PENDAHULUAN
Latar Belakang
3 Oceania Hasanah, “Praktik Pembagian Harta Warisan Secara Sukarela Pada Masyarakat Muslim Perkotaan” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, 2021), 1. Hendra Pratama Ginting, “Pembagian Harta Warisan Secara Damai Tanpa Melibatkan Salah Satu Ahli Waris Menurut Islam dan Positif Hukum” (Disertasi: UINZU 2017), 28. Maka penelitian ini lebih fokus pada praktik thakhaaruj dalam pembagian warisan di pengadilan agama.
Pertama, bagaimana pembagian harta warisan yang dilakukan oleh ahli waris berdasarkan akta yang dibuat di hadapan notaris? Pembagian harta warisan secara damai tanpa melibatkan salah satu ahli waris menurut hukum waris Islam.
Fakus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam hukum waris bagi lembaga dan hakim dalam memutus suatu perkara waris, untuk mengadili suatu permasalahan sengketa waris dengan menggunakan praktek Tashặluh. Penelitian ini menjadi acuan dasar bagi masyarakat, untuk memperluas pengetahuan, pengalaman dan wawasan untuk memahami masalah waris dan sebagai pedoman dalam menyelesaikan masalah waris baik dalam ilmu faraidh maupun dalam amalan Tashặluh (perdamaian).
Definisi Istilah
Hukum Islam merupakan salah satu langgam yang mempunyai istilah unik di Indonesia, terjemahan lafal al-fiqh al-islam disebut juga dalam konteks tertentu as-syariah al-islamy. Jika hukum Islam diterjemahkan menjadi hukum Islam (law in abstracto), berarti hukum Islam dipahami dalam arti sempit. Begitu pula sebaliknya, jika hukum Islam merupakan terjemahan dari fikih Islam, maka hukum Islam termasuk dalam bagian kajian ijtihad yang bersifat dzanni.
Secara umum, para ahli fikih Islam berpendapat bahwa hukum Islam adalah pandangan hidup dalam kaitannya dengan doktrin syariah tentang perbuatan yang diperintahkan dan dilarang. Sebagaimana dijelaskan oleh Fokki Fuad, dalam bukunya, hukum Islam diyakini sebagai jalan lurus yang akan membawa keselamatan bagi umat manusia.28 Landasan jalan menuju keselamatan ini dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai petunjuk jalan kebenaran.
Sistematika Pembahasan
Tulisan yang berlaku saat ini bersifat mengikat secara umum dan diberlakukan secara khusus melalui pemerintah atau lembaga hukum di Indonesia.” 32. Bab ini merupakan garis besar konstruk pemikiran umum dan pembahasan secara umum, dituangkan dalam konteks yang jelas dan ringkas. Bab ini menguraikan penelitian-penelitian terdahulu dan kajian-kajian teoritis yang menjelaskan secara garis besar praktik Tashaluh dalam pembagian warisan dalam perspektif Islam dan hukum positif.
Kemudian merupakan metode penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dan kemungkinan dapat diketahui dengan menggunakan sumber data yang konkrit. Menyimpulkan saran yang disampaikan kepada masyarakat, agar instansi secara umum mempertimbangkan penerapan praktik tashặluh dalam pembagian harta warisan yang tidak sesuai dengan kaidah hukum syariat Islam.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Kajian Teori
Di dalam harta pusaka terdapat beberapa hak yang wajib ditaati oleh ahli waris atau bagi ahli waris peribadi. Asas wajib dalam hukum pusaka Islam bermaksud pemindahan seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya adalah dengan ketetapan Allah tanpa bergantung kepada wasiat ahli waris atau ahli waris. Kewujudan unsur wajib ini dapat difahami oleh golongan ahli waris seperti yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran (Q.S An-Nisa’ ayat 11-12 dan 176).
Apabila utang seluruh harta warisan telah dilunasi, masih terdapat sisa utangnya, maka ahli waris tidak wajib membayar sisa utang tersebut. Asas bilateral dalam hukum waris Islam artinya pewarisan berpindah kepada ahli waris secara dua arah (kedua belah pihak). Apabila ahli waris tidak mempunyai kecakapan bertindak, maka ia harus mendapat pengampunan dari walinya dan biaya-biayanya dipotong dari harta warisan.
Perbedaan penerimaan antara masing-masing ahli waris diimbangi dengan tanggung jawab yang diemban baik laki-laki maupun perempuan. Islam mengenal Tashặluh sebagai pembagian harta warisan berdasarkan asas perdamaian atau kesepakatan antar ahli waris bagi yang turun tahta (berangkat) setelah mengetahui pembagiannya masing-masing. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya menyebut para ahli waris Tashặluh/Thakhặruj yang mengupayakan perdamaian harus melepaskan diri dari hak masing-masing untuk berbagi warisan dengan memberikan imbalan tertentu, tanpa memandang apakah yang diberikan itu merupakan harta warisan atau bukan dari harta itu.
Asas hukum yang digunakan oleh ulama yang menghalalkan Tashặluh adalah kerana wasiat dan persetujuan antara waris. Sedangkan ahli waris yang berhak menerima harta tersebut, agar dapat melaksanakan haknya sesuai dengan kehendak dan keikhlasannya. Pembahagian waris dalam bentuk Tashặluh dalam al-Quran tidak dapat kita temui asas hukumnya sama ada dalam al-Quran mahupun hadis Nabi.
Menurut Ibnu Abbas, cara ini merupakan solusi yang memudahkan para ahli waris agar tidak kesulitan dalam membagi harta warisan, karena dilakukan dengan cara musyawarah. Pembagian harta warisan dengan sistem seperti ini boleh jadi di luar ketentuan pembagian harta warisan yang ditentukan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, melainkan berdasarkan kesepakatan dan wasiat para ahli waris sebagai bentuk kemaslahatan bagi yang mewariskan. ahli waris.78.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Sedangkan penelitian (legal Research) adalah suatu kajian untuk mendalami penjelasan perkara yang berkaitan dengan konsep kaidah dalam putusan pengadilan yaitu tentang kaidah-kaidah hukum yang berlaku yang mengatakan bahwa hukum dipahami sebagai kaidah-kaidah hukum yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law on the books). ). melainkan bagaimana melihat bekerjanya hukum (law in action).83.
Pendekatan Penelitian
Penelitian konseptual merupakan hasil analisis interpretasi terhadap putusan pengadilan agama sebagai alat pengkajian terhadap konsep-konsep yang tertuang dalam peraturan yang berlaku. Konsep pendekatan yang digunakan peneliti kali ini menjadi bahan pengayaan kajian hukum baik secara teoritis maupun praktis mengenai pembagian harta warisan yang diputuskan oleh hakim pada pengadilan agama.
Sumber Bahan Hukum
Bahan hukum sekunder yang digunakan peneliti adalah sumber penelitian hukum dari bahan primer, antara lain pendapat para ahli hukum yang terdapat dalam buku-buku, artikel jurnal, artikel, dan jenis tulisan hukum lainnya yang berkaitan dengan pembahasan yang diteliti. Sumber hukum tersier merupakan bahan hukum non hukum yang memberikan informasi tentang apa yang dibicarakan dalam penelitian ini berkaitan dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti hasil karya ilmiah, tesis, jurnal, buku, kamus dan website. Jelaslah bahwa bahan hukum tersier ini memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan sekunder.86.
Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui penelusuran internet dan kajian pengambilan keputusan, baik melalui toko buku, perpustakaan dan media online, serta media dan tempat lembaga yang menerbitkan dan menyimpan arsip (dokumen) yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. hakim pengadilan melakukan praktek pembagian warisan mengenai pelaksanaan perdamaian (Tashặluh) menurut hukum waris Islam dan positif.
Analisis Bahan Hukum
Penyimpulan Bahan Hukum
Perkara ini didaftarkan di Pengadilan Agama Situbondo, melalui jalur pendaftaran di PTSP (pendaftaran terpadu satu pintu), dan penyelesaian perkara ini dilakukan melalui praktek damai melalui putusan hakim, pembagian harta warisan secara damai. Apabila ada di antara ahli waris yang tidak menyetujui permohonan tersebut, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan agama untuk membagi warisan tersebut.” 91. Hal ini terjadi karena para pihak tidak saling menerima dan tidak menemukan titik temu dalam pembagian tersebut. pewarisan yang dilakukan oleh hakim pengadilan.
Padahal, dalam perkara pembagian harta warisan (tirkah), ahli waris adalah orang-orang yang mempunyai hak yang sama untuk menerima harta warisan, baik dari penggugat maupun tergugat. Meskipun dalam hukum waris Islam, pembagian warisan dengan metode tashặluh tidak selalu dilakukan secara tertulis atau lisan. Praktek pembagian warisan dilakukan secara damai (Tashặluh), bukan karena tidak ada alasan dalam pengambilan keputusannya.
Dalam pewarisan Islam, praktek pembagian warisan diatur secara rinci yaitu Al-Qur'an untuk memastikan tidak terjadi perselisihan dengan ahli waris. Perdamaian (Tashặluh) dalam praktek pembagian warisan menurut syariat diperbolehkan karena sesuai dengan akad (perjanjian) yang didasarkan pada saling menerima antara ahli waris yang berdamai. Hal ini dilakukan melalui musyawarah keluarga dan hasilnya tidak ditentukan oleh hakim, misalnya pembagian warisan yang idealnya dibagikan secara damai di pengadilan agama.
Dengan demikian, berdasarkan putusan Pengadilan Agama Situbondo, terkait pembagian warisan secara damai (Tashặluh), majelis memutus perkara tersebut dengan melihat perbuatan damai dan hasil musyawarah keluarga sebagai bentuk pembuktian kekuatan hukum dan saling menguntungkan. kesepakatan dalam memutuskan kasus ini. Praktek penyelesaian warisan secara damai (Tashặluh) yang didirikan di Pengadilan Agama Situbondo, secara historis permasalahan ini menimbulkan konflik, namun pada akhirnya diadopsi oleh pihak-pihak yang terlibat untuk berdamai dalam pembagian warisan. Pandangan hukum positif mengenai pembagian warisan secara damai dalam KUH Perdata sebagai suatu sistem perjanjian (perjanjian) antara satu pihak dengan pihak lainnya.
Bagi masyarakat, praktik Tashặluh merupakan solusi dan alternatif yang tepat untuk melakukan pembagian warisan secara damai, sebelum memasuki tahap hukum positif di pengadilan agama. Namun harus sesuai prosedur yang berlaku dalam pembagian warisan secara damai, sehingga tidak melanggar peraturan hukum yang berlaku.
PEMBAHASAN
Putusan Nomor 1772/Pdt.G/2020/PSit Tentang Praktik Tashặluh
- Pertimbangan Hakim
- Praktik Tashặluh
Analisis Putusan Pengadilan Tentang Praktik Tashaluh Perspektif
- Perspektif Hukum Islam
- Perspektif Hukum Positif
PENUTUP
Kesimpulan
Dan dalam penelitian ini penulis memfokuskan permasalahan penyebab, pandangan hukum Islam dan putusan Pengadilan Agama Medan, dalam pelaksanaan pembagian harta warisan. Tesis Oseania Hasanah Tahun 2021 berjudul: “Praktik Pembagian Harta Warisan Secara Sukarela pada Masyarakat Muslim di Perkotaan.” Peneliti membahas mengenai pembagian warisan secara damai melalui musyawarah melalui pembuatan akta perdamaian yang dibuat dihadapan notaris melalui sudut pandang Sadd Adz-Dzari'ah.
Jurnal yang mendalami pembagian harta warisan melalui perjanjian yang disegel mempunyai landasan hukum yang memungkinkan terjadinya praktik pembagian harta warisan secara damai. Sedangkan penelitian ini fokus pada praktik pembagian harta secara damai dengan putusan Pengadilan Agama Situbondo Nomor 1772. perspektif hukum Islam dan hukum positif. Kewenangan pengadilan agama untuk mengeluarkan fatwa atau putusan mengenai pembagian warisan ahli waris yang beragama Islam.
Hasil kajian hukum Islam dalam praktek pembagian harta warisan menurut metode Tashặluh KHI terangkum dalam Pasal 183 yaitu “para ahli waris dapat menyepakati perdamaian dalam pembagian harta warisan setelah menguangkan bagiannya”. Ismiyati, “Analisis Prinsip Keadilan Dalam Pembagian Warisan antara Laki-Laki dan Perempuan Menurut Hukum Waris Islam” Tesis UNEJ 2018.
Saran