BAB I PENDAHULUAN. Syndrome (AIDS) adalah salah satu penyakit kronis dan juga penyakit yang

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah salah satu penyakit kronis dan juga penyakit yang bersifat fatal (Feist, 2010), yang saat ini melanda seluruh dunia. Penyakit ini tidak mengenal batas negara dan juga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia sendiri epidemi AIDS berlangsung hampir 20 tahun namun diperkirakan masih akan berlangsung terus dan memberikan dampak yang tidak mudah diatasi (Alman, dalam Taylor, 2009)

AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virus ini menyerang sel darah putih (CD4) yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh dan merusaknya serta menjadikannya tempat berkembang biak dan menghasilkan HIV baru. Tanpa kekebalan tubuh, manusia mudah diserang penyakit, tubuh lemah tidak mampu melawan penyakit sehingga penderita dapat meninggal dunia akibat penyakit ringan sekalipun seperti influenza atau pilek biasa. Individu dengan AIDS rentan terjangkit penyakit yang mengancam (Sarafino, 1998). Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap berbagai masalah fisik yang terjadi akibat penurunan daya tahan tubuh. Penderita akan rentan terhadap berbagai penyakit terutama penyakit infeksi (infeksi opportunistic) seperti TB paru, pneumonia, herpes simpleks/zoster, diare kronis, hepatitis C, sarkoma

(2)

kaposi, limpoma, infeksi gastrointestinal, infeksi/kelainan neurologik (Ignatavicius & Bayne, 1991; Bare & Smeltzer; Depkes R.I., 2003).

Penanganan terhadap penyakit ini telah ada, akan tetapi sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat melawan virus tersebut. Para ahli berusaha mendapatkan obat untuk mengatasi AIDS, dan obat itu disebut sebagai Antiretroviral Agents (ARV). Akan tetapi, obat ini tidak dapat menyembuhkan AIDS, hanya dapat memperlambat pertumbuhan HIV pada tahap awal (Taylor, 2006).

Depkes RI tahun 2005 memprediksi pada tahun 2010 penderita HIV/AIDS akan mencapai 93.968 hingga 130.000 orang. Dan data menunjukkan sampai Maret 2009 tercatat 17.988 orang pengidap HIV dan AIDS. Jumlah tersebut diyakini masih jauh dari jumlah sebenarnya dan masih akan terus meningkat (Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2009). Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sampai 30 Desember 2009, rerata kasus HIV/AIDS adalah 8,15 per 100.000 penduduk. Tingkat usia penderita kasus HIV/AIDS 49,57% berada pada rentang umur 20-29 tahun. Sementara 29,84% rentang umur 30-39 tahun dan 8,71% pada usia antara 40-49 tahun (Rinda, 2010). Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Andi Ilham Lubis mengatakan dari laporan yang diterima Dinkes Sumut selama Juni 2010 lalu, tercatat 2260 penderita HIV/AIDS di Sumut. Rinciannya, penderita HIV sebanyak 884 orang dan AIDS sebanyak 1.376 orang. Sedangkan pada Juli 2010, terjadi peningkatan menjadi 2.291 orang, dimana penderita HIV 909 orang dan AIDS 1.382 orang (Adela Eka, 2010)

(3)

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah orang-orang yang secara positif didiagnosa terinfeksi virus HIV. ODHA adalah seseorang yang yang setelah menjalankan tes atau pemeriksaan darah dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS (Tuapattinaja, 2004). Orang-orang yang mungkin tertular virus HI ini tidak memandang usia, dan latar belakang. Semua orang bisa saja terinfeksi oleh virus ini. Akan tetapi ditemukan kelompok berisiko tinggi seperti pengguna napza suntik (penasun), pekerja seks (pria & wanita), waria, dan lelaki suka lelaki. Angka prevalensi HIV pada penasun cukup tinggi di Surabaya (56%), Medan (56%), Jakarta (55%), dan Bandung (43%). Angka prevalensi HIV pada waria sangat tinggi di Jakarta (34%), Surabaya (25,2%) dan Bandung (14%). Angka prevalensi HIV wanita penjaja seks (WPS) tertinggi terdapat di Papua 15,9%, berikutnya Bali 14,1%, Batam 12,3%, Jawa Barat 11,6%, Jakarta 10,2%, Jawa Tengah 6,6%, Jawa Timur 6,5%, dan Medan 6,1% (Rinda, 2010). Sementara laporan Departemen Kesehatan tentang situasi perkembangan kasus HIV/AIDS mengungkapkan, cara penyebaran virus ini secara kumulatif diketahui melalui heteroseksual yang mencapai persentase 49,7%, disusul IDU (Injection Drugs Use) penggunaan jarum suntik pengidap narkoba secara bergantian 40,7% dan hubungan seksual sesama laki-laki 3,4% (Rinda, 2010).

Sejak ditemukannya penyakit AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrome) dan virus penyebabnya HIV (Human Imunodeficiency Virus), muncul dampak yang begitu luas bagi individu dengan HIV/AIDS dan juga di masyarakat dan dampak yang ditimbulkan adalah dampak negatif seperti masalah fisik, psikososial, emosional dan spiritual pada ODHA (Bare & Smeltzer, 2002).

(4)

Individu yang positif terinfeksi HIV, salah satu masalah ditunjukkan dengan perubahan karakter psikososial yaitu: hidup dalam stres, depresi, merasa kurangnya social support, dan perubahan perilaku (WHO dalam Nasronudin, 2004). ODHA menjalani kehidupannya terasa sulit karena dari segi fisik individu tersebut akan mengalami perubahan yang berkaitan dengan perkembangan penyakitnya, tekanan emosional dan stres psikologis yang dialami karena dikucilkan oleh keluarga dan teman karena takut tertular, serta adanya stigma sosial dan diskriminasi di masyarakat. Wolcott, dkk (dalam Ader, 1991) mengemukakan bahwa penderita HIV/AIDS menghadapi situasi hidup dimana mereka sering menghadapi sendiri kondisinya tanpa dukungan dari teman dan keluarga yang memberi dampak kecemasan, stres, depresi, rasa bersalah dan pemikiran.

Dewasa ini pandangan masyarakat terhadap ODHA sudah sedikit mengalami perkembangan ke arah positif. Akan tetapi sebagian besar masyarakat masih memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV/AIDS. Faktor-faktor yang menimbulkan stigma dan diskriminasi di masyarakat adalah karena penyakit HIV/AIDS dapat mengancam jiwa, informasi yang kurang tepat mengenai penyakit HIV/AIDS dan adanya kepercayaan dimasyarakat bahwa penyakit ini adalah merupakan suatu “hukuman” atas perbuatan yang melanggar moral atau tidak bertanggungjawab sehingga penderita HIV/AIDS itu “pantas” untuk menerima perlakuan-perlakuan yang tidak selayaknya mereka dapatkan, sehingga penderita HIV harus dihindari (Sarafino, 2006).

(5)

Ketakutan karena pengalaman dan kemungkinan mendapat stigma dan diskriminasi menambah beban pikiran dan kecemasan ODHA. Hal ini membuat mereka memiliki penilaian yang kerap kali salah terhadap orang yang mendekati mereka. Ketakutan mendapat stigma justru membuat mereka sendiri menstigma diri sendiri bahwa mereka akan direndahkan dan dikucilkan. Pikiran negatif ini membuat mereka cenderung untuk menarik diri dan menghindari pergaulan dengan orang lain bahkan menghambat mereka untuk mencari dukungan sosial yang dapat membantu mereka mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya. Hal ini jugalah yang membuat fenomena HIV/AIDS termasuk dalam fenomena gunung es. Dimana kasus HIV/AIDS yang muncul kepermukaan masih sangat sedikit tetapi sesungguhnya masih begitu banyak penderita HIV/AIDS yang tidak terdata dan tidak pernah diketahui (Sahabat Senandika, Yayasan Spiritia, No. 12, November 2003).

Hidup seorang ODHA sangat tertekan, karena hidupnya sudah divonis tidak akan lepas dari virus yang akan senantisa bersarang dalam tubuhnya, juga trauma yang diperoleh dari masyarakat. Orang dengan HIV/AIDS akan merasa hidupnya tidak berarti. Pandangan dan harapan masa depan menjadi suram dan gelap dimana hasil dari segala sesuatunya menjadi sangat buruk, yang dapat memicu usaha untuk bunuh diri (Preau, dkk., 2008).

Di tengah kondisi seperti itu, individu diharapkan memiliki sikap positif dari dalam dirinya untuk mampu bertahan dengan tetap memiliki harapan-harapan yang baik akan masa depan, bahkan dengan penyakit yang dihadapinya. Individu yang memiliki pola pandang positif, memiliki harapan masa depan yang baik

(6)

meskipun dengan banyak tantangan dan kemalangan dikenal dengan individu yang memiliki optimisme (Scheier & Carver, dalam Snyder, 2002)

Optimisme merupakan sikap selalu memiliki harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Dengan kata lain optimisme adalah cara berpikir atau paradigma berpikir positif (Carver & Scheier 1993). Orang yang optimis adalah orang yang memiliki ekspektasi yang baik pada masa depan dalam kehidupannya. Masa depan mencakup tujuan dan harapan-harapan yang baik dan positif mencakup seluruh aspek kehidupannya (Scheier & Carver, dalam Snyder, 2002)

Optimisme dapat mengarahkan seseorang untuk mengatasi stres lebih efektif dan menurunkan resiko jatuh sakit (Scheiver, dkk,, 1994, dalam Taylor, 2009). Sikap optimis akan membuat individu untuk mengambil langkah yang lebih efektif, aktif dan persisten yang mungkin dapat memperbaiki prospek jangka panjang terhadap penyesuaian psikologis dan kesehatan (Segerstom, dkk., dalam Taylor, 2009). Adanya sikap yang optimis telah terbukti melindungi dari berbagai penyakit lain seperti penyakit jantung koroner (Kubzansky, Sparrow, Voconas, & Kawachi, 2001), efek samping dari treatmen kanker (deMoor et al., 2006), depresi pada usia paruh baya (Bromberger & Matthews, 1996), kematian karena kanker pada lansia (Schulz, dkk., 1996), hilangnya fungsi pulmonari (Kubzansky et al., 2002). Untuk penderita HIV, usaha yang diperlukan adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang diperankan oleh sel darah putih (CD4), sementara virus menghancurkannya. Tetapi dengan adanya optimisme ditemukan bahwa adanya

(7)

penurunan laju pertumbuhan virus dalam tubuh dan terjadi peningkatan CD4 (Joel, dkk., 2004).

ODHA yang memiliki sikap optimis, lebih mampu untuk mengatasi stres yang dihadapinya. Seorang yang optimis akan lebih aktif dan mengatasi stess yang dialaminya dengan problem-focused coping dan juga memiliki perencanaan penuh. Sikap optimis akan cenderung untuk menerima realitas dari kondisi stressful, juga mencoba melihat sisi positif dari situasi yang buruk tersebut untuk mengambil dan mempelajari sesuatu dari hal tersebut. Sikap optimis menjadi mediator terhadap kesehatan individu, dimana ketika memiliki kemampuan untuk menemukan arti dari pengalamannya, maka akan memperlambat penurunan CD4 nya, dan tingkat kematian pun akan berkurang (Bower, dkk., dalam Taylor, 2009). Optimisme berhubungan dengan strategi coping yang aktif. Optimisme memprediksi sikap positif dan kecenderungan untuk merencanakan penyelesaian, mencari informasi, membangun banyak relasi untuk mendapat dukungan dan membentuk kembali situasi buruk untuk melihat aspek positifnya. Orang yang optimis tidak menganut fatalisme, menyalahkan diri sendiri, dan menghindar. Mereka juga tidak fokus pada aspek negatif dari situasi atau mencoba menekan simptom-simptomnya. Sebaliknya orang yang optimis akan menerima situasi yang tidak dapat diubah daripada mencoba lari dari situasi tersebut (Scheier & Carver, dalam Snyder, 2002).

Akan tetapi pada kenyataanya, sebagian besar penderita HIV positif (HIV+) dijumpai menunjukkan sikap yang bertolak belakang, yaitu sikap pesimis, terkhusus ketika di awal mengetahui status sebagai ODHA. Berbagai reaksi yang

(8)

menunjukkan sikap pesimis mereka seperti keinginan untuk bunuh diri dan merasa tidak ada harapan lagi. Orang yang pesimis cenderung untuk melakukan penolakan dan mencari jalan keluar dengan coping yang salah seperti menarik diri dan menggunakan obat-obat terlarang (Scheier & Carver, dalam Snyder, 2002).

Sama halnya seperti penderita penyakit lain, orang dengan dengan HIV/AIDS juga membutuhkan dukungan sosial. Dan dewasa ini, orang dengan HIV/AIDS sudah lebih mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya, masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Suatu perubahan yang positif dimana berbagai social support diberikan kepada orang dengan HIV/AIDS supaya dapat berdaya dan menjalani kehidupannya. Dukungan sosial ini merupakan faktor eksternal menjadi pelindung bagi individu (Vollmann, dkk., 2007)

Social support sangat penting untuk ODHA. Social support adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan yang dirasakan atau bantuan yang diterima oleh seseorang dari orang lain atau kelompok (Sarafino, 2006). Emery dan Oltmanns (2000) mengatakan bahwa social support merupakan bantuan secara emosional dan langsung yang diberikan kepada seseorang.

Dukungan ini bisa berasal dari pihak manapun yang merupakan significant others bagi orang yang menghadapi masalah atau situasi stres, seperti orang tua, pasangan, sahabat, rekan kerja ataupun dokter dan komunitas organisasi. Social support dapat bersumber dari keluarga, sahabat, tetangga, teman kerja, dan orang lain (DiMatteo, M. Robin, 1991).

Anggota keluarga dan sahabat dapat memberikan bantuan dengan menunjukkan perhatian, empati dan dukungan secara emosional (emotional or

(9)

esteem support), sumber-sumber fisik dan bantuan secara langsung seperti meminjamkan uang, membantu merawat anak, dll (instrumental or tangible support), bantuan berupa saran-saran, petunjuk, informasi dan nasehat (informational support), serta dukungan dengan mendamping (companionship support) (Sarafino, 2006).

Social support dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis kepada individu. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana social support mempengaruhi kejadian dan efek dari keadaan stres. Stres yang tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau lama dapat memperburuk kondisi kesehatan dan menyebabkan penyakit. Tetapi social support yang diterima oleh individu yang sedang mengalami atau menghadapi stres akan membantu individu mempertahankan daya tahan tubuh dan meningkatkan kesehatannya (Baron & Byrne, 2000).

Kondisi ini dijelaskan oleh Sarafino (2006) bahwa berinteraksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau mengubah persepsi individu mengenai kejadian tersebut, dan ini akan mengurangi potensi munculnya stres baru atau stres yang berkepanjangan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa social support yang diterima subjek tersebut ternyata berdampak positif terhadap aspek kesehatan, psikologis, sosial dan pekerjaan subjek, sehingga hal tersebut dapat membantu subjek dalam meningkatkan kesehatan guna memerangi virus HIV.

Bukti mengindikasikan bahwa optimisme dan social support memiliki korelasi (Boland and Cappeliez, dkk., 1997, dalam Optimism, social support, and adjustment in African American women with breast cancer). Pada penderita

(10)

penyakit kronis seperti kanker payudara, optimisme dan social support saling berkaitan secara positif, social support menjadi mediator terhadap optimisme dan penyesuaian hubungan, sebagaimana juga optimisme membuat individu membangun lebih banyak relasi dan meningkatkan social support pada kondisi yang stres (Brissette et al. 2002; Dougall et al. 2001 dalam dalam Optimism, Social Support, And Adjustment In African American Women With Breast Cancer).

Demikian halnya dengan ODHA, social support yang mereka rasakan akan membantu mereka dalam menghadapi masalah berkaitan dengan kondisi kesehatannya sama seperti pada penyakit kronis lainnya. Akan tetapi mengingat bahwa selain HIV/AIDS adalah penyakit kronis, penderita HIV/IDS juga merasakan stigma sosial yang membuat mereka sulit berinteraksi dengan orang lain, sehingga peneliti hendak mengukur keterkaitan antara social support yang mereka rasakan dengan kecenderungan mereka untuk memiliki harapan positif yaitu hasil yang baik dan menyenangkan dalam kehidupannya mendatang.

Berbagai bentuk social support diterima oleh ODHA dari hubungannya dengan orang lain. Social support seperti emotional support, informational support, instrumental or tangible support, dan companionship support akan membantu ODHA menghadapi stres. Social support mengurangi stres, dan membantu individu untuk mengatasi tuntutan dan akibat penyakit yang serius (Wortman & House, 1987).

Jenis dukungan sosial diatas menjelaskan kelengkapan atau tersedianya bantuan dan penghiburan dari seorang kepada yang lain. Tetapi faktanya,

(11)

keuntungan dan manfaat social support muncul dari persepsi bahwa dukungan sosial tersebut dibutuhkan dan tepat. Kejadian stressful yang berbeda menciptakan kebutuhan yang berbeda, dan dukungan sosial paling efektif ketika kebutuhan akan dukungan sosial dan jenis dukungan sosial yang diberikan tepat dan sesuai (Taylor, 2009). Martin (dalam Sarafino, 2006) menemukan bahwa pasien penderita kanker menerima emotion/esteem support, informational dan tangible support. Akan tetapi pasien kanker merasa bahwa dari semua dukungan yang diterima, emotion/esteem support lebih dapat menolong dalam masalah.

Dukungan sosial tidak bermanfaat jika bentuk dukungan sosial yang diberikan bukan yang dibutuhkan. Dukungan emosional paling penting ketika datang dari orang-orang terdekat, sementara dukungan informasi dan nasihat diberikan oleh seseorang yang ahli, (Taylor, 2009). Dengan demikian, seseorang yang membutuhkan penghiburan dari anggota keluarga tetapi justru menerima nasihat, berarti bukan mendukung tetapi membuat situasi stres semakin lebih buruk (Darkof & Taylor, dalam Taylor, 2009). Kurik dan Mahler (dalam Sheridan & Radmacher, 1989) menemukan bahwa pasien operasi bypass koroner yang telah menikah dan pasangannya mengunjungi dengan teratur, sembuh lebih cepat dari pada mereka yang jarang dikunjungi oleh pasangannya dan mereka yang belum menikah.

Social support akan bermanfaat jika diberikan dan diterima pada waktu dan kondisi seseorang membutuhkan bentuk dukungan tersebut. Penderita membutuhkan jenis dukungan yang berbeda pada waktu yang berbeda selama kondisi mengalami penyakit. Dukungan tangible seperti membawa/mengantar ke

(12)

tempat medis dibutuhkan diwaktu tertentu dan waktu yang lain dukungan emosional adalah yang paling penting (Taylor, 2009).

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) awalnya tidak menerima keadaannya. Saat mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS, orang dengan HIV/AIDS menjadi pendiam, menutup diri dari keluarga dan lingkungannya, hopeless, helplessness dan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Saat seperti ini, kepuasan akan dukungan emosional yang dirasakan akan melindungi dari emosi-emosi negatif karena stres yang dialami (Sarafino, 2006).

Dukungan berupa informasi yang diperoleh juga sangat membantu ODHA untuk memahami penyakitnya dan membantunya untuk mencari cara mengatasi dan bertahan. Dukungan informasi mengurangi stres karena mendapat informasi sehubungan dengan simptom AIDS. Juga kehadiran internet dirasakan menjadi sumber yang penting sebagai sumber informasi bagi ODHA (Hay, dkk., dalam Taylor, 2009).

Demikian halnya dengan penderita HIV/AIDS, kepuasan akan social support yang mereka rasakan akan membantu mereka dalam menghadapi kondisi stres yang mereka hadapi dan ini akan memediasi optimisme pada ODHA. Dan kepuasan yang dirasakan atas bentuk-bentuk dukungan sosial dari interaksi dengan orang lain juga akan membatu ODHA semakin optimism dalam menjalani kehidupannya.

Penelitian pada berbagai penyakit kronis mengindikasikan bahwa social support berhubungan dengan kondisi kesehatan dan juga optimisme penderita penyakit yang dialami. Akan tetapi penelitian ini hendak menguji hubungan social

(13)

HIV/AIDS adalah penyakit kronis, penderita HIV/IDS juga merasakan stigma sosial yang membuat mereka sulit berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu peneliti hendak mengukur keterkaitan antara social support yang mereka rasakan dengan kecenderungan mereka untuk memiliki harapan positif yaitu hasil yang baik dan menyenangkan dalam kehidupannya mendatang.

Selain itu, penelitian ini juga hendak mengukur hubungan antara bentuk-bentuk social support dengan optimisme pada orang dengan HIV/AIDS. Berbagai bentuk social support tersebut seperti social support instrumental, emosional/penghargaan, informatif, dan pendampingan. Telah banyak penelitian yang mengidentifikasikan social support sebagai faktor pelindung bagi individu. Pada dasarnya semua dibutuhkan oleh individu, namun, bentuk social support apa yang berhubungan dengan optimisme orang dengan HIV/AIDS belum banyak dibahas. Kepuasan yang dirasakan akan bentuk social support ketika berinteraksi dengan orang lain tentunya akan berhubungan dengan bagaimana pandangan ODHA terhadap kehidupannya sehingga dapat mengatasi dan meresponi permasalahan yang dihadapi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Apakah ada hubungan antara social support dengan optimisme pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA)?

2. Apakah ada hubungan antara bentuk-bentuk social support dengan optimisme orang dengan HIV/AIDS (ODHA)?

(14)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara social support dengan optimisme pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dengan mengukur juga hubungan antara bentuk-bentuk social support dengan optimisme pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat teoritis

Memperkaya referensi ilmiah dalam bidang kesehatan mental mengenai optimisme pada orang dengan HIV/AIDS. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan masalah optimisme pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

2. Manfaat praktis

a. Memberikan informasi kepada para ODHA mengenai keterkaitan antara optimisme dalam diri mereka dengan social support yang dirasakan.

b. Memberikan informasi dan referensi bagi masyarakat secara luas, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah sebagai pihak di luar ODHA untuk dapat memberikan social support yang berkaitan dengan optimisme pada orang dengan HIV/AIDS

c. Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi penderita HIV/AIDS, hubungan bentuk-bentuk social support dengan optimisme ODHA, sehingga menjadi bahan pertimbangan dalam upaya membantu dan memberdayakan orang dengan HIV/AIDS.

(15)

E. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : PENDAHULUAN

Berisi uraian singkat mengenai gambaran latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian serta manfaat penelitian. BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan permasalahan. Teori-teori yang dimuat adalah teori tentang optimisme, dan teori social support.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang identifikasi variabel penelitian, definisi operasional dari optimisme, social support, emotional or esteem support, instrumental or tangible support, informational support, companionship support, populasi, sampel, teknik pengambilan sampel, metode pengambilan data, uji validitas, uji daya beda dan reliabilitas alat ukur, metode analisa data serta hasil uji coba alat ukur penelitian. BAB IV : ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menjelaskan tentang gambaran subjek penelitian, laporan hasil penelitian yang meliputi hasil uji asumsi meliputi uji normalitas dan linieritas, hasil utama penelitian, hasil tambahan dan pembahasan. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini memuat mengenai kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dijelaskan di bab sebelumnya. Selain itu, bab ini juga akan memuat saran penyempurnaan penelitian berikutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :