• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA ASTROFOTOGRAFI DALAM RUKYATUL HILAL

N/A
N/A
unah firman

Academic year: 2024

Membagikan "PROBLEMATIKA ASTROFOTOGRAFI DALAM RUKYATUL HILAL "

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA ASTROFOTOGRAFI DALAM RUKYATUL HILAL

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Problematika Fiqh dan Sains Dosen Pengampu : Drs. H. Slamet Hambali, M.S.I

Disusun oleh :

Imam Wahyudi Falahi (23020680039) Nur Amelia Ridha (23020680043) Jauharotul Maknunah Firman (23020680047)

PROGRAM MAGISTER ILMU FALAK FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2024

(2)

ii DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... ii

A. PENDAHULUAN ... 1

B. PEMBAHASAN ... 2

1. Astrofotografi ... 2

2. Rukyatul Hilal ... 13

3. Pandangan Ulama Dan Ahli Terhadap Keabsahan Image Processing Pada Astrofotografi Untuk Rukyatul Hilal ... 17

DAFTAR PUSTAKA ... 21

(3)

1 A. PENDAHULUAN

Penentuan awal bulan dalam Islam menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah umat Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).1

Secara umum, terdapat dua madzhab besar yang terus menimbulkan perbedaan pendapat dalam menentukan awal sebuah bulan dalam kalender Islam. Yang pertama adalah cara rukyat yang selalu mengacu secara harfiah pada hadits Nabi, dan madzhab yang kedua adalah dengan cara hisab.2 Dari kedua cara tersebut, sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop dan seiring berkembangnya jaman, rukyatul hilal juga dapat dilakukan dengan teknik astrofotografi.

Astrofotografi merupakan pengamatan fenomena benda langit dengan cara mengabadikannya melalui foto secara sederhana melalui kamera Digital Single Lens Refles (DSLR) hingga melalui teropong yang canggih.3 Dalam rukyatul Hilal, teknik astrofotografi memiliki hubungan yang sangat erat dengan Image Processing, karena citra hilal yang dipotret sering mengalami penurunan mutu (degradasi).

Keberadaan data atau citra hilal sebagaimana dalam praktek rukyatul hilal yang berkembang di Indonesia menjadi bukti terlihatnya hilal. Namun disamping itu dalam proses pengambilan citra hilal juga menjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama, khususnya pada aliran yang memperbolehkan pelaksanaan rukyah dengan alat bantu.4

1 Watni Marpaung, “Konsep Rukyatul Hilal Dalam Menentukan Awal Bulan Qamariyah” (Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, 2012), 1.

2 Tono Saksono, Mengkompromikan Rukyat Dan Hisab (Jakarta: Amythas Publicita, 2007), 83.

3 Thierry Legault, Pengantar Astrofotgraphy (Canada: Rocky Nook, 2014), ix.

4 M Basithussyarop & Hastuti, “Problematika Astrofotografi Dalam Rukyatul Hilal,” El-Falaky: Jurnal Ilmu Falak 6, no. 1 (2022): 112.

(4)

2 B. PEMBAHASAN

1. Astrofotografi a. Pengertian

Dalam dunia astronomi terdapat banyak cabang ilmu pengetahuan yang bisa diteliti lebih dalam, salah satunya yaitu ilmu astrofotografi. Berikut beberapa penjelasan mengenai definisi astrofotografi dari beberapa pakar astronom dunia maupun Indonesia, sebagai berikut :

1) Thierry Legault

Ia merupakan ahli astrofotografi kelas dunia, seorang insinyur dalam bidang aeronauktika dan menjadi konsultan serta auditor dari berbagai perusahaan penerbangan komersial. Pria kelahiran 1962 ini banyak menghasilkan karya yang berhubungan dengan astrofotografi diantaranya:5

a) Pemegang rekor dunia dalam memotret bulan yang sangat tipis pada tahun 2013. Peristiwa ini terjadi pada waktu Bulan baru saat konjungsi geosentris dengan jarak sudut elongasi hanya 4,25°. Rekor sebelumnya yang juga ia dapatkan yaitu berhasil memotret Bulan baru dengan elongasi 5,4° pada 14 April 2010.

b) Peraih penghargaan Mariuz Jacquemetton Awards dari The Societe Astronomique de France (Asosiasi Astronomi Perancis) dari hasil jepretan fotografinya pada tahun 1999

c) Penghargaan dari International Astronomical Union atas penemuan asteorid hasil jepretannya dan secara resmi nama Legault diabadikan pada Asteroid

#19458.

d) Menghasilkan beberapa buku tentang astrofotografi yaitu Astrophotography, New Atlas of The Moon dan beberapa artikel yang dimuat dalam majalah di Perancis dan Amerika. Menurutnya astrofotografi adalah:

5 Nurul Resky Ridhayanti, “Problematika Kesaksian Rukyatul Hilal Orang Non Muslim,” AL-AFAQ: Jurnal Ilmu Falak Dan Astronomi 4, no. 2 (2022): 187.

(5)

3

Astrophotography is a means of precise measurements of brightness (photometry) and position (astrometry) of any star, comet, minor planet, supernova, etc”.6

Astrofotografi adalah alat untuk mengukur kecerahan (fotometri) dan posisi (astrometri) dengan tepat dari bintang, komet, planet minor, supernova, dll.

Dalam bukunya yang berjudul Astrophotography, ia menyebutkan bahwa pengamatan benda langit baginya merupakan sebuah keindahan dan memiliki nilai estetika tinggi. Meskipun fenomena langit terjadi secara berulang-ulang akan tetapi mengamati fenomena tertentu seperti Gerhana, Meteor, dan Bulan Sabit menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi penggemar Astrofotografi. Bagi Legault Astrofotografi merupakan pengamatan fenomena benda langit dan mengabadikannya melalui foto, dan bisa dilakukan secara sederhana melalui kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) hingga melalui teropong yang canggih seperti LOSMANDI GM8.7

2) Dr. Ahmad Junaidi, M.H.I

Menurut Ahmad Junaidi8, astrofotografi merupakan dua elemen yang mempunyai makna sendiri, astrofotografi berasal dari kata astronomi dan fotografi. Astronomi adalah salah satu cabang ilmu alam yang mempelajari benda langit serta fenomena lain yang terjadi di luar atmosfer bumi. Sedangkan fotografi adalah kegiatan merekam dan memanipulasi cahaya untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Jadi, makna dari astrofotografi adalah cabang dari ilmu fotografi yang objeknya berhubungan dengan astronomi (seperti contoh objek bulan, matahari, bintang, planet, galaksi, nebula, dan

6 Klaus-Peter Schröder and Hartwig Lüthen, “Astrophotography BT - Handbook of Practical Astronomy,”

ed. Günter D Roth (Berlin, Heidelberg: Springer, 2009), 133.

7 Thierry Legault, Astrophotography (Canada: Rocky Nook, Inc., 2014), ix.

8 Lahir di Ponorogo, 10 November 1975 merupakan akademisi yang bergerak di bidang kajian falak khususnya astrofotografi. Ia juga membina dan mengelola Watoe Dhakon Observatorium IAIN Ponorogo, Balai Rukyat Ibnu Syatir Ponorogo dan Gazebo Observatorium. Lihat di Ahmad Junaidi M.H.I, Astrofotografi: Adopsi Dan Implementasinya Dalam Rukyatulhilal Di Indonesia (Yogyakarta: Q Media, 2021), 320.

(6)

4

sebagainya) dengan menggunakan teknik tertentu untuk mendapatkan hasil rekaman dari objek tersebut.9

3) Robert Reeves

Robert Reeves10 menyatakan bahwa astrofotografi modern tidak hanya terbatas pada penggunaan kamera tradisional atau teleskop, tetapi juga teknologi baru seperti webcam dan kamera digital. Ini menunjukkan adaptasi astrofotografi dengan teknologi baru.11

Pada intinya astrofotografi bukan hanya salah satu cabang ilmu astronomi tapi juga merupakan sebuah seni atau teknik dalam kegiatan fotografi. Astrofotografi adalah seni dan ilmu pengambilan gambar objek astronomi, fenomena langit, dan area langit yang luas. Praktik ini menggabungkan prinsip-prinsip astronomi dengan teknik fotografi canggih untuk menangkap gambar langit malam yang sering kali tidak terlihat oleh mata telanjang. Astrofotografi bisa mencakup berbagai subjek, mulai dari benda-benda langit dalam sistem tata surya kita, seperti planet dan bulan, hingga objek jauh di luar angkasa, seperti bintang, nebula, dan galaksi.

b. Sejarah

Pada tahun 1850, William Bond (1789-1859) seorang astronom asal Amerika Serikat yang merupakan salah satu perintis ilmu astrofotografi, berhasil memotret bintang pertama kali dan menemukan bagian terdalam dari cincin saturnus.12

Ilmu astrofotografi mulai memasuki Indonesia sejak berdirinya Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung pada 1923. Seiring berkembangnya teknologi fotografi dengan meluasnya teknologi kamera digital, pemikiran baru mulai muncul dengan menggabungkan antara teknologi penginderaan dan pencitraan untuk diterapkan dalam pelaksanaan rukyatul hilal. Pelopor kegiatan perdana ini adalah Institut Teknologi

9 M.H.I, Astrofotografi: Adopsi Dan Implementasinya Dalam Rukyatulhilal Di Indonesia.

10 Seorang astrofotografer Texas yang merupakan orang Barat pertama yang menyampaikan gagasan astronominya dalam komunitas astronomi Tiongkok dan namanya dijadikan nama salah satu asteroid yaitu Asteroid 26591 untuk menghormati keilmuannya. Lihat di Admin, “Robert Reeves Biography,” Astronomical League of the Philippines, Inc. (ALP), 2022.

11 Robert Reeves, Introduction to Webcam Astrophotography: Imaging the Universe with the Amazing, Affordable Webcam (Willmann-Bell, 2006).

12 Robbin Kerrod, Bengkel Ilmu Astronomi (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), 18.

(7)

5

Bandung yang bekerja sama dengan Departemen Komunikasi dan Informasi mulai tahun 2007 dengan meluncurkan sebuah program yaitu Live Streaming Ru’yat.13

c. Instrumen

Astrofotografi merupakan perpaduan dua ilmu yang sama-sama membutuhkan kemampuan dan alat khusus untuk mengimplementasikannya, berbeda dengan teknik fotografi seperti biasa, astrofotografi membutuhkan instrumen khusus yang berkaitan antara astronomi dan fotografi. Terdapat beberapa instrumen yang dibutuhkan dalam astrofotografi diantaranya:

1) Software Astronomi

Software astronomi merupakan suatu program lunak yang dikembangkan untuk kebutuhan observasi dalam bidang astronomi. Fungsi software ini sebagai pemandu dalam mendeteksi posisi benda-benda langit yang ingin dituju dan menyajikan data posisi matahari-bulan secara lengkap (mulai dari fase matahari- bulan hingga posisi nyata keduanya). Software dikembangkan berdasarkan algoritma astronomi modern dengan tingkat akurasi tinggi dan sebagai panduan observasi, penyusunan kalender dan khususnya menyajikan data hilal dalam pelaksanaan rukyatul hilal.14 Terdapat beberapa software astronomi ataupun ilmu falak yang sering digunakan oleh beberapa peneliti diantaranya : Stellarium (Data benda langit secara lengkap), Starry Night (Visualisasi pergerakan alam semesta), Google Earth (Perhitungan arah kiblat, penentuan koordinat tempat), Accurate Time (Penentuan waktu salat, fase bulan-matahari, ephemeris) dan masih banyak lagi software astronomi atau ilmu falak seiring berkembangnya zaman hingga saat ini.

2) Teleskop

Teleskop atau mirqab merupakan alat optik yang digunakan untuk melihat benda-benda langit yang jauh dan kecil, agar menghasilkan bayangan yang besar dan jelas.15 Teleskop secara singkat bisa dimaknai alat yang dapat melihat jauh, adalah suatu instrumen optik yang mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada

13 M.H.I, Astrofotografi: Adopsi Dan Implementasinya Dalam Rukyatulhilal Di Indonesia.

14 M.H.I.

15 Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Cet. I (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005).

(8)

6

mata manusia dan dapat memperbesar objek yang jauh.16 Fungsi teleskop sendiri diantaranya kemampuan mengumpulkan cahaya yang sangat kuat (light- gathering power), memisahkan cahaya (resolving power) dan memperbesar gambar suatu objek (magnifying power).17 Berdasarkan bahan yang digunakan terdapat tiga jenis utama teleskop optic yaitu18:

a) Teleskop Refraktor atau Dioptrik, merupakan jenis teleskop yang hanya menggunakan lensa untuk menampilkan bayangan benda. Teleskop ini menggunakan kombinasi dua buah lensa objektif dengan tujuan membiaskan atau membelokkan cahaya.

b) Teleskop Reflektor atau Katoptrik, merupakan jenis teleskop yang menggunakan cermin untuk memantulkan cahaya dan bayangan benda.

Teleskop ini menggunakan satu cermin cekung atau kombinasi dari cermin cekung yang merefleksikan cahaya dan bayangan gambar.

Cermin lengkung ini merupakan elemen utama yang akan membuat gambar pada bidang fokus. Para astronom professional seperti NASA banyak menggunakan jenis teleskop ini dalam melakukan pengamatan c) Teleskop Katadioptrik, merupakan gabungan dari reflektor dan refraktor

yakni teleskop yang menggunakan kombinasi dari lensa dan cermin sebagai pengumpul cahaya sekaligus bayangan benda. Perpaduan antara lensa dan cermin mempunyai bentuk permukaan cembung seperti bola sehingga mempunyai tingkat keakuratan dalam mengoreksi kesalahan pada lensa maupun cermin dan mempunyai sudut pandang yang relatif lebar.

Prinsip kerja teleskop adalah mengumpulkan cahaya, lensa utama yang terdapat dalam teleskop refraktor akan mengumpulkan bayangan dan cahaya benda yang datang, kemudian disampaikan ke retina mata melalui refraksi.

Cermin cekung dalam teleskop reflektor merefleksikan cahaya dan bayangan

16 Kerrod, Bengkel Ilmu Astronomi.

17 Siti Tatmainul Qulub, Ilmu Falak: Dari Sejarah Ke Teori Dan Aplikasi, 1st ed. (Depok: Rajawali Pers, 2017), 287–88.

18 Qulub, Ilmu Falak: Dari Sejarah Ke Teori Dan Aplikasi.

(9)

7

gambar yang diarahkan oleh teropong, cermin ini akan menambah jangkauan pandangan manusia sehingga bisa melihat objek yang sangat jauh.19

3) Mounting

Mounting adalah dudukan/penyangga teleskop yang funsinya selain sebagai penopang juga sebagai pengatur pergerakan teleskop dalam membidik objek.

Dari sistem kerjanya, mounting atau yang lebih dikenal dengan dudukan teleskop terbagi dalam 2 jenis yaitu jenis mounting equatorial dan jenis mounting alt-azimuth. Sedangkan dari sisi penggeraknya, dudukan teleskop ini ada dua macam , yaitu manual dan robotic/computerized.

Mounting Equatorial bekerja menggunakan 3 buah sumbu yaitu sumbu RA, deklinasi dan Equator, sdangkan mounting altazimuth menggunakan dau buah sumbu yaitu sumbu x atau sumbu altitude (atas bawah) dan Y atau azimuth (kanan kiri).20

4) Kamera

Dalam kegiatan astrofotografi, kamera merupakan perangkat yang menerima objek yang ditangkap oleh lensa objektif dan merekamnya dalam bentuk digital. Fungsi dari kamera ini sebagai pengganti fungsi okuler dalam pengamatan biasa. Kamera selain bisa digunakan untuk memotret apa yang ada di depan mata manusia di Bumi, kamera juga bisa digunakan untuk memotret benda benda langit yang berada di luar angkasa, seperti Matahari Bulan, Bintang, Planet dan benda benda langit lainnya yang mampu dijangkau oleh kamera.

Pada astrofotografi, penggunaan kamera DSLR lebih unggul dibanding kamera handphone karena pada kamera DSLR fitur mode manualnya lebih lengkap sehingga kita dapat menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Akan tetapi jika tidak ada kamera DSLR, kamera HP juga dapat digunakan dengan syarat kamera bisa diatur ke mode manual. Kekurangan astrofotografi dengan menggunakan handphone adalah keterbatasan dalam menangkap objek. Kamera HP hanya dapat menangkap objek yang bersinar terang, berukuran besar, dan

19 Qulub.

20 M.H.I, Astrofotografi: Adopsi Dan Implementasinya Dalam Rukyatulhilal Di Indonesia.

(10)

8

dapat dilihat oleh mata kita saja. Kamera HP juga menghasilkan foto dengan noise yang lebih banyak ketimbang menggunakan kamera DSLR.

d. Teknik Astrofotografi

Astrofotografi mempunyai teknik tersendiri dalam pelaksanaanya, namun terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan dengan baik dan teliti yaitu:

1) Peralatan yang disiapkan

a) Kamera dengan sensor yang sensitif dan lensa yang berkualitas tinggi adalah kunci untuk menghasilkan gambar yang tajam dan detail.

b) Tripod yang stabil dan pengendali jarak jauh sangat penting untuk menghindari goyangan kamera yang dapat merusak hasil foto.

2) Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi yang tepat sangat penting dalam astrofotografi. Kriteria lokasi yang cocok untuk astrofotografi yaitu:

a) Langit yang gelap dan minim cahaya buatan b) Jauh dari cahaya kota dan polusi udara

c) Kondisi cuaca dengan langit cerah dan tidak berawan Hal ini sangat ditekankan agar menghasilkan pemotretan yang sempurna.

3) Pemasangan instrumen

Jika menggunakan kamera, maka cukup dengan menyiapkan kamera dan tripod, lalu mengatur kamera dalam mode manual dan sesuaikan pengaturan ISO, shutter speed, dan aperture agar dapat menghasilkan gambar dengan kualitas yang baik. Pasang kamera pada tripod untuk menjaga kestabilan dan hindari getaran saat pengambilan foto.

Sedangkan jika menggunakan teleskop maka perlu dilakukan Assembly21, terdapat beberapa metode khusus untuk instalasi kamera pada teleskop:

a) Piggyback, merupakan metode menghubungkan kamera dengan teleskop yaitu dengan mengaitkan kamera ke bagian luar teleskop dengan lensa kamera menunjuk ke area yang sama dengan teleskop dan mengambil foto dengan kamera melalui lensanya.

21 Pemasangan/instalasi perakitan teleskop dengan mountingnya atau pemasangan kamera terhadap teleskop.

Lihat di Basithussyarop and Hastuti, “Problematika Astrofotografi Dalam Rukyatul Hilal.”

(11)

9

b) Prime Focus, ketika badan kamera terpasang tanpa lensa ke teleskop dan tanpa menggunakan aksesoris. Cermin atau lensa objektif teleskop digunakan untuk memfokuskan gambar langsung ke bidang fokus kamera.

c) Afocal, menempatkan kamera lengkap dengan lensanya dibelakang eyepiece. Fungsinya sama seperti mata manusia yaitu untuk melihat dan merekam apa yang diterima oleh eyepiece dari lensa objektif.

Saat memotret benda langit, astrofotografer juga harus memperhatikan teknik dan pengaturan yang benar. Langkah awal yaitu menggunakan mode manual pada kamera dan memilih pengaturan ISO, selanjutnya mengatur fokus dengan hati-hati dan menggunakan pembukaan lensa yang besar akan membantu dalam mengambil gambar yang terang dan detail.

4) Observasi

Mengambil gambar langit malam membutuhkan waktu yang lama karena paparan yang panjang. Astrofotografer harus siap untuk menghabiskan berjam- jam di luar ruangan pada malam hari, mengamati dan menunggu kondisi yang tepat. Terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan astrofotografi diantaranya:

a) Focusing, memfokuskan teleskop dengan memanfaatkan bantuan dari objek langit sesuai waktu observasi

b) Pointing, memposisikan objek yang ditangkap teleskop pada posisi tertentu dengan menyesuaikan kemampuan sudut pandang kamera.

5) Image Processing

Setelah mendapatkan gambar yang cocok proses selanjutnya yaitu pengolahan gambar dengan istilah lain Image Processing. Proses ini merupakan proses pengambilan citra atau gambar objek langit dengan teknik tertentu, citra adalah gambar visual mengenai suatu objek atau beberapa objek. Wujud citra bermacam-macam, dari foto orang, gambar awan, hasil rontgen, hingga citra satelit.22

22 Abdul Kadir, Dasar Pengolahan Citra Dengan Delphi (Yogyakarta: CV. Andi Offsite, 2013), 2.

(12)

10

Citra dibagi menjadi dua jenis, yaitu citra analog yang sering dijumpai dalam bentuk kertas (misalnya foto atau film rontgen) dan citra digital yaitu citra yang dinyatakan dalam kumpulan data digital dan dapat diproses oleh komputer.

Sedangkan secara prinsip, citra dibagi menjadi tiga jenis, yaitu23:

a) Citra biner (citra monokrom), citra hitam putih yang nilai piksel- pikselnya berupa angka nol.

b) Citra berskala keabuan (grayscale), citra yang menggunakan gradasi warna abu-abu yang merupakan kombinasi antara hitam dan putih.

c) Citra warna, tersusun atas tiga komponen yaitu komponen merah, hijau dan biru. Citra ini merepresantisakn keadaan visual objek-objek yang biasa kita lihat. Citra ini sering dikonversi ke citra keabuan yang selanjutnya dilakukan pemrosesan untuk memperoleh tekstur objek.

Citra yang dipotret sering mengalami penurunan mutu (degradasi), misalnya mengandung cacat atau derau (noise), warnanya terlalu kontras, kurang tajam, kabur (blurring), dan sebagainya. Tentu saja citra semacam ini menjadi lebih sulit diinterpretasi karena informasi yang disampaikan oleh citra tersebut menjadi berkurang.24 Agar citra hilal yang mengalami gangguan atau tidak terlihat mudah diinterpretasi (baik oleh manusia maupun mesin), maka citra tersebut perlu diproses atau dilakukan pengolahan gambar untuk menghasilkan citra hilal lain yang kualitasnya lebih baik.25 Proses ini disebut dengan Image Processing yang bertujuan memperbaiki kualitas citra gambar agar mudah diiterpretasi oleh manusia atau mesin (dalam hal ini komputer). Teknik-teknik pengolahan citra mentrasformasikan citra menjadi citra lain. Maksudnya adalah citra dan keluarnya juga citra, namun citra keluaran mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada citra masukan.26

23 Kadir, Dasar Pengolahan Citra Dengan Delphi.

24 Priyanto Hidayatullah, Pengolahan Citra Digital: Teori Dan Aplikasi Nyata (Bandung: Informatika Bandung, 2005), 3.

25 Riza Afrian Mustaqim, “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal,” Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam Dan Ilmu-Ilmu Berkaitan 4, no. 1 (2018): 79.

26 Hidayatullah, Pengolahan Citra Digital: Teori Dan Aplikasi Nyata.

(13)

11

Dalam hal ini jika objek pengamatan bisa dilihat oleh mata langsung seperti contoh pengamatan bulan purnama, maka bisa menggunakan kamera HP atau DSLR baik terhubung atau tidak dengan teleskop lalu diproses menggunakan perangkat lunak untuk pengeditan gambar seperti Adobe Photoshop atau Lightroom, astrofotografer dapat memperbaiki kecerahan, kontras, dan detail gambar untuk menghasilkan hasil akhir yang menakjubkan.

Akan tetapi jika objek tersebut intensitas cahayanya sangat lemah sebagai contoh pengamatan hilal, maka dapat memanfaatkan teknik penggabungan gambar (stacking) untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi noise pada gambar. Dengan menggabungkan beberapa foto dengan paparan yang berbeda, hasil akhir akan lebih tajam dan detail.

e. Astrofotografi sebagai Teknik Rukyat

Ilmu astrofotografi sangat memungkinkan digunakan sebagai salah satu teknik dalam pelaksanaan rukyat, dengan melihat kondisi hilal yang intensitas cahayanya sangat lemah, maka diperlukan teknik khusus yang bisa menggambarkan keadaan hilal tersebut. Adapun kemampuan astrofotografi dalam mengabadikan proses pengamatan hilal berupa citra atau gambar dapat dijadikan sebagai data hilal untuk sebuah pengembangan kelilmuwan terkait hilal.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, mereka menerapkan metode Image Processing dalam membantu keberhasilan pengamatan hilal, setiap bulannya mereka aktif melakukan pengamatan terhadap hilal. Berdasarkan data yang diunggah dalam situs web hilal.bmkg.go.id dilaporkan bahwa sejak Ramadhan 1443 H / Maret 2022 – Rajab 1445 / Maret 2024 terpantau berhasil mendapatkan 9 citra hilal27, pada bulan- bulan selanjutnya tinggi hilal belum memenuhi kriteria terlihatnya hilal.

Terdapat 4 metode yang dapat dilakukan dalam Image Processing pada pelaksanaan rukyatul hilal, diantaranya28:

1) Meningkatkan atau menurunkan kontras pada satu citra hilal

27 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, “Galeri Pengamatan Hilal Awal Bulan,” n.d.

28 Mustaqim, “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal,” 2018.

(14)

12

Hal ini diperlukan untuk memperjelas ketampakan hilal pada satu citra, karena sering terjadi bahwasannya citra hilal hampir sama dengan background atau objek lain seperti awan yang berada disekeliling hilal, pastinya sulit untuk menetapkan apakah objek tersebut hilal atau bukan, maka diperlukan pengaturan khusus terhadap kontras dari citra hilal.

2) Meningkatkan atau menurunkan kontras pada beberapa citra hilal dengan memperhatikan konsistensinya

Perbedaan dengan tahap sebelumnya adalah pengolahan citra yang lain. Hal ini dilakukan karena hilal belum bisa dipastikan terlihat atau tidak, akan tetapi ada kemungkinan untuk terlihat. Maksud dari konsistensi itu adalah tidak adanya perbedaan antar beberapa citra, baik dari segi bentuk, posisi atau letak hilal dalam beberapa citra yang terlihat. Jika menunjukkan persamaan konsistensi, maka citra yang terlihat seperti hilal bisa dipastikan bahawa itu merupakan hilal.

3) Penumpukan citra hilal tanpa kalibrasi

Pada tahap ini hilal sama sekali tidak terlihat dalam beberapa citra, proses penningkatan kontras juga tidak menghasilkan tampilan citra hilal. Maka tahapan selanjutnya yaitu menggabungkan beberapa citra menjadi satu atau biasa disebut dengan stacking. Tidak ada batasan dalam penumpukan citra, citra hilal akan tampak pada penumpukan citra terakhir.

4) Penumpukan citra hilal dengan kalibrasi

Terdapat tahapan yang dilakukan sebelum melakukan penumpukan citra yakni terlebih dahulu melakukan kalibrasi terhadap citra hilal. Kalibrasi tersebut dilakukan pada saat pengambilan citra dengan alat-alat kaliblator. Untuk meningkatkan Signal to Noise (S/N) Ratio, lakukan perekaman citra bias (bias frame), citra gelap (dark frame), dan citra medan datar (flat field frame).

Citra Bias diperlukan untuk mengoreksi ketidakteraturan setiap pixel pada detektor dalam merekam data. Citra Gelap diperlukan untuk mengoreksi efek panas dan derau elektronik pada detektor. Citra Medan Datar diperlukan untuk mengoreksi permasalahan-permasalahan terkait dengan penjalaran cahaya dari depan teleskop, lensa, hingga ke detektor.

(15)

13 2. Rukyatul Hilal

a. Pengertian

Rukyatul hilal terdiri atas dua kata dalam bahasa Arab, yakni, rukyat dan hilal. Jika ditinjau dari aspek epistimologi, rukyat dikelompokkan menjadi dua pendapat, yaitu:

Pertama, kata rukyat adalah masdar dari kata ra’a yang secara harfiah diartikan melihat dengan mata telanjang. Kedua, kata rukyat adalah masdar yang artinya penglihatan, dalam bahasa Inggris disebut vision yang artinya melihat, baik secara lahiriah maupun batiniah.29 Kata ‘rukyat’ menurut bahasa Arab berasal dari kata ra’a- yara- ra’yan- ru’yatan, yang bermakna melihat, mengira, menyangka, dan menduga.30 Sedangkan dalam astronomi rukyat dikenal dengan istilah observasi.31

Kata ra’a disini dapat diartikan dengan tiga pengertian. Pertama, ra’a yang bermakna “abshara” artinya melihat dengan mata kepala (ra’a bil fi’li), yaitu jika objek (maf’ul bil) menunjukkan sesuatu yang tampak (terlihat). Kedua. ra’a dengan makna

alima/ adraka” artinya dengan akal pikiran (ra’a bil ‘aqli), yaitu objek yang berbentuk abstrak atau tidak mempunyai objek. Ketiga ra’a bermakna “dzanna” atau “hasiba

artinya melihat dengan hati (ra’a bil qalbi) untuk objek (maf’ul bih) nya.32

Menurut ahli linguistik Arab, Al-Khalil bin Ahmad dari Oman, hilal didefinisikan dengan sinar Bulan pertama, ketika orang melihat dengan nyata bulan sabit pada sebuah awal bulan. Kata ini bisa saja berakar dari dua bentuk kalimat aktif maupun pasif seperti:

dia muncul (halla) atau dia kelihatan (uhilla) yang kedua-duanya melibatkan proses menyaksikan.33

Dalam Kamus Ilmu Falak disebutkan, hilal atau “bulan sabit” yang dalam astronomi disebut crescent adalah bagian Bulan yang tampak terang dari Bumi sebagai akibat cahaya Matahari yang dipantulkan olehnya pada hari terjadinya ijtima’ sesaat

29 M. Sholihat, & Subhan, Rukyah Dengan Teknologi (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), 14.

30 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia Terlengkap, Cet. XIV (Surabaya:

Pustaka Progressif, 1997), 494-495.

31 Susiknan Azhari, Ensiklopedia Hisab Rukyat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, t.t).

32 Ahmad Ghazalie Masroeriwe, dalam Musyawarah Kerja dan Evaluasi hisab Rukyat tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI tentang Rukyatul Hilal, Pengertian dan Aplikasinya, 27-29 Februari 2008, 1-2.

33 Tono Saksono, Mengkompromikan Rukyat Dan Hisab (Jakarta: Amythas Publicita, 2007), 83.

(16)

14

setelah Matahari terbenam. Apabila setelah Matahari terbenam, hilal tampak, maka malam itu dan keesokan harinya merupakan tanggal satu bulan berikutnya.34

Pengertian rukyatul hilal dari kacamata istilah adalah melihat hilal pada saat matahari terbenam pada akhir bulan atau pada tanggal 29 Qomariyah. Untuk itu, jika rukyah sudah berhasil melihat hilal pada saat matahari terbenam maka hari besok itu sudah dihitung memasuki bulan baru, tetapi sebaliknya bila belum dapat dilihat, maka sejak matahari terbenam itu sudah dihitung bulan baru, akan tetapi sebaliknya jika tidak terlihat, maka malam itu dan hari berikutya merupakan bulan yang berjalan dengan digenapkan atau istikmal.35

Muhyidin Khazin mendefinisikan rukyatul hilal sebagai suatu kegiatan atau usaha melihat hilal atau Bulan sabit di langit (ufuk) sebelah barat sesaat setelah Matahari terbenam menjelang awal bulan baru khususnya menjelang bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah untuk menentukan kapan bulan baru itu dimulai.36 Pengertian rukyatul hilal menurut syara’ adalah kesaksian melihat hilal dengan mata kepala setelah terbenamnya Matahari pada hari ke dua puluh sembilan menjelang bulan baru kamariah, dari orang yang beritanya dapat dipercaya dan kesaksiannya dapat diterima. Kesaksian orang tersebut dijadikan sebagai pedoman penetapan masuknya bulan baru.37

Secara garis besar Rukyah al-hilal dapat dikategorikan menjadi 2:

1) Rukyah bil Fi’li

Rukyah bil fi’li adalah upaya melihat hilal dengan mata (tanpa menggunakan alat) yang dilakukan secara langsung atau dengan menggunakan alat, pada saat akhir bulan Qomariyah (tanggal 29) ketika matahari terbenam.

Jika hilal berhasil dilihat, kemudian langkah berikutnya mengetahui posisi bulan yang berada diatas ufuk saat matahari terbenam, apakah sudah berkedudukan di atas ufuk atau belum. Apabila sudah berkedudukan di atas

34 Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Cet. I (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005), 30.

35 Jaenal Arifin, “Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah),”

Yudisia, Vol. 5 (2014): 403.

36 Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori Dan Praktik, Cet. IV (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004), 173.

37 Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah AlKuwaitiyyah (Kuwait:

Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 2006), 7597.

(17)

15

ufuk, berarti sudah berada di sebelah timur garis-garis ufuk dan sekaligus di sebelah timur matahari. Kedua hisab dalam awal bulan Qomariah yang harus dilakukan bukanlah menentukan tinggi bulan di atas ufuk mar’i, tetapi yang penting adalah meyakini apakah pada pertukaran siang kepada malam, bulan sudah berkedudukan di sebelah timur matahari ataukah belum. Sebab penyusunan kalender harus diperhitungkan jauh sebelumnya dan tidak tergantung pada hasil rukyat.

2) Rukyah al-hilal bil ‘Ilmi

Rukyah al-hilal bil Ilmi adalah rukyah dengan menggunakan metode hisab atau dengan pengertian lain rukyah bi al ilmi ini adalah melihat hilal tidak dengan menggunakan mata telanjang atau secara langsung akan tetapi dalam prespektif ini adalah melihat hilal tanpa dibuktikan di dunia emperis. Maka untuk melihat rukyah bi al ilmi ini secara gampling kita harus menelaah kembali tentang metode hisab yang mempunyai ragam yang banyak dan bervariasi agar supaya pemahaman kita terhadap rukyah bi al ilmi ini betul bias solid dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian alangkah baiknya terlebih dahulu kita mengetahui pengertian hisab tersebut.38

b. Dasar Hukum Rukyatul Hilal 1) Dari Al-Qur’an

ٍتاَنِّيَبَو ِساَّنلِل ىًدُه ُنآْرُقْلا ِهيِف َلِزْنُأ يِذَّلا َناَضَمَر ُرْهَش لا ُمُُكُْنِم َدِهَش ْنََمََف ِناَقَْرُفُْلاَو ىَدُهْلا َنَِم

ُهْمَُصَيْلَف َرْهَّش

Bulan Ramadhan itu adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan sebagai pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu ada pada bulan itu, maka berpuasalah (Q.S. al-Baqarah/2: 185).

ْلا َسْيَلَو ِّجَحْلاَو ِساَّنلِل ُتيِقَاَوَم َيِه ْلُقَ ِةَّلِهَأْلا ِنََع َكَنوُلَأْسَي

َت ْنَأِب ُّرِب

ْأ

ْأَو ىَٰقَّتا ِنََم َّرِبْلا َّنَِكُ َلَو اَهِروُهُظُ ْنَِم َتوُيُبْلا اوُت ْنَِم َتوُيُبْلا اوُت

ْفُُت ْمُُكَُّلَعَل َهَّللا اوُقَّتاَو اَهِباَوْبَأ

َنوُحِل

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah penunjuk bagi manusia dan (ibadah) haji dan bukanlah kebajikan itu memasuki rumah-rumah dari belakangnya. Akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan bertaqwa. Dan masuklah kerumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S. al-Baqarah/2: 189).

38 Arifin, “Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah).”407-409.

(18)

16

Pada penggalan ayat di atas dapat diketahui bahwa untuk memprediksi penghitungan jatuhnya tanggal satu bulan Qomariyah maka diperlukan langkah- langkah diantaranya mengetahui posisi matahari pada saat terbenam, kemudian langkah berikutnya mengetahui posisi bulan yang berada diatas ufuk saat matahari terbenam, apakah sudah berkedudukan di atas ufuk atau belum. Apabila sudah berkedudukan di atas ufuk, berarti sudah berada di sebelah timur garis-garis ufuk dan sekaligus di sebelah timur matahari. Kedua, hisab dalam awal bulan Qomariah yang harus dilakukan bukanlah menentukan tinggi bulan di atas ufuk mar’i, tetapi yang penting adalah meyakini apakah pada pertukaran siang kepada malam, bulan sudah berkedudukan di sebelah timur matahari ataukah belum.39

2) Dari Hadits

نَع عفان نَع )ةمَقلع نَبإ وهو( ةمَلس انثدح لضفُم نَب رشب انثدح ىٰلهابلا ةدعسم نَب ديمح نيثدح ع

لاقَ :لاقَ رمَع نَبا للهادب

ذإو اوموصف للالها اومَتيأر اذإف نورشع و عست رهشلا :مُلسو هيلع للها ىٰلص للها لوسر مُغ نإف ،اورتفأف هومَتيأر ا

هل اوردقَاف مُكُيلع Humaid bin Mas’adah Al-Bahily bercerita kepadaku : Bisr bin Mufadhal bercerita kepada kami : Salamah bin Al-Qamah bercerita kepada kami, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, Ia berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda :”(jumlah bilangan) bulan ada 29 (hari). Apabila kalian melihat hilal, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihat hilal maka berbukalah. Namun apabila kalian terhalangi (oleh mendung) maka kadarkanlah (HR. Muslim).

ىٰلص بينلا نَع امَهنع للها يضر رمَع نَبا نَع عفان نَع كلام ىٰلع تأرقَ :لاقَ ييح نَب ييح انثدح ا

. مُلسو هيلع لله ركذ هنأ

هلاوردقَاف مُكُيلع ىٰمَغأ نإف ,هورت تىح اورطفُت لاو للالها اورت تىح اوموصت لا :لاقف ناضمر )مُلسم هاور(.

Yahya bin Yahya bercerita kepada kami, ia berkata : Aku berkata kepada Malik dari Nafi’, dari Ibnu Umar dari Nabi SAW. Bahwa beliau menyebutkan Ramadhan seraya bersabda :”Janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal, dan janganlah kalian berhenti puasa hingga melihatnya. Jika kalian terhalangi (oleh mendung) maka tetapkanlah (hingga Sya’ban) untuknya” (HR. Muslim).

س نَب مُيهربإ انبرخأ ييح نَب ييح انثدح ر ةريره بيأ نَع بيسلما نَب ديعس نَع باهش نَبا نَع دع

لاقَ :لاقَ ,هنع للها يض

نإف ,اورطفأف هاومَتيأر اذإو اوموصف للالها اومَتيأر اذإ :مُلسو هيلع للها ىٰلص للها لوسر هاور( اموي ينثلاث اوموصف مُكُيلع مُغ

)مُلسم Yahya bin Yahya bercerita kepada kami: Ibrahim bin Sa’ad memberi kabar kepada kami: dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda :“Apabila kalian melihat hilal, maka berpuasalah.

39 Arifin, “Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah).”405.

(19)

17

Dan apabila kalian melihatnya (hilal) maka berbukalah. Namun apabila kalian terhalangi (oleh mendung), maka berpuasalah selama 30 hari.” (HR. Muslim).40

3. Pandangan Ulama Dan Ahli Terhadap Keabsahan Image Processing Pada Astrofotografi Untuk Rukyatul Hilal

Berikut ini beberapa pandangan ulama klasik dan kontenporer terkait dengan keabsahan Image processing pada astrofotografi untuk rukyatul Hilal

a. Muhammad Bukhit al-Muti’i

Muhammad Bakhit al-Muthi'i adalah seorang Mutfi yang berasal dari Mesir beliau lahir pada tahun 1271 H / 1856 M. di daerah al-Muti’, keturunan Bakhit bin Husein. Pada tahun 1297 M, pemerintah menunjuk Muhammad Bakhit Al-Muti’i sebagai Ketua Pengadilan di Kabupaten Qalyubi. Satu tahun kemudian ia pindah sebagai hakim di Kabupaten Al-Minya. Di antara karya- karyanya adalah Jam Al-Jawami, Irsyad Ahli al-Millah ila Isbat al-Ahillah, alKalimat al-Hisan fi al Ahruf al-Sab’ah wa Jami’i al-Qur'an.

Al-Muti’i berpendapat bahwa لبقت ةداهش ئارلا للاهلل ولو يأر ةراظنلاب ةمَظعلما dapat diterima persaksian orang yang melihat hilal walaupun ia melihat dengan teropong pembesar sepanjang hilal tersebut dapat dilihat oleh selain orang yang tajam sekali padangannya. oleh karena itu, tidak ada halangan untuk melihat hilal sekarang ini dari teropong Bulan Mesir dan lain-lainnya dengan alat pembesarnya. Adapun rukyat dengan perantaraan teropong pembesar, maka ia seperti rukyat dengan mata tanpa perbedaan sebagaimana diketahui hal itu pada penggunaan kacamata untuk membaca.41

b. Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami

Ibnu Hajar al-Haitami lahir di Mahallah Abi al-Haitam, Mesir bagian Barat, Rajab 909 H, beliau wafat di Mekkah Rajab 973 H. Beliau adalah seorang ulama di bidang fikih mazhab syafi'i, ahli kalam dan tasawuf. Di antara karya-karyanya adalah al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Syarh Mukhtashar Abi al-Hasan al-Bakri.

40 Arifin, “Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah).”405-407

41 Basithussyarop and Hastuti, “Problematika Astrofotografi Dalam Rukyatul Hilal.”

(20)

18

Dalam kitab Hamisy Hawasyii Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa rukyatul hilal dilakukan pada saat setelah ghurub, dan dilakukan tanpa menggunakan perantara (alat) seperti kaca. ةطساوب وحن ةآرم .42 Hal tersebut merupakan penjelasan dari pelaksanaan rukyatul hilal dalam menetapkan puasa Ramadan.

c. Abdul Hamid asy-Syarwani

Abdul Hamid bin al-Husain al-Daghistani al-Syarwani al Makki. Adapun al-Syarwani menyatakan bahwa dalam rukyatul hilal lebih utama untuk dilakukan tidak dengan menggunakan alat, tetapi juga diperbolehkan menggunakan alat. Alat yang dimaksud tersebut adalah seperti air, ballur, sesuatu yang mendekatkan yang jauh, dan yang membesarkan yang kecil dalam pandangan.43

d. Ahmad Rofiq

Ahmad Rofiq lahir di Kudus, 14 Juli 1959. Saat ini beliau menjabat seagai Direktur Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang, sekaligus beliau menjadi guru besar dalam Hukum Islam UIN Walisongo Semarang, dan juga sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah. Menurut Ahmad Rofiq dalam rukyatul hilal, teknologi berfungsi untuk membantu pengamatan hilal, apakah hilal terlihat atau tidak berdasarkan hukum yang berlaku. Teknologi apa pun yang di gunakan dalam rukyatul hilal harus senantiasa mempertimbangkan dua hal, yaitu kalibrasi dan validasi kebenaran teknologi tersebut, begitu halnya dengan teknik astrofotografi yang dilakukan oleh BMKG.

Ahmad Rofiq juga menyatakan bahwa rukyatul hilal merupakan instrument yang digunakan untuk menerapkan perintah melihat hilal berdasarkan dasar-dasar hadis rukyat. Pemahaman secara bahasa atau redaksi kata “ للاهلاورت “dalam hadis-hadis rukyat menunjukkan bahwa amaratul lafdzi dalam kata tersebut adalah rukyat dengan kasat mata, bukan dengan akal. Agar

42 Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Hamisy Hawasyii Tuhfatul Muhtaj Bi Syarhil Minhaj (Mesir: Mushthafa Muhammad, n.d.), 471-472.

43 Riza Afrian Mustaqim, “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal,” Al-Marshad : Jurnal Astronomi Islam Dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, 2018.

(21)

19

seseorang dapat melihat hilal tersebut, maka digunakanlah teropong atau teknologi lain untuk mengurangi halangan atau kesulitan. Posisi alat di sini adalah untuk membantu hingga kepada tingkat yang meyakinkan. Pada akhirnya, sepanjang Image Processing pada astrofotografi untuk rukyatul hilal yang dilakukan BMKG dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya maka dapat digunakan, karena posisinya untuk membantu.Rekayasa dalam teknologi rukyat bisa saja terjadi, maka hal yang akan berlaku.44

e. Slamet Hambali

Selamet hambali lahir pada hari Kamis, 5 Agustus 1954 M., di dukuh Bajangan Desa Sambirejo Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Beliau merupakan salah satu ahli falak. yang telah lama berkiprah dalam memajukan dan mengambagkan khzanah keilmuan terkhususnya falak.

Hal ini dapat dilihat dari karya-karya beliau, di antara lain: Almanak Sepanjang (2011), Ilmu Falak I (2011), Ilmu Falak Arah Kiblat Setiap Saat (2013), Pengantar Ilmu Falak Menyimak Proses Pemebentukan Alam Semesta (2012).

Menurut Slamet Hambali penerapan Image Processing dalam citra hilal, pada hakikatnya hilalnya harus terlihat terlebih dahulu (embrio hilal terlihat itu harus ada), meski pun tidak jelas atau samarsamar. Pengolahan diperbolehkan jika sebatas memperjelas citra hilal tersebut. Tetapi jika hilal tidak ada sama sekali kemudian diproses menjadi ada maka hal itu tidak dapat diterima. Karena dikhawatirkan hal tersebut merupakan rekayasa. Dalam hal ini akan sangat lebih baik untuk menghindari mudharat.

Hilal yang diproses untuk memperjelas citra hilal tersebut dapat diterima, sehingga Image Processing juga dapat dikatakan sebagai rukyat bil fi’li. Rukyat dengan perbuatan yang nyata tidak sekedar ilmu pengetahuan tetapi dengan mengamati langsung, karena pada prinsipnya pengolahan hanya sebatas memperjelas hilal bukan mengadakan hilal.45

f. Thomas Djamaluddin

44 Basithussyarop and Hastuti, “Problematika Astrofotografi Dalam Rukyatul Hilal.”

45 Mustaqim, “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal,” 2018.

(22)

20

Thomas Djamaluddin lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962. Saat ini beliau bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai Kepala LAPAN dan Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan astrofisika. Menurut Thomas Djamaluddin Astrofotografi dan Image Processing adalah alat bantu untuk menambah keyakinan. Hal ini sama dengan penggunaan jam untuk meyakinkan masuknya waktu shalat atau penggunaan kompas untuk meyakinkan arah kiblat. Penggunaan Image Processing pada astrofotografi untuk rukyatul hilal merupakan upaya saintifik untuk memperjelas citra dengan menghilangkan efek gangguan dan meningkatkan kontrasnya. Image processing sangat disarankan digunakan pada rukyatul hilal utuk meyakinkan bahwa objek yang direkam benar-benar hilal, bukan objek lain.46

46 Mustaqim.

(23)

21

DAFTAR PUSTAKA

Admin. “Robert Reeves Biography.” Astronomical League of the Philippines, Inc. (ALP), 2022.

Al-Haitami, Ahmad Ibnu Hajar. Hamisy Hawasyii Tuhfatul Muhtaj Bi Syarhil Minhaj. Mesir:

Mushthafa Muhammad, n.d.

Arifin, Jaenal. “Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah).” Yudisia 5 (2014): 403.

Azhari, Susiknan. Ensiklopedia Hisab Rukyat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, n.d.

Basithussyarop, M, and Hastuti. “Problematika Astrofotografi Dalam Rukyatul Hilal.” El-Falaky:

Jurnal Ilmu Falak 6, no. 1 (2022): 111–36.

Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan. “Galeri Pengamatan Hilal Awal Bulan,” n.d.

Hidayatullah, Priyanto. Pengolahan Citra Digital: Teori Dan Aplikasi Nyata. Bandung:

Informatika Bandung, 2005.

Kadir, Abdul. Dasar Pengolahan Citra Dengan Delphi. Yogyakarta: CV. Andi Offsite, 2013.

Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait. Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah AlKuwaitiyyah. Kuwait:

Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 2006.

Kerrod, Robbin. Bengkel Ilmu Astronomi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.

Khazin, Muhyiddin. Ilmu Falak Dalam Teori Dan Praktik. Cet. IV. Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004.

———. Kamus Ilmu Falak. Cet. I. Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005.

Legault, Thierry. Astrophotography. Canada: Rocky Nook, Inc., 2014.

———. Pengantar Astrofotgraphy. Canada: Rocky Nook, 2014.

M.H.I, Ahmad Junaidi. Astrofotografi: Adopsi Dan Implementasinya Dalam Rukyatulhilal Di Indonesia. Yogyakarta: Q Media, 2021.

Marpaung, Watni. “Konsep Rukyatul Hilal Dalam Menentukan Awal Bulan Qamariyah.” Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, 2012.

Masroeriwe, Ahmad Ghazalie. Musyawarah Kerja dan Evaluasi hisab Rukyat, n.d.

Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia Terlengkap. Cet. XIV.

Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Mustaqim, Riza Afrian. “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal.” Al-Marshad : Jurnal Astronomi Islam Dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, 2018, 78–79.

(24)

22

———. “Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal.” Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam Dan Ilmu-Ilmu Berkaitan 4, no. 1 (2018).

Qulub, Siti Tatmainul. Ilmu Falak: Dari Sejarah Ke Teori Dan Aplikasi. 1st ed. Depok: Rajawali Pers, 2017.

Reeves, Robert. Introduction to Webcam Astrophotography: Imaging the Universe with the Amazing, Affordable Webcam. Willmann-Bell, 2006.

Ridhayanti, Nurul Resky. “Problematika Kesaksian Rukyatul Hilal Orang Non Muslim.” AL- AFAQ: Jurnal Ilmu Falak Dan Astronomi 4, no. 2 (2022): 181–91.

Saksono, Tono. Mengkompromikan Rukyat Dan Hisab. Jakarta: Amythas Publicita, 2007.

Schröder, Klaus-Peter, and Hartwig Lüthen. “Astrophotography BT - Handbook of Practical Astronomy.” edited by Günter D Roth. Berlin, Heidelberg: Springer, 2009.

Subhan, M. Sholihat &. Rukyah Dengan Teknologi. Jakarta: Gema Insani Press, 1994.

Referensi

Dokumen terkait

ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 16 September 2012 berkisar antara 0,16 o. sampai dengan

Pada Gambar 3 ditampilkan peta umur Bulan saat Matahari terbenam tanggal 13 Oktober 2015. Umur Bulan adalah selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya

Pada Gambar 4 ditampilkan peta umur Bulan saat Matahari terbenam tanggal 16 Oktober 2012. Umur Bulan adalah selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya

Pada Gambar 4 ditampilkan peta umur Bulan saat Matahari terbenam tanggal 15 Agustus 2015. Umur Bulan adalah selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya

dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3, masing-masing saat Matahari terbenam tanggal 3 dan 4 Mei 2011. Pada ketiga gambar tersebut, ketinggian Hilal dinyatakan sebagai ketinggian

dalam islamicastro rumus tersebut juga dipakai untuk penentuan sudut waktu bulan, dengan mengacu data ephimeris ascensio recta dan sudut waktu matahari yang telah

25H Tidak berkemungkinan kerana ijtimak telah berlaku pada 19 Jun 646M (Isnin) dan data bulan di Damsyik pada ketika matahari terbenam hari tersebut menunjukkan hilal telah

Pada saat bulan terbenam setelah matahari terbenam, hilal telah berada tepat di ufuk atau di atas ufuk (dalam kalimat lain: irtifa’nya adalah 0 o atau lebih), oleh karena itu