BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum waris adalah sebuah kajian yang menarik untuk dibahas di lingkungan masyarakat karena menyangkut pengalihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli waris, yang berarti menentukan siapa- siapa yang menjadi ahli waris, porsi bagian masing-masing ahli waris, menentukan bagian harta peninggalan dan harta warisan yang diberikan kepada ahli waris. (Rahmat,2014)
Hukum waris yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia sampai sekarang masih bersifat Pluralistis, yaitu ada yang tunduk kepada hukum waris dalam kitab Undang-undang Hukum Perdata(KUHPer), hukum waris Islam dan hukum adat.
Hukum waris perdata adalah bagian dari hukum perdata yang mengatur tentang bagaimana harta peninggalan seseorang akan dibagikan setelah orang tersebut meninggal dunia, terdapat tiga unsur warisan yaitu adanya pewaris, adanya ahli waris, dan harta warisan yang berupa hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Hukum waris islam adalah hukum waris yang sumber utamanya ialah Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176. dalam istilah fara‟id yang artinya bagian tertentu yang dibagi menurut agama Islam kepada semua yang berhak menerimanya dan yang telah di tetapkan bagian-bagiannya. Hukum waris adat adalah hukum lokal yang terdapat di suatu daerah ataupun suku tertentu yang berlaku, diyakini dan dijalankan oleh masyarakat-masyarakat daerah tersebut. Hukum waris adat di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh susunan masyarakat kekerabatannya yang berbeda. Hukum waris adat tetap dipatuhi dan
dilakukan oleh masyarakat adatnya terlepas dari Hukum waris adat tersebut telah ditetapkan secara tertulis maupun tidak tertulis.
Masalah ini mengacu pada putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN. yang mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya menyatakan memberi ijin kepada pemohon (KASTURI) yang dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama anak-anaknya yang masih dibawah umur yang bernama TITIK WINDARI masih berumur 17 (tujuh belas) tahun dan IRMA NISATUL AIDAH masih berumur 12 tahun untuk menjual sebidang Tanah Letter C No.790 Persil 10.a Kelas D.I Luas 969 M2 (sembilan ratus enam puluh sembilan meter persegi) dan buku Letter C No.790 Persil 10.a Kelas D.I, Luas 1.189 M2 (seribu seratus delapan puluh sembilan meter persegi) yang terletak di Dusun Karangapel Desa Karangwiduro Kecamatan Dau Kabupaten Malang tertulis atas nama B.
Tanamun (Suami Pemohon) yang dimana membebankan biaya perkara permohonan ini kepada pemohon sebesar Rp226.000,- (dua ratus dua puluh enam ribu rupiah)
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk membahas tentang “Pembagian Waris Anak di Bawah Umur” yang muncul pada putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah di atas peneliti merumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana pembagian harta waris anak dibawah umur? ketika salah satu ahli waris dibawah umur?
2. Bagaimana analisis terhadap putusan kasasi Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN.
C. Tujuan Penelitian
1. Peneliti ingin mengetahui hak waris anak dibawah umur.
2. Peneliti ingin memahami putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN.
D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat dijadikan referensi dan menambah kajian teori untuk penelitian berikutnya.
2. Secara Praktis
Manfaat penelitian ini secara praktis memberikan sumbangan bagi pemecah masalah yang berhubungan dengan pembagian hak waris yang ahli warisnya dibawah umur.
E . Kajian Teori
1. Ketentuan waris di Indonesia
Menurut A. Pitlo (1971 : 1), waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang, yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal dan akibat dari pemindahan ini bagi orang yang memperolehnya baik dalam hubungan antara mereka dengan mereka maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga. Berdasarkan pasal 174 huruf e KHI telah di sebutkan definisi harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian harta dari harta Bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat. Sedangkan menurut KUH Perdata adalah mengenai pewarisan akan berlaku cuma terjadi saat kematian, dengan kata lain sebuah kekayaan peninggalan hanya
bisa dilakukan pembagian untuk ahli waris sewaktu si pewaris dinyatakan wafat (pasal 830 KUH Perdata). Hukum waris dalam persepsi Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, seseorang yang mendapat bagian atau hak dari harta kekayaan si pewaris itu adalah seseorang yang masih hidup ketika harta warisan itu dibagikan (pasal 836 KUH Perdata).
Menurut Soepomo (1966 : 72), mengatakan hukum waris itu memuat peraturan yang mengatur proses meneruskan serta menoperkan barang harta benda dan barang yang tidak berwujud denda (on materiele goederen) dari suatu Angkatan manusia (generatie) kepada turunannya.
Proses itu telah mulai pada waktu orang tua masih hidup. Proses itu tidak menjadi “akut” disebabkan orang tua meninggal dunia. Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu, tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut.
Dalam sistem kewarisan Islam, untuk dapat beralih harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup, harus ada hubungan kekeluargaan antar keduanya berdasarkan adanya hubungan darah (nazab), maupunberdasarkan hubungan perkawinan yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang Perempuan dan diantara suami isteri masih berlangsung ikatan perkawinan pada saat salah satu pihak meninggal dunia. (Syahkroni, 2007 : 37)
2. Putusan hak waris dibawah umur dalam hirarki hukum di Indonesia Dalam ketentuan waris Islam dan waris di Indonesia hampir sama yaitu memiliki 3 (tiga) unsur pokok yang harus ada, ialah : Pertama, pewaris adalah orang yang mewariskan, yaitu seseorang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan kepada ahli warisnya (Syarifuddin, 2005) ;
Kedua, ahli waris adalah orang yang berhak menerima harta warisan dari si pewaris, karena ada sebab yang bisa mewarisi, baik yang disebabkan dengan hubungan nasab/keturunan/darah, perkawinan, serta memerdekakan budak. Dalam Islam terdapat 15 ahli waris dari golongan laki-laki, yaitu mulai dari anak laki-laki, bapak, suami, sampai dengan al- mu’tiq atau seorang laki-laki yang memerdekakan budak, sedangkan terdapat 10 ahli waris dari golongan Perempuan, yaitu mulai dari anak Perempuan, ibu, istri, hingga al-mu’tiqah atau seorang Perempuan yang memerdekakn budak. Masing-masing dari golongan tersebut memiliki bagian yang telah ditentukan dalam ketentuan waris Islam (Salim, 2005), dan; Ketiga , harta warisan adalah segala harta kekayaan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia berupa semua harta kekayaan dari yang meninggal dunia setelah dikurangi dengan semua utangnya. Ketiga unsur tersebut harus dipenuhi dalam terjadinya pewarisan, jika salah satu atau lebih tidak ada maka proses pewarisan tidak terjadi. Mengenai pewaris, dalam Q.S An-Nisa [4] : 7 disebutkan bahwa: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”. Dan pada ayat 11 dan 12 juga dijelaskan, “ Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian waris untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang anak Perempuan . Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedu orang tua, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya (saja), makai bunya mendapat
seperenam. (pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Q.S An-Nisa: 11).
“Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditingggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.
Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) hutang-hutangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara permpuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris).
Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.”
(Q.S An-Nisa: 12)
Ketentuan yang mengatur tentang waris terdapat pada pasal 832 KHU Perdata menjelaskan bahwa yang berhak menjadi ahli waris adalah para keluarga sedarah dan suami atau istri yang masih hidup. Jika semua ini tidak ada yang berhak menjadi ahli waris adalah negara. (KUHPer, ps. 832) F. Penelitian Terdahulu
Peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan oleh peneliti sebelumnya mengenai hukum waris di Indonesia. Peneliti menegaskan bahwa peneliti ini tidak sama dengan yang lain, hanya menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Berikut merupakan penelitian terdahulu :
Peneliti Wirani Aisiyah Anwar yang berjudul “Praktek Pembagian Warisan Antara Laki-laki dan Perempuan (Studi Kasus Di Kecamatan Maritengngngae, Kabupaten Sidrap)”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan “Implementasipembagian harta warisan antara laki-laki dan Perempuan di Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap kebanyakan melakukan pembagian 1:1 (berbanding sama). Adapun yang ingin menyamakan pembagian warisannya dengan cara membaginya terlebih dahulu dengan pembagian 2:1, selanjutnya jika pewaris yang mendapat bagian lebih banyak dan rela memberikan bagiannya kepada ahli waris lainnya maka itu boleh. Tetapi, bukan dinamakan warisan tetapi hibah kepada ahli waris lain. (2014)
Peneliti Desti Herlia yang berjudul “Pembagian Harta Waris Pada Masyarakat Lampung Sebelum Muwaris Meninggal Dunia”. Pelaksanaa hukum waris Islam pada dasarnya cukup di mengerti, sebagai Masyarakat Desa Pampangan walaupun hanya secara umum saja, namun sebagian masyarakat Desa Pampangan tidak menggunakan hukum kewarisan Islam dikarenakan mereka beranggapan lebih mudah dengan menggunakan cara pembagian harta sesuai dengan ketentuan adat mereka Dimana yang biasa mereka sebut juga harta waris (harta peninggalan). Oleh karena itu kesadaran masyarakat ditentukan oleh beberapa factor, adanya tidak patuhnya masyarakat terhadap hukum waris Islam dikarenakan factor adat
kebiasaan yang telah turun temurun sejak dulu. Pada garis besarnya, pembagian harta waris yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Pampangan yang memberikan harta warisan sebelum muwaris meninggal dunia bukanlah suatu hukum kewarisan Islam, karena dalam hukum kewarisan Islam sendiri tidak memperbolehkan pembagian harta waris pada waktu pewaris masih hidup. Jika terjadi hal seperti itu bukanlah harta waris yag dibagikan melainkan harta wasiat atau hibah dari seorang ayah kepada anaknya. (2019)
Peneliti Megawati yang berjudul “Sistem Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Pada Masyarakat Islam Di Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembagian warisan di desa Parappe Kecamatan Campalagian dilakukan setelah orang tua (pewaris) wafat, akan tetapi ada juga di dalam masyarakat desa Parappe yang memberikan sebagian hartanya terhadap anaknya yang telah menikah lebih dahulu, hal tersebut masuk dalam kategori hibah namun pada masyarakat tersebut tetap paham mengenai hal tersebut tentang pembagian terlebih dahulu. Hal ini di lakukan pada saat orang tua (pewaris) masih dalam keadaan sehat. Pada saat orang tua meninggal dunia (pewaris) di lakukan pembagian harta warisan untuk para ahli warisnya, maka ahli waris yang pertama mendapat bagian setelah ia menikah ketika pewaris masih hidup, sudah tidak mendapat bagian lagi sebagaimana yang di dapatkan oleh ahli yang lain.
(2017)
A. Kerangka Berfikir
Hukum Waris
Islam
Hukum Waris Perdata
Hukum Waris
Adat Putusan
Mahkamah Agung
Analisis Mahkamah
Agung
G. Metodologi
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah literatur karena peneliti melakukan analisis dan klasifikasi fakta yang dikumpulkan dari sumber-sumber buku dan penelitian terdahulu. Peneliti termasuk menggunakan deskriptif kualitatif, karena semua mengacu pada putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN
b. Sumber Data 1. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh dari putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN
2. Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh dari buku, jurnal, undang-undang, dan bersumber dari penelitian-penelitian sebelumnya.
c. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti melakukan teknik pengumpulan data informasi melalui
pembacaan literatur atau sumber-sumber tertulis seperti buku, penelitian terdahlu,, makalah, jurnal, artikel, dan menelusuri hasil putusan
Mahkamah Agung d. Analisis Data
Analisis data yang digunakan peneliti menggunakan metode data kualitatif content analysis
H. Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari lima bab. Bab pertama menjelaskan tentang ; pendahuluan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian teori, penelitian terdahulu, metodologi, sistematika penulisan.
BAB II
KETENTUAN HUKUM WARIS DALAM ISLAM A. Definisi Hukum Waris
Kata wârits dalam bahasa Arab memiliki jama‟ waratsah yang berarti ahli waris1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata waris berarti Orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal.2
ilmu waris biasa juga dikenal dengan ilmu farâidl yang sebagai jamak dari lafad farîdloh yang berarti perlu atau wajib3, yang mana bila ditambahkan dengan kata ilmu maka artinya akan berubah menjadi ilmu menerangkan perkara pusaka.4
Pengertian mirâts yang dalam arti bahasanya yaitu harta pusaka5, sedangkan menurut istilah adalah berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kaum kepada kaum lain.
Sesuatu ini bersifat umum. Bisa berupa harta, ilmu, keluhuran atau kemuliaan. Dan menurut istilah waris ialah berpindahnya hak milik dari mayit kepada ahli warisnya yang hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta, kebun atau hak-hak syar'iyyah.6
1Mahmud Yunus, “Kamus Arab-Indonesia”, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran Al- Qur‟an, 1972), 496.
2 Tim penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,.ed.3 .(jakarta: balai pustaka 2001)h..
1386.
3 Yunus, “Kamus”, 313.
4 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, “Hukum Waris Islam”, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1995), 48.
5 Yunus, “Kamus”, 496.
6 Ash-Shabuniy“Hukum Waris Islam”, 48-49.
Pengertian secara umum tentang Hukum waris adalah hukum yang mengatur mengenai apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia, dengan perkataan lain mengatur peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal dunia beserta akibat-akibatnya bagi ahli waris.7
Dalam rangka memahami kaidah-kaidah dan seluk beluk hukum waris, hampir tidak dapat dihindari untuk terlebih dahulu memahami beberapa istilah yang lazim dijumpai dan dikenal. Istilah-istilah dimaksud tentu saja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengertian hukum waris itu sendiri. Beberapa istilah tersebut beserta pengertiannya akan dijelaskan berikut ini8:
a. Waris;
Istilah ini berarti orang yang berhak menerima pusaka (peninggalan) orang yang telah meninggal.
b. Warisan;
Berarti harta peninggalan, pusaka dan surat wasiat.
c. Pewaris;
Adalah orang yang memberi pusaka, yakni orang yang meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, pusaka, maupun surat wasiat.
d. Ahli waris;
Yaitu sekalian orang yang menjadi waris, berarti orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan pewaris.
e. Mewarisi;
7 Yhh
8 Eman Suparman, “Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW”, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), 2-3.
Yaitu mendapat harta pusaka, biasanya segenap ahli waris adalah mewarisi harta peninggalan pewarisnya.9
f. Proses pewarisan;
Istilah proses pewarisan mempunyai dua pengertian atau dua makna,makna yaitu:
1. Berarti penerusan atau penunjukan para waris ketika pewaris masih hidup; dan
2. Berarti pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal.
Berkaitan dengan beberapa istilah tersebut di atas, Hilman Hadikusumah dalam bukunya yang dikutip oleh Eman Suparman mengemukakan bahwa “warisan menunjukkan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal, yang kemudian disebut pewaris, baik harta itu dibagi-bagi atau pun maih dalam keadaan tidak terbagi- bagi”.10
B. Dasar Hukum Waris Islam
Ayat-ayat yang terkadung di dalam Al-Qur'an tentang kewarisan dikemukakan secara langsung maupun tidak langsung dapat ditemukan dalam beberapa surat dan ayat, yakni :
1. Pembagian hak waris
Sebagaiman firman Allah SWT :
هُلّٰلا مُكُيْصِوْيُ
نَّ هُ نَّ نَّ نِ يْ نَّ نَّ يْ ا نِ يْ نَّ نَّ يْ ا نَّ يْ نَّ ءً اۤ نَّ نِ نَّ هُ يْ نِ نَّ نِنِۚ يْ نَّ نَّ يْهُ يْا ظِّ نَّ هُيْ !نِ "نِنَّ #نَّ $نِ %يْهُ &نِ نَّ
نَّ نَّ يْ انِ 'نَّ"نَّ(نَّ )نَّ!نِ *هُ+هُهُ $ا )نَّهُ يْ!ظِّ +دٍنِ ا-نَّ ظِّ.هُ$نِ /نِ0يْنَّ 1نَّنَّ نِ -نَّ 2هُفُۗ4يْظِّ $ا نَّ نَّ نَّ 5ءً+نَّنِ ا-نَّ 6يْنَّ نَّ يْ انِ-نَّ 'نَّنِۚ"نَّ(نَّ !نَّ نَّ هُ هُ
+نِ7يْ1نَّ يْنْۢ !نِ *هُ+هُهُ $ا /نِ!ظِّ9هُ:نِنَّ 5ةٌنَّ <يْانِ /=هٗٓ$نَّ نَّ نَّ يْ نِ نَّ ?هُنِۚهُ هُ $ا /نِ!ظِّ9هُ:نِنَّ @هُوٰ 1نَّانَّ /=هٗٓنَّBنِ-نَّ-نَّ +ةٌ$نَّ-نَّ /=$نَّ يْ .هُ0نَّ %يْ$نَّ يْ نِ نَّ +ةٌنِۚ$نَّ-نَّ /=$نَّ
9 W.J.S. Poerwardaminta “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, (Jakarta: Depdikbud, Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, 1982), 1148.
10 Poerwardaminta “Kamus”, 21
نَّ انِ /نِفُۗوٰ $ا نَّ !ظِّ CءًDنَّ0يْ"نِنَّ فُۗ7ءًEيْنَّ %يْ.هُ$نَّ Fهُ"نَّGيْانَّ %يْهُ 0هُانَّ نَّ -يْBهُ+يْ(نَّ نَّ %يْنِۚهُ Hهُاۤنَّ1يْانَّ-نَّ %يْهُ Hهُاۤ1نَّاوٰ دٍفُۗ 0يْ&نَّ -يْانَّ هٗٓ نَّ 1نِ IيْJنِيْ 0هُ CدٍنَّJنِ-نَّ
)ءًيْ.نِنَّ )ءًيْنِ Kنَّ نَّ نَّ /نَّوٰ $ا
(Q.S An-nisa : 11) Artinya: "Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki- laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Untuk kedua orang tua, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya (saja), ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. (Warisan tersebut dibagi) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan dilunasi) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."(Q.S An-nisa : 11)11
Sebagaimana firman Allah SWT :
نِ )نَّ!نِ نَّ وۡ1هُ"نَّGوۡنَّ وۡا-نَّ نِ +وٰ$نِانَّ $وۡا 'نَّ"نَّ(نَّ )نَّ!ظِّ Mةٌوۡ4نِنَّ نِ هٗٓ نَّ ظِّ $نِ-نَّ نَّ وۡ1هُ"نَّGوۡنَّ وۡا-نَّ Nوۡا-نَّ نِ +وٰ$نِانَّ $وۡا 'نَّ"نَّ(نَّ )نَّ!ظِّ Mةٌوۡ4نِنَّ Nنِ Oنَّ"ظِّ$
Pءً-وۡ"هُEوۡ!نَّ Qءًوۡ4نِنَّ Rؕ "نَّهُ نَّ -وۡانَّ /هُوۡ!نِ نَّGنَّ
(Q.S An-nisa : 7) Artinya: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta
11 Q.S An-nisa (4) : 11
peninggalankedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Nisa’: 7)12
Sebagaimana firman Allah SWT :
/نَّوٰ $ا نَّ انِ %يْفُۗهُ Qنَّيْ4نِنَّ %يْUهُيْ (هُوٰ نَّ %يْ.هُهُ )نَّ0يْانَّ Vيْ+نَّWنَّKنَّ نَّ 0يْ#نِ$نَّا-نَّ نَّفُۗ يْ 1هُ"نَّGيْنَّ يْا-نَّ نِ +وٰ$نِانَّ $يْا 'نَّ"نَّ(نَّ )نَّ!نِ Iنَّ$نِانَّ !نَّ نَّ يْ 7نَّOنَّ لٍّ.هُ$نِ-نَّ
+يْ نِ Yنَّ دٍ IيْYنَّ ظِّهُ ىوٰ Kنَّ نَّ نَّ
(Q.S An-nisa : 33)
Artinya : "Bagi setiap (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib kerabatnya. Orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, berikanlah bagian itu kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (Q.S An-nisa : 33)13
Selain ayat al-Quran tersebut, dalil hadis sebagai sandaran hukum hibah yang dikutip para ulama antara lain yaitu sabda Rasulullah SAW yang berbunyi: “Aku lebih dekat kepada orang-orang mukmin daripada kepada diri mereka sendiri. Maka barangsiapa yang meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan, maka harta warisannya diberikan kepada ahli warisnya."14
C. Asas-asas Hukum Waris
1. Asas-asas hukum kewarisan berdasarkan hukum perdata
12 Q.S An-nisa (4) : 7
13 Q.S An-nisa (4) : 33
14 SAHIH BUKHARI, Buku 80 : Hukum Warisan (Al- Faraa'id)-IIUM
a. Asas individual
Asas individual adalah asas dimana yang berhak menjadi ahli waris adalah perorangan, bukan kelompok dan keluarga. 15
b. Asas bilateral
Asas ini berarti bahwa seseorang tidak hanya mewarisi dari pihak bapak saja, tetapi juga dari pihak ibu. Demikian juga saudara bagi laki-laki, dia akan mewarisi bukan hanya dari saudara laki-lakinya saja, tetapi juga dari saudara perempuan. 16
c. Asas penderajatan
Asas ini dimaksudkan adalah bahwa ahli waris yang derajatnya lebih dekat dengan si pewaris akan menghalangi ahli waris yang derajatnya lebih jauh. Dengan demikian dipahami bahwa selama masih ada orang yang derajatnya lebih dekat kepada pewaris maka derajat yang lebih jauh tidak mendapat harta.
Sejalan dengan hal ini ditentukan bahwa penderajatan ahli waris itu diklasifikasi kepada empat kelompok sebagai berikut:
1. Golongan pertama:
a. Anak-anak si pewaris, baik laki-laki maupun perempuan.
b. Cucu pewaris atau anak turunannya, dan anak-anak sebagai pengganti yang meninggal terlebih dahulu dari kakeknya.
c. Suami atau istri pewaris.
2. Golongan kedua:
15 Pasal 832 dan 852 KUHPerdata
16 Pasal 850, 853, dan 856 KUHPerdata
a. Ibu dan bapak.
b. Saudara-saudara kandung. (Hal ini sesuai dengan pasal 854- 856 BW).
3. Golongan ketiga:
a. Kakek dan nenek dari ayah dan dari ibu.
b. Ayah/ ibunya kakek dan nenek (buyut). (Hal ini sesuai dengan pasal 853 Jo. 859 BW).
4. Golongan keempat:
a. Saudara/saudari se-kakek dan buyut.
b. Saudara/saudari se-nenek dan buyut. 17 d. Asas hak dan kewajiban saja yang dapat diwariskan
Hal ini mengandung pengertian bahwa hanya hak-hak dan kewajian dalam lapangan hukum kekayaan saja yang dapat diwariskan, maksudnya adalah bahwa sesuatu yang hendak diwariskan itu mesti bisa dinilai dengan uang.
e. Asas terjadinya perwarisan itu kalau pewaris telah meninggal dunia Asas ini dimaksudkan bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka ketika itu juga terjadi peralihan seluruh hak dan kewajiban orang tersebut kepada para pewarisanya.
f. Asas terjadinya peralihan seluruh hak dan kewajiban itu dengan sendirinya dan otomatis
Hal ini dimaksudkan bahwa terjadinya peralihan hak dan kewajiban itu bukanlah sesuatu yang mesti diusahakan, dan dapat diusahakan karena meninggalnya seseorang, tetapi dia telah terpola secara reguler.
17 A. Sukris Sarmadi, Transendendi Keadilan Hukum Waris Islam Transformatif, Cet. Ke-1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, hal. 50-51.
2. Asas-asas hukum kewarisan berdasarkan hukum islam dan KHI
Dengan menggunakan istilah "Doktrin Hukum Kewarisan Islam", A.
Sukris Sarmadi mengatakan bahwa asas-asas hukum kewarisan Islam adalah sama dengan asas-asas hukum kewarisan dalam KHI. Hal ini sama dengan apa yang dikemukakan oleh Amir Syarifuddin, dan Muhammad Daud Ali. Asas hukum kewarisan dalam hukum Islam dan KHI tersebut ada 5 (lima) macam, sebagai berikut:18
a. Asas ijbari
Asas yang ada dalam hukum kewarisan KHI itu menciptakan adanya proses peralihan harta dari orang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya dengan berlaku secara sendirinya menurut ketetapan Allah. Hal ini tanpa adanya kaitan dengan kemauan pewaris, ataupun ahli warisnya. hal ini terlihat dalam pasal 187 ayat (2) KHI yang berbunyi; Sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalah merupakan harta yang "harus" dibagikan kepada ahli waris yang berhak, dan lain- lain. Adanya kata "harus" dalam pasal ini menunjukkan berlakunya asas ijbari.
b. Asas bilateral
Asas ini berarti seseorang tidak hanya mewarisi dari garis Bapak saja, akan tetapi juga mewaris menurut garis ibu, demikian juga dari saudara laki-laki maupun saudara perempuan. Asas ini memberi hak dan kedudukan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan dalam hal mewaris, bahkan dengan asas bilateral ini menetapkan juga suami istri untuk saling mewaris.
18 Amir Syarifudin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, Gunung Agung, Jakarta, 1984, hal. 18.
Asas Bilateral sama dengan asas individu, selain berlaku dalam Hukum Kewarisan menurut KUHPerdata, juga berlaku dalam Hukum Kewarisan menurut Hukum Islam, dan Hukum Adat yakni dalam masyarakat yang menganut sistem kekerabatan parental.19
c. Asas individual
Asas ini menentukan tampilnya ahli waris untuk mewarisi secara individu (perseorangan) bukan kelompok ahli waris dan bukan kelompok suku atau keluarga. Asas ini mengandung pengertian bahwa harta warisan dapat dibagikan pada masing-masing ahli waris untuk dimiliki secara perseorangan, sehingga dalam pelaksanaan seluruh harta warisan dinyatakan dalam nilai dan setiap ahli waris berhak menurut kadar bagiannya tanpa harus terikat dengan ahli waris lainnya. Konsekuensi dari ketentuan ini adalah harta warisan yang sudah dibagi-bagikan atau dialihkan kepada ahli waris secara perseorangan itu menjadi hak miliknya. Karena itu, asas ini sejalan dengan ketentuan pada Pasal 584 KUHPerdata bahwa salah satu cara memperoleh hak milik adalah melalui pewaris.
Asas individual sangat popular pula dalam sistem hukum kewarisan Islam dan sistem hukum kewarisan adat. Asas individual dalam hukum kewarisan Islam berarti, “Setiap ahli waris secara individu berhak atas bagian yang didapatnya tanpa terikat kepada ahil waris lainnya”. Akan tetapi dalam hukum kewarisan adat, selain dikenal sistem pewaris individual, juga dikenal adanya sistem kolektif, dan mayorat namun dari ketiga macam sistem pewaris tersebut, maka sistem individual yang lebih umum berlaku dalam masyarakat,
19 Abdul Manan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), 208
terutama dalam masyarakat adat parental yang tersebar hampir diseluruh daerah di Indonesia.20
d. Asas Keadilan Berimbang
Asas keadilan berimbang ini adalah seseorang akan memperoleh hak dalam harta kewarisan seimbang dengan keperluannya. Asas ini sejalan dengan pasal 176 s/d 191 KHI tentang besarnya perolehan masing-masing ahli waris, juga pasal 192 dan 193 KHI tentang "aul"
dan "rad". Dalam hal ini, bila harta yang tersedia lebih sedikit dari jumlah perolehan yang diperlukan ahli waris, maka harta akan diambil dari bagian masing-masing ahli waris dengan cara yang berimbang sesuai dengan perolehan mereka yang semestinya (cara ini disebut dengan aul). Hal ini akan sama dengan ketentuan bila harta yang tersedia lebih banyak dari perolehan keseluruhan ahli waris, dengan pengertian semua ahli waris sudah mengambil bagiannya masing-masing, namun harta warisan masih tersisa, maka caranya harta tersebut akan dikembalikan kepada seluruh ahli waris dengan cara yang berimbang dibanding dengan perolehan mereka masing-masing. Demikian juga halnya dengan ketentuan pasal 185 KHI tentang ahli waris pengganti, di mana dengan mengacu kepada asas ini akan terasa tidak adil bila seorang cucu yang secara kebetulan ayahnya terlebih dahulu meninggal dunia dari kakeknya dan pamannya, kehidupannya serba susah dan terlunta-lunta lantas tidak diberikan pula harta warisan dari kakeknya pada saat kakeknya.
tersebut meninggal dunia. 21
e. Asas kewarisan terjadi hanya kalau ada yang meninggal dunia
20 Ibid, hal. 209
21 M. Yahya, Tranformasi Materi Kompilasi Hukum Islam: Mempositifkan Abstraksi Hukum Islam, dalam Ditbinpera Departemen Agama RI., Mimbar Hukum Aktualisasi Hukum Islam, No.5, Thn. 3, Ditbinpera Departemen Agama RI., Jakarta, 1992, hal.55.
Ketentuan kewarisan dalam KHI hanya akan terjadi kalau pewaris benar-benar telah meninggal dunia, dan ahli waris benar- benar hidup pada saat meninggalnya pewaris tersebut. Mengenai meninggalnya. pewaris tersebut, dalam hal ini ada dua macam, yaitu:
1. Meninggal secara hakiki; yaitu secara hakikat dapat dipersaksikan bahwa pewaris benar-benar telah meninggal dunia.
2. Meninggal secara hukmi; yaitu sebenarnya pewaris yang dinyatakan meninggal itu tidak dapat disaksikan kematiannya, tetapi karena dugaan kuat tentang hal itu telah terjadi maka supaya para ahli waris tidak menunggu dalam ketidakpastian hukum warisan dan kepemilikan harta, mereka dapat meminta kepada Pengadilan Agama untuk menetapkan matinya pewaris secara hukmi. Hal ini bisa terjadi karena lamanya pewaris tidak pulang. misalnya seorang pelaut yang biasanya turun dari kapal setiap dua minggu, tetapi pada suatu ketika dia tidak pulang, sampai pada waktu yang sangat lama sekali (mungkin bisa dikatakan 10 tahun), sehingga menurut anggapan orang banyak bahwa dia telah tenggelam di laut saat bekerja, sedangkan dugaan bahwa dia masih hidup dan akan pulang lagi sudah tidak ada sama sekali. Untuk mencapai kepastian hukum seperti ini maka Pengadilan dapat memberikan keputusannya. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 171 KHI. Dengan demikian, persoalan kematian dalam Islam menjadi sesuatu yang sangat penting dan akan menciptakan hukum baru, bahkan menjadi studi yang strategis dalam kaitannya dengan penetapan serangkaian hukum berikutnya.
Jika kita melihat perbandingan dasar-dasar hukum warisan menurut KUH Perdata (BW), hukum Islam versi fuqaha klasik, dan KHI, dapat disimpulkan bahwa ketiga peraturan hukum ini saling melengkapi. Artinya, terdapat banyak persamaan yang jelas di antara ketiganya, meskipun ada
beberapa perbedaan kecil. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), terdapat empat prinsip yang setara dengan yang ditemukan dalam pemikiran fuqaha klasik dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Selain itu, terdapat dua prinsip dalam KUH Perdata yang tidak tertera dalam dasar- dasar kewarisan menurut fuqaha klasik dan KHI. Di sisi lain, satu prinsip yang diusulkan oleh fuqaha klasik dan KHI tidak ada dalam KUH Perdata.
Dengan kata lain, meskipun banyak persamaan yang ada, masih ada perbedaan di setiap pihak.
Keempat asas yang dipahami secara seragam tersebut terdiri dari asas- asas yang tercantum pada nomor 1, 2, 5, dan 6 KUH Perdata, yang sejalan dengan asas yang dinyatakan pada nomor 1, 2, 3, dan 5 oleh para fuqaha klasik serta KHI. Prinsip yang tercantum dalam nomor 1 dan nomor 2 KUH Perdata mengadopsi istilah asas individu dan bilateral. Menariknya, dalam hukum Islam versi fuqaha klasik dan KHI, istilah yang sama juga digunakan, tetapi ditempatkan pada nomor 3 dan 4. Oleh karena itu, kedua asas tersebut dipahami dengan makna yang setara. Kemudian, prinsip kelima dalam KUH Perdata sejalan dengan prinsip kelima dalam hukum Islam versi fuqaha klasik dan KHI, yang menyatakan bahwa warisan berlaku setelah adanya kematian. Meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam pilihan kata, pokok pikirannya tetap sama. Selanjutnya, dasar yang keenam. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), terdapat kesamaan dengan prinsip pertama dalam hukum Islam menurut fuqaha klasik dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Yang membedakan adalah, fuqaha klasik dan KHI menyebutnya sebagai asas ijbari, sementara KUH Perdata tidak menggunakan istilah khusus, melainkan memberikan penjelasan secara langsung mengenai asas tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keempat asas ini memiliki kesamaan dalam konsep.22
D. Ahli Waris Dalam Fiqh
22 Analytyca Islamica, Vol. 5, No. 2, 2003: 15-32
Di kala terjadi peristiwa kematian seseorang yang meninggal dunia ada kemungkinan pada saat tersebut dia memiliki harta, kemudian ada ketentuan syariat bahwa orang yang telah meninggal tidak lagi dikenakan hak maupun kewajiban. Menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam di saat kematian telah terjadi perpindahan hak atas hak milik dengan sendirinya. Dinilai dengan kenyataan sangat jarang sekali pewaris hanya memiliki ahli waris tunggal. Biasanya pewaris memiliki banyak ahli waris, seperti suami atau istri anak laki- laki maupun perempuan ayah serta ibu. Maka dalam hukum faraid telah ditentukan dalam al- Qur'an yang mencerminkan pembagian yang terinci bagian- bagianya. Ada sisi individual dalam ketentuan Islam mengenai siapa yang berwenang memperoleh hak atas harta warisan. 23
Ahli waris adalah seseorang atau beberapa orang yang berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan. Secara garis besar golongan ahli waris di dalam Islam dapat dibedakan ke dalam tiga golongan,yaitu:24 1. Ahli waris menurut Al-Qur'an atau yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur'an disebut dzul fardl. Yakni ahli waris langsung yang mesti selalu mendapat bagian tetap tertentu yang tidak berubah-berubah. Adapun rinciannya sebagai berikut:
a. Dalam garis ke bawah
(1) Anak perempuan
(2) Anak perempuan dari anak laki-laki b. Dalam garis ke atas
(1) Ayah
(2) Ibu
(3) Kakek dari garis ayah
23 http://www.eprints.udip.ac.id/../Mintarno.pdf
24 Suparman, “Hukum Waris Indonesia”, 17-20.
(4) Nenek baik dari ayah maupun dari garis ibu c. Dalam garis ke samping
(1) Saudara perempuan seayah dan seibu dari garis ayah
(2) Saudara perempuan tiri (halfzuster) dari garis ayah (3) Saudara lelaki tiri (halfbroeder) dari garis ibu (4) Saudara Perempaun tiri (halfzuster) dari garis ibu
d. Duda e. Janda
2.'Ashabah, dalam arti bahasa Arab berarti anak lelaki dan kaum kerabat dar pihak bapak. Ashabah menurut ajaran kewarisan patrilineal syafi'i adalah golongan ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau bagian sisa, yaitu terdiri atas :
a. 'Ashabah bi nafsihi yaitu ashabah-ashabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa yang urutannya sebagai berikut:
1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah asal saja
pertaliannya masih terus laki-laki
3. Ayah
4. Kakek dari pihak ayah dan terus ke atas asal saja pertaliannya
belum putus dari ihak ayah
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki seayah
7. Anak saudara laki-laki sekandung
8. Anak saudara laki-laki seayah
9. Paman yang sekandung dengan ayah 10. Paman yang seayah dengan ayah
11. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah 12. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah
b. 'Ashabah bil ghairi yaitu ashabah dengan sebab orang lai. Yakni seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh seorang laki-laki, yaitu sebagai berikut:
1. Anak perempaun yang didampingi oleh anak laki-laki 2. Saudara perempuan yang didampingi oleh saudara laki-laki
c. 'Ashabah ma'al ghairi yakni saudara perempuan yang mewaris bersama keturunan dari pewaris, mereka itu adalah:
1. Saudara perempuan sekandung, dan
2. Saudara perempuan seayah
3. Dzul Arhâm, yang berarti orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui pihak wanita saja.
E. Rukun dan Syarat Waris Rukun waris ada tiga, yaitu:
1. Muwarrits (orang yang memberi waris), yakni mayit di mana orang lain berhak mewaris dari padanya akan apa saja yang ditinggalkan sesudah matinya.
2. Warits (penerima waris), yakni orang yang berhak mewaris dengan sebab yang telah dijelaskan, seperti: kekerabatan, pernasaban, perkawinan dan sebagainya.
3. Mauruts (benda yang diwariskan), yakni sesuatu yang ditinggalkan mayat, seperti: harta, kebun dan sebagainya.
Syarat-syarat mewaris juga ada tiga, yaitu:
1. Matinya orang yang mewariskan, baik menurut hakikat maupun menurut hukum.
2. Ahli waris betul-betul hidup ketika muwarits mati.
3. Diketahui jihat kekerabatan dan sebab mewaris, yang merupakan syarat untuk mewaris.
F. Penghalang Hak Waris
Para ulama' fiqh ahli hukum kewarisan banyak bersilang pendapat mengenai permasalahan penghalang kewarisan. Namun, pada umumnyamereka sependapat mengenai apa itu penghalang kewarisan sehingga para ulama' menyebutkan ada tiga penghalang kewarisan, yaitu:
1. Perbudakan
Budak tidak dapat mewarisi karena dianggap tidak cakap mengurusi harta-harta milik, dan status kekeluargaannya terputus
dengan ahli warisnya, ia tidak dapat mewariskan harta peninggalan karena ia dianggap orang yang tidak memiliki harta sedikitpun.
2. Pembunuhan
Pembunuhan adalah salah satu penghalang waris, pembunuhan yang dimaksud di sini adalah pembunuhan yang dilakukan kepada keluarga dengan motif untuk memudahkan atau mempercepat bagi pihak yang membunuh untuk mendapatkan warisan25. Dalam hukum Islam pembunuhan adalah dosa yang dikategorikan sangat besar hal ini sesuai dengan firman Allah:
لَاوَ
ىظِّ \يْ"نِ يْ 0هُ 9:نَّنَّ ءً ]وٰيْ ^هُ /هٖظِّ $نِنَّ $نِ نَّ يْ 7نَّOنَّ +يْWنَّنَّ !ءًيْ هُ `يْ!نَّ نَّنِ Gهُ يْ !نَّ-نَّ aظِّفُۗbنَّ$يْ 1نِ نَّ انِ /هُوٰ $ا cنَّ"نَّنَّ Iيْنِ $نَّا dنَّEيْنَّ$ا ا هُ هُ Wيْ(نَّ
اBءًيْ 4هُيْ!نَّ نَّ نَّ /=نَّ انِ نِفُۗيْWنَّ$يْا
(Q.S Al-Isra' : 33) Artinya : "Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Siapa yang dibunuh secara teraniaya, sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya. Akan tetapi, janganlah dia (walinya itu) melampaui batas dalam pembunuhan (kisas). Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (Q.S Al-Isra : 33) 26 3. Perbedaan agama
Tentang perberbedaan agama yang dimaksud adalah antara pewaris dan ahli waris terdapat perbedaan agama. Para ulama' sepakat bahwa seorang non Muslim terhalang hak kewarisannya
25 Suparman “Hukum Waris Indonesia”, 23.
26 QS. al-Israa‟ (17): 33.
terhadap orang Islam, namun terjadi perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya seorang Muslim mewarisi harta seorang non Muslim.27
27 Suparman “Hukum Waris Indonesia”, 24.
BAB III
KONSEP KEWARISAN DALAM KUHPERDATA A. Pengertian Hukum Kewarisan Menurut KUHPerdata
Burgerlijk Wetboek (BW) merupakan ketentuan hukum produk Hindia Belanda yang diundangkan tahun 1848 diberlakukan di Indonesia berdasarkan asas konkordansi.28
Pada dasarnya hukum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu hukum publik dan hukum privat (hukum perdata). Hukum publik merupakan ketentuan- ketentuan hukum yang mengatur kepentingan umum, sedangkan hukum perdata merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur kepentingan yang bersifat keperdataan. Istilah hukum perdata pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Djojodiguno sebagai terjemahan dari burgerlijkrecht pada masa pendudukan Jepang.
Hukum Perdata dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu Hukum Perdata Materil dan Hukum Perdata Formil. Hukum Perdata Materil sering disebut Hukum Perdata, sedangkan Hukum Perdata Formil disebut Hukum Acara Perdata, yaitu yang mengatur bagaimana cara seseorang melindungi haknya jika dilanggar oleh orang lain. Jika dilihat dalam bahasa Inggrisnya, Hukum Perdata dikenal dengan istilah Civil Law. Kata Civil berasal dari bahasa Latin yaitu, Civis yang berarti warga negara. Hal ini berarti bahwa Civil Law atau Hukum Sipil adalah hukum yang mengatur tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak warga negara dan atau individu.29
28 Titik Triwulan, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana, 2011), Cetakan ke-3, h. 15.
29 Dr. Yulia, S. H, M. H, Buku Ajar Hukum Perdata, (Aceh: Lhokseumawe, 2015) hal 2.
Hukum perdata formil mendukung hukum perdata materiil, karena hukum perdata formil berfungsi untuk menerapkan hukum perdata materiil jika ada pelanggaran.30
Buku II KUHPerdata tidak hanya membahas tentang Benda dan Hak Kebendaan, tetapi juga menyangkut Hukum Waris.
KUHPerdata menganggap hak mewaris sebagai hak kebendaan atas harta milik orang yang telah meninggal (Pasal 528 KUHPerdata). Selain itu, Pasal 584 KUHPerdata menyebutkan hak mewaris sebagai salah satu cara untuk mendapatkan hak milik, sementara cara-cara untuk mendapatkan hak milik diatur dalam Buku II KUHPerdata, sehingga hukum waris ditempatkan dalam Buku II KUHPerdata.31
Dalam sistem hukum waris menurut versi KUH Perdata, terdapat dua jenis ahli waris, yaitu:
1. Ahli waris karena posisi mereka sendiri (dalam bahasa Belanda uit eigen hoofde), dan
2. Ahli waris karena pergantian posisi (dalam bahasa Belanda bij plaatsvervulling).
Ahli waris karena posisi mereka sendiri adalah para ahli waris yang diterangkan dalam Pasal 852 ayat (1) KUH Perdata, yaitu anak-anak yang lahir dari pernikahan yang sama atau dari pernikahan yang berbeda yang mewarisi kepada kedua orang tua, kepada kakek/ nenek dan keluarga selanjutnya menurut garis lurus ke atas, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, atau antara yang lahir lebih dahulu dengan yang lahir setelahnya. Begitu juga hak
30 M. Nasrulloh Fachruddin, Penolakan Ahli Waris dalam Perspektif Hukum Islam dan KUHPerdata, (Skripsi Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2010), h. 35-36.
31 Djaja S. Meliala, Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Bandung: Penerbit Nuansa Aulia, 2018), Cetakan ke-1, h. 1.
suami atau istri yang ditinggalkan, yang mendapatkan bagian sebesar seorang anak yang sah dari pewaris (lihat Pasal 852 (a) KUH Perdata). Hak istri atau suami untuk mewaris dari pewaris (suami atau istrinya) ini baru diakui di Belanda sejak tahun 1923, dan di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1936 melalui S. 1935-486, yang kemudian menghasilkan Pasal 852 (a) KUH Perdata.
Dalam hal ini suami/istri yang sudah berpisah tempat tinggal dan tidur masih bisa saling mewarisi, tetapi untuk suami/istri yang sudah bercerai tidak dapat lagi saling mewarisi, karena hak warisnya sudah terhalang oleh perceraian tersebut.
Selanjutnya, jika pewaris tidak memiliki keturunan maupun pasangan hidup, tetapi meninggalkan ayah/ibu dan saudara-saudara di garis samping, maka harta akan diwariskan kepada saudara-saudara dan ayah/ibu tersebut (vide Pasal 854 KUH Perdata).
Di samping waris karena kedudukannya sendiri, terdapat juga waris karena pergantian tempat (bij plaatsvervulling). Yang dimaksud dengan waris karena pergantian tempat adalah orang yang mewaris yang sebenarnya bukan waris, tetapi kedudukannya berubah menjadi waris karena yang seharusnya menjadi waris lebih dahulu meninggal dunia dari pewaris. Misalnya seorang ayah meninggal dunia, tetapi ada anaknya yang lebih dahulu meninggal dunia, tetapi dari anak yang lebih dahulu meninggal dunia terdapat cucu-cucunya (cucu-cucu dari pewaris). Maka dalam hal ini, cucu-cucu dari pewaris tersebut mendapatkan hak sebesar hak orang tuanya seandainya orang tuanya tersebut masih hidup.
Akan tetapi jika semua anak-anak dari pewaris sudah meninggal dunia, dan yang tinggal adalah cucu-cucu dari beberapa anak tersebut. Maka semua cucu- cucunya tersebut mendapatkan hak yang sama besar (sama besar per kepala), tanpa melihat berapa hak dari orang tua mereka seandainya orang tua mereka masih hidup. Hak-hak untuk pergantian tempat seperti ini hanya berlaku bagi anak/cucu (garis lurus ke bawah), tetapi tidak berlaku bagi keturunan dari
istri/saudara-saudaranya dan juga keturunan lurus ke atas (ayah/kakek/nenek), vide Pasal 843 KUH Perdata.32
Mewaris berdasarkan penggantian, yaitu pewarisan di mana penerima waris menggantikan penerima waris sebelumnya dari pewaris. Dalam mewaris berdasarkan penggantian tempat penerima waris artinya mereka yang mewaris dengan penggantian tempat, mewaris secara satu per satu (Pasal 852 ayat (2) KUHPerdata). Pasal 841 KUHPerdata:
“Pergantian memberikan hak kepada orang yang mengganti, untuk bertindak sebagai pengganti, dalam taraf dan dalam semua hak orang yang diganti.”
Pasal 841 KUHPerdata ini dengan jelas menyatakan, bahwa memberikan hak kepada seseorang untuk menggantikan hak-hak dari orang yang sudah meninggal. Orang yang menggantikan posisi tersebut mendapatkan hak dari orang yang digantikannya. 33
Pada dasarnya, proses pindahnya kekayaan seseorang kepada ahli warisnya, yang disebut pewarisan, terjadi hanya karena kematian. Oleh karena itu, pewarisan baru akan terjadi jika tiga syarat terpenuhi, yaitu:
1. Ada orang yang telah meninggal;
2. Ada orang yang masih hidup sebagai penerus yang akan menerima harta warisan ketika pewaris meninggal;
3. Ada beberapa aset yang ditinggalkan oleh pewaris. Menurut hukum waris dalam BW, ada prinsip bahwa, jika seseorang meninggal, maka
32 Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Cetakan ke-2, h. 142-144.
33 Surini Ahlan Sjarif dan Nurul Elmiyah, Hukum Kewarisan Perdata Barat Pewarisan Menurut Undang-Undang, (Jakarta:
Kencana, 2010), Cetakan ke-3, h. 24.
secara langsung semua hak dan kewajibannya berpindah kepada semua ahli warisnya.34
Menurut Pasal 832 ayat (1) KUHPerdata, ada 4 (empat) kelompok ahli waris ab intestato, yaitu:
Golongan I: anak sah, suami istri yang hidup paling lama, termasuk istri kedua atau suami kedua dan seterunya (Pasal 852 jo Pasal 852a KUHPerdata).
Golongan II: Orang tua dan saudara-saudara sekandung, seayah atau seibu (Pasal 854 jo Pasal 857 KUHPerdata).
Golongan III: Semua keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas baik dari pihak ayah, maupun ibu. Singkatnya, kakek-nenek dari pihak ayah dan kakek-nenek dari pihak ibu (Pasal 853 KUHPerdata).
Golongan IV: Keluarga berdarah samping hingga derajat keenam (Pasal 861 jo Pasal 858 KUHPerdata). Mereka adalah saudara sepupu dari ayah maupun ibu.
Jika keempat golongan ahli waris ab intestato ini tidak ada, maka harta warisan akan menjadi milik negara bukan sebagai ahli waris, tetapi sebagai pihak pemilih harta warisan (Pasal 832 ayat (2) KUHPerdata jo Pasal 520 KUHPerdata).
B. Pembagian Harta Ahli Waris Menurut KUHPerdata
Ahli waris ab Intestato mendapatkan warisan berdasarkan alasan hukum umum, yang berarti harta warisan diperoleh karena peristiwa hukum, yaitu kematian seseorang. Oleh karena itu, ketentuan umum KUHPerdata berlaku untuk mereka, termasuk Pasal 830, 831, 832, 833, 834, Pasal 1048, 1086, dan Pasal 874 KUHPerdata.
34 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, (Bandug: PT Refika Aditama, 2018), Cetakan ke-5, h. 25.
Pasal 830 tentang asas kematian; Pasal 831 tentang Commorientes; Pasal 832 tentang klasifikasi ahli waris; Pasal 834 tentang Hereditatis petitio; Pasal 1048 tentang ahli waris berhak tidak hanya atas harta warisan tetapi juga memiliki kewajiban membayar utang-utang pewaris; Pasal 1066 tentang karakteristik hukum waris; Pasal 874 tentang pembagian harta warisan yang akan dilakukan terlebih dahulu berdasarkan surat wasiat.35
Ada tiga komponen yang terkait dengan proses pembagian harta warisan, yaitu: (1) Pewaris (individu yang sudah meninggal), (2) Ahli Waris, dan (3) Harta Warisan. Ketiga komponen tersebut merupakan syarat waris. Jika salah satu dari syarat waris tersebut tidak ada, maka hubungan waris untuk mewarisi tidak diperbolehkan karena syarat dan komponen waris tidak terpenuhi.36
Pembagian Harta Waris menurut KUHPerdata. Dalam sistem KUHPerdata, ada orang-orang yang tidak bisa mendapatkan harta warisan, yaitu:
1. Orang-orang yang sudah putus hubungan keluarga, dalam hal ini istri/suami yang telah bercerai.
2. Orang-orang yang menolak warisan (termasuk keturunan yang akan menggantikan posisi).
3. Orang-orang yang menggantikan posisi orang yang telah menolak warisan, kecuali semua ahli waris yang sebarisan semuanya menolak warisan atau tidak layak menerima warisan, pada kasus ini orang-orang yang menggantikan posisi tersebut mendapatkan hak waris tetapi secara merata (dihitung per orang).
4. Orang-orang yang tidak layak menerima warisan (onwaardigheid), seperti yang disebut dalam Pasal 838 KUHPerdata, yaitu:
35 Djaja S. Meliala, Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata... h. 9.
36 Habiburrahman, RekontruksI Hukum kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Cetakan ke-1, h. 240.
a. Mereka yang telah dihukum karena dituduh telah membunuh atau mencoba membunuh pewaris.
b. Mereka yang telah dituduh oleh pengadilan karena memfitnah bahwa pewaris telah melakukan tindak pidana yang terancam hukuman penjara minimal 5 (lima) tahun.
c. Mereka yang telah menghalangi (dengan perbuatan atau kekerasan) pewaris untuk membuat surat wasiat atau membatalkan surat wasiat.
d. Mereka yang telah menggelapkan, merusak, atau memalsukan surat wasiat dari pewaris.37
37 Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata... h. 142-143.
BAB IV
ANALISIS KEPUTUSAN TENTANG HAK WARIS
A. Gambaran Umum Kasus Hak Waris Dalam Keputusan Mahkamah Agung Nomor : 56/Pdt.P/2017/PN.KPN
Kasus hak waris dalam penelitian ini adalah keputusan mahkamah agung nomor : 56/Pdt.P/2017/PN.KPN. Kasus ini adalah dokumen dari Pengadilan Negeri Kepenajen Kabupaten Malang Jawa Timur yang diunggah di direktori Website Mahkamah Agung. Berikut adalah kronologi kasus hak waris berdasarkan lembar putusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN.
Kasus hak waris ini dimulai dari mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya menyatakan memberi ijin kepada pemohon (KASTURI) yang dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama anak-anaknya yang masih dibawah umur yang bernama TITIK WINDARI masih berumur 17 (tujuh belas) tahun dan IRMA NISATUL AIDAH masih berumur 12 tahun untuk menjual sebidang Tanah Letter C No.790 Persil 10.a Kelas D.I Luas 969 M2 (sembilan ratus enam puluh sembilan meter persegi) dan buku Letter C No.790 Persil 10.a Kelas D.I, Luas 1.189 M2 (seribu seratus delapan puluh sembilan meter persegi) yang terletak di Dusun Karangapel Desa Karangwiduro Kecamatan Dau Kabupaten Malang tertulis atas nama B. Tanamun (Suami Pemohon) yang dimana membebankan biaya perkara permohonan ini kepada pemohon sebesar Rp226.000,- (dua ratus dua puluh enam ribu rupiah).
Kemudian, apabila salah seorang orang tua sudah meninggal maka hak dan kewajiban tersebut secara otomatis beralih kepada orang tua yang masih hidup, dan berdasarkan fakta dipersidangan, anak Pemohon yang bernama TITIKWINDARI masih berumur 17 (tujuh belas) Tahun dan IRMA NISATUL AIDAH masih berumur 12 tahun atau masih dibawah umur, maka Pemohon selaku orang tua yang masih hidup dapat mewakili anak-anaknya atau dapat bertindak untuk dan atas nama anak-anaknya tersebut untuk menjual tanah pihak.
Dengan isi gugatan sesuai yang terlampir dalam lembar Keputusan Mahkamah Agung Nomor 56/Pdt.P/2017/PN.KPN.
B. Analisis Keputusan Mahkamah Agung Nomor: 56/Pdt.P/2017/PN.KPN
1. Analisis Keputusan Mahkamah Agung Nomor: 56/Pdt.P/2017/PN.KPN Dalam Perspektif Hukum Islam.
Ketentuan hukum tentang hak waris di bawah umur dalam hukum Islam ada banyak, sesuai dengan situasi dan alasan hukumnya ialah anak di bawah umur tetap berhak mendapatkan bagian warisannya. Namun, pengelolaan harta warisan tersebut harus dilakukan oleh wali hingga anak tersebut mencapai usia dewasa atau baligh.
Tugas orang tua sebagai pengurus anak di bawah umur terkait harta warisan dilihat dari Hukum Islam (Kompilasi Hukum Islam) adalah sebagai berikut:
1. Tugas orang tua dalam mewakili anaknya terbatas pada perikatan dan pemindahan hak atau duplikasi harta anak yang bisa dilakukan setelah mendapat keputusan pengadilan. Pengurus ahli waris di bawah umur untuk harta warisan tersebut tidak boleh memindahkan atau menggadaikan harta anak kecuali ada kebutuhan mendesak. Selain yang diatur dalam hukum, kewajiban dan larangan pengurus anak di bawah umur juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).
2. Wali di sini harus merawat diri dan harta anak yang dalam perwaliannya serta memberikan bimbingan agama, pendidikan, dan keterampilan lain.
Selain itu, wali juga bertanggung jawab atas harta anak dan harus mengganti kerugian yang terjadi akibat kesalahan atau kelalaiannya. Tanggung jawab wali harus dibuktikan dengan catatan yang ditutup setiap tahun. Wali juga tidak boleh melakukan perjanjian dan menjual harta warisan yang dalam perwaliannya kecuali jika ada keputusan mendesak yang mengharuskan wali
untuk mengikat, membebani, dan mengalihkan harta orang yang berada di bawah perwaliannya.38
2. Analisis Keputusan Mahkamah Agung Nomor: 56/Pdt.P/2017/PN.KPN Dalam KUHPerdata
Menurut KUHPerdata, anak di bawah umur yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah, dianggap sebagai anak yang belum dewasa. Anak yang belum dewasa dianggap tidak mampu, sehingga tidak bisa mengelola harta warisnya sendiri. Untuk mengelola harta waris anak di bawah umur, diperlukan seorang wali atau pengasuh.39
38 Jurnal Hukum Lex Generalis. Vol.3. No.6 (Juni 2022)
39 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan setiap bab yang telah peneliti sampaikan, hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ketentuan hukum waris dalam islam memberikan gambaran umum tentang hukum waris Islam, mendefinisikan istilah-istilah kunci seperti
"waris" (ahli waris) dan "mirâts" (warisan), dan menekankan kerangka hukum yang mengatur pengalihan kekayaan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya. Inti dari hukum waris Islam adalah bahwa hukum waris Islam menguraikan peraturan yang diperlukan untuk distribusi aset orang yang meninggal, memastikan pemahaman yang jelas tentang hak dan tanggung jawab ahli waris.
2. Konsep pewarisan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menguraikan kerangka hukum yang mengatur pengalihan harta setelah kematian, membedakan antara berbagai jenis ahli waris dan kondisi terjadinya pewarisan. Ketentuan utama merinci hak-hak ahli waris, klasifikasi ahli waris, dan implikasi hukum dari pewarisan, yang menekankan perlunya memenuhi kriteria tertentu agar pengalihan aset dapat dilakukan.
3. Putusan Mahkamab Agung Nomor: 56/Pdt.P/2017/PN.KPN menegaskan bahwa orang tua dapat mewakili anak di bawah umur untuk mengelola dan menjual harta warisan, sesuai dengan hukum Islam dan KUHPerdata, dengan batasan dan tanggung jawab tertentu sebagai wali.
B. Rekomendasi
Rekomendasi terkai hak waris di bawah umur yang peneliti bisa sampaikan antara lain:
1. Bagi pemohon sebaiknya menjaga komunikasi yang baik dengan semua ahli waris, baik sebelum, sesaat atau setelah pengajuan bagi waris.
2. Bagi peneliti, studi tentang hak waris di bawah umur dapat dilakukan dengan melihatnya dari sudut pandang hukum islam dan KUHPerdata yang masih ada di masyarakat Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
A.Pitlo Hukum Waris Menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata Belanda, terjemahan oleh isa Arief [Jakarta Intermasa 1979]
Abdullah Syah.1994. Hukum Waris Ditinjau Dari Segi Hukum Islam (fiqh), Kertas Kerja Simposium Hukum Waris Indonesia Dewasa ini, Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan
Soepomo, 1993, Bab – Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta
Wirani Aisiyah Anwar, 2014, Praktek Pembagian Warisan Antara Laki-Laki Dan Perempuan (Studi Kasus Di Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidrap), Skripsi Sarjana, Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Parepare
Megawati, 2016, Sistem Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Pada Masyarakat Islam Di Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, Skripsi Sarjana, Fakultas Syariah dan Hukum
Desti Herlia, 2019, Pembagian Harta Waris Pada Masyarakat Lampung Sebelum Muwaris Meninggal Dunia
Salim, M. bin. (2005). Fiqh Mawaris (1st ed.). Dar Al-Fikar
Syarifuddin, A. (2005.) Hukum Kewarisan Islam (2nd ed.). kencana Muhammad Ali Ash-Shabuniy, “Hukum Waris Islam”, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1995),
Mahmud Yunus, “Kamus Arab-Indonesia”, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran Al-Qur‟an, 1972)
Muhammad Ali Ash-Shabuniy, “Hukum Waris Islam”, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1995)
Ash-Shabuniy“Hukum Waris Islam”
Eman Suparman, “Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW”, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007)
W.J.S. Poerwardaminta “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, (Jakarta:
Depdikbud, Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, 1982)
Poerwardaminta “Kamus”, 21SAHIH BUKHARI, Buku 80 : Hukum Warisan (Al- Faraa'id)-IIUM
Pasal 832 dan 852 KUHPerdata A. Sukris Sarmadi, Transendendi Keadilan Hukum Waris Islam Transformatif, Cet. Ke-1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997
Amir Syarifudin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, Gunung Agung, Jakarta, 1984
Abdul Manan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), 208
M. Yahya, Tranformasi Materi Kompilasi Hukum Islam:
Mempositifkan Abstraksi Hukum Islam, dalam Ditbinpera Departemen Agama RI., Mimbar Hukum Aktualisasi Hukum Islam, No.5, Thn. 3, Ditbinpera Departemen Agama RI., Jakarta, 1992
Analytyca Islamica, Vol. 5, No. 2, 2003 Suparman, “Hukum Waris Indonesia”
http://www.eprints.udip.ac.id/../Mintarno.pdf
Titik Triwulan, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana, 2011), Cetakan ke-3
Dr. Yulia, S. H, M. H, Buku Ajar Hukum Perdata, (Aceh: Lhokseumawe, 2015)
M. Nasrulloh Fachruddin, Penolakan Ahli Waris dalam Perspektif Hukum Islam dan KUHPerdata, (Skripsi Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2010)
Djaja S. Meliala, Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Bandung: Penerbit Nuansa Aulia, 2018), Cetakan ke-1
Jurnal Hukum Lex Generalis. Vol.3. No.6 (Juni 2022) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
Habiburrahman, RekontruksI Hukum kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Cetakan ke-1
Surini Ahlan Sjarif dan Nurul Elmiyah, Hukum Kewarisan Perdata Barat Pewarisan Menurut Undang-Undang, (Jakarta: Kencana, 2010), Cetakan ke-3