumnya semakin tinggi nilai dari derajat sosoh, maka persentase kondisi beras patah menjadi besar. Ukuran butir beras hasil penggilingan dibedakan menjadi beras utuh, beras patah, dan beras menir (Siregar et al., 2021). Proses penyimpanan beras menjadi kegiatan yang sangat penting pada tahap pasca panen. Penyimpanan beras dilakukan supaya dapat mengetahui akumulasi cadangan beras secara musiman, untuk ketersediaan kebutuhan beras masyarakat.
Menurut Pitaloka et al., (2012) bahwa mutu beras selama penyimpanan sangat dipengaruhi oleh kualitas awal bahan baku, sistem penyimpanan, serta adanya bahan pengawet selama proses penyimpanan seperti penyemprotan insektisida, fosfin, ataupun gas karbondioksida. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil riset dari Nuraini & Widanti (2020), yang menyatakan bahwa sistem aerasi dengan kelembaban udara tertentu memberikan pengaruh positif terhadap kualitas beras selama proses penyimpanan. Penyimpanan beras menjadi urgent karena menyangkut ketersediaan bahan pangan dalam mengatasi masa sulit seperti terjadinya kekeringan dan banjir yang mengakibatkan gagal panen. Selama proses penyimpanan, beras mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Penurunan kuantitas dan kualitas bahan pangan dapat terjadi selama penyimpanan di gudang yang disebabkan oleh serangan serangga hama (Septian et al., 2020).
Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia kadang tidak bisa diprediksi kadang panas dan lembab.
Tentu saja kondisi ini menjadi hal yang sangat baik terhadap pertumbuhan serangga mapun hama yang menyebabkan percepatan proses deteriorasi. Beras yang akan disimpan pada gudang tradisional ataupun menggunakan gudang yang modern sering memperoleh gangguan serangga hama (Millati et al., 2018). Penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mengamati
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
787 perubahan kualitas beras selama penyimpanan di gudang penyimpanan beras UD.Satriah.
Komponen mutu yang akan dianalisis selama proses pengamatan kualitas beras dalam gudang penyimpanan antara lain kadar air beras, butir kepala, butir menir, butir patah, butir kuning, serta water uptake atau disebut dengan penyerapan air ketika beras saat direndam. Selain itu, perkembangan kutu beras atau disebut dengan sitophilus oryzae akan menjadi poin penting dalam pengamatan ini. Informasi hasil analisis dalam penelitian ini akan menganalisis juga pada kecepatan perubahan kadar air sampai degradasi fisik beras yang dapat digunakan untuk memprediksi masa penyimpanan beras.
METODE PENELITIAN
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah beras sesuai dengan standar SNI mutu IV, beras dengan mutu sesuai Inpres No 7/2009. Penelitian ini dilakukan di Desa Banyuanyara, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar. Beras disimpan di Gudang UD.Satriah. Pengambilan sampel beras dilakukan sebanyak 1 minggu sekali selama 4 bulan sebanyak 100 gram. Analisis terhadap kualitas beras dalam riset ini dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan untuk melakukan penentuan butir kepala, butir patah maupun butir menir, butir merah, butir kuning sampai butir beras yang mengalami pengapuran (Millati et al., 2018). Analisa kadar air dalam analisis penelitian ini menggunakan grain moisture tester sehingga memperoleh hasil yang lebih akurat. Sementara untuk analisis terhadap water uptake dilakukan dengan merendam sampel beras sebanyak 30 gram ke dalam air sampai volume total menjadi 100 ml. Maka dari itu untuk mengetahui presentase beras yang akan dianalisis dalam penelitian ini menggunakan persamaan sebagai berikut:
Nilai x dalam formula tersebut artinya butir kepala, butir patah, butir menir, butir merah, butir kuning, butir yang telah mengapur pada beras yang akan diamati. Untuk mengetahui presentase pada water uptake beras yang akan dianalisis maka dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Berdasarkan beberapa formula yang telah digunakan maka poin utama yang dilakukan adalah mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada kondisi kadar air, butir kepala, butir patah, butir menir, butir kuning maupun water uptake. Maka dari itu untuk pengamatan awal akan diamati derajat sosoh, butir merah, benda asing dan butir gabah.
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
788 PEMBAHASAN
Analisis Kualitas Beras dalam Gudang Penyimpanan UD.Satriah
Selama proses penyimpanan dalam gudang, beras sebagai bahan pangan akan pasti akan mengalami perubahan kualitas misalnya perubahan mutu fisik, kimiawi, biologis bahkan bisa mengalami perubahan sensori. Hal ini sangat erat berhubung beberapa faktor antara lain, sifat bahan pangan, bahan pengemasan dan kondisi lingkungan ruang penyimpanan. Dalam penyimpanan beras, derajat sosoh beras merupakan hal yang paling berpengaruh, ditambah dengan kadar air. Kadar air maksimum yang disyaratkan yang terdapat dalam kandungan beras sesuai dengan SNI sebesar 14%, sementara persentase derajat sosoh minimum yakni sebesar 95%. Kadar air beras selama penyimpanan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi kimia yang berpengaruh terhadap perubahan sensori, terjadi perubahan warna beras menjadi lebih gelap atau kuning dan berbau apek, kondisi penyimpanan juga merupakan faktor yang sangat penting terhadap keawetan produk yang disimpan (Mastuti et al., 2020). Kondisi udara yang lembab berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
Pengaturan aliran udara dalam gudang diperlukan untuk menjaga kelembapan dalam kondisi rendah. Hal ini karena selama penyimpanan beras masih mengalami respirasi. Produk untuk diperdagangkan, maka untuk menjamin kualitas beras perlu dilakukan pengujian perubahan kualitas beras selama penyimpanan (Suroso, Subarna, S. Budijanto, 2005).
Tabel 1. Hasil Analisis Kualitas Tiga Jenis Beras di Gudang Penyimpanan
No Komponen Mutu Satuan Jenis A Jenis B Jenis C
1 Derajat Sosoh % 95 95 95
2 Kadar Air % 13.22 13.06 15.53
3 Butir Kepala % 77.20 74.62 57.47
4 Butir Patah % 20.90 23.45 39.41
5 Butir Menir % 1.90 1.92 3.14
6 Butir Merah % 0.001 0.001 0.001
7 Butir Kuning/Rusak % 2.41 2.30 6.60
8 Butir Mengapur % 2.90 3.00 7.40
9 Benda Asing % 0.001 0.001 0.001
10 Butir Gabah Butir/100 gram beras
1 1 4
11 Water Uptake % 18.20 18.20 17.12
Sumber: Analisis Data Sekunder, 2022
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
789 Pada penelitiaan ini beberapa hal yang akan di analisis dalam kualitas beras yang diamati selama penyimpanan yang terdapat di gudang beras UD.Satriah, yaitu perubahan yang terdapat pada kadar air, butir menir, butir patah, butir kuning, water up take, dan pertumbuhan kutu.
Perubahan kadar air yang terjadi pada ketiga jenis beras selama penyimpanan dapat dilihat pada tabel 1. Beras jenis A dan B pada awalnya memiliki kadar air pada kondisi awal 13,22% dan 13,06% dengan basis basah kemudian mengalami kenaikan, kemudian beras jenis C dengan kadar air awal 15,53%. Kondisi udara sekeliling yang lembab (rata-rata 65-95%) dengan temperatur 29-33°C. Pengukuran kadar air dilakukan pada siang hari dengan temperatur rata- rata 31°C dan kelembaban 74 -85%. Beras jenis A dan B akan menyerap air dari udara karena kadar airnya masih di bawah kadar air keseimbangan. Terkait dengan butir patah untuk beras jenis A mengalami patah sebesar 20.90% dan jenis beras B patah sebesar 23.45% sementara untuk jenis beras C mengalami patah sebesar 39.41%. Selanjutnya untuk kualitas butir kuning jenis beras A dalam persentase 2.41% dan jenis beras B dalam persentase 2.30% kemudian untuk jenis beras C memperoleh 6.60%.
Analisis Kualitas Beras Selama Penyimpanan di Gudang Penyimpanan Beras
Beras merupakan faktor yang menjadi penentu stabilitas nasional suatu negara baik di bidang ekonomi, keamanan, politik, maupun sosial yakni ketahanan pangan. Menurut UU Nomor 18 Tahun 2012, ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya suatu pangan terhadap negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (Septianingrum & Kusbiantoro, 2016). Beras merupakan komoditas pangan utama yang sangat strategis karena menjadi makanan pokok utama bagi sebagian besar masyarakat. Ketersediaan pangan yang cukup harus didukung oleh adanya surplus beras sebagai bahan cadangan pangan nasional.
Selama dalam penyimpanan, beras akan mengalami proses penyusutan, baik kualitas maupun kuantitas. Penyusutan ini merupakan proses yang kompleks karena yang melibatkan perubahan pada unsur fisik, kimia, dan biologi (Hendra et al., 2011) yang mengakibatkan perubahan sifat beras, seperti warna, retensi gas, dan ukuran partikel. Sementara itu menurut Hawa et al., (2018) mengamati pengaruh kadar air awal beras, kondisi temperatur serta lamanya penyimpanan terhadap amilograf beras.
Menurut Rahman et al., (2018) bahwa terjadi perubahan kandungan pati, protein, dan lemak dalam beras selama penyimpanan yang mengakibatkan perubahan tekstur, rasa, dan aroma nasi yang dihasilkan. Sementara menurut Nuraini & Widanti (2020) bahwa tingkat keawetan kualitas bahan pangan seperti beras selama penyimpanannya sangat dipengaruhi oleh kualitas awal bahan baku, sistem penyimpanan, serta adanya pengawet selama proses
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
790 penyimpanan menggunakan penyemprotan insektisida, gas fosfin, maupun karbon dioksida.
Temuan dan analisa tersebut diperkuat dengan hasil penelitian dari Septian et al., (2020) bahwa sistem aerasi dengan kelembaban udara tertentu juga memberikan pengaruh positif terhadap kualitas beras selama proses penyimpanan.
Gambar 1. Pengaruh Lama Penyimpanan Beras Terhadap Kadar Air dalam Beras
Pengaruh lama penyimpanan terhadap water uptake dan kadar air ditampilkan pada Gambar 1. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa water uptake terhadap ketiga jenis beras terus berkurang selama penyimpanan. Besarnya kadar air yang terkandung dalam beras, menyebabkan kemampuan beras untuk menyerap air semakin berkurang. Sementara itu kadar air dalam beras setelah proses perendaman dan tercapai keseimbangan. Sementara kadar air keseimbangan setelah dilakukan perendaman telah mengalami penurunan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan beras. Hal tersebut terlihat dalam kandungan pati dan protein di dalam beras yang telah bereaksi membentuk micelle sehingga menghambat masuknya air ke dalam beras yang disimpan (Millati et al., 2018). Berdasarkan hal tersebut protein juga mengalami oksidasi membentuk ikatan disulfida yang menyebabkan berkurangnya senyawa sulfur volatil yang akan berakibat lebih lanjut dengan terhambatnya absorpsi air ke dalam beras selama penyimpanan.
Hasil identifikasi terhadap butir kuning selama penyimpanan ditampilkan pada Gambar 2 dibawah. Pada diagram tersebut tampak bahwa jumlah butir kuning untuk semua jenis beras yang disimpan akan terus bertambah seiring dengan lamanya waktu penyimpanan dalam gudang.
Beras mengandung glukosa dan protein dan apabila temperatur tempat penyimpanan dalam suhu 29oC - 32°C dengan kelembaban udara 65-95%, kondisi gugus karbonil yang reaktif dari glukosa bereaksi, maka dapat dijelaskan bahwa dengan gugus amino yang memiliki sifat nukleofilik dari asam amino maka reaksi yang terjadi disebut sebagai reaksi maillard. Reaksi tersebut nantinya
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
791 akan menghasilkan produk yang berwarna kuning sampai berwarna coklat. Kondisi tersebut nampak bahwa persentase butir kepala untuk tuga jenis beras tersebut mengalami penurunan selama penyimpanan di gudang (Rahman et al., 2018). Sementara itu pada gambar 4 sangat jelas bahwa persentase butir patah maupun butir menir terus mengalami peningkatan selama proses penyimpanan. Selama kegiatan pengamatan telah berlangsung pada musim hujan, dalam situasi tersebut juga terjadi fluktuasi kelembaban udara yang cukup besar yakni berkisaran diantara 65- 95%, dan kondisi fluktuasi temperatur berkisar diantara tempratur 29 - 32°C.
Gambar 2. Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Persentase Butir Kuning
Kondisi kelembaban udara dalam posisi level tertinggi, menyebabkan kondisi uap air akan mengalami absorpsi ke dalam beras, sedangkan apabila kelembaban turun selanjutnya akan air akan mengalami desorpsi keluar dari beras. Koefisien ekspansi higroskopis beras pada saat absorpsi lebih besar daripada saat desorpsi. Perbedaan koefisien ekspansi tersebut yang telah menyebabkan butir beras menjadi retak, bahkan akan lebih ekstrem perubahannya apabila proses absorpsi dan desorpsi tersebut telah berlangsung secara berulang (Hendra et al., 2011). Namun apabila proses keretakan ini berlangsung secara lambat, tetapi selama 75 hari, beras jenis A, B, dan C tersebut akan mengalami penurunan persentase butir kepala yang cukup signifikan, antara lain dengan persentase masing-masing sebesar 3,2%, 4,2%, dan 6,3%. Butir kepala akan pecah menjadi butir patah selanjutnya akan mengalami perubahan menjadi butir menir. Butir patah juga akan mengalami keretakan sehingga menjadi butir menir. Pada kondisi ini akibatnya selama penyimpanan beras dalam gudang selama 75 hari, maka persentase butir patah mengalami
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
792 kenaikan sebesar 2,61%, 3,62%, dan 3,62%, pada masing-masing jenis beras A, B, dan C.
Sementara yang terjadi pada butir menir untuk jenis beras A, B, dan C telah mengalami kenaikan meskipun tidak signifikan, diantaranya sebesar 0,6%, 0,7%, dan 0,7%. Bertambahnya persentase butir patah dan butir menir tersebut berkaitan dengan adanya kutu pada beras tersebut.
Pengaruh lama penyimpanan beras terhadap pertumbuhan kutu atau Sitophilus oryzae pada temperatur antara 28-33°C. Jika kelembaban berada pada level tinggi, maka uap air akan terabsorpsi ke dalam beras, sementara apabila kelembaban turun, maka air akan terdesorpsi keluar dari beras. Koefisien ekspansi higroskopis pada beras yang terjadi pada saat proses absorpsi lebih besar daripada saat terjadi desorpsi. Perbedaan koefisien ekspansi tersebut yang telah menyebabkan butir beras menjadi retak, termasuk ke dalam proses absorpsi dan desorpsi tersebut yang telah berlangsung secara berulang-ulang (Mastuti et al., 2020).
Gambar 3. Pengaruh Lama Penyimpanan Beras terhadap Pertumbuhan Sitophilus Oryzae Pengaruh lama penyimpanan terhadap pertumbuhan Sitophilus Oryzae disajikan pada Gambar 3. Sitophilus Oryzae merupakan hama yang paling merusak pada penyimpanan beras.
Pada awalnya yaitu pada minggu ke-nol tidak tampak adanya kutu dalam beras yang telah disimpan. Hal tersebut bukan berarti di dalam beras sampel yang digunakan dalam penelitian ini tidak terdapat kutu, hal tersebut terbukti pada minggu pertama sudah dapat diamati terdapat kutu dalam beras. Hal ini berarti bahwa di dalam butir beras telah terdapat larva kutu, yang kemudian bertambah besar selanjutnya akan keluar dari butir beras (Mastuti et al., 2020). Keluarnya kutu tersebut dari dalam beras maka akan menyebabkan kondisi beras menjadi berlubang dan tentunya akan mudah patah.
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
793 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan identifikasi terhadap kualitas beras dalam penyimpanan di gudang maka dapat dijelaskan bahwa ketiga jenis beras A, B dan C mengalami penurunan kualitas, baik dari sisi peningkatan jumlah butir patah, butir menir, maupun butir menguning, dengan kecepatan perubahan yang berbeda. Penurunan kualitas beras jenis A dan B dengan kadar air awal <13,5%, lebih lambat daripada beras jenis C dengan kadar air awal 15,5%. Selama penyimpanan juga teramati semakin bertambahnya jumlah kutu dengan kecepatan pertumbuhan 3 ekor/100g beras/minggu. Dapat dijelaskan bahwa kadar air dalam beras yang disimpan harus
<14%, selanjutnya kondisi kelembaban udara di unit penyimpan harus dijaga supaya tetap rendah dengan persentase ≤65. Kondisi kelembaban udara yang rendah maka akan mengurangi proses terjadinya absorpsi uap air dari udara yang masuk ke dalam beras. Sementara dengan kondisi kelembaban udara yang rendah dapat mengurangi terjadinya aktifitas mikrobiologi dan jamur.
DAFTAR PUSTAKA
Hawa, L. C., Setiawan, W. P., & Ahmad, A. M. (2018). Aplikasi Teknik Penyimpanan Menggunakan Pengemas Vakum Pada Berbagai Jenis Beras. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis Dan Biosistem, 6(2), 145–156.
Hendra, B., Lc, S., Doddy, F., Kimia, J. T., Teknik, F., Diponegoro, U., Sudharto, J. P., Fax, T.,
& Ratnawati, P. I. (2011). Perubahan Sifat Fisik Selama Penyimpanan. 024.
Laylah, N., & Samsudi. (2014). Studi Lama Penyimpanan Gabah Organik Terhadap Mutu Beras Organik Di Pplh Seloliman Mojokerto Study the Influence of Long Storage of Grain Organic Against the Quality of Physical Organic Rice in Pplh Seloliman Mojokerto. Jurnal Galung Tropika, 3(2), 89–96.
Mahanani, A. U. (2021). J | I | P. 17(2), 86–92.
Mastuti, R. D., Subagiya, S., & Wijayanti, R. (2020). Serangan Sitophilus oryzae Pada Beras Dari Beberapa Varietas Padi dan Suhu Penyimpanan. Agrosains : Jurnal Penelitian Agronomi, 22(1), 16. https://doi.org/10.20961/agsjpa.v22i1.34672
Millati, T., Pranoto, Y., Bintoro, N., & Utami, T. (2018). Pengaruh Suhu Penyimpanan pada Gabah Basah yang Baru Dipanen terhadap Perubahan Mutu Fisik Beras Giling. Agritech, 37(4), 477. https://doi.org/10.22146/agritech.12015
Nuraini, V., & Widanti, Y. A. (2020). Pendugaan Umur Simpan Makanan Tradisional Berbahan Dasar Beras Dengan Metode Accelerated Shelf-Life Testing (Aslt) Melalui Pendekatan Arrhenius Dan Kadar Air Kritis. Jurnal Agroteknologi, 14(02), 189.
https://doi.org/10.19184/j-agt.v14i02.20337
Nurrahman. (2005). Susut Bobot Beras selama Penyimpanan karena Respirasi. Jurnal Litbang
p-ISSN : 2580-6165 e-ISSN : 2597-8632
794 Universitas Muhammadiyah Semarang, 2(2), 54–63.
Pitaloka, A. L., Santoso, L., & Rahadian, R. (2012). Gambaran Beberapa Faktor Fisik Penyimpanan Beras, Identifikasi Dan Upaya Pengendalian Serangga Hama Gudang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(2), 218–217.
Rahman, A. N. F., Tahir, M. M., Mahendradatta, M., & Diansari, P. (2018). Penyimpanan Dan Pengemasan Beras Dengan Metode Vakum Di Kabupaten Takalar. Jurnal Dinamika Pengabdian (JDP), 3(2), 140–146.
Ratnawati, Djaeni, M., & Hartono, D. (2013). Perubahan Kualitas Beras Selama Penyimpanan.
Jurnal Pangan, 199–207.
Septian, M. H., Bayuaji, P., Sihite, M., Aeni, R. N., & Romadhon, W. (2020). Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kadar Air, Sifat Fisik, Dan Organoleptik Bekatul Beras Merah. J.
Nutrisi Ternak Tropis Dan Ilmu Pakan, 2(4), 198–206.
Septianingrum, E., & Kusbiantoro, B. (2016). Upaya Memperpanjang Umur Simpan (Shelf Life) Gabah Atau Beras Melalui Pengendalian Terhadap Faktor-Faktor Penyimpanan dan Metode Penyimpanannya. Temu Teknologi Padi, September 2020, 335–346.
Siregar, M. R., Bintoro, A., & Putri, R. (2021). Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban pada Penyimpanan Gabah untuk Menjaga Kualitas Beras Berbasis Internet of Things ( IoT ).
Jurnal Energi Elektrik, 10, 14–17.
Suroso, Subarna, S. Budijanto, S. (2005). Perubahan Kualitas Fisik Beras Selama Penyimpanan.
498–507.