• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETISI Menolak politik elitabilitas

N/A
N/A
Corong Dakwah Literasi

Academic year: 2023

Membagikan " PETISI Menolak politik elitabilitas"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

PENGURUS

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

(Islamic Association of University Students)

CABANG MATARAM

Sekretariat: Jln. Panji Anom 1 No. 2 Kekalek Indah-MataramTelp: 0877863552727 Email :[email protected]

PETISI

Menolak politik elitabilitas

Tahun 2024 disebut sebagai tahun politik sebab diwarnani dengan pemilihan presiden dan wakil presiden juga pemilihan anggota legislatif dari tingkat pusat hingga daerah. Pada momentum ini diperkirakan sebanyak 190,5 juta pemilih dengan rincian pemilih yang terdiri dari erdiri dari gen Z (17-23 tahun) sebanyak 15,82 persen, gen Y (24-39 tahun) sebanyak 35,59 persen, gen X (40- 55 tahun) 30,10 persen, baby boomer (57-74 tahun) 15,91 persen, dan pre-boomer (di atas 75 tahun) sebanyak 2,57 persen.

Dengan jumlah pemilih yang sangat besar, seharusnya para calon yang akan bertarung memperebutkan kursi kekuasaan harus mengedepankan ide dan gagasan sebagai penuntun arah pembangunnan bangsa ke depan. Hal ini juga sebagai upaya pencerdasan politik kepada masyarakat agar bisa memilih dengan preferensi rasionalitas. Namun pada realitasnya, pertarungan politik saat ini diwarnai dengan kepentingan kelompok elit tertentu dengan mengabaikan kepentingan nasional Bangsa Indonesia.

Bahaya dari Politik Elitabilitas

Politik Elitabilitas merujuk pada konsep elit dalam politik yang berarti sekelompok kecil orang- orang (oligarki) yang menguasai kekayaan atau kekuasaan politik dalam masyarakat. Dalam Konteks Indonesia elit politik atau oligarki mencerminkan bahwa dominasi kekuasaan hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Jeffrey Winters (2011) menyatakan bahwa elit politik atau oligarki di Indonesi sudah terbentuk sejak era Orde Baru berlanjut hingga saat ini.

Robert Michiels dalam karyanya political parties (1915) menyatakan bahwa hukum besi oligarki menunjuk pada suatu kecenderungan umum bagi kekuasaan untuk menjadi terkonsentrasi dalam tangan suatu elit yang keputusan dan tindakannya secara bertahap diarahkan untuk mempertahankan kekuasaan mereka lebih daripada meningkatkan kepentingan rakyat. Michiels juga mengungkapkan bahwa sistem partai politik didirikan sebagai organisasi demokratis untuk memenuhi kepentingan para anggota dan masyarakat, lama-kelamaan tunduk pada

(2)

kepentingan kelompok pada struktur pimpinan dalam memperkuat kekuasaan mereka untuk mempertahankan posisi elitnya.

Politik elit akan mengedepankan kepentingan kelompok daripada kepetingan bangsa akan berdampak buruk bagi keberlangsungan demokrasi dan pembangunan Indonesia. Dalam upaya merebut kekuasaan, elit akan melakukan segala cara upaya untuk mengamankan kursi kekuasaan. Politik elitabilitas dalam upaya mengambil hati rakyat, tidak menyandarkan diri pada pikiran, ide dan gagasan melainkan cara-cara yang transaksional, destruktif, bahkan mengancam persatuan dan keutuhan Bangsa Indonesia.

Berkaca dari fenomena politik yang telah terjadi beberapa periode kebelakang. Kepentingan elit yang begitu besarnya mengorbankan persatuan dan keutuhan Bangsa. Belahan politik yang begitu tajam, polarisasi yang begitu massif membawa masyarakat Indonesia pada pertengkaran- pertangkaran yang tidak berkesudahan. Munculnya idiom-idiom negatif yang menjorok pada kelompok tertentu memperuncing pertentangan atau konflik politik yang terjadi. Selain itu, politik elitabilitas yang tidak menawarkan ide dan gagasan membuat penyelenggaraan negara tidak berkualitas. Banyak permasalahan-permasalahan sosial tidak mampu teratasi dengan baik.

Begitu buruknya dampak dari politik elitabilitas tersebut. Maka sangat diperlukan bagi seluruh eleman masyarakat untuk memilih kualitas pemimpin yang mendasarkan dirinya pada ide dan gagasan untuk kemajuan bangsa kedepan, bukan yang menegedepankan kelompok kecil golongan. Dengan mengedepankan kesadaran masyarakat inilah yang kemudian akan memotong politik elit atau oligarki ini terus berkuasa di Indonesia.

Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi yang terus berkomitmen dan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga arus demokrasi agar terus berjalan sehat demi terwujudnya masyarakat adil makmur. Sebab itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang mataram mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam rangka perbaikan arah bangsa ke depan. Melalui momentum kali ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia terkhusus di Kota Mataram untuk menandatangani petisi penolakan terhadap politik elitabilias.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara umum tingkat pertisipasi politik masyarakat di dalam pemilu legislatif 2009.. Budaya politik adalah kesadaran

Dalam tataran elit politik, wacana merupakan salah satu media yang sesuai untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas sehingga diharapkan tidak muncul

Politik dinasti yang dibangun antara sesama keluarga elit politik Batang Hari yang telah mengakar lama kemudian terus berupaya untuk di perluas pada pilkada serentak di Kabupaten

Abstrak: Kajian ini bertujuan merumuskan prinsip dasar hukum politik Islam menurut perspektif Al-Quran mengingat hukum politik Islam (fiqh siyasah) adalah hukum yang

Perubahan dalam proses politik misalnya, metode berkomunikasi dalam proses transformasi pesan politik antara sesama aparat pemerintahan Gampong, elit politik, dan masyarakat,

Anarkis yang terjadi dapat dikatakan sebagai muara dari kebebalan kalangan elit (politik, aparat negara dan pengusaha) dalam merespon tuntutan

Idealnya, dan demi terciptanya keadilan, masyarakat Aceh harus berperan aktif untuk menghindari dan mempersempit ruang-ruang konflik politik dengan

Di tiap-tiap jurusan pasti mempunyai nama yang berbeda-beda, misalnya Jurusan Politik Islam dinamakan dengan HIMAPI (Himpunan Mahasiswa Politik Islam), Jurusan