• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI TUMBUHAN OBAT DAN OBAf, TRADISIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "POTENSI TUMBUHAN OBAT DAN OBAf, TRADISIONAL"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

POTENSI TUMBUHAN OBAT DAN OBAf, TRADISIONAL DALAM MENJAGA KESEFIAIAN MASYARAI(AI

Marina Silalahi

Email : marina [email protected] ABSTRACT

Medicinal plant since ancient times until now a maior proponent of human health. The World Health Organization estimates that approximately 60-807, of world population is still in his pocket tradsional treatment. Cure

of

disease based on traditional medicine to fully utilize the practical expenence

of

medicinal plants andtraditional medicine as a media.lncomplete in- formation, especially regarding the toxiaty, dosage and mamfaat owned by medicinal plants and tradihonal medicine resulted in

a reludane ta

use formal health professions.

So

that traditional mediane is integroted with formal treatment needs to be done in an integrated re'

search on traditional medicines include botanical, phytochemicol, bioassay, preclinical testing and clinical trials.

Keywords: traditional medicine, medicinal plants, medicine tradihonal

PENDAHULUAN

Tumbuhan obat sejak jaman dahulu hing- ga

kini

menjadi penyokong utama kesehatan umat manusia. Penggunaan bahan alam seb- agai obat cenderung meningkat terlebih den- gan

adanya

lsue back

to

naturc. Masyarakat Slobal menggunakan

dan

memafaatkan

fum'

buhan dan obat tradisional dalam pengobatan (kuratifl

,

pencegahan (preuentifl, pemulihan (rehabititatifl dan peningkatan derajat kesehat-

an (promofifl

(Sukara

2007

dan Nala 2007).

Badan kesehatan dunia memperkirakan sekitar 60-807" penduduk dunia masih mengantung-

kan dirinya

pada pengobatan yang menggu- nakan obat yang berasal dari tumbuhan (Joy

dkk. 1998;

Fabricant

dan

Famsworth 2001;

Tripathi and Tiipathi 2003). Mukherjee (2OO9) mengatakan

bahwa

negara-negara berkem-

bang

seperti Bangladesh

(907"),

Myanmar (85

%),lndia

(80%), Nepal (75%), Srilangka (7OY")

dan

Indonesia

(60%)

mengandalkan

pelayanan

kesehatannya

pada

pengobatan hadisional.

Pengobatan tradisional merupakan selu- ruh pengetahuan dan praktek, baikyang dapat dijelaskan maupun yang

tidak

secara ilmiah, yang dipergunakan untuk menetapkan diagno- sis, prognosis, pencegahan, dan penyembuhan penyakit. Penyembuhan penyakit

pada

pen-

gobatan tradisional

sepenuhnya didasarkan kepada pengalaman praktis dan pengamatan yang diteruskan dari sahr generasi ke genera-

si

berikutnya secara lisan

atau tulisan

(Nala

2OO7 ). Pengobatan tradisionafsg4likitnya meli- batkan terdapat tiga pihak

(#" yan!

saling

berhubungan yaitu pengobat tradisional, pen- derita atau pengguna obat

dan

sumber obat tradisional (l&iswiyanti 2011). Luasnya caku-

pan

dalam pengobatan tradisional maka fu- lisan ini difokuskan kepada sumber obat yang digunakan dalam pengobatan tuadisional yaitu tumbuhan obat dan obat tradisional.

Obat tradisional mempakan obat jadi atau ramuan dari alam yang berasaldari tumbuhan, hewan, mineral, atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunak-

an untuk

pengobatan berdasarkan pengala-

man

(Depkes 2000). Pada kenyataannya ba- han obat yang berasal dari hrmbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari he- wan atau mineral, sehingga sebutan obat ha- disional hampir identik dengan tumbuhan obat (Depkes 2000). Tumbuhan obat adalah semua spesies tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat baik dalam membantu memelihara ke- sehatan maupun pengobatan suatu penyakit

(Harmida dkk. 2010)

Penggunaan tumbuhan sebagai obat tra- disional sudah dimulai sejakribuan tahun yang

lalu

(Karou dkk. 2006

&

Dewoto 2006). Do-

kumentasi tentang

pemanfaatan tumbuhan sebagai obat dapat ditelusuri

dari

sistem pe- ngobatan fuadisional India dan Cina.

Di

India dokumentasi

sistem

pengobatan hadisional

(3)

Volume 5, Nomor I, APril2012 :43 - 51

ditemukan dalam Ayurveda, Siddha, Unani, Tibetan dan

Amchi

(Mukherjee

2009 &

Patil

20tU.

Pendokumentasian pengobatan tradis- ional di Indonesia telah dilakukan sejak rahrsan tahun yang lalu. Dokumen tersebut antara lain

lontar

Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak Fabbura (Sulawesi Selatan)

dan

Serat Prim- bon Jampi-jampi Jawi (Sari 2006; Kartawinata 2010; Dewoto 2006

&

Nala 2007).

Dokumen atau manuskrip

pengobatan

tarrdisional berisi ramuan dan jenis tumbuhan, jenis rarnuan dan jenis penyakit serta tatacara pengobatan suatu

jenis penyakit

(Nawangn- ingrum dkk. 2007). Dari hasil penelusuran lit- erature yang dilakukan Damayanti dkk. (19971 pada pengobatan tradisional berbagai etnis di Indonesia menemukan; sebanyak

78

spesies tumbuhan yang digunakan oleh 34 efris untuk mengobati penyakit malaria, 30 etnis meman- faatkan 133 spesies tumbuhan untuk mengo- bati penyakit demam, 30 etnis memanfaatkan 110 spesies tumbuhan untuk mengobati gang- gluan pencernaan, dan27 etnis memanfaatkan 98 spesies tumbuhan untuk mengobatipenya- kit kulit.

Kekayaan pengetahuan

tentang

pengo-

batan

hadisional

di

Indonesia berhubungan dengan tingginya keanekaragaman fumbuhan yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki seki- tar 30.000 spesies tumbuhan yang sama den- gan 10 Tofloradunia (de Fadua 1999; Sukara 2007

&

Kartawinata

2010) dan dari

jumlah tersebut sekitar 7.500 spesies yang berkhasiat

obat

(PT Esei 1986). Tumbuhan yang digu- nakan sebagai obat pada umumnya golongan tumbuhan berbunga, tumbuhan paku dan ber- bagai jenis lumut. Bagian tumbuhan yang di- gunakan mulai dari akar, batang,

biji,

bunga, daun, kulit batang, umbi dan keseluruhan ba- gian tumbuhan (Purwanto20O2; Sukara 2007

&

Kartawinata 2010)

Saat ini

meskipun

tumbuhan obat

dan

obat

badisional Indonesia cukup banyak di- gunakan masyarakat Indonesia, namun pada

umumnya masih dilakukan dalam

usaha pengobatan

sendiri

(self-medicafion). Profesi kesehatan

formal

(dokter,

dan

tenaga medis

lainnya) pada umumnya

masih enggan un-

hrk

meresepkan

ataupun

menggunakan oa- bat hadisional. Hal yang berbeda terjadi pada negara India, Korea dan China, yang mengin-

tegrasikan cara pengobatan tradisional dalam sistem pelayanan kesehatan

formal

(Dewotq 2007). Alasan utama keengganan profesi kes- ehatan unfuk meresepkan atau menggunakan obat tradisional karena bukti ilmiah mengenai khasiat dan keamanan obat tradisional untuk manusia masih kurang (Sari 2006 dan Sukara 2070), namun

tidak

dapat dipungkiri bahwa pengembangan obat modern berasaldari obat tradisional (Ersam 2004; Purwanto

2002

dan Patil 2010). Lebih lanjut lagi Patil (2011)me- nyatakan bahwa lebih dari 80% khasiat yang

dinyatakan dalam pengobatan

tradisional sama dengan khasiat obat modern. Fabricant dan Fransworth (2001) menyatakan lebih dari 257" dari obat modem yang beredar sekarang diekstualsi langsung dari tumbuhan obat.

Berbagai

bukti empirik

memang sudah banyak diungkapkan tentang khasiat obat dan pengobatan hadisional,

namun

hingga seka- rang masyarakat Indonesia masih menggangap obat

etik

(etic drug) dalam bidang llesehatan formal lebih bergengsi dan

lebihffirh.

Wel-

degerima (2009) menyatakan alaban untuk se- lalu menggunakan obat tradisional antara lain:

(1)

merupakan warisan budaya yang sangat mahal harganya dan tetap dijaga kelestarian- nya dan (2) merupakan dasar dalam penelitian obat.

TUMBUHAN OBAf,

Penggunaan tetumbuhan sebagai sumber yang menyembuhkan berbagai penyakit telah berlangsung sejak munculnya peradaban di muka

bumi.

Penggunaan ramuan fumbuhan obat secara empirik yang berlangsung selama berabad-abad diikuti oleh penemuan senyawa bioaktif merupakan awal dari penelitian tum-

buhan obat.

Tumbuhan

obat

adalah semua spesies tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat baik dalam membantu memelihara ke- sehatan maupun pengobatan suatu penyakit (Zuhud dan Haryanlo L994

&

Harmida dkk.

2010). Tirmbuhan obat dikelompokkan men- jadi tiga (3) yaitu: (1.) tumbuhan obat tradision- al yaitu spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya masyarakat mempunyai khasiat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tra- disional; (2) tumbuhan obat modern yaitu spe- sies yang secara ilmiah mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan

( ( I

(4)

Marlna Sllalahl, Potensi Tumbuhan obat Dan obotTiadisionol Dalam Menjago Kesehatan Masyarakat

penggunaannya

dapat

dipertanggungiawab- kan secara medis; (3) tumbuhan obat poten- sial yaifu spesies tumbuhan yang diduga men- gandung senyawa

atau

bahan

bioaktif

yang berhasiat tetapi belum dibuktikan secara ilmiah medis atau penggunaannya sebagai obat tra- disional perlu ditelusuri (Zuhud dkk. 1994)

Tefumbuhan

apa saja yang

digunakan masyarakat

Indonesia

sebagai

obat

tradis-

ional? Pada

dasarnya

penelitian

tumbuhan

obat

sudah banyak dilakukan

dalam

rangka mengindentifikasi tumbuhan berkhasiat obat atau yeng berpotensi sebagai obat (purwanto 2OO2).

Di bumi terdapat

250.000-500.000 spesies fumbuhan, 80.000 spesies

unfuk

pe- ngobatan, dan 5000 spesies untuk mengobati penyakit tertentu (Joy

dkk.

1998). Organisasi kesehatan dunia menyatakan bahwa lebih dari 21.000 spesies

tumbuhan

digunakan secara global sebagai

obat.

Dahanukar

dkk.

(2000) mencoba mengkopilasi penelitian tumbuhan obat toadisional

di

dunia selama tahun

lg94- 1998

menemukan sebanyak

13.000

spesies yang digunakan dalam bidang pengobatan.

Penelitian

tumbuhan obat di

Indonesia dirintis oleh Rumphius tahun 1774-LTSS yang meneliti pemanfaatan berbagai fumbuhan di masyarakat

lokal di Ambon.

Hasskarld pada tahun 1845 menemukan sebanyak 900 spesies tumbuhan obat (Soekarman

&

Riswan 1992).

Boorsma menemukan sebanyak

270

spesies fuumbuhan dalam pembuatan

jamu di

Jawa Tengah (Sutarjadi 7992).

Kloppenburg-Versteegh menemukan se-

banyak 400

spesies

fumbuhan yang

dalam pembuatan

jamu

dengan 1.462 jenis ramuan (Sutarjadi 7992). Kahazara (1986) menyebut- kan bahwa di Indoneseia terdapat sekitar Z .SOO spesies yang berkhasiat obat. Jamu Jawa yang ditulis dalam manuskrip serat kawruh bab jam- pi-jampi Jawi memuat sebanyak

922

racikan

jamu. Heyne (7987)

menemukan sebanyak 1.050 spesies tumbuhan obat yang digunak-

an di

Indonesia.

Hal

yang hampir sama din- yatakan oleh

de

Padua

dkk..

(1999) terdapat sekitar 1.000 spesies tumbuhan obat

di

Indo- nesia dan penelitian terus berkembang.

Kemampuan

fumbuhan untuk

dijadikan sebagai bahan obat berhubungan dengan kan- dungan senyawa kimianya yang disebut den-

gan metabolit

sekunder, Metabolit sekunder

fumbuhan adalah metabolit

yang

dihasilkan melalui metabolisme sekunder yang digunakan fumbuhan

unfuk

adaptasi terhadap lingkun_

gan (Silalahi 2010). pada tumbuhan metabolit sekunder dapat berupa t'itohormon, pigmen, agen allelopofi berupa zat alkaloid, terpenoid dan senyawa fenol yang seing disebut sebagai senyawa fitokimia tumbuhan(Taiz and Zeinger

2404.

Kandungan senyawa fitokimia tumbuhan bervariasi, terganfung pada

jenis organ

dan

tahap

pertumbuhan

( Joy dkk.

199-g

&

Si- Ialahi 2010). Hal tersebut berimplikasi kepada bagian atau organ dan komposisis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku obat, ber- beda sesuai dengan fujuan pengobatan. Ba_

gian fumbuhan yang biasa digunakan adalah dau1, akar, batang, umbi, keseluruhan bagian tumbuhan, daun muda, buah dan kulit

poton

(Purwanto 2OA4; Sukara ZOOT

&

Kriswiyanti

dkk..

2011). Sebagai cc,-.tc,r akar tumbuhan tapak dara (Catharanthus roseus) banyak men_

gandung ajmalisin sehingga

akar

digunakan unfuk mengobati hipertensi, sedangkan bagian

daun

mengandung uincristin

dai

uinblistin yang digunakan sebagai obat kanker (Joy dkk.

1998 & Silalahi 2010). Halyang sama terdapat pada tanaman kecubung (Datura stramonium) bagian daun digunakan unfuk mengobati pe_

nyakit asma atau bafuk sedangkan

bigian

akar digunakan unhrk obat diare.

Pemanfaatan bagian fumbuhan walaupun didasarkan pada

bukti

empirik namum berb_

agai penelitian telah membuktikan kebenaran_

nya. Sebagai contoh Hyptis uerticillata, secara empirik digunakan masyarakat untuk mengo_

bati berbagai penyakit seperti obat infeksi kulit, anti-inflamantori dan obat saluran pencernaan.

Dalam pengobatan infeksi kulit,

daun

Hyptis uerticillata di haluskan kemudian diberi sedikit alkohollalu dipgatkan langsung ke kulit. Untuk mengobati saluran pencernaan dibuat teh dari rebusan daun Hyptis uerticillata, kemudian di_

minum. Berdasarkan penelitian fitokimia fum_

buhan tersebut mengandung lignan, asam ros- marik, sedirotoflauon,

yang

berfungsi sebagai

anti

bakteri yang kuat, sedangkan asam ros_

marik,

sedirotoflavon berfungsi sebagai anti_

inflamantori (Heinrich 2003). Variasi luga ter_

jadi

cara pengolahan, ada yang bentukiegar, simplia dan bentuk olahan.

(5)

Volume 5, Nomor 1, Aprtl2O12 : 43 - 57

Unfuk dapat mengikutsertakan fumbuhan obat dan obat tadisional dalam pelayanan ke- sehatan maka penting diketahui manfaat dan khasiat serta keamanan tumbuhan

obat

dan obat tradisional. Purwanto (2002) menyatakan bahwa publikasi penelitian tumbuhan obat di Indonesia lebih dari 80% hanya mengungkap- kan tentang pemanfaatan keanekaragaman je-

nis fumbuhan sebagai bahan baku ramuan obat tianpa

diikuti

dengan analisa kandungan fito- kimia. Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat

lebih luas dan

merata sekaligus memelihara dan mengembangkan warisan bu- daya bangsa, perlu dilakukan terus penggalian, penelitian dan pengembangan obat-obat serta pengobatan tuadisional (Dzulkarnain 1989; Su- l<ara2007

&

Nala 2007).

Patil (2011) menyatakan

beberapa

pendekatan yang bisa dilakukan

untuk mengembangkan obat yang berasal dari tum- buhan antara lain yaifu seleksi melalui screen-

ing kimia;

seleksi

melalui

bioassay; melalui laporan aktivitas biologinya; melalui penggu- naan obat secara tradisional atau etnomedisin (tabel 1); penggunaan bagian tumbuhan dan

penggunaan produk tumbuhan

(Purwanto 2002

&

Patil2011).

Mengacu

pada

ketenfuan

obat

modern maka suatu zat dikatakan sebagai obat dalam pengobatan

bila

sudah diperoleh antara lain:

hubungan dosis dengan

efek;

absorpsi, dis-

tribusi,

metabolisme

dan

eksfuaksi

zat

terce- but; tempat zatbekerla; cara zat bekerja; dan hubungan

stuktur

dengan

respon

(Dzulkar-

nain

1989). Dalam pengembangan

obat

tra-

disional menjadi obat modern

diperlukan tahapan seleksi (ketepatan

bahan,

fitokimia, senyawa

bioaktif); uji preklinik (uji

toksisitas dan farmakodinamik) ; standarisasi (penentuan identitas

dan

pembuatan sediaan standart);

dan uji klinik (Dewoto2007).

Thbel 1:

Senyawa

Obat Modern yang

Be-

rasal dari Penggunaan Tumbuhan Obat Sebagai Obat Tiadisional (Patil, 2OlL)

No Senyawa Penggunail

R@rpin, erpentin Rauwolfia &rpentino Hipotereif da *dafrl

6 slasidin l khosionum lbrtison,

steroidalhomon

7 Guggtdu Gout, rematik dm

arthttis

a Diosgenin Diowreo spp

antifertilitas

9 Morphin Popow smnilflm Sedatif

10 pikorizin Pichorhlzo kurco Tonik, stomatik, chataiih Lliglioxin, gltalim DAWolls purpur@ Sakit jantung

LZ Epheddn Ephectzru spp, Brcnchodilator

t3 Batb€dn bqbefts spp. AnUbakkri

I4 Emlfln Cephoils Emetik

No Soyua Paggunau

1 Viskwviskire Aclhotodo 2 Atopin, hyoskin dan

hpskiamin

Atrcpo belodona;

A.Mmincdo

Antikolinetgik

3 Vinldstin, vinblNtin r roeus Anfkankar, hlperteroi dan hypoglikemik

at t(llhln ,nncnona tw, antlmalarh

OBAT TRADISIONAL

Pengobatan tradisional merupakan selu- ruh pengetahuan dan praktek, baik yang dapat dijelaskan maupun yang tidak secara ilmiah, yang dipergunakan unfuk menetapkan diagno- sis, prognosis, pencegahan, dan penyembuhan penyakit yang didasarkan kepada pengalaman praktis dan pengamatan yang diteruskan dari

i,:::'"ff :'t,,5"ni,tiff 'dJff "Fnff ffi

tradisional menggunakan bahan dalam proses pengobatan disebut dengan obat tradisional.

Obat fuadisional merupakan obat jadi atau ramuan

dari

alam yang berasal

dari

fumbu- han, hewan, mineral, atau campuran bahan- bahan tersebut yang secara fuadisional telah

digunakan unfuk pengobatan

berdasarkan pengalaman (Depkes 2000

&

Dewoto 2007).

Obat tradisional dibedakan menjadi

jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan

alam yang telah dibuktikan

keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan

uji

praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Fito- farmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiahrya se- cara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distan- darisasi (Depkes 2000

&

Dewoto 2007).

Ramuan obat tradisional dibuat dari berb- agai jenis tumbuhan (Sukara 2007

&

Depkes

2000).

Formulasi obat tradisional

terdiri

dari komponen utama sebagai unsur pokok dalam

tujuan

pengobatan, unsur pendukung, unsur yang membantu menguatkan efek,

dan

unsur pelengkap atau penyeimbang dalam formulasi (Ulfah 2006; Katno dan Pramono 2011); ba-

(6)

Marlna Sllalahl htensi Tumbuhon Obat Dan obatTradisional Dalam Menjaga Kesehdan Masyarokot

han penghantar yang meliputi stabilisator dan pensuspensi, serta penyedap rasa,

bau,

atau warna (Pramono 2002

&

Kafuio dan Pramono

201t).

Setiap unsur di atas pada

umumnya dapat dipenuhi dari lebih dari safu jenis tana- man obat sehingga komposisi tumbuhan obat sangatlah beragam (Ulfah 2006). Hal tersebut mengakibatkan

bahwa ramuan

fuadisional tersusun

dari

berbagai jenis tumbuhan. Seb- agai contoh suatu ramuan

obat

alami penu- run tekanan darah dapat tersusun oleh seledri (Apium graveolens L.) yang memiliki efek va- sodilator karena adanya kandungan apiin dan apigenin, disebut sebagai bahan

aktif

utama berkhasiat. Demikian juga kumis kucing diikuti dengan efek penurunan tekanan darah sehing- ga kumis kucing juga termasuk bahan aktif uta- ma berkhasiat. Selain kedua bahan tersebut, di dafam ramuan penurun tekanan darah sering

dijumpai

adanya

biji pala

(Myristica fragrans

Houtt)

atau akar valerian (Valeriana oficina-

lis L.). Biji pala

mengandung miristisin yang berefek psikotropik (Joy dkk. 1998; de padua dkk. 1999

&

Wiryowidagdo 2000), sedangkan

akar valerian

mengandung valepotriat yang berefek sedativa.

Efek psikohopik

dan sedativa tidak

ter- kait langsung dengan penurunan tekanan da- rah. Namun demikian sebagaimana diketahui bahwa salah satu gejala hipertensi yang ban-

yak

dikeluhkan penderita adalah

sulit

tidur, sehingga

dapat

dimengerti

bahwa di

dalam

ramuan

tersebut ditambahkan

bahan

yang berefek menenangkan. Karena

tidak

terkait langsung dengan penurunan tekanan darah

maka

kedua

bahan

tersebut

tidak

termasuk bahan aktif utama berkhasiat tetapi disebut se- bagai bahan aktif pendukung

khasiat.

Selain ifu, karena salah safu gejala hipertensi adalah pusing atau rasa sakit

di

belakang kepala, di dalam ramuan penumn tekanan darah sering

juga

ditambahkan

kunyit

sebagai analgetika sehingga disebut juga sebagai bahan aktif pen- dukung khasiat.

Jika

ditelaah, campuran ke- empat bahan yaitu seledri, kumis kucing, biji pala,

dan

kunyit merupakan kombinasi yang bersifat komplementer atau saling melengkapi (Pramono 2002).

Ditinjau dari formulasinya, jika

daun seledri, daun kumis kucing,

biji

pala dan ku-

nyit dikeringkan, diserbuk kemudian dicampur dalam benfuk sediaan seduh maka akan men- gakibatkan jamu terasa pahit, getir, dan langu.

Oleh sebab itu untuk

menghilangkan atau mengurangi rasa pahit ditambahkan kayu legi (Glycyrrhiza glabra L.) sebagai penyedap rasa (corrigen soporis), cengkeh (Eugenia aromati- cg L.) sebagai penyedap bau (corrigen odoris), dan agar warnanya tidak pucat ditambahkan ka5ru secang (Caesalpinia sappan

L.)

sebagai penambah warna

(arrigen

coloris) (pramono 2002).

Cara pengolahaan

dan

pemakaian sedi_

aan obat tradisional digunakan sangat menen_

fukan efeknya. Bahan segar berbeda efeknya dengan bahan yang telah dikeringkan.

Wiryt-

widagdo (2000) daun segar Digittatis pupurea memiliki kandungan utamanya adalah glikosi_

da purpurea A dan B, sedangkan

daunlering

banyak mengandung digitoksin, gitoksin, dan gitaloksi.

Hal

tersebut

&)d,satkan

terurainya glukosa terminal karena adanya pengeringan.

Berbagai ekstuak yang diproduksi dengan jenis pelarut berbeda memiliki efek terapi yang berbeda pula. Dengan cara ekstraksi yang te- pat akan mengurangi efek kontradiktif dari ber- bagai sennyawa yang dimiliki tumbuhan,obaV

obat

alami.

Akar

kelembak

yang

diekstraksi dengan etanol akan kaya dengan antrakinon

;ebab

senyawa

ini

relatif

tidak terlalu

polar (Harbone 2006) sehingga sesuai untuk dlpro- gramkan sebagai bahan baku

unfuk

sediaan yang berefek laksansia. Sebaliknya

jika,

diek- slraksi dengan

air

panas akan menghasilkan ekstrak dengan kadar tanin tinggi kaiena baik tanin terkondensasi maupun tanin terhidrolisis merupakan senyawa yang bersifat polar (Har_

bone 2006) sehingga lebih sesuai untuk sedi- aan anti diare.

Unfuk sediaan yang berbenfuk cairan atau

larutan,

seringkali

masih diperlukan

zat-zat atau bahan yang berfungsi sebagai stabilisator dan solubilizer. Stabilisator adalah bahan yang berfungsi menstabilkan komponen aktif dalam

unsur utama,

sedangkan

solubilizer

unfuk menambah kelarutan zat

aktif.

Sebagai con- toh, kurkuminoid, yaitu zat aktif dalam kunyit yang bersifat

labil

(tidak stabil) pada suasana alkalis atau netral, tetapi stabil dalam suasana asam, sehingga muncul ramuan ,kunir-asem,.

Demikian

juga

dengan

etil metolsi

sinamat,

(7)

Volume 5, Nomor

l,

APil 2A72 : 43 -

51

' '

suatu zat aktif pada kencur yang agak

sulor

larut dalam air; untuk menambah kelarutan di- perlukan adanya 'suspending agent'yang ber-

petat

sebagai solubilizer yaitu beras, sehingga dibuat ramuan'beras-kencur'.

Informasi apa yang'diperlukan

supaya

obat tadisional digunakan dalam

pengo-

batan? Suatu zat merupakan obat

bila

dalam pengobatan atau eksperimen sudah diperoleh keterangan antara

lain:

hubungan dosis den- gan efek; absorpsi, distribusi, metabolisme dan elsresi zat tersebut; tempat zatbekerla; catazat bekerja; dan hubungan antara struktur dan re- spon (Dzulkarnain 1987). Untuk mendapatkan

.L-uu

nformasi tersebut dibutuhkan waktu, tenaga serta dana yang cukup besar. Obat tra- disional yang digunakan masyarakat sebagian besar belum memiliki keterangan yang cukup seperti diatas, namun beberapa hal yang perlu diketahui tentang

obat

tradisional;

(1)

obat- obatan hadisional merupakan bahan atau zat

yang telah

digunakan sebagai

obat oleh

Ie- iuhur kita; (2) bahan komponen obat tersebut merupakan

bahan yang

diperoleh langsung

dari

alam seperti

kulit kayu,

akar

dari

berb- agai tanaman; (3) obat tradisional seolah-olah terseleksi secara

alamiah tentang

terutama

dari

segi toksisitas

dan

khasiatnya;

(4)

telah

dirasakin kegunaan dan manfaatnya

oleh masyarakat melalui trial

and

errcr; (5\ hingga sekarang masih digunakan oleh sebagian ma- syarakat

global dan

Indonesia (Dzulkarnain

1987

&Purwanto

20OZ).

Informasi yang cukup (seperti yang diper- syaratkan oleh obat modern), belum dipenuhi oleh obat tradisional, namun sekarang ada ke- cenderungan peningkatan terhadap

obat

tra- disional.

Hal

tersebut berhubungan beberapa kelebihan obat tradisional di antaranya:

1.

Efek samping

obat

kadisional relatif kecil

jika

digunakan secara

tepat

(Sari 2006

&

Katno dan Pramono 2011) dan menyatakan bahwa. Ketepatan penggunaan obat tradi- sional ditentukan oleh :

a. Kebenaranbahan

Thnaman obat

di

Indonesia

terdiri

dari beragam spesies yang kadang kala su-

lit untuk

dibedakan satu dengan yang

lain. Kebenaran bahan

menentukan tercapai atau

tidaknya

eLek terapi yang

, diinginkan. : $s!6g6i: :6sntoh,,iemprryang

di

pasaran' ada beberapa macaltr

ryalg

,, agakl sulit',rJrltuk rdibedakarr satrt idengan yang lain. Lempuyang emprit (Zingiber amaricans)

;

lempuyang gajah,',(Ztngib-

, 'er

aerumbet\

dan lernpuya,nslwafd,

,, {Zih gib er, arom aticum) .' Lempuyafg er-r-t

-

prit, dan r lernpuyang gajah memiliki .kha-,

siat, sebagai ;pelangsing, sedangkan.lemr puyang wangi akan merangsang. nafstl makan (Katno

&

Pramono

2071).

:

b. Ketepatan dosle

Efek terapi yang

dihasilkan

oleh

obat tradisional ditentuka oleh dosis yangrdi;

gunakan. Efek samping tanaman obat

dapat digambarkan dalam

tanaman

dringo, (Acorus

calamus), yanl1::biasa digunakan untuk mengobati shes.''Tirr6.

buhan ini memiliki

kandungan senya- wa bioaktif asaron. Senyawa

ini

punya

struktur kimia mirip golongry-'amfetamin dan ekstasi. Dalam dosis rffrdah, dringo' memang dapat memberikan efek relak- sasi

pada otot dan

menimbulkan efek sedatif (penenang) terhadap sistem'sairaf

pusat. :" :

'L

c. ketepatan waktu pengguna* I

:

Kunyit diketahui bermanfaat untuk men- gurangi nyeri haid dan sudah tunrntem-

urun

dikonsumsi

dalam

ratnutinrjamu kunir asam yang sangat baik dikoniurilsi saat datang bulan. Akan tetafi iika dirt'i-

num

pada awal masa kehamilarr 6bre- siko menyebabkan ke-guguran;

i

iiiii'.i: 1 :i;:

d. Ketepatan cara penligunaaii'.

',.':"..*t' Satu

tirliman

obat dapat

-utnitrF,Fif,j

yak zat aktif yang berkhasiat di

dplSnf,le.,

Masing-masing zat berkhasiat t Qnfrq,g-lij:

nan membutuhkan perlakuan V?lg ber:

beda dalam

pgnggunaa""yq.

,$'q6.

i

contoh adalah

daun

kecubung

jjka

Cii

hisap seperti rokok bersifat bronkgd{e;

tor dan

digunakan sebagai

obat

asma.

Tetapi

jika

diseduh dan diminum dgpu!

menyetabkan

keracunan

atau

mabrk'

(j.r'dkk.

1998

& wiryowidag.

2bdo);,.:

e. Ketepatan telaah informasi

;1 it:,; .,,

Pare mengandung alpha-momoyclp.yln;

beta-momorchorin

dan MAP30,

(mo-

'

mordica antiviral protein

30)

-Ler-

manfaat sebagai

anti humon

i,mmune

(8)

Marlnd Sllalahl, futensi Tumbuhon Oba Dan Obat Tradisionol Dalam Menjaga Kesehaton Masyarokot

virus

(HIV).

Akan

tetapi,

biji

pare juga

'

mengandung triterpenoidyang mempu- nyai aktivitas anti spermatozoa, sehing-

ga

penggunaan

biji pare

secara tradi- sional dengan

malsud

untuk mencegah

aquired immune

degeneration system (AIDS) dapat mengakibatkan infertilitas pada pria.

f.

Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertenfu

Dalam safu jenis tanaman dapat

dite- mukan beberapa zat aktif yang berkhasiat

dalam terapi. Sebagai contoh

tanaman Catharanthus roseus (tapak dara) mengand- ung senyawa ajmalisin, alkaloid, uinkristin.

Pada awalnya tapak dara digunakan untuk mengobati diabetes karena memiliki alka- Ioid yang rasanya sangat pahit. Akan tetapi daun Tapak dara juga mengandung uincris- fin dan uinblastin yang dapat menyebabkan

penurunan leukosit

(sel-sel

darah

putih) hingga

+

307o., akibatrya penderita men-

jadi

rentan terhadap penyakit infeksi (Joy dkk. 1998)

2. Adanya efek komplementer atau

ein-

ergi dalam ramuan obat tradislonaV komponen btoakttf tanaman obat.

Ramuan

obat

tradisional

pada

umumnya terdiri

dari

beberapa jenis tumbuhan obat yang memeiliki efek saling mendukung satu sama

lain

untuk mencapai efektivitas pen- gobatan. Ulfah (2006) menyatakan bahwa

formulasi terdiri dari komponen

utama sebagai unsur pokok dalam fujuan pengo- batan, unsur pendukung, unsur yang mem- banfu menguatkan efek,

dan

unsur peleng- kap atau penyeimbang dalam formulasi.

3. Pada satu tanaman dapat memiliki lebih dari satu efek farmakologis.

Zat

aktrt

pada tanaman obat

umumnya dalam bentuk metablit sekunder, dan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa me- tabolit sekunder, yang mengakibatkan satu tanaman memiliki lebih dari satu

efek.

Se- bagai contoh tanaman pegagan (Centella asiatica L. Urban.) dapat digunakan sebagai

tonik otak

berhubungan

dengan

adanya

dkk.

1998

& Martin

2004) dan

juga

obat luka adanya kandungan asam asiatik (Azis dkk. 2007). Efek tersebut adakalanya sal- ing mendukung seperti pada tanaman ku- mis kucing (Orthosiphon stamineus) tetapi adakalanya

saling

berlawan

seperti

akar klembek (Rheum officinale). Akar R. offici- nale mengandung senyawa atrakinon yang bersifat laksansia (unsur pencahar) tetapi

juga

mengandung tannin yang bersifat sL- bagai pengelat.

4. Obat tradisional cocok untuk

penya-

kit metabolik dan degeneratif.

Penyakit di Indonesia dan dunia sejak tahun 70-an mengalami pergeseran dari penyakit infeksi ke metabolik degeneratif. Beberapa penyakit yang termasuk metabolik antara

lain:

diabetes (kencing-

manis),

hipelipid- emia (kolesterolting3ii, asam urat, bafu gin-

jal

dan hepatitis. Penyakit degeneratif anta-

ra lain

rematik (radang persendian), asma (sesak napas), ulser (tukak lambung), dan pikun. Untuk pengobatan penyakit tesebut diperlukan waktu yang lama sehingga pe- makaian obat modern dikuatirkan adanya efek samping yang terakumulasi dan meru- gikan kesehatan.

KESIMPULAN

1. Sekitar

60-807" masyarakat

dunia

masih menganfungkan kesehatannya

pada

pen- gobatan tradisional.

2.

Khasiat tumbuhan obat berhubungan den- gan senyawa bioaktifnya.

3.

Tumbuhan obat dan obat hadisional mem- pakan dasar pengembangan obat modern.

4.

Obat tradisional memiliki kelebihan diban- dingkan dengan obat modern

:

efek sam-

ping relatif rendah; memiliki efek

yang komplementer; memiliki lebih dari satu efek farmakologis;

dan cocok unfuk

penyakit degeneratif.

ACUAN

PUSTAKA

Aziz, Z.A. ef.al. (2007). Production

of

asiatico- side and madecassocide in Centella asiatica in uitro and in uiuo. Biol Plant. 57:34-42.

(9)

Volume S,Nomor 1, April 2072 : 43 - 51

ond natural product. Indian Journal of Phar- macology.32:81-118.

Damayanti, E.K. (L999). Kaiian

tumbuhan obat berdasarkan kelompok penyakit pent' ing

di

bebagai etnis

di

lndonesia. Slaipsi.

Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan.

Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bo- gor, Bogor.

74hlm.

de Padua, L.S., Bunyapraphatsara & R.H.M. J.

Lemmens. (L999) . Palnt resources of South- Eosf

Asio no 12(L).

Backhuys Publishers, Leiden:2L-70.

Departemen Kesehatan

Republik

Indonesia.

(2000). Direktorat Jenderal

pengawasan obat dan makanan. Direktorat pengawasan obat hadisional. Pedoman pelaksanaan Uji Klinik obat tuadisional.

Dewoto, H.R. (2007).

Pengembangan obat tradisional Indonesia meniadi fitofarmoka.

Majalah kedokteran lndonesia. 57 (7 \

:

2O5- 210.

Dzulkarnain, B. ( 1989). Potensi obat tradisional dalam pelayanan kqehatan. Cermin Dunia kedokteran. 58: 3-6.

Eisai Indonesia. (1986). Medicinal herb index

ln

Indonesia. PT. Eisai, Jakarta.

Ersam, T. (2004). Keunggulan biodiuersity

hu' tan tropika

lndonesia

dalam

merekayasa

model molekul alami. Seminar

Nasional Kimia VI:1-16.

Fabricant,

D.S. & N.R.

Farnsworth. (2001).

The ualue

of

plant used medicine

for

drug

discouery. Enuiromentnl Health Perspecliue.

109(1): 69-75.

Harbone, J.B. (2006). Metode

fitokimia (penuntun cara

modem

menganalisa tum-

buhan) edisi

ke4.lnstitut

Teknologi Band- ung. Bandung: 1-38.

Harmida, Sarno, & V. E Yuni. (2010). Studi et- nofitomedika di desa Lawang Agung Keca- matan Mulak Ulu Kabupaten Lahat Suma- tera Selatan.

Jurnal

Penelitian Soins 14(1):

4246.

Heinrich, M.

(2003). Ethnobotany and natu- ral products: the search for new molecules, new keatments

of old

diseases

or a

better understanding of indigenous culfures? Cur- rentTopie in Medicinal Chemistry.S:

2942.

Kardono, L.B.S.

&

S.

Gauri.

(L992), Analisa

hubungan kandungan

senyawa-senyawa

bioaktif dengan data etnobotani beberapa

tumbuhan obat di Indonesia.

Prosiding

Seminar Etnobotani l. LlPl. Bogor:78-85 Karou

D.,

W.M.C. Nadembega,

L.

Ouattara,

D.P

llboudo,

A. Canini, J.B.

Nikiema, J.

Simpore, V. Colizzi, A.S.Tiaore. (2007). AI-

rican

etthnopharmacology .and

new

drug discouery. Medicinal

And

Aromatic Plant Science And Biotechnology. 1 (1 ) : 1-1 1.

Katno

&

Pramono S. (2011). Tingkat manfaat dan keamanan tanaman obat dan obat trad- isonol. Tidak dipublikasikan: L-L2.

Kiong, A.L.P (2004). Triterpene production in Centella asiatica

(L.) Urban

(Fegaga) col- lus and

cell

suspension cultures. Thesis

lor

the degree of Doctor

of

Philosophy. School of Graduate Sfudies, Science and Enrsiron- mental StudiesFoculfy, Universiti Putra Ma- laysia.

Kriswiyanti, E., I.K. Junita

&

E.S. Kenjonowati.

(201 1 ). Inventarisasi bahan elaff*radisional

di

Kecamatan Kintamani, Kabupaten Ban- gli, Bali.

hosiding

seminar nasional konser- uasi'tumbuhan tropika: kondisi

terkini

dan tantangan ke depan. UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas.

UPI,

Ci- bodas: 108-112.

Joy, PP, J. Thomas, S. Mathew

&

B.P Skaria.

(1998). Medicinal plonfs. Kerala: Kerala Ag- ricultural University. 210 hlm.

Kartawinata, K.

(2010).

Dua abad mengung- kap kelayaan

flora dan

ekosistem lndone-

sio.

Dalam: Sarwono Prawirohardjo me-

morial

lecture

X. LIPI. 23

Agustus ZOLA.

Jakarta: 1-38.

Martin, K.P (2004). Plant regeneration through somatic embryogenesis

in

medicinally im- portant Centella asiatica L.

ln

uitro Cellular Deuelopment Biology 40: 586-591.

Mukherjee, T. (2009). Medicinal plants : need

for

protection. Dalam : Tiivedi,

PC.2009.

Medicinal plants utilisation

and

conserua-

tion.

Aauishkar Publishers Distributar, Jai- pur. India:

391404.

Nala,

N.

(2007). Usada Bali: Tinjauan filosofis

dan

peranannya

dalam

ekowisata. Prosi- ding Seminar Konseruasi Tumbuhan Usada

Bali Dan

Peranannya

dalam

Mendukung Eleowisata. Bali: 8-16.

Nawangningilffi,

D., S. Widodo, I.M. Suparta

(10)

Dlarlno Sllalah\ NenlnTumbuhon Oba Dan ObdTrodbional Dalom Menjago K*ehd,on Masyarakat

& M.Holil.

(2004). Kajian terhadap naskah kuna nusantara koleksi Fakultas Ilmu Penge- tahuan Budaya Universitas Indonesia: pe- nyakit dan pengobatan ramuan tradisional.

Makara. Sosiol Humaniora 8(2): 45-53.

Patil,

D.A.

(2011). Ethnomedicine

to

modern medicine: genesis through ages. Joumal

Of

Experimental Science: 2 (3) : 2 5 -29 .

Pramonq S. (2002).

Reformasi

obat

tuadis- ional. Seminar sehari "reevaluasi dan refor- mulasi obat

tadisional

Indonesia". Majalah Obat Tiadisional. Fakultas Farmasi. Univer- sitas Gaja Mada. Yogyakarta.

Purwantq Y. (2002). Studi etnomedisinal dan fitofarmakope tradisional Indonesia. Pros- iding Seminor Nosional

II

Tumbuhan Obat dan Aromafik. Bogor: 96-109

Purwanto, Y. (2004). Undestanding tuaditional plantuse and mangement: the Dani-Baliem perceptions of the plant diversity. Joumal

of

Tiopical Etnobiology I(1) : 9-z13

Silalahi. M. (2010). Elisitosi peningkatan ajma- lisin pada kultus lcolus Catharanthus roseus L. (G.) Don. Berita Biologi:

Sukara. E. (2007). Bioprospeciing dan shategi konservasinya. Prosiding Seminar "Konser- uasi Tumbuhan Usada Bali dan Peranannya

dalam Mendukung

Ekowisafo. Univesitas Udayana. Denpasar: 1-7.

Sukarman

&

Riswan,

S.

(1992). Status pe- ngetahuan eforobotani Indonesia, Prosiding Seminar Etnobotani

/.

UPI Bogor: 1-7.

Sutarjadi. (L992).

Tirmbuhan Indonesia Se- bagai sumber

obat,

kosmetika dan jamu.

hosiding

Seminar Etnobotani, LIPI Bogor:

16-25.

Sari, L.O.R.K. (2006). Pemanfaatan obat tra- disional dengan mempertimbangkan man-

faat dan

kemanannya.

Majalah ilmu

ke- farmasian 8(1):1-7.

Sukandar,

E.Y

(2011). Tren

dan

paradigma dunia farmasi, industri-klinik- teknologi ke- sehatan, disampaikan

dalam orasi

ilmiah Dies Natalis

ITB,

http:llitb.ac.idlfocusl

fo- as Jilel

orasi-ilmiah-dies4l.pdf

,

diakses 12 November 201L.

Taiz, L.

&

E. Zeinger, (2002) . Pl ant Phy siolo gy, 3 rded. Publisher: Sinauerfusociates

:423-

460.

Tripathi,

L

and J.N. Ti.ipathi. (2003). Role

of

biotechnology

in

medicinal

plant.

Tropical

Joumal of

Pharmaceutica Research. 2(2):

243-253.

Ulfah,

M.

(2006).

Ulasan

potensi tumbuhan

obat

sebagai

fitobiotik multi

fungsi untuk meningkatkan

per-a., ilan dan

kesehatan satwa

di

penangkaran.

Media

Konseruasi :

9(3):109-114.

Weldegerim a, B. (2009). Reuiew on the impor- tance

of

documenting ethnopharmaalogi- cal information

on

medicinal

plant.

African

journal of

Pharmacy

and

Pharmacology 3(9):400-2103.

Wiryowidagdo,

S.

(2000). Kimia dan farmak- ologibahan olom. Edisi pertama. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: 1-11.

Zuhud,

E.A.M. &

Haryanto. (7994). Pelestar- ian pemanfaatan keanekaragaman fumbu- han obat hutan hopika Indonesia. Makalah.

Jurusan Konseruasi Sumber

Daya

Hutan.

Instifut Pertanian Bogor, Bogor.

Referensi

Dokumen terkait

“…ketika kami menemukan sarana distribusi melakukan pelanggaran dilapangan seperti obat tradisional tanpa izin edar, mengandung bahan kimia obat dan menjual obat

Namun demikian, data mengenai tumbuhan obat yang tumbuh di kawasan tersebut belum seluruhnya terdokumentasi, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis

Tumbuhan obat adalah seluruh spesies tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat, yang dikelompokan menjadi: (1) tumbuhan obat tradisional, yaitu

Telah dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan berbagai jenis tanaman obat sebagai bahan obat oleh pengobat tradisional yang memproduksi obat tradisional di Kecamatan

Namun saat ini minat masyarakat berobat ke pengobatan tradisional sangat meningkat, adanya rasa kecocokan dengan obat tradisional yang digunakan, belum sembuhnya

Perbedaan aktivitas antibakteri yang ditunjukkan oleh ekstrak n-Heksana daun dan batang dari ke-enam tumbuhan obat terpilih tersebut dapat dimungkinkan oleh

Nama : Munara junia sari Kelas : S1 ekstensi  Obat tradisional, obat jamu, obat herbal terstandar dan obat alam Indonesia  Obat tradisional : bahan atau ramuan bahan yang berupa

Sejak dulu tumbuhan dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung senyawa kimia yang berperan untuk pertahanan diri terhadap organisme lain dan tidak penting bagi pertumbuhan