• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kajian Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Waris a). Waris dalam Hukum Islam 1) Pengertian

Hukum kewarisan Islam adalah sistem hukum kewarisan yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadis, ijma’ dan ijtihad.33 Pewarisan menurut norma hukum kewarisan Islam adalah proses pemindahan harta peninggalan sesorang, yang telah meninggala dunia, baik berupa hak-hak kebendaan baik harta yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dibagikan Kepada ahli waris yang dianggap berhak menurut hukum.

Kata warist sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat (QS. An- Naml : 16 ).

َدُواَد ُنهمْيَلُس َثِرَوَو

Dan Sulaiman telah mewarisi Nabi Daud.34

Demikian pula yang di jelaskan, dalam surat Al-Qashash ayat 58 :

ُنَْنَ اَّنُكَو َْيِثِرهوْلا

Dan kami adalah orang-orang yang mewarisi.35

Makna Almirats (waris) menurut istilah adalah Berpindahnya hak pemilikan dari sesorang yang meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta yang bergerak maupun yang tidak bergerak dan berupa hak milik secara syar’i.

33 Syamsul Bahri Salihima, Perkembangan Pembagian Warisan Dalam Hukum Islam Dan Implementasinya Pada Pengadilan Agama, (Jakarta : Penadamedia Group, 2015), 28.

34 Departemen Agama, RI, Qur’an Terjemah, 378.

35 Departemen Agama, RI, Qur’an Terjemah,58.

Habiburrahman, memberikan pengertian kewarisan (al-mirats) yang juga disebut Faraidh yakni bagian tertentu dari harta warisan sebagaimana yang telah diatur dalam Al-Quran dan Hadis adalah perpindahan hak dan kewajiban tentang kekayaan sesorang yang telah meninggal dunia kepada orang-orang yang masih hidup dengan bagian-bagian tertentu yang telah ditetapkan dalam Nash Al-Qur’an dan Hadis.36

Kalangan ulama mengenal ilmu waris juga bisa disebut faraidh, menurut Sayyid Sabiq, mengistilahkan faraidh adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris dan ilmu yang mengenai pembagian harta peninggalan dinamakan ilmu waris dan ilmu faraidh dan juga kata waris sebagaimana firman Allah (QS. An-Naml Ayat 16 ).37

Salah satu hadist Nabi Saw, menjelaskan yang sesuai dengan pengertian di atas yaitu:

ٍّثِراَوِل َةَّيِصَو َلاَف ،ُهَّقَح ٍّٰقَح ْيِذ َّلُك ىَطْعَأ ْدَق َالله َّنإ ةجام نباو يذمترلاو دواد وبأ هاور(

)

Sesungguhnya Allah SWT. Telah memberi kepada orang yang berhak atas haknya. Ketahuilah! Tidak ada wasiat kepada ahli waris (HR. Ahmad Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah).38

Acuan utama Hukum dan penentuan pembagian Harta Waris adalah Al Qur’an dan Hadis, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadist Rasulullah Saw dan Ijma’ para ulama tidak banyak. Dapat dibilang

36 Habiburrahman, Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia (Jakarta: Pusta Jaya, 1995), 4.

37 Benni Ahmad Saebani, Fiqih Waris, 35.

38 Habiburrahman, “Rekonstruksi Hukum Kewarisan” 76.

dalam syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur’an yang menerangkan secara rinci suatu hukum secara detail kecuali hukum waris.39

2) Unsur-Unsur Kewarisan

Unsur-unsur terjadinya kewarisan terdapat tiga unsur yaitu:

a) Pewaris (Muwarist)

Pewaris adalah seseorang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan harta yang dapat dialihkan kepada ahli waris yang memiliki hak sebagaimana yang telah ditetapkan dalam agama Islam.40 Sebagai prinsip bahwa peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris berlaku sesudah adanya kematian dari pewaris. Berdasarkan prinsip ijbari maka pewaris itu menjelang kematiannya tidak berhak menentukan siapa yang akan mendapatkan harta yang ditinggalkan itu. Karena semuanya telah ditentukan secara pasti oleh Allah.

Kebebasannya untuk melakukan praktik dalam pembagian harta tersebut terbatas pada jumlah sepertiga dari harta yang ditinggalkan.41

Dengan adanya batas untuk bertindak terhadap seseorang dalam hal menggunakan hartanya menjelang kematiannya adalah untuk menjaga hak ahli waris. Tidak berhaknya pewaris untuk menentukan yang akan menerima hartanya agar tidak terjadi pelanggaran hak pribadi ahli waris menurut syariat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah.42

b) Ahli waris (Waris)

39 Rahmat Haniru, “Hukum Waris Di indonesia perspektif Hukum Islam Dan Hukum Adat”, Jurnal Al-Hukama, Vol- 04, (2014), 457.

40 Sri Lumatus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris Islam,” 17.

41 Rizfitriani Alamsyah, “Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Perspektif Sadd Adz-Dzari'ah (Studi Di Kantor Notaris Kota Bengkulu)”, (Skripsi : IAIN Bengkulu 2020), 42.

42 Amir Syarifuddin, “Hukum Kewarisan”, 203.

Ahli waris adalah orang yang berhak mendapat warisan yang mempunyai hubungan dengan pewaris berupa hubungan perkawinan, kekerabatan atau yang lainnya.43 Beberapa ayat menjelaskan bahwa ahli waris yang memperoleh bagian-bagian tertentu menurut Al-Qur’an dan Hadis, disebut Dzawil Furudh, yang termasuk bagian dari Dzawil Furudh ada 12 kerabat yakni; ayah, ibu, suami, istri, anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-laki) saudara perempuan sekandung, saudara perempuan seayah, saudara laki-laki dan perempuan seibu, nenek dan kakek.44

c) Harta peninggalan (Mauruts)

Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, baik berupa harta bergerak maupun tidak bergerak. Dalam artian harta waris ini harta yang sudah menjadi bagian dari sisa yang dari pengurusan mayit, baik dari segala hutang piutangnya dan hak-hak si pewaris sebelum dibagikan ke ahli waris seluruhnya.

Dalam harta waris terdapat beberapa hak yang harus diperhatikan oleh ahli waris atau untuk ahli waris pribadi. Pertama, hak yang bersangkutan dengan harta adalah zakat dan sewanya. Hak ini harus diambil terlebih dahulu dari jumlah harta sebelum dibagikan kepada ahli waris. Kedua, biaya untuk mengurus jenazah, seperti harga kaffan, upah menngali kubur dan lainnya.45 Sesudahnya diselesaikan, sisanya bisa digunakan untuk dibuat biaya mengurus jenazah. Ketiga, harta mayat berkaitan dengan kewajiban utang piutang pada masa hidupnya. Harusnya dibayar sebelum dibagikan kepada ahli waris.

43 Sri Lumatus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris”, 18.

44 Rizfitriani Alamsyah, “Analisis Pembagian Waris Berdasarkan Akta”, 47.

45 Beni Ahmad Saebani, “Fiqh Mawaris”, 134.

Keempat, melakukan wasiat si mayat sebelum meninggal dunia, kalau si mayat mempunyai wasiat yang banyaknya tidak lebih dari sepertiga harta peninggalannya. Wasiat harusnya dibayar dari jumlah harta peninggalannya sebelum dibagikan kepada ahli waris. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah An-Nisa’ ayat 11.

ٍّنْيَد ْوَا ٓاَِبِ ْيِصْوُّ ي ٍّةَّيِصَو ِدْعَ ب ْۢ

Pembagian harta waris itu dilakukan setelah menunaikan wasiat si

ْنِم

mayat (dan) sesudah dibayar hutangnya.46

Harta yang disebut diatas adalah harta pusaka atau tirkah si mayat, bukan hanya berbentuk benda yang bergerak atau yang tidak bergerak melainkan sebagaimana yang kita banyak ketahui harta waris berupa tanah tanian, padi, perkebunan, uang investasi, tabungan, dan sejenisnya. Atau yang berupa kendaraan, hewan ternak. Dan juga berupa utang pewaris yang pembagiannya diserahkan kepada ahli waris. Demikian itu ahli waris tidak diperbolehkan membagikan harta sebelum dia membayar utang si mayat.47

3) Asas- asas Hukum Kewarisan Islam

Hukum Kewarisan Islam dulu masih dikenal dengan istilah Faraidh adalah bagian salah satu bagian dari keseluruhan hukum Islam yang mengatur peralihan harta dari orang yang sudah meninggal kepada keluarga yang masih hidup. Maka terkandung asas kewarisan yang itu harus diperhatikan dalam mengaplikasikan Hukum waris tersebut. Muhammad daud ali dan amir syarifuddin masing-masing menguraikan bahwa ada lima asas kewarisan dalam

46 Departemen Agama RI, Qur’an Terjemah, 78.

47 Sulaiman Rasyid, “Faraidh”, 346.

Islam, yaitu:48 menjelaskan ma dalam Islam mengandung beberapa asas yang bisa dijadikan acuan dan sebagai bentuk karakteristik dari hukum kewarisan Islam di antaranya sebagai berikut:

a) Asas ijbari

Asas ijbari yang ada dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti peralihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku sendirinya dengan ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli waris.49

Kata ijbari secara klausul mengandung arti paksaan (compulsory), dijalankannya asas ini dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti bahwa peralihan harta dengan sendirinya, sehingga tidak ada satu kekuasaan manusia pun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari ini dapat dipahami oleh kelopok ahli waris sebagaimana di sebutkan allah dalam Al-Qur’an (Q.S An-Nisa’ ayat 11- 12 dan 176).

Asas ijbari dalam kewarisan Islam, tidak dalam arti yang memberatkan ahli waris. Seadainya pewaris mempunyai hutang yang lebih besar dari pada warisan yang ditinggalkannya, ahli waris tidak di bebani membayar semua hutang pewaris itu. Berapun besarnya utang pewaris, maka hutang itu hanya akan di bayar sebesar warisan yang di tinggalkan, oleh pewaris itu. Kalau seluruh harta warisan sudah dibayarkan hutang, kemudian masih ada sisa hutang, maka ahli waris tidak diwajibkan membayar sisa hutang tersebut,

48 Syamsul Bahri Salihima, “Pembagian Warisan”, 45.

49 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Positif Di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika : 2011), 22.

kalaupun ahli waris hendak membayar sisa hutang, pembayar itu bukan merupakan sesuatu kewajiban yang diletakkan oleh hukum, melainkan karena dorongan moralitas atau akhlak ahli waris yang baik.50

b) Asas Bilateral

Asas Bilateral dalam hukum kewarisan Islam mengandung makna bahwa harta warisan melalui kepada ahli waris dengan dua arah (dua belah pihak). Hal ini berarti setiap ahli waris berhak menerima kewarisan dari kedua belah pihak dari garis kerabat, yakni pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan pihak kerabat garis keturunan perempuan. Pada hakikatnya asas ini menegaskan bahwa jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewarisi atau diwarisi. Dan asas bilateral ini secara jelas di firmankan oleh Allah SWT (Q.S An-Nisa’ ayat 7).

َْلْاَو ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِء ۤا َسِٰنلِلَو َۖ

َنْوُ بَرْ قَْلْاَو ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِلاَجِٰرلِل َنْوُ بَرْ ق

اًضْوُرْفَّم اًبْ يِصَن َرُ ثَك ْوَا ُهْنِم َّلَق اَِّمّ

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.51

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang laki-laki berhak mendapat warisan dari pihak ayahnya dan juga dari pihak ibunya. Begitupun sebaliknya seorang perempuan berhak mendapatkan harta waris dari ayahnya dan juga dari ibunya.

c) Asas Individu

50 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, “Hukum Kewarisan Islam” 23.

51 Departemen Agama RI, Qur’an Terjemah,78..

Asas Individual dalam Hukum Islam harta warisan dapat di bagi-bagi untuk memiliki secara perorangan, keseluruhan harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang mungkin yang mungkin dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar pembagiannya masing-masing dan tanpa terikat kepada ahli waris yang lain. hal ini berdasarkan kepada kentuan bahwa setiap manusia sebagai pribadi mempunyai kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajiban yang dalam istilah ilmu usul fiqih disebut ”Ahliyah Al-wujub”.

Sistem individual kewarisan itu dapat di lihat dalam aturan yang terdapat dalam penjelasan ayat Al-Qur’an. Diantaranya ayat surah An-Nisa’

yang menegaskan bahwa jumlah bagian untuk ahli waris tidak dapat di tentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang ditinggalkan. Sebaliknya jumlah harta itu tunduk kepada ketentuan yang berlaku. Pembagian secara individual ini merupakan ketentuan yang mengikat dan wajib dijalankan oleh setiap muslim, yaitu setiap ahli waris yang dilihat bisa dalam bertindak atas harta miliknya atau yang dikenal dengan istilah “Ahliyatul-Ada”.52

Bagi ahli waris jika belum memiliki kecakapan bertindak maka mereka berada di bawah pengampunan walinya dan perbelanjaanya diambilkan dari harta waris. Hal ini didasarkan kepada ke 5 ayat surah An-Nisa’, yang menyatakan bahwa “ketidak bolehan menyerahkan harta kepada orang

“safih” yaitu orang belum dewasa (baligh).

d) Asas Keadilan Berimbang

52 Sri Lum’atus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris Islam”, 4.

Asas keadilan atau keseimbangan dalam hukum kewarisan Islam dimaknai keseimbangan dalam menerima hak dan kewajiban antara laiki-laki maupun perempuan, dapat diperoleh dengan keperluan dan kegunaanya masing-masing.53

Seorang laki-laki dan perempuan mendapatkan hak yang sama-sama kuat untuk mendapatkan harta warisan. Hal ini secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 7 yang menyamakan kedudukan laki-laki maupun perempuan dalm hal mendapatkan harta peninggalan (waris) dalam ayat 11, 12 dan 176 surah An-nisa’ secara detail diterangkan dalam kesamaan kekuatan hak menerima antara laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu (ayat 11), suami dan istri (ayat 12), saudara laki-laki dan perempuan (ayat 12 dan 176).

Dalam asas ini mengandung arti harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam mendapatkan harta warisnya, laki-laki dan perempuan misalkan dalam pendapatan haknya harus sebanding dengan kewajiban dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, dalam sistem hukum kewarisan Islam harta peninggalan yang diterima oleh ahli waris dari pewaris pada hakikatnya adalah kelanjutan tanggung jawab pewaris terhadap keluarganya. Dalam perbedaan penerimaan antara masing-masing ahli waris ini berimbang dengan tanggung jawab yang dipikul baik laki-laki maupun perempuan. Seorang laki- laki sebagai kepala keluarganya dan segalanya harus di cukupi dengannya.

Tanggung jawab itu merupakan kewajiban agama yang harus dilakukan,

53 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, “Hukum Kewarisan Islam”, 29.

terlepas dari persoalan apakah istri apa tidak. Hal ini sudah ketentuan syariat Islam melalui ilmu Faraidh.54

e) Asas Akibat Kematian

Asas ini dalam hukum kewarisan Islam dikenal dengan penetapan harta waris bahwa peralihan harta peninggalan berlaku setelah pemilik harta meninggal dunia. Sistem ini berarti bahwa harta seseorang tidak dapat berpindah kepada orang lain (keluarga) dengan nama waris selama yang mempunyai harta masih hidup, dan juga segala bentuk peralihan harta seseorang yang masih hidup baik secara langsung maupun terlaksana setelah ia mati dan tidak termasuk kedadalam istilah kewarisan menurut hukum Islam.

Pada asas ini menggambarkan bahwa hukum kewarisan Islam hanya mengenal satu bentuk kewarisan, yaitu kewarisan sebagai akibat dari adanya kematian dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang dibuat saat pewaris masih hidup.55 Dan prinsip ini daris asas ini sangat erat kaitannya dengan asas ijbari. Apabila seorang telah memenuhi syarat sebagai subjek hukum, pada hakikatnya dia dapat bertindak sesuka hatinya terhadap seluruh kekayaannya. Akan tetapi, kebebasan itu hanya pada waktu ia masih hidup saja. Ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan nasib kekayaannya setelah ia meninggal. Meskipun seseorang mempunyai kebebasan untuk berwasiat, tetapi terbatas hanya sepertiga dari keseluruhan kekayaannya.

4) Sumber-Sumber Hukum Kewarisan

54 Sri Lum’atus Sa’adah, “Pembaharuan Hukum Waris Islam”, 5.

55 Moh. Muhibbin Dan Abd Wahid, “Hukum Kewarisan Islam”, 30.

Sumber hukum kewarisan yang telah diatur dalam masalah waris terdapat di dalam :

a) Al- Qur’an b) Hadis

c) Ijma’ dan Ijtihad

Dari beberapa sumber hukum kewarisan tersebut menjadi acuan utama dalam melakukan praktik pembagian harta waris, dengan cara yang sangat adil sesuai dengan ketentuan ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis dan Ijma’ ulama.

Dari ketiga sumber tersebut dapat mengetahui secara jelas bahwa di terangkan tentang pembagian harta waris yang berhubungan dengan ayat sebagai berikut:

ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِء ۤا َسِٰنلِلَو َۖ

َنْوُ بَرْ قَْلْاَو ِنهدِلاَوْلا َكَرَ ت اَِّٰمّ ٌبْيِصَن ِلاَجِٰرلِل اًضْوُرْفَّم اًبْ يِصَن َرُ ثَك ْوَا ُهْنِم َّلَق اَِّمّ َنْوُ بَرْ قَْلْاَو

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan. (QS. An- Nisa’ ayat 7).56

Adapun dasar kewarisan Islam yang dijelaskan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim Dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda:

اْوُقِْلَْا :َلاَق ,َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِِٰبَّنلا ِنَع ,اَمُهْ نَع ُالله َيِضَر ساَّبَع ِنْبا ْنَع َِب َضِئاَرَفْلَا ملسمو يراخبلا هاور( َرِكُذ ٍّلُجَر َلَْوَِلِ َوُهَ ف َيِقَب اَمَف ,اَهِلْه

.)

Berikanlah bagian-bagian tertentu kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan selebihnya berikan kepada keluarga laki-laki yang terdekat.57

56 Departemen Agama RI, Qur’an Terjemah,78.

57 Sri Lum’atus Sa’adah, Pembaharuan Hukum Islam, 10.

Ijtihad, sekalipun dalam Al-Qur’an dan Hadis sudah dijelaskan secara terperinci tetapi dalam bebrapa hal masih sangat diperlukan dengan adanaya ijtihad, yaitu terdapat hal-hal yang tidak ditentukan dalam kedua sumber hukum tersebut. Seperti yang mengenai tentang bagian bagi orang yang mempunyai alat kelamin dua (khunsa), pembagian harta waris jika terjadi kelebihan dan kekurangan harta, bagian ibu apabila hanya bersama-sama dengan ayah dan praktik kekeluargaan suka sama suka dan lainya.

b). Waris Dalam Hukum Positif 1) Pengertian

Memahami kewarisan di Indonesia yang banyak bercorak dimana dalam setiap golongan penduduk tunduk kepada hukumnya masing-masing. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan tentang arti dan makna hukum waris.

Ketika berbicara mengenai hukum kewarisan, maka yang sering terjadi perhatian di tengah-tengah masyarakat ada tiga unsur pokok yakni: adanya harta peninggalan (kekayaan) pewaris yang disebut warisan, adanya pewaris yaitu menguasai atau memiliki harta warisan dan mengalihkan atau meneruskannya; dan adanya ahli waris, orang yang menerima pengalihan (penerusan) atau pembagian harta warisan tersebut.58 Dalam artian Hukum kewarisan adalah ketentuan yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan dari pewaris yang sudah meninggal dunia kepada ahli waris yang memiliki berhak.

58 Muhammad Yasir Fauzi, “Legislasi Hukum Kewarisan di Indonesia” Jurnal Pengembanagan Masyarakat Islam, vol. 9 (2016), 55.

Djaja S. Meliala, dalam bukunya menyebutkan bahwa pengertian hukum waris adalah semua peraturan yang mengatur kekayaan seseorang yang sudah meninggal dunia, diantara lain tentang pemindahan kekayaan tersebut, disebabkan bagi yang memperoleh, baik dalam hubungan antara mereka maupun dengan pihak ketiga.59

2) Sistem kewarisan di Indonesia

a) Sistem patrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari saudara laki-laki.

b) Sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari kerabat perempuan.

c) Sistem parental adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari kerabat laki-laki dan kerabat perempuan.60

Dari beberapa sistem waris tersebut yang berlaku pada masyarakat adat di Indonesia, sistem ini memiliki aturan-aturan dalam perilaku sosial masyarakat, akan menjadi dampak pada kehidupan anggota masyarakat adat dalam menjalin interaksi sosial pada masyarakat adat lainnya. Hal ini menjadi pengaruh pada bagi masalah harta dan juga perkawinan.

Melihat pada masyarakat adat yang menganut sistem kekerabatan patrilineal, yang menarik keturunan dari laki-laki, sebagaimana yang terjadi di masyarakat Tapanuli selatan, batak, nias dan timur. Dalam hal perkawinan terjadi pemberian kompensasi (pembayaran dari pihak suami kepada pihak kerabat isteri).

59 Djaja S. Meliala, “Hukum Waris”, 4.

60 Mutmainnah, F. Setiawan Santoso, “Akibat Hukum Harta Bersama Perkawinan Dalam Hukum Pewarisan Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum KeIslaman, (2018), 86.

Masyarakat adat yang menganut sistem matrilineal yang menarik garis keturunan dari kerabat perempuan seperti yang terjadi masyarakat Minangkabau, apabila terjadi suatu perkawinan tetap dalam kerabatnya, jadi tidak membentuk keluarga baru seperti kekerabatan parental. Dengan hal tersebut keluar menjadi besar atau disebut somah seperut. Ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan, maka laki-laki ini menjadi termasuk anggota kerabat perempuan, demikian pula si anak nantinya hasil dari perkawinan menjadi anggota kekerabatan matrilineal menikah, mereka menjadi kerabat ibunya dengan kata lain mereka melepas dari kerabat dari bapaknya.

Adapun harta dalam sistem kekerabatan matrilineal, ada harta pusaka dalam keluarga, harta pusaka tersebut tidak bisa dibagi-bagi secara bersama, harta pusaka tetap utuh seperti sebagaimna harta yang ditinggalkan dan harta ini tidak boleh untuk dijual. Secara turun temurun harta pusaka jatuh pada keturunan perempuan dari anggota kekerabatan.

Demikan pula juga terjadi pada sistem parental dimana dimana sistem ini yang menarik garis keturunan dari kerabat laki-laki dan perempuan, pada sistem ini terjadi pada masyarakat Jawa - Madura, Kalimantan dan aceh, dalam hal tersebut perkawinan akan membentuk keluarga baru, yang disebut brayat mandiri atau keluarga batih.

Dengan adanya hubungan perkawinan tersebut maka harta akan menjadi terpecah (sistem individual), dimana setiap orang akan mendapatkan bagian terpisah, sesuai dengan jumlah anggota dalam keluarga tersebut,

dimana harta bawaan dalam perkawinan menjadi satu kesatuan harta bersama yang menjadi warisan kepada keturunan selanjutnya.

3) Dasar Hukum Kewarisan

Dasar hukum kewarisan yang diterapkan di Indonesia memiliki 3 dasar hukum diantaranya;

a) Hukum waris adat b) Hukum waris Islam

c) Hukum Waris Perdata (BW)

Secara aplikatif dari tiga tersebut memiliki keberbedaan dalam penerapan pembagian harta warisan, karena dalam setiap daerah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan sistem kelompok masyarakat Indonesia. Berdasarkan surat mahkamah agung RI tanggal 8 mei 1991 No.

MA/kumdil/171/V/K/1991 ditetapkan sebagai kewenangan dan ketentuan kewenangan berdasarkan masing-masing kelompok di Indonesia yaitu;

1) Penduduk asli Indonesia

2) Keturunan tiongkok sejak 1919 berlaku hukum perdata barat

3) Orang belanda, eropa dan yang dipersamakan dengan berlaku hukum perdata (BW)

4) Keturunan timur tengah (arab, hindu, Pakistan, dan lain-lain)61

Dengan hadirnya pula INPRES No. 1 tahun 1991 yang dilaksanakan melalui keputusan menteri agama No 154 22 juli 1991, maka posisi KHI menjadi sumber hukum dalam masalah kewarisan bagi penduduk Indonesia

61 Mutmainnah, F. Setiawan Santoso, “Akibat Hukum Harta” 43.

Dokumen terkait