Sistem Mata Pencaharian Hidup Nelayan Tradisional Sukubangsa Kamoro di Desa
Tipuka Kec. Mapurujaya Kab. Mimika Prov. Papua
Kelompok 5
Wawasan Budaya dan Ipteks BMI
Anggota Kelompok
Gresiriany Arruan Layuk
(H081231029) Vilka Damayan S. R.
(H081231036) Priscilia Anastasia Julius (H081231041)
Tenri Atikah Darminto
(B011231429) Nurul Adzirah Aly
(B011231423) Salsabila Putri Toputiri (B011231430)
Muhammad Rayhan Fahlevi
(B011231417)
Apa itu Sistem Mata Pencaharian?
Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi ketiga karangan
Poerwadarminata, sistem mata pencaharian terdiri dari dua unsur kata, yaitu sistem yang berarti sekelompok bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan
sesuatu dan mata pencaharian yang berarti aktivitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya.
Mata pencaharian dibedakan menjadi dua, yaitu mata pencaharian pokok dan mata pencaharian sampingan. Mata pencaharian pokok adalah keseluruhan kegiatan
untuk memanfaatkan sumber daya yang ada yang dilakukan sehari-hari dan
merupakan mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan mata pencaharian sampingan adalah mata pencaharian diluar mata pencaharian
pokok.
Lalu, Apakah Mata Pencaharian Hidup itu?
Mata pencaharian hidup adalah pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan
(sumbu atau pokok), pekerjaan atau pencaharian utama yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari. Masyarakat pesisir adalah orang yang tinggal di daerah pesisir dan
sumber kehidupan ekonominya bergantung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Contohnya, yaitu nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya
ikan/organisme laut lainnya, dan pedagang ikan. Di bidang non perikanan, ada
penjual jasa pariwisata bahari/pesisir, penjual jasa transportasi laut, dan kelompok masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya non hayati laut dan pesisir lainnya.
Apa sih Nelayan itu?
Undang-undang 45 Tahun 2009 mendefinisikan nelayan sebagai "orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan". Sedangkan,
penangkapan ikan didefinisikan sebagai "kegiatan untuk memperoleh ikan-ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau
cara apa pun, termasuk kegiatan yang
menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani,
mengolah, dan/atau mengawetkan".
Jenis-jenis Nelayan Menurut statistik perikanan KKP
Merupakan nelayan yang hanya memiliki satu pencaharian saja, yaitu sebagai nelayan. Dengan kata lain, nelayan penuh ini
tidak memiliki pekerjaan sampingan lain dan hanya fokus menjadi nelayan saja.
Nelayan Penuh
Adalah seseorang dengan profesi utama sebagai nelayan, tetapi
punya pekerjaan sampingan lain untuk
menambah penghasilannya.
Adalah kebalikan dari nelayan sambilan utama.
Mereka yang menjadi nelayan sambilan
tambahan punya pekerjaan utama lain dan menjadikan
nelayan sebagai sumber pendapatan tambahan.
Nelayan Sambilan Utama
Nelayan Sambilan
Tambahan
Jenis-jenis Nelayan Menurut UU Bagi Hasil Perikanan
adalah orang yang secara aktif turut serta dalam usaha penangkapan ikan dan juga bisa bekerja sama
dengan sarana
penangkapan ikan milik orang lain.
Nelayan Penggarap
adalah orang atau badan hukum yang berkuasa
dan memiliki kapal, perahu, dan alat-alat penangkap ikan yang digunakan dalam usaha
penangkapan ikan.
Pemilik Nelayan
Nelayan Tradisional &
Nelayan Modern
Mata pencaharian mayoritas masyarakat pesisir adalah sebagai nelayan, dengan kegiatan yang masih bersifat tradisional. Nelayan tradisional menggunakan peralatan tangkap sederhana dan bergantung pada pemilik modal atau tengkulak, menciptakan struktur sosial yang tidak
merata di komunitas nelayan. Nelayan modern lebih responsif terhadap perubahan dan lebih fleksibel dalam menghadapi tekanan overfishing. Komunitas nelayan menunjukkan solidaritas sosial tinggi, adaptasi, dan kompetisi, membentuk jaringan sosial kompleks. Modernisasi
perikanan dapat membuat nelayan tradisional terpinggirkan, tetapi ada upaya pemerintah dan lokal untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Peran nelayan tidak hanya ekonomis, tetapi
juga penting dalam mempertahankan budaya dan tradisi pesisir, dengan perahu sebagai simbol kehidupan dan keberlanjutan budaya.
Jaringan Produksi dan Distribusi Pemasaran
Pada Komunitas Nelayan
Juragan atau pemilik modal memberikan uang dan bantuan kepada nelayan untuk membantu mereka bekerja. Tanpa bantuan ini, nelayan akan kesulitan untuk bekerja dengan baik. Setelah nelayan
menangkap ikan, pengepul akan membeli ikan
tersebut dari mereka. Pedagang pasar atau pedagang besar adalah orang yang menjual ikan kepada
konsumen akhir atau orang lain yang membutuhkan- nya. Mereka memiliki akses ke berbagai pasar, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket.
interaksi
kompleks antara beberapa pihak
yang saling terkait
Jaringan produksi dan distribusi pemasaran dalam komunitas nelayan tradisional ditandai oleh
hubungan patron-klien dengan juragan,
menyebabkan ketergantungan pada modal dan akses pasar. Tantangan lainnya meliputi harga rendah,
persaingan dengan nelayan modern, dan akses pasar yang terbatas. Upaya seperti pembentukan koperasi, peningkatan akses ke pasar modern, pelatihan
teknologi, dan diversifikasi usaha diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Sistem Mata Pencaharian Desa Tipuka
Mata pencaharian pokok masyarakat Desa Tipuka adalah sebagai nelayan.
Kehidupan mereka sangat tergantung pada alam, khususnya pada tiga unsur utama:
sagu, sampan, dan sungai. Dari 136 kepala keluarga di desa tersebut, 80% bekerja sebagai nelayan, sedangkan 20% bekerja di perusahaan, sebagai buruh lepas, atau kontraktor. Pemerintah telah memberikan bantuan melalui Program Rencana
Strategis Pengembangan Kampung (Respek) untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan suku Kamoro. Namun, pengetahuan masyarakat untuk
mengembangkan skala usaha masih sangat minim, sehingga dana yang mereka
peroleh hanya dapat digunakan untuk kebutuhan pokok saja. Selain itu, masyarakat juga menerima bantuan dana dari PT. Freeport Indonesia.
Tumpuan Hidup Suku Kamoro Perahu (sampan)
Perahu merupakan tulang punggung kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Desa Tipuka, suku Kamoro. Sejak dulu, suku Kamoro telah membuat perahu secara tradisional dari pohon-pohon besar dengan peralatan seadanya. Sampan bagi masyarakat suku Kamoro digunakan sebagai sarana transportasi, baik untuk mencari hasil laut maupun mengangkut kebutuhan dari satu
kampung ke kampung lainnya. Bentuk sampan khas suku Kamoro adalah runcing di depan dan belakang, dengan panjang antara 2 hingga 5 meter. Selain untuk kebutuhan sehari-hari,
masyarakat Kamoro juga membuat sampan khusus untuk digunakan dalam kegiatan pesta adat dan ritual agama yang dilakukan di sungai maupun laut.
Ritual Mencari Ikan Desa Tipuka
Ritual ini melibatkan penggunaan bahan-bahan ritual seperti daun dan rotan yang berkaitan dengan otepe ikan. Setelah berkumpul di dekat rumah pembuat acara, mereka memerintahkan udang, cicak,
biawak, dan ikan untuk mengisi sungai dengan ikan, dilanjutkan dengan melempar otepe ikan ke dalam air sambil mengucapkan mantra kepada matahari. Proses penangkapan ikan melibatkan berbagai
metode seperti tangkap tangan, tombak, jaring, kalawai, rawai, dan jebakan ikan, umumnya dilakukan pada malam hari dengan keyakinan bahwa hasil tangkapan ikan lebih melimpah. Alat penangkapan ikan tradisional termasuk uta (korek api), imii (jaring), perahu dan dayung, nelon pancing, keranjang ikan,
kalawai atau jubi-jubi, kampak, parang, rokok, dan sagu. Ada aturan adat terkait wilayah penangkapan ikan dan pembagian hadiah bagi pemilik lokasi tangkapan jika ikan tertentu ditangkap oleh orang luar.
Taparu, atau kelompok keluarga, berperan sebagai pemersatu dalam masyarakat Kamoro, mewakili sistem kekerabatan dan kesatuan untuk melindungi wilayah.
Ereka-oto
(guna-guna ikan)
Nelayan suku Kamoro sering kalah bersaing dengan nelayan pendatang karena kurangnya modal dan menggunakan peralatan
tradisional. PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan Keuskupan Timika sejak Mei 2006
untuk memberdayakan nelayan Kamoro di sekitar daerah endapan tailing. Melalui
program ini, masyarakat nelayan Kamoro beralih dari budaya meramu menjadi
mengelola hasil laut untuk usaha ekonomi
produktif, membawa perubahan positif dalam kehidupan mereka.
Distribusi
Hasil Tangkapan Ikan
Para nelayan tidak hanya mendistribusikan hasil tangkapan ikan, tetapi juga
mengonsumsinya sebagai lauk pauk dalam keluarga. Cara mengonsumsi ikan dibedakan menjadi dua:
1. Di hutan mangrove, kaum perempuan
menangkap kepiting bakau, soa-soa/biawak, udang, siput, dan jenis kerang lain yang bisa dikonsumsi keluarga.
2. Di laut/muara sungai, kaum laki-laki
menjaring ikan, memancing, dan berburu buaya pada malam hari.
Konsumsi
Kesimpulan
Sistem mata pencaharian nelayan tradisional di Desa Tipuka sangat bergantung pada hasil laut sebagai sumber penghidupan utama. Perbedaan antara nelayan tradisional dan modern terlihat dalam respons terhadap perubahan dan
kemampuan menyiasati tekanan kondisi, seperti masalah overfishing. Jaringan produksi dan distribusi pemasaran masih terkendala oleh ketergantungan pada
pemilik modal dan pedagang, serta adanya ketidakmerataan distribusi pendapatan dan eksploitasi terhadap nelayan tradisional. Meskipun ada upaya dari pemerintah dan perusahaan untuk meningkatkan taraf hidup, pengetahuan untuk
pengembangan skala usaha masih minim di Desa Tipuka.