Tasawuf dari abu Dzar Al-ghifari
Abu Dzar, lahir 20 tahun sebelum munculnya agama Islam dalam sebuah keluarga dari kabilah Ghifar yang merupakan kabilah asli suku Arab. 1 Ayahandanya, Junadah adalah putra Ghifar, ibundanya Ramlah binti al-Waqi'ah dari kabilah Bani Ghifar bin Malil.2 Ahli sejarah mengatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai nama Ayahanda Abu Dzar: Yazid, Jundub, 'Asyraqah, Abdullah dan Sakan juga disebut- sebut sebagai nama ayah Abu Dzar. 3
Ibnu Hajar 'Asqalani menulis: Abu Dzar adalah seorang pria berperawakan tinggi dan berbadan kurus. 4 Ibnu Sa'd mengenalkan Abu Dzar sebagai seorang laki-laki yang berbadan tinggi dan berjanggut warna putih. 5 Dzahabi berkata: Abu Dzar seorang laki-laki yang memiliki perawakan yang kuat dan janggut tebal.6
Nama-nama dan Julukan
Ia dipanggil dengan nama Abu Dzar karena memiliki putra bernama "Dzar". Kebanyakan orang mengenal dengan julukan itu namun terkait dengan nama aslinya terjadi perbedaan seperti Badar bin Jundub, Burair bin Abdullah, Burair bin Junadah, Burairah bin 'Asyraqah, Jundub bin Abdullah, Jundub bin Sakan dan Yazid bin Junadah. 7 Nama yang masyhur dan benar nampaknya adalah Jundub bin Yazid.8
Berdasarkan sumber-sumber yang ada, ia mempunyai seorang putra bernama
"Dzar". Kulaini mencatat hal ini dalam bab wafatnya Dzar. 9 Istrinya bernama Ummu Dzar. [10]
Abu Dzar meninggal bulan Dzulhijjah meninggal pada pemerintahan khalifah Utsman di Rabadzah, [43]Ibnu Katsir menulis: Ketika Abu Dzar meninggal, tidak ada seorang pun berada di sisinya, kecuali istrinya. [44] Zirikli berkata: Ia meninggal dalam keadaan dirumahnya tidak mempunyai apa-apa sehingga tidak ada kain untuk mengkafankannya. [45] Mihran bin Maimun menceriterakan: yang aku lihat di rumah Abu Dzar tidak lebih bernilai dari 2 dirham. [46]
Telah dinukilkan bahwa ketika Ummu Dzar menangis dan kepada suaminya berkata: Engkau akan meninggal di padang pasir dan aku tidak mempunyai kain untuk mengkafanimu, Abu Dzar berkata kepada istrinya: Jangan menangis dan bergembiralah! Karena pada suatu hari Rasulullah bersabda: salah seorang dari 1 A'yan al-Syi'ah, jld. 4, hlm. 225.
2 Al-Isti'āb, jld. 1, hlm. 252.
3 Masyāhir Ulama al-Amshār, hlm. 30, al-Tsiqāt, jld. 3, hlm. 55, Taqrib al-Tahdzib, jld. 2, hlm. 395.
4 Al-Ishābah, jld. 7, hlm. 107.
5 al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 4, hlm. 23
6 Siyar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 47.
7 Usd al-Ghabah, jld. 5, hlm. 186, Tahdzib al-Kamāl, jld. 33, hlm. 294, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 49, A'yān al-Syiah, jld. 4, hlm. 225
8 Al-Isti'āb, jld. 4, hlm. 1652.
9 Al-Kāfi, hlm. 25.
kalian akan meninggal di padang pasir dan sekelompok dari kaum mukminin akan menguburkanmu. Semua orang yang bersamaku kala itu meninggal di kota dan di antara masyarakat dan perkataan Nabi itu tentang diriku. [47]
Setelah itu, Abdullah bin Mas'ud dan sebagian penolong setianya (Hajar bin Adabir, Malik Asytar dan sekelompok pemuda dari Kaum Anshar) secara kebetulan lewat dari sana dan kemudian sibuk memandikan dan mengkafankan. Kemudian Abdullah bin Mas'ud pun mensalati jenazahnya. [48]
Sesuai dengan laporan Tarikh Ya'qubi, Hudzaifah bin Yaman, sejumlah tokoh masyarakat pun ikut bergabung dalam acara pemakaman Abu Dzar. [49] Berdasarkan semua sumber, kuburan Abu Dzar berada di Rabadzah. [50]
https://id.wikishia.net/view/Abu_Dzar_al-Ghifari Sebelum Masuk Islam
Dalam sejarah tercatat bahwa ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria. Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya. Abizar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian. Itu sebabnya, Abizar yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.
Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya.
Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar, Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abizar tak lama tinggal.
Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang mendapat tentangan dari masyarakat setempat.10
Diceritakan oleh (Abu Jamra): Ibn Abbas r.a berkata pada kami: Maukah kalian aku ceritakan kisah tentang masuk Islamnya Abu Dzar? Kami menjawab: "Ya"Abu Dzar berkata, "Aku adalah seorang pria dari 10 SERUJI - Endang Sulis Selasa, 23 Jan, 2018 | 11:5
kabilah Ghifar, Kami mendengar bahwa ada seseorang mengaku nabi di Mekkah. Aku bilang pada seorang saudaraku,'Pergilah temui orang itu, bicaralah dengannya lalu kabarkanlah beritanya padaku'. Dia pergi menjumpainya dan kembali. Aku bertanya padanya, 'Ada kabar apa yang kau bawa?', Dia berkata,'Demi Allah, aku melihat seorang pria mengajak pada hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang buruk', Aku berkata padanya, 'Kamu tidak memuaskan keingin-tahuanku dengan keterangan yang hanya sedikit itu' .
Aku mengambil kantung air dan tongkat lalu pergi menuju Mekkah. Aku tak tahu siapa dan seperti apa nabi itu, dan akupun tak mau menanyakan hal itu pada siapapun. Aku terus minum air zam-zam dan terus berdiam diri di sekitar Ka'bah. Lalu Ali lewat didepanku, dia bertanya, 'Sepertinya anda orang asing disini?
'Aku jawab 'Ya'.
Dia mengajakku kerumahnya, aku lalu mengikutinya. Dia tidak menanyakan apapun padaku, Akupun tidak mengatakan apa-apa padanya.Besok paginya aku pergi lagi ke Ka'bah untuk menanyakan perihal nabi itu pada orang-orang disana, tapi tak seorangpun mengatakan sesuatu tentangnya. Ali kembali lewat dihadapanku dan bertanya,'Adakah seseorang yang belum juga menemukan tempat tinggalnya?', Aku bilang,'Tidak'. Dia berkata,'Kemari mendekatlah padaku'. Lalu dia bertanya,'Anda punya urusan apa disini?
Apa yang membuat anda datang ke kota ini?'. Aku bilang padanya,'Jika kamu bisa menjaga rahasiaku, maka aku akan mengatakannya ', Dia menjawab,Akan aku lakukan'. Aku berkata padanya,
'Kami mendengar bahwa ada seseorang di kota ini mengaku dirinya sebagai seorang nabi...aku lalu mengutus seorang saudaraku untuk bicara dengannya dan waktu dia kembali, dia membawa kabar yang tidak memuaskan. Jadi aku berpikir untuk bertemu dengannya secara langsung'. Ali berkata,'Tercapailah sudah tujuanmu, Aku mau menemui dia sekarang, jadi ikutlah denganku dan kemanapun aku masuk ke suatu tempat, masuklah setelahku. Jika aku menjumpai seseorang yang mungkin akan menyusahkanmu, aku akan berdiri didekat tembok berpura-pura memperbaiki sepatuku (sebagai tanda peringatan) dan anda harus segera pergi'.
Kemudian Ali berjalan dan aku mengikutinya sampai dia masuk ke suatu tempat dan aku masuk dengannya menemui sang nabi yang padanya aku berkata,'Terangkanlah hakekat Islam itu padaku'. Waktu dia menjelaskannya, aku langsung menyatakan masuk Islam seketika itu juga.Nabi bersabda,'Wahai Abu Dzar, simpanlah perkataanmu itu sebagai rahasiamu dan pulanglah ke daerah asalmu dan apabila kamu mendengar kabar tentang kemenangan kami, kembalilah temuilah kami'. Aku berkata, 'Demi Dia Yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, aku akan mengumumkan ke-Islamanku secara terang-terangan dihadapan mereka (kaum musyrikin)'.
Abu Dzar pergi ke Ka'bah dimana banyak orang-orang Quraish berkumpul, lalu berseru,'Hai, Kalian orang-orang Quraish! Aku bersaksi (Ashadu a lâ ilâha ill-Allah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu) Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu hamba dan rasul Allah!'. (Mendengar hal itu) Orang-orang Quraish itu berteriak,'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)! Mereka bangkit lalu memukuliku
sampai hampir mati. Al Abbas melihatku lalu menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku. Lalu dia menghadapi mereka dan berkata,'Ada apa dengan kalian ini! Apakah kalian mau membunuh seorang dari kabilah Ghifar?, padahal selama ini kalian berdagang dan berkomunikasi dengan dunia luar melewati daerah kekuasaan mereka?!'. Mereka lalu meninggalkanku...
Besok paginya aku kembali ke Ka'bah dan berseru sama persis seperti yang aku lakukan kemarin, mereka kembali berteriak,'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!'. Lalu aku dipukuli (sampai hampir mati) sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas menghampiri diriku dan menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku, dan dia berkata pada mereka sama seperti yang dia lakukan kemarin. Begitulah kisah tentang masuk Islamnya Abu Dzar r.a (4:725-OB)
Hijrah Ke Al Madinah :
Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Badar, Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallamkemanapun
beliau berjalan.
Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada
tulis hadisnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad 3 / 164)
“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu
dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya.
Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam pernah berpesan kepadanya :
(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya’ 1 / 162)
“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu
Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162
Menjadi Sahabat Nabi
Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.
Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam "Perang pakaian compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar. Sambil memeluknya, Rasulullah berkata: "Abizar akan tetap sama sepanjang hidupnya." Ucapan Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.
Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai "Ayat Kanz" (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat Attaubah, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.
"Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun."
Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu. Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.
Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip peristiwa masa Nabi: "Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad. Nabi berkata kepada Abizar, 'Jika aku
mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah'.11
Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa
Semasa hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar. Sudah menjadi kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kafilah yang lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa. Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria.
Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar sebagai 'duri dalam daging' bagi penguasa setempat.
Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi SAW yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, "Kalau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab peringatan itu. Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan ahli- ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya. Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.
Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali."12
11 Summarized Sahih Al Bukhary, Islamic University Al Madinah Al Munawarah Abu Dzar Al-Ghifari/abuhakam kirmani
12 Summarized Sahih Al Bukhary, Islamic University Al Madinah Al Munawarah Abu Dzar Al-Ghifari/abuhakam kirmani
Pengaruh Nabi pada Diri Abu Dzar
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memiliki pengaruh yang kuat bagi para sahabatnya. Termasuk Abu Dzar radhiallahu’anhu.Abu Dzartermasukorang yanglamabersahabat dengannabi. Sehingga banyak hal yang ia teladani dari manusia paling utama itu.dari Hatib.AbuDzarberkata ´tidak ada Sesutu pun yang ditinggalkan Rasulullahyang dmaskan Jibril dan Mikailkedalam dada beliau kecuali juga beliau memasukan di dadaku.”
Kemudian nabi mengajarkan kepada Abu Dzar bahwa dzikir bernilai sedekah.
اَََمَك َنوّل َََصُي ِروُجُ للاََِب روثدلا ُباَحلصَأ َبَهَذ ِهّللا َلوُسَر اَي َرَذ وُبَأ َلاَق َلاَق ٌةَرليَرُه يِبَأ لنَع
ِهََِب ُقّد َََصَتَن ٌلاَم اَنَل َسليَلَو اَهِب َنوُقّدَصَتَي ٍلاَولم َأ ُلوُصُف لمُهَلَو ُموُصَن اَمَك َنوُموُصَيَو يّلَصُن
َكَقَبَس لنَم ّنِهِب ُكِرلدُت ٍتاَمِلَك َكُمّلَعَأ َلَأ َرَذ اَبَأ اَي َمّلَسَو ِهليَلَع ُهّللا ىّلَص ِهّللا ُلوُسَر َلاَقَف
ّزَََع َهّللا ُرّبَكُت َلاَََق ِهّللا َلو ََُسَر اَي ىَلَب َلاَق َكِلَمَع ِللثِمِب ذَخ َأ لنَم ّلِإ َكقَلَخ لنَم َكُقَحللَي َلَو
َهَََلِإ َلِب اَهُمِتلخَتو نيثلثو اثلث ةُحّبَسُتَو َنيِث َلَثَو اًث َلَث ُهُدَملحَتَو َنيِثلَثَو اًث َلَث ٍة َلَص ّلُك َرُبُد ّلَجَو هبونذ هل ترِفُغ ُريِدَق ٍءلي َش ّلُك ىَلَع َوُهَو ُدلمَحللا ُهلو ُكللُمللا ُهَل ُهَل َكيرش َل ُهَدلحَو ُهّللا ّلِإ
ِرلحَبللا ِدَبَز َللثِم لتَناَك لوَلو
Dari Abu Hurairah thadhuallahu 'anhu, ja berkata, Abu Dzar berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa Mereka mempunyai kelebihan harta yang mereka sedekahkan sementara kami tidak memiliki harta untuk bersedekah."
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Wahai Abu Dzar, maukah engkau ku-ajarkan beberapa kalimat yang dengannya engkau bisa menyusul orang yang telah mendahuluimu dan orang yang di belakangmu tidak dapat mengejarmu kecuali mereka mengerjakan apa yang kau ketiakan? Abu Dzar menjawab. "Tentu. Rasulullah
Beliau bersabda. "Engkau bertakbir tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat Bertahmid tiga puluh tiga kali Bertasbih tiga puluh tiga kali. Dan tutup dengan ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu) niscaya dosa- dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih lautan." [Sunan Abu Daud. No: 1286].13
Zuhud dan Sederhana
Ada seseorang berkata pada Abu Dzar, radhiallahu anhu. "Apakah engkau tidak tertarik menguasai suatu wilayah seperti Thalhah dan az-Zubair? Ja meniawab, "Apa yang akan kulakukan dengan menjabat pemimpin? Cukup bagiku setiap hari dengan tegukan air, nabıdz (air kurma), atau susu. Dan setiap pekannya satu takaran gandum"
Abu Dzar berkata, "Di zaman Rasulullah, makananku banyalah satu sha' kurma, Dan aku tidak tertarik menambahnya hingga Rasulullah memuji Abu Dzar. aku bertemu dengan Allah (wafat)" Rasulullah memuji Abu Dzar.
ُنب ُرمممَع َماممَقَف َميرممم نبا ىممسيع هيبش رذ يبأ نم ىفوأ لو قدصأ ةجهل يذ نم ءارضخلا لظت لو ءاربغلا لقت ام هل هوفرعاف معن لاق هل كلذ فرعتف ا لوسر اي لاقف باطخلا
Tidaklah ada di atas bumi dan di bawah kolong langit ini seorang yang lebih jujur ucapanuya dan lebih memenuhi janji dari Abu Dzar. Ja mirip dengan Isa bin Maryam (dalam zuhud dan tawadhu')." Umar berdin dan menanggapi, "Wahai Nabi Allah, apakah kita mengetahui kedudukan tersebut untukuya"? Nabi menjawab.
"Iya, ketauhilah untuknya." [HR. at-Turmudzi 3802]
Setia Bersama Nabi Meskipun Dalam Kondisi Sulit
Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata, "Saat Rasulullah berjalan menuju Tabuk Sebagian orang tidak turut serta dalam pasukan Para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, si Fulan tidak ikut. Beliau menjawab.
'Biarkan saja. Kalau pada diriva ada kebaikan, Allah akan menyusulkannya menuju kalian. Kalau memang dia orang yang buruk, Allah membuat kalian nyaman dengan ketidak-kehadirannya.
Lalu ada yang berkata, Wahai Rasulullah, Abu Dzar, juga tidak ada di pasukan. Hewannva membuat ia terlambat Beliau menjawab, Biarkan dia. Kalau pada dirinya ada kebaikan, Allah akan menyusulkannya menuju kalian. Kalau memang dia orang yang buruk, Allah membuat kalian nyaman dengan ketidak- kehadirannya Saat itu Abu Dzar kesal, ia mencela hewan tunggangannya Saat si hewan semakin menghambatnya, ia ambil barang-barangnya dan ia pikul di pundaknya. Lalu berangkat jalan kaki mengikuti Rasulullah
Rasulullah berhenti di suatu tempat. Lalu ada seseorang yang melihat dan berkata, Wahai Rasulullah, ada seseorang yang tengah berjalan Rasulullah berkata, "Mudah-mudahan itu Abu Dzar. Setelah diamati, para sahabat mengatakan, Wahai Rasulullah, benar itu Abu Dzar'. Rasulullah bersabda.
هدحو ثعبيو ،هدحو توميو ،هدحو يشمي ، رذ ابأ هللا محر
Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Dia berjalan sendirian. Wafat dalam kondisi sendirian. Dan dibangkitkan sendirian.”
Meriwayatkan Hadits
Abu Dzar radhiallah’anhu berkata
هارأ يّنَأ ٌروُن َلاَقَف َكّبَر تيأر له ملسو هيلع ا ىلص ِا َلوسر ُتْلَأس
” Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah Anda melihat Rabb Anda (saat mi’raj)”? Nabi menjawab, ‘Yang kulihat hanyalah cahaya’.” [HR. ath-Thabrani dalam al- Mu’jam al-Ausath, 8/170].
Abu Dzar bertanya pada Rasulullah?
موممي اممهنإو ةممنامأ اممهنإو فيعممض كممنإ رذ اممبأ اي لاق مث يبكنم ىلع هديب برضف لاق ينلمعتست لأ ا لوسر اي تلق هيف هيلع يذلا ىدأو اهقحب اهذخأ نم لإ ةمادنو يزخ ةمايقلا
Aku bertanya pada Rasulullah tidakkah Anda memberiku tugas (jabatan)”? Beliau menepuk pundakku dan berkata, “Abu Dzar, engkau seorang yang lemah. Sementara jabatan itu amanah.
Dan hal itu di hari
kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi mereka yang mengambilnya dengan benar dan menunaikannya.”(HR Muslim 1852Bersama Para Sahabat Bersama Muawiyah
Zaid bin Wahb berkata, “Aku melewati Rabadzah. Ternyata di sana ada Abu Dzar radhiallahu ‘anhu. Aku berkata padanya, ‘Apa yang menyebabkan Anda bisa tinggal di sini’? Ia menjawab, ‘Sebelumnya aku tinggal di Syam. Lalu aku bersilang pendapat dengan Muawiyah mengenai ayat:
هّللا ِليِبَس يِف اَهَنوُقِفلنُي َلَو َةّضِفللاَو َبَهّذلا َنوُزِنلكَي َنيِذّلاَو
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah…” [Quran At-Taubah: 34]
Muawiyah mengatakan, ‘Ayat tersebut turun terkait dengan ahlul kitab’. Sementara aku berpendapat, ‘Ayat itu turun berkaitan dengan kondisi kita sekarang (yang bermewahan)’. Karena itu, terjadi perselisihan antara aku dengannya. Iapun menulis surat kepada Utsman mengadukan perihalku.
Lalu Utsman memerintahkanku untuk datang ke Madinah. Orang-orang mengumpuli seakan mereka belum pernah berjumpa denganku sebelumnya. Kemudian aku menyampaikan kepada Utsman pendapatku tentang ayat itu. Ia menanggapi dengan berkata, ‘Kalau engkau mau, kau bisa mengasingkan diri di tempat yang dekat dengan Madinah’. Karena inilah aku sekarang berada di sini. Seandainya yang memerintahku seorang Habasyi sekalipun, aku akan mendengar dan taat.”
Bersama Ubay bin Ka’ab
Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku masuk masjid di hari Jumat. Saat itu Nabi sedang berkhutbah. Lalu aku duduk di dekat Ubay bin Ka’ab. (Saat shalat) Nabi membaca Surat Bara-ah (At-Taubah). Aku berkata pada Ubay, ‘Kapan surat ini diturunkan’? Namun ia hanya menatapku dan tidak menjawab. Lalu aku diam beberapa saat. Setelah itu aku bertanya lagi padanya. Tapi, ia tetap menatapku dan tidak berbicara. Aku diam lagi beberapa saat. Kemudian bertanya lagi. Ia tetap menatapku dan tidak menjawab.
Saat Nabi selesai mengerjakan shalat, aku berkata pada Ubay, ‘Tadi aku bertanya padamu, tapi kau malah mematapku dan tidak menjawabku’. Ubay berkata, ‘Engkau tidak dapat apa-apa dari shalatmu kecuali kesia- siaan saja’.
Lalu aku menuju Nabi dan bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, tadi aku berada di samping Ubay saat Anda membaca Surat Bara-ah. Aku bertanya padanya kapan surat ini diturunkan. Tapi ia hanya menatapiku dan tidak menjawab. Kemudian ia mengatakan, ‘Engkau tidak dapat apa-apa dari shalatmu kecuali kesia-siaan saja’. Nabi menanggapi, ‘Ubay benar’. [Shahih Ibnu Khuzaimah, 1807].
Di awal-awal turunnya perintah shalat, para sahabat boleh ngobrol dalam shalatnya. Hingga turun firman Allah Ta’ala,
َنليِتِناَق ِهلل اوُموُقَو
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” [Quran Al-Baqarah: 238].
Merekapun tidak boleh lagi ngobrol saat shalat. Kemungkinan Abu Dzar belum mengetahui tentang ayat ini.
Tapi dari riwayat ini, kita bisa tahu betapa semangatnya Abu Dzar dalam mempelajari ilmu agama.
Mendengar surat yang dibaca Rasulullah, ia langsung ingin tahu tentang surat tersebut. Saat ia dinilai salah dalam syariat, ia langsung bertanya kepada sumbernya langsung. Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Petuah
Sejak memeluk Islam, Abu Dzar telah menjadi seorang pendakwah di jalan Allah. Ia mendakwahi ayah, ibu, keluarga, dan kabilhanya. Sampai semua anggota kabilahnya memeluk Islam. rasulullah bersabda kepada Bani Ghifar,
ا اهملاس ملسأو ،اهل ا رفغ رافغ
“Kabilah Ghifar semoga mendapat maghfirah (ampunan) Allah. Kabilah Aslam semoga Allah selamatkan.”
Di antara petuah Abu Dzar dalam berdakwah terdapat dalam riwayat berikut ini. Dari Shadqah bin Abi Imran bin Hatthan, ia berkata, “Aku menemui Abu Dzar. Kulihat ia berada di masjid, menyendiri dengan kain hitamnya. Aku bertanya, ‘Abu Dzar, mengapa menyendiri seperti ini’? Ia menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda,
ّرّشلا ِءلمإ نِم ٌريَخ ُتوكُسلاو ،ِتوكُسلا نِم ٌريَخ ِريخلا ُءلمإو ،ِةدحَولا نِم ٌريَخ ُحلاّصلا ُسيلجلاو ،ِءوُسلا سيلج نِم ٌريَخ ُةدحَولا
‘Sendirian lebih baik daripada teman yang buruk. Teman yang shaleh lebih baik daripada sendirian. Ucapan yang baik lebih baik daripada diam. Dan diam lebih baik daripada berbicra yang buruk’.” [al-Jami’ ash- Shaghir, 9647].
Abu Dzar berkata,
روبقلا ةشحول ليللا ءادوس يف نيتعكر اولصو ،روشنلا موي لوطل رحلا ديدش اًموي اوموصو ،روملا مئاظعل ةجح اوجح
“Berhajilah untuk menghadapi perkara yang besar. Berpuasalah di hari yang sangat terik untuk menghadapi panjangnya hari berkumpul (di mahsyar). Shalatlah dua rakaat di tengah gelapnya malam untuk menghadapi ngerinya kegelapan kubur.” [Hilyatul Auliya, Hal: 166].
Dalam Kesendirian
Setelah Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu wafat, kekhalifahan dipegang oleh khalifah rasyid lainnya, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Di masa Utsman, kekuasaan kaum muslimin semakin meluas. Harta- harta datang berlimpah. Dari Persia, Romawi, Mesir. Orang-orang Arab yang dulunya miskin menjadi kaya.
Mereka membangun istana. Dan hidup sebagai penguasa dunia.
Dalam kondisi gemah ripah bangsa Arab ini, Abu Dzar merenungi firman Allah Ta’ala,
ْمُهُبوممُنُجَو ْمُهُهاممَبِج اممَهِب ىَوممْكُتَف َمّنَهَج ِراممَن يِف اممَهْيَلَع ىَمْحُي َمْومَي * ٍميِلَأ ٍباَذممَعِب ْمُه ْر ّممشَبَف ِ ّا ِليِب َممس يِف اممَهَنوُقِفْنُي َلَو َة ّممضِفْلاَو َبَهّذمملا َنوُزِنْكَي َنيِذّلاَو
َنوُزِنْكَت ْمُتْنُك اَم اوُقوُذَف ْمُكِسُفْنَل ْمُت ْزَنَك اَم اَذَه ْمُهُروُهُظَو
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” [Quran At-Taubah: 34-35].
Saat itu Abu Dzar tinggal di Syam dengan gubernurnya, Muawiyah bin Abi Sufyan. Syam adalah tanah kaum muslimin yang paling subur dan yang terbaik. Sementara Abu Dzar terus menyerukan pendapatnya tentang ayat tersebut. Muawiyah khawatir kedudukan Abu Dzar sebagai sahabat senior akan memperngaruhi banyak orang. Sehingga berdampak pada stabilitas pemerintahan. Namun ia segan. Ia menaruh hormat besar pada Abu Dzar. Tak berani berdiskusi dengannya, meskipun ia pemimpinnya. Iapun menulis surat kepada Amirul Mukminin Utsman bin Affan terkait masalah ini.
Utsman mengundang Abu Dzar datang ke Madinah. Terjadilah diskusi panjang antara sahabat utama ini. Dua orang yang pertama-tama memeluk Islam. Berkedudukan mulia. Dan lama bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di akhir diskusi, Abu Dzar berkata, “Aku tak butuh dengan dunia kalian ini.”
Abu Dzar meminta dengan hormat kepada Utsman untuk mengasingkan diri di Rabadzah. Utsman mengizinkannya.
Saat berada di Rabadzah, ada seseorang dari Kufah menemui Abu Dzar. Ia mengajaknya untuk memberontak kepada Utsman bin Affan. Spontan ia menghardiknya. Ia berkata, “Demi Allah, seandainya Utsman menyalibku di batang kayu. Atau mengasingkanku di gunung. Pasti aku akan menaatinya. Aku akan bersabar dan berharap pahala. Aku berpendapat itulah yang terbaik untukku. Seandainya dia mengungsikan aku dari ufuk ke ufuk. Pasti aku akan menaatinya. Aku akan bersabar dan berharap pahala. Dan menurutku itulah yang terbaik untukku. Kalau dia mengembalikan aku ke rumahku. Pasti aku akan menaatinya. Aku akan bersabar dan berharap pahala. Dan menurutku itulah yang terbaik untukku.
Wafat
Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu wafat di pengasingan di Rabadzah pada tahun 32 H/652 M. Dan ini sekaligus membuktikan mukjizat kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. beliau bersabda tentang Abu Dzar,
هدحو ثعبيو ،هدحو توميو ،هدحو يشمي ،ّرَذ ابأ ا محر
“Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Dia berjalan sendirian. Wafat dalam kondisi sendirian. Dan dibangkitkan sendirian.”
Tokoh yang mengambil pelajaran dari abu dzar
KH Ahmad Dahlan menjadikan Abu Dzar sebagai teladan .
Abu Dzar Al-Ghifari RA adalah salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Dari penuturan Hadjid—
aalah satu murid KH Ahmad Dahlan—kita punya kesan bahwa sang pendiri Muhammadiyah menjadikan Abu Dzar siebagai salah satu teladan terbaik setelah Nabi SAW.
Dalam hal di atas, menarik jika kita ajukan tanya: Pertama, apa yang dikatakan Hadjid terkait “hubungan”
Abu Dzar dan Ahmad Dahlan? Kedua, antara lain hal-hal apa saja yang tampak “beririsan” pada kiprah dakwah mereka?
Selalu Bersungguh-sunggu
Buku itu, Pelajaran KHA Dahlan: 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an, meski berukuran mungil tapi sarat makna. Ditulis oleh Hadjid berdasarkan apa-apa yang diterimanya dari sang guru.
Saat memberi pengantar pada bahasan “17 Kelompok Ayat Al-Qur’an”, Hadjid (2013: 35), menulis: “Pokok- pokok soal apakah yang terkandung dalam 17 kelompok itu? Ialah soal Isytirakiyah Islamiyah (Sosialisme Islam). Ialah tentang hidup menurut kemauan Islam. Yakni menurut mazhab Sahabat Abu Dzar yang pernah diajarkan dan diamalkan oleh Kiai Dahlan sebelum negara kita Indonesia merdeka (paham ini telah membikin gempar Pemerintah Kolonial dan juga menggemparkan sebagian para ulama)”.
Pada kutipan di atas, ada keterangan menarik yaitu “mazhab Sahabat Abu Dzar yang telah pernah diajarkan dan diamalkan oleh Kiai Dahlan”. Pertanyaannya, adakah “mazhab Abu Dzar”? Tentu, tak ada.
Boleh jadi, yang dimasud Hadjid sebagai “mazhab Abu Dzar ” adalah bahwa Ahmad Dahlan mengikuti spirit Abu Dzar Ra dalam gerak kepejuangannya di medan dakwah. Bisa jadi, Hadjid melihat, bahwa perilaku rela berkorban dari sang guru sama dengan paham dan praktik Abu Dzar Ra, seorang sahabat Nabi Saw yang dikenal sebagai tokoh yang rajin membela golongan lemah. Abu Dzar Ra dikenal bersungguh-sungguh dalam menolong kaum miskin. Sementara, dia sendiri hidup sederhana.
Jika melihat isi “17 Kelompok Ayat Al-Qur’an”, memang terasa dekat dengan langkah-langkah dakwah yang telah dijalankan Abu Dzar. Dari 17 kelompok itu, ada pesan, antara lain, agar kita selalu bisa
“Membersihkan Diri Sendiri”. Ada pesan agar kita tak kalah dengan hawa nafsu yang pada dasarnya selalu
mengajak untuk mencintai harta. Ada pesan, agar kita tidak menjadi pendusta agama. Ada pesan, perkuat iman dan selalu istiqomah-lah dalam beramal shalih. Ada pesan, agar kita selalu bersungguh-sungguh: Berani berjihad. Ada pesan, menjelang bahasan akhir: Jaga Diri.
Sekadar contoh, mari cermati pesan jihad Ahmad Dahlan: “Orang yang hendak mencari keduniaan tidak akan berhasil jika tidak dengan sungguh-sungguh. Maka demikian pula orang yang hendak mencari surga, tentu tidak akan berhasil masuk surga apabila tidak berani jihad, yaitu bersungguh-sungguh dalam membela agama Allah dengan penuh pengorbanan jiwa, raga, dan harta benda” (Hadjid, 2013: 119).
Mari perhatikan sejumlah “irisan” gerak langkah dakwah dan kepejuangan keduanya. Kita seksamai, bahwa ternyata memang ada semacam benang merah semangat yang sama.
Pencari Kebenaran
Abu Dzar Ra pencari kebenaran. Dari tempat yang sangat jauh, dari suku Ghifar yang dikenal berandalan, dia mencari kebenaran. Dia tempuh perjalanan penuh resiko. Dia temui Rasulullah Saw dan menyatakan keislamannya di saat-saat awal risalah Islam disampaikan. Dalam hal urutan masuk Islam, dia yang kelima atau keenam.
Ahmad Dahlan pencari kebenaran. Dia belajar agama, mulai dari orang-orang di sekitarnya. Mulai belajar dari sang ayah sendiri dan dari kakak-kakak iparnya. Lalu belajar ke ulama-ulama di sekitar Yogyakarta. Terus ke Mekkah, bahkan sampai dua kali. Pendek kata, Ahmad Dahlan seorang pembelajar sejati, termasuk dalam makna suka berdiskusi (bahkan berdebat) dengan pemeluk agama lain.
Radikal
Abu Dzar RA seorang yang radikal. Dia berani menentang kebatilan. Sikap berani telah menjadi watak di manapun dia berada. Lihatlah, saat Rasulullah SAW di masa-masa awal memilih berdakwah secara bisik-bisik, Abu Dzar malah bergerak lebih jauh.
Dalam pandangan Abu Dzar, mau tidak mau harus ada setidaknya satu penyeru dakwah yang bisa
“berteriak keras” menyampaikan kebenaran. Ketika Abu Dzar Ra dinasihati Rasulullah Saw untuk segera pulang ke kaumnya, dia menolak.
“Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti,” kata Nabi SAW.
“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya aku tidak akan kembali sebelum meneriakkan Islam di dalam masjid,” respon Abu Dzar.
Dia-pun menuju Masjid Al-Haram. Di sana dia berkata lantang: “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.Di sini, di negeri ini, Ahmad Dahlan tampil berani dalam berdakwah. Ahmad Dahlan siap dengan semua resiko yang bisa jadi timbul akibat adanya orang-orang yang tak setuju dengan isi dakwahnya.
Pernah, setelah Ahmad Dahlan berdakwah di Banyuwangi, beliau mendapat ancaman. Bahwa, jika dia suatu saat kembali ke Banyuwangi akan dibunuh. Atas hal itu, beliau dinasihati oleh orang dekatnya agar tak ke Banyuwangi.
Menghadapi situasi itu, Ahmad Dahlan memilih tetap kembali berdakwah ke Banyuwangi dengan ditemani sang istri. Apa yang terjadi? Alhamdulillah aman, tak terjadi hal yang tak diinginkan. Malah, belakangan, di Banyuwangi berdiri cabang Muhammadiyah.
Pemberani
Perhatikan, bagaimana Abu Dzar sering (atau bahkan selalu) mengingatkan umat dan terutama para pemimpin akan peringatan keras Allah di at-Taubah 34-35: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.”
Sebagaimana dikisahkan Khalid Muhammad Khalid dalam “Biografi 60 Sahabat Nabi SAW” (2012:
77), Abu Dzar pernah menemui Mu’awiyah. Dia tanyai tentang kekayaannya, sebelum menjadi penguasa dan setelah menjadi penguasa. Dia juga menanyai rumah yang dihuni Umayyah di Mekkah dulu dan istananya yang terdapat di Syria setelah menjadi penguasa.
Di sini, di negeri ini, Ahmad Dahlan sangat dikenal dalam menyosialisasikan al-Maun 1-3: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.
Cekatan Berdakwah
Abu Dzar Ra terampil dalam berdakwah. Ajakan dakwah beliau diterima oleh sukunya sendiri dan suku lainnya. Alkisah, setelah menemui Nabi SAW dan menyatakan keislamannya, Abu Dzar RA kembali menemui keluarganya serta kaumnya.
Saat di tengah-tengah masyarakatnya, Abu Dzar ceritakan kepada mereka tentang Nabi Muhammad yang baru diutus Allah dan menyuruh agar mengabdi kepada Allah yang Maha Esa serta membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Setelah itu, satu demi satu kaumnya masuk Islam. Bahkan, usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata-mata tetapi dilanjutkannya pada suku lain yaitu suku Aslam. Terasakan, Abu Dzar bisa memancarkan cahaya Islam di tengah-tengah mereka.
Ada yang lebih mengharukan! Momentum berikut ini terjadi setelah Nabi SAw hijrah ke Madinah.
Sebuah momentum yang membuat Rasulullah Saw takjub dan kagum. Saat itu, Abu Dzar Ra membawa rombongan dari negeri asalnya menuju Madinah. Di dalamnya ada laki-laki, perempuan, orangtua, remaja, maupun anak-anak. Tak hanya suku Ghifar di rombongan itu, tapi juga suku Aslam.
Siapa yang tak takjub? Siapa yang tak kagum dengan performa mereka yang sekarang menjadi ahli kebajikan dan pendukung kebenaran? Bukankah, dulu, suku Ghifar adalah raksasa perampok? Bukankah, dulu, mereka dikenal sebagai kelompok pembegal?
Sekarang, di negeri ini, perhatikanlah buah dakwah Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyah-nya. Ada berapa juta orang yang ikhlas berdakwah lewat bidang-bidang seperti pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan lain-lain lewat Muhammadiyah? Tak hanya di Indonesia, gerakan dakwah Muhammadiyah yang diwariskan Ahmad Dahlan juga berkembang di mancanegara.
Abu Dzar Al-Ghifari hidup sederhana. Pun, demikian KH Ahmad Dahlan. Tapi, dengan kesederhanaan itu, amal-amal shalih yang mereka lakukan dengan spirit kepejuangan yang ikhlas penuh pengorbanan, sungguh indah untuk dikenang sekaligus diteladani. (*)
DAFTAR PUSTAKA
Artikel Mandi Keringat di Padang Mahsyar ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 37 Tahun XXV, 18 Juni 2021/8 Dzulqaidah 1442.
Tasawuf/Abu Dzar Oleh NurfitriHadi (IG:@nfhadi07) SERUJI - Endang Sulis Selasa, 23 Jan, 2018
Summarized Sahih Al Bukhary, Islamic University Al Madinah Al Munawarah Abu Dzar Al- Ghifari/abuhakam kirmani
Kisah Sahabat : Abu Dzar al-Ghifari, Mantan Perampok yang Setia Memeluk Islam/By. Siti Rahmawati Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi tokoh Islam.
PWMU. CO – Editor Mohammad Nurfatoni
Abu Dzar al-Ghifari Bukti Kebenaran Sabda Nabi, Posted by admin on March 31, 2021