PRINCIPLE, USE AND METHOD FOR
HIGH ANTIOXIDANT & FIBER DIET
HIGH ANTIOXIDANT
Definition
Antioxidants are nutrients in food that protect your cells from damage from free radicals (ADA, 2010).
An antioxidant is a molecule capable of slowing or preventing the oxidation of other molecules.
Oxidation is a chemical reaction that transfers electrons from a substance to an oxidizing agent.
Oxidation reactions can produce free radicals (Sies,
1997)
Definition
Antioxidants are “any substance that delays, prevents or removes oxidative damage to a target molecule”
(Halliwell, B. and Gutteridge, J.M.C. (2007) Free Radicals in Biology and Medicine, 4th edn, Clarendon Press, Oxford)
Mekanism
Classification
Endogen
•Enzim superoksida dismutase (SOD)
•Katalase,
•Glutation peroksidase (GSH-Px)
Exogen
•Antioksidan larut lemak
•Antioksidan larut air
Peran terhadap Kesehatan
Membantu dalam menekan pembentukan radikal bebas dan ROS yang terbentuk selama proses pencernaan serta mengurangi keaktifan zat-zat yang merugikan tubuh.
Melindungi LDL dan VLDL dari reaksi oksidasi
Dapat menekan proliferasi (perbanyakan) sel
kanker
Peran terhadap Kesehatan
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Mencegah penuaan dini, meningkatkan fungsi
memori dan menjaga sistem kerja sel otak
Food antioxidant
Ciri-ciri
Aman dalam penggunaan;
Tidak memberi flavor dan warna pada produk;
Efektif pada konsentrasi rendah;
Tahan terhadap proses pengolahan; dan
Tersedia dengan harga yang murah
( Coppen, 1983)
Diet Tinggi Antioxidant
adalah konsumsi bahan makanan yang mengandung
tinggi antioksidan, seperti vitamin E, vitamin C,
Carotenoids, Flavonoid, Phenol, Asam amino.
High Antioxidant Diet
A high antioxidant diet (HAD) was designed based on the
"Sistema Mexicano de Equivalentes".
Three food groups were created in order to guarantee 150%
of the intake of the Suggested Daily Intake (SDI) of vitamin A (1050 μg retinol equivalent), 660% of the Recommended Daily Intake (RDI) of vitamin C (500 mg) and 133% of the RDI of vitamin E (20 mg) for Mexican women
The groups were named as follows: "Vegetables A", "Fruit A"
and "Seeds", respectively
(Mier-Cabrera, et al., 2009)
Indikasi
Kardiovaskuler
Dislipidemia
Kesuburan
Kanker
Vitamin C
Fungsi
Sistem pertahanan tubuh terhadap senyawa oksigen reaktif dalam plasma dan sel
Menyumbangkan elektron ke dalam reaksi biokimia intraseluler dan ekstraseluler
Menghilangkan senyawa oksigen reaktif
Vitamin C
Angka kecukupan
Golongan Umur AKC (mg/hari)
♂ ♀
0 bl – 3 th 40 40
4 – 9 th 45 45
10 – 12 th 50 50
13 – 15 th 75 65
≥16 th 90 75
Vitamin C
Tolerable Upper Intake Levels (UL)
Golongan Umur UL (mg/hr)
0 bl – 12 bl ND
1 – 3 th 400
4 – 8 th 650
9 – 13 th 1200
14 – 18 th 1800
≥ 19 th 2000
Pregnant/lactating ≤ 18 th 1800
Pregnant/lactating 19 – 50 th 2000
Vitamin C
Content (mg/100 g
edible portion Food
< 10 Apricot, Pear, Apple, Plum, Grape, Banana, Cherries
10 Potatoes (boiled)
50 Citrus fruit and strawberries
100 Broccoli (raw), parsley, brussels sprouts (raw), cauliflower (raw), kiwi fruit
200 – 300 Blackcurrants, guavas, peppers
1250 Rosehips (Rosa canina)
1000 – 2300 Acerola fruit
2300 – 3150 Terminalia ferdinandiana
Vitamin C
Kehilangan dalam Pengolahan
Lama disimpan pada suhu panas
Membiarkan terbuka pada udara (oksidasi),
Pencucian
Perendaman dalam air
Memasak dengan suhu tinggi untuk waktu lama,
Memasak dalam panci besi atau tembaga,
Membiarkan lama sesudah dimasak pada suhu kamar atau suhu panas sebelum dimakan
Vitamin C
Studi Penelitian
A pooled analysis of 9 case-control studies found a 31% decrease in breast cancer risk associated with each 300 mg of vitamin C per day (Howe GR,et al.,1990).
Vit C supplementation reduced total cholesterol in younger participants (≤52 years age) (−0.26 mmol/L, 95% CI: −0.45, −0.07) and LDL-C in healthy par cipants (−0.32 mmol/L, 95% CI: −0.57, −0.07). In diabe cs, vitamin C supplementa on reduced triglycerides significantly (−0.15 mmol/L, 95%
CI: −0.30, −0.002) and increased HDL-C significantly (0.06 mmol/L, 95% CI:
0.02, 0.11) (Ashor, et al. 2016)
Vitamin E
Fungsi
Memiliki 8 isomer yang dikelompokkan dalam 4 tokoferol (α,β,γ,δ) dan 4 tokotrienol (α,β,γ,δ) homolog
α-tokoferol sebagai antioksidan mampu
mempertahankan integritas membran bekerja sebagai
scavenger radikal bebas oksigen, peroksi lipid, dan
oksigen singlet
Vitamin E
Angka kecukupan
Golongan Umur AKE (mg/hr)
♂ ♀
0 – 6 bl 4 4
7 – 11 bl 5 5
1 – 3 th 6 6
4 – 9 th 7 7
10 – 12 th 11 11
≥ 13 th 15 15
Vitamin E
Tolerable Upper Intake Levels (UL)
Golongan Umur UL (mg/hr)
0 bl – 12 bl ND
1 – 3 th 200
4 – 8 th 300
9 – 13 th 600
14 – 18 th 800
≥ 19 th 1000
Pregnant/lactating ≤ 18 th 800
Pregnant/lactating 19 – 50 th 1000
Vitamin E
Sumber
Minyak (mg/100 g)
Biji kapas 30 – 81
Jagung 53 – 162
Kacang kedelai 56 – 160
Kacang tanah 20 – 32
Kelapa 1 – 4
Kelapa sawit 33 – 73
Safflower 25 – 49
Zaitun 5 – 15
Vitamin E
Kehilangan dalam Pengolahan
Tidak hilang selama dimasak dengan air.
Pembekuan dan penggorengan dalam minyak banyak merusak sebagian besar vitamin E
Vitamin E
Studi Penelitian
Pocobelli, et al. (2009) In cause-specific analyses, use of multivitamins and use of vitamin E were associated with decreased risks of CVD mortality. The hazard ratio comparing persons who had a 10-year average frequency of multivitamin use of 6–7 days per week with nonusers was 0.84 (95% confidence interval: 0.70, 0.99); and the hazard ratio comparing persons who had a 10-year average daily dose of vitamin E greater than 215 mg with nonusers was 0.72 (95%
confidence interval: 0.59, 0.88).
Vitamin A
Fungsi
Vit A merupakan nama generik yg menyatakan semua retinoid dan prekursor/provitamin A karotenoid yang mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol
karotenoid bersifat larut dalam lemak dan berfungsi sebagai peredam singlet oksigen dan radikal bebas
Karotenoid tersusun atas β-karoten, likopen, lutein, zeaxanthin, dan cryptoxanthin
Vitamin A
Angka kecukupan
Golongan Umur AKA (mg/hr)
♂ ♀
0 – 6 bl 375 375
7 bl – 3 th 400 400
4 – 6 th 450 450
7 – 9 th 500 500
10 – 18 th 600 600
≥ 19 th 600 500
Vitamin A
Tolerable Upper Intake Levels (UL)
Golongan Umur UL (mg/hr)
0 bl – 12 bl 600
1 – 3 th 600
4 – 8 th 900
9 – 13 th 1700
14 – 18 th 2800
≥ 19 th 3000
Pregnant/lactating ≤ 18 th 2800
Pregnant/lactating 19 – 50 th 3000
Vitamin A
Sumber
Bahan Makanan RE Bahan Makanan REHati sapi 13170 Daun katuk 3111
Kuning telur bebek 861 Sawi 1940
Kuning telur ayam 600 Kangkung 1890
Ayam 243 Bayam 1827
Ginjal 345 Ubi jalar merah 2310
Ikan Sardin 250 Mentega 1287
Minyak ikan 24000 Margarin 600
Minyak kelapa sawit 18000 Susu bubuk, full cream 471
Minyak hati ikan hiu 2100 Keju 225
Wortel 3600 Susu kental manis 153
Daun singkong 3300 Susu segar 39
Daun pepaya 5475 Mangga masak pohon 1900
Daun lamtoro 5340 Pisang raja 285
Daun tales 3118 Tomat masak 450
Vitamin A
Kehilangan dalam Pengolahan
Pada cara memasak biasa tidak banyak vitamin A yang hilang.
Pengeringan buah di matahari dan cara dehidrasi lain menyebabkan kehilangan sebagian dari vitamin A.
Ketersediaan biologik vitamin A meningkat dengan kehadiran vitamin E dan antioksidan lain
Vitamin A
Studi Penelitian
Hasil: wanita yang mengkonsumsi β-karoten > 11.000 IU per hari mempunyai risiko mengidap penyakit jantung 22% lebih rendah dibanding dengan mereka yang hanya mengkonsumsi 3.800 IU/hari
Konsumsi vitamin A dosis tinggi > 25.000 IU/hari hipervitaminosis A (Muchtadi, 2009)
In quintile 5 compared with quintile 1, a-carotene (OR: 0.61; 95%
CI: 0.39, 0.98) and b-carotene (OR: 0.41; 95% CI: 0.26, 0.65) were inversely associated with risk of ER2 breast tumors (Bekker, et al., 2016)
Karotenoid
β-karoten
β-karoten biasanya digunakan sebagai suplemen maupun prekursor vitamin A
Hasil penelitian subyek yang banyak mengonsumsi buah dan sayur tinggi β-karoten memiliki risiko rendah terkena berbagai jenis kanker dan penyakit kardiovaskuler
Karotenoid
Likopen
Likopen dapat berinteraksi dengan ROS; mencegah kerusakan oksidatif lipoprotein dan DNA
Likopen kadar tinggi terdapat dalam tomat dan olahannya,
Sumber:
jus tomat olahan, jus sayuran olahan, saus spaghetti olahan, saus pizza kalengan, tomat utuh/olahan, semangka merah segar, sup tomat, pasta tomat, jus jambu biji
Karotenoid
Lutein dan Zeaxantin
Merupakan karotenoid xantofil yang ditemukan dalam daun hijau gelap dan kuning telur
Lutein dan zeaxantin diyakini dapat mecegah penyakit jantung dan stroke (Ribayo-Mercado, Blumberg, 2004)
Karotenoid
Astaxanthin
Senyawa ini memiliki gugus radikal yang mampu melindungi tubuh terhadap proses peroksidasi lipid dan kerusakan akibat proses oksidasi pada membran sel dan jaringan tubuh menghambat proses penuaan
Sumber:
berbagai jenis udang-udangan seperti lobster air tawar atau lobster air laut dan kepiting
Di alam, dihasilkan oleh tanaman dan alga renik alga renik Haematococus pluvialis dikenal mempunyai kandungan astaxanthin tinggi
Flavonoid
Lebih dari 4000 jenis flavonoid telah diidentifikasi dan beberapa diantaranya berperan dalam pewarnaan bunga, buah, dan daun
Quercetin dan myricetin flavonoid
- Melindungi sel CaCO2 yang terdapat pada saluran pencernaan dari oksidasi rantai ganda DNA
- Bersifat antioksidan yang melindungi kolonosit dari stress oksidatif
Isoflavon
Banyak terdapat pada tanam-tanaman khususnya dari golongan Leguminoceae
Isoflavon paling banyak terdapat dalam kedelai dan produk olahannya seperti tempe, tahu, susu kedelai
Tips for Getting More Antioxidants
Eat a rainbow of fruits and vegetables.
Plan at least two dinners per week with beans as the main source of protein
Experiment with fresh herbs and spices
Choose whole grain products, such as whole wheat bread and brown rice.
Add nuts to salads, soups, and cereal.
Snack on fresh vegetables with bean dip
HIGH FIBER
Fiber
Menurut Johnson dan Southgate (1994) serat makanan adalah keseluruhan komponen lignin dan polisakarida tanaman yang tidak dapat dicerna oleh sekresi endogenus dari pencernaan mamalia
Sedangkan menurut Schmid dan Labuza (2002) adalah polisakarida non pati dan lignin
Fiber is the non-digestible part of plant food that we eat.
Fiber
Menurut Johnson dan Southgate (1994) serat makanan adalah keseluruhan komponen lignin dan polisakarida tanaman yang tidak dapat dicerna oleh sekresi endogenus dari pencernaan mamalia
Sedangkan menurut Schmid dan Labuza (2002) adalah polisakarida non pati dan lignin
Fiber is the non-digestible part of plant food that we eat.
Fiber
Insoluble dietary fiber - Selulosa,
- Hemiselulosa - Lignin
Soluble dietary fiber - Pektin
- Gum
- Mucilage
Fiber
Insoluble Fiber
Prevents constipation
May help prevent colon cancer, diverticulitis Soluble Fiber
Controls blood sugar levels Helps lower cholesterol
Both insoluble and soluble fibers prevent overeating and reduce hunger between meals
Fiber
Recommended intake levels for fiber (adequate intake)1
Age(y) male Female
1 – 3 19 19
4 – 8 25 25
9 – 13 31 26
14 – 18 38 26
19 – 50 38 25
>51 30 21
Intakes for females ar e increased to 28 g/d during pregnancy and to 29 g/d for lactation.
Diet Tinggi Serat
Diet tinggi serat adalah diet dengan kandungan serat 30-50 gram/hari atau 25 g/ 1000 Kkal per hari (Almatsier, 2004).
This is a normal diet with fibre increased to 15–20 gms daily.
Fluid intake is also increased (Advances in Diet Therapy)
Diet Tinggi Serat
Asupan serat ≥ 20 g/1000 kkal Asupan serat 10-19,9g/1000 kkal
Asupan serat < 10 g/1000 kkal
(Arisman, 2011) Tinggi
Sedang
Rendah
Diet Tinggi Serat
Tujuan dari diet ini adalah memberi makanan sesuai kebutuhan gizi yang tinggi serat sehingga dapat merangsang peristaltic usus agar defekasi berjalan normal
Diet Tinggi Serat
Indikasi pemberian
Pasien konstipasi kronis
Penyakit divertikulosis
Diet Tinggi Serat
Syarat diet
Energi cukup sesuai kebutuhan
Protein cukup (10-15%)
Lemak cukup ( 10-25%)
Karbohidrat cukup
Vitamin dan mineral tinggi
Cairan tinggi
Serat tinggi 30-50 g/hr
Diet Tinggi Serat
Bahan makanan yang dianjurkan
Sumber Karbohidrat Beras tumbuk/merah; Havermout;
Roti whole wheat
Sumber protein nabati Kacang-kacangan yg dikonsumsi dengan kulitnya & Hasil olah kacang-kacangan
Sayur-sayuran Sayuran serat tinggi
Buah-buahan Buah-buahan berserat tinggi
Diet Tinggi Serat
Kandungan serat Larut dan tak larut (%)
Bahan Makanan Serat tak larut Serat larut
Oat bran 13,8 14,0
Corn flakes 5,0 7,2
Jagung 1,5 1,8
Ubi rambat 1,5 1,1
asparagus 1,1 0,5
Ketimun 0,5 0,4
Apel 1,1 0,9
Jeruk 1,4 0,6
Pisang 1,0 0,8
Diet Tinggi Serat
Kandungan serat pada Bahan Makanan 100 g
Bahan Makanan Total gram Gram larut
Bekatul 31,6 5,24
Bekatul jagung 85,19 1,16
Kacang merah 20,9 5,26
Kacang polong 33,91 8,13
asparagus 32,23 5,8
Bayam 28,75 6,56
Bit merah 24,27 7,5
brokoli 30,4 13,63
kubis kecil 26,94 10,86
(irianto, K & Waluyo, K. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat) (irianto, K & Waluyo, K. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat)
Diet Tinggi Serat
Kandungan serat pada Bahan Makanan 100 g
Bahan Makanan Total gram Gram larut
kembang kol 26,7 8,92
kol 33,48 9,94
labu 19,79 7,39
sawi 23,24 8,68
wortel 23,76 11,32
apel 12,73 4,48
jeruk 11,54 6,47
pisang 7,35 2,14
(irianto, K & Waluyo, K. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat) (irianto, K & Waluyo, K. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat)
Diet Tinggi Serat
Tips to Add Fiber to Your Diet
Choose at least seven (7) fresh fruits and vegetables per day or two (2) cups of fruit and 2 ½ cups of vegetables per day. Eat whole fruits instead of juices.
Choose at least three (3) whole grains per day such as breads, cereals and crackers. Choose cereals with at least five (5) grams of fiber per serving size.
Add beans or lentils to soups and salads. Nuts and seeds are also good sources of fiber.
Drink plenty of water to help avoid constipation.
Add fiber to your diet a little at a time, over a few weeks, to avoid excess gas and bloating
Referensi
• Buck, D F. 1991. Antioxidants. Di dalam: J. Smith, editor. Food Additive User’s.
• Coppen, P.P. 1983. Rancidity in Foods: The Use of Antioxidant. Applied Science Publishers, London.
• Gordon, M H. 1990. Food Antioxidants: The Mechanism of Antioxidants Action In Vitro. Elvisier Applied Science, London.
• Haliwell, B and Gutteridge, J MC. 1999. Free Radicals in Biology and Medicine. Third edition.
Oxford University Press, London. P. 37-39.
• Kochar, SP and Rossell, B. 1990. Food Antioxidants: Detection Estimation and Evaluation of Antioxidants in Food System. Elvisier Applied Science, London.
• Muchtadi, D. 2009. Gizi Anti Penuaan Dini. Penerbit Alfabeta, Bandung
• Pratt. D E. 1992. Phenolic Compounds in Food and Their Effects on Health: Natural Antioxidants from Plant Material. American Society, Washington DC.
• Pratt, DE and Hudson, BJF. 1990. Food Antioxidants: Natural Antioxidants not Exploited Commercially. Elvisier Applied Science, London.
• Widjaya, CH. 2003. Peran Antioksidan Terhadap Kesehatan Tubuh. Healthy Choise. Edisi IV.
• Winarsi, Hery. 2011. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Cetakan ke-5. Kanisius, Yogyakarta.
Referensi
• Bekker et al. Plasma carotenoids, vitamin C, tocopherols, and retinol and the risk of breast cancer in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition cohort. Am J Clin Nutr 2016;103:454–64.
• Youngson, R. 2005. Antioksidan Manfaat vitamin C & E bagi Kesehatan. Arcan, Jakarta
• Mier-Cabrera, et al.,. Women with endometriosis improved their peripheral antioxidant markers after the application of a high antioxidant diet. Reproductive Biology and Endocrinology 2009, 7:54
• Ashor et al., Systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials testing the effects of vitamin C supplementation on blood lipids. Clinical nutrition. 2016, 35 (3): 626-637
Terima kasih..
Semoga bermanfaat