Gambaran Perkembangan Bahasa Anak Usia
Prasekolah (3-6 tahun) di TK Islam Terpadu Dharush
Sholihin Desa Bagbogo Kecamatan Tanjunganom
Kabupaten Nganjuk
Disusun Oleh : Auliyaa Nasywarinda Iswahyudi
Karya Tulis Ilmiah
SEMINAR HASIL
2 0 2 2 1 4 4 0 1 0 0 9
Ketua Penguji : Puji Astutik, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Penguji 1 : Sefrina Rukmawati, S.Kep.,Ns.,M.Kes
Penguji 2 : Risa Nurhayati, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Latar
Belakang
D III Keperawatan D III Keperawatan
Anak usia prasekolah merupakan anak yang berada pada usia 3 tahun sampai dengan 6 tahun (Fauzi, et al., 2021). Anak mengalami perkembangan dalam berbagai aspek, termasuk fisik, intelegensi, bahasa, sosial, dan moral. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode penting untuk belajar bahasa (critical-period) (Susanto, 2011). Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap (Mindarsih & Ngaisyah, 2021). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup (Susanto, 2011).
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
1
FAKTA
Berdasarkan studi pendahuluan di TK Islam Terpadu Darush Sholihin tanggal
19 Oktober 2024 didapatkan 6 anak prasekolah diantaranya ada 1 anak usia
4 tahun yang belum bisa menyebutkan warna dengan benar, 2 anak yang
terdiri dari usia 4 dan 5 tahun pada saat mengungkapkan kata kurang jelas
dan 3 anak usia 6 tahun lainnya dapat menjawab pertanyaan dengan benar
dan saat mengungkapkan kata sudah jelas.
Latar Belakang
D III Keperawatan D III Keperawatan
Diperkirakan 8% anak-anak di Amerika Serikat usia 3 hingga 17 tahun memiliki gangguan komunikasi. Anak laki-laki hampir dua kali lebih mungkin terpengaruh dibandingkan anak perempuan (9,6% vs 5,7%) (Feltner, et al., 2024). Keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh 5-8%
anak usia prasekolah (Soebadi, 2013). Hal ini berarti, sekitar 5-8 dari 100 anak usia prasekolah di Indonesia mengalami keterlambatan bicara (Nurhaliza, 2024). TK Islam Terpadu Darush Sholihin merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang menerima siswa dengan berbagai kebutuhan, baik anak dengan perkembangan normal maupun anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan data yang diperoleh dari TK Islam Terpadu Darush Sholihin, jumlah anak usia prasekolah yang terdaftar di TK ini mencapai 81 anak.
SKAL A
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
2
D III Keperawatan D III Keperawatan
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi yaitu biologis, jenis kelamin, usia, dan kecerdasan anak. Sedangkan faktor eksternal diantaranya yaitu pola asuh, interaksi, lingkungan, dan media pembelajaran (Batubara, 2023). Perkembangan bahasa yang tidak sesuai akan berakibat amat besar pada aspek kehidupan seorang anak seperti kesulitan untuk belajar, mempunyai peluang lebih besar untuk mengalami ketakutan berlebihan saat sosialisasi, mempunyai kualitas persahabatan dan partisipasi aktivitas sosial yang lebih rendah dibandingkan anak dengan perkembangan normal (Dahlia, 2017).
KRONOL OGI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
3
Latar Belakang
SOLUSI
Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk stimulasi kemampuan
bahasa pada anak adalah dengan bercerita, membaca dan menulis.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana Gambaran Perkembangan Bahasa Anak Usia Prasekolah (3-6 tahun) di TK Islam Terpadu Darush Sholihin Desa Bagbogo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk?
4
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan bahasa anak usia prasekolah (3-6 tahun) di TK Islam Terpadu Darush Sholihin Desa Bagbogo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk.
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan D III Keperawatan
Penelitian ini akan membantu peneliti dalam mengembangkan pengetahuan serta pengalaman dalam melakukan penelitian yang relevan.
Bagi Peneliti
Memberikan informasi dan menyediakan data yang berguna untuk mendeteksi adanya keterlambatan bahasa, sehingga dapat diambil tindakan intervensi yang diperlukan.
Bagi Lembaga Tempat Penelitian
Penelitian ini dapat membantu orang tua dan pendidik dalam mendeteksi kemungkinan keterlambatan atau gangguan perkembangan bahasa pada anak, sehingga dapat mengambil intervensi lebih awal.
Bagi Responden
Manfaat Penelitian
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan
D III Keperawatan 5
Konsep Anak Usia Prasekolah (3-6
Tahun)
1
KONSEP BAHASA
2
Perkembangan Bahasa Anak Usia Prasekolah
(3-6 Tahun)
3
Konsep Teori
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan
D III Keperawatan 6
Definisi, ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan anak,
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas
Tumbuh Kembang Anak
Definisi bahasa, fungsi bahasa secara umum dan
khusus
Definisi bahasa, Tahapan
Perkembangan Bahasa Anak Usia Prasekolah,
Faktor Yang Mempengaruhi
Perkembangan Bahasa Anak, Pengembangan
Bahasa Anak
4
Penilaian
Perkembangan Bahasa Menggunakan KPSPDefinisi KPSP, Cara
menggunakan KPSP
Keterangan
: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti
7
Kerangka Konseptua l
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah
deskriptif
Tempat:
TK Islam Terpadu Darush Sholihin Desa Bagbogo
Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk.
Waktu:
Penelitian ini akan
dilaksanakan pada Sabtu, 8 Februari 2025
Metode
Penelitian
Desain
Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
8 D III Keperawatan
D III Keperawatan
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
Kerang ka Kerja
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
Definisi
Operasional
D III Keperawatan 10 D III Keperawatan
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
HASIL PENELITIAN
TK Islam Terpadu Darush Sholihin adalah lembaga pendidikan anak usia dini swasta berbasis Islam berlokasi di Desa Bagbogo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Pada tahun ajaran 2024/2025, jumlah peserta didik di TK ini mencapai 147 anak, terdiri dari 42 anak laki-laki dan 105 anak perempuan. Kepala sekolah saat ini adalah Ibu Siska Irawati, S.Pd.AUD. TK ini telah terakreditasi A dan menerapkan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajarannya. TK ini memiliki tenaga pendidik sebanyak 22 guru berkompeten di bidang pendidikan anak usia dini. Para guru secara aktif mendorong anak untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi, seperti saat menyapa dan menjawab pertanyaan. Pengenalan kosakata baru dilakukan melalui media gambar, lagu, dan buku cerita.
TK ini terdiri dari 2 lantai dan dilengkapi dengan 8 ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, 4 kamar mandi, 6 wastafel, ruang UKS, bak pasir untuk sensory play, buku cerita, serta area bermain yang aman dan menyenangkan menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan holistik anak, khususnya dalam aspek perkembangan bahasa. Pembelajaran dilakukan melalui metode bercerita, bernyanyi, bermain peran, diskusi kelompok kecil, serta kegiatan mendengarkan dan menirukan, yang dirancang untuk merangsang kemampuan bahasa anak secara verbal maupun nonverbal.
1. DATA UMUM
KARAKTERISTIK LOKASI PENELITIAN
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
11 D III Keperawatan
D III Keperawatan
KARAKTERISTIK RESPONDEN
12 D III Keperawatan
D III Keperawatan
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
33 (52%) 31
(48%)
Jenis Kelamin
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1(2%)
0 (0%)
5 19 (8%)
(30%) 39
(61%)
Pendidikan Orang Tua
tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan Tinggi
13 (20%)
26 (41%) 24
(37%)
Usia
36 BULAN 42 BULAN 48 BULAN 54 BULAN 60 BULAN 66 BULAN 72 BULAN
1 (2%)
0
(0%) 0
(0%)
0 (0%)
Dari 64 responden Sebagian besar yaitu 33 responden (52%) berjenis kelamin laki-laki.
Dari 64 responden hampir setengahnya yaitu 26 responden (41%) berusia 60
bulan.
Dari 64 responden Sebagian besar yaitu 39 responden (61%) memiliki orang tua dengan
tingkat pendidikan perguruan tinggi.
KARAKTERISTIK RESPONDEN
13 D III Keperawatan
D III Keperawatan
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
24 (38%)
2 (3
% ) 15
( 23%) 15
(23%)
8 (13%)
Pekerjaan Orang Tua
tidak bekerja buruh/tani
PNS/TNI/Polri pegawai swasta
0 (0%)
22 (34%) 28
(43
%) 14
(22
%)
Pendapatan Keluarga
<1Rp 1 Juta Rp 1 Juta-Rp 3 Juta Rp 3 Juta-Rp 5 Juta > Rp 5 Juta
64 (100%)
0 (0%)
Riwayat Kesehatan Anak
tidak ada gangguan kesehatan ada riwayat gangguan kesehatan
dari 64 responden hampir setengahnya yaitu 24 responden (38%) memiliki orang
tua yang tidak bekerja.
dari 64 responden hampir setengahnya yaitu 28 responden (44%) memiliki pendapatan
keluarga Rp 3 Juta – Rp 5 Juta.
dari 64 responden seluruhnya yaitu 64 responden (100%) tidak ada gangguan
kesehatan.
2. DATA KHUSUS
14 D III Keperawatan
D III Keperawatan
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
No Perkembangan Bahasa Frekuensi ( f ) Presentase (%)
1. Sesuai 58 91
2. Tidak sesuai 6 9
Jumlah 64 100
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 15 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di TK Islam Terpadu Darush Sholihin pada Sabtu 8 Februari 2025, diketahui bahwa perkembangan bahasa anak usia prasekolah (3–6 tahun) di TK Islam Terpadu Darush Sholihin, Desa Bagbogo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Sebagian kecil berada dalam kategori tidak sesuai. Dari total 64 responden, sebanyak 6 anak (9%) menunjukkan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usianya.
Hampir seluruh anak prasekolah di TK Islam Terpadu Darush Sholihin dengan perkembangan bahasa yang tidak sesuai berjenis kelamin Laki-laki, yaitu sebanyak 5 anak (83%). Berdasarkan usia, setengah dari responden berusia 66 bulan, yaitu sebanyak 3 anak (50%). Ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua, hampir seluruh responden memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi, yaitu sebanyak 5 anak (83%). Setengahnya memiliki orang tua bekerja sebagai PNS/TNI/Polri, yaitu sebanyak 3 anak (50%). Sementara itu, setengahnya memiliki pendapatan keluarga perbulan sebesar Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000, yaitu sebanyak 3 anak (50%). Seluruh responden dengan perkembangan bahasa tidak sesuai yaitu 6 anak (100%) dilaporkan tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.
FAKTA
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 16 D III Keperawatan
Hal tersebut sesuai dengan faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak prasekolah adalah jenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 5 anak (83%).
Menurut (Batubara, 2023) tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara laki-laki dengan perempuan. Namun mulai usia 2 tahun, anak perempuan menunjukkan perkembangan bahasa yang lebih cepat dari pada laki- laki. Dikutip dari (Yuliani, 2013) Penelitian yang dilakukan oleh para psikologi pada tahun 2005 di Institut Psikologi di London, Universitas Oxford dan Universitas Missouri-Columbia di Amerika Serikat, yang menemukan bahwa anak laki-laki dan anak perempuan sangat berbeda dalam menguasai keterampilan berbahasa. Di temukan fakta bahwa anak perempuan lebih dulu berbicara dibandingkan anak laki-laki dan lebih cepat dan lebih banyak dalam penguasaan kosakata. Anak perempuan bisa menguasai ungkapan lebih dari dua suku kata dibandingkan anak laki laki. Alasan ini dikarenakan adanya perubahan kognitif anak perempuan terjadi diantara umur 14 hingga 20 bulan, sementara anak laki- laki terjadi perubahan kognitif diumur 20 dan 24 bulan. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak perempuan lebih dulu berbicara dibandingkan anak laki-laki, lebih cepat dan lebih banyak dalam penguasaan kosakata.
PEMBAHASAN TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 17 D III Keperawatan
Hasil penelitian menunjukkan setengah responden berusia 66 bulan, yaitu sebanyak 3 anak (50%) memiliki perkembangan Bahasa yang tidak sesuai.
(Ardiyansyah, 2020) mengatakan perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi. Variasi ini terjadi dalam dua dimensi yaitu variasi dari rata-rata perkembangan dan variasi keunikan tiap anak sebagai individu. Variasi dari rata- rata perkembangan anak artinya bahwa dalam menentukan urutan perkembangan, usia anak hanyalah indeks kasar yang sifatnya perkiraan saja, sehingga kemungkinan akan terdapat variasi perkembangan di antara anak yang berusia sama. Sedang variasi keunikan perkembangan tiap anak artinya bahwa tidak ada anak yang perkembangannya sama persis meskipun anak kembar.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Chairani, et al., 2025) mengatakan salah satu kelompok usia yang sering mengalami gangguan berbahasa adalah anak usia 4-5 tahun. Berdasarkan hasil penelitiannya, sebanyak 40% sampel mengalami gangguan bahasa yang terdiri dari 3 orang usia 4 tahun dan 11 orang yang berusia 5 tahun. Ada beberapa hal yang menyebabkan anak dapat mengalami gangguan bahasa, salah satunya adalah kurangnya stimulasi yang diberikan oleh orang tua atau keluarga terhadap anak.
PEMBAHASAN TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 18 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Berdasarkan pendidikan terakhir orang tua responden hampir seluruh responden dengan perkembangan bahasa tidak sesuai memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi, yaitu sebanyak 5 anak (83%).
Dalam kehidupan keluarga orang tua lah yang berperan sebagai pendidik yang pertama dan yang utama. Tingkat pendidikan orang tua yang berbeda jelas dapat mempengaruhi pengasuhan dan pola komunikasi pada anaknya. Adapun bagi mereka yang berpendidikan lebih tinggi dalam memberikan pengasuhan pada anaknya sedikit banyak berbeda dengan motivasi yang diberikan oleh orang tua berpendidikan rendah (Zulfikar, 2017). Pendidikan tinggi memberikan potensi, tapi tidak menjamin kualitas stimulasi verbal. Banyak faktor lain seperti waktu luang, pola asuh, interaksi sehari-hari, dan gaya komunikasi yang lebih menentukan.
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 19 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan Setengah dari responden yang perkembangan bahasanya tidak sesuai memiliki orang tua bekerja sebagai PNS/TNI/Polri, yaitu sebanyak 3 anak (50%). Perkembangan anak agar berada dalam kategori sesuai, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan waktu orang tua dalam mendampingi anaknya (Sunanti & Nurasih, 2016). Hubungan keluarga umumnya subjek dengan orang tua yang sibuk bekerja akan memiliki waktu yang sedikit dalam menemani anak bermain serta berinteraksi dengan anak (Ardiyansyah, 2020). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Rosmawati, 2024) menunjukkan adanya hubungan antara status pekerjaan ibu dan keterlambatan berbicara anak usia dini. Orang tua yang bekerja mungkin memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak mereka, yang bisa mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Anak yang ibunya bekerja mungkin kurang mendapatkan stimulasi bahasa yang cukup di rumah dibandingkan anak yang ibunya tidak bekerja.
Penelitian ini menggaris bawahi pentingnya peran orang tua, terutama ibu, dalam memberikan stimulasi bahasa yang cukup bagi perkembangan bahasa anak.
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 20 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan setengah dari responden yang perkembangan bahasanya tidak sesuai memiliki pendapatan keluarga perbulan sebesar Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000, yaitu sebanyak 3 anak (50%). Status sosial ekonomi menurut (Syahyoeseva & Nurhafizah, 2023) merupakan tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya yang dipengaruhi oleh pendapatan, pendidikan, dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Dikutip dari (Rahma, 2024) meskipun penghasilan keluarga penting, faktor lain juga berperan dalam perkembangan bahasa anak. (Afriliani, et al., 2023) mengatakan kualitas interaksi verbal di rumah, seperti percakapan sehari hari antara orang tua dan anak dapat memberi dampak besar dari pada sekedar status ekonomi. Ini menandakan bahwa meskipun penghasilan orang tua memberikan akses ke sumber daya, bagaimana sumber daya tersebut digunakan dalam interaksi sehari- hari di rumah lebih menentukan perkembangan bahasa anak.
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 21 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan Seluruh responden dengan perkembangan Bahasa tidak sesuai yaitu sebanyak 6 anak (100%) dilaporkan tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi perkembangan bahasa. (Gumilang & Aryanti, 2024) mengatakan tidak dapat dipungkiri bahwa faktor yang mempengaruhi gangguan perkembangan bahasa pada anak ini juga dapat dimungkinkan oleh permasalahan dari dalam tubuh anak. Hal ini memerlukan pendalaman yang lebih detail, antara lain terkait kondisi alat ucap serta organ yang mendukung dalam pembunyian bahasa lainya. Sebagaimana pendapat Leung, dkk bahwa faktor kelainan kondisi fisik juga mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing, dll.
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 22 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Meskipun hasil penelitian ini hampir seluruh responden memiliki perkembangan bahasa yang sesuai (91%), terdapat sebagian kecil responden, yaitu 6 responden (9%) yang menunjukkan perkembangan bahasa tidak sesuai. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Setyowati, 2010) mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak usia 24-36 bulan dengan menggunakan KPSP (sektor bahasa) di Kelurahan Krembangan Selatan didapatkan bahwa sebagian besar sesuai (67,09 persen) dan hampir setengahnya tidak sesuai, yaitu sebanyak 26 responden (32,91%). Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode penting untuk belajar bahasa (critical-period). Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik (Susanto, 2011). Khususnya di TK, pengembangan kemampuan berbahasa bertujuan agar anak didik mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya (Rahayu, 2017).
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua anak mengalami perkembangan bahasa yang optimal.
Menurut penelitian oleh Tomblin et al. (2020), sekitar 7% anak usia prasekolah mengalami gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment/SLI). Gangguan ini sering kali tidak terdeteksi hingga anak memasuki usia sekolah, yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam pengembangan kemampuan akademis dan sosial mereka (Gumilang & Aryanti, 2024). Membantu proses perkembangan bahasa pada anak prasekolah perlu diawali dengan pemahaman orang tua tentang dunia anak, kemampuan bahasa anak, faktor yang mungkin dapat mempengaruhi proses perkembangan bahasa anak, dan sebagainya. Orang tua merupakan orang yang memainkan peran utama dalam perkembangan bahasa anak, orang tua dapat menyediakan bahan menulis, berbicara secara ekstensif dengan anak anak mereka serta membacakan buku cerita kepada mereka (Sari, 2018). Penanganan gangguan keterlambatan perkembangan berbasa pada anak dapat di upayakan oleh berbagai pihak. Orang tua sebagai anggota keluarga terdekat dapat mengintensifkan pemberian simulasi bicara pada anak (Gumilang & Aryanti, 2024).
TEORI
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 23 D III Keperawatan
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian ini perkembangan bahasa anak prasekolah di TK Islam Terpadu Darush Sholihin dikatakan sesuai dengan tahap usianya. Meskipun perkembangan bahasa anak prasekolah di TK Islam Terpadu Darush Sholihin hampir seluruhnya berada dalam kategori sesuai, perhatian khusus perlu diberikan pada sebagian kecil anak yang mengalami perkembangan tidak sesuai, yakni sebanyak 6 anak (9%). Persentase yang kecil ini tidak dapat diabaikan karena justru merepresentasikan kelompok yang rentan dan berpotensi menghadapi hambatan dalam perkembangan bahasa selanjutnya.Sebagian besar anak dengan perkembangan bahasa dalam kategori tidak sesuai justru berasal dari latar belakang keluarga yang secara umum dianggap mendukung perkembangan anak, seperti pendidikan orang tua tinggi, dan pendapatan keluarga yang relatif stabil/tinggi. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut tidak menjamin perkembangan bahasa yang sesuai. Hal ini memperkuat teori bahwa interaksi, stimulasi verbal, serta waktu kebersamaan antara anak dan orang tua jauh lebih berpengaruh dari pada status sosial ekonomi. Selain itu, faktor jenis kelamin juga menjadi temuan penting, di mana 5 dari 6 anak yang tidak sesuai berjenis kelamin laki-laki.Temuan ini menekankan bahwa anak-anak dengan perkembangan bahasa tidak sesuai perlu menjadi fokus intervensi, meskipun mereka adalah minoritas. Justru pada kelompok inilah upaya pencegahan dan pendampingan harus lebih diintensifkan untuk menghindari keterlambatan perkembangan lebih lanjut. Meski data dominan menunjukkan hasil positif, penelitian ini menegaskan pentingnya tidak mengabaikan minoritas yang menyimpang dari mayoritas, karena di sanalah letak urgensi dan kebutuhan intervensi nyata.
OPINI
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia prasekolah di TK Islam Terpadu Darush Sholihin memiliki perkembangan bahasa yang sesuai dengan tahap usianya. Dari 64 responden, sebanyak 58 (91%) anak menunjukkan perkembangan bahasa yang sesuai, namun sebagian kecil yaitu 6 anak (9 %) menunjukkan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan usianya.
24
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan D III Keperawatan
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melibatkan lebih banyak partisipan atau mencakup area yang lebih luas guna memperoleh gambaran yang lebih representatif. Peneliti juga disarankan menjalin kolaborasi dengan instansi terkait seperti puskesmas, dinas kesehatan, atau lembaga pendidikan, agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam program-program nyata yang berdampak langsung pada masyarakat.
Bagi Peneliti
TK Islam Terpadu Darush Sholihin diharapkan terus memberikan stimulasi bahasa melalui kegiatan belajar yang interaktif dan menyenangkan. Lembaga juga disarankan mengadakan pelatihan atau penyuluhan bagi orang tua tentang pentingnya peran keluarga dalam mendukung perkembangan bahasa anak.
Bagi Lembaga Tempat Penelitian
Orang tua diharapkan dapat terus mempertahankan dan meningkatkan stimulasi perkembangan bahasa anak melalui komunikasi yang aktif, membaca buku bersama, serta memberikan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Meskipun hasil penelitian menunjukkan perkembangan bahasa yang sesuai, orang tua tetap perlu memantau perkembangan anak secara berkala untuk mendeteksi dini jika terdapat keterlambatan pada aspek lain.
Bagi Responden
saran
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan
D III Keperawatan 25
Terima Kasih
STIKes Satria Bhakti
Nganjuk
D III Keperawatan 26 D III Keperawatan