• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

SEJARAH KELAS X DI SMA N 3 PADANG

JURNAL

ZELFI DEWI YANTI NPM: 10020060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG 2015

PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

SEJARAH KELAS X DI SMA N 3 PADANG

JURNAL

ZELFI DEWI YANTI NPM: 10020060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG 2015

PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

SEJARAH KELAS X DI SMA N 3 PADANG

JURNAL

ZELFI DEWI YANTI NPM: 10020060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2015

(2)

PROBLEMATIKA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKANKURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

SEJARAH DI KELAS X SMA NEGERI 3 PADANG

Oleh : Zelfi Dewi Yanti1

Zafri2 Ranti Nazmi3

Program Studi Pendidikan SejarahSTKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This research is motivated by the students still do not want to ask in the learning process.

On the basis of the problem of this research is focused on the problems of teachers in the learning process based curriculum in 2013 on the subjects of history in class X SMA 3 Padang. This study aimed to: describe the problems of teachers in implementing the learning process in the history of class X subjects in SMAN 3 Padang and teachers attempt to overcome the problems in the implementation of the learning process in the history of class X subjects in SMAN 3 Padang. The method used in this study is the evaluation study. The study was conducted in SMAN 3 Padang in the second semester of the school year 2014-2015. The informants were teachers of history of SMA 3 Padang were 3 people and principals. The validity of the data used triangulation of data.

The data analysis technique is an interactive analysis proposed by Milles Huberman, who reduction, presentation and conclusion. The results showed that: 1) the problem of teachers in the preliminary activities is the allocation of the available time. Problem on core activities, the activity observed that the real circumstances that exist in everyday life related to the lessons of history are rarely encountered, the activity is a willingness to question the student is still low for asking, try activities are the source of data taken by students generally uniform, the associate activity is the ability of the students to describe the data that is owned and communicate activities are student activity in conveying the knowledge that they have in the discussion, (2) Efforts subject teachers of history in SMAN 3 Padang to solve problems in the implementation of learning is to choose activities that are important , using appropriate methods and streamline time. The effort is taken to the implementation of learning based curriculum in 2013 to run well. It can be concluded that the problems of teachers in the learning process based on the 2013 curriculum subjects in the history of class X SMA 3 Padang is the preliminary activity and core activities. Efforts is to streamline the allocation of the available time.

Keyword: Implementation, curriculum in 2013

1Mahasiswa Prodi Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

2Dosen program studi pendidikanSejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

3Dosen program studi pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

(3)

PENDAHULUAN

Sistem pendidikan nasional yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidkan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-undang No.

20 tahun 2003 tentang Sisdiknas).

Mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, serta mempertimbangkan prinsisp-prinsip pendidikan serta perubahan- perubahan yang terjadi, maka perlu disusun kurikulum yang menjadi acuan dan pegangan lembaga pendidikan dalam merencanakan, mempersiapkan dan melaksanakan program- programnya. Berkaitan dengan hal tersbut di atas, maka pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang terus menerus baik secara konvensional maupun inovatif.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum baru diterapkan mulai bulan Juli tahun 2013.

Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, antara lain ingin mengubah pola pendidikan dari orientasi terhadap hasil dan materi kependidikan sebagai proses, melalui pendekatan tematik integratif. Oleh karena itu, dengan pembelajaran sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi, dan kebenaran secara ilmiah (Permendikbud No. 65

tahun 2013). Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter diharapkan mampu untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisai nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari (Mulyasa, 2013: 7).

Kurikulum 2013 ini berbeda secara prinsip dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada KTSP proses pembelajaran yang lebih dominan adalah aspek kognitif, psikomotor, dan afektif, sedangkan pada kurikulum 2013 dalam proses belajar mengajar yang lebih dominan adalah afektif, psikomotor, baru kognitif. Artinya siswa dalam proses lebih menonjolkan afektif dan psikomotornya. Proses Kurikulum 2013 sangat menekankan penyeimbangan antara aspek kognitif (intelektual), psikomotorik (gerak) dan afektif (sikap). Berbeda dengan KTSP 2006 yang pada tahap implemntasinya cenderung lebih fokus pada aspek kognitifnya. Standar proses pembelajaran juga berbeda. Perubahan yang signifikan terjadi pada penedekatan pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran yang pada awalnya menggunkan pendekatan behaviorisme dan kognitifisme pada KTSP, sementara kurikulum 2013 melakukan pendekatan konstrutivisme, dimana siswa dan lingkungannya sebagai sumber (student- centered leaning).

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 ini terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan dilakukan

(4)

secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik.

Peserta didik dituntut untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Pendekatan pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan kerangka ilmiah pembelajaran yang diusung oleh kurikulum 2013. Langkah-langkah pada pendekatan saintifik merupakan adaptasi dari langkah- langkah ilmiah pada sains. Beberapa model dan pendekatan yang dapat diterapkan dalam kurikulum 2013, selain pembelajaran kooperative (berkelompok) yaitu: (1) Pembelajaran dengan pendekatan Ilmiah; (2) Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual;

(3) Pembelajaran berbasis masalah; (4) Pembelajaran dengan pendekatan berbasis proyek; (5) Pembelajaran dengan pendekatan komunikatif (Loeloek, 2013).

Kegiatan pembelajaran dalam kurikulum 2013 terdiri dari 3 tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran,

yang meliputi proses observasi, menanya, mengumpulkan informasi, asosiasi, dan komunikasi.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada tanggal 18 Desember 2014 di SMA Negeri 3 Padang, kurikulum 2013 telah diterapkan. Fenomena yang peneliti lihat di lapangan, siswa masih belum bisa mengikuti alur kurikulum yang ditetapkan. Contoh nyata adalah siswa masih belum mau bertanya dalam proses belajar mengajar, karena siswa sudah terbiasa menerima keterangan dari guru.

Fenomena lain yang dapat dilihat di lapangan adalah guru kesulitan menalarkan materi pembelajaran yang sedang diajarkan serta mengumpulkan informasi dari siswa tentang materi pembelajaran sejarah

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi evaluasi dengan analisis kualitatif, karena peneliti berusaha mendeskripsikan dan memberikan gambaran mengenai problematika guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah Kelas X di SMA Negeri 3 Padang.

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Padang. Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2014-2015

Informan penelitian adalah guru sejarah yang mengajar di SMA N 3 Padang berjumlah 4 orang. tetapi yang mengajar dikelas X berjumlah 3 orang, karena guru tersebut sudah menggunakan kurikulum 2013 dan sudah mendapatkan pembekalan kurikulum 2013.

Sementara guru sejarah yang mengajar di kelas XII masih menerapkan KTSP maka dari itu hanya 3 orang guru sejarah yang dapat di wawancarai

(5)

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif (Interactive Model of Analysis).

Menurut Miles dan Huberman (1996:16) dalam model ini tiga komponen analisis, yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan, dilakukan dengan bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data (data collecting) sebagai suatu siklus

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Problematika Guru dalam Melaksanakan Proses Belajar Mengajar pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X di SMA Negeri 3 Padang

a. Problem dalam Kegiatan Pendahuluan Hasil pengamatan terhadap RPP yang dikembangkan oleh guru sejarah kelas X di SMA Negeri 3 Padang, pada kegiatan pendahuluan meliputi: 1) Memberikan salam, 2) Menanyakan kepada siswa kesiapan dan kenyamanan untuk belajar, 3) Menanyakan kehadiran siswa, 4) Mempersilahkan salah satu siswa memimpin do’a. Sehingga masih ada kekurangan pada kegiatan pendahuluan yang masih belum dilaksanakan oleh guru sejarah kelas X di SMA Negeri 3 Padang.

Hasil observasi yang penulis lakukan ketika EZ akan memulai pelajaran masih ada anak yang minta izin untuk masuk ke dalam kelas ketika kegiatan pendahuluan sudah selesai.

Hal ini mengganggu pelaksaan pembelajaran karena guru sudah memulai kegiatan pembelajaran

Hasil observasi ini sesuai dengan pernyataan guru sejarah, YA (wawancara Kamis 5 Februari 2015) sebagai berikut:

“Dalam kegiatan pendahuluan, belum terlaksana secara maksimal, karena waktu yang tersedia untuk kegiatan pendahuluan hanya 10 menit, sedangkan masih ada siswa yang belum masuk ke dalam lokal sehingga bapak harus menunggu mereka.

Sedangkan siswa dituntut lebih aktif dan guru dituntut mempergunakan waktu se- efektif dan se- efisien mungkin. Kadang-kadang kegiatan mereviuw materi pada pertemuan

terdahulu tidak bisa dilakukan sepenuhnya, mengingat materi yang direviuw tersebut banyak”.

Selanjutnya problem yang dialami guru sejarah kelas X dalam kegiatan pendahuluan seperti dikemukakan oleh EZ (wawancara Sabtu 7 Februari 2015)

“Kalau untuk pendahuluan hambatannya terjadi pada waktu yang tersedia hanya 10 menit, sedangkan untuk mengetahui pengetahuan siswa terhadap pembelajaran yang minggu lalu diperlukan waktu 15 atau 20 menit, beserta berdo’a, belum lagi anak- anak yang belum masuk ketika proses belajar mengajar dimulai”.

Problem yang sama juga dikemukakan oleh IR (Jum’at, 10 Februari 2015)

“Pada kegiatan pendahuluan, tidak terlalu ada masalah karena kegiatan tersebut hampir sama dengan kegiatan pada kurikulum sebelumnya. Kegiatan pendahuluan yang dilakukan adalah menyampaikan salam pada siswa, berdo’a sebelum belajar, memberi keterangan tentang materi, menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan materi pelajaran”.

Wawancara di atas terlihat problem yang dialami oleh guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang pada kegiatan pendahuluan, dari 3 orang guru, 2 orang guru mengalami problem dalam kegiatan pendahuluan. Problem yang dialami oleh guru berkaitan dengan waktu yang tersedia pada kegiatan pendahuluan sehingga tidak seluruh kegiatan dapat dilakukan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Sy (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Pengamatan yang dilakukan di sekolah ini, pada saat kegiatan belajar di kelas masih ada guru yang belum melakukan kegiatan pendahuluan secara utuh. Guru beralasan kegiatan mereview materi pada pertemuan sebelumnya agak sulit dilakukan karena waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut tidak mencukupi”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015)sebagai berikut:

(6)

“Pelaksanaan pembelajaran di sekolah kita ini umumnya lancar, tetapi masih ada guru yang menyatakan bahwa mereka kekurangan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses belajar mengajar sesuai dengan kurikulum 2013, terutama untuk kegiatan pendahuluan. Kegiatan pendahuluan sebenarnya membutuhkan waktu yang agak panjang karena guru harus mereview pelajaran pada pertemuan sebelumnya”.

Pelaksanaan kegiatan pendahuluan yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.1, MV, wawancara (12 Februari 2015) sebagai berikut: “Mata pelajaran sejarah di kelas kami ini jam pertama sehingga masih ada teman-teman yang terlambat masuk.

Pelajaran tetap dimulai tetapi kadang terganggu karena teman masuk sehingga kami hanya sempat berdoa sebelum guru memulai pelajaran. Guru tidak dapat menjelaskan kembali pelajaran minggu lalu”.

Hasil wawancara dan observasi penulis di lapangan, terlihat problem guru dalam kegiatan pendahuluan pembelajaran aktifitas yang dilakukan hanya memberi salam kepada siswa, membaca do’a, dan mengabsen siswa sedangkan untuk kegiatan mereview tidak dilakukan sama sekali dan guru langsung menuju kegiatan inti, mengingat waktu yang terbatas untuk kegiatan pendahuluan.

Problem yang dihadapi oleh guru pada kegiatan pendahuluan adalah alokasi waktu yang tersedia terlalu sedikit sehingga tidak semua kegiatan pendahuluan dapat dilakukan.

Alokasi waktu yang disediakan yaitu 15 menit belum mencukupi untuk kegiatan mereview pelajaran minggu lalu.

b. Problem dalam Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sesuai dengan karakteristik sejarah sebagai bagian dari social science, pembelajaran sejarah harus merefleksikan kompetensi sikap ilmiah, berfikir ilmiah, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan

pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data/ informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

1) Problem dalam proses mengamati Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.

Hasil observasi pada proses pembelajaran sejarah ke kelas X IIS.1, banyak siswa yang tidak mengumpulkan tugas ketika disuruh mencari, dan mengamati keadaan yang ada di lingkungan mereka sendiri tentang wujud akulturasi penyebaran agama Hindu- Budha di Indonesia.

Hasil observasi ini sesuai dengan pernyataan YA (wawancara Kamis 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Pelaksanaan kurikulum 2013 ini menuntut situasi nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari berupa fakta.

Berkaitan dengan hal itu, problem utama adalah mencari informasi karena informasi yang tersedia saat ini umumnya tidak ada, paling melalui buku saja. Jadi, siswa hanya dapat mengamati dari buku, bukan dari keadaan nyata”.

Pernyataan yang sama dikemukakan oleh Bapak EZ (wawancara Jum’at, 12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Pelaksanaankegiatan inti berdasarkan kurikulum 2013 ini memang berat sehingga banyak problem yang didapatkan dalam implmentasinya, diantaranya siswa tidak dapat mengamati keadaan nyata dalam kehidupan sehari-hari seluruh materi pelajaran sejarah. Keadaan nyata yang berkaitan dengan mata pelajaran sejarah umumnya ada di museum”.

Hasil wawancara dengan bapak EZ diperkuat ketika penulis melakukan Hasil observasi tersebut didukung pernyataan guru sejarah, IR (Jum’at, 10 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kegiatan mengamati mengharuskan siswa menghubungkan mata pelajaran sejarah dengan kehidupan sehari-hari mereka, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari sudah jarang ditemui

(7)

peristiwa atau keadaan yang ada hubungannya dengan materi pelajaran sejarah. Siswa terpaksa mengandalkan dari buku dan mendengar atau menyimak saja”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Sy (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut: “Memang banyak problem dikeluhkan oleh guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan petunjuk yang ada. Khusus guru mata pelajaran sejarah, kami mendapatkan keluhan bahwa siswa tidak dapat melakukan pengamatan terhadap materi pelajaran sejarah yang dipelajari”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kegiatan inti merupakan kegiatan yang berbeda dibandingkan dengan kurikulum KTSP, sehingga masih banyak guru yang menghadapi masalah dalam menerapkannya. Apalagi untuk mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran, merupakan masalah yang termasuk sulit karena langkah-langkah yang harus dilakukan termasuk banyak”.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.1, Ma, wawancara (Kamis, 12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Ketika belajar sejarah, guru memberi arahan kepada kami untuk mencari bukti sejarah yang ada di lingkungan tempat tinggal kami, tetapi banyak yang tidak dapat memberi keterangan tentang bukti sejarah tersebut, karena kami tidak tahu apa itu bukti sejarah yang ada di lingkungan kami karena bukti sejarah sudah habis”.

Wawancara dan hasil observasi di atas terlihat jelas bahwa problem yang dihadapi oleh guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang pada kegiatan mengamati adalah keadaan nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pelajaran sejarah, karena materi pelajaran sejarah umumnya berkaitan dengan masa lalu dan bukti untuk saat ini pun sudah banyak yang hilang.

Problem yang dialami oleh guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang dalam kegiatan mengamati adalah fakta sejarah yang akan dikemukakan oleh guru

tidak ditemukan atau sudah jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini dinyatakan oleh 3 orang guru mata pelajaran sejarah yang mengajar berdasarkan kurikulum 2013. Fakta untuk pelajaran sejarah saat ini sulit ditemukan sehingga guru menggunakan media lain yang mirip dengan benda-benda sejarah tersebut

2) Problem dalam proses Menanya Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum dan teori, hingga berpikir metakognitif.

Melalui kegiatan menanya ini siswa diharapkan dapat berpikir tingkat tinggi secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.

Hasil observasi yang penulis lakukan, banyak siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan guru ketika guru atau teman mereka melemparkan pertanyaan kepada salah satu siswa. Siswa tersebut hanya diam dan menanyakan jawaban kepada teman sebelahnya.

Problem kegiatan menanya juga terjadi ketika guru memberikan waktu kepada siswa untuk menanyakan hal- hal yang kurang mereka pahami tentang pelajaran.

Hasil observasi tersebut sesuai dengan pernyataan guru, YA (wawancara Kamis 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Sulit untuk menanya pengetahuan siswa, karena siswa belum menguasai konsep sejarah. teori-teori yang ada pada pelajaran sejarah umumnya belum dikuasai oleh siswa, sehingga siswa tidak mampu untuk menguraikan materi sejarah tersebut secara baik, sementara guru seharunya dapat menanya kepada siswa tentang materi yang dipelajari”.

Selanjutnya Bapak EZ (wawancara Jum’at, 12 Februari 2015) mengemukakan sebagai berikut:

“Pengetahuan awal mengenai materi pelajaran sejarah siswa kurang sehingga guru kesulitan untuk menanya pada siswa tentang materi yang dipelajari. Siswa terbiasa mendengar keterangan guru dan belum terbiasa belajar sendiri, terlebih lagi siswa

(8)

masih kurang aktif bertanya tentang materi yang sedang dipelajari”.

Berikutnya, IR (Jum’at, 10 Februari 2015) mengemukakan:

“Sebenarnya dalam kegiatan menanya ini sudah diberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum diketahui berkaitan dengan materi yang dipelajari. Hal ini terjadi karena kegiatan pembelajaran seperti ini baru diterapkan di sekolah kita sejalan dengan penerapan kurikulum 2013. Selama ini siswa lebih banyak mendengar penjelasan dari guru tentang materi pelajaran”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Bapak Sy, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Pelaksanaan kurikulum 2013 ini memang menitikberatkan pada aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, sedangkan siswa kita selama ini lebih condong untuk mendengar penjelasan dari guru saja. Guru menyatakan bahwa mereka kesulitan untuk memancing pertanyaan yang muncul dari siswa”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015)sebagai berikut:

“Kegiatan tanya jawab sebenarnya kegiatan yang umum dalam pembelajaran, tetapi ketika kegiatan tersebut menyangkut materi pelajaran, banyak siswa yang tidak dapat menjawabnya. Hal ini terjadi karena penggunaan kurikulum 2013 ini masih baru, sementara siswa selama ini terbiasa mendengar keterangan guru saja”.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.3, Cd, wawancara (12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Guru sejarah sekarang banyak bertanya kepada kami, terutama tentang materi yang sedang beliau ajarkan. Kebanyakan dari kami tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru, apalagi materi yang belum kami pelajari. Guru juga menyuruh kami untuk bertanya tentang materi yang beliau ajarkan, tetapi sedikit siswa yang mau bertanya”.

Hasil observasi dan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa problem yang dihadapi oleh guru pada kegiatan menanya pada proses pembelajaran adalah kemauan siswa yang masih rendah untuk bertanya pada guru tentang materi yang sedang dipelajari dan kurang pahamnya siswa terhadap materi pelajaran.

Problem yang dialami oleh guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang dalam kegiatan menanya adalah pengetahuan siswa tentang materi masih kurang dan siswa kurang aktif dalam bertanya tentang materi pelajaran. Hal ini terlihat bahwa 3 orang guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang mengalami problem yang hampir sama dalam kegiatan menanya.

3) Problem dalam proses mencoba Kegiatan mencoba bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa untuk memperkuat pemahaman konsep dan prinsip dengan mengumpulkan data, mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah.

Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data.

Hasil observasi yang penulis lakukan, banyak siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan guru ketika guru atau teman mereka melemparkan pertanyaan kepada salah satu siswa. Siswa tersebut hanya diam dan menanyakan jawaban kepada teman sebelahnya.

Problem kegiatan menanya juga terjadi ketika guru memberikan waktu kepada siswa untuk menanyakan hal- hal yang kurang mereka pahami tentang pelajaran.

Problem yang dialami guru dalam kegiatan mencoba seperti dikemukakan oleh YA (wawancara Jumat, 13 Februari 2015)

“Kegiatan mencoba dalam pelajaran sejarah lebih banyak diberikan dalam bentuk tugas untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Data yang dikumpulkan oleh siswa tersebut dijadikan dalam bentuk karya ilmiah.

Untuk kegiatan mencoba ini, sampai saat ini belum ditemui permasalahan pada mata pelajaran sejarah karena data yang dapat dikumpulkan oleh siswa sumbernya banyak”.

Hal ini senada dengan pernyataan IR (wawancara Kamis, 12 Februari 2015) sebagai berikut: “Untuk kegiatan mencoba diimplementasikannya dalam bentuk tugas yang diberikan kepada siswa yaitu

(9)

mengumpulkan data tentang materi yang dipelajari. Siswa juga ditugaskan untuk menjadikannya dalam bentuk karya ilmiah dan dibuat secara berkelompok dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya”

Hal yang berbeda dinyatakan oleh IR (Senin, 10 Februari 2015) yang mengemukakan

“Kegiatan mencoba seharusnya diterapkan dalam mengumpulkan data, hal ini telah dilakukan. Problem yang ditemui adalah seragamnya data yang didapatkan oleh siswa karena siswa menggunakan internet dalam mencari data tersebut, tidak melakukan observasi langsung ke lapangan. Hal ini tidak menambah pengetahuan siswa melalui pengumpulan data”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Bapak Sy, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013, siswa juga diharapkan dapat mengumpulkan data dan mengerti tentang data yang mereka kumpulkan tersebut. Melalui data tersebut, siswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran. Karena data yang dikumpulkan berkaitan dengan materi”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015)sebagai berikut:

“Kegiatan inti pada kurikulum 2013 ini sebenarnya menarik, tetapi masih sulit untuk diterapkan sepenuhnya oleh guru. Hal ini tidak terlepas dari kesiapan guru itu sendiri serta kondisi siswa. Guru memang telah dibekali dengan pelatihan implementasi kurikulum 2013, tetapi ketika menerapkannya di kelas, kondisi siswa tidak memungkinkan untuk menerapkannya”.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.3, Aa (wawancara 12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kami banyak menerima tugas dari guru, terutama tentang materi yang beliau ajarkan. Kami kesulitan mencari sumbernya, sehingga banyak memanfaatkan internet untuk

menyelesaikan tugas tersebut. Guru tetap menerima tugas dan dibahas pada pertemuan selanjutnya secara bersama- sama di kelas”.

Wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa problem yang dihadapi oleh guru pada kegiatan mencoba yaitu adalah sumber data yang diambil oleh siswa umumnya seragam dan diambil dari sumber yang sama.

Problem dalam kegiatan mencoba yaitu adalah sumber data yang diambil oleh siswa umumnya seragam dan diambil dari sumber yang sama, disamping itu siswa juga lebih banyak memanfaatkan literatur dan internet.

Sedangkan 2 orang guru lain tidak mengalami kendala dalam kegiatan mencoba.

4) Problem dalam proses mengasosiasi Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-hubungan yang spesifik. Siswa dapat memanfaatkan panduan yang ada pada LKS. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan siswa berpikir kritis hingga berpikir metakognitif.

Hasil observasi yang peneliti lakukan, terlihat bahwa problem guru dalam kegiatan mengasosiasi terlihat dalam memilah data yang telah dikumpulkan oleh siswa. Data yang dikumpulkan oleh siswa umumnya data mentah.

Hasil observasi tersebut sesuai dengan pernyataan YA (wawancara Jumat, 13 Februari 2015)

“Untuk kegiatan mengasosiasi, problem yang dialami adalah menghubungkan data yang telah didapatkan oleh siswa serta menghubungkan data tersebut dengan materi. Siswa juga belum mampu untuk mengolah data yang mereka dapatkan”

Hal senada dikemukakan oleh EZ (wawancara Kamis, 12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kegiatan mengoasioasi prinsipnya adalah menceritakan data yang diketahui oleh siswa dan hubungannya dengan materi pelajaran. Siswa kurang mampu untuk menjelaskan hubungan data dengan materi, karena data yang mereka miliki masih terlalu sedikit dan umumnya berupa data mentah sehingga sulit untuk diklasifikasikan”

Berikutnya, IR (Jum’at, 13 Februari 2015) mengemukakan “Mengasosiasi ini

(10)

termasuk sulit untuk dilakukan di dalam kelas, tetapi tetap dilaksanakan sesuai dengan panduan kurikulum 2013. Problem utama adalah data yang dimiliki siswa terlalu sedikit dan tidak beragam sehingga ketika diskusi topik yang didiskusikan tersebut tidak berkembang”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Bapak Sy, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut: “Kegiatan mengaosiasi dalam pelajaran adalah langkah baru sehingga dalam penerapannya guru masih kesulitan. Kesulitan tersebut terutama berkaitan dengan data-data yang akan didiskusikan di dalam kelas. Data-data tersebut diambil oleh siswa dari berbagai sumber dan ditugaskan mencarinya secara berkelompok”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kegiatan inti salah satunya adalah mengasosiasi prinsipnya adalah melihat sejauh mana siswa dapat berpikir kritis tentang materi dan data yang mereka peroleh. Kegiatan mengasosiasi ini menuntut aktivitas siswa dalam pembelajaran sejarah sehingga siswa dapat lebih paham terhadap materi yang diajarkan”.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.2, Fk (wawancara, 12 Februari 2015) sebagai berikut: “Ketika belajar sejarah kami disuruh menceritakan tentang tugas yang beliau berikan. Sedikit dari kami yang bisa untuk menceritakannya, apalagi bercerita di depan kelas. Kami kesulitan untuk menceritakan karena bukti tidak didapatkan di lapangan, hanya dari buku dan dari internet”.

Wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa problem dalam kegiatan mengasosiasi. Problem ini umumnya berkaitan dengan kemampuan siswa untuk menceritakan data yang dimiliki dengan materi pelajaran serta jumlah data yang mampu dikumpulkan oleh siswa terlalu sedikit.

Problem dalam kegiatan mengasosiasi umumnya berkaitan dengan kemampuan siswa untuk menceritakan data yang dimiliki dengan materi pelajaran serta

jumlah data yang mampu dikumpulkan oleh siswa terlalu sedikit.

5) Problem dalam proses mengkomunikasikan

Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk karya.

Hasil observasi ketika penulis masuk ke dalam kelas, siswa sedang melakukan diskusi kelompok, hanya beberapa siswa yang aktif untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, ataupun menambahkan pendapat mereka tentang materi pelajaran.

Hasil observasi tersebut sesuai dengan pernyataan guru, YA (wawancara Jumat, 13 Februari 2015). “Tidak seluruh siswa mampu untuk menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki, terutama ketika diadakan kegiatan diskusi. Kalau dari segi laporan, baik individu maupun kelompok umumnya sudah baik karena siswa menyusunnya dengan format yang telah ditetapkan. Tetapi siswa umumnya kurang memiliki pengetahuan”

Hal yang sama dikemukakan oleh Ez (wawancara Kamis, 12 Februari 2015) sebagai berikut: “Kegiatan mengkomunikasikan ini bapak terapkan dalam bentuk diskusi, tetapi ketika diskusi hanya sedikit siswa yang mampu untuk menyampaikan hasil diskusi secara baik.

Bahkan dalam kegiatan diskusi, hanya siswa tertentu saja yang selalu tampil”.

Berikutnya, IR (Selasa, 10 Februari 2015) mengemukakan “Kegiatan diskusi yang dilakukan dalam kelas umumnya baik, tetapi keaktifan siswa yang masih kurang sehingga untuk menilai pengetahuan siswa termasuk susah. Kegiatan diskusi ini merupakan bentuk kegiatan mengkomunikasikan pembelajaran diantara siswa”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Sy (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut: “Kegiatan pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ini memang banyak menuntut diterapkannya model pembelajaran kelompok dan diskusi.

(11)

Guru di sekolah ini umumnya telah mengembangkan model belajar kelompok dan diskusi dalam pembelajaran, tetapi mengalami problem dengan aktivitas siswa dalam diskusi tersebut”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015)sebagai berikut:

“Guru dituntut untuk menerapkan berbagai model pembelajaran, tujuannya adalah pembelajaran berjalan menarik dan siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga menuntut adanya komunikasi diantara siswa sehingga mereka dapat lebih memahami tentang pelajaran yang diberikan oleh guru”.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.2, Ls, wawancara (12 Februari 2015) sebagai berikut:

“Kami diharuskan dapat

menyampaikan materi pelajaran kepada teman-teman dengan cara mempresentasikan hasil kerja kelompok. Masalahnya, kesimpulan dari kerja kelompok kami itu kadang- kadang sama saja, walaupun sumber yang diambil berbeda. Dalam penyampaian materi, kadang guru menambahkan keterangan”.

Hasil observasi dan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa problem yang dialami oleh guru dalam kegiatan mengkomunikasikan adalah keaktifan siswa dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki serta keaktifan ketika mengadakan diskusi.

Seluruh guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang mengalami problem dalam kegiatan mengkounikasikan. Problem yang dialami oleh guru berkaitan dengan keaktifan siswa dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki serta keaktifan ketika mengadakan diskusi.

c. Problem dalam Kegiatan Penutup Kegiatan penutup adalah rangkaian terakhir dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Kegiatan penutup ini diantaranya adalah membuat rangkuman tentang materi yang diajarkan, melakukan penilaian, memberikan umpan balik tentang materi serta

menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

Hasil observasi yang peneliti lakukan terlihat bahwa problem dalam kegiatan penutup umumnya tidak ada, karena kegiatan penutup dalam kurikulum 2013 ini umumnya hampir sama dengan KTSP.

Hasil observasi ini sesuai dengan pernyataa YA (wawancara Kamis 12 Februari 2015). “Problem dalam kegiatan penutup umumnya tidak ada, karena pada kurikulum 2013 siswa yang harus aktif, sehingga tugas yang diberikan kepada siswa harus banyak untuk lebih memahami pelajaran. Kalau merangkum pelajaran yang telah diajarkan telah biasa dilakukan”.

Selanjutnya EZ (wawancara Sabtu, 7 Febrruari 2015) mengemukakan sebagai berikut. “Problem dalam kegiatan penutup diantaranya menyimpulkan pelajaran, karena pada kurikulum 2013 ini siswa lebih aktif sehingga siswa mengambil kesimpulan mereka secara individu sehingga kita susah untuk menyimpulkan lagi dari pendapat masing-masing siswa”

Senada dengan hal tersebut IR (wawancara Selasa, 10 Februari 2015) mengemukakan sebagai berikut: “Untuk kegiatan penutup umumnya tidak ada masalah, karena waktu yang tersedia mencukupi dan untuk merangkum materi pelajaran tidak butuh waktu yang lama”

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Sy (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut: “Implementasi kurikulum 2013 dalam pelaksanaan pembelajaran, khusus untuk kegiatan penutup hampir sama dengan kurikulum sebelumnya sehingga guru tidak mengalami kesulitan untuk menerapkannya di dalam kelas”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Langkah terakhir dari pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas adalah kegiatan penutup. Kalau diamati, kegiatan penutup pada kurikulum 2013 ini tidak terlalu berbeda dengan kurikulum sebelumnya, sehingga dapat dilaksanakan oleh guru”.

Pelaksanaan kegiatan penutup pelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah juga dikemukakan oleh siswa kelas X IIS.1, MV, wawancara (12 Februari 2015) sebagai berikut: “Setelah guru menerangkan pelajaran dan jam pelajaran hampir habis,

(12)

biasanya guru merangkum pelajaran dan memberikan tugas kepada kami, ada juga guru yang melakukan kuis”.

Wawancara di atas terlihat 3 orang guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang tidak mengalami problem dalam kegiatan penutup. Hal ini terjadi karena kegiatan penutup pada kurikulum 2013 hampir sama dengan KTSP dan juga waktu yang disediakan mencukupi untuk kegiatan penutup ini.

Keseluruhan dari hasil observasi dan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa problem yang dialami oleh guru dalam kegiatan pendahuluan adalah alokasi waktu yang tersedia terlalu sedikit sehingga tidak semua langkah pada kegiatan pendahuluan dapat dilakukan.

Problem pada kegiatan inti diantaranya, problem dalam kegiatan mengamati adalah sulitnya siswa menemukan keadaan nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pelajaran sejarah, karena materi pelajaran sejarah umumnya berkaitan dengan masa lalu dan bukti untuk saat ini pun sudah banyak yang hilang. Problem yang dihadapi oleh guru pada kegiatan menanya pada proses pembelajaran adalah kemauan siswa yang masih rendah untuk bertanya pada guru tentang materi yang sedang dipelajari. Problem yang dihadapi oleh guru pada kegiatan mencoba yaitu adalah sumber data yang diambil oleh siswa umumnya seragam dan diambil dari sumber yang sama. problem dalam kegiatan mengasosiasi. Problem ini umumnya berkaitan dengan kemampuan siswa untuk menceritakan data yang dimiliki dengan materi pelajaran serta jumlah data yang mampu dikumpulkan oleh siswa terlalu sedikit. Problem yang dialami oleh guru dalam kegiatan mengkomunikasikan adalah keaktifan siswa dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki serta keaktifan ketika mengadakan diskusi. Kegiatan penutup, guru tidak mengalami problem karena sudah hampir sama dengan KTSP dan alokasi waktu mencukupi.

Selutuh guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri 3 Padang mengalami problem dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran

2. Upaya guru untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 3 Padang

Upaya guru untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 3 Padang, diantaranya dalam

kegiatan inti. Upaya yang dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran dalam kelas dikemukakan oleh IR (wawancara Jumat, 13 Februari 2015)

“Terbatasnya waktu pada kegiatan pendahuluan bapak upayakan dengan menjalankan kegiatan yang sangat perlu dan menghilangkan kegiatan yang kurang perlu, sedangkan pada kegiatan inti, bapak sesuaikan dengan materi yang sedang dipelajari, karena tidak semua kegiatan inti dapat dilakukan pada mata pelajaran sejarah”.

Selanjutnya upaya guru sejarah kelas XI dalam kegiatan pembelajaran seperti dikemukakan oleh Bapak EZ (wawancara Kamis, 12 Februari 2015)

“Upaya yang bapak lakukan untuk mengatasi kendala atau masalah dalam pelaksanaan pembelajaran adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang cocok dengan materi pelajaran. Setiap metode atau model pembelajaran belum tentu cocok untuk setiap materi, sehingga setiap belajar kita menggunakan model yang berbeda”.

Selanjutnya problem yang sama dikemukakan oleh IR (Selasa, 10 Februari 2015): “Upaya ibu adalah mencocokkan materi dengan metode yang digunakan, mengefektifkan waktu dengan materi pembelajaran serta membuat siswa memiliki kreativitas yang tinggi ketika belajar”.

Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah, Sy(Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut: “Melihat banyaknya problem dan masalah yang muncul dalam implementasi kurikulum 2013 ini, kami pihak sekolah menganjurkan kepada guru untuk menerapkannya sesuai dengan kondisi sekolah, karena kalau dipaksakan nantinya hasil belajar siswa tidak baik”.

Pernyataan kepala sekolah tersebut didukung oleh wakil kepala sekolah, Ad, (Jum’at, 13 Februari 2015) sebagai berikut:

“Sehubungan dengan diterapkannya kurikulum di SMA N 3 ini, kami menyadari bahwa masih banyak hambatan dalam pelaksanaannya. Untuk itu, kami harapkan guru dapat mencari upaya agar pelaksanaan kurikulum 2013 ini dapat berjalan dengan baik”.

(13)

Wawancara di atas terlihat upaya guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Padang untuk mengatasi problem dalam pelaksanaan pembelajaran diantaranya adalah memilih kegiatan yang penting, menggunakan metode yang tepat serta mengefektifkan waktu. Upaya tersebut ditempuh agar pelaksanaan pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 dapat berjalan dengan baik

KESIMPULAN

problematika guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 3 Padang sebagai berikut:

1) Problem yang dialami oleh guru dalam kegiatan pendahuluan adalah alokasi waktu yang tersedia terlalu sedikit sehingga tidak semua langkah pada kegiatan pendahuluan dapat dilakukan. Problem pada kegiatan inti diantaranya, keadaan nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan pelajaran sejarah jarang ditemui, pada kegiatan menanya adalah kemauan siswa yang rendah untuk bertanya tentang materi yang sedang dipelajari, pada kegiatan mencoba adalah sumber data yang diambil oleh siswa seragam dan sumber sama, dalam kegiatan mengasosiasi adalah kemampuan siswa menceritakan data yang dimiliki dengan materi pelajaran serta jumlah data yang mampu dikumpulkan oleh siswa terlalu sedikit dan dalam kegiatan mengkomunikasikan adalah keaktifan siswa dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki serta keaktifan ketika mengadakan diskusi dan 2) Upaya guru untuk mengatasi problem dalam pelaksanaan pembelajaran diantaranya adalah memilih kegiatan yang penting, menggunakan metode yang tepat serta mengefektifkan waktu

DAFTAR PUSTAKA

Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Burhan bugin. 2007. Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya). Jakarta:

Kencana Prenada Media

Depdiknas. 2005. Badan Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Permendiknas Nomor 19 tahun 2005

______. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka.

Oemar Hamalik. 2012. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Loeloek E P. 2013. Panduan memahami Kurikulum 2013. Penerbit PT. Prestasi Pustakarya. 2013

Iskandar. 2009. Metode Penelitian Kualitatif.

Jakarta: Gaung Persada

Buchori muchtar. 2009. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. Yogyakarka:

Tiara Wacana Yogya

Mulyasa 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:

Remaja Rosdakarya

Nana Sudjana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Nana Sudjana. 2011. Media Pengajaran.

Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Ngainum Nain, 2009. Menjadi Guru Inspiratif Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa . Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Poerwati dan Sofan Amri. 2013. Panduan Memahami Kurikulum 2013 (Sebuah Inovasi Struktur Kurikulum Penunjang Masa Depan. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013

(14)

Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar.

Yokyakarta: Pustaka Belajar.

Oemar Hamalik. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Redaksi Fokus Media. 2005. Standar Nasional Pendidikan (SNP). Bandung: Fokusmedia Sabri, Ahmad. 2005. Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta : Quantum Theaching

Sarwidji Swandi. 2006. Kurikulum dan Pengembangan Materi Ajar. Surakarta:

Universitas Sebelas Maret.

Sudarwan Damin, 2010. Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfaberta Sofan Amri. 2013. Pengembangan dan Model

Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013.

Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

Sutopo, HB. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UniversitasSebelas Maret Surakarta

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang diperoleh mengenai pengaruh perputaran aset terhadap pertumbuhan laba perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek

Hal ini karena dalam proses pembelajaran selalu menggunakan metode ceramah, sehingga guru yang lebih aktif dan siswa kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran, serta kurang