Standar Kefarmasian adalah pedoman pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian di bidang manufaktur, sarana distribusi atau penyaluran dan pelayanan kefarmasian. Pekerjaan kefarmasian dalam produksi sediaan farmasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 harus sesuai dengan ketentuan cara pembuatan yang baik yang ditetapkan oleh Menteri. Pekerjaan kefarmasian yang berkaitan dengan proses produksi dan pengendalian mutu sediaan farmasi di fasilitas produksi farmasi harus dicatat oleh tenaga kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Tenaga kefarmasian yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas produksi farmasi harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang produksi dan pengendalian mutu. Pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pendistribusian atau pengeluaran obat sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh menteri mengenai tata cara pendistribusian yang baik. Pekerjaan kefarmasian yang berkaitan dengan pendistribusian atau pengeluaran sediaan farmasi pada tempat penyaluran atau penyaluran sediaan farmasi harus didaftarkan oleh tenaga kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Tenaga kefarmasian dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian di fasilitas distribusi atau dispensing sediaan farmasi harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang distribusi atau dispensing. Dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian. Pekerjaan kefarmasian yang berkaitan dengan pelayanan kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian harus dicatat oleh tenaga kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan kegiatan kefarmasian pada lembaga pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 diatur dengan peraturan menteri.
BAB III
Apoteker warga negara Indonesia lulusan luar negeri yang telah menyesuaikan pendidikan kefarmasian di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3) dan mempunyai sertifikat kualifikasi profesi; Kewajiban pembaharuan registrasi apoteker lulusan luar negeri yang akan melakukan praktik kerja kefarmasian di Indonesia mengikuti ketentuan pembaharuan registrasi apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41. STRTTK berwenang melakukan praktik kerja kefarmasian di bawah arahan dan pengawasan apoteker yang memiliki STRA di Indonesia. sesuai dengan pendidikan dan keterampilan Anda.
SIPA bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek, puskesmas, atau fasilitas farmasi rumah sakit; SIK bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian di luar apotek dan fasilitas farmasi rumah sakit; atau d. SIK untuk tenaga teknis farmasi. melakukan pekerjaan kefarmasian di institusi farmasi. Penegakan disiplin tenaga kefarmasian dalam pelaksanaan pekerjaan kefarmasian berlangsung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penegakan tindakan disiplin terhadap Tenaga Kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB V
BAB VI
Apoteker dan Pembantu Apoteker yang dalam jangka waktu 2 (dua) tahun belum memenuhi persyaratan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, izin melakukan Pekerjaan Kefarmasian menjadi tidak berlaku. Tenaga teknis farmasi yang bertanggung jawab terhadap pedagang besar farmasi wajib mematuhi ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 3 (tiga) tahun setelah Peraturan Pemerintah ini diundangkan.
BAB VII
PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Nilai ilmiah' berarti bahwa pekerjaan kefarmasian harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh melalui pendidikan, termasuk pendidikan berkelanjutan dan pengalaman serta etika profesi. Yang dimaksud dengan “ekuitas” adalah usaha kefarmasian harus mampu memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada semua orang dengan harga terjangkau dan pelayanan yang bermutu. Yang dimaksud dengan “kemanusiaan” adalah menjamin perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan suku, bangsa, agama, status sosial, dan ras dalam melakukan kegiatan kefarmasian.
Keseimbangan" berarti bahwa dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian harus menjaga keselarasan dan keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat. Perlindungan dan keselamatan” mempunyai arti bahwa pekerjaan kefarmasian tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan saja, namun harus mampu meningkatkan derajat kesehatan pasien. Yang dimaksud dengan “Cara Pembuatan Obat yang Baik” adalah pedoman mengenai seluruh aspek pembuatan dan pengendalian mutu yang mencakup keseluruhan proses pembuatan obat, yang bertujuan untuk menjamin bahwa produk obat yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan peruntukannya. .
Kewajiban pencatatan dimaksudkan sebagai alat pengendalian dalam rangka pemantauan mutu sediaan farmasi yang disesuaikan dengan prosedur Cara Pembuatan Obat yang Baik. Kewajiban mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya merupakan syarat etika profesi, tetapi juga untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian. Yang dimaksud dengan “Cara Distribusi Obat yang Baik” adalah pedoman yang harus diikuti dalam pendistribusian obat yang ditetapkan oleh Menteri.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah pelaksanaan pekerjaan kefarmasian oleh pihak yang tidak mempunyai kompetensi dan wewenang untuk itu. Pemberian obat oleh dokter pada hakikatnya sangat erat kaitannya dengan pekerjaan kefarmasian, dimana obat pada dasarnya mempunyai fungsi mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologis atau keadaan patologis dengan tujuan untuk menegakkan diagnosis, pencegahan, pengobatan, pemulihan dan peningkatan kesehatan, oleh karena itu Penting untuk menjaga kerahasiaan dan memastikan, bahwa hal tersebut tidak menimbulkan efek negatif pada pasien. Yang dimaksud dengan “pengendalian mutu” pada ayat ini adalah sistem penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang efektif, efisien, dan bermutu untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kefarmasian.
Yang dimaksud dengan “pengendalian biaya” adalah pelayanan kefarmasian yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan berdasarkan harga yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan “audit farmasi” adalah upaya penilaian secara profesional terhadap mutu pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada masyarakat oleh organisasi profesi atau asosiasi lembaga pendidikan farmasi. Tenaga kesehatan di luar tenaga kefarmasian juga dapat diberi wewenang untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Standar kefarmasian di fasilitas manufaktur adalah Cara Pembuatan yang Baik, di fasilitas distribusi adalah Cara Distribusi yang Baik, dan di fasilitas pelayanan adalah Cara Farmasi yang Baik. Dalam hal apoteker dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian, pelayanan kefarmasian tetap dilaksanakan oleh apoteker dan tanggung jawab tetap berada di tangan apoteker.