• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Sanitasi Madrasah Tahun 2020

N/A
N/A
Katherina Liandy

Academic year: 2025

Membagikan "Profil Sanitasi Madrasah Tahun 2020"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROFIL

SANITASI MADRASAH

TAHUN 2020

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA

JAKARTA 2020

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

(2)
(3)

PROFIL

SANITASI MADRASAH

TAHUN 2020

Tim Penyusun:

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, UNICEF Indonesia, GIZ Fit for school, SNV Indonesia

Penerbit:

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama

(4)

4

Profil Sanitasi Madrasah 2020

Judul : Profil Sanitasi Madrasah 2020

ISBN :

Penerbit : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Redaksi : Jl. Lapangan Banteng Barat 3 - 4. Jakarta Pusat 10710 Website : http://www.pendis.kemenag.go.id/

Layout dan

Desain Grafis oleh : SPEAK Indonesia Foto oleh : UNICEF Indonesia

Tim Penyusun : Kementerian Agama, UNICEF Indonesia, GIZ Fit for School dan SNV Indonesia

Pengarah : 1. Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T.

2. Dr. H A. Umar, MA

3. Dr. Abdullah Faqih, M.A, M.Ed 4. Drs. Mizan Sya’roni, MA

Penulis :

4

1. Zulkifli, S.Ag, M.Si

2. Dodi Irawan Syarip, S.Si, MTI 3. Akrom Abdullah, M.Kom

4. Reza Hendrawan (UNICEF Indonesia)

5. Aline Ardhiani (UNICEF Indonesia)

6. Rigil Munajat (GIZ Fit for School)

7. Saniya Niska (SNV Indonesia)

(5)

55

Profil Sanitasi Madrasah Tahun 2020 ini disusun oleh bersama-sama antara Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Direktorat Kurikulum, Sarana dan Prasarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Kementerian Agama dengan dukungan teknis dari UNICEF Indonesia, GIZ Fit for School dan SNV Indonesia. Publikasi ini disusun sebagai rujukan data awal Sanitasi Madrasah dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Beberapa indikator utama tujuan 4.a terkait dengan ketersediaan sarana sanitasi di madrasah, yaitu akses dasar pada sumber air, akses dasar pada sanitasi, serta akses dasar pada sarana cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Sesuai yang diamanatkan dalam TPB, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat memenuhi semua indikator itu pada semua sekolah dan madrasah di Indonesia pada Tahun 2030. Dengan terbitnya publikasi ini, maka diharapkan dapat diijadikan rujukan bagi para pemangku kepentingan terkait untuk dapat mengalokasikan sumber daya dalam rangka mempercepat tercapainya kondisi Sanitasi Madrasah yang layak pada Tahun 2030. Kementerian Agama mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungannya, termasuk UNICEF Indonesia, GIZ Fit for School dan SNV Indonesia yang telah memberikan dukungan teknis, sehingga Profil Sanitasi Madrasah ini dapat diterbitkan.

Jakarta, September 2020 Direktur Jenderal Pendidikan Islam,

Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T.

SAMBUTAN

(6)

6

Profil Sanitasi Madrasah Tahun 2020 ini merupakan milestone atau tonggak sejarah penting baik dalam pengembangan Madrasah pada khususnya maupun pengembangan dunia Pendidikan islam pada umumnya. Pemerintah Indonesia, melalui publikasi Profil Sanitasi Madrasah ini untuk pertama kalinya dapat memperlihatkan status perkembangan kondisi Air, Sanitasi dan Kebersihan di seluruh madrasah di Indonesia.

Data data terkait Sanitasi Madrasah ini penting bukan saja karena Sanitasi Madrasah merupakan salah satu indikator dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), tetapi juga karena ketersediaan Sanitasi Madrasah, khususnya Sarana Cuci Tangan Pakai Sabun dan Air Mengalir, terbukti menjadi komponen yang vital untuk menghindari berbagai penyakit, termasuk Covid-19 yang telah menjadi pandemi saat ini.

Profil Sanitasi Madrasah diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan dan pembangunan Sanitasi Madrasah dalam kerangka Usaha Kesehatan Sekolah/

Madrasah atau UKS/M. Hal ini karena sangat eratnya hubungan antara Sanitasi Madrasah dengan dua pilar dari UKS/M, yaitu Pendidikan Kesehatan Pembinaan Lingkungan Sehat. Selain itu, indikator-indikator dalam profil ini juga menjadi acuan dalam strata UKS/M. Dengan begitu, data-data dalam publikasi ini juga diharapkan dapat selalu dimonitor pencapaiannya setiap tahun, sehingga dapat digunakan sebagai bahan advokasi kepada penentu kebijakan.

Direktorat Kurikulum, Sarana dan Prasarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah (KSKK) Madrasah, Kementerian Agama mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungannya, terutama kepada UNICEF Indonesia, GIZ Fit for School dan SNV Indonesia yang telah memberikan berbagai dukungan teknis kepada Direktorat KSKK Madrasah sejak Tahun 2018 yang lalu.

Jakarta, September 2020 Direktur KSKK Madrasah,

Dr. H A. Umar, MA

KATA PENGANTAR

(7)

7

Jakarta, September 2020

Direktur KSKK Madrasah,

Dr. H A. Umar, MA

Foreword

UNICEF, SNV and GIZ in Indonesia are committed to support the Government of Indonesia to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs). One of the SDGs indicators is the availability of access to water, sanitation and hygiene in schools. Access to these is crucial to children’s healthy development and growth, including in madrasah/Islamic school. Children require proper water, sanitation and hygiene (WASH) facilities to learn and grow. Evidence shows that such facilities and services can help to reduce risks of diarrhea, improve school participation and promote gender equality. It also gives children the opportunity to become agents of change in their families and communities to promote better hygiene practices.

Recognising the importance of madrasah’s access to water, sanitation ad hygiene, Ministry of Religious Affairs, has collected and analysed data on the current WASH conditions in all madrasah in Indonesia. This publication, the 2020 WASH in Madrasah Profile, provides the results of this analysis and highlights progress that has been achieved, but also the outstanding gaps in service provision.

Indonesia has published WASH in Schools profile back in 2017. However, the publication did not include madrasah, since at that time, the WASH data in madrasah were not available on the Education Management Information System (EMIS). The availability of WASH in madrasah data in 2019 could complement the WASH in Schools data. These efforts are critical to the country’s achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs) for all children in Indonesia and to help promoting every child’s right to health.

It has been a pleasure to partner with the Ministry of Religious Affair on this initiative. We are confident this important publication will become a valuable resource for policy makers, researchers and practitioners.

Jakarta, September 2020 Ann Thomas

Chief of WASH UNICEF Indonesia

Nicole Siegmund

Principal Advisor GIZ-Regional Fit for School Program

Maria Carreiro

WASH Sector Leader SNV Netherlands

Development

Organisation

(8)

INDIKATOR SANITASI MADRASAH

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Proporsi Madrasah (%)

Air Sanitasi Kebersihan

• 70% dari madrasah memiliki akses ke air minum dasar atau air minum yang layak, sementara 30% menggunakan sumber yang tidak layak atau tidak memiliki akses sama sekali.

• 50% memiliki akses ke sanitasi dasar atau fasilitas sanitasi yang layak yang terpisah berdasarkan jenis kelamin, sementara 50% menggunakan fasilitas sanitasi yang terbatas atau tidak memiliki akses sama sekali.

• 56% memiliki akses pada kebersihan dasar atau setidaknya satu fasilitas cuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Namun masih ada 44% madrasah tidak memiliki fasilitas mencuci tangan atau memiliki fasilitas cuci tangan tapi tidak berfungsi (air tidak mengalir dan tidak ada sabun)

0 20 60

40 80 100

70 3 27

50 32

17

56 5 39

8

(9)

9

Akses air, sanitasi dan kebersihan (WASH) merupakan komponen penting dalam bagian menciptakan lingkungan madrasah yang aman, bersih dan sehat. Secara global, sanitasi madrasah merupakan prioritas yang secara spesifik dicantumkan dalam Tujuan 4.a dari SDGs (Sustainable Development Goals).

Akses SDGs dalam sanitasi madrasah berdasarkan 3 kriteria yakni akses air minum yang berkelanjutan, akses sanitasi yang layak dan terpisah, serta akses fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun dan air mengalir. Akses sanitasi madrasah dikategorikan dalam akses lanjutan, akses dasar, akses terbatas dan tidak ada akses pada 3 kriteria diatas, yakni air, sanitasi dan kebersihan. Saat ini yang menjadi tantangan dalam menyajikan data sanitasi madrasah sesuai dengan kriteria SDGs adalah kurangnya data terkait kondisi air, sanitasi dan kebersihan di madrasah, dimana madrasah memiliki pendataan yang berbeda dengan sekolah. Hal ini karena dimana madrasah dibawah wewenang Kementerian Agama yang memiliki sistem pendataan sendiri, yaitu Education Management Information System (EMIS), sedangkan sekolah merupakan tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki sistem pendataan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Untuk mengatasi keterbatasan data sanitasi madrasah, maka Kementerian Agama, dengan dukungan dari UNICEF, SNV dan GIZ menganalisa EMIS tahun 2019. Tujuan dari analisa ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara rinci mengenai sanitasi madrasah berdasarkan 3 kriteria SDGs diatas. Sebagai tambahan, analisa tersebut digunakan untuk alat advokasi dalam mendorong kesadaran semua pemangku kepentingan akan pentingnya pencapaian target sanitasi madrasah. Analisa ini juga dapat digunakan sebagai rujukan bagi pengambil keputusan terkait pendidikan, kesehatan dan gender serta khususnya bidang air, sanitasi dan kebersihan.

Temuan dari analisa data dalam buku ini berdasarkan perbandingan tipe madrasah.

Data juga dipisahkan berdasarkan provinsi. Komponen sanitasi madrasah menguji setiap kriteria air, sanitasi dan kebersihan. Analisa tambahan pada sanitasi madrasah berdasarkan indeks untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai sanitasi madrasah pada konteks Indonesia. Tipe madrasah yang dianalisa berdasarkan jenjang pendidikan madrasah, yakni Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI); Madrasah Tsanawiyah (MTs); and Madrasah Aliyah (MA).

Madrasah dengan akses dasar air dasar didefinisikan sebagai madrasah yang memiliki sumber air terlindungi. Sumber air terlindungi berasal dari air peripaan, sumur gali, penampungan air hujan, mata air terlindungi, sumur terlindungi dan air botol. Sebagai tambahan, akses air dasar juga mensyaratkan sumber air berada di lingkungan sekolah dan tersedia sepanjang waktu selama 24 jam per hari.

Sementara itu, akses air terbatas didefinisikan sebagai sekolah dengan akses terbatas pada sumber air yang hanya tersedia pada waktu tertentu. Madrasah yang didefinisikan sebagai tidak ada akses adalah madrasah yang tidak memiliki sumber air atau sumber air permukaan seperti sungai dan danau.

RINGKASAN EKSEKUTIF

(10)

10 10

Madarasah dengan akses dasar sanitasi adalah madrasah yang memiliki sarana sanitasi dalam hal ini jamban yang layak, berfungsi, terpisah laki dan perempuan. Akses sanitasi terbatas adalah madrasah yang sudah memiliki jamban namun kondisinya tidak layak atau rusak atau tidak terpisah antara laki dan perempuan. Madrasah yang tidak memiliki akses sanitasi adalah mandarasah yang tidak memiliki jamban atau kondisi jambannya tidak aman secara kesehatan, seperti contohnya jamban cemplung tanpa tutup atau jamban gantung yang pembuangannya langsung ke sungai atau danau.

Madrasah dengan akses kebersihan layak adalah madrasah yang memiliki sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) lengkap dengan sabun dan air mengalir. Madrasah dengan akses kebersihan yang terbatas adalah madrasah yang sudah memiliki sarana CTPS namun tidak dilengkapi dengan sabun atau air mengalir. Madrasah yang tidak memiliki akses kebersihan adalah madrasah yang belum memiliki sarana CTPS.

Berdasarkan analisa yang disajikan dalam buku ini, secara umum, akses dasar air di madrasah cukup baik. Secara nasional akses dasar air mencapai 70%. DKI Jakarta memiliki akses air dasar yang tertinggi dengan cakupan 84,95% sedangkan Sulawesi Barat memiliki akses dasar yang terendah dengan cakupan hanya 43,33%. Berdasar- kan jenjeng pendidikan madrasah, RA memiliki pencapaian akses dasar air yang paling tinggi sebesar 70,47%. Sedangkan MTs menjadi jenjang pendidikan yang paling rendah dengan akses dasar air sebesar 68,85%.

Tidak seperti akses dasar air di madrasah yang terlihat cukup baik. Pada akses dasar sanitasi di madrasah seluruh Indonesia masih jauh dari kondisi ideal. Cakupan nasional untuk .akses dasar sanitasi di madrasah pada semua jenjang pendidikan madrasah hanya sekitar 50%, itu berarti satu dari dua madrasah tidak memiliki fasilitas jamban yang layak. Provinsi Lampung merupakan provinsi dengan akses sanitasi dasar atau jamban l ayak yang terbanyak yakni sebesar 63,64%. Sedangkan Maluku Utara menjadi provinsi yang memiliki akses dasar sanitasi yang paling sedikit yakni sebesar 25%. Berdasarkan jenjang pendidikan, MA menjadi jenjang pendidikan madrasah yang memiliki akses sanitasi dasar tertinggi sebesar 70,24%. Sedangkan RA menjadi jenjang pendidikan madrasah yang memiliki akses sanitasi dasar yang terendah hanya sebesar 27.97%.

Perhatian madrasah pada siswa/siswi yang memiliki kebutuhan khusus masih sangat

rendah. Akses sanitasi yang disediakan untuk siswa/siswi dengan kebutuhan khusus

hanya mencapai sekitar 13,78%. Provinsi Aceh merupak provinsi yang paling banyak

menyediakan akses sanitasi untuk siswa/siswi dengan kebutuhan khusus yakni

sebanyak 24.33%. Sedangkan Provinsi Daerah Khusus Yogyakarta menjadi provinsi

yang paling sedikit menyediakan akses bagi siswa/siswi yang memiliki kebutuhan

khusus. Berdasarkan jenjang pendidikan, MA menjadi jenjang pendidikan madrasah

yang paling banyak menyediakan akses sanitasi pada siswa/siswi dengan kebutuhan

khusus yang mencapai 17.98%. Sedangkan RA menjadi jenjang pendidikan madrasah

yang paling rendah menyediakan akses sanitasi bagi siswa/siswi yang berkebutuhan

(11)

11 11

khusus. Secara totol hanya sekitar 8.56% dari semua RA yang memiliki akses sanitasi untuk siswa/siswi berkebutuhan khusus.

Analisa pada buku ini juga menyajikan indeks yang menghitung kombinasi akses dasar pada 3 kriteria yakni akses air minum yang berkelanjutan, akses sanitasi yang layak dan terpisah, serta akses fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun dan air mengalir. Berdasarkan perhitungan statistik 3 kriteria itu diterapkan pada empat jenjang pendidikan madrasah yakni RA, MI, MTs dan MA. Hanya sekitar 26,56% madrasah dari empat jenjang pendidikan yang memiliki tiga akses dasar tersebut, yakni akses air dasar, akses sanitasi dasar dan akses kebersihan dasar. Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi dengan pencapaian akses lengkap yang paling tinggi sebesar 41,94%, sedangkan Provinsi Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan indeks yang paling rendah yakni sebesar 13,83%. Berdasarkan jenjang pendidikan madrasah, MA menjadi jenjang yang memiliki rata-rata indeks yang paling tinggi yakni 34,33%.

Sedangkan RA memiliki rata-rata indeks yang paling rendah, yakni sebesar 15,78%.

Rekomendasi kunci untuk pengambil kebijakan di pusa, kantor Kemenag Provinsi dan Kabupaten/Kota serta pengelola madrasah telah disepakati bersama berdasarkan temuan disajikan pada buku ini. Rekomendasi tersebut adalah:

1. Mekanisme verifikasi data untuk menguji kualitas data EMIS. Saat ini Kementerian Kesehatan, melalui sanitarian di Puskesmas telah melakukan pengambilan data sanitasi di sekolah dan madrasah melalui kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL). Dengan demikian diharapkan Kementerian Agama dapat berkolaborasi dan melanjutkan proses integrasi EMIS data pada data IKL dari Kementerian Kesehatan.

Melalui mekanisme penggunaan data bersama ini, maka verifikasi data EMIS dapat dilakukan karena sanitarian merupakan ahli yang datang ke madrasah dan melakukan penilaian langsung kondisi akses sanitasi madrasah.

2. Pengisian data EMIS selama ini dilakukan oleh operator EMIS. Tidak semua operator EMIS memiliki pengetahuan teknis terkait konteks sanitasi madrasah, khususnya item pertanyaan terkait kondisi sanitasi madrasah. Untuk itu diperlukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan pengisian item pertanyaan sanitasi madrasah atau dengan mendiseminasikan petunjuk pengisian sanitasi madrasah.

3. Pengembangan monitoring sistem berbasis online dan mekanisme umpan balik juga diperlukan. Sistem monitoring ini dan mekanisme umpan baliknya dihubungkan dengan pengukuran standar kinerja Kementerian Agama mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Selain itu, pengukuran standar kinerja dapat juga terhubung dengan sratifikasi UKS/M atau SDGs. Hal ini perlu didorong untuk pemenuhan akses air, sanitasi dan kebersihan di madrasah pada semua jenjang.

4. Berdasarkan analisa akses air, sanitasi dan kebersih di madrasah seluruh Indonesia,

kondisi sanitasi madrasah masih jauh dari harapan. Usaha yang maksimal

dibutuhkan untuk mendorong agar analisa data pada buku ini digunakan sebagai

referensi dalam membuat perencanaan dan alokasi anggaran di Kemeneterian

Agama baik di tingkat pusat serta pemangku kepentingan lainnya yang terkait di

tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

(12)

12 12

EXECUTIVE SUMMARY

Access to Water, Sanitation and Hygiene (WASH) in Madrasah is an essential part of a safe, clean and healthy school environment. Globally, WASH in Schools (WinS) is a key development priority that is now specifically recognized in Goal 4.a of the Sustainable Development Goals (SDGs).

The SDGs assess access to WinS across three criteria: continuous access to safe drinking water sources, access to appropriate and gender-specific facilities, and access to handwashing facilities supplied with soap and water. WinS is assessed in terms of advanced access, basic access, limited access and no access to water, sanitation and hygiene provision. Currently, the main challenge to tracking progress on WinS toward the SDGs is a lack of adequate data, especially in madrasah context, where in Indonesia, the management of madrasah is separated with schools. Madrasahs are under the juridication of Ministry of Religious Affair, while schools are under the responsibility of Ministry of Education and Culture.

To address this lack of data on WinS, Ministry of Religious Affair, with support from UNICEF, SNV and GIZ analyzed 2019 Education Management Information System data from Indonesian madrasah. The purpose of the analysis was to obtain a detailed picture of WASH in madrasah across the three SDG criteria.

In addition, the analysis was used to advocate for the importance of achieving WASH in Madrasah targets among stakeholders. This analysis can now be used as a reference for strengthening policymaking around education, health, and gender and especially WASH.

The findings presented here concern WinS access according to school type. The data is disaggregated by province. The WinS components examined pertain to the levels of access to water, sanitation and hygiene provisions. Additional analysis on WASH in Madrasah index was carried out to have better understanding on WASH condition in madrasah context across Indonesia. The type of schools or mardrasahsexamined are: Raudhatul Athfal or Eearly Child Development Centers (ECDC), Madrasah Ibtidaiyah (MI) or Primary level madrasah; Madrasah Tsanawiyah (MTs) or Junior Secondary Madrasah; and Madrasah Aliyah (MA) or Senior Secondary Schools.

Madrasah with “basic access” are defined as those with protected water sources.

Protected water sources include piped water, boreholes, rainwater, protected

springs, protected wells and bottled water. In addition, “basic access” requires

that the water source lies in close proximity to the madrasah and is available 24

hours a day. “Limited access”, meanwhile, is defined as a madrasah which limits

access to a protected water source to specific times. A Madrasah with defined

as one with “no access” is one with no source of water or with an unprotected

water source. Unprotected water sources include unprotected springs and

surface sources like rivers and lakes.

(13)

13 13

Madrasah with “basic access” to sanitation are defined as those with adequate, well- functioning, gender-specific toilets. Adequate toilets are those that flush or those with pit latrines with lids. “Limited access” to sanitation means a Madrasah has an adequate number of toilets, but those toilets are either broken, non- gender-specific, or both. Madrasahs are deemed to have “no access” to sanitation if there is no pit latrine or toilet on campus, which means students and teachers must practice open defecation. Madrasahs may also be classified as having “no access” if the toilets are unsafe; for example, if a pit latrine lacks a lid, or if faecal waste is dumped into a body of wáter like a lake or river via a “hanging toilet”.

Madrasahs with a “limited access” to hygiene are defined as schools that have installed hand- washing facilities. Madrasahs are considered as having “no access”

to hygiene if no such facilities have been installed.

Based on the analysis presented in this report, in general, access to basic water are quite good. The national average for access to Basic Water is almost 70%. DKI Jakarta (84.95%) is the province with the best access to basic water and West Sulawesi (43.33%) is the province with the worst access to basic water. Based on the education level, Raudhatul Atfhal is the education level with the highest access to Basic Water which is 70.47%. While Tsanawiyah Madrasah is the education level that has the lowest access to Basic Water, which reached 68.85%

Unlike the access to Basic Water which generally looks quite good, access to Basic Sanitation in Indonesia’s madrasah is far from ideal conditions. The national average for access to basic sanitation at all levels of madrasas is only 50%, meaning that one in two madrasahs does not have proper sanitation facilities. Lampung Province (63.64%) is the province with the best access to basic sanitation throughout Indonesia. While North Maluku Province (25%) is the province with the worst access to basic sanitation. Based on the education level, Madrasah Aliyah is the education level with the highest access to Basic Sanitation at 70.24%. While Raudhatul Atfhal is the education level that has the lowest level of access to basic sanitation, which only reached 27.97%

Madrasah alignments and attention on students with special needs is still very low. Access to sanitation for student with disabilities only reaches 13.78%. Aceh Province (24.33%) is the province with the best access to sanitation for students with disabilities throughout Indonesia. While the Special Province of Yogyakarta (3.81%) is the worst province with access to sanitation for student with disability. Based on levels, Madrasah Aliyah is highest in term of access to sanitation for the disability, which reaced at 17.98%. Raudhatul Atfhal is the lowest in term of sanitation access for disabilities among all education level. In total only 8.56% of all Raudhatul Atfhal has sanitation facility for student with disability.

This report utilizes an index that calculates a combined score for access to water, san-

itation and hygiene at madrasah. The statistical approach was developed to compare

WinS progress across provinces and among four different education level. Only

(14)

14 14

26.56% madrasahs from four different levels (RA, MI, MTs and MA) have access to three facilities at the same time, namely Basic Water Facilities, Basic Sanitation Facilities and Basic Hygiene Facilities. North Kalimantan Province (41.94%) is the province with the best index and West Sulawesi Province (13.83%) is the province with the worst index. Based on the education levels, the Madrasah Aliyah is the education level with the highest average index of 34.33%. While Raudhatul Atfhal is the lowest average index, that is, 15.78%.

Key recommendations for education sector policymakers, local religious office departments and officials at the Ministry of Religious Affair have been developed based on the findings in this report. They are:

1. Data verification mechanism is needed to test the quality of EMIS data. Currently the Ministry of Health, through Sanitarian Health Officers from each Puskesmas has conducted School and Madrasah Environmental Health Inspection (IKL) activities. It is expected that the Ministry of Religious Affair would collaborate and integrate EMIS data with IKL data from the Ministry of Health. Through the mechanism of sharing data and using this data, the information obtained from sanitarians through the IKL can be used as a tool to verify the quality of madrasah sanitation data in EMIS

2. It is realized that filling in EMIS data in each madrasah is carried out by EMIS operators. Not all EMIS operators have technical knowledge on sanitation in madrasah context, especially several highly technical terms. For this reason, it is necessary to improve the quality of data through training in filling in Madrasah Sanitation data or through developing data filling guidelines

3. Development of an online-based monitoring system and feedback mechanism is needed. This monitoring system and feedback mechanism are linked to the Ministry of Religious Affair’s performance measurement standards from the central, provincial to district / city levels. Besides that, the performance measurement reference can also be linked to the UKS / M sector or SDGs. This is needed to encourage the fulfillment of water, sanitation and hygiene facilities in madrasah.

4. Based on the analysis in this publication, the condition of access WASH in

Madrasah in Indonesia is still far from the expected standard. Efforts are needed

to encourage data analysis in this publication to be used as a reference in planning

and budgeting both by the relevant ministries at the central level, and by the

relevant agencies at the provincial and district level.

(15)

15 15

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

BOPRA : Bantuan Operasional Raudlatul Athfal CTPS : Cuci Tangan Pakai Sabun

Dapodik : Data Pokok Pendidikan DIY : Daerah Istimewa Yogyakarta DKI : Daerah Khusus Ibukota

EMIS : Education Management Information System MA : Madrasah Aliyah

MI : Madrasah Ibtidaiyah

MKM : Managemen Kebersihan Menstruasi MTs : Madrasah Tsanawiyah

NTB : Nusa Tenggara Barat NTT : Nusa Tenggara Timur PAM : Perusahaan Air Minum

PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

RAPBS : Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah RA : Raudhatul Athfal

RAPBM : Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Madrasah RKS : Recana Kerja Sekolah

RKM : Recana Kerja Madrasah SD : Sekolah Dasar

SDGs : Sustainable Development Goals SMA : Sekolah Menengah Atas

SMP : Sekolah Menengah Pertama SNP : Standar Nasional Pendidikan

TPB : Tujuan Pembangunan Berkelanjutan UKS/M : Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah

UNESCO : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization UNICEF : United Nations Children’s Fund

WASH : Water, Sanitation and Hygiene WC : Water Closet

WHO : World Health Organization

(16)

16

Kata Pengantar Kementerian Agama UNICEF Indonesia Foreword Infografik

Ringkasan Eksekutif Exceutive Summary Daftar Istilah dan Singkatan Daftar Isi

Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Grafik

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1.2. Kebijakan Nasional 1.3. Komitmen Internasional 2. Metodologi

2.1. Definisi Dan Konsep Sanitasi Madrasah 2.2. Indikator Sanitasi Madrasah

2.2.1. Akses Air Dasar 2.2.2. Akses Sanitasi Dasar 2.2.3. Akses Kebersihan Dasar 2.3. Sumber Data

3. Indikator Dan Indeks Sanitasi Madrasah 3.1. Indeks Sanitasi Madrasah

3.1.1. Indeks Sanitasi Madrasah Semua Jejang

3.1.2. Indeks Sanitasi Madrasah Untuk Raudhatul Athfal 3.1.3. Indeks Sanitasi Madrasah Untuk Madrasah Ibtidaiyah 3.1.4. Indeks Sanitasi Madrasah Untuk Madrasah Tsanawiyah 3.1.5. Indeks Sanitasi Madrasah Untuk Madrasah Aliyah

3.2. Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sanitasi Madrasah 3.2.1. Akses Air Dasar

3.2.2. Akses Sanitasi Dasar dan Sanitasi Bagi Disabilitas 3.2.3. Akses Kebersihan Dasar

4. Gambaran Kondisi Sanitasi Madrasah 4.1. Kondisi Sanitasi Di Raudhatul Athfal 4.1.1. Akses Air Dasar

4.1.2. Akses Sanitasi Dasar dan Sanitasi Bagi Disabilitas 4.1.3. Akses Sarana Cuci Tangan Dasar

4.2. Kondisi Sanitasi Madrasah Di Madrasah Ibtidaiyah 4.2.1. Akses Air Dasar

4.2.2. Akses Sanitasi Dasar dan Sanitasi Bagi Disabilitas 4.2.3. Akses Sarana Cuci Tangan Dasar

4.3. Kondisi Sanitasi Madrasah Di Madrasah Tsanawiyah 4.3.1. Akses Air Dasar

4.3.2. Akses Sanitasi Dasar dan Sanitasi Bagi Disabilitas 4.3.3. Akses Kebersihan Dasar

4.4. Kondisi Sanitasi Madrasah Di Madrasah Aliyah 4.4.1. Akses Air Dasar

4.4.2. Akses Sanitasi Dasar dan Sanitasi Bagi Disabilitas 4.4.3. Akses Sarana Cuci Tangan Dasar

06 07 08 09 12 08 15 16 17 17 18 19 19 21 22 23 24 24 25 25 25 26 27 28 28 30 31 32 33 33 33 34 36 37 38 40 42 43 44 45 47 48 48 50 52 53 54 55 57

DAFTAR ISI

16

(17)

17 58 59 60 61 64 65 86 107 128 148

24 28

20 33 34 34 35 39 40 41 42 44 45 46 47 49 50 51 52 54 55 56 57

29 30 31 32 37 43 48 53 5. Kesimpulan Dan Saran

5.1. Kesimpulan 5.2. Rekomendasi

LAMPIRAN 1: Rumus Analisa Indikator Sanitasi Madrasah LAMPIRAN 2: Tangga Pelayanan Sanitasi Madrasah LAMPIRAN 3: Indikator Indeks Sanitasi Madrasah LAMPIRAN 4: Indikator Sanitasi Raudhatul Athfal LAMPIRAN 5: Indikator Sanitasi Madrasah Ibtidaiyah LAMPIRAN 6: Indikator Sanitasi Madrasah Tsanawiyah LAMPIRAN 7: Indikator Sanitasi Madrasah Aliyah Daftar Gambar

Gambar 2.1 Tangga Pelayanan Sanitasi Madrasah Berdasarkan SDGs Gambar 3.1 Peta Indeks Sanitasi Madrasah

Daftar Tabel

Tabel 1.1 Standar Sanitasi Nasional Sekolah dan Madrasah

Tabel 3.1 Indikator Akses Air Dasar pada Semua Jenjang Pendidikan Tabel 3.2 Indikator Akses Sanitasi Dasar pada Semua Jenjang Pendidikan

Tabel 3.3 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Semua Jenjang Pendidikan Tabel 3.4 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Semua Jenjang Pendidikan Tabel 4.1 Indikator Akses Air Dasar pada Jenjang RA

Tabel 4.2 Indikator Akses Sanitasi Dasar pada Jenjang RA

Tabel 4.3 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Jenjang RA Tabel 4.4 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Jenjang RA Tabel 4.5 Indikator Akses Air Dasar pada Jenjang MI

Tabel 4.6 Indikator Sanitasi Dasar pada Jenjang MI

Tabel 4.7 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Jenjang MI Tabel 4.8 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Jenjang MI Tabel 4.9 Indikator Akses Air Dasar pada Jenjang MTs Tabel 4.10 Indikator Akses Sanitasi Dasar pada Jenjang MTs

Tabel 4.11 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Jenjang MTs Tabel 4.12 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Jenjang MTs Tabel 4.13 Indikator Akses Air Dasar pada Jenjang MTs

Tabel 4.14 Indikator Akses Sanitasi Dasar pada Jenjang MA

Tabel 4.15 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Jenjang MA Tabel 4.16 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Jenjang MA Daftar Grafik

Grafik 3.1 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang RA Menurut Provinsi Grafik 3.2 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang MI Menurut Provinsi Grafik 3.3 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang MTs Menurut Provinsi Grafik 3.4 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang MA Menurut Provinsi

Grafik 4.1 Kesenjangan Akses Air, Sanitasi dan Kebersihan Pada Jenjang RA Grafik 4.2 Kesenjangan Akses Air, Sanitasi dan Kebersihan Pada Jenjang MI Grafik 4.3 Kesenjangan Akses Air, Sanitasi dan Kebersihan Pada Jenjang MTs Grafik 4.4 Kesenjangan Akses Air, Sanitasi dan Kebersihan Pada Jenjang MA

17

(18)

18

I. PENDAHULUAN

(19)

19

Semua anak Indonesia berhak mendapat akses ke lingkungan yang aman, bersih dan sehat di sekolah dan madrasah. Salah satu komponen penting dalam pemenuhan hak anak di madrasah adalah ketersediaan sarana air, sanitasi dan kebersihan, atau dapat disebut sanitasi madrasah. Namun demikian, hingga saat ini, sanitasi di madrasah belum menjadi isu prioritas bersama yang perlu mendapat perhatian.

Tidak semua madrasah di Indonesia memperhatikan kesehatan lingkungan. Padahal buruknya fasilitas sanitasi di madrasah dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, seperti hilangnya waktu belajar dan menurunnya produktivitas siswa akibat sering tidak masuk sekolah. Banyak madrasah yang tidak mengalokasikan anggaran operasional dan perawatan sarana sanitasi yang menyebabkan kondisi sarana sanitasi sekolah atau madrasah tidak terurus.

Kondisi lingkungan yang buruk menjadi tempat berkembang vektor penyebar penyakit seperti lalat dan nyamuk, yang dapat menyebabkan penyakit diare, demam berdarah dengue, malaria dan sebagainya. Sedangkan kurangnya sarana sanitasi menyebabkan siswa dan guru tidak dapat menjaga kebersihan diri sehingga mudah tertuar dan menularkan penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, radang mata, dan sebagainya.

Mengapa Sanitasi Madrasah penting? Berdasarkan beberapa penelitian di tingkat global, ketersediaan sanitasi yang memadai akan memberikan dampak luar biasa pada beberapa indikator utama dalam pembangunan sektor kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, ekonomi, serta air dan sanitasi. Pada sektor kesehatan, kegiatan sederhana, seperti cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko terkena diare hingga 47%. Pembiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) secara rutin dapat menurunkan angka ketidakhadiran secara signifikan hingga 50%.

1.1. LATAR BELAKANG

1.2. KEBIJAKAN NASIONAL

Sanitasi Madrasah merupakan amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 79 menyatakan “Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup yang sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.”

Di tingkat nasional terdapat kesepakatan bersama empat kementarian, yaitu Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, dan Menteri

Agama tentang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kesepakatan tersebut tertuang

dalam SKB 4 Menteri Nomor: 0408a/U/84/319/Menkes. SKB/1984, 74/ tahun

1984 dan Nomor 60 Tahun 1984 Tentang Pokok-pokok Kebijakan Pembinaan

pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yang diperbarui menjadi nomor

6/X/PB/2014, Nomor 73 Tahun 2014, Nomor 41 Tahun 2014, dan Nomor 81 Tahun

2014.

(20)

20

Di dalam peraturan bersama itu terdapat tiga pilar UKS/M yakni pendidikan sehat, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat. Sanitasi Madrasah berkaitan dengan dua pilar UKS/M yakni pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat. Pada prinsipnya Sanitasi Madrasah terdiri atas tiga komponen utama yakni, pertama infrastruktur sarana prasarana air dan sanitasi yang layak, berfungsi, dan terpelihara dengan baik. Kedua, pengetahuan dan kebiasaan melakukan PHBS. Ketiga, madrasah menerapkan manajemen sanitasi berbasis madrasah untuk memastikan biaya operasional dan perawatan terkait fasilitas sanitasi madrasah tercantum dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Madrasah (RAPBM).

Terkait peningkatan sarana prasarana, termasuk Sanitasi Madrasah, Kementerian Agama merujuk pada Peraturan Menteri Menteri Pendidikan Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Prasarana SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA. Standar Sanitasi Madrasah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.1. Standar Sanitasi Nasional Sekolah dan Madrasah

KOMPONEN SANITASI

SEKOLAH/MADRASAH STANDAR

Air 1. Air harus tersedia

2. Tempat air dalam jamban, volume minimum 200 liter dan berisi air bersih

Sanitasi

1. Jamban untuk buang air besar dan buang air kecil 2. Rasio Jamban Sekolah/Madrasah :

• Madrasah Ibtidaiyah

• Laki-laki 1:60, Perempuan 1:50

• Madrasah Tsanawiyah

• Laki-laki 1:40, Perempuan 1:30

• Madrasah Aliyah

• Laki-laki 1:40, Perempuan 1:30

3. Luas minimum per unit jamban adalah 2 meter persegi 4. Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan

mudah dibersihkan

5. Tersedia air bersih di setiap unit jamban 6. Jamban kloset jongkok dengan leher angsa 7. Gayung

8. Gantungan pakaian 9. Tempat sampah

Cuci Tangan

• 1 unit sarana cuci tangan untuk setiap ruang kelas

• 1 unit sarana cuci tangan untuk ruang guru

• 1 unit sarana cTangan untuk ruang UKS/M

(21)

21

Pada tingkat global, Sanitasi Madrasah juga merupakan salah satu prioritas pembangunan yang termasuk ke dalam Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan 4a yang berbunyi “Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, penyandang cacat dan gender, serta memberikan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif dan afektif bagi semua.”

Lebih rinci lagi pada tujuan 4a.1 dinyatakan “Proporsi sekolah/madrasah dengan akses ke: (a) listrik, (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) infratruktur dan materi memadai bagi siswa difable, (e) air minum layak, (f) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (g) fasilitas cuci tangan.” Sejalan dengan tujuan SDGs, maka Sanitasi Madrasah terdiri atas akses air, akses jamban atau toilet, dan sarana cuci tangan.

1.3 KOMITMEN INTERNASIONAL

(22)

22 22

II. METODOLOGI

(23)

23

Apa yang dimaksud Sanitasi Madrasah? Sebuah madrasah dapat dikatakan menerapkan Sanitasi Madrasah yang baik apabila dapat memenuhi tiga aspek yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Pertama, madrasah memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi, terutama akases pada sarana air bersih yang aman dari pencemaran, sarana sanitasi (jamban) yang berfungsi dan terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan, serta fasilitas cuci tangan pakai sabun. Kedua, madrasah melaksanakan kegiatan pembiasaan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti Kegiatan Cuci Tangan pakai Sabun (CTPS) secara rutin dan memastikan pelaksanakan Menajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) secara konsisten. Ketiga, adanya dukungan manajemen madrasah untuk mengalokasikan biaya operasional dan pemeliharaan sarana sanitasi dan biaya kegiatan PHBS.

2.1. DEFINISI DAN KONSEP SANITASI MADRASAH

23

(24)

24

Dokumen Core Questions and Indicators for Monitoring WASH in School in Sustainable Development Goals yang diterbitkan UNICEF dan WHO Tahun 2016 mendefinisikan akses Sanitasi Madrasah ke dalam empat tingkatan, yaitu tidak tersedia akses, pelayanan terbatas, pelayanan dasar, dan pelayanan tingkat lanjut.

Jenis akses itu terbagi menjadi tiga, yaitu akses ke sumber air minum layak dan tersedia sepanjang waktu, akses ke fasilitas sanitasi dasar yang layak dan terpisah, dan akses ke fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dalam buku ini dibatasi pembahasan pada tiga indikator akses, yaitu akses ke air, jamban dan sarana cuci tangan. Setiap indikator dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu tidak tersedia, pelayanan terbatas dan akses dasar. Definisi operasional setiap indikator diuraikan di bawah ini.

Di bawah ini gambar tiga indikator sanitasi madrasah dan tingkatannya, diharapkan negara yang terlibat dalam SDGs dapat memenuhi tingkatan pelayanan dasar tahun 2030.

Madrasah dengan akses air dasar adalah madrasah dengan sumber air yang layak.

Sumber air yang layak adalah air perpipaan (ledeng/PDAM), sumur pompa, air hujan, mata air terlindungi, sumur terlindungi, dan air kemasan. Selain itu, akses dasar juga mensyaratkan sumber air yang layak tersedia di sekitar lingkungan madrasah dan cukup atau tersedia sepanjang waktu. Sedangkan akses air terbatas adalah madras- ah yang memiliki akses pada sumber air yang layak dan masih terdapat di lingkungan madrasah, namun air tidak selalu tersedia sepanjang waktu. Tangga akses air paling rendah adalah madrasah yang tidak memiliki sumber air atau tersedia sumber air namun tidak layak. Sumber air yang dikategorikan tidak layak adalah sumur tidak terlindungi, mata air tidak terlindungi, dan sumber air permukaan seperti sungai dan danau.

2.2. INDIKATOR SANITASI MADRASAH

AIR SANITASI KEBERSIHAN

Tidak Ada Layanan

Madrasah memiliki sumber air tidak layak ATAU tidak ada sumber air di lingkungan madrasah

Tidak Ada Layanan

Madrasah tidak memiliki toilet, ATAU toilet tidak layak

Tidak Ada Layanan

Madrasah tidak memiliki sarana cuci tangan

Layanan Terbatas

Madrasah memiliki sumber air layak namun tidak cukup (tidak tersedia sepanjang waktu)i.

Layanan Terbatas

Madrasah memiliki toilet layak tetapi tidak terpisah menurut jenis kelamin dan kondisinya rusak berat

Layanan Terbatas

Madrasah memiliki sarana cuci tangan namun tidak terdapat sabun dan air mengalir

Layanan Dasar

Madrasah memiliki sumber air layak, tersedia di lingkungan madrasah dan cukup (tersedia sepanjang waktu)

Layanan Dasar

Madrasah memiliki toilet layak dan terpisah menurut jenis kelamin, dengan kondisi baik atau rusak ringan

Layanan Dasar

Madrasah memiliki sarana cuci dengan sabun dan air mengalir

Gambar 2.1 Tangga Pelayanan Sanitasi Madrasah Berdasarkan SDGs

2.2.1 AKSES AIR DASAR

(25)

25

Madrasah dengan akses sanitasi dasar adalah madrasah dengan jamban atau toilet yang layak, terpisah berdasarkan jenis kelamin dan dapat digunakan. Jamban dan toilet yang layak adalah yang menggunakan sistem leher angsa dan cubluk dengan tutup. Sedangkan akses jamban terbatas apabila madrasah memiliki sarana sanitasi yang layak, misal WC sentor dan cubluk dengan tutup, namun tidak terpisah berdasarkan jenis kelamin dan tidak dapat digunakan. Madrasah dianggap tidak memiliki akases jamban apabila tidak tersedia sarana jamban atau toilet di madrasah tersebut sehingga siswa dan guru melakukan praktik buang air di sembarang tempat.

Madrasah juga disebut sebagai madrasah yang tidak tersedia akses apabila memiliki jamban namun kondisinya tidak layak karena berjenis cubluk tanpa penutup, jamban menggantung

Madrasah dengan akses pada kebersihan dasar adalah yang memiliki sarana cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Sedangkan tidak ada akses apabila tidak memiliki sarana cuci tangan, atau ada sarana cuci tangan tapi tidak tersedia air.

2.2.2 AKSES SANITASI DASAR

2.2.2 AKSES KEBERSIHAN DASAR

Sumber data yang dipakai dalam publikasi ini adalah data yang dikumpulkan dari EMIS pada Semester Genap Tahun 2019. Data yang dipakai menggunakan versi terakhir yaitu cut off data pada bulan Desember 2019.

2.3 SUMBER DATA

(26)

26 26

III.INDIKATOR DAN INDEKS SANITASI

MADRASAH

(27)

Kondisi sanitasi madrasah yang disampaikan dalam bab ini berdasarkan dua hal.

Pertama, menurut Indeks Sanitasi Madrasah. Kedua, menurut indikator akses air, akses jamban dan akses sarana cuci tangan. Indikator ini menganalisis rata-rata secara nasional yang merupakan gabungan dari jenjang di semua provinsi.

3.1 INDEKS SANITASI MADRASAH

Indeks Sanitasi Madrasah adalah pendekatan statistik untuk membandingkan kinerja Sanitasi Madrasah antar-provinsi, dengan pemilahan menurut jenjang pendidikan.

Indeks didefinisikan sebagai madrasah yang memiliki akses dasar pada tiga indikator sekaligus, yaitu air, sanitasi dan kebersihan. Dengan pendekatan ini dimungkinkan untuk membandingkan status suatu kabupaten/kota dengan kabupaten/kota lainnya.

Pada bagian ini, analisis Indeks Sanitasi Madrasah dilakukan baik pada semua jenjang secara keseluruhan maupun masing-masing jenjang.

27

(28)

28

Lima provinsi yang memperoleh Indeks Sanitasi Madrasah tertinggi untuk semua jenjang di Indonesia secara berurutan, yaitu Kalimantan Utara (41,94%), Kalimantan Timur (40,85%), Daerah Istimewa Yogyakarta (38,74%), DKI Jakarta (33,46%), dan Bali (33,33%). Sementara Indeks Sanitasi Madrasah terendah untuk semua jejang di Indonesia ada di Provinsi Sulawesi Barat (13,83%), diikuti Provinsi Maluku Utara (14,32%), Sulawesi Tenggara (14,48%), Maluku (15,80%) dan Papua (17,53%).

Rata-rata Indeks Sanitasi Madrasah untuk semua jenjang adalah 26,56%. Hanya 13 provinsi yang Indeks Sanitasi Madrasahnya di atas rata-rata nasional. Sebanyak 18 provinsi berada di bawah indeks 25% dan hanya 16 provinsi yang berada antara 25%

hingga 50%.

Pada jenjang Raudhatul Athfal, provinsi dengan indeks tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara (33,77%). Sebaliknya, Provinsi Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan Indek Sanitasi RA terendah yang hanya mencapai 3,33%.

3.1.1 INDEKS SANITASI MADRASAH SEMUA JEJANG

3.1.2 INDEKS SANITASI MADRASAH JENJANG RAUDHATUL ATHFAL

Gambar 3.1 Peta Indeks Sanitasi Madrasah

Indeks Sanitasi Madrasah

42 Kalimantan Utara

41 Kalimantan Timur

20 Kalimantan Tengah

22 Kalimantan Barat

32 Kalimantan Selatan

Sulewasi 26

Selatan 15

Sulewasi Tenggara 14

Sulewasi Barat

19 Sulewasi Tengah 24 Gorontalo

20 Sulawesi Utara 18

Aceh

22 Sumatera Utara

26 Riau

18 Sumatera Barat

21 Bengkulu

22 Kepulauan Riau

30

29 Lampung

25 Banten

23 Jawa Barat

33 Jawa Tengah

39 Yogyakarta

29 Jawa Timur

Bali

29

19 Nusa Tenggara Timur 28 Sumatera Selatan

Bengkulu 21

14 Maluku Utara

16 Maluku

21 Papua Barat

18 Papua Kep.

Bangka Belitung

33

Nusa Tenggara Barat 34

Jakarta

(29)

29

Grafik Error! No text of specified style in document..1 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang RA Menurut Provinsi

3,33 4,46 5,45 5,97

8,00 8,02 8,72 9,28 9,46 10,09 10,60 11,45 12,80

13,90 14,29 14,60 15,04 15,20 15,29 15,40 15,78 17,14 17,38 18,55 18,57 18,76 19,23 19,83 20,43 21,50 22,33 25,20 25,70 26,36

30,77

83,33 66,88

72,73 65,67

88,00 77,16 72,48 70,72 75,68

77,23 80,52 76,51 73,60 73,03

76,19 67,70

77,58 65,50

80,44 78,28 76,08 65,31

74,82 71,79 61,43

73,17 73,08

76,58 72,87 61,42

73,79 61,60

70,39 63,57 53,85

13,33 28,66

21,82 28,36

4,00 14,81 18,81 20,00

14,86 12,68

8,88 12,05 13,60 13,06 9,52 17,70

7,38 19,30

4,28 6,32 8,14 17,55

7,80 9,66 20,00

8,06 7,69 3,60 6,71 17,08

3,88 13,20

3,91 10,08 15,38

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Papua Barat Maluku Utara Papua Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Aceh Maluku Sumatera Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Selatan Gorontalo Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Kalimantan Barat Jawa Tengah Jawa Timur Rata-rata Nasional Sumatera Selatan Jambi Banten Bengkulu Sumatera Utara Bangka Belitung DKI Jakarta Lampung Riau Bali DI Yogyakarta Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Utara

Layanan Dasar Layanan Terbatas Tidak ada Layanan

Grafik 3.1 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang RA Menurut Provinsi

(30)

30

Pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah, provinsi dengan indeks tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara (53.57%). Sebaliknya, Provinsi Sulawesi Tenggara adalah provinsi dengan Indeks Sanitasi Madrasah terendah yang hanya mencapai 13.95%.

3.1.2 INDEKS SANITASI MADRASAH JENJANG MADRASAH IBTIDAIYAH

Grafik 3.2 Indeks Sanitasi Madrasah Jenjang MI Menurut Provinsi

Grafik Error! No text of specified style in document..2 Indeks Sanitasi Madrasah Jenjang MI Menurut Provinsi

13,95 15,38

18,18 19,37 19,52 20,28 20,65 21,71 22,30 22,63 22,92 23,00 23,47 25,00 25,15 25,56 26,13 26,21 27,23 27,31 27,45 29,89 30,18 30,46 32,60

35,25 35,27 38,10

39,89 40,30 40,60 40,63 46,26

47,60 53,57

73,84 59,23

61,93 74,34 72,38 70,63 67,39

72,57 70,27 69,34 60,42

71,00 68,78 58,70

66,46 63,67

67,94 67,95 58,72

68,49 66,67 61,07

67,77 64,99

62,00 60,89 58,72 51,19

58,47 53,73

54,14 53,13

51,42 50,52 39,29

12,21 25,38

19,89 6,29 8,10 9,09 11,96

5,71 7,43 8,03 16,67

6,00 7,75 16,30

8,38 10,77 5,92 5,83 14,04

4,20 5,88 9,04

2,05 4,55 5,39 3,86 6,00 10,71

1,64 5,97

5,26 6,25 2,32 1,88 7,14

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Sulawesi Tenggara Maluku Utara Sulawesi Barat Aceh Sulawesi Tengah Maluku Kalimantan Tengah Nusa Tenggara Timur Sumatera Barat Bengkulu Papua Barat Gorontalo Kalimantan Barat Sulawesi Utara Sumatera Utara Banten Jambi Jawa Barat Riau Sulawesi Selatan Papua Sumatera Selatan Lampung Nusa Tenggara Barat Rata Rata Jawa Timur Kalimantan Selatan Bali DI Yogyakarta Kepulauan Riau Kalimantan Timur Bangka Belitung Jawa Tengah DKI Jakarta Kalimantan Utara

Layanan Dasar Layanan Terbatas Tidak ada Layanan

(31)

31

Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah, provinsi dengan indeks tertinggi adalah Provinsi DI Yogyakarta (55,36%). Sebaliknya, Provinsi Maluku adalah provinsi dengan Indeks Sanitasi Madrasah terendah yang hanya mencapai 12,32%.

3.1.2 INDEKS SANITASI MADRASAH JENJANG MADRASAH TSANAWIYAH

Grafik 3.3 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang MTs Menurut Provinsi

12,32 13,13 14,97

16,30 17,17 19,72

20,36 20,41 21,62 22,98 22,98 23,08 24,32 24,94 25,00 25,15 27,40

28,13 29,34

30,55 31,65 31,98 32,52 32,78 33,33 33,52 36,29

39,39 41,30

42,90 45,45 45,46 46,34

52,44 55,36

67,39 63,75 58,82

76,09 72,96

73,59 70,02 63,27

62,16 69,94 70,19 72,60 70,27 68,19 63,91

66,47 67,12 59,38

62,77 64,10 59,48

61,56 64,47 61,95 58,33

59,91 58,03

57,58 47,83

50,85 45,45

52,30 45,12

45,93 41,96

20,29 23,13 26,20

7,61 9,87

6,69 9,62 16,33 16,22

7,08 6,83 4,33 5,41 6,87 11,09

8,38 5,48 12,50

7,89 5,35 8,87

6,46 3,01 5,27 8,33

6,57 5,68 3,03 10,87

6,25 9,09

2,24 8,54

1,63 2,68

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Maluku Maluku Utara Sulawesi Barat Bengkulu Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Aceh Nusa Tenggara Timur Papua Sumatera Utara Kalimantan Barat Sumatera Barat Sulawesi Utara Jambi Riau Kalimantan Tengah Gorontalo Papua Barat Banten Jawa Barat Sumatera Selatan Rata Rata Lampung Sulawesi Selatan Bangka Belitung Nusa Tenggara Barat Jawa Timur Kepulauan Riau Bali Kalimantan Selatan Kalimantan Utara Jawa Tengah Kalimantan Timur DKI Jakarta DI Yogyakarta

Layanan Dasar Layanan Terbatas Tidak ada Layanan

(32)

32

Pada jenjang Madrasah Aliyah, provinsi dengan indeks tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (61,29%). Sebaliknya, Provinsi Papua adalah provinsi dengan Indeks Sanitasi Madrasah terendah yang hanya mencapai 17,39%.

3.1.5. INDEKS SANITASI MADRASAH JENJANG MADRASAH ALIYAH

Grafik 3.4 Indeks Sanitasi Madrasah Jenjang MA Menurut Provinsi

Grafik Error! No text of specified style in document..3 Indeks Sanitasi Madrasah jenjang MTs Menurut Provinsi

Grafik Error! No text of specified style in document..4 Indeks Sanitasi Madrasah Jenjang MA Menurut Provinsi

17,39 18,35

20,00 20,00 20,29 21,05 21,52 21,52 21,69 22,74 23,91 24,42 26,25

27,11 29,09

31,82 31,91 32,53 33,13 33,49 34,33 34,48 34,59 35,29 35,40 35,45 37,21 37,75 38,84

42,74 45,18

46,43 56,06

61,02 61,29

78,26 60,55

70,00 72,31 63,77

73,68 71,75 66,82 53,01

67,87 67,39 66,54 59,38

65,06 65,45

65,91 56,84

61,45 62,81 58,25

57,60 58,62

59,29 41,18

51,46 57,12

55,81 56,17 52,40

53,85 49,40

53,57 40,91

37,29 35,48

4,35 21,10

10,00 7,69 15,94

5,26 6,73 11,66 25,30

9,39 8,70 9,04 14,38

7,83 5,45

2,27 11,25

6,02 4,06 8,25 8,07 6,90

6,12 23,53

13,14 7,43 6,98 6,08 8,76

3,42 5,42

0,00 3,03

1,69 3,23

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Papua Sulawesi Barat Kepulauan Riau Sulawesi Tenggara Maluku Papua Barat Sumatera Barat Jambi Maluku Utara Aceh Nusa Tenggara Timur Sumatera Utara Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Bengkulu Gorontalo Riau Kalimantan Tengah Lampung Sulawesi Selatan Rata Rata Bangka Belitung Banten Kalimantan Utara Sumatera Selatan Jawa Barat Sulawesi Utara Nusa Tenggara Barat Jawa Timur Jawa Tengah Kalimantan Selatan Bali Kalimantan Timur DI Yogyakarta DKI Jakarta

Layanan Dasar Layanan Terbatas Tidak ada Layanan

(33)

33

Persentase akses terhadap air dibagi menjadi tiga indikator yakni: memiliki akses air dasar, memiliki akses air namun terbatas, serta tidak memiliki akses air. Jenjang pendidikan yang memiliki akses air dasar hampir merata, antara 68% - 70%, dan rerata 69,94% untuk akses air dasar pada semua jenjang pendidikan madrasah di Indonesia.

Sebaliknya terdapat 27% semua jenjang pendidikan madrasah di Indonesia tidak memiliki akses air. Berarti terdapat 22.400 madrasah untuk semua jenjang pendidikan tidak memiliki akses terhadap air.

Persentase akses terhadap jamban dibagi menjadi tiga indikator yakni: memiliki akses jamban dasar, yakni terpisah dan dalam kondisi baik dan rusak ringan, memiliki akses jamban namun terbatas, dan tidak memiliki akses jamban. Rata-rata nasional, akses sanitasi dasar pada semua jenjang madrasah adalah 50,42%. Jenjang pendidikan yang paling banyak memiliki akses jamban dasar adalah Madrasah Aliyah (70,24%) dan Madrasah Tsanawiyah (67,86%). Jejang Raudhatul Athfal merupakan yang terburuk karena banyak RA tidak memiliki memiliki atau akses terbatas, yakni sebesar 27,97%.

3.2.1. AKSES AIR DASAR

3.2.2. AKSES SANITASI DASAR DAN SANITASI BAGI DISABILITAS

Tabel 3.1 Indikator Akses Air Semua Jenjang Pendidikan

3.2. INDIKATOR TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SANITASI MADRASAH

Sebagaimana disampaikan pada bab sebelumnya, akses Sanitasi Madrasah terbagi dalam tiga indikator dan setiap indikator terdapat tiga tingkatan yang berbeda. Tiga indikator tersebut adalah akses pada air, akses jamban, dan akses sarana cuci tangan.

Sedangkan tiga tingkatan adalah akses dasar, akses terbatas, dan tidak ada akses.

Di bawah ini rangkuman indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sanitasi Madrasah.

INDIKATOR RA MI MTS MA Total

% Akses Air Dasar 70,47

(21.245) 70,31

(18.111) 68,85

(12.634) 69,29

(6.220) 69,94

(58.210)

% Akses Air Terbatas 2,08

(627) 3,47

(894) 4,11

(754) 3,89

(349) 3,15

(2.624)

% Tidak Ada

Akses Air 27,45

(8.277) 26,21

(6.752) 27,04

(4.963) 26,82

(2.408) 26,91

(22.400)

Total 100

(30.149) 100

(25.757) 100

(18.351) 100

(8.977) 100

(83.234)

(34)

34

Satu dari dua madrasah (semua jenjang) tidak memiliki jamban atau tidak dapat digunakan. Ini berarti terdapat 41.268 atau 49,58% madrasah di Indonesia tidak memiliki jamban. Keadaan ini perlu mendapat perhatian dan prioritas program intervensi untuk penyediaan dan perawatan sarana jamban di madrasah.

Persentase untuk akses jamban disabilitas ini dibagi menjadi dua indikator yakni:

memiliki akses jamban bagi siswa disabilitas dan tidak memiliki akses bagi jamban disabilitas. Secara nasional madrasah semua jenjang pendidikan yang memiliki ak- ses jamban bagi siswa disabilitas hanya 13,78%. Selebihnya, madrasah tidak memi- liki akses terhadap jamban bagi siswa disabilitas mencapai 86,22%.

Dari seluruh jenjang pendidikan, Madrasah Ibtidaiyah memiliki akses yang paling besar terhadap sarana cuci tangan, yakni sebesar 58,67%. Namun data nasional menunjukkan bahwa hanya 55,66% madrasah di Indonesia yang memiliki akses terhadap sarana cuci tangan. Sebaliknya, madrasah di Indonesia tidak memiliki sarana cuci tangan sebesar 44,34%, atau sebanyak 36.907 madrasah di seluruh

Tabel 3.2 Indikator Akses Sanitasi Dasar pada Semua Jenjang Pendidikan

Tabel 3.3 Indikator Akses Sanitasi Bagi Disabilitas pada Semua Jenjang Pendidikan

INDIKATOR RA MI MTS MA Total

% Akses Jamban Dasar 27,97

(8.432) 57,37

(14.776) 67,86

(12.453) 70,24

(6.305) 50,42

(41.966)

% Akses Jamban Terbatas 52,64

(15.870) 27,39

(7.055) 16,14

(2.961) 12,72

(1.142) 32,47

(27.028)

% Tidak Ada

Jamban 19,39

(5.847)

15,24 (3.926)

16,00 (2.937)

17,04 (1.530)

17,11 (14.240)

Total 100

(30.149) 100

(25.757) 100

(18.351) 100

(8.977) 100

(83.234)

INDIKATOR RA MI MTS MA Total

% Akses Jamban untuk Siswa Disabilitas

8,56 (2.580)

15.64 (4.029)

17.68 (3.244)

17.98 (1.614)

13.78 (11.467)

% Tidak ada Jamban Disabilitas

91,44 (27.569)

84,36 (21.728)

82,32 (15.107)

82,02 (7.363)

86,22 (71.767)

Total 100

(30.149) 100

(25.757) 100

(18.351) 100

(8.977) 100

(83.234)

3.2.3. AKSES KEBERSIHAN DASAR

(35)

35

Indonesia tidak dapat melakukan kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Hal ini perlu diupayakan mengingat pembiasaan untuk melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diterapkan di lingkungan madrasah

Tabel 3.4 Indikator Akses Kebersihan Dasar pada Semua Jenjang Pendidikan

INDIKATOR RA MI MTS MA Total

% Akses Cuci Tangan & Air Mengalir

57,49

(17.332) 58,67

(15.111) 50,33

(9.236) 51,78

(4.648) 55,66

(46.327)

% Akses Cuci Tangan & Tanpa Air Mengalir

4,64 (1.399)

5,44 (1.401)

5,81 (1.067)

5,35 (480)

5,22 (4.347)

% Tidak Ada Akses 37,87

(11.418) 35,89

(9.245) 43,86

(8.048) 42,88

(3.849) 39,12

(32.560)

Total 100

(30.149) 100

(25.757) 100

(18.351) 100

(8.977) 100

(83.234)

(36)

36

IV. GAMBARAN KONDISI SANITASI MADRASAH

36

(37)

37

Gambaran kondisi sanitasi madrasah yang disajikan dalam bab ini adalah indikator akses air, jamban dan sarana cuci tangan menurut jenjang pendidikan. Pada tiap jenjang pendidikan, indikator-indikator ini akan dipilah lagi menurut provinsi dan tipe madrasah. Secara berurutan, jenjang pendidikan yang digambarkan adalah Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA). Adapun pemilahan pada setiap indikator di setiap jenjang menurut provinsi, yaitu 34 provinsi.

Sebagaimana disampaikan pada bab sebelumnya, akses sanitasi madrasah terbagi atas tiga indikator dan setiap indikator terdapat tiga tingkatan yang berbeda. Tiga indikator tersebut adalah: akses air, akses jamban, dan akses sarana cuci tangan.

Sedangkan tiga tingkatan adalah aks

Referensi

Dokumen terkait

Profil Kesehatan Tahun 2020 ini merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari Puskesmas Baktijaya Kota Depok yaitu sebagai salah satu keluaran dari upaya peningkatan

Petunjuk Pengisian Profil Lembaga RA / Madrasah MI, MTs, dan MA baik negeri maupun swasta di Lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 ini disusun untuk

Buku buku profil Madrasah yang sangat sederhana dapat dilihat!. Contohnya pada halaman

INSTRUMEN EDM

PROFIL SANITASI SAAT INI 49 menjadi bahan yang mempunyai nilai tinggi (kompos)pada peningkatan timbunan sampah.  Pemilahan sampah belum dilakukan secara menyeluruh di

PENILAIAN AKHIR TAHUN PAT MADRASAH IBTIDAIYAH TAHUN PELAJARAN 2020/2021 MATA PELAJARAN : BAHASA ARAB Hari/Tgl : ……….. ruangtamu .د ruangtidur .ج ruangmakan .ب ruangbelajar .أ

Dokumen ini berisi profil Madrasah Husnul Khatimah, termasuk informasi tentang profil, siswa, dan sarana

Tugas akhir ini membahas gambaran fasilitas sanitasi di Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung tahun