• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

warisan secara damai dari hasil temuan skripsi yang akan ditulis, namun ada perbedaan yang menjadi pembeda dari penelitian jika ini memiliki condong pada penyelesaian Thakhặruj di pengadilan agama Makassar, maka yang akan diteliti ini lebih pada penyelesaian praktik Tashặluh yang diputuskan di Pengadilan Agama Situbondo.

2. Skripsi Dyah Ayu Saraswati, Pada Tahun 2019 dengan judul: “Pembagian Harta Waris Secara Kekeluargaan Di Desa Ngunut Kecamatan Badan Kabupaten Ponorogo Perspektif Kompilasi Hukum Islam”. Dalam Skripsi ini timbul dua rumusan masalah pertama, bagaimana pembagian harta waris secara kekeluargaan sama rata di Desa Ngunut Kecamatan Badan Kabupaten Ponorogo Perspektif Kompilasi Hukum Islam. Kedua, bagaimanakah pembagian harta waris secara kekeluargaan pada saat pewaris masih hidup. Dalam skripsi ini lebih membahas khusus terhadap pembagian harta waris di desa ngunut dengan cara kekeluargaan sama rata dan ada dua unsur yang menjadi persyaratannya 1 masing-masing ahli waris mengetahui pasal 183 Kompilasi Hukum Islam. Sehingga ahli waris mengetahui ketentuan hukum yang berlaku. 2 praktik pembagian dilakukan sebelum pewaris meninggal dunia. Hal ini dilakukan karena ada percekcokan dan perselisihan di antara para ahli waris. Dalam

penelitian ini penulis hanya fokus pada persoalan pembagian harta waris secara kekeluargaan perspektif kompilasi hukum Islam.

Persamaan dalam penelitian ini dengan yang akan diteliti sama- sama mebahas tentang pembagian waris cuman yang ini condong pada penyelesaian teknisnya yang berada di masyarakat desa ngunut sedangkan perbedaannya dalam penelitian ini yang di putusan hakim yang dilakukan di pengadilan agama Situbondo.

3. Indah Kasih Pita Loka, Skripsinya Pada Tahun 2017. “Pembagian Warisan Dengan Cara Perdamaian (Tashaluh) Menurut Hukum Islam (Analisis Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 1927/Pdt.G./2015/PA.Mdn)”. Skripsi ini memiliki tiga rumusan masalah.

Pertama, Apa faktor-faktor penyebab terjadinya pembagian warisan (Tashaluh) secara damai. Kedua Bagaimana ketetapan hukum pembagian warisan secara damai (Tashặluh) menurut hukum Islam. Ketiga, bagaimana analisis terhadap putusan pengadilan agama medan nomor 1927/Pdt.G/2015/PA.Mdn. Menariknya dalam penelitian ini penulis membahas putusan pengadilan agama medan, dalam pembagian harta waris dengan cara damai (Tashaluh), yang dilakukan karena ada salah satu keluarga yang tidak mampu atas nama Ichsaniah Nasution, maka dari 6 orang anak perempuan memberi imbalan dengan jumlah 75.000.000.00 dan pembagian waris ini diputuskan melalui akta damai yang dibuat oleh para ahli waris yang sama-sama sepakat. Dan dalam penelitian ini penulis fokus pada persoalan penyebab, pandangan hukum Islam dan putusan pengadilan agama medan, dalam berlakunya pembagian harta waris yang

dipraktikkan oleh penggugat dan tergugat dengan cara damai. Sehingga dalam penelitian ini dirasa kurang sempurna karena sama sekali tidak membahas tentang tinjauan hukum positif atau hukum adat.

Persamaan dan perbedaanya, sama-sama membahas tentang pembagian waris secara Tashặluh yang di perspektifkan hukum Islam yang menganalisa di pengadilan agama medan. Sedangkan perbedaannya yang akan diteliti ini lebih luas karena ada pada titik pembahasan praktik Tashaluh yang di perspektifkan pada hukum Islam dan Hukum Positif.

4. Skripsi Oceania Hasanah, tahun 2021 dengan judul: “Praktik Pembagian Harta Waris Secara Sukarela Dalam Masyarakat Muslim Di Perkotaan.”

Skripsi tersebut memiliki keunikan tersendiri dalam peneliti, dalam rumusan masalahnya fokus pada bagaimana praktik pembagian harta waris secara sukarela yang terjadi di kalangan masyarakat muslim di ibukota DKI Jakarta? Apa motif masyarakat muslim di perkotaan melakukan praktik pembagian harta waris secara sukarela? Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktik pembagian harta waris secara sukarela?. Dalam menganalisa masalah yang ada dalam skripsi tersebut, timbul beberapa masyarakat muslim lebih memilih pembagian harta waris melalui sukarela dibandingkan dengan pembagian yang telah diatur dalam ilmu faraidh.

Persamaan dan perbedaanya sama-sama membahas tentang pembagian harta waris. Namun hal ini lebih pada praktik waris pembagian secara sukarela dalam masyarakat muslim di perkotaan yang

ada di Jakarta, sedangkan ini lebih kepada pembagian waris secara damai yang diputuskan oleh pengadilan agama Situbondo.

5. Tesis Rizfitriani Alamsyah, pada tahun 2020. Peneliti membahas judul:

“Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta Yang Dibuat Dihadapan Notaris Perspektif Sadd Adz-Dzari’ah (Studi Di Kantor Notaris Kota Bengkulu)” peneliti Tesis ini memiliki dua rumusan masalah. Pertama, bagaimana pembagian harta warisan yang dilakukan oleh ahli waris berdasarkan akta yang dibuat di hadapan notaris?. Kedua, Bagaimana kedudukan akta pembagian warisan yang dibuat dihadapan notaris perspektif Sad Adz-Dzari’ah?. Peneliti membahas tentang pembagian harta waris secara musyawarah secara damai melalui pembuatan surat akta perdamaian yang dibuat dihadapan notaris yang melalui perspektif Sadd Adz-Dzari’ah. Uniknya dari penelitian ini mengambil penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya dan sistem pembagiannya dilakukan dengan surat akta perdamaian dari pembagian harta waris secara kekeluargaan (Tashaluh). Dan Sadd Adz-Dzari’ah sebagai pandangan dari penyelesaian pembagian harta waris dengan dalih perdamaian.

Persamaan dan perbedaan sama-sama membahas pembagian harta waris, yang berdasarkan atas surat akta damai yang dibuat dihadapan notaris perspektif Sadd Adz-Dzari’ah (Studi Di Kantor Notaris Kota Bengkulu. Sedangkan perbedaannya dalam peneliti yang akan diteliti ini lebih pada praktik Tashaluh yang diputuskan di pengadilan agama Situbondo dengan perspektif hukum Islam dan Hukum positif.

6. Jurnal : Pemikiran Dan Pembaharuan Hukum Islam. Yang ditulis oleh Muhammad Agung Ilham Affaruddin & Darmawan, dengan judul:

“Implementasi Pasal 183 KHI Dalam Pembagian Harta Waris Pada Surat Perjanjian Bermaterai (Perspektif Maslahah Mursalah)”. Jurnal yang meneliti tentang pembagian waris lewat surat perjanjian bermaterai, memiliki dasar hukum yang membolehkan praktik pembagian harta waris secara damai. Pertama, pasal 183 KHI, sebagai konsep yang relevan dengan maslahah mursalah. Kedua, tahap pembagian secara faraidh awalnya, kemudian dilaukan dengan cara damai kekeluargaan yang telah disepakati dan dibuatkan dengan surat perjanjian bermaterai.

Sedangkan persamaannya sama-sama membahas tentang pembagian waris namun dalam penelitian ini lebih pada implementasi KHI pasal 183 pada surat perjanjian perspektif Maslahah Mursalah secara pemahaman ini lebih kepada konsep KHI sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis ini menganalisis putusan pengadilan agama yang diselesaikan dengan cara damai.

Melalui penyajian dan penafsiran dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti, tidak ada satupun dalam kesamaan dengan penelitian ini. Maka dirasa penting penelitian ini untuk dilanjutkan dan dikaji dari sudut padang yang berbeda sebagai representasi temuan baru yang dilakukan peneliti dengan mengangkat judul: Praktik Tashặluh Dalam Pembagian Harta Waris Perspektif Hukum Islam Dan Hukum Positif (Analisis Putusan Pengadilan Agama Situbondo No. 1772/Pdt.G/2020/Pa.Sit).

Tabel 2.1

Perbedaan Persamaan Penelitian No Nama

Peneliti

Judul Penelitian

Persamaan Perbedaan

1. Nur Atira Ali

Pelaksanaan Pembagian Warisan Secara Damai dalam Bentuk Thakhaaruj di Pengadilan Agama Makassar Kelas I A

Sama-sama

membahas tentang pembagian harta warisan tapi sudut pandang yang

berbeda yaitu dengan diksi thakhaaruj pembagian waris dengan praktik damai di pengadilan agama makassar kelas I A

Dalam perbedaannya jika, dalam skripsi ini lebih pada praktik yang terjadi di lembaganya maka yang akan diteliti ini lebih pada putusan lembaga pengadilan agama Situbondo

2. Indah Kasih Pita Loka

“Pembagian Warisan Dengan Cara Perdamaian (Tashaluh) Menurut Hukum Islam (Analisis Putusan Pengadilan Agama Medan No.1927/Pdt.g ./2015/PA.md n)”.

Dalam penelitian ini sama-sama

membahas tentang pembagian harta waris secara

Tashaluh, namun ini memiliki kefokusan menurut hukum Islam dan instansi

putusannya di pengadilan agama medan

Perbedaanya berada pada awal mulanya kejadian dari praktik penyelesaian

pembagian Tashaluh dalam penelitian ini diselesaikan karena ingin mencari jalan tengah sebagai menjauhi dari kekonflikan keluarga, sehingga diputuskan oleh pengadilan agama melalui surat akta perdamaian yang sudah di buat di kantor notaris.

3. Dyah Ayu Sarawati

Pembagian Harta Waris Secara

Kekeluargaan Di Desa Ngunut Kecamatan Badan Kabupaten Ponorogo Perspektif Kompilasi Hukum Islam

Berada pada pembagian harta waris yang dilakukan dengan cara sukarela Perspektif hukum Islam, yang di titik fokus kan pada hukum ada yang berlaku

dengan penelitian saya ini jauh berbeda dari sistem

pembagiannya yang fokus pada

pembagian harta waris dengan konsep Tashaluh yang diputuskan oleh pengadilan agama Situbondo, melalui surat akta damai yang dibuat oleh kantor notaris

4. Oceania Hasanah

Praktik Pembagian Harta Waris Secara Sukarela Dalam Masyarakat Muslim Di Perkotaan.

sama-sama

membahas tentang peralihan harta waris, namun fokus

permasalahannya lebih kepada daerah tertentu yang itu masyarakatnya muslim

Dengan penelitian Saya ini berada pada sistem pembagian yang fokus pada pembagian secara damai perspektif hukum Islam dan hukum positif yang melalui putusan pengadilan agama Situbondo.

5. Rizfitriani Alamsyah

Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta Yang Dibuat Dihadapan Notaris Perspektif Sadd Adz- Dzari’ah (Studi Di Kantor Notaris Kota Bengkulu)”

Sama-sama

membahas tentang pembagian harta waris, namun penelitian ini

menggunakan sistem pembagian yang diperkuat melalui surat akta yang dibuat di Notaris, dan di perspektif melalui konsep Sadd Adz- Dzari’ah

Dengan penelitian saya ini jelas berbeda dari segi praktik pembagian harta warisnya dalam penelitian ini menggunakan praktik pembagian harta waris secara Tashaluh yang itu diputuskan di pengadilan agama Situbondo, yang itu dianalisis pada hukum Islam hukum positif.

6. Muhammad

Agung Ilham Affaruddin

&

Darmawan

Implementasi Pasal 183 KHI Dalam Pembagian Harta Waris Pada Surat Perjanjian Bermaterai (Perspektif Maslahah Mursalah)

Dalam penelitian jurnal ini, sama-sama meneliti tentang pembagian harta waris namun memiliki keunikan karena membahas tentang implementasi pasal 183 KHI dalam pembagian harta waris dan melalui perjanjian bermaterai Perspektif Maslahah Mursalah

Dengan penelitian saya ini jauh berbeda namun dalam

pembagian harta warisnya tetap berpacuan pada pasal 183 KHI.

Sedangkan dalam penelitian ini fokus pada Praktik pembagian harta secara damai dengan nomor putusan 1772 pengadilan agama Situbondo,

perspektif hukum Islam dan hukum positif

1. Tinjauan Umum Tentang Waris a). Waris dalam Hukum Islam 1) Pengertian

Hukum kewarisan Islam adalah sistem hukum kewarisan yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadis, ijma’ dan ijtihad.33 Pewarisan menurut norma hukum kewarisan Islam adalah proses pemindahan harta peninggalan sesorang, yang telah meninggala dunia, baik berupa hak-hak kebendaan baik harta yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dibagikan Kepada ahli waris yang dianggap berhak menurut hukum.

Kata warist sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat (QS. An- Naml : 16 ).

َدُواَد ُنهمْيَلُس َثِرَوَو

Dan Sulaiman telah mewarisi Nabi Daud.34

Demikian pula yang di jelaskan, dalam surat Al-Qashash ayat 58 :

ُنَْنَ اَّنُكَو َْيِثِرهوْلا

Dan kami adalah orang-orang yang mewarisi.35

Makna Almirats (waris) menurut istilah adalah Berpindahnya hak pemilikan dari sesorang yang meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta yang bergerak maupun yang tidak bergerak dan berupa hak milik secara syar’i.

33 Syamsul Bahri Salihima, Perkembangan Pembagian Warisan Dalam Hukum Islam Dan Implementasinya Pada Pengadilan Agama, (Jakarta : Penadamedia Group, 2015), 28.

34 Departemen Agama, RI, Qur’an Terjemah, 378.

35 Departemen Agama, RI, Qur’an Terjemah,58.

Habiburrahman, memberikan pengertian kewarisan (al-mirats) yang juga disebut Faraidh yakni bagian tertentu dari harta warisan sebagaimana yang telah diatur dalam Al-Quran dan Hadis adalah perpindahan hak dan kewajiban tentang kekayaan sesorang yang telah meninggal dunia kepada orang-orang yang masih hidup dengan bagian-bagian tertentu yang telah ditetapkan dalam Nash Al-Qur’an dan Hadis.36

Kalangan ulama mengenal ilmu waris juga bisa disebut faraidh, menurut Sayyid Sabiq, mengistilahkan faraidh adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris dan ilmu yang mengenai pembagian harta peninggalan dinamakan ilmu waris dan ilmu faraidh dan juga kata waris sebagaimana firman Allah (QS. An-Naml Ayat 16 ).37

Salah satu hadist Nabi Saw, menjelaskan yang sesuai dengan pengertian di atas yaitu:

ٍّثِراَوِل َةَّيِصَو َلاَف ،ُهَّقَح ٍّٰقَح ْيِذ َّلُك ىَطْعَأ ْدَق َالله َّنإ ةجام نباو يذمترلاو دواد وبأ هاور(

)

Sesungguhnya Allah SWT. Telah memberi kepada orang yang berhak atas haknya. Ketahuilah! Tidak ada wasiat kepada ahli waris (HR. Ahmad Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah).38

Acuan utama Hukum dan penentuan pembagian Harta Waris adalah Al Qur’an dan Hadis, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadist Rasulullah Saw dan Ijma’ para ulama tidak banyak. Dapat dibilang

36 Habiburrahman, Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia (Jakarta: Pusta Jaya, 1995), 4.

37 Benni Ahmad Saebani, Fiqih Waris, 35.

38 Habiburrahman, “Rekonstruksi Hukum Kewarisan” 76.

dalam syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur’an yang menerangkan secara rinci suatu hukum secara detail kecuali hukum waris.39

2) Unsur-Unsur Kewarisan

Unsur-unsur terjadinya kewarisan terdapat tiga unsur yaitu:

a) Pewaris (Muwarist)

Pewaris adalah seseorang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan harta yang dapat dialihkan kepada ahli waris yang memiliki hak sebagaimana yang telah ditetapkan dalam agama Islam.40 Sebagai prinsip bahwa peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris berlaku sesudah adanya kematian dari pewaris. Berdasarkan prinsip ijbari maka pewaris itu menjelang kematiannya tidak berhak menentukan siapa yang akan mendapatkan harta yang ditinggalkan itu. Karena semuanya telah ditentukan secara pasti oleh Allah.

Kebebasannya untuk melakukan praktik dalam pembagian harta tersebut terbatas pada jumlah sepertiga dari harta yang ditinggalkan.41

Dengan adanya batas untuk bertindak terhadap seseorang dalam hal menggunakan hartanya menjelang kematiannya adalah untuk menjaga hak ahli waris. Tidak berhaknya pewaris untuk menentukan yang akan menerima hartanya agar tidak terjadi pelanggaran hak pribadi ahli waris menurut syariat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah.42

b) Ahli waris (Waris)

39 Rahmat Haniru, “Hukum Waris Di indonesia perspektif Hukum Islam Dan Hukum Adat”, Jurnal Al-Hukama, Vol- 04, (2014), 457.

40 Sri Lumatus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris Islam,” 17.

41 Rizfitriani Alamsyah, “Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Perspektif Sadd Adz-Dzari'ah (Studi Di Kantor Notaris Kota Bengkulu)”, (Skripsi : IAIN Bengkulu 2020), 42.

42 Amir Syarifuddin, “Hukum Kewarisan”, 203.

Ahli waris adalah orang yang berhak mendapat warisan yang mempunyai hubungan dengan pewaris berupa hubungan perkawinan, kekerabatan atau yang lainnya.43 Beberapa ayat menjelaskan bahwa ahli waris yang memperoleh bagian-bagian tertentu menurut Al-Qur’an dan Hadis, disebut Dzawil Furudh, yang termasuk bagian dari Dzawil Furudh ada 12 kerabat yakni; ayah, ibu, suami, istri, anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-laki) saudara perempuan sekandung, saudara perempuan seayah, saudara laki-laki dan perempuan seibu, nenek dan kakek.44

c) Harta peninggalan (Mauruts)

Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, baik berupa harta bergerak maupun tidak bergerak. Dalam artian harta waris ini harta yang sudah menjadi bagian dari sisa yang dari pengurusan mayit, baik dari segala hutang piutangnya dan hak-hak si pewaris sebelum dibagikan ke ahli waris seluruhnya.

Dalam harta waris terdapat beberapa hak yang harus diperhatikan oleh ahli waris atau untuk ahli waris pribadi. Pertama, hak yang bersangkutan dengan harta adalah zakat dan sewanya. Hak ini harus diambil terlebih dahulu dari jumlah harta sebelum dibagikan kepada ahli waris. Kedua, biaya untuk mengurus jenazah, seperti harga kaffan, upah menngali kubur dan lainnya.45 Sesudahnya diselesaikan, sisanya bisa digunakan untuk dibuat biaya mengurus jenazah. Ketiga, harta mayat berkaitan dengan kewajiban utang piutang pada masa hidupnya. Harusnya dibayar sebelum dibagikan kepada ahli waris.

43 Sri Lumatus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris”, 18.

44 Rizfitriani Alamsyah, “Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta”, 47.

45 Beni Ahmad Saebani, “Fiqh Mawaris”, 134.

Keempat, melakukan wasiat si mayat sebelum meninggal dunia, kalau si mayat mempunyai wasiat yang banyaknya tidak lebih dari sepertiga harta peninggalannya. Wasiat harusnya dibayar dari jumlah harta peninggalannya sebelum dibagikan kepada ahli waris. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah An-Nisa’ ayat 11.

ٍّنْيَد ْوَا ٓاَِبِ ْيِصْوُّ ي ٍّةَّيِصَو ِدْعَ ب ْۢ

Pembagian harta waris itu dilakukan setelah menunaikan wasiat si

ْنِم

mayat (dan) sesudah dibayar hutangnya.46

Harta yang disebut diatas adalah harta pusaka atau tirkah si mayat, bukan hanya berbentuk benda yang bergerak atau yang tidak bergerak melainkan sebagaimana yang kita banyak ketahui harta waris berupa tanah tanian, padi, perkebunan, uang investasi, tabungan, dan sejenisnya. Atau yang berupa kendaraan, hewan ternak. Dan juga berupa utang pewaris yang pembagiannya diserahkan kepada ahli waris. Demikian itu ahli waris tidak diperbolehkan membagikan harta sebelum dia membayar utang si mayat.47

3) Asas- asas Hukum Kewarisan Islam

Hukum Kewarisan Islam dulu masih dikenal dengan istilah Faraidh adalah bagian salah satu bagian dari keseluruhan hukum Islam yang mengatur peralihan harta dari orang yang sudah meninggal kepada keluarga yang masih hidup. Maka terkandung asas kewarisan yang itu harus diperhatikan dalam mengaplikasikan Hukum waris tersebut. Muhammad daud ali dan amir syarifuddin masing-masing menguraikan bahwa ada lima asas kewarisan dalam

46 Departemen Agama RI, Qur’an Terjemah, 78.

47 Sulaiman Rasyid, “Faraidh”, 346.

Islam, yaitu:48 menjelaskan ma dalam Islam mengandung beberapa asas yang bisa dijadikan acuan dan sebagai bentuk karakteristik dari hukum kewarisan Islam di antaranya sebagai berikut:

a) Asas ijbari

Asas ijbari yang ada dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti peralihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku sendirinya dengan ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli waris.49

Kata ijbari secara klausul mengandung arti paksaan (compulsory), dijalankannya asas ini dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti bahwa peralihan harta dengan sendirinya, sehingga tidak ada satu kekuasaan manusia pun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari ini dapat dipahami oleh kelopok ahli waris sebagaimana di sebutkan allah dalam Al-Qur’an (Q.S An-Nisa’ ayat 11- 12 dan 176).

Asas ijbari dalam kewarisan Islam, tidak dalam arti yang memberatkan ahli waris. Seadainya pewaris mempunyai hutang yang lebih besar dari pada warisan yang ditinggalkannya, ahli waris tidak di bebani membayar semua hutang pewaris itu. Berapun besarnya utang pewaris, maka hutang itu hanya akan di bayar sebesar warisan yang di tinggalkan, oleh pewaris itu. Kalau seluruh harta warisan sudah dibayarkan hutang, kemudian masih ada sisa hutang, maka ahli waris tidak diwajibkan membayar sisa hutang tersebut,

48 Syamsul Bahri Salihima, “Pembagian Warisan”, 45.

49 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Positif Di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika : 2011), 22.

kalaupun ahli waris hendak membayar sisa hutang, pembayar itu bukan merupakan sesuatu kewajiban yang diletakkan oleh hukum, melainkan karena dorongan moralitas atau akhlak ahli waris yang baik.50

b) Asas Bilateral

Asas Bilateral dalam hukum kewarisan Islam mengandung makna bahwa harta warisan melalui kepada ahli waris dengan dua arah (dua belah pihak). Hal ini berarti setiap ahli waris berhak menerima kewarisan dari kedua belah pihak dari garis kerabat, yakni pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan pihak kerabat garis keturunan perempuan. Pada hakikatnya asas ini menegaskan bahwa jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewarisi atau diwarisi. Dan asas bilateral ini secara jelas di firmankan oleh Allah SWT (Q.S An-Nisa’ ayat 7).

َْلْاَو ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِء ۤا َسِٰنلِلَو َۖ

َنْوُ بَرْ قَْلْاَو ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِلاَجِٰرلِل َنْوُ بَرْ ق

اًضْوُرْفَّم اًبْ يِصَن َرُ ثَك ْوَا ُهْنِم َّلَق اَِّمّ

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.51

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang laki-laki berhak mendapat warisan dari pihak ayahnya dan juga dari pihak ibunya. Begitupun sebaliknya seorang perempuan berhak mendapatkan harta waris dari ayahnya dan juga dari ibunya.

c) Asas Individu

50 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, “Hukum Kewarisan Islam” 23.

51 Departemen Agama RI, Qur’an Terjemah,78..

Asas Individual dalam Hukum Islam harta warisan dapat di bagi-bagi untuk memiliki secara perorangan, keseluruhan harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang mungkin yang mungkin dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar pembagiannya masing-masing dan tanpa terikat kepada ahli waris yang lain. hal ini berdasarkan kepada kentuan bahwa setiap manusia sebagai pribadi mempunyai kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajiban yang dalam istilah ilmu usul fiqih disebut ”Ahliyah Al-wujub”.

Sistem individual kewarisan itu dapat di lihat dalam aturan yang terdapat dalam penjelasan ayat Al-Qur’an. Diantaranya ayat surah An-Nisa’

yang menegaskan bahwa jumlah bagian untuk ahli waris tidak dapat di tentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang ditinggalkan. Sebaliknya jumlah harta itu tunduk kepada ketentuan yang berlaku. Pembagian secara individual ini merupakan ketentuan yang mengikat dan wajib dijalankan oleh setiap muslim, yaitu setiap ahli waris yang dilihat bisa dalam bertindak atas harta miliknya atau yang dikenal dengan istilah “Ahliyatul-Ada”.52

Bagi ahli waris jika belum memiliki kecakapan bertindak maka mereka berada di bawah pengampunan walinya dan perbelanjaanya diambilkan dari harta waris. Hal ini didasarkan kepada ke 5 ayat surah An-Nisa’, yang menyatakan bahwa “ketidak bolehan menyerahkan harta kepada orang

“safih” yaitu orang belum dewasa (baligh).

d) Asas Keadilan Berimbang

52 Sri Lum’atus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris Islam”, 4.

Dokumen terkait