• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PROTEIN DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN SDSPAGE (Sodium dodecyl sulfate- polyacrylamide gel electrophoresis)

N/A
N/A
Riyan Agustian

Academic year: 2024

Membagikan "PROFIL PROTEIN DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN SDSPAGE (Sodium dodecyl sulfate- polyacrylamide gel electrophoresis) "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL PROTEIN DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN SDS- PAGE (Sodium dodecyl sulfate- polyacrylamide gel electrophoresis)

PROTEIN PROFILE OF BEEF AND PORK USING SDS-PAGE (Sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis)

Riyan Agustian1a

1 Sarjana Teknologi Pangan, Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720.

a Korespondensi: Nama Lengkap Penulis, E-mail: [email protected] (Diterima: dd-mm-yyyy; Ditelaah: dd-mm-yyyy; Disetujui: dd-mm-yyyy)

ABSTRACT

Limited stock of beef accompanied by soaring demand for beef ahead of national religious holidays (HBKN) often leads to rising beef prices. This is sometimes misused by some unscrupulous traders who want to get more profit, one of which is to commit falsification (food fraud) by mixing halal beef with non-halal meat such as pork. pork based on its molecular weight using the SDS-PAGE method (Sodium dodecyl-sulfate polyacrylamide gel electrophoresis). Data analysis was carried out qualitatively based on the calculation of the molecular weight (MW) of each protein based on available markers. Calculations are made by measuring the total tracking distance from the stacking gel to the separating gel (a), followed by measuring the tracking distance from the stacking gel to each protein band, then looking for the retardation factor (Rf), the results of the SDS-PAGE analysis can distinguish specific gravity protein molecules in beef and pork but in the profile of the type of protein in beef, pork, they experience the same name in the name of the protein type. For the type of protein in cattle based on research results found Miosin, Lysozyme. Ovalbumin. While in pigs found types of protein Miosin, Lysozyme, Aprotinin.

Soybean Trypin Inhibitor. Ovalbumin, Carbonic Anhydrase Keywords: sds-page, molecular weight, beef, pork

ABSTRAK

Stok daging sapi yang terbatas dan permintaan daging sapi yang tinggi jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) kerap berimbas pada kenaikan harga daging sapi. Hal ini kadang disalahgunakan oleh beberapa oknum pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak, salah satunya yaitu melakukan pemalsuan (food fraud) dengan cara mencampurkan daging sapi yang halal dengan daging yang tidak halal seperti babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenis protein pada daging sapi dan daging babi berdasarkan berat molekulnya menggunakan metode SDS-PAGE (Sodium dodecyl-sulfate polyacrylamide gel electrophoresis). Analisis ata dilakukan dengan cara kuantitatif berdasarkan perhitungan berat molekul (BM) dari masing-masing protein yang didasarkan pada marker yang tersedia. hasil analisis sds-page dapat membedakan berat jenis molekul protein pada daging sapi dan daging babi namun pada profil jenis protein daging sapi daging babi mengalami kesama dalam nama jenis protein. Untuk dari jenis protein pada sapi berdasarkan hasil penelitian ditemukan miosin, lysozyme. ovalbumin. Sedangkan pada babi ditemukan jenis protein miosin, lysozyme, aprotinin.

Soybean-trypin-inhibitor. ovalbumin, carbonic anhydrase.

Kata kunci: sds-page, berat molekul, daging sapi, daging babi

Riyan Agustian. 2023. PROFIL PROTEIN DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN SDS-PAGE (Sodium dodecyl sulfate- polyacrylamide gel electrophoresis) Jurnal Ilmiah Pangan Halal , Vol (tahun 1/2), halaman pertama- halaman terakhir

(2)

PENDAHULUAN

Stok daging sapi yang terbatas dibandingkan dengan permintaan daging sapi yang melonjak menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) mengakibatkan naiknya harga daging sapi. Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak dengan melakukan pemalsuan (food fraud), yaitu mencampurkan daging sapi yang halal dengan daging yang tidak halal seperti babi (Nida et al., 2020). Salah satu penyebab penggunaan daging babi sebagai pengoplos daging sapi adalah karena kesamaan warna, tekstur dan seratnya (Rahma, 2016).

Menurut Pasal 1 Ayat 5 Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 (PP 69/1999) Pemerintah Republik Indonesia tentang Label dan Iklan Pangan, pangan halal adalah pangan yang tidak mengandung zat atau bahan apa pun yang cocok atau dilarang untuk dikonsumsi secara Islami, serta bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong genetik lainnya, termasuk bahan penolong motor genetik dengan bahan penolong yang Islami, yang dilaksanakan dalam Islam oh hukum agama. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga perhatian yang besar harus diberikan pada ketersediaannya.

. Sifat halal pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam konsumsi pangan.

Makanan halal harus bebas babi, baik sebagai bahan dasar, sebagai bahan tambahan maupun dalam proses produksinya. (Andriyani et al. 2019).

Adanya komponen babi, sekecil apapun konsentrasinya dalam bahan makanan, membuat makanan tersebut tidak halal untuk dikonsumsi.

Berbagai metode analisis telah dilakukan pada penelitian dengan tujuan untuk mengetahui adanya pemalsuan pada daging antara lain: Solid Phase Microextraction Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (SPME-GC/MS) yang dapat mengidentifikasi pemalsuan daging sapi dengan daging celeng (Amalia et al., 2022).

Metode elektroforesis digunakan untuk

mengindentifikasi protein dari daging babi, sapi, kuda dan domba (Montowska dan Pospiech 2007), metode Fourier-transform Infrared Spectroscopy (FTIR) digunakan untuk autentifikasi daging unggas (Ellis et al. 2005). Metode analisis lainnya adalah Real-Time PCR yang telah digunakan untuk membedakan daging babi, ayam, kambing, sapi, dan unta (Cheng et al. 2015), juga pemalsuan daging sapi oleh daging tikus (Suryawan et al. 2020). Sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) pernah digunakan untuk mengindentifikasi protein dari daging sapi, domba, kuda, rusa merah, kambing dan kelinci berdasarkan identifikasi protein otot dan sarkoplas (Montowska dan Pospiech 2007).

Identifikasi protein pada daging sapi dan daging babi menggunakan salah satu jenis elektroforesis SDS gel poliakrilamida, SDS PAGE sendiri dapat diniliai lebih menguntungkan. Hal ini disebabkan karena waktu pengujiannya relatif lebih singkat dan besarnya pori medium penyangga serta adanya perbandingan konsentrasi akrilamida dan bis-metilen-akrilamida. Selain itu gel ini tidak menimbulkan konveksi dan bersifat transparan (Bintang, 2010)

Pada penelitian ini diteliti profil protein daging sapi dan daging dan daging babi menggunakan berdasarkan dari berat molekul proteinnya untuk mengetahui apakah jenis protein dapat diketahui menggunakan metode SDS-PAGE.

MATERI DAN METODE Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam proses ekstraksi antara lain sampel daging sapi dan babi, air dan dapar fosfat pH 7, sodium dodesil sulfat, tri-HCl pH 6,8 dan 8,8, TEMED, mercaptoethanol, dan protein tracer. Dan alat yang digunakan antara lain hot plate, beaker, tabung reaksi, dudukan tabung reaksi, penjepit, pisau pengaduk, lumpang, tabung centrifuge.

Waktu dan Tempat Penelitian

(3)

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Pengolahan Pangan, Departemen Ilmu Pangan Halal, Universitas Djuanda dan Laboratorium Bioteknologi, Pusat Penelitian Primata, Institut Pertanian Bogor, pada November 2022 hingga Maret 2023.

Prosedur Penelitian 1. Ekstraksi Protein

Setiap sampel daging dipotong dengan ukuran 1x1x1 cm. Sampel daging direbus masing-masing 15 menit setelah air mendidih. Hingga 5 g daging rebus segar dicincang lalu ditumbuk dalam lesung.

Daging yang sudah dimurnikan ditambahkan 5 ml buffer 0,1 M dengan pH 7,0 dan disentrifugasi pada 3000 rpm selama 10 menit menggunakan centrifuge dingin. (Widodo, et al.,2015)

Pembuatan Larutan Buffer Posfat a) Larutan A : 0,2 M larutan Na-

phosphat monobasis (27,8 g dalam 1000 ml)

b) Larutan B : 0,2 M larutan Na- phosphat dibasis (52,65 g

c) Na2HPO47H2O atau 71,7 g Na2HPO4

12 H2O dalam. 1000 ml)

d) Perhitungan : x ml larutan A + y ml larutan B, diencerkan sampai 200 ml.

2. Pembuatan Gel Pemisah

Siapkan gel run pada konsentrasi 12,5% (solusi gel/lapisan bawah) yang terdiri dari 3200 l dH2O ditambah 2500μ l Tris-HCL 1,5 M pH 8,8; 100 l 10%

μ μ

larutan SDS; 4.050 l larutan akrilamidaμ 30%; 50 µl larutan APS 10%; 16 lμ TEMED) dan gel susun 4% (lapisan atas) yang terdiri dari 3050 l dH2O denganμ 1250 l 0,5 M Tris-HCL pH 6,8μ ditambahkan; 50 l 10% larutan SDS; 650μ l larutan akrilamida 30%; 25 µl larutan μ

APS 10%; 6µl TEMED) (harus selalu baru dilarutkan). Untuk sediaan gel, kolektor (tumpukan gel) dicetak menggunakan sisir untuk membuat sumur untuk dimasukkan ke dalam sampel yang akan dipisahkan. Ketebalan gel yang dihasilkan

adalah 4mm. Gel yang dihasilkan kemudian dipasang hingga gel mengeras kemudian sisir dilepas.

3. Pembuatan Sampel Buffer

Buffer persiapan sampel termasuk 4 mL dH20; 1 ml larutan Tris-HCL

0,5M, pH 6,8; 0,8 ml gliserol; 1,6 ml larutan SDS 10%; 0,4 ml larutan -β mercaptoethanol; 0,2 ml larutan biru bromofenol 0,05%. Supernatan diambil sebanyak 20 l. Setelah pendinginan, 30μ l ditambahkan ke sumur, setelah itu μsampel atau strip dianalisis dengan elektroforesis.

4. Teknik Pemisahan Protein

Elektroforesis pemisahan protein dilakukan dalam tiga langkah. Ketiga langkah tersebut adalah ekstraksi protein dari sampel, preparasi gel dengan SDS- PAGE dan pemisahan protein dengan elektroforesis, dilanjutkan dengan deteksi pita atau fraksi protein yang terbentuk.

5. Elektroforesis

Pemisahan protein menggunakan buffer umum yang terdiri dari 9g Tris- HCL; glisin 43,2g; SDS 10% 3 g dan H2O hingga 600 ml. Penyangga elektroforesis dimasukkan dan perangkat elektroforesis dirakit. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam sumur dengan pipet mikro hingga 10-20 µl tergantung pada ketebalan pita protein yang diinginkan. Alat elektroforesis dioperasikan pada suhu rendah dengan tegangan 100 volt dan arus 125 mA selama 1 sampai 1,5 jam hingga warna biru bromofenol mencapai 1 cm dari dasar gel.

Setelah elektroforesis selesai, gel difiksasi dengan larutan Commassie Brilliant Blue R-250 (larutan commassie blue 0,05% dengan massa 0,50 g dilarutkan dalam 225 ml metanol 45%

dan 50 ml asam etik 10% dalam 45%

dH2O), kemudian gel diputihkan dengan larutan pemutih yang terdiri dari campuran 50% dH2O, 250 ml; Asam asetat 10% 50ml; 200 ml metanol 40%,

(4)

gel direndam dalam campuran pewarna biru (sambil diaduk) selama 24 jam. Pita protein yang muncul dan hasil SDS-PAGE dihitung faktor retardasi (Rf) dengan menggunakan rumus (Cavalli et al., 2006) : Rf = jarak gerak pita protein awal (cm)/jarak gerak warna pelacak awal (cm) Berdasarkan nilai Rf berat molekul dihitung dengan persamaan regrasi logaritma dengan rumus :

Y = ( a x Ln(X)) + b.

Keterangan : Y = berat molekul X = nilai Rf sampel a = nilai koefisien b = nilai konstanta.

Persamaan ini diperoleh dari grafik antar Log BM sebagai ordinat dan Rf sebagai absis. Berdasarkan kurva kalibrasi maka dapat dihitung BM masing masing pita protein.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini terdapat dua jenis daging yaitu daging sapi dan babi yang dilakukan pengujian elektroforesis gel. Penelitian ini menggunakan 3 gel elektroforesis yang masg-masing gel berisi 8 sumuran. Dari hasil penelitian diperoleh gel pertama yang dilakukan skrining pita protein untuk menentukan nilai koefisien retensi (Rf) dan berat molekul (BM).

Penentuan nilai Rf pita penanda protein dihitung dengan membagi celah pita (jarak sumur ke pita) dengan titik ujung garis elektroforesis. Dua belas pita protein penanda dibentuk dengan berat molekul masing-masing 250 kDa, 150 kDa, 100 kDa, 75 kDa, 50 kDa, 37 kDa, 25 kDa, 20 kDa, 15 kDa, 10 kDa, 5 KDa, 2 KDa. Berat molekul penanda protein yang diketahui kemudian dihitung untuk nilai BM-nya.

Perhitungan logaritma nilai BM dan Rf

dapat diperoleh dari elektroforesis protein dan pelabelan protein sampel terdapat

pada Gambar 11.

Analisis dimulai dengan menghitung regresi linier deret logaritmik berat molekul pita yang dipisahkan tanda sebagai sumbu y dan nilai Rf sebagai sumbu x. Untuk menghitung regresi linier pada elektroforesis gel pertama. Nilai penanda log BM pada elektroforesis gel pertama dapat dilihat pada Catatan Tambahan 2. Kemudian dihasilkan kurva standar nilai Rf yang diperoleh terhadap nilai Log BM.

Hasil regresi linier pada elektroforesis gel pertama kali digunakan untuk menghitung berat molekul pita pemisahan protein.

Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai a = -2.0322, b = 2.4706 dan r = 0.9692. maka diperoleh rumus y = -2.0322x + 2.4706, dengan rumus yang didapat dapat menentukan nilai Rf, BM dan Log BM dari pita protein sampel yang terbentuk. Untuk hasil regresi linier pada elektroforesis gel kedua, hasil nilai Rf dan Log BM dapat dilihat pada Lampiran 3 dan plot kurva nilai Rf standar pada Lampiran 5.

Dari perhitungan diperoleh nilai a = -1.8483, b = 2.4013 dan nilai r = 0.934. maka dapatkan rumus y = -1,8483x + 2,4013. Untuk hasil regresi linier pada elektroforesis gel ketiga, hasil nilai Rf dan Log BM dapat dilihat pada lampiran 4 dan kurva standar untuk nilai Rf pada lampiran 6. Berdasarkan perhitungan, nilai a = -2,2194, b = 2,2838 dan nilai r = 0,9723 menghasilkan rumus y = -2 . diperoleh 2194x + 2,2838.

(5)

Berdasarkan hasil ketiga gel yang sudah dihitung dari berat molekul pada sampel sapi dan babi mendapatkan hasil berat molekul beserta jenis protein berdasarkan berat molekulnya untuk rentang berat molekul 119 – 250 kDa (Miosin), 87-118 ( -galactosidase),β 51.5 – 86 kDa (Bovine Serum Albumine), 34 – 51.6 (Ovalbumin), 28 – 34.1 kDa (Carbonic Anhidrase), 19.1 – 29 kDa (Soybean Trypin Inhibitor), 7.4 – 19.2 kDa (Lysozyme), 5.15 – 7.5 (Aprotinin). Untuk hasil penelitian ini terdapat pada tabel 1

Sample Myosin Ovalbumin Lysozyme

Soybean Trypin Inhibitor Carbonic Anhidres Aprotinin

S1

S2

S3

(6)

S4

S5

S6

S7

S8

B1

(7)

B2

B3

B4

B5

B6

(8)

B7

B8

Dari hasil penelitian elektroforesis yang dilakukan pada sampel daging sapi dan babi dengan menggunakan tiga gel elektroforesis diperoleh pita protein. Panjang pita yang terbentuk dihitung atau Rf untuk mendapatkan BM sampel. Dalam studi ini, 9 sumur dihasilkan untuk tiga jenis gel elektroforesis yang berfungsi sebagai titik masuk sampel.

Pada gel pertama dimasukkan pada sumuran diisi dengan protein marker. Marker yang digunakan yaitu broad-range yang memiliki berat molekul 2-250 kDa. Sumuran selanjutnya berturut-turut diinject dengan sampel daging sapi dan babi, yang terdiri atas S2, S4, S6, S7, dan B1.

Perbedaan pola protein pada masing- masing sampel yang diteliti daging sapi dan daging babi dapat dilihat pada Gambar 13, 14 dan 15. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tingkat ketebalan maupun jumlah protein yang muncul.

Pada gel pertama yang terdapat 4 sampel daging sapi pada sumur (Sumur 1,2,3,4,) diperoleh 16 buah pita yang muncul

dengan kisaran berat molekul yang spesifik.

Sampel lain yang terdapat pada gel pertama terdapat 1 sampel daging babi pada sumur 5 diperoleh 5 buah pita protein dengan kisaran berat molekul yang berbeda dengan berat molekul daging sapi. Untuk kisaran berat molekul yang terdapat pada gel pertama terdapat pada tabel 3.

Pada gel kedua yang terdapat 3 sampel daging sapi pada sumur (sumur 1,2 dan 5) diperoleh 11 buah pita yang muncul dari semua sampel daging sapi dengan kisaran berat molekul yang spesifik. Sampel lain yang terdapat pada gel kedua terdapat 3 sampel daging babi pada sumur (sumur 3, 4, 6) diperoleh 13 pita yang muncul dengan kisaran berat molekul yang berbeda untuk gel kedua ini antara sampel daging sapi dan daging babi memiliki berat molekul yang berbeda dan ditemukan 1 jenis protein yang tidak terdapat pada daging sapi. Untuk kisaran berat molekul yang terdapat pada gel pertama terdapat pada tabel 4

Pada gel ketiga yang terdapat 1 sampel daging sapi pada sumur (sumur 2) diperoleh 3

(9)

buah pita yang muncul dari semua sampel daging sapi dengan kisaran berat molekul yang berbeda dengan jenis protein Miosin, Ovalbumin, Lysozyme. Sampel lain yang terdapat pada gel kedua terdapat 4 sampel daging babi pada sumur (sumur 3, 4, 7, 8) diperoleh 10 pita yang muncul dengan kisaran berat molekul yang berbeda untuk gel kedua ini antara sampel daging sapi dan daging babi memiliki berat molekul yang berbeda dan ditemukan 1 jenis protein yang tidak terdapat pada daging sapi.

Zilhadia et al. 2014) melaporkan adanya pita protein di dalam olahan sosis daging babi dan daging sapi dengan ukuran berat molekul 154.88 kDa (Miosin); 146.55 kDa (Miosin) ; 83.18 kDa ( -Galactosidase)β ; 69.18 kDa (Bovine Serum Albumine) dan 61.66 kDa ( Bovine Serum Albumine). Hermanto dan Meutia (2009) melaporkan, dari elektroforesis yang sudah dikerjakan, pada kisaran berat molekul (BM) 21,5-116 kDa, daging sapi mentah menghasilkan 17 buah pita protein dan babi mentah menghasilkan 14 buah pita protein. Pita terbanyak terbentuk pada kisaran BM 31-66,2 kDa. Pada sapi mentah ditemukan 3 buah pita protein yang menjadi pita pembeda pada ekstrak daging sapi mentah yang tidak dimiliki daging babi mentah yaitu pada Rf 0,29; 0,71 dan 0,88 dengan BM secara berurut sekitar 89,2 kDa ( -Galactosidase)β , 36,4kDa (Ovalbumin) dan 25,3 kDa (Soybean Trypin Inhibitor).

Edy Susanto (2010) melaporkan adanya pita protein desmin dengan BM 54.45 kDa, troponin T dengan BM 40,67 kDa dan terdapat protein yang tidak diketahui dengan BM 112.13 kDa dalam sampel daging sapi dan babi segar, daging sapi dan babi rebus, serta olahan daging sapi dan daging babi.

Pada daging babi mentah ditemukan pita protein pembeda yang tidak ditemukan pada daging sapi pada Rf 0,0885; 0,1435;

0,296 dan 0,6825 dengan berat molekul

berturut-turut 54,71 kD (Bovine Serum Albumine); 46,64 kD (Ovalbumin); 29,96 kDa (Carbonic Anhidrase) dan 9,76 kDa (Lysozyme ), sedangkan pada sapi ditemukan pita protein pembeda yang tidak ditemukan pada babi pada Rf 0,0965 dengan berat molekul 53,46 kDa (Bovine Serum Albumine) dan Rf 0,827 dengan berat molekul 6,42 kDa (Aprotinin) (Purwaningsih, 2005)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan analisa SDS-PAGE pada protein daging sapi ditemukan protein Miosin (BM 119 – 225.5), Lysozyme (BM 7.4 - 19.2), dan Ovalbumin (BM 34 - 51.6), sedangkan pada daging babi ditemukan jenis protein Miosin (BM 119 – 182,4), Lysozyme (BM 7.4 - 19.2), Aprotinin (BM 5.15 - 7,5), Soybean Trypin Inhibitor (BM 19.1 – 29), Ovalbumin (BM 34 – 36.2), dan Carbonic Anhidrase (BM 28 - 34.1).

Terdapat jenis protein yang tidak terdapat pada daging sapi namun terdapat pada daging babi adalah Soybean Trypin Inhibitor dan Carbonic Anhidrase.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 20 Tentang Pemasukan dan Pengawasan Peredaran Karkas, Daging, dan/atau Jeroan dari Luar Negeri. Jakarta.

AVMA. (2013). AVMA Guidelines for The Euthanasia of Animals. Schaumburg:

American Veterinary Medical Association (AVMA).

Andriyani, E., Fais, N. L., & Muarifah, S.

2019. Perkembangan Penelitian Metode Deteksi Kandungan Babi untuk Menjamin Kehalalan Produk Pangan Olahan. 4(1), 104-126.

Asuming-bediako, N., Jaspal, M.H., Hallett, K., Bayntun, J., Baker, A. and Sheard, P.R. (2014). Effects of replacing pork backfat with emulsified vegetable oil

(10)

on fatty acid composition and quality of UK-style sausages. Meat Science,

96(1), 187–194.

http://doi.org/10.1016/j.meatsci.20 13.06.031

Bio-Rad Laboratories. 2021. iScript gDNA Clear cDNA synthesis Kit Catalog:

Bio-Rad Laboratories, Inc.

Badan Pusat Statistik. 2021. Rata-rata Konsumsi Daging Sapi/Kerbau Di Indonesia 10 Tahun Terakhir.

[Internet]

https://databoks.katadata.co.id/data publish2022/10/09/ini-tren-

konsumsi-daging-sapi-di-indonesia- 10-tahun terakhir#.~:text=Menurut

%20laporan%20Badan%20Pusat

%20Statistik,minggu%20selama

%20periode%202017%2D2021 diakses pada 15 Desember 2022.

Biokids Inquiry of Diverse Species. Wild Boar (Sus Scrofa). [Internet]

http://www.biokids.umich.edu/critt ers/Sus_scrofa/ diakses pada 30 Desember 2022.

Cardoso, C.M.L., Mendes, R., Nunes, M.L., Cardoso, C.M.L., Mendes, R., Instrumental, M.L.N. and Nunes, M.L.

(2017). Instrumental Texture and Sensory Characteristics of Cod Frankfurter Sausages. International Journal of Food Properties, 12, 625–

643. http://

doi.org/10.1080/109429108019929 59

Cahyaningsari, D., Latif, H., & Sudarnika, E. 2019. Identifikasi Penambahan Daging Babi pada Pangan Berbahan Dasar Daging Sapi Menggunakan ELISA dan qPCR. Acta VETERINARIA Indonesiana.

https://doi.org/10.29244/avi.7.2.17- 25.

Cahyani, Sri., Tamrin dan Hermanto.

2019. Pengaruh Lama Suhu Pengeringan Terhadap Karakteristik Organoleptik, Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Kimia Tepung Kulit Pisang Ambon (Musa Acuminata Colla). Jurnal Sains dan Teknologi

Pangan Vol. 4 No.1, Universitas Halu Oleo.

Cavalli SV, Silva SV, CiminoC, Malcata FX, Priolo N. 2006. Hydrolysis of caprine and ovine milk proteins, brought about by aspartic peptidases from silybum marianum. J Plant Physiol, 1- 7.

Ditjen PKH. 2021. Produksi Daging Sapi Di Indonesia Dalam 2 Tahun Terakhir.

[Internet]

https://databoks.katadata.co.id/data publish/2021/11/25/tren-produksi- daging -sapi-indonesia-menurun- dalam-2-tahun-terakhir diakses pada 30 Desember 2022.

Hermanto, S. dan Ode L. S. 2013.

Differentiation of Bovine and Prochine Gelatin Based on Spectroscopic and Electrophoretic Analysis. Journal of Food and Phermaceutical Science 1 (2013) 68-73.ikolp,;pmk\

Hermanto, S., & Dhien K. Meutia, C. 2009.

Perbedaan Profil Protein Produk Olahan ( Sosis ) Daging Babi dan Sapi Hasil Analisa SDS-PAGE, 181–186.

Hermanto, S., Saputra, F. R., & Zilhadia.

(2014). Aplikasi Metode Sds-Page

(Sodium Dodecyl Sulphate

PolyAcrylamide Gel Electrophoresis ) Untuk Mengidentifikasi Sumber Gelatin Pada Kapsul Keras. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1(1), 1–59 Lia Amalia, Feri Kusnandar, Nancy Dwi

Yuliana & Purwantiningsih Sugita.

2022. Profiling of Volatile Compounds in Beef, Rat, and Wild Boar Meat using SPME-GC/ MS. Sains Malaysiana

51(9) (2022): 2897-2911

http://doi.org/10.17576/jsm-2022- 5109-13

Mustollah, H. (2016). Analisa Profil Protein Gelatin Sapi dan Gelatin Babi Gummy Vitamin C Menggunakan Metode SDSPAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Poly Acrylamide Gel Elektrophoresis).

Marselaonety La’lang. (2018). Analisis Profil Protein Daging Kerbau dengan Variasi Konsentrasi Garam Serta

(11)

Pengasapan Berbasis SDS-PAGE Program Studi DIV Analis Kesehatan

Universitas Muhammadiyah

Semarang, e-ISSN: 2549-9939

Nida, L. Pisestyani, H., & Basri, C. 2020.

Studi Kasus: Pemalsuan Daging Sapi dengan Daging Babi Hutan di Kota Bogor. 8(2), 121-130.

Nakyinsige, K., Man, Y. B. C., & Sazili, A. Q.

(2012). Halal authenticity issues in meat and meat products. Meat Science, 91(3), 207–214.

http://doi.org/10.1016/j.

meatsci.2012.02.015

Rahman, F. S. (2014). Aplikasi Metode SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Poly Acrylamide Gel Electrophoresis) Untuk Mengidentifikasi Sumber Gelatin Pada Kapsul Keras.

Rahmawati, Sismindari, Raharjo, T.J., Sudjadi, & Rohman, A. (2016).

Analysis of Pork Contamination in Abon Using Mitochondrial DLoop22 Primers Using Real Time Polymerase Chain Reaction Method. International Food Research Journal, 23, 370-374 Tan, A. (2018). The Function of a Tris

Buffer in DNA Extraction. Accessed on

5 Januari 2019 from

www.sciencing.com

The UniProt Consortium. (2019).

UniProt: A Worldwide Hub Of Protein Knowledge. Nucleic Acid Research, 47, D506-D515.

The UniProt Consortium. (2021).

UniProt: The Universal Protein Knowledgebase In 2021. Nucleic Acids Research, 49, D480-D489.

organism:"Rattus norvegicus (Rat)

[10116]" AND

proteome:up000002494 in

UniProtKB.

Widodo Cipto Subagyo, et al, 2015, Karakteristik Protein Daging Sapi Bali Dan Wagyu Setelah Direbus (THE PROTEIN CHARACTERISTICS OF BALI AND WAGYU BEEF BOILED), Laboratorium Histologi Veteriner Universitas Udayana, Buletin

Veteriner Udayana Volume 7 No. 1:

17-25 p-ISSN: 2085-2495.

Zaman, R., Hamzah, M.N., Abdurrazq, N.B., Hamzah, M.S., & Mohammad, T.T.

(2012). Effect of Different Methods of Slaughtering on Protein Expression in Chicken Meat, Engineering IIUM Journal, 13.

Widodo Cipto, S., Ni Ketut, S., I Nyoman, S.

2015. Karakteristik Protein Daging Sapi Bali Dan Wagyu Setelah Direbus.

Buletin Veteriner Udayana p- ISSN:2085-2495 Vol 7 No. 1:17-25.

Worley B, Powers R. 2016. PCA as a Practical Indicator of OPLS-DA Model Reliability. Curr Metabolomics.

4(2):97-103.

Zilhadia, Betha, O. S., & Ummi, C. (2014).

Protein Profilesof Beef ( Bos indicus ) Pork ( Sus domesticus ) , and SausagesBy Using SDS-PAGE ( Sodium Dodecyl Sulphate Polyacrylamide Gel Electrophoresis ) Method. J.Food Pharm.Sci,2,46–51

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Deteksi Daging Babi pada Sampel Bakso Sapi Menggunakan Metode NIR dan Kemometrik sebagai Verifikasi Kehalalan; Khrisna Agung Cendekiawan, 102210101077; 2012;

Deteksi Daging Babi pada Sampel Dendeng Sapi Menggunakan Metode FTIR dan Kemometrik sebagai Verifikasi Kehalalan; Fitra Karima Putri, 082210101037; 2012; 46

Deteksi Daging Babi pada Sampel Dendeng Sapi Menggunakan Metode FTIR dan Kemometrik sebagai Verifikasi Kehalalan ; Fitra Karima Putri, 082210101037; 2012; 46

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Deteksi Daging Babi pada Sampel Bakso Sapi Menggunakan Metode NIR dan Kemometrik sebagai Verifikasi

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya pemalsuan produk yang berasal dari daging babi pada beberapa sampel daging dendeng sapi di pasaran menggunakan teknik