BAB IV PEMBAHASAN
A. Putusan Nomor 1772/Pdt.G/2020/PSit Tentang Praktik Tashặluh
2. Pertimbangan Hakim
Sebenarnya dalam Kasus pembagian harta peninggalan (tirkah) ahli waris merupakan orang yang memiliki hak yang sama dalam menerima harta warisan, baik dari pihak penggugat dan tergugat. Kasus ini yang secara jelas tidak hanya sekedar memperebutkan harta peninggalan dari seorang pewaris yang telah meninggal dunia, apalagi Al-marhum adalah seorang pewaris yang banyak meninggalkan harta. Pada semasa hidupnya Al-marhum merupakan orang yang bekerja keras untuk mendapatkan hartanya. Dan memiliki profesi sebagai dokter gigi, selain menjadi dokter gigi, dia juga punya lahan dan harta lainnya. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, maka yang menjadi pertimbangan hakim adalah hukum warisan yang sering terjadi di masyarakat.
Dalam Islam mengenal hukum waris fokus pada praktik pembagian secara ilmu faraidh, sedangkan dasar hukum dari pembagian harta warisan yaitu; Al- Qur’an, Hadis dan ijtihad, dan itu yang menjadi pertimbangan hukum yang berlaku.
Majlis hakim yang memiliki wewenang dalam memutuskan sebuah perkara yang paling utama adalah memiliki kesimpulan hukum atas fakta yang terungkap dipersidangan dan hakim harus memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan kepada masyarakat. Sumber hukum yang dapat diterapkan oleh hakim dapat berupa peraturan perundang-undangan baik berupa peraturan yang
tidak tertulis (hukum adat), putusan masyarakat, yurisprudensi dan ilmu pengetahuan maupun doktrin dari para tokoh ahli Hukum.92
Majlis Hakim mempertimbangkan gugatan dari para pihak penggugat dan tergugat yang diajukan di pengadilan Agama Situbondo dengan perkara Nomor. 1772/Pdt.G/2020/PA.Sit, bahwa antara penggugat dan tergugat bukan hanya sekedar adanya rebutan harta warisan namun dalam hal ini pihak tergugat tidak melakukan transparansi atas harta peninggalan si pewaris, kepada pihak penggugat pada sebelum dilakukan gugatan ke Pengadilan Agama Situbondo. Sehingga ini yang menjadi pertimbangan hakim untuk menyelesaikan sebuah perkara waris dengan cara perdamaian setelah mereka melakukan musyawarah keluarga. Agar dikemudian hari tidak terjadi sengketa apalagi ada percekcokan dibelakang.
Di lain kesempatan majlis hakim memberi waktu kepada ahli waris untuk melakukan keterbukaan dan perundingan kepada kedua belah pihak. Untuk memahami atas persoalan harta warisan yang menjadi objek sengketa. Agar antar satu sama yang lain sama-sama mengetahui kebenaran dan keseluruhan dari harta peninggalannya. Dengan adanya musyawarah keterbukaan tersebut mereka benar-benar mengetahui jumlah dari bagian masing-masing harta peninggalan waris. Pada kemudian hari para pihak melakukan komitmen bersama untuk diselesaikan secara kekeluargaan yang sebut secara perdamaian.
Sampai titik pembuktian majlis hakim memutuskan dan mempertimbangkan, sebagaimana alasan yang disampaikan oleh para pihak di atas dan juga hal itu pula senada apa yang dijelaskan dalam pasal 1866
92 Pandu Dewanto, Rekonstruksi Pertimbangan Hakim Terhadap Putusan Sengketa Perdata Berbasis Nilai Keadilan, (Jurnal: Ius Constituendum Vol 5), 310.
KUHPerdata atau pasal 164 HIR, alat bukti yang diakui dalam perkara perdata terdiri dari bukti tertulis, saksi, persangkaan dan sumpah, dengan diperkuat surat akta perdamaian, yang dikeluarkan oleh Notaris.
Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan surat akta putusan perdamaian yang terlampir dalam pasal 6 yang berbunyi sebagai berikut;
Bahwa para pihak sepakat untuk mengajukan kesepakatan perdamaian ini ke pengadilan agama situbondo agar pengadilan agama situbondo menguatkan kesepakatan perdamaian ini ke dalam akta perdamaian.
Sehingga dalam produk hukum yang ada juga di perkuat oleh pernyataan surat akta putusan yang disebutkan dalam pasal 7 adalah;
Bahwa semua pihak sepakat atas biaya yang akan timbul dalam pengajuan kesepakatan perdamaian ini ke pengadilan agama Situbondo, sehingga diputuskan dengan dikeluarkannya akta perdamaian ditanggung oleh pihak pertama dan pihak kedua.
Demikian dari kesepakatan di atas menjadi pertimbangan hakim dalam melakukan sebuah putusan yang itu sudah benar-benar di alihkan kepada para pihak untuk menerima atas segala hasil yang sudah menjadi keputusan hakim pengadilan.
Salah satu produk hukum dalam sistem hukum kewarisan keperdataan maka perdamaian memiliki legalitas yang diakui secara normatif. Berdasarkan realita hukum yang berlaku bahwa surat akta perdamaian mimiliki kekuatan hukum tetap jelas bahwa dalam pasal 130 ayat 2 (HIR), yang berbunyi “akta perdamaian memiliki kekuatan yang sama seperti putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap dan terhdapnya tidak dapat diakukan banding maupun kasasi”.93
Selain ada aturan yang mengikat atas kebijakan hakim yang disebutkan dalam pasal 1 No. 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman. Hal ini menjadi pertimbangannya juga didukung oleh keadaan perkara ini dari para pihak sama-sama menerima untuk melakukan sebuah perdamaian demi terjalinnya sebuah kekeluargaan yang ideal dan aman. Maka dari itu dipandang penting dari pada harta yang diperebutkan hanya sekedar mengikuti nafsu manusiawi.
Praktik Pembagian harta warisan dengan cara Tashặluh ini diajukan oleh para pihak penggugat dan tergugat kepada pengadilan agama Situbondo, dan telah teruji atas kebenarannya dengan dibuktikan surat akta perdamaian dan kesaksian dari para kuasa hukum atas dasar musyawarah keluarga dan bagiannya masing-masing berapa untuk harta yang bakalan diterima, dari jumlah harta peninggalan pewaris.
Berdasarkan fakta realita hukum tersebut, majlis hakim berkesimpulan bahwa antara penggugat dan tergugat terjadi perselisihan karena miskomunikasi dari awal, sehingga kasus ini diperbesar lantaran para pihak tidak saling komunikasi masalah harta peninggalan pewaris.
Meskipun majlis hakim pengadilan agama Situbondo, sedikit menyampingkan ketentuan hukum yang mengatur atas mekanisme penyelesaian perkara di pengadilan tentang penyelesaian perkara sebagaimana dalam keterangan PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang prosedur mediasi di
93 Mahkamah Agung, Prosedur Pendaftaran Perdamaian Di Pengadilan, (Di akses Pada Tanggal 02 Januari 2023, Jam 13: 00 wib), http://www.pn-lahat.go.id
Pengadilan.94 Hal ini yang telah menjadi pertimbangan harkim yang berbunyi dalam lampiran akta putusan pengadilan agama Situbondo pada pasal 3 adalah;
Bahwa pembagian dari harta warisan tersebut yang terjadi di atas akan dilakukan secara kekeluargaan, apabila tidak bisa atau tidak ada kesepakatan maka akan dilakukan lewat Pengadilan agama Situbondo, di mana dalam segala bentuk yang terjadi dalam putusan ini akan dilakukan peninjauan kembali jika di kemudian hari ada konflik dalam kasus ini.95
Secara norma hukum kasus ini telah dilakukan pembagian harta waris secara damai, meskipun secara prosedur putusan di pengadilan agama tidak melibatkan hakim mediator yang melakukan musyawarah dan penyelesaian secara damai. Maka kasus ini secara normatif sudah memiliki payung hukum yang pasti karena dari pihak sudah menyepakati akan hal putusan hakim yang yang dituangkan dalam putusan akta perdamaian yang dilakukan secara terbuka kepada ahli waris dan mereka sama-sama menerima dalam kebijakan ini.
Kemudian hakim memutuskan atas dasar kesepakatan para pihak tergugat dan penggugat, dan mereka mendapatkan harta setimpal yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan jika dikemudian hari ada hal yang menyalahi aturan ini akan ditindak lanjut sesuai dengan kentuan hukum yang berlaku.
3. Praktik Tashậluh
Pada persengketaan waris yang diputuskan hakim pengadilan agama Situbondo, merupakan sebuah ikhtiar bersama para pihak dengan jalur praktik
94 Fitriani Dkk, Peran Hakim Mediator Dalam Sengketa Kewarisan Di Pengadilan Agama, (Jurnal: QADAUNA UIN Makasar Tahun 2022), 577.
95 Kutipan Dalam Lampiran Akta Putusan Pengadilan Agama Situbondo, (26 Agustus 2021).
pembagian harta waris secara damai (Tashặluh) dengan melalui tahapan- tahapan musyawarah antar ahli waris, hal demikian menjadi bagian hukum yang bersifat penyelesaian sengketa yang efektif.
Prasyarat yang harus dipenuhi kedua belah pihak adalah sama-sama diketahui dan menjunjung tinggi nilai-nilai hukum yang berlaku secara normatif maupun hukum Islam. Dari proses penyelesaian sengketa tersebut mewajibkan para pihak mengembangkan penyelesaian secara bijaksana agar dapat diterima bersama.
Salah satu cara menimalisir persengketaan harta waris adalah dengan sistem pembagian secara damai. Sedangkan pembagian harta waris secara damai ada dua metode, yakni; di luar sidang pengadilan atau di dalam sidang pengadilan. Di luar sidang pengadilan penyelesaian sengketa dapat dilakukan oleh para pihak terkait yang berdamai baik melalui orang ketiga atau cukup melalui para pihak saja. Jika praktik tersebut dilaksanakan hal demikian maka sesuai dengan apa yang terjadi di pengadilan agama Situbondo yaitu dilakukan dengan sebuah praktik pembagian harta waris dengan cara Tashặluh (damai) dan tidak melibatkan orang ketiga malah dilakukan melalui musyawarah anatar pihak keluarga yang bersangkutan.
Praktik Tashặluh yang terjadi pada penelitian ini merupakan sebuah problem yang terjadi dengan melalui jalur komunikasi yang dilakukan antar keluarga dalam penyelesaian hak waris yaitu; dengan musyawarah, karena pada mulanya terjadi kasus ini akibat adanya tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Seperti halya yang dilakukan oleh tergugat dengan tidak melakukan pembagian harta peninggalannya, sehingga
jalur perdamaian sebagai alat satu-satunya yang mampu memberikan alternatif dalam penyelesaian sengketa tersebut.
Secara praktik dalam kaca mata hukum pembagian ini dilakukan dengan bagi-bagi harta warisan secara praktis, namun dalam harta warisan tersebut dibagi atas dasar kerelaan keluarga bersama setelah kebutuhan dari masing- masing diketahui pembagiannya. Hal ini hanya dapat ditempuh bilamana dicapai kesepakatan bersama antar pihak tidak merasa dirugikan atas keputusan yang dihasilkan.
Membaca pada pertimbangan para tergugat dan penggugat, memang ini merupakan murni dilakukan karena ketidak inginan terjadi sebuah perpecahan dalam keluarga dan sehingga tidak dilanjutkan dalam persidangan karena dikhawatirkan timbul problem yang lebih besar. Maka dengan ke khawatiran tersebut dilakukanlah sebuah penyelesaian dengan praktik damai (Tashậluh), dan hal tersebut dilakukan karena juga dapat bujukan dari salah satu hakim untuk diselesaikan kasusnya karena melihat posisi kasus ini sudah lama mandek di pengadilan agama.96 Akhirnya beberapa bulan kemudian setelah mereka sama-sama mengetahui pembagian harta warisan tersebut dilakukan sebuah putusan pengadilan yang dibuktikan dengan surat akta perdamaian.
Hal ini sebagai bukti kongrit dari para pihak bahwa kasus tersebut tidak diteruskan dan diselesaikan lewat jalur musyawarah keluarga. Dengan melalui putusan hakim pengadilan agama Situbondo, dengan praktik perdamai (Tashaluh). Sebagaimana yang tertuang dalam putusan pengadilan agama Situbondo pada tanggal 19 Agustus 2021. Yang menyebutkan bahwa:
96 Lampiran Akta Putusan Pengadilan Agama Situbondo, (Tahun, 2021).
Mengingat pada pasal 130 HIR dan peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 tahun 2016 tentang prosedur mediasi di pengadilan serta ketentuan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan perkara tersebut.97
Pembagian waris dengan perdamaian pada tataran hukum positif dan hukum Islam di Indonesia sudah dipraktikkan di pengadilan agama, secara prosedural sesuai yang dipraktikkan dalam pengadilan Islam pada masa sahabat, upaya perdamaian itu dipraktikkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab dengan dasar hukum risalat Al-Qada yang dikirim kepada Abu Musa al-Asy’ari, hakim di kufa atas perintah Khalifah Umar bin Khatab, risalah tersebut isinya mengandung pokok-pokok hukum yang harus diperpegangi oleh hakim dalam menyelesaikan perkara sebagai hukum acara. Risalah ini sangat terkenal dan kini dijadikan acuan pokok oleh hakim dalam melakukan tugasnya termasuk di Indonesia.98
Dalam kitab undang-undang hukum perdata mengatur dalam pasal 1851 KUHPerdata yang berbunyi “perdamaian adalah suatu perjanjian dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang verkembang ataupun mencegah timbulnya suatu perkara. Perjanjian ini tidaklah sah, melainkan jika dibuat secara tertulis.99
Pada keterangan di atas dalam sebuah perdamaian haruslah dibuat secara tertulis atau dituangkan dalam suatu akta perdamaian, dikarenakan yang akan
97 Kutipan Dalam Lampiran Akta Putusan Pengadilan.
98 Jaenal Arifin, Peradilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Media Group, 2008), 150.
99 M. Hendra Pratama Ginting, “Pembagian Harta Warisan Secara Perdamaian (Tashặluh) Tanpa melibatkan salah seorang ahli waris menurut hukum waris Islam (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agadilan Agama Medan No. 409/Pdt.G/2011/PA.MDN)”, (Tesis: FH Universitas Sumatera Utara, 2017), 65.
dibahas adalah perdamaian hasil non litigasi agar pembuatan akta perdamaian tersebut tidak terlepas dari hukum perjanjian yang dibuat boleh para pihak.
Hal demikian terdapat dalam buku III KUHPerdata, perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji untuk melaksanakan hal. Dari peristiwa tersebut muncullah suatu hubungan hukum antara dua orang yang disebut perikatan. Perikatan merupakan sebuah hubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua belah pihak, yang menjajikan hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dan lainnya, sedangkan orang yang lainnya wajib memenuhi tuntutan tersebut.100
Akibat munculnya praktik Tashặluh ini karena pertikaian keluarga yang disebabkan merebut hak miliki ahli waris yang harusnya dibagi agar tidak saling tuduh menuduh atas adanaya harta warisan dan sebagai jalan tengahnya dilakukan perdamaian yang diambil demi menjaga keharmonisan keluarga dan kemaslahatan hukum sebagai tolak ukur keadilan bahwa para pihak melaksanakan ini karena sebagai pertimbangan keberlangsungan keluar kedepan. Sehingga perlu musyawarah terlebih dahulu dalam melakukan kebijakan pembagian apalagi mengenai harta kewarisan yang seyogyanya dibagikan secara adil dan merata, sesuai kesepakatan bersama.
Selanjutnya pembagian yang sudah dilakukan secara perdamaian ini perlu diketahui bahwa dalam praktiknya, hal ini tidak melibatkan para hakim dalam melakukan rincian pendapatan para ahli warisan tersebut, mereka melakukan sendiri dalam pembagiannya, sedangkan hakim dalam perkara ini hanya menetapkan putusan bahwa ini sudah dilakukan secara perdamaian
100 R. Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta : Intermasa Tahun 1980), 123.
sesuai surat akta perdamaian yang dibuat para pihak. Dari rincian tersebut sudah tertuang dalam lembaran putusan pengadilan agama Situbondo.
Adapun yang menjadi objek sengketa dari pembagian harta warisan secara damai adalah sebagai berikut ;
1. Sebidang tanah sawah yang terletak di jalan raya kapongan arjasa, atas nama sertifikat hak milik Hj. Siti Nuraini Khotimah, dengan luas 2.150 m2 2. Sebidang tanah sawah terletak di sebelah timur sungai pabrik salem desa
landangan Kec. Kapongan Kab. Situbondo, atas nama sertifikat hak milik Haji Husen dengan luas 2.150m2 .
3. Sebidang tanah Sawah terletak di Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji Kapupaten Situbondo, Sertifikat Hak Milik (SHM) No.2820/1998 atas nama Haji. Muhammad. Hosen Gufron dengan luas : 3.350 m².
4. 10 (sepuluh) petak Sawah yang terletak di 2 (dua) desa yaitu Desa Gebangan dan Desa Tokelan.
5. Sebidang tanah Sawah terletak di Desa Tokelan Kecamatan Panji Kapupaten Situbondo, dengan Nomor SPPT 35.12.100.0100005-0024.0 atas nama Yulianto.
6. Sebidang tanah yang diatasnya berdiri 2 (dua) bangunan ruko dan 2 (dua) buah toko serta rumah kontrakan dengan Sertifikat Hak Milik SHM No.
550/2011 atas nama Muhammad Hosen, dengan luas : 564 m² terletak di Kampung Tokelan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo.
7. Disamping itu pihak pertama mendapatkan sebidang tanah yang diatasnya berdiri sebuah rumah dengan Sertifikat Hak Milik No.1714/2012 atas nama
Muhammad Hosen, dengan luas : 175 m² terletak di tanah Kavling Curah Jeru Tenggir Desa Curah Jeru Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo.101
Bagian untuk pihak kedua dari barang yang tidak bergerak mendapatkan separuhnya sebagai berikut;
1. Sebidang tanah Sawah terletak di Jalan Raya Kapongan–Arjasa Desa Seletreng Kecamatan Kapongan Kapupaten Situbondo, dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 28/2000 atas nama Hj. Siti Nuraini Khotimah (pihak kedua) luas : 2.150 m² dan Sertifikat Hak Milik (SHM) No.641/2008 atas nama Hj. Siti Nuraini Khotimah (pihak kedua) luas : 2.735 m².102
2. Sebidang tanah Sawah terletak di sebelah timur sungai Pabrik Salem Desa Landangan Kecamatan Kapongan Kapupaten Situbondo, Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 199/1986 atas nama Haji Muhammad Hosen, dengan luas :3.960 m² dan Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 45/1982 atas nama Sutikno dengan luas : 8.632 m².
3. Sebidang tanah Sawah terletak di Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji Kapupaten Situbondo, Sertifikat Hak Milik (SHM) No.2820/1998 atas nama Haji. Muhammad Hosen Gufron, dengan luas : 3.350 m².
4. 10 (sepuluh) petak Sawah yang terletak di 2 (dua) desa yaitu Desa Gebangan dan Desa Tokelan.
5. Sebidang tanah Sawah terletak di Desa Tokelan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo, dengan Nomor SPPT 35.12.100.0100005-0024.0 atas nama Yulianto.
101 Salinan Putusan Akta Perdamaian, Pengadilan Agama Situbondo, (2021).
102 Salinan Putusan Akta Perdamaian, Pengadilan Agama Situbondo, (2021).
6. Sebidang tanah yang diatasnya berdiri 2 (dua) bangunan toko dan rumah serta rumah kontrakan dengan Sertifikat Hak Milik SHM No.550/2011 atas namsa Muhammad Hosen dengan 650 m² terletak di Desa Tokelan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo.
7. Disamping itu pihak kedua mendapatkan bagian sebidang tanah yang diatasnya berdiri bangunan 2 (dua) lantai dengan Sertifikat Hak Milik No.
27/1997 atas nama Rofika Jamila, dengan luas : 84 m² berlokasi di Perumahan Griya Panji Mulya Blok B-5 Desa Curah jeru Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo.103
Selain dari harta yang tidak bergerak ada harta yang bergerak yang berupa uang rupiah, dengan jumlah keseluruhan Rp. 445.500.000.00 (Empat Ratus Juta Empat Puluh Lima Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).
a) Pihak pertama dapat bagian 225.500.000.00 b) Pihak kedua dapat bagian Rp. 220.000.000.00.104
Dengan ketentuan di atas praktik ini juga memiliki kekuatan hukum dan terbukti bahwa dilakukan secara damai jelas dalam putusan hakim pengadilan yang berbunyi:
Dalam majlis musyawarah yang dilangsungkan pada hari kamis tanggal 26 Agustus 2021 M. Bertepatan pada tanggal 17 Muharram 1443 H. Oleh majlis Hakim Dr. Rizkiyah Hasanah, S.Ag.,M.Hum.
sebagai hakim ketua. Drs. Maftukin, M.H. dan Indra Purnama Putra, S.HI. M.H masing-masing sebagai Hakim Anggota dan pada hari itu pula putusan dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum oleh Ketua Majelis tersebut dengan didampingi oleh para Hakim Anggota, dibantu oleh Happy Agung Setiawan, S.H.,M.H sebagai Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Para Penggugat beserta kuasa hukumnya dan Tergugat berserta kuasa hukumnya.105
103 Salinan Putusan Akta Perdamaian, Pengadilan Agama Situbondo, (2021).
104 Salinan Putusan Akta Perdamaian, Pengadilan Agama Situbondo, (2021).
105 Salinan Putusan Akta.
Dari dimensi hasil putusan pembagian harta warisan secara damai di atas menunjukkan bahwa rincian tersebut merupakan hasil dari keputusan hakim dan masing-masing pihak menerima segalanya atas apa yang sudah ditetapkan oleh majlis hakim tersebut. Dan Putusan pengadilan dalam praktik perdamaian ini sudah menjdi dokumen hukum dan bisa dijadikan bukti jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak sesuai dengan ketentuan putusan hukum di atas.
B. Analisis Praktik Tashặluh Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif 1. Perspektif Hukum Islam
Hukum Islam merupakan sebuah alat dalam sebuah penyelesaian sengketa yang terjadi dalam tatanan sosial masyarakat yang khususnya beragama Islam, lebih-lebih keterikatannya dengan pembagian harta warisan sangat erat kaitannya, jelas dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Hadis dan Ijma’ ulama diatur secara tegas dalam penyelesaianya. Namun kembali pada ketentuan hukum Islam yang berlaku di Indonesia, memandang pembagian harta waris secara damai (Tashặluh), tidak di haruskan dibuat dalam bentuk tertulis, namun cukup dilaksanakan secara lisan dan disaksikan oleh dua orang atau lebih dari seorang saksi.
Meskipun dalam waris hukum Islam pembagian harta warisan dengan cara Tashặluh tidak selalu dibuat dalam bentuk tertulis maupun secara lisan.
Norma-norma dalam pembagian warisan secara perdamaian (Tashặluh) dalam Al-Qur’an dan Hadis tidak diatur secara jelas apakah dalam bentuk tertulis maupun lisan. Begitu pula dalam Kompilasi Hukum Islam, tidak ada aturan
dalam satu pasal yang mengharuskan pembagian warisan dengan perdamaian (Tashặluh) apakah dalam bentuk tertulis maupun lisan.106
Terjadinya praktik pembagian harta warisan yang dilaksanakan secara perdamaian (Tashặluh), bukan karena tidak ada alasan sehingga pada titik keputusan mereka. Para pihak gegeh untuk dilakukan sebuah perdamaian hasil dari musyawarah keluarga, namun jika dilihat dari relevannya dengan aturan hukum Islam maka sah-sah saja jika hal tersebut menjadi prioritas para pihak dan tentu tidak melanggar konsep syariat Islam, namun hal tersebut hukum Islam memandang atas keputusan hakim di pengadilan agama Situbondo.
Memang merupakan jalan dan saatnya untuk dilakukan sebuah perdamaian karena melihat dinamika keadaan dari para pihak sudah tidak memungkin kan lagi dilakukan dengan idealisme hukum faraid yang berlaku dalam hukum Islam.
Dalam kewarisan Islam, praktik pembagian harta warisan diatur dengan cara terperinci yakni Al-Qur’an dengan maksud agar tidak ada perselisihan dengan sesama ahli waris. Hal itu juga dalam praktik di lapangan ada sebagian masyarakat termasuk dalam kasus ini masih terjadi dengan melakukan pembagian harta peninggalan dari orang yang meninggal dunia dapat dilakukan sendiri oleh para ahli waris yang memiliki hak dengan menggunakan cara sukarela yang dikenal dengan pembagian waris secara damai (Tashaluh).
Meskipun demikian para pihak sama-sama mengetahui jumlah dari masing-masing harta peninggalan dari pembagian tersebut maka hal itu sudah menjadi putusan pengadilan agama dan hasil musyawarah keluarga untuk
106 M. Hendra Pratama Ginting, “Pembagian Harta Warisan” 101.
dilakukan sebuah perdamaian. Dan sama-sama menerima atas putusan ini, sehingga jika dikemudian hari terjadi permasalahan ada tindakan ulang dari pihak yang berwenang.
Agar dikemudian hari tidak terdapat problem yang menimbulkan sebuah masalah keluarga, karena hal tersebut sudah dilakukan dengan penyelesaian sesuai dengan pembagian harta waris dengan menggunkan instrument pembagian praktik Tashaluh dalam ilmu faraidh, karena di tengah-tengah masyarakat hal ini yang dijadikan dasar dalam melakukan pembagian harta peninggalan (waris), sebelum pada perkara ini dibawa ke jalur hukum (pengadilan agama), banyak kejadian di masyarakat pada akhirnya diselesaikan secara damai (Tashặluh). Hal demikian senada apa yang disamapaikan oleh para ulama bahwa dalam penyelesaian harta warisan dibicarakan terlebih dahulu untuk mengadakan musyawarah sesama keluarga yang memiliki hak waris.
Meskipun dalam hal ini tidak dijelaskan secara kongrit pada sumber kewarisan tentang pembagian harta waris perdamaian yaitu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan berarti dalam Islam tidak diperbolehkan jika memandang cara tersebut dapat melahirkan sebuah maslahat bagi manusia pada umumnya, mengingat masalah warisan ini adalah masalah hak individual bagi setiap ahli waris. Maka ketika ada ahli waris tidak mendapatkan bagian sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam ilmu faraidh, karena keberadaannya malah harus dapat melahirkan sebuah masalahat dan kebaikan pada ahli waris.
Maka hal ini juga sejalan dengan tujuan Maqasyid Al-Syariah ialah