• Tidak ada hasil yang ditemukan

Petunjuk Umum Pasanggiri Bahasa Sunda Jenjang SD dan SMP Tahun 2024

N/A
N/A
Kusto Kusto

Academic year: 2024

Membagikan "Petunjuk Umum Pasanggiri Bahasa Sunda Jenjang SD dan SMP Tahun 2024"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PETUNJUK UMUM

A. Tujuan

1. Menyukseskan kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2024 sebagai bagian utama dari Program Merdeka Belajar Episode ke-17.

2. Memperkuat sikap (karakter), memperluas pengetahuan (wawasan), serta melatih dan mengembangkan sikap positif siswa SD dan SMP terhadap bahasa daerah melalui kegiatan pasanggiri (perlombaan) bahasa, sastra dan seni Sunda.

3. Mengamati sekaligus mengevaluasi hasil pembelajaran bahasa dan sastra Sunda pada jenjang SD dan SMP.

4. Mengevaluasi program Revitalisasi Bahasa Daerah bagi penutur muda yang diinisiasi oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

5. Memelihara bahasa, sastra, aksara dan seni

Sunda pada bidang pendidikan, khususnya pada

jenjang satuan pendidikan.

(3)

1. Adanya perwakilan peserta pasanggiri dari seluruh Korwil Bidang Pendidikan/Kecamatan di Kabupaten Kuningan;

2. Terpilihnya juara 1, juara 2, juara 3, harapan 1, harapan 2, dan harapan 3 kategori putra putri untuk setiap materi pasanggiri;

3. Terlaksananya kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu bagi siswa SD dan SMP tingkat Kabupaten Kuningan Tahun 2024, dan;

4. Terjalinnya kemitraan antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan dan unsur perguruan tinggi negeri/swasta (akademisi), organisasi kesundaan/sanggar kesenian (praktisi) dan sekolah (guru/siswa), serta masyarakat pada umumnya.

C. Materi Lomba FTBI 2024

Kode Nama (Sunda) Nama (Indonesia) Jenjang

01 Ngadongéng Mendongeng SD dan SMP

02 Biantara Pidato SD dan SMP

03 Maca Sajak Membaca sajak SD dan SMP

04 Nembang (Pupuh) Tembang tradisi SD dan SMP 05 Maca jeung Nulis Aksara

Sunda

Membaca dan menulis aksara

daerah SD dan SMP

06 Ngarang Carita Pondok Menulis cerita pendek

(cerpen) SD dan SMP

07 Ngabodor Sorangan Komedi tunggal (stand up

comedy) SD dan SMP

B. Indikator Keberhasilan

(4)

PETUNJUK UMUM

1. Kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah tahun 2024 merupakan bagian utama dari Program Merdeka Belajar Episode ke-17 tentang Revitalisasi Bahasa Daerah yang telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tanggal 22 Februari 2022.

2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, tanggung jawab pembinaan, pengembangan, pelindungan bahasa daerah berada pada pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota.

3. Penyusunan rencana kegiatan anggaran program sosialisasi, seleksi, pendampingan, pemantauan, evaluasi, dan pembinaan kegiatan revitalisasi bahasa daerah melalui APBD dan sumber lain yang tidak mengikat.

4. Anggaran yang harus ditanggung oleh Korwil Bidang Pendidikan/Kecamatan ketika mengirimkan kontingen ke tingkat Kabupaten meliputi konsumsi, akomodasi, uang saku, dan transportasi peserta dan pembimbing.

5. Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan akan menanggung biaya penyelenggaraan FTBI 2024 di tingkat Kabupaten, piala, sertifikat penghargaan, untuk para pemenang.

6. Dalam proses penyelenggaraan program revitalisasi bahasa daerah, Korwil Bidang Pendidikan/Kecamatan wajib ber- koordinasi dan memberdayakan masyarakat pendidikan di daerahnya masing-masing, terutama kepala sekolah, pengawas sekolah, KKG SD, serta MGMP Bahasa Daerah SMP.

7. Pemerintah daerah kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus mengirimkan perwakilan pengawas, KKG, dan MGMP bahasa daerah yang sesuai kriteria untuk menjadi

D. Ketentuan Umum

(5)

9. Kabupaten/kota wajib mengirimkan para pemenang putra-putri hasil seleksi dari tujuh (7) mata lomba dengan dilengkapi piagam kejuaraan yang akan dijadikan syarat keikutsertaan di tingkat provinsi. Ketujuh mata lomba itu adalah: 1) ngadongéng (bercerita); 2) biantara (berpidato); 3) maca sajak (membaca puisi);

4) nembang (pupuh) (tembang tradisi); 5) maca jeung nulis aksara Sunda (membaca dan menulis aksara Sunda); 6 ngarang carita pondok (mengarang cerita pendek); serta 7) borangan atau ngabodor sorangan (komedi tunggal/stand up comedy).

10. Kabupaten/kota tidak mengirimkan peserta yang pernah menjadi pemenang I (kesatu) FTBI tingkat provinsi tahun sebelumnya untuk lomba yang sama. Oleh karena itu, pelaksanaan FTBI di tingkat kabupaten/kota harus menerapkan aturan tersebut.

11. Dinas pendidikan kabupaten/kota agar berperan aktif melibatkan pimpinan daerah (bupati/wali kota) untuk mendukung program revitalisasi bahasa daerah di wilayahnya masing-masing.

12. Pemerintah kabupaten/kota diimbau memberikan apre- siasi yang

layak kepada para pemenang di tingkat provinsi dalam bentuk

pemberian beasiswa dan lain-lain.

(6)

PETUNJUK UMUM

E. Ketentuan Lomba

1. Kegiatan lomba dilaksanakan secara luring, adapun waktu dan tempat lomba akan diumumkan kemudian.

2. Setiap kabupaten/kota mengirimkan perwakilan siswa peserta lomba yang terdiri atas satu orang putra serta satu orang putri dari jenjang SD dan satu orang putra serta satu orang putri dari jenjang SMP.

3. Ketika tampil/mengikuti perlombaan, peserta tidak boleh memperkenalkan diri, menyebutkan asal kabupaten/ kota, atau menuliskan identitas, kecuali nomor peserta.

4. Setiap peserta hanya boleh mengikuti satu jenis lomba.

5. Peserta lomba mengenakan pakaian seragam PSHS, kecuali untuk lomba nembang (pupuh) dan lomba borangan.

6. Peserta lomba dilarang menggunakan seragam yang menjadi ciri perwakilan kabupaten/kota (misalnya memakai batik dengan corak khusus).

7. Saat tampil/mengikuti lomba, peserta tidak mengguna- kan pelantang (pengeras suara) kecuali lomba nembang (pupuh) dan borangan.

8. Untuk lomba yang memerlukan durasi waktu panitia akan

menyediakan alat penanda waktu (misalnya lampu).

(7)

F. Perubahan Petunjuk Teknis

Secara umum, petunjuk teknis FTBI tahun 2024 masih mengikuti petunjuk teknis FTBI tahun 2023. Namun, ada beberapa perubahan sebagai berikut:

No Tahun 2023 Tahun 2024

1

Kabupaten/kota tidak mengirimkan peserta yang pernah menjadi pemenang I (kesatu) FTBI tingkat provinsi tahun sebelumnya untuk lomba yang sama.

2

Pada saat lomba, peserta dilarang menggunakan seragam yang menjadi ciri perwakilan kabupaten/kota (misalnya memakai batik dengan corak khusus).

3

Rumpaka menggunakan karya Patah Nataprawira yang tersedia pada lampiran petunjuk teknis.

4 Pada lomba Maca Sajak, naskah sajak tahun 2024

berbeda dengan tahun 2023.

(8)

PETUNJUK TEKNIS

01. LOMBA NGADONGÉNG

a) Konsep yang digunakan dalam pasanggiri

ngadongéng

adalah

niténan nu ngadongéng

„menyimak pendongeng‟ dan

ngadéngékeun nu ngadongéng

„mendengarkan pendongeng‟.

b) Materi dongeng yang dilombakan bebas berdasarkan hasil musyawarah di daerah masing-masing.

c) Materi dongeng yang dipilih harus memperhatikan konvensi cerita dongeng, yaitu:

1. Jenjang SD: fabel

2. Jenjang SMP: sasakala (legenda).

d) Selama tampil, peserta lomba ngadongéng harus tetap berdiri di tempat yang disediakan oleh panitia.

e) Peserta hanya mengandalkan kekuatan vokal dan ekspresi, dan tidak diperkenankan membawa atau menggunakan properti apapun.

f) Jika dalam materi dongeng yang dipilih terdapat bagian yang harus dinyanyikan, peserta harus menyanyikan bagian tersebut dan akan menjadi bagian dari penilaian dewan juri (girang pangajén).

g) Durasi waktu

ngadongéng

adalah 5—7 menit. Jika ada peserta yang belum selesai pada waktu yang telah ditentukan, dewan juri berhak menghentikan penampilan peserta (teknisnya diatur oleh panitia).

h) Aspek penilaian lomba mendongeng secara umum meliputi hal-hal sebagai berikut:

No Aspek

Penilaian Indikator Bobot (%)

1 Aspek Bahasa

▪ Pilihan kata (diksi)

▪ Gaya bahasa (rakitan basa)

▪ Kepaduan alur cerita dongeng

▪ Intonasi (lentong) dan pelafalan

40%

2 Pemahaman Isi ▪ Penguasaan isi dongeng

▪ Penghayatan dan penjiwaan 35%

3

Aspek Penampilan (Ekspresi)

▪ Mimik dan gerak (gestur)

▪ Gaya bercerita dan teknik vokal 25%

100%

(9)

02. LOMBA BIANTARA

Dalam sebuah lomba berpidato, tentunya ada rambu-rambu atau ketentuan yang harus diikuti oleh peserta lomba. Ketentuan itu dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:

a) Saat lomba berlangsung, peserta tidak diperbolehkan membawa atau membaca naskah.

b) Durasi waktu pidato (biantara) antara 5—7 menit dan jika ada peserta yang belum selesai pada waktu yang telah ditentukan, dewan juri berhak menghentikan penampilan peserta.

c) Setiap peserta menyerahkan naskah

biantara

masing-masing sebanyak empat rangkap untuk diserahkan kepada panitia (satu rangkap) dan dewan juri (tiga rangkap). Naskah

biantara

tidak mencantumkan nama dan asal Korwil Bidang Pendidikan/Kecamatan, cukup mencantumkan nomor peserta saja.

d) Setiap peserta lomba berdiri di tempat yang telah disediakan panitia.

e) Peserta lomba

biantara tidak meniru/mencontoh gaya Pildacil.

f) Isi

biantara

berkaitan dengan tema bébas (merdeka)

di usahakeun anu update / nu keur viral

.

g) Aspek penilaian secara umum, meliputi beberapa hal berikut:

No Aspek

Penilaian Indikator Bobot

(%)

1 Aspek Bahasa

▪ Pilihan kata (diksi)

▪ Gaya bahasa (rakitan basa)

▪ Tata krama bahasa (undak-usuk basa)

▪ Intonasi (lentong) dan pelafalan

30%

2 Pemahaman Isi

▪ Kesesuaian topik/tema dengan isi

▪ Substansi isi, aktualitas ide, dan keaslian gagasan

▪ Penguasaan dan pemahaman isi

▪ Organisasi dan sistematika penyampaian isi

30%

3

Aspek Penampilan (Ekspresi)

▪ Mimik dan gerak (gestur)

▪ Gaya bercerita dan teknik vokal 40%

100%

(10)

PETUNJUK TEKNIS

03. LOMBA MACA SAJAK

a) Peserta mengenakan pakaian sekolah masing-masing jenjang (SD atau SMP).

b) Peserta tidak diperkenankan menggunakan perlengkapan/

aksesoris atau properti apa pun kecuali naskah/teks sajak.

c) Peserta tidak diperkenankan diiringi oleh musik.

d) Peserta harus menyebutkan dengan jelas judul sajak yang dibaca serta nama pengarangnya.

e) Peserta hanya mendapatkan satu kesempatan tampil di tempat yang telah ditentukan oleh panitia.

f) Peserta wajib membacakan satu sajak yang disediakan oleh panitia (lihat lampiran 1).

g) Aspek penilaian secara umum meliputi beberapa indikator berikut ini:

No Aspek Penilaian Indikator Bobot

(%)

1 Tafsir Pemahaman isi 25%

2 Vokal

▪ Artikulasi

▪ Dinamika

▪ Tempo

25%

3 Penghayatan Ketepatan struktur emosi 25%

4 Penampilan ▪ Penguasaan panggung

▪ Kesatuan mimik (gestur) 25%

100%

(11)

04. LOMBA NEMBANG (PUPUH)

a) Pupuh yang dilombakan merupakan pupuh buhun dengan lagu tandak (panambih) menggunakan versi Mang Koko dengan kemasan iringan yang diperbaharui sesuai dengan arkuh.

b) Peserta memilih satu pupuh yang disediakan oleh panitia dalam setiap jenjang.

c) Peserta membawakan dua rambahan (pengulangan) lagu sesuai dengan arkuh.

d) Rumpaka lagu menggunakan rumpaka karya Patah Nataprawira (lihat lampiran 2).

e) Peserta menggunakan pakaian tradisional Sunda yang tidak mengganggu dalam penampilan siswa.

f) Pamirig (pengiring) dan waditra (alat musik). Surupan yang digunakan sesuai dengan arkuh (52). disediakan oleh panitia

g) Peserta bisa mendapatkan panduan arkuh dan minus one dari Yayasan Cangkurileung Mang Koko Bandung (narahubung: GJ Setra, 082216395599).

h) Adapun pupuh yang dibawakan adalah sebagai berikut:

Jenjang SD Jenjang SMP

▪ Asmarandana Pelog

▪ Maskumambang

▪ Gurisa

▪ Magatru

▪ Wirangrong

▪ Jurudemung

▪ Pangkur

▪ Dangdanggula

▪ Sinom

▪ Durma

(12)

PETUNJUK TEKNIS

04. LOMBA NEMBANG (PUPUH)

i) Aspek penilaian secara umum meliputi beberapa indikator berikut ini.

No Aspek

Penilaian Indikator Bobot

(%) 1 Vokal ▪ Artikulasi

▪ Teknik nembang

Pedotan

40%

2 Penghayatan Penjiwaan isi rumpaka dan penjiwaan

musikalitas 35%

3 Penampilan

▪ Mimik dan gerak (gestur)

▪ Penguasaan panggung dan koreografi

25%

100%

(13)

05. LOMBA MACA JEUNG NULIS AKSARA SUNDA

a)

Durasi menulis aksara Sunda adalah 20 (dua puluh) menit, sedangkan membaca aksara Sunda adalah 2 (dua) menit.

b)

Setiap peserta harus menyelesaikan pekerjaannya tidak melebihi waktu yang disediakan.

c)

Bentuk aksara Sunda yang dijadikan acuan untuk lomba ini adalah Aksara Sunda Standar

Unicode

versi tahun 2013 (bentuk aksara terlampir pada modul).

d)

Materi lomba, baik membaca maupun menulis, ditentukan oleh panitia pada saat pelaksanaan lomba.

e)

Materi “Maca Aksara Sunda” menggunakan media manual berupa cetakan (print out) yang telah disesuaikan dengan durasi.

f)

Pada pelaksanaan “Maca Aksara Sunda”, panitia menggunakan penanda waktu (stopwatch) untuk menghitung durasi setiap peserta.

g)

Materi “Nulis Aksara Sunda” mencakup hal-hal berikut:

1) Tulisan diterakan pada kertas polos putih dan bercap panitia.

2) Alat tulis menggunakan spidol yang disediakan oleh panitia dalam

bentuk standar dan tidak boleh diubah atau dimodifikasi.

h) Aspek penilaian secara umum meliputi beberapa indikator berikut ini.

No Aspek Penilaian Indikator Bobot

(%) 1 Membaca

Aksara Sunda

▪ Ketepatan membaca teks.

▪ Kecepatan membaca teks.

▪ Intonasi dan ekspresi membaca.

50%

2 Menulis Aksara Sunda

▪ Ketepatan bentuk tulisan

▪ Tipografi (kerapian dan keseimbangan tulisan)

▪ Efektivitas (misalnya dalam penggunaan rarangkén).

50%

100%

(14)

PETUNJUK TEKNIS

06. LOMBA NGARANG CARITA PONDOK

a)

Tema ditentukan oleh panitia pada saat lomba akan dimulai berupa stimulasi visual (gambar).

b) Carpon

merupakan karangan siswa dan tidak mengandung unsur plagiarisme, SARA, dan pornografi.

c) Carpon

diketik menggunakan komputerisasi dengan memperhatikan tanda baca sesuai kaidah ejaan.

d)

Paragraf ditulis menjorok bukan rata kiri dan renggang antaralinea.

e)

Durasi mengarang carpon maksimal 3 jam.

f) Carpon karangan siswa adalah fiksi hasil dari pengolahan imajinasi bukan

sekadar pengalaman sehari-hari atau catatan harian (diary).

g)

Dalam mengarang siswa menggunakan

kecap panganteb, kecap panganteur, dan kecap bituna rasa

secara proporsional sebagai upaya pemanfaatan kekayaan dan kekhasan bahasa Sunda.

h)

Penilaian lomba meliputi aspek-aspek berikut.

No Aspek

Penilaian Indikator Bobot

(%)

1 Teks dan Bahasa

▪ Proporsi ukuran huruf.

▪ Dapat dibaca dengan jelas (menunjukkan tingkat keterbacaan yang baik).

▪ Penggunaan ejaan yang baik dan benar.

▪ Penggunaan kosakata dan struktur bahasa Sunda yang baik.

▪ Panjang karangan sesuai dengan ketentuan.

30%

2 Isi

▪ Kesesuaian isi dengan tema.

▪ Orisinalitas karangan.

▪ Pengembangan gagasan.

▪ Memenuhi unsur intrinsik cerita pendek.

70%

100%

(15)

07. LOMBA NGABODOR SORANGAN

a) Peserta adalah siswa pada jenjang SD dan SMP yang ditunjuk (mewakili) atau juara borangan di tingkat

Korwil Bidang Pendidikan/Kecamatan

.

b) Jumlah peserta dari tiap jenjang masing-masing dua orang, seorang siswa dan seorang siswi.

c) Materi borangan semata-mata bukan dongeng lucu, tetapi cerita mengandung kelucuan tentang kejadian yang sedang hangat (viral) di masyarakat.

d) Tema bebas, tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan ledekan (moyok/ngékéak).

e) Materi yang dibawakan peserta adalah karya original dan baru, bisa karya guru atau pihak lain.

f) Pakaian peserta disesuaikan dengan materi lomba, serta memperhatikan adat dan kesopanan.

g) Durasi borangan antara 4—5 menit. Jika ada peserta yang belum selesai pada waktu yang telah ditentukan, dewan juri berhak menghentikan penampilannya.

h) Penilaian lomba borangan meliputi aspek-aspek berikut ini.

No Aspek

Penilaian Indikator Bobot

(%) 1 Bahasa Menggunakan bahasa Sunda yang baik dan

benar. 35%

2 Materi

▪ Lucu, tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan ledekan.

▪ Sesuai dengan batas waktu (4—5 menit).

▪ Karya asli (original).

35%

3 Penampilan

▪ Artikulasi (lentong)

▪ Gerak anggota tubuh (rigig)

▪ Gerak wajah (pasemon)

30%

100%

(16)

NASKAH LOMBA MACA SAJAK

FESTIVAL TUNAS BAHASA IBU TAHUN 2024

Jenjang SD Jenjang SMP

1. "Kapal Ménta Duit"

karya Darpan 2. "Sora"

karya ÉD Jénura 3. "Mapag Jaga"

karya Ganjar Kurnia 4. "Solawat"

karya Nazarudin Azhar 5. "Budak Pahatu Lalis"

karya Dadan Sutisna 6. "Ucing"

karya Rinrin Candraresmi

1. "Kapal Terbang"

karya Darpan

2. "Basa Indung Nyorang Jaga"

karya Dadan Sutisna 3. "Si Belang"

karya ÉD Jenura

4. "Serat kanggo Ibu Déwi Sartika"

karya Étti RS 5. "Tari Topéng"

karya Nazarudin Azhar 6. "Katumbiri Widadari"

karya Rinrin Candraresmi

(17)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

KAPAL MÉNTA DUIT

Karya Darpan

Kapal ménta duit

Di dunya keur sarwa sulit Loba nu gering loba kasakit Loba nu teu kabeuli obat Nu hutang salaput hulu Hirupna teu maju-maju

Kapal ménta duit

Rék dipaké meuli baju

Meuli buku meuli sapatu Nu mahal kabina-bina

Kapal ménta duit

Rék dibangun jalan lempeng Ti kota ka imah kuring

Di sisi kebon nu jempling Sisina lampu baranang

Kapal ménta duit

Mun teu méré kajeun teuing

Rék nungguan kapal séjén

Sugan aya nu béréhan

(18)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

SORA

Karya ÉD Jénura

Prang-pring, prang-pring, sabulu-bulu gading Pukul sabelas peuting

Sora HP ngirining

"Halo?"

"Halo."

Teuing sora saha Geterna nganaha-naha Bet aya budak sakola Pukul sabelas peuting...

2023

JENJANG SD

(19)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

MAPAG JAGA

Karya Ganjar Kurnia

Mangsa sréngéngé nyumirat ti palih wétan hayam raong kongkorongok

manuk-manuk jigrah hahaleuangan, teras ngarapung ka alak paul.

Angin ngahiliwir

daun-daun baseuh ku ciibun alam dunya nguliat

Dijajap ku du’a ema sareng apa abdi angkat sakola

mapag harepan sangkan jaga

tepang sareng kamulyaan

(20)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

SOLAWAT

Karya Nazarudin Azhar

Tina sapiker masigit

aya nu ngaleu solawat sorana ngalalar

ti lembur ka penclut pasir

Kolécér teu kaanginkeun ditiung layung kasorénakeun

Aya budak lalaki leumpang sarungna disoléndangkeun nangkeup kur’an ngajingjing oncor ngahariring nuturkeun sora solawat nu kadéngéna beuki deukeut Imahna di pasir tonggoheun lembur najan kudu nikreuh jauh

manéhna teu kungsi ngangluh ngincig miang saban burit

rék diajar ngaji di masigit

Ba’da Isa manéhna mulang bari angger ngahariring batur keueung mapay galeng netek na jalan

satapak

sora solawat teu elat maturan dina haténa

JENJANG SD

(21)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

BUDAK PAHATU LALIS

Karya Dadan Sutisna

Budak pahatu lalis andriprek lebah trotoar

beungeut cérong dipulas kekebul kota baju rangsak direwég ku kateuboga tapi naha biwirna teu weléh seuri tapi naha panonna teu weléh hurung

Budak pahatu lalis hirup dibaturan karung ngincer jalma-jalma

nu teu nyaho wadah runtah Budak pahatu lalis

umat-imut hareupeun toko pakéan nyérangkeun budak sapantar

keur ngajaran baju anyar Budak pahatu lalis

neureuy ciduh di juru alun-alun lalajo budak sapantar ngahuapkeun roti bakar Budak pahatu lalis ngagibrig

dikepung tiris mapay peuting jeung girimis teuneung nyorang titis-tulis:

sanajan hirup nunggelis dipahing

ragrag citangis

(22)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

UCING

Karya Rinrin Candraresmi

"Méooong…. Méooooooong…."

"Méééééng…. pus pus puuuuuuuuus….”

"Méooong…. Méooooooong…."

Tah, aya nu éong-éongan Patémbalan teras-terasan Ih, tuda ucingna seueur kapan Nu ieu Euis Nu itu

Jaka

Saé nya namina Asli nami Sunda

Tapi aya ogé nami Barat Nu jalu Vigo

Nu bikang Chiko Palinter henteu barodo

Sadayana lalucu Tiasa diajak ameng

Sok ocon udag-udagan Sok nunutur ogo pisan

Sok ngaléndotan hoyongeun diusapan Ucing téh mahluk satia

Ucng kedah dipiara enya-enya Ucing batur ramé rencang sepi

Ucing sato kameumeut Kangjeng Nabi

Bandung, Oktober 2013

JENJANG SD

(23)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

KAPAL TERBANG

Karya Darpan

Saha nu hayang tumpak kapal terbang

Ngangkleung dina mega, mapay awang-awang Bisa nyawang ka handap siga manuk

Di mana lembur jeung sakola

Di mana kebon jeung imah indung bapa Hayang pisan tumpak kapal terbang

Kawas Mundinglaya ngudag Jonggrang Kalapétong Rék diaprak méga-méga bodas nu lemes

Hayu urang tumpak kapal terbang Aéh, apan ongkosna mahal

Ngan maranéhna nu boga duit kandel Nu bisa hiber ti bandara ka bandara Urang atuh kumaha?

Ah urang beunghar geura

Junun diajar jeung suhud kana gawé

Jadi dokter, arsiték, atawa youtuber sohor Ka mana baé urang rék ngider

Maké kapal ngalayang hiber

(24)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

BASA INDUNG NYORANG JAGA

Karya Dadan Sutisna

Anaking, poé ieu ema keur milangkala diajak pésta niupan kecap

jeung nu sapada di juru dunya

Milangkala keur ema meper honcéwang sapoé ngécagkeun lungsé

tapi naha angger ngung-ngéng katorékan mani geunjleung dirényomkeun

magar ema urang gunung magar ema téréh paéh

magar ema seuseut eunteup dina galeuh Milangkala keur ema nundung kabingung sarénghap milepas eungap

tapi naha angger ragot sosorongot magar ema can ngancik manjing kiwari magar ema teu deuheus ka nu ngarora magar ema hésé deukeut jeung kaweruh

Anaking,

ema téh remen ngahuleng bet rus-ras ka mangsa lawas

basa ema dipaké ku unggal létah Ari rét ka nu ayeuna

bet kalah kerung sorangan ema téh aya di mana?

Singhoréng geuning, Anaking ema téh disebut gering

tatu parna geus céda mangalam-alam ku

JENJANG SMP

(25)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

Ema téh asa dikurung ku jirim ti bangsa lian nu gareulis nu laluis

nu nyakola nu nyantana nu mincut saban awaking

Naha enya ema téh lalayu sekar?

boa ukur sangkaan, Anaking lamun haben dipapantes

ema gé ‘mo burung kéwes bisa nyaba ka jauhna mapay kota jeung langitna

ngalanglang ka dayeuh deungeun Iraha atuh, Anaking

ema diajak ngejat ti lembur buhun bari ulah dilelewang

magar ema rék disampakkeun pasaran Anaking,

naha hidep rék cicingeun?

mun ema dugi ka pasti teu kaduga nyorang jaga dijejeléh bangsa lian

katandasa ku turunan sorangan Poé ieu ema keur milangkala lain rék dalit jeung panineungan lain rék pésta tuluy ngahiang tapi keur

nyungsi baring supagi ngalalana nuncal jaman

dikedalkeun ku unggal-unggal rundayan

Tanjungsari, 2006—2022

(26)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

SI BELANG

Karya ÉD Jenura

Mamah! Mamah! Itu si Belang! Dina tangkal gagalacangan!

Kumaha lamun geubis? Ari ucing osok nangis?

Cenah nyawa ucing salapan Tapi si Belang bangor pisan Dua kali

ngadupak lomari Tigujubar ka kulah gé sering

Si Belang kabur ka jalan Ampir kagéléng mobil sédan Gelut jeung ucing sadu Mulang bari raca tatu Hiji dua tilu opat

Lima genep tujuh dalapan Geuning nyawana kantun hiji!

Turun, Belang, ngarah salamet diri!

Mamah! Mamah! Geura uninga! Si Belang pinter kacida

Luncat tina tangkal kapuk Bari ngabaheum cucunguk

2023

JENJANG SMP

(27)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

SERAT KANGGO IBU DÉWI SARTIKA

Karya Étti RS

Dinten ieu di sakola,

abdi sareng réréncangan sadayana,

ngawihkeun lagu, rumpakana perkawis Ibu, perkawis kakeyeng Ibu nyiramkeun élmu panemu, sangkan para wanoja henteu balilu, henteu ukur janten

patih goah tuna kaweruh.

Teu kacipta nasib para wanoja,

saupami Ibu henteu gumelar ka alam dunya, panginten moal aya Karlina, astronot wanoja Sunda, panginten moal aya wanoja nu lalinggih di parlemén, nu carapétang némbongkeun jajatén,

panginten moal aya para ibu guru, nu sabar ngatik bari teu murukusunu.

Ibu, hatur nuhun nu tan wates wangen, nyanggakeun tawis tineung ku nganteng kangen, mugi Ibu di kalanggengan nuju imut binarung bagja, mugia kanyaah Ibu ka abdi sadaya

kénging pangwaler ti Gusti Nu Maha Mulya.

4 Désémber 2022

(28)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

TARI TOPÉNG

Karya Nazarudin Azhar

Na panggung aya nu ngibing dipirig ku sora gending

usik malik bangun suka ngaléngkah mapay wirahma

Méméhna mah bangun alum

rintih tangkal diusap ku angin liwat leungeun dahan leuleus liat

Rap topéng, leumpangna jadi ngajéléng réngkak gagah teuneung ludeung

ulin sampur dangah lir nu nangtang angin Badubangplak genjréng genjréng!

topéng kai ukiran si tapak seuri kai lamé paparin nu ngajak surti

Badubangplak genjréng genjréng! pan ieu aing lalanang

kumalayang mapay saban katumbiri Badubangplak genjréng genjréng!

Sora gending ngaweuhan méméh pungkasan nu keur ngibing muka topéng

mungkas gerak ku imutna

2005

JENJANG SMP

(29)

LAMPIRAN 1 : MACA SAJAK

KATUMBIRI WIDADARI

Karya Rinrin Candraresmi

Tingali, katumbiri di langit asri Éndah warna-warni

Saatos girimis soré Kasorot cahaya panonpoé

Melengkung duh melengkung Ngahias méga luhur jangkung

Pami abdi tiasa ngawang-ngawang Na katumbiri badé ucang-ucang

Saur Aa Godi sareng Tétéh Étti Katumbiri teh jalan kanggo widadari Putri-putri gareulis nu lungsur ka bumi Mébér jangjang karémbong tujuh rupi

Tingkalayang lir pinton ibing kayangan Sumilir angin nyarengan nu aramengan Ngajugjug leuwi seja sukan-sukan Ngarojay icikibung bingah gogonjakan

Hoyong abdi gé ka leuwi Hoyong tepang sareng widadari Hoyong nambut karémbong hiji Paragi latihan tari

Bandung, Oktober 2013

(30)

RUMPAKA LOMBA NEMBANG (PUPUH) FESTIVAL TUNAS BAHASA IBU TAHUN 2024

Jenjang SD Jenjang SMP

▪ Asmarandana

▪ Maskumambang

▪ Gurisa

▪ Magatru

▪ Wirangrong

▪ Jurudemung

▪ Pangkur

▪ Dangdanggula

▪ Sinom

▪ Durma

Semua rumpaka dalam lampiran ini ditulis oleh Patah Nataprawira.

(31)

ASMARANDANA

Laras/Surupan : Madenda 4=Tugu Rumpaka : P. Nataprawira

Sanggian : N.N

SEKAR RANCAG :

AYA NU LUMPUH MUSAPIR BARI SILA SISI JALAN

KADUPAK KU ANU LOLONG ANU EUKEUR BALANGSIAR NÉANGAN SANDANG PANGAN ANU LOLONG GEBUT LABUH NU KADUPAK KATINDIHAN

DUANANA PADA NYERI ANU KADUPAK NYARÉKAN

ANU NGADUPAK BATI BENGONG SASADU MÉNTA HAMPURA

LANTARAN HENTEU AWAS AHIRNA PADA SASADU

PAPA-PADA HENTEU TERANG

SEKAR TANDAK :

NU LOLONG TEU BISA NINGAL NU LUMPUH TEU BISA LEMPANG ANTUKNA PABEDANG-BENDANG

NU LUMPUH REUJEUNG NU LOLONG

MUN DAÉK GAROTONG ROYONG

NU LUMPUH SADRAH DI GANDONG

NU LOLONG MOAL TI TAJONG

(32)

LAMPIRAN 2 : RUMPAKA LOMBA NEMBANG (PUPUH)

MASKUMAMBANG

Laras/Surupan : Madenda 4=Tugu Rumpaka : P. Nataprawira

Sanggian : N.N

SEKAR RANCAG :

ITU KUSIR BANGUN AMBEK-AMBEK TEUING TURUN TINA DÉLMAN

KUDA DIPECUTAN TARIK TEU AYA PISAN RAS-RASAN

TEU NGARASAKEUN BONG KENA KA SATO LAIP PADAHAL MOGOKNA

LANTARAN GES CAPÉ TEUING HAYANG NGASO EUREUN HEULA

SEKAR TANDAK :

NAHA ABONG-ABONG TEUING NASIB ABDI JADI HÉWAN

DIGAWÉKEUN BEURANG PEUTING DIRANGKÉT TAYA RAS-RASAN

ABONG KÉNA ABDI SATO

TEU NGARASAKEUN KA NU CAPÉ SADIDINTEN PAÉH POSO

MOGOK SOTÉH AWAK LUNGSÉ

JENJANG SD

(33)

GURISA

Laras/Surupan : Degung 1=T Rumpaka : P. Nataprawira Embat : Rancag

Sanggian : N.N

SEKAR RANCAG :

WAKTU BARUDAK KEUR MIJAH ARULIN SEMU BARUNGAH GER HUJAN GEDÉ POHARA BARUDAK BRENG LALUMPATAN NGIUHAN DI BALÉ DÉSA

NGADAGO RAATNA HUJAN

AMIR NGOMONG KA BATUR NA KEUR TAMBA KESEL NUNGGUAN NGAYAKEUN TATARUCINGAN BATURNA PADA MUPAKAT AMIR KAPETO TIHEULA TARUCING DIMIMITIAN

SEKAR TANDAK :

AYA BARANG WEWEG PANJANG TATAPI PONDOK NGARANNA NA DIMANA NYA AYANA

SARTA KEUR NAON GUNA NA

DIANTARA BATUR URANG

DIANTARA BATUR URANG

CING SUGAN AYA NU TERANG

CING SUGAN AYA NU TERANG

(34)

LAMPIRAN 2 : RUMPAKA LOMBA NEMBANG (PUPUH)

MAGATRU

Laras/Surupan : Degung 5=L Rumpaka : P. Nataprawira Sanggian : N.N

SEKAR RANCAG :

COBA TEGUH NAON NU SUKU NA TILU PANON OPAT HENTEU GALIB

LEUMPANG RUMANGGIEUNG LAUN ÉSTUNING KU MATAK WATIR

DONGKO BARI AHA OHO

HULU NUTUG BUNTUTNA NGACUNG NGACUNG KA LANGIT BULUNA CARENTIK RINTIT

MATANA MANGPULUH-PULUH RASA HASEUM SEMU AMIS

RAJEG NARANGTUNG DI KEBON

SEKAR TANDAK :

SUKUNA PAKUPIS TILU

PANON NA OPAT HARÉRANG LEUMPANGNA SEMU NU LESU

NGALÉNGKAH TEU BISA GANCANG

BUNTUT NA NGACUNG KA LANGIT BULU NA CARENTIK RINTIT

MATANA MANGPULUH-PULUH TANGGINAS ANU RÉK NEGUH

JENJANG SD

(35)

WIRANGRONG

Laras/Surupan : Degung 1=Tugu Rumpaka : P. Nataprawira

Sanggian : N.N

SEKAR RANCAG :

BARUDAK MANGKA NGALARTI ULAH RÉK KA DALON-DALON

ENGGON-ENGGON NUNGTUT ÉLMU MANGKA GETOL MANGKA TIGIN PIBEKELEUN SARÉRÉA

MODAL BAKTI KA NAGARA

NAGARA JEUNG LEMAH CAI

PERLU PANGJARING PANGROJONG PAMUMULÉ PANYARUNGSUM

MALAR TETEP MERDÉKA SAMPURNA MUKTI WIBAWA

SEKAR TANDAK :

HÉ BARUDAK MANGKA NGARTI ULAH RÉK KA DALON-DALON

NUNGTUT ÉLMU JEUNG PANGARTI

MASING RAJIN SOSON-SOSON

PIBEKELEUN HIRUP TANDANG

MODAL BAKTI KA NAGARA

LEMAH CAI ANU URANG

PERLU DIJAGA DIBÉLA

(36)

LAMPIRAN 3 : DONGENG

Asal-usul Oray Sanca teu Boga Peurah

Nurutkeun carita jaman baheula di salasaiji wewengkon nu aya di tutugan Ciremay, anu ngarajaan leuweung téh lain maung atawa heulang, tapi oray sanca. Kabéh sasatoan téh tunduk jeung taluk ka oray sanca. Tapi, di satukangeun mah papada sato téh teu panuju mun seug oray sanca anu jadi pamingpin atawa raja di éta leuweung. Antukna, sasatoan nu aya di éta leuweung téh ngariung, madungdengkeun kumaha carana ngaléngsérkeun oray sanca tina tahta karajaanna. Cindek tina hasil padungdengan téh, oray sanca bakal diadukeun jeung heulang atawa rajawali ku salasaiji sato nu ngaranna jaralang.

Nincak dina mangsana, oray sanca jeung heulang téh beuki karasa mumusuhanna, maranéhanana ngagul-ngagulkeun kasaktian nu dipabandana, kasaksian ku sakabéh sato nu aya di leuweung, kayaning bajing, uncal, célémés jeung sajabana.

Hiji mangsa heulang keur nginum di hawangan, sakadang kuya jeung keuyeup nyampeurkeun. “Yeuh, Si Sanca téh ngajak tanding, ngadu jajatén, keur nangtukeun saha sato nu pangsaktina.” Ceuk salasaiji sato nu nyampeurkeun. Teu diengkékeun deui, heulang langsung nyaluyuan, ngan ménta sarat. “Heug geura béjakeun, tahta rajawali aing bahan dibikeun ka manéhna, nu di handap atawa di luhur, kakawasaan bakal dicekel ku manéhna kabéh. Asal, urang badami heula, waka tarung. Tuluy, peurahna diutahkeun mun seug ké érék badami.”

Ninggang dina hiji poé nu geus ditangtukeun, heulang turun ti luhur, euntreup dina tangkal. “Peurah manéh utahkeun kana daun pulus.” Ceuk sakadang heulang ka oray sanca.

Teu daék kitu waé éta si sanca téh, meureun sieun dibobodo. Tacan ogé diutahkeun éta peurah, kabéh sato téh diriungkeun. Ceuk si heulang ka sasatoan nu aya di hareupeun.

“Hiji carana kieu. Sok geura rarojong ku maranéh kabéh éta Si Sanca. Pok, Kuring bakal ngadukung ka anjeun sanca. Lamun peurah anjeun geus diutahkeun tuluy Si Heulang ngalawan, éta heulang téh rék dikoroyok ku kami.” Salian ti éta heulang ogé omat-omatan.

“Heug di mana aing jeung sanca keur badami, kabéh sato nu aya di ieu Leuweung geura

JENJANG SD

(37)

datang ka ayeuna ti mimiti sabangsaning sireum, kalajengking jeung sakabéh sato nu boga peurah, éta téh asalna siga kitu.

Oray sawah minangka baturna, apaleun yén oray sanca téh keur ditipu. Ti dinya, oray sawah geuwat ngabéjaan Si Oray Sanca. “Héh sanca, anjeun téh geus ditipu ku balad kurawa sakabéh, tuh peurah téh ditéang, cing ilik ku manéh.” Lian ti kitu, oray sawah ogé milu ngamuk, ngabuntang-bantingkeun buntutna. Barang diilik, peurah dina daun pulus téh bener geus euweuh, der oray sanca ngamuk, tuluy tarung jeung heulang.

Ti saprak kajadian éta nepi ka ayeuna, oray sanca téh teu boga peurah, ukur aya sésa dina daun pulus. Jeung deui, lamun tarung jeung manuk heulang atawa rajawali téh geus tangtu bakal éléh baé.

Singget carita, tahta kapamingpinan téh turun ka heulang. Tapi nepi ka ayeuna, éta heulang téh teu daékeun turun ka handap mun dék nginum. Barukna mah sieuneun ka sakadang kuya jeung keuyeup, sabab harita nu mangnepikeun omongan heulang ka oray sanca téh dua sato éta. Lian ti kitu, kuya jeung keuyeup téh sato anu pangjujur-jujurna, maranehna mah teu nyokot peurahna si oray sanca.

Geus sababaraha waktu lilana, heulang teu bisa ngajaga kakawasaanna, antukna der deui perang keur marebutkeun deui tahta karajaan di leuweung, jeung ahirna maun nu ngarajaan di leuweung tepi ka ayeuna.

Pengarang : Aji Nurhamzah

(38)

LAMPIRAN 3 : DONGENG

Dongéng Munding jeung Oray Laki

Kacaritakeun di salasaiji karajaan, aya Raja boga tilu anak mahkota. Ngaran anakna téh si Dugul, Si Anggana, jeung Anggani. Hiji mangsa, Raja hayang ngawin selirna. Tapi, dibére sarat ku éta selir téh. “Kami daék dikawin, asal éta tilu budak mahkota téh kudu dipiceun, dijauhkeun ti karajaan”.

Selir boga paniatan jahat ka tilu anak mahkota raja. Sangkan, jaganing géto éta karajaan téh turunna ka terah manéhna. Raja nyanggupan ka na sarat nu dipénta ku selirna.

Singgetna, sanggeus Raja kawin, tilu anak raja téh diusir, dikaluarkeun ti karajaan jeung dipiceun ka tutugan Gunung Ciremay.

Sanajan nyanggupan ka na paménta selirna, tapi nu jadi bapa keukeuh boga rasa karunya ka nu jadi anak. Komo ieu dipiceun ka tutugan gunung. Satukangeun selir, raja nitah salasaurang prajurit karajaan keur mawa dahareun ka tempat anakna dipiceun. Éta prajurit dibahanan siki hiris, jagong jeung béas ketan. Unggal bahan dahareun nu dibawa ku prajurit téh kudu diawur-awurkeun sapanjang jalan tepi ka tempat tilu anak mahkota raja dipiceun. Tujuanna, sangkan tilu anak raja téh bisa dahar jeung bisa balik ka karajaan.

Panggih jeung bapana satukangeun selir.

Poé mimiti, Prajurit dibahanan siki hiris. Tilu anak raja bisa dahar jeung bisa panggih jeung nu jadi bapa. Poé kadua, prajurit mawa béas ketan. Poé katilu, prajurit dibahan siki jagong. Sarwa éta ogé diawurkeun sapanjang jalan, tapi satengahing jalan ka karajaan, siki jagong téh geus beak, dihakanan ku manuk japati. Tiluanana bingung jeung aral, kumaha carana bisa balik ka karajaan. Tiluanana teu apal jalan balik, antukna saapruk-aprukna néang jalan balik, nepi kasasar ka hiji tempat.

Di éta tempat téh dicicingan ku aki-aki jeung nini-nini. Dugul, Anggana jeung Anggani tuluy dirumat di éta tempat nu ayeuna katelahna téh Pasir aki-aki. Maranéhanana ménta pituduh ka aki-aki jeung éta nini-nini, sangkan bisa balik ka karajaan.

Ceuk Si Kaki jeung Si Nini “Mun Maranéh hayang pajeueung deui jeung bapa manéh kabéh, jung geura lumampah, ngan hiji pantranganana. Lamun panas ulah ngiuhan, mun

JENJANG SD

(39)

jeung Anggani ceurik lolongséran dina taneuh meledug, datang ka baseuh ku cimatana.

Lobana cimata nu kaluar, Si Anggana jeung Anggani téh, teu kahaja nginum cimatana sorangan. Antukna maranéhna ogé robah wujud jadi munding, nu ayeuna disebut munding bulé jeung munding hideung.

Tidinya maranéhna nyupata. Ceuk Si Dugul nu jadi oray “Sing saha baé nu pajeueung jeung aing, lamun aya hareupeun ku aing dipacok, lamun kakalangkangan ku aing, pasti paéh!"

Béda jeung Si Dugul, pok Si Anggani “Kieu karasana geuning sangsarana teu pajeueung jeung bapa, mun kitu mah dék ngamakmurkeun jeung papada umat manusa."

Manéhna daék digawékeun, nu ayeuna disebut napakah nyambut jeung piparéeun. Ieu kajadian téh asal-muasalna, Si Anggani ngarasa pernah ngarasa katulungan bisa balik sabab ayana béas.

Ari ceuk Anggana “asal di mana kuring capé tas digawékeun tur katarajang panyakit, heug geura béjakeun ka budak katik nu sok ngangon kuring, geura ujuban kuring ku nu pernah nulungan kuring nalika kuring bisa balik deui ka karajaan, nya ku siki hiris jeung béas ketan."

Budak Raja nu tiluan téh kapanggihan deui ku Si Aki jeung Si Nini. Sabab si Dugul mah picilakaeun, manéhna mah dipiceun ka laut nu pangjero-jerona.

Pengarang : Aji Nurhamzah

(40)

LAMPIRAN 3 : DONGENG

Riwayat Asal Paré

Paré asal muasalna Déwi, ngaranna Déwi Asri. Nurutkeun dongéng Sunda, asal ti sawarga loka, Sanghyang Guru maksud rék nyieun balé bandung dua anu sajajar.

Sanghyang Guru maréntah ka Sanghyang Narada supaya maréntahkeun paraDéwa néangan bahan-bahab jang nyieun bale bandung.

Bring paraDéwa arindit, ngan aya hiji Déwa anu teu indit, nya éta Déwa Anta. Malah ukur ceurik, lantaran hayang ogé néangan kumaha mawana, sabab Déwa Anta téh naga atawa teu gaduh anggota badan. Tina cai mata anu nétés éta atawa murag jadi tilu endog.

Kajadian éta kanyahoan ku Sanghyang Narada, tur éta endog téh disuruh dipersembahkeun ka Sanghyang Guru.

Éta endog diheum-heum dina sungut, tuluy Déwa Anta indit nepungan Sanghyang Guru. Di tengah perjalanan panggih jeung manuk elang. Ku éta elang ditanya rék ka mana?

Déwa Anta teu némbalan lantaran ngaheum-heum endog, elang belang ngambek pédah teu némbalan, tuluy Déwa Anta disamber ku elang belang nepikeun éta endog murag, anu dua kahaliberkeun, ngapung ka luhur. Éta dua endog, hiji murag di tanah sebrang sarta pech ngajadi anak babi, diarananan Sangkala Buat, nu hiji murag di tegalan kapapan, jadi sato huluna saperti anjing awakna saperti babi, diaranan Bedug Basu. Satuluyna éta dua sato arindit néangan indungna.

Di tegal kapapan sang idajil kiih dina lombang, cikiihna diinum ku sapi awéwé. Sapi tas nginum cikiihna idajil reuneuh, tuluy ngajuru anak jalu ngaranna Sapi Gumarang. Sapi Gumarang kaasup anak idajil tur sakti, kabéh sato taluk tunduk éstu teu aya nu ngéléhkeun kana kasaktianna. Malah Sangkala Buat jeung Bedug Basu ogé dijadikeun anak ku Sapi Gumarang, anak angkat.

Endog nu hiji dipersembahkeun ka Sanghyang Guru, éta endog megar nétés ngajadi budak awéwé anu kacida geulisna, geulis taya tanding, éta putri diaranan Déwi Pohaci atawa Déwi Asri, disusuan nepi remaja putri ku Déwi Uma.

Déwa Sanghyang Wenang ningali kageulisan Déwi Pohaci, watir, bisi dijadikeun

JENJANG SMP

(41)

tutumwuhan, saperti kalapa, kaluar tina lebah sirahna atawa huluna. Matak kangaranan buah kalapa disebut sahulu atawa sasirah. Satangkal paré, macem-macem kaluar tina matana, paré ketan kaluar tina hulu haténa, buluh tina lebah sukuna, anu ngarambat tina uratna jukut. Jukut tina buuk atawa rambut. Tangkal kawung tina bobogaanna, jeung macem-macem tutumbuhan, pokona sagalaning tutumbuhan nu terjadi di dunya asal- muasalna tina kuburan Déwi Asri atawa Déwi Pohaci.

Kusabab sagala tutuwuhan nu jadi tina kuburan Déwi Asri, kolot-kolot sangat ngajénan, ngahormatan ka sagala tutuwuhan terutama ka paré. Saking hormatna ka paré, teu wani nyebut paré nyebutna "kersa nyai" hartina kahayang nyai, nyi pohaci, nyi Déwi sri, nyi Déwi Asri. Nyebut sabutir ogé kudu panon hartina mata, sabab terjadina tina mata Déwi Asri, kalapa sasirah atawa sahulu sabab terjadina tina sirah Déwi Asri, lamun loba teuing ngadahar ketan bakal panas beuteung sabab asal tina hulu hate Déwi Asri.

Atas paréntah Sanghyang Guru, tiap sapaanon atawa saésé atawa sabutir paré supaya dikirimkeun ka Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran supaya dipelakeun pikeun dijadikeun kadaharan poko rakyat di tanah Jawa.

Ku Prabu Siliwangi éta paré disuruh dipelak ku rahayatna, tina saésé tepi ka berlimpah, subur jadi pesat tiap taun. Hasilna ningkat, rahayat di tanah Jawa éstu teu kakurangan pangan. Kasuburan di tanah Jawa tersebar kaluar, nepi ke nagri-nagri séjén, yén tanah Jawa kadaharan poko sapopoéna nya éta paré sumebar rekah.

Jaman harita cara ngasakeun tina paré jadi sangu rahayat can bisaeun, jadi anu nyangu asalna khusus permaisuri raja, nya jaman harita permaisurianu jenenganana Nawang Wulan istri ti kahyangan. Carana Nawang Wulan nyangu saranggeuy paré diasupkeun kana kawali, anéhna lamun dibuka geus jadi sangu. Tuluy sadaya kaum ibu di pakuan diajaran nyangu ngan pakuan waktu éta paré keur disangu wanti-wanti dilarang keras, lalaki teu meunang ningali sok komo wani muka éta seuseupanan. Sabenerna kolot- kolot urang baheula patuh kana larangan, nya éta lalaki teu meunang muka padaringan atawa muka tutup anu keurdipaké nyangu, bakal nimbulkeun kurang berkah, istilah anu sohor cupar.

Di hiji nagri nya éta negri kalbu kakurangan pangan, ngagalapak rahayatna loba anu kalaparan. Hiji nahkoda, ngaranna depung awing datang ke pakuan nepungan Prabu Siliwangi, maksud jeung tujuan keur meuli paré atawa kumaha baé carana nu penting rahayatna bisa dalahar.

(42)

Prabu Siliwangi teu ngijinan, teu wani ngaluarkeun sok sanajan sapanon ogé ngaran paré, sabab éta paré lain boga kaula saur Prabu Siliwangi ngan saukur miara jeung melak pikeun pangan rahayatan pakuan lamun enya ogé mangga langsung kanu gaduhna nya éta Sanghyang Guru. Dempung awing nyeri haté, tuluy mulang. Kolot-kolot urang baheula henteu pernah ngajual paré, sabab nurutkeun carita yén paré hak Sanghyang Guru jang dahareun anu miaranna atawa anu melakna.

Sanghyang Guru hayang nyaho kaayaan paré anu dipelak ku Prabu Siliwangi, tuluy ngutus Sanghyang Ismaya ngajalajah tanah jawa pikeun nganyahokeun pelak paré.

Singhoréng pelak paré luar biasa hadéna satungtung deuleu, tuluy ditegalan salubur ku pepelakan tatangkalan jeung rupa-rupa taneman. Hiji tanda yén Prabu Siliwangi bener- bener ngalaksanakeun melak paré jeung miarana.

Sanghyang Ismaya reureuh, ngiuhan handapeun tatangkalan anu gedé bari ngarasa kagum ningali paré, keur kitu katingali aya manuk piit bodas dua heunteup dina paré tur macokan paré. Sanghyang Ismaya teu talangké, éta manuk digebahan dibalédogan, da sidik éta manuk téh hama, tapi weléh éta manuk teu daékeun arindit. Éta dua manuk piit sabenerna Déwa, Sanghyang Guru jeung Sanghyang Narada nyamar jadi manuk, anu maksudna hayang ngayakinkeun, bener henteu Sanghyang Ismaya mariksa kaayaan paré nu dipelak ku Prabu Siliwangi. Ternyata, Sanghyang Ismaya bener taat kana paréntah jeung bukti milu ngajaga, sidik manuk piit téh kaasup hama tur diusir.

Kacaritakeun deui, Dempung Awang anu nyeri haté ku ditolak meuli paré ku Prabu Siliwangi, datang ménta tulung minang saraya ka Sapi Gumarang, supaya ngaruksak sakabéh pepelakan nu aya di tanah pakuan, ku Sapi Gumarang disanggupan. Sapi Gumarang indit ka tanah pakuan jeung kadua anak angkatna, nya éta Sangkala Buat jeung Bedug Basu tur kabéh sato ogé marilu pikeun ngaruksak pepelakan nu aya di tanah pakuan babakuna pelak paré. Sapi Gumarang dina ngaruksak pepelakan ngagunakeun kasakatian nya éta nyiptakeun hama kayaning hama puputih, hama beureum, hama beluk, hama manuk, hama beurit, sawah diruksak.

Sanghyang Wenang teu téga ningali kajadian di tanah pakuan, ti dinya ngutus tilu putrana nya éta Sulanjana, Talimendeng, Talimenir pikeun nulungan Prabu Siliwangi. Katilu putrana datang ka tanah pakuan, tuluy ngabaca mantra pikeun merangan pasukan Sapi Gumarang, nya ku mantra jeung do’a, pasukan Sapi Gumarang anu jadi hama leungit, aya anu paéh, kabur. Sapi Gumarang, Sangkala Buat, Bedug Basu, ningali pasukanna bubar, kasawuran ngalawan utusan Sanghyang Wenang jeung Sanghyang Guru, nya éta tilu

(43)

saranggeuy paré bisa jadi sangu sababaraha boboko. Kabeneran hiji mangsa keur nyangu, Nawang Wulan keur ka jamban, ku Prabu Siliwangi tutupna dibuka, nu katingali ngan paré saranggeuy tuluy ditutupan deui. Nawang Wulan balik ti jamban muka tutup kawali anu keur dipaké nyangu, anéheun, geuning éta paré can jadi sangu, padahal geus waktuna asak jeung kudu geus jadi sangu, tapi geuning masih kénéh paré saranggeuy. Ti dinya Nawang Wulan naros ka carogéna, tadi muka tutup atawa kekeb anu dipaké nutupan kawali nu dipaké nyangu, jawabanna bener dibuka.

Sanggeus ngadéngé jawaban kitu, teu talangké deui, teu loba carita, permisi mulang deui ka kahyangan, sabab carogéna ingkar jangji, tuluy hiber maké baju antakusumah, mulang ka kahyangan. Bari pesen, lamun rék nyangu kudu ku jalan lain, nya éta paré kudu dijadikeun béas tuluy diasakan sampé jadi sangu, ngan kudu diayakeun pakakasna, saperti lisung, halu, dulang, céntong, nyiru, sééng, kekeb, hihid, aseupan.

Pengarang : Aji Nurhamzah

(44)

LAMPIRAN 3 : DONGENG

Si Grahwana Jeung Uyut Hawu

Di jaman kapungkur aya dua désa, anu katelah désa Pajambuan sareng désa Sadamecak. Di dua désa ieu, di tengah-tengahna aya gurun anu muncul anu disebatna pasir atawa tunggangan. Parapatani sadaya, anjeunna hirup tina ladang tatanén, malawija.

Di désa pajambuan aya tempat sawah, anu palih wétaneun lembur. di désa sadamecak aya di daerah kuloneun lembur. dua lembur ieu dikokolotan ku hiji sesepuh nu gagah, sakti mandraguna, nya éta Uyut Hawu, anu anjeunna bisa nyumponan sagala pangabutuh jeung kapentingan masarakatna.

Dina raraga kapentingan tatanén ieu, dua désa ieu nganggé hujan keur nyaian sawah, anu teu tiasa kaliwatan ku cai. Dina sawaktos-waktos aya musawarah di balé pertemuan kampung. Nya hasil tina gempungan ieu, meunang kaputusan anu hadé tur keur nyalametkeun sakabéh masarakat nu aya di dua kampung. Nya kautus Uyut Hawu ku masarakat sadaya pikeun maluruh cai ka palih tonggoh.

Diawalan ku ritual jeung do’a-do’a, sakabéh masarakat kumpul di daérah Kikancana, nuhunkeun widi ka karuhun jeung ka gustina.

Dina lalakon, Uyut Hawu medarkeun ngetrukeun élmuna ngagali hawangan anu gedé pikeun jajalan cai, ti mimiti ngagetruk tepi ka daérah linggawesi, ti linggawesi ka daerah pangumbagan dilajengkeun teras ka kicau.

Di daérah kicau, anjeunna papendak sareng hiji mahluk, nya éta naga anu gedé, panjang tur sakti. Ku kasaktianna Uyut Hawu, nyimas alias si naga anu mimiti dialihkeun.

Tuluy anjeunna nuluykeun lalampahan, ngababad deui dua unggulan taneuh nepi ka daérah kebon seureuh.

Di kebon seureuh, anjeunna kaduakalina nimukeun deui hiji naga anu gedé, ku kasaktian anjeunna tuluy mindahkeun deui ieu naga kabeulah kidul ditempatkeunna, sangkan teu ngaganggu kana acara nieun hawangan gedé. Dina kajadian anu kaduakalina, Uyut Hawu anjeunna mikiran naon anu baris kajadian, antukna anjeunna meredih, ménta tulung kanu kawasa ka mana kudu miang, naha kudu nuluykeun atawa balik deui.

JENJANG SMP

(45)

tiasa nyarita. “héy manusa, aya naon anjeun kadieu, geus wani-wani datang kadieu, érék naon maksudna anjeun kadieu

Uyut Hawu tuluy ngajawab “Ki Silah, simkuring kadieu néang cai, pikeun kahirupan masarakat dua lembur di handap nu kiwari keur paceklik euweuh pisan cai. Singhoréng aya di dieu, cai dipendet ku anjeun. Mudah-mudahan ayeuna anjeun tiasa pindah, ulah ngahalangan cai, karunya masarakat nu di handap hayangeun pisan cai.” Tuluy naga ngajawab deui “héh manusa saméméh aranjeun aya di alam dunya ieu, kaula geus cicing di dieu, kaula geus ngajaga cai di dieu, kaula geus ngahiji jeung alam di dieu, kaula teu bisa indit, teu bisa ka mana-mana deui, tapi manusa déngékeun ku anjeun, lamun kirana anjeun butuh jeung bener kana cai, geura jieunkeun tempat kaula anu anyar nu kira-kira teu kaganggu ku manusa jeung moal ngaganggu manusa, sanggup atawa henteu.”

Tuluy Uyut Hawu nyarita “mangga naga, ku simkuring baris dipangadamelkeun patempatan, tapi omat ulah ngabohong tur ulah sulaya tina janjina.” Naga tuluy nyarita

“kami moal ngabohong ka andika, lamun andika bener nyieun patempatan keur kaula.” Tina kagagahan ieu, Uyut Hawu ngudaran cetok anu dianggéna tuluy dialungkeun kabéh kidul, janggélék jadi nagara nu ahéng katingalina. Tuluy Uyut Hawu cumarita deui “naga, atos tuh aya patempateun di béh kidul, mangga geura indit ti ieu tempat, geura pindah ti ieu tempat, karunya ka masarakat anu di dua lembur ayeuna keur ngabutuhkeun cai.” Naga ogé nyarita,

“manusa mangga téh teuing, kaula ikhlas mikeun ieu cai, nu penting mah ku andika ulah dipaké sangeunahna, geura bagikeun ka dua lembur, singadil, singrata, ulah sampé ka hawek ku sorangan. Tuluy kaula titip carita keur manusa anu aya dihandap, lamun arandika ka dieu geura ieu sebutkeun abrul, ari nu ngaranna abrul pangocoran, ari pangocoran ieu hartina leumpangna cai. Tuluy éta patempatan ku kaula rék dileungitkeun, geura patempatan kaula éta aranna nu disebut lawangan qori. Ari lawang téh hartina pangasupan, ari qori nyokot tina kaejinan, jadi lawang kaejinan.

Catur laku lampah Uyut Hawu balik miang mawakeun kabungah haté, cai ngocor ka padésaan tuluy dibagikeun kadua tempat, mung ayeuna mah dua lembur téh jadi dua géndéng kidul jeung kalér, nu satadina mah beunang leumpang wungkul ayeuna mah kudu nyebrang heula hawangan.

Dina lalampahan ngabagi ieu cai, Uyut Hawu ngadamel parit leutik anu hiji disebutna hawangan tonggoh, anu hiji disebutna hawangan miring.

Tina ieu kajadian anu tilu naga dipindahkeun, henteu nguntungkeun ka sakabéh manusa, aya ogé daérah anu dirugikeun ku ayana tilu naga dipindihkeun nya éta lapangan

(46)

tegal alias gunung keling. Dina lalampahan gunung keeling, kulantaran taya pisan cai, anu aya mungsaukur hirup tina ngamangpaatkeun cai hujan nu datang tiap taun, sakapeung ka kurangan cai jadi hal nu wajar sapopoéna. Ku ayana saurang tokoh anu muncul nya éta tokoh dukun, anjeunna datang ka balé-balé mingpin rapat, mingpin babalembagan jeung sakabéh masarakat nu aya di gunung keling. Anjeunna nyanggupan pikeun néangan cai, keur hulu cai pikeun ngahirupan masarakat nu aya di gunung keling.

Dina mangsana, anjeunna indit ka beulah hawangan tonggoh, milari pijaleun cai keur ka gunung keeling. Nya anjeunna tuluy tapa, tapakur di éta patempatan. Dina hiji peuting, anjeunna didatangan ku oray naga anu katelahna si grahwana. Anjeunna ditanya ku éta naga. “ héh manusa keur naon andika aya di tempat kaula,” tuluy si dukun ngajawab.

“pangersa simkuring aya di dieu keur nuhunkeun pituduh, mudah-mudahan aya pituduh keur kaula pikeun pijalaneun cai keur ka désa kaula.” Tuluy naga nyarita “mun anjeun hayang cai ku kami bakal dibéré, tapi aya sarat pikeun anjeun.” Si dukun ogé nyarita “naon waé saratna anu kira-kira ku kaula baris dibawa ka dieu pikeun sarat jalanna cai.”

Dina salila tilu taun anjeun kudu mawa munding tilu rakit, nu sataun sarakit mun tilu taun tilu rakit. Karék ku kaula baris dibéré jalan cai nu gedé nu baris ngahirupan masarakat anu ayeuna ku anjeun keur diperjuangkeun.” Nya tuluy dukun ngajanjian “kaula baris mawa tilu rakit munding salila tilu taun. Nu penting ayeuna béréan heula cai, geura pangnyieunkeun jalan cai keur ka désa kaula.” Ku kasaktian naga, ieu dukun dititah balik, geura ilikan di daérah dangdeur, geura ilikan di tengah-tengah dangdeur anu ayeuna aya tangkal disebutna tangkal kulur, geura ilikan di dinya aya cai, ayeuna ku kaula érék dikirim érék dijieun jalan cai ka dinya.”

Ku saatosna nyarita kitu, si naga ngaleungit tuluy dukun balik ka lembur, tuluy milarian tempa anu ditunjukun. Dukun nyéréngéh seuri, ngarasa hasil sabab cai geus ngocor. Dina waktos sataun dukun inget kana jangji, baris mawa sapasang manusa pikeun tumbal si éta naga. Ku kasaktian si dukun nyihir dua munding lalaki jeung awéwéna jadi sapasang manusa, tuluy dina hiji peuting ku anjeunna dianteurkeun ka hiji tempat matuhna ieu naga anu disebutna si grahwana. Sataun langkung, tuluy kadua taun, kadua taun anjeunna kitu deui nyihir dua munding tuluy dianteurkeun deui ka tempat naga. Ahirna cunduk kana waktu ninggang kana mangsa anu ka terahirna nyihir deui dua munding jeung dianteurkeun ka ditu, anu katilu mah geuning gagal si munding katingali cokorna, si munding katingali sukuna dampalna masih disapatu henteu ngarupakeun suku manusa tapi dampal munding. Ku kajahatan, ieu ditipuna naga ieu ditipu ku dukun, dukun disépak tuluy

(47)

Pengarang : Aji Nurhamzah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penalaran informal yang cenderung muncul pada jenjang SD adalah penalaran intuitif, penalaran yang muncul pada jenjang SMP adalah

Dokumen ini berisi pengumuman dari Badan Kepegawaian Negara mengenai layanan kenaikan pangkat tahun 2024 yang ditujukan kepada pejabat pembina kepegawaian pusat dan

d.Pelaksanaan Tingkat Nasional Pelaksanaan FLS2N SD tingkat nasional tahun 2024 dilaksanakan dengan 2 dua tahap yaitu Tahap Semifinal Daring dan Tahap Final Luring berdasarkan

Lampiran Nomor Surat : Tanggal Surat : Berikut 18 ajang talenta jenjang pendidikan tinggi yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 No Nama Ajang Pelaksanaan Tingkat Nasional Tempat

PENDAHULUAN Seluruh pelaksanaan ajang talenta dan prestasi jenjang SD pada seleksi tingkat Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2024 merujuk penuh pada pedoman yang dikeluarkan oleh BPTI

DAFTAR PENGURUS MGMP BAHASA INDONESIA SMP NEGERI KABUPATEN LUMAJANG PERIODE 2024 - 2026

Dokumen ini berisi soal-soal ujian akhir tahun mata pelajaran Bahasa Sunda untuk kelas

Berita acara ini berisi catatan pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun Kelas VI di SD Negeri 2 Worawari pada tahun pelajaran 2023/2024, termasuk jumlah peserta, daftar hadir, dan kondisi sampul