• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktikum Teknologi ACARA I IDENTIFIKASI BENIH

N/A
N/A
Selvinus Key

Academic year: 2023

Membagikan "Praktikum Teknologi ACARA I IDENTIFIKASI BENIH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ACARA I

IDENTIFIKASI BENIH

Pendahuluan

Identifikasi benih memegang peranan dalam kegiatan pengujian benih, terutama dengan semakin banyaknya varietas/spesies tanaman yang harus dibedakan untuk menentukan varietas/spesies dan metode pengujiannya. Disamping itu pengetahuan tentang identitas benih diperlukan dalam kegiatan produksi, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran untuk mendapatkan benih bermutu.

Identifikasi benih dapat dilakukan dengan memeriksa cirri-ciri umum family, morfologi internal dan eksternal benih, serta bagian-bagian lain yang menempel pada benih.

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi benih melalui ciri-ciri eksternal benih.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah : 1. Penggaris

2. Lensa 3. Kertas 4. Pensil

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Koleksi benih tanaman pangan

2. Koleksi tanaman hortikultura 3. Koleksi tanaman kehutanan 4. Koleksi tanaman industri

5. Koleksi tanaman hijau makanan ternak 6. Koleksi tanaman penutup tanah

Cara Kerja

1. Ambil masing-masing dua macam benih dari tanaman pangan, tanaman kehutanan, tanaman hortikultura, tanaman hijau makanan ternak dan tanaman penutup tanah.

(2)

2. Gambarlah benih tersebut dan tandai bagian-bagian dari kulit benih, hillum, dan bagian- bagian lain yang menempel pada benih.

3. Amati ciri-ciri eksternal tersebut dan masukkan pengamatan saudara ke dalam tabel pengamatan

Ciri-ciri eksternal yang dapat diamati adalah : a. Kulit benih

1) Warna benih/kulit benih a. Putih

b. Kuning c. Hijau muda

d. Coklat kekuningan e. Coklat kemerahan f. Abu-abu

2) Kilapan permukaan benih a. Mengkilap

b. Buram c. Lainnya 3) Tekstur kulit benih

a. Licin b. Kasar c. Lainnya.

b. Hillum

1) Bentuk hilum a. Lonjong b. Bulat c. Garis

d. Lubang kunci 2) Warna hilum

h. Kuning i. Cokelat j. Hijau

g. Hitam h. Burik i. Hijau tua j. Ungu

k. Banyak warna l. Warna lainnya.

e. Bulat panjang f. Segitiga g. Bentuk lainnya

k. Abu-abu l. Hitam

m. Warna lainnya 3) Lokasi hillum

a. Pada bagian bawah b. Pada bagian tengah

c. Pada bagian lainnya 4) Posisi hillum

a. Rata

(3)

b. Menjorok 5) Ukuran hillum

a. Kecil b. Besar c. Bentuk benih

1. Bulat

2. Cembung satu sisi, rata sisi lainnya 3. Bentuk kapal

4. Bentuk hati. Lebar pada bagian bawah dan lancip pada bagian atasnya

5. Kebalikan poin. 4 6. Bulat telur

7. Kebalikan poin. 6

d. Ada tidaknya struktur tambahan seperti : 1. Caruncle

2. Sayap 3. Lainnya e. Aroma

1. Berbau 2. Tidak berbau

8. Pipih 9. Pyramid 10. Oval 11. Oblong 12. Eliptik 13. Cekung 14. Bentuk ginjal 15. Bentuk lainnya

(4)

Tabel. Identifikasi Benih Tanaman

No Jenis

Tanaman Nama

Indonesia Nama

Ilmiah Panjang

Benih Bentuk Benih

Kulit Benih Hilum

Aroma Ciri Lain (Struktur Tambahan) Warna

Kulit

Kilapan Permukaan

Tekstur

Kulit Bentuk Warna Lokasi Posisi Ukuran

(5)

ACARA II

PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH Pendahuluan

Uji kemurnian benih digunakan untuk mengetahui persentase berat benih murni dari contoh uji, sekaligus mengetahui komposisi serta identitas dari partikel lain yang mungkin tercampur. Dalam uji kemurnian benih, contoh uji dipisahkan menjadi :

a. Benih Murni

Dalam pengertian benih murni termasuk semua varietas dari spesies yang dinyatakan oleh pengirim atau berdasarkan penemuan dalam pengujian di laboratorium. Yang termasuk kedalam kategori benih murni adalah benih yang : masak dan utuh, tidak masak berukuran kecil dan mengkerut, telah berkecambah sebelum diuji, pecahan benih yang ukurannya lebih besar dari separuh benih yang sesungguhnya asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih itu termasuk dalam spesies yang dimaksud.

b. Biji spesies lain

Komponen ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut tercampur didalam contoh uji tetapi tidak dimaksudkan untuk di uji.

c. Biji Gulma

Mencakup semua biji ataupun bagian vegetative tanaman yang termasuk dalam kategori gulma, baik utuh maupun yang pecah tetapi masih mempunyai embrio

d. Bahan lain atau kotoran

Termasuk semua pecahan benih yang tidak memenuhi syarat baik dari komponen benih murni, biji spesies lain dan biji gulma, bagian tanaman seperti ranting, daun, partikel tanah, pasir, sekam, jerami, dll.

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk menganalisis kemurnian dengan menentukan komposisi benih murni, benih tanaman lain dan kotoran benih

Alat dan Bahan

1. Benih yang akan diuji 2. Pinset

3. Kantong kertas 4. Timbangan analitik 5. Petridish

6. Wadah benih

(6)

Cara kerja

1. Berat contoh kerja dipisahkan menjadi 8 bagian sama rata

2. Timbang contoh kerja kemurnian sehingga diperoleh bobot awal (gram)

3. Hamparkan contoh kerja yang diperoleh di atas meja analisis kemurnian, kemudian pisahkan menjadi komponen-komponen analisa kemurnian yang meliputi Benih Murni (BM), Biji Tanaman Lain (BTL) dan Kotoran Benih (KB).

Benih murni sesuai kriteria pada beberapa jenis tanaman. Biji tanaman lain mencakup semua biji yang tidak termasuk dalam spesies yang dimaksud oleh pengirim contoh benih dan beratnya tidak lebih dari 5% berat contoh kerja kemurnian. Kotoran benih adalah semua materi yang terdapat dalam contoh kerja kemurnian tetapi tidak termasuk ke dalam kedua komponen BM dan BTL seperti jerami, sekam, batu, debu, tanah, pecahan benih dengan ukuran kurang dari setengah ukuran benih asli dan sebagainya.

4. Timbang masing-masing hasil komponen hasil pemisahan dan catat beratnya

5. Jumlahkan berat semua komponen hasil pemisahan, untuk mendapatkan berat total setelah pengujian (bobot akhir)

6. Periksa apakah berat awal dan berat akhir pengujian terdapat perbedaan, apabila terdapat perbedaan lebih besar dari 6% maka pelaksanaan percobaan harus diulang

7. Hitung persentase masing-masing komponen dengan rumus sebagai berikut

% 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ �𝑢𝑟𝑛𝑖 = 𝐵� + 𝐵𝑇� + 𝐾𝐵 𝐵� � 100%

% 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 �𝑎𝑖𝑛 = 𝐵� + 𝐵𝑇� + 𝐾𝐵 𝐵𝑇� � 100%

𝐾𝐵

Dimana

% 𝐾𝑜𝑡𝑜𝑟𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ = 𝐵� + 𝐵𝑇� + 𝐾𝐵 � 100%

𝐶𝐾−(𝐵� + 𝐵𝑇� + 𝐾𝐵)

� 100% ≤ 5%

𝐶𝐾

Keterangan : BM : Benih Murni

BTL : Benih Tanaman Lain KB : Kotoran Benih

CK : Contoh Kerja

(7)

=

% 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ �𝑢𝑟𝑛𝑖 ¿ BM

BM+BTL+KBx100 %

% 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ Tanaman Lain ¿ BTL

BM+BTL+KBx100 %

% Kotoran Benih ¿ BM

BM+BTL+KBx100 % Dimana :

CK−(BM+BTL+KB)

CK x100 % ≤ 5%

(8)

ACARA III

PERHITUNGAN BOBOT 1000 BENIH Pendahuluan

Keterangan tentang bobot 1000 butir benih penting terutama untuk mengetahui kebutuhan benih dilapang. Selain itu juga efek dari bobot 1000 butir benih dapat ditunjukkan dalam hubungannya dengan keadaan embrio ataupun cadangan makanan yang di kandungnya.

Pada benih dengan besar embrio sama, maka benih yang lebih berat menunjukkan kandungan cadangan makanan yang lebih banyak.

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk menghitung berat per 1000 butir benih dari suatu contoh kirim

Alat dan Bahan

1. Benih yang akan diuji (dari fraksi benih murni) 2. Pinset

3. Kantong kertas 4. Timbangan analitik 5. Petridish

6. Wadah benih

Cara kerja

1. Ambil 100 butir benih dari fraksi benih murni sebanyak 8 ulangan, 2. Timbang tiap-tiap ulangan

3. Hitung varians (ragam), standar deviasi dan koefisien variasi dengan menggunakan rumus di bawah ini :

a. � = 𝑛 (𝛴�𝑛 (𝑛−1)2) − (𝛴�)2 V = varians (ragam)

x = berat masing-masing ulangan (gram) n = jumlah ulangan

b. � = √�

S = standar deviasi

(9)

V = varians (ragam) c. Koefisien variasi =

�̅

� 100

�̅ = berat rata-rata 100 butir

4. Penetapan bobot 100 butir boleh dihitung apabila koefisien variasi ≤ 6 untuk benih chaffygrass, atau ≤ 4 untuk benih lainnya

5. Apabila koefisien variasi melebihi dari limit yang ditetapkan, maka timbang 8 ulangan lagi, lalu hitung standar deviasi dari 8 ulangan tersebut

6. Apabila masih melampaui limit maka buang ulangan yang menyimpang dari berat rata-rata 7. Setelah didapatkan koefisien variasi maka bobot 1000 butir benih dihitung dengan rumus

Bobot 1000 butir = �̅ x 10

(10)

ACARA IV

PENGUJIAN VIABILITAS BENIH Pendahuluan

Viabilitas benih adalah daya hidup benih. Viabilitas benih dapat diketahui dengan melakukan pengujian benih. Pengujian daya berkecambah benih digunakan untuk mendeteksi parameter viabilitas potensial benih. Daya berkecambah atau daya tumbuh benih adalah tolok ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal dan berproduksi normal pada kondisi lingkungan yang optimal.

Media untuk menumbuhkan benih digunakan : kertas merang dan pasir, kertas saring atau kertas koran bila benih dikecambahkan dalam alat pengecambah benih. Media pasir, serbuk gergaji atau arang sekam digunakan bila benih ditumbuhkan di ruang persemaian.

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pengujian viabilitas benih dengan beberapa metode uji

Alat dan Bahan 1. Benih tanaman 2. Air

3. Cawan petri

4. Substrat perkecambahan (kertas merang) 5. Pinset

Cara Kerja

Pada praktikum ini menggunakan dua metode yaitu : Uji Diatas Kertas (UDK) dan Uji Kertas Digulung (UKD)

Metode Uji Diatas Kertas (UDK)

1. Letakkan substrat kertas (3 – 4 lembar) pada cawan petri

2. Basahi substrat tersebut sampai merata dengan cara memberi air berlebihan, lalu dibiarkan beberapa menit supaya meresap kemudian air sisanya dibuang.

(11)

3. Tanam benih di atas lembar substrat dengan pinset.

4. Perhatikan jarak tanam benih agar tidak terlalu berdekatan satu sama lain

5. Lakukan pengamatan sebanyak dua kali. Pengamatan pertama dilakukan setelah 3 x 24 jam (hari ke 3) dan pengamatan kedua pada 5 x 24 jam (hari ke 5). Pengamatan dilakukan terhadap kecambah normal, kecambah abnormal dan benih mati

6. Hitung persentase kecambah normal, kecambah abnormal dan benih mati

Metode Uji Kertas Digulung

1. Letakkan lembaran substrat (3 – 4 lembar) yang telah dibasahi

2. Tanam benih di atas lembaran substrat dengan jarak tanam yang tidak berdekatan satu sama lain

3. Tutup substrat yang sudah ditanami benih dengan lembaran substrat lain lalu digulung.

4. Lakukan pengamatan sebanyak dua kali. Pengamatan pertama dilakukan setelah 3 x 24 jam (hari ke 3) dan pengamatan kedua pada 5 x 24 jam (hari ke 5). Pengamatan dilakukan terhadap kecambah normal, kecambah abnormal dan benih mati

5. Hitung persentase kecambah normal, kecambah abnormal dan benih mati

Kecambah normal

- kecambah yang memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi tanaman yang normal jika ditanam dengan lingkungan yang mendukung, memiliki hypocotyl, epicotyl yang berkembang biak, tanpa kerusakan terutama pada jaringan pendukung (contact tissue) dan bagi dicotyledoneae plumula normal.

- untuk Graminae, perkembangan daun pertama baik dan dapat muncul dari coleoptyl.

- kecambah yang memiliki satu cotykedone bagi monocotyledoneae dan dua cotyledone bagi dicotyledoneae.

- kecambah dengan sedikit kerusakan, tetapi tampak kuat dan menujukkan keseimbangan pertumbuhan dari bagian-bagian kecambah:

 pada Zea, Malvaceae, Cucurbitaceae, Leguminosae, kerusakan pada primary root, tetapi telah tumbuh akar-akar cabang lateral yang banyak dan panjang yang diperkirakan dapat menopang pertumbuhan kecambah selanjutnya.

(12)

 kecambah dengan kerusakan superficial, busuk pada bagian-bagian kecambah tetapi kerusakannya terbatas dan tidak pada jaringan penghubung.

 kecambah dari dicotyledoneae yang memiliki satu cotyledone yang sehat dan kuat.

- kecambah dari tanaman parenial, jika panjang hypocotyl dan primary root empat kali panjang benih dengan bagian lain tampak normal.

- kecambah yang membusuk sebagai akibat serangan cendawan/bakteria tetapi semua bagian kecambah, yaitu plumula, radikula, dan cotyledone, ada dan diyakini bahwa sumber penyakit tidak berasal dari benih.

Kecambah abnormal (a) kecambah yang rusak:

- tanpa cotyledone.

- kecambah yang mengalami penyempitan.

- kecambah yang terbelah.

- kecambah yang bagian-bagiannya terputus atau patah.

- kecambah tanpa primary root.

(b) kecambah yang berubah bentuk (deformed)

- kecambah yang lemah dan pertumbuhan bagian-bagiannya tidak seimbang.

- kecambah yang pertumbuhannya spiral.

- kecambah yang plumula dan radikulanya tidak berkembang.

- kecambah yang pucuk atau taruknya membusuk.

- coleoptyl tidak berdaun.

- kecambah yang sukulen atau transparan.

- kecambah yang tidak berkembang lebih lanjut.

(c) kecambah yang membusuk:

- kecambah yang bagian-bagiannya membusuk sehingga tidak dapat berkembang lebih lanjut/menghambat pertumbuhannya, kecuali dapat dipastikan bahwa sumber penyakit bukan berasal dari benih (seed born disease).

- Benih Mati

Benih yang sampai akhir pengamatan tidak berkecambah Rumus Uji Viabilitas

% Kecambah Normal = � 𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒏𝒐𝒓𝒎𝒂�

� 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒕𝒐𝒕𝒂�

(13)

𝒙 𝟏𝟎𝟎%

% Kecambah Abnormal = � 𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒃𝒏𝒐𝒓𝒎𝒂�

� 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒕𝒐𝒕𝒂� 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

% Benih Mati = � 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒎𝒂𝒕𝒊

� 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒕𝒐𝒕𝒂� 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

Tabel. Pengamatan Kecambah...dengan Metode Uii Kertas Digulung (Tabel yang sama dibuat untuk pengamatan kecambah normal, abnormal dan benih mati)

Hari

Pengamatan Ulangan Jumlah Kecambah ………. % Kecambah ………..

Varietas ……. Benih Lokal Varietas ……… Benih Lokal

Hari ke-3 1

2 3 4 Rata-rata hari ke-3

Hari ke-5 1

2 3 4 Rata-rata hari ke-5

Rata-rata hari pengamatan

Tabel. Hasil Uji Viabilitas Benih

………

Parameter % Uji Viabilitas

Varietas………. Benih Lokal

Kecambah Normal Kecambah Abnormal Benih Mati

(14)

FORMAT LAPORAN LAPORAN SEMENTARA

(Tulis tangan di kertas folio bergaris)

LAPORAN AKHIR

(Ketik dengan ukuran huruf 12, huruf Times New Roman, spasi 1,5) Judul Laporan

I. Tujuan Praktikum II. Metode Praktikum

1. Tempat dan Waktu 2. Alat dan Bahan 3. Cara Kerja III. Hasil Pengamatan Kelompok

Nama dan Tanda Tangan Anggota Kelompok

Nama Dosen Pengasuh Praktikum

Tanda Tangan Dosen Pengasuh Praktikum

COVER Judul Laporan Kelompok

Nama Anggota Kelompok I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang B. Tujuan Praktikum II. METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu B. Alat dan Bahan C. Cara Kerja

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

B. Pembahasan IV. SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

- Perhitungan - Tabel Pengamatan - Laporan Sementara

Referensi

Dokumen terkait