KONSEP BUDAYA DAN PENYAKIT
KRONIK, PENYAKIT
MENULAR DAN
TIDAK MENULAR DALAM KONTEKS TRANSKULTURAL NURSING
Qrenquar Maima 231112009
Santi Darini Apriani Mone 241112002
Viktoria Dewi Anggreni 241112011
DEFENISI BUDAYA
•
Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
•
Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari
pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan
yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu,
kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang
dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
Keperawatan transkultural bertujuan untuk menghormati dan memanfaatkan perbedaan budaya ini dalam perawatan pasien.
Cara I : Mempertahankan budaya
• Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Cara II : Negosiasi budaya
• Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan
Cara III : Restrukturisasi budaya
• Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimilikimerugikan status
kesehatan.
DAMPAK BUDAYA PADA PENYAKIT
KRONIK
Penyakit kronik adalah kondisi kesehatan jangka panjang yang memerlukan perawatan kontinu dan manajemen seumur hidup. Contoh penyakit kronik meliputi diabetes, hipertensi, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Dampak Budaya pada Penyakit Kronik
o Kepercayaan dan Praktik Kesehatan: Budaya mempengaruhi cara individu memandang penyebab penyakit dan pengobatannya. Misalnya, beberapa budaya mungkin lebih mempercayai pengobatan tradisional dibandingkan dengan medis modern.
o Diet dan Gaya Hidup: Pola makan dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh budaya dapat mempengaruhi prevalensi dan manajemen penyakit kronik. Contohnya, pola makan tinggi garam dalam beberapa budaya dapat meningkatkan risiko hipertensi.
KEPERAWATAN
TRANSKULTURAL DALAM MANAJEMEN PENYAKIT
KRONIK
1. Asesmen Budaya Perawat perlu melakukan asesmen budaya untuk memahami latar belakang budaya pasien. Ini termasuk pertanyaan tentang keyakinan, nilai, dan praktik kesehatan yang dianut pasien.
2. Komunikasi Efektif Komunikasi yang sensitif budaya sangat penting dalam keperawatan transkultural. Perawat harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien dan menghormati norma-norma komunikasi budaya mereka.
3. Penyusunan Rencana Perawatan Rencana perawatan harus disesuaikan dengan latar belakang budaya pasien
untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Misalnya, dalam kasus diabetes, perawat dapat
mempertimbangkan pola makan budaya pasien dalam menyusun rencana diet.
DAMPAK
BUDAYA PADA PENYAKIT
MENULAR
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan dari satu individu ke individu lain melalui berbagai cara, seperti kontak fisik, udara, atau vektor.
Contoh penyakit menular meliputi tuberkulosis, HIV/AIDS, dan malaria.
Dampak Budaya pada Penyakit Menular
Stigma: Beberapa budaya mungkin memiliki stigma yang kuat terhadap penyakit menular tertentu, seperti HIV/AIDS, yang dapat menghambat individu untuk mencari perawatan dan dukungan.
Diskriminasi: Individu dengan HIV/AIDS mungkin menghadapi diskriminasi di tempat kerja, sekolah, dan lingkungan sosial. Misalnya, mereka mungkin dipecat dari pekerjaan atau ditolak untuk bekerja karena status HIV mereka.
Praktik Tradisional: Kepercayaan dan praktik kesehatan tradisional dapat mempengaruhi cara individu merespons penyakit menular dan metode pengobatannya. Beberapa budaya percaya bahwa HIV/AIDS dapat disembuhkan oleh dukun atau melalui pengobatan herbal tertentu.
DAMPAK BUDAYA PADA
PENYAKIT TIDAK MENULAR
Penyakit tidak menular adalah kondisi kesehatan jangka panjang yang tidak dapat ditularkan dari satu individu ke individu lain. Contoh penyakit tidak menular meliputi diabetes, hipertensi, dan kanker.
Dampak Budaya pada Penyakit Tidak Menular
Diet: Pola makan dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh budaya dapat mempengaruhi prevalensi dan manajemen penyakit tidak menular. Dalam beberapa budaya, makanan yang tinggi karbohidrat dan gula menjadi bagian utama dari diet sehari-hari.
Gaya Hidup: Budaya yang mengutamakan makanan cepat saji dan aktivitas fisik yang rendah juga dapat meningkatkan risiko diabetes.
Contohnya, gaya hidup modern yang cenderung lebih banyak duduk dan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula.
Persepsi Penyakit: Budaya mempengaruhi cara individu memandang penyakit tidak menular dan upaya pencegahannya. Beberapa budaya mungkin lebih menerima penyakit tertentu sebagai bagian dari proses penuaan alami. Dalam beberapa budaya, penyakit seperti diabetes dianggap sebagai takdir atau nasib yang tidak bisa dihindari. Persepsi ini dapat mengurangi motivasi individu untuk melakukan perubahan gaya hidup yang sehat atau mengikuti pengobatan yang direkomendasikan, karena mereka merasa bahwa hasilnya sudah ditentukan oleh takdir.
KEPERAWATAN
TRANSKULTURAL DALAM MANAJEMEN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR
1.
Asesmen Budaya Perawat perlu melakukan asesmen budaya untuk memahami latar belakang budaya pasien. Ini termasuk pertanyaan tentang keyakinan, nilai, dan praktik kesehatan yang dianut pasien.
2.
Komunikasi Efektif Komunikasi yang sensitif budaya sangat penting dalam keperawatan transkultural. Perawat harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien dan menghormati norma-norma komunikasi budaya mereka.
3.