• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan dan kelemahan tafsir al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kekuatan dan kelemahan tafsir al Quran"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 13 Nomor 2 Desember 2016 Halaman 241-259

http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa

KEKUATAN DAN KELEMAHAN TAFSIR AL-QUR’AN BI AL-SUNNAH

Oleh: Ahmad Khoirul Fata

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Email: [email protected]

Abstract

Tafsir al-Qur'an bi al-Sunnah as part of tafsir bi al-ma'thur has an important position in the process of understanding the meanings of the Qur'an. Despite the differences in defining the meaning of the Sunnah or Hadith, the Muslim scholars (Ulama) placed this interpretations as the

most authoritative interpretation among other interpretation models. There are two forms of the Qur'an bi al-Sunnah tafsir as described Abdullah Saeed: verbatim (direct) and fi'li (deeds, indirect). However, as

a form of tradition-based interpretation, such interpretation is considered less has shortcomings in its limitations in reaching many contemporary problems. That's because not all the verses of the Koran described directly by the Prophet Muhammad. Herein lies the urgency of

developing ijtihad so that the verses of the Koran that can still be understood better by staying pivot on the explanation of the Prophet

Muhammad or the verses of the Koran more.

Tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah sebagai bagian dari tafsir bi al-ma’thur memiliki posisi penting dalam proses memahami makna-makna al-Qur’an. Meski terjadi perbedaan dalam mendefinisikan makna Sunnah,

para ulama’ memposisikan penafsiran model ini sebagai tafsir yang paling otoritatif di antara tafsir-tafsir yang lain. Ada dua bentuk tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah seperti yang dijelaskan Abdullah Saeed: secara

(2)

al-Qur’an dijelaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Di sinilah letak urgensi pengembangan ijtihad agar ayat-ayat al-Qur’an itu

tetap bisa dipahami secara baik dengan tetap berporos pada penjelasan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw atau ayat-ayat al-Qur’an lainnya.

Keywords:

Tafsir; Tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah; Tafsir bi al-Ma’thur;

Meaning; Sunnah; Hadith

Pendahuluan

Al-Qur’an menjadi pijakan pokok dalam berislam. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, baik secara verbal maupun makna. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun, dan berlaku tanpa mengenal batas waktu. Tidak ada keraguan lagi terkait posisi sentral Kitab Suci ini dalam Islam. Seluruh ulama’ telah bersepakat akan hal tersebut.

Ketiadaan batas waktu menuntut Kitab Suci ini senantiasa dalam kondisi otentik untuk menjaga pesan-pesan Tuhan yang terkandung di dalamnya, sehingga ummat bisa mempelajari kalam Tuhan yang genuine tersebut, memahami dan mengamalkannya. Kondisi yang otentik dan genuine tersebut telah dijamin oleh Allah sendiri (QS. Al-Hijr: 9), satu hal yang tidak terdapat pada kitab-kitab suci lainnya.

Untuk dapat memahami pesan Allah swt dalam al-Qur’an para ulama menegaskan pentingnya penafsiran yang berbasis pada riwayat; Dalam hal ini diyakini bahwa tafsir yang paling otoritatif adalah penjelasan sebagian ayat al-Qur’an atas sebagian yang lain. Selain itu juga Nabi Muhammad Saw menjadi pihak yang sangat otoritatif dalam menjelaskan isi kandungan al-Qur’an mengingat beliau merupakan pihak yang menerima langsung wahyu tersebut. Tafsir al-Qur’an yang juga diyakini otoritatif adalah penjelasan yang diberikan oleh para sahabat dan tabiin.

(3)

Tafsir bi al-Ma’tsur

Secara historis Subhi as-Shalih menjelaskan, penafsiran terhadap al-Qur’an terjadi semenjak Rasulullah Saw masih hidup dan menjadi penafsir tunggal terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Ada beberapa sebab kenapa di era Nabi Muhammad Saw masih hidup para sahabat tidak aktif melakukan kegiatan penafsiran al-Qur’an, yaitu:

1. Keberadaan Rasulullah Saw di tengah-tengah umat Islam dan keterlibatan langsung beliau dalam memberikan penjelasan atas hal-hal penting dalam al-Qur’an. Ini sesuai dengan tugas beliau sebagai penjelas al-Qur’an (QS. Al-Nahl: 44).

2. Para sahabat terlibat langsung dalam proses dakwah Islam, dan itu berarti mereka juga turut mengalami proses turunnya wahyu, sebab-sebabnya, dan perkembangannya kemudian, sehingga mereka secara umum merasa menguasai makna-makna wahyu.

3. Kenyataan bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa para sahabat sendiri sehingga mereka jarang menemukan kesulitas dalam memahaminya.

4. Bekal pengalaman dalam proses turunnya wahyu yang berbahasa Arab itu membuat mereka lebih memahami tujuan, struktur bahasa, tema, retorika dan segala aspek bahasa al-Qur’an.

5. Kenyataan al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, tidak sekaligus, sesuai dengan situasi, kondisi, sebab, dan proses tahapan penerapan syariat. Ini membuat belum diperlukannya sebuah gerakan keilmuan untuk menafsirkan Kitab Suci yang belum tuntas itu.

6. Al-Qur’an diturunkan di tengah umat yang tidak akrab dengan tradisi baca-tulis dan tidak memiliki satu kemajuan budaya untuk memberikan penjelasan ilmiah.1

Baru pasca beliau wafat, kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan Qur’an dipegang oleh para sahabat yang mendalami dan mengetahui al-Qur’an dengan tetap menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai rujukan. Ada banyak ahli tafsir di kalangan sahabat, di antaranya terdapat 10 orang

1 Abdullah Abus Su’ud Badr, Tafsir Aisyah Ummul Mukminin, terj. M

(4)

yang paling terkenal, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair. Dan di antara sepuluh pakar tafsir itu Abdullah bin Abbas yang dinilai paling otoritatif. Tentang Ibnu Abbas ini banyak riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw semasa hidup pernah mendoakannya agar diberi pemahaman yang mendalam tentang agama dan diberi pengetahuan tentang ta’wil. Para sahabat lain yang juga dikenal sebagai pakar tafsir adalah Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Aisyah.2

Di kemudian hari penafsiran al-Qur’an berkembang ke berbagai daerah seiring dengan laju perluasan daerah kekuasaan Islam. Daerah-daerah yang dikenal sebagai pusat ahli tafsir saat itu adalah Makkah, Madinah, dan Iraq (Kufah). Pakar tafsir dari kalangan tabiin yang terkenal di Makkah adalah Mujahid, Atha’ bin Abi Rayyah, Ikrimah mawla-nya Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, dan Thawus. Mereka ini belajar pada Ibnu Abbas. Sementara di Madinah adalah Abdurrahman bin Zaid dan Malik bin Anas.3 Sementara di kalangan tabi’ al-tabi`in yang terkenal sebagai ahli tafsir adalah Sufyan bin Uyainah, Waki’ bin Jarrah, Syu’bah bin al-Hajjaj, Yazid bin Harun, serta Ibnu Hamid.4

Ada beberapa sumber yang biasa digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, yaitu bi al-manqul (bi al-ma’tsur), bi al-ra’yi, dan isyari. Di antara ketiganya, penafsiran al-Qur’an melalui riwayat (tafsir bi al-ma’tsur) dinilai yang paling otoritatif dan menyelamatkan.5 Hal itu dikarenakan ia merupakan penyampaian sahih yang berisi pengertian dari pernyataan-pernyataan yang lurus dan pemahaman yang bersih. Karena

2 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus

(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011), 411-412. Lihat juga Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an (Damaskus: Mu’assasah al-Risalah al-Nasyirun, 2008), 783-784

3 Ibid., 412. Di buku tersebut al-Shalih tidak menyebut tokoh-tokoh tafsir di

Kufah. Di situ hanya disebut sahabat Nabi Saw yang menjadi guru di Kufah adalah Abdullah bin Mas’ud.

4 Ibid., 413.

5 Abd Fattah Abu Sinnah, Ulum al-Qur’an (Kairo: Dar al-Shuruq, 1995), 149.

(5)

itulah Ya’qub pun menegaskan keharusan mendahulukan penafsiran ini daripada tafsir dengan ra’yi.6

Dengan demikian tafsir dengan riwayat – atau yang biasa disebut dengan tafsir bi al-ma’tsur – merupakan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an lainnya, atau dengan penjelasan Nabi Muhammad Saw, penjelasan para sahabat, dan tabiin.7 Atau dalam redaksi lain tafsir bi al-ma’tsur didefinisikan sebagai: “Sesuatu yang datang dalam al-Qur’an, atau Sunnah, atau perkataan sahabat sebagai penjelasan bagi maksud Allah Swt sebagaimana yang termaktub dalam kitab-Nya (al-Qur’an).8

Di sini al-Suyuti membatasi tafsir bi al-Ma’tsur hanya pada penjelasan dari al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw, dan para sahabat saja, tanpa melibatkan tabiin. Menurutnya terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait dengan tafsir tabiin. Sebagian memasukkannya dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur mengingat mereka merupakan orang-orang yang bertemu dan belajar pada sahabat. Sebagian lainnya menggolongkannya ke tafsir bi al-ra’yi.9 Bahkan lebih dari itu, tafsir sahabat pun masih diberi kategori oleh Hakim dalam Kitab al-Mustadrak-nya, “Tafsir sahabat yang menyaksikan tanzil-nya wahyu dihukumi marfu,` jika tidak berarti mawquf.”10

Dengan demikian, meski penjelasan al-Qur’an yang bersumber dari sahabat (dan tabiin) masuk dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur, namun secara otoritas masih dianggap di bawah penjelasan dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw itu sendiri.11 Hal ini wajar saja mengingat

6 Ya’qub, Asbab, 91

7 Pengertian seperti ini banyak dijumpai dalam beberapa kitab. Lihat Uthman

Ahmad Abd Rahim, al-Tajdid fi al-Tafsir (Kuwait: Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, tt), 10; dan Ibrahim Muhammad al-Jarami, Mu’jam Ulum al-Qur’an (Damascus: Dar al-Qalam, 2001), 101.

8 Jalal Din Abd Rahman Abi Bakr Suyuti, Dur Mantsur fi

al-tafsir al-Ma’tsur Juz I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000), 11

9 Ibid., 12. 10 Ibid.

(6)

Nabi Muhammad Saw dalam menafsirkan al-Qur’an selalu di bawah bimbingan Allah Swt.12

Karena berpijak pada empat sumber itu lah maka Abdullah Saeed menyebut tafsir model ini sebagai tradition-based tafsir yang dibangun atas asumsi bahwa hanya mereka-mereka yang terdekat zamannya kepada Nabi Muammad Saw, dan karenanya terdekat dengan pewahyuan, yang dapat menafsirkan teks al-Qur’an secara otoritatif.13

Contoh tafsir bi al-ma’tsur dalam kategori tafsir Qur’an dengan al-Qur’an adalah penjelasan kata ملظب dalam surat al-An`am ayat 82:

t

⎦⎪Ï%©!$#

(

#θãΖtΒ#u™

ó

Οs9uρ

(

#þθÝ¡Î6ù=tƒ ΟßγuΖ≈yϑƒÎ)

A

Οù=ÝàÎ/

y

7Íׯ≈s9'ρé&

ã

Νßγs9

ß

⎯øΒF{$# Νèδuρ

t

βρ߉tGôγ•Β ∩∇⊄∪

yang ditafsirkan oleh Surat Luqman ayat 13 sebagai kesyirikan ( رشلا ا ميظعملظل) 14

Tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah

Secara bahasa kata ةنسلا berarti jalan, mencakup yang baik atau pun yang tidak baik.15 Terdapat perbedaan di antara para ulama mengenai makna al-Sunnah secara istilahi. Ulama’ ushul menetapkan al-al-Sunnah sebagai perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad Saw. Sementara sebagian yang lain menyatakan bahwa al-Sunnah itu mencakup perbuatan sahabat Nabi Muhammad Saw, baik itu sesuai dengan yang ada di dalam al-Qur’an, dengan perbuatan Nabi Muhammad Saw atau yang tidak, seperti pengumpulan al-Qur’an dan pembukuannya.

Ulama fikih memahaminya sebagai sesuatu (perintah) yang berasal dari Nabi Muhammad Saw, namun tidak bersifat wajib. Ia adalah salah satu bagian dari lima hukum taklifi, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Seringkali juga kata sunnah digunakan sebagai lawan kata bid’ah. Jumhur ulama hadits meluaskan pengertian al-Sunnah hingga mencakup

12 Lihat Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir: Dari Aliran Klasik Hingga Modern,

terj. M Alaika Salamullah dkk (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006), 87.

13 Abdullah Saeed, Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary

Approach (London & New York: Routledge, 2006), 42.

14 Ibid.

15 Badran Abu al-`Aynayn Badran, al-Hadith al-Nabawi al-Sharif: Tarikhuh

(7)

perkataan Nabi Saw, perbuatan, taqrir, sifat khalqiyah, sirah, peperangan, dan sebagian kabar sebelum beliau diutus sebagai Nabi – seperti kebiasaan belia ber-tahannuts di gua Hira’. Dan sunnah seperti ini menurut mereka sinonim dengan pengertian hadits.16

Meskipun demikian ada ulama yang membedakan hadits dari sunnah dengan menganggap hadits hanya terbatas pada perkataan Nabi Muhammad Saw saja.17 Dalam tulisan ini pengertian sunnah digunakan sebagai bentuk sinonim dari hadits mengingat penggunaan kedua term itu sudah biasa dalam bentuk sinonim.

Sunnah memiliki posisi penting sebagai sumber hukum Islam setelah al-Qur’an al-Karim. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Allah Swt dalam berbagai ayat, di antaranya:

$tΒuρ

ã

Νä39s?#u™

ã

Αθß™§9$#

ç

νρä‹ã‚sù $tΒuρ

ö

Νä39pκtΞ

ç

μ÷Ψtã

(

#θßγtFΡ$$sù

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

$tΒuρ

t

β%x.

9

⎯ÏΒ÷σßϑÏ9

Ÿ

ωuρ

>

πuΖÏΒ÷σãΒ #sŒÎ) ©|Ós%

ª

!$#

ÿ

…ã&è!θß™u‘uρ #·øΒr&

βr&

t

βθä3tƒ

ã

Νßγs9

ä

οuzσø:$#

ô

⎯ÏΒ

ö

ΝÏδÌøΒr&

3

⎯tΒuρ

Ä

È÷ètƒ

©

!$# …ã&s!θß™u‘uρ

ô

‰s)sù

¨

≅|Ê

W

ξ≈n=|Ê $YΖÎ7•Β ∩⊂∉∪

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

16 Ibid., 6-7. Lihat juga Manna’ al-Qatthan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, terj.

Mifdhol Abdurrahman (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004), 28-29.

(8)

$pκš‰r'¯≈tƒ

t

⎦⎪Ï%©!$#

(

#þθãΨtΒ#u™

(

#θãè‹ÏÛr&

©

!$#

(

#θãè‹ÏÛr&uρ

t

Αθß™§9$# ’Í<'ρé&uρ

Í

öΔF{$#

ó

Οä3ΖÏΒ

(

βÎ*sù

÷

Λä⎢ôãt“≈uΖs? ’Îû

&

™ó©x«

ç

νρ–Šãsù ’n<Î)

«

!$#

É

Αθß™§9$#uρ βÎ) ÷ Λä⎢Ψä. t βθãΖÏΒ÷σè? « !$$Î/ Ï

Θöθu‹ø9$#uρ

Ì

ÅzFψ$#

4

y

7Ï9≡sŒ

×

öyz

ß

⎯|¡ômr&uρ

¸

ξƒÍρù's? ∩∈®∪

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Nisa’: 59).

Rasulullah Saw juga telah menegaskan hal itu dalam beberapa sabdanya, yang paling populer adalah hadits yang menjelaskan wasiat beliau agar umat Islam berpegang teguh pada dua hal yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatan, yaitu Kitabullah dan sunnah beliau.

Dengan posisi yang sebegitu pentingnya, maka sangat layak jika hadits atau sunnah Nabi Muhammad Saw dijadikan pegangan dalam memahami al-Qur’an al-Karim, karena memang, seperti yang dinyatakan Saeed, salah satu fungsi penting Nabi Muhammad Saw adalah memberikan penjelasan terhadap al-Qur’an. Seperti yang termaktub dalam QS. Al-Nahl: 44, 18

Ï

!

$uΖø9t“Ρr&uρ

y

7ø‹s9Î)

t

ò2Ïe%!$#

t

⎦Îi⎫t7çFÏ9

Ä

¨$¨Ζ=Ï9 $tΒ

t

ΑÌh“çΡ

ö

ΝÍκös9Î)

ö

Νßγ¯=yès9uρ

š

χρã©3xtGtƒ ∩⊆⊆∪

“…dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

Lebih dari itu, Saeed menjelaskan, sebagai transmitter (pemancar) perkataan Tuhan, Nabi Saw memiliki keterlibatan yang mendalam dengan al-Qur’an, baik secara emosional, spiritual dan intelektual. Hubungan antara Nabi Saw dengan al-Qur’an begitu intim dan bersifat timbal balik.

(9)

Nabi Saw mengalami pengalaman personal yang begitu dalam dengan al-Qur’an ketika diwahyukan kepada beliau. 19

Meski demikian Manna’ al-Qaththan menegaskan, bagaimanapun juga Sunnah Nabi Muhammad Saw posisinya tetap berada di bawah al-Qur’an mengingat ia adalah penjelas al-Qur’an. Apalagi bila dilihat secara periwayatan al-Qur’an terjadi secara mutawattir, sementara hadits atau sunnah periwayatannya secara ahad (hanya beberapa yang mutawatir). Hal ini ditegaskan oleh riwayat tentang Mua’dz yang akan menetapkan hukum berdasar pada al-Qur’an, kemudian Sunnah Rasulillah Saw, baru setelah itu menggunakan ijtihadnya sendiri. 20

Bentuk dan Metode Tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah

Secara umum Saeed menyebut ada dua bentuk penafsiran Nabi Muhammad Saw terhadap al-Qur’an, yaitu dengan memberikan contoh praktis secara langsung dan dengan memberi penjelasan secara verbatim. Tafsir praktik terjadi saat Nabi Muhammad Saw melakukan apa yang diinstruksikan al-Qur’an dalam sebuah perbuatan. Sementara pemberian penjelasan secara verbatim dilakukan dengan menjelaskan makna partikular ayat al-Qur’an yang belum dipahami oleh para sahabat. Tafsir praktikal disebut juga tafsir bi al-sunnah secara tidak langsung (indirect) dan bentuk yang kedua disebut tafsir secara langsung (direct).21

Ada banyak tafsir indirect yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Ini biasanya dilakukan pada ayat-ayat yang bentuknya ijmal. Sebagai contoh adalah penjelasan tentang tatacara shalat. Dalam al-Qur’an disebutkan perintah menjalankan shalat, seperti:

(

#θßϑŠÏ%r&uρ

n

ο4θn=¢Á9$#

(

#θè?#u™uρ

n

ο4θx.¨“9$#

(

#θãèx.ö‘$#uρ

y

ìtΒ

t

⎦⎫ÏèÏ.≡§9$# ∩⊆⊂∪

“Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS al-Baqarah: 43)

Dalam ayat ini Allah hanya memberikan perintah untuk melaksanakan shalat tanpa memberikan perincian cara shalat itu sendiri. Meskipun di

19 Ibid., 46

(10)

ayat lain terdapat penjelasan tentang cara shalat, namun itu pun masih belum benar-benar terinci. Seperti dalam ayat:

$y㕃r'¯≈tƒ

š

⎥⎪Ï%©!$#

(

#θãΖtΒ#u™

(

#θãèŸ2ö‘$#

(

#ρ߉àfó™$#uρ

(

#ρ߉ç6ôã$#uρ

ö

Νä3−/u‘

(

#θè=yèøù$#uρ

u

öy‚ø9$#

ö

Νà6¯=yès9

š

χθßsÎ=øè?

) ∩∠∠∪

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)

Di titik inilah Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan tatacara shalat dengan contoh praktis seperti yang terkandung dalam hadits berikut ini22:

Hadits-hadits di atas hanya lah sedikit contoh penjelasan Nabi Muhammad Saw terhadap ayat al-Qur’an yang terkait dengan shalat. Masih banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan hal itu. Dan banyak pula hadits-hadits yang menceritakan penjelasan fi’li Nabi Muhammad Saw atas ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini Saeed menyatakan bahwa penafsiran Nabi Saw untuk sahabatnya yang dilakukan secara praktik lebih banyak daripada melalui penjelasan verbal.23

22 Lihat Abi Husayn Muslim bin Hajjaj bin Muslim Qusyairi

Naysaburi, Minnat Mun`im fi Syarh Sahih Muslim Juz I (Riyad: Dar Salam li al-Nasyr wa Tawzi`, 1999), 257

(11)

Tafsir Nabi Muhammad Saw yang secara verbal, jelas Saeed, dilakukan secara ad hoc, situasional, dan tanpa sesi khusus. Hal itu karena orang-orang yang berada di sekitar Nabi Saw sudah memahami bahasa Arab dalam al-Qur’an dengan jelas dan tidak ada kebutuhan untuk pergi lebih jauh melalui tiap kata, frase, kalimat atau ayat.24

Praktik seperti itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw secara sederhana menceritakan kepada para sahabat apa yang beliau terima sebagai wahyu dan diasumsikan bahwa para sahabat telah memahami teks-teks tersebut, karena memang al-Qur’an diwahyukan dalam sebuah konteks sosial dan dalam bahasa yang sebagian besar telah akrab dengan para sahabat itu.

Meski demikian, tentu saja tidak setiap ayat dapat dipahami secara sama oleh setiap orang, khususnya terkait dengan ayat-ayat dengan ekspresi metaforik. Seperti yang terjadi pada sahabat Adi bin Hatim (wafat 68H/687-688) yang tidak memahami makna “benang putih” dan “benang hitam” dalam ayat yg terkait dengan puasa berikut ini:

¨

(

#θè=ä.uρ

(

#θç/uõ°$#uρ

4

©®Lym

t

⎦¨⎫t7oKtƒ

ã

Νä3s9

ä

Ýø‹sƒø:$#

â

Ùu‹ö/F{$#

z

⎯ÏΒ

Å

Ýø‹sƒø:$#

Ï

Šuθó™F{$#

z

⎯ÏΒ

Ì

ôfxø9$#

(

¢

ΟèO

(

#θ‘ϑÏ?r&

t

Π$u‹Å_Á9$# ’n<Î)

È

≅øŠ©9$#

4

Ÿ

“…. dan Makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ibnu Hatim memaknai ayat itu secara literal. Dia pun mengambil tali panjang hitam dan tali putih lalu meletakkannya di bawah bantalnya. Di malam hari ia melihatnya agar bisa membedakan antara keduanya. Dengan cara seperti itu dia akan memulai puasa. Namun ternyata ia tidak bisa membedakannya. Besoknya ia datang ke Nabi Saw dan menceritakan hal itu kepada beliau. Lalu Nabi Saw pun menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “benang putih” dan “benang hitam” itu adalah kegelapan malam dan cahaya siang.25

(12)

Contoh lain tafsir bi al-sunnah al-qawliyah adalah Surat al-An`am ayat 82 seperti yang telah dijelaskan di awal-awal tulisan ini. Di mana dalam ayat tersebut terdapat kata ملظب yang belum dipahami oleh para sahabat dan menimbulkan perbedaan pendapat, lalu mereka datang dan bertanya kepada Rasulullah Saw. Rasul pun menjawab dengan mengutip Surat Luqman ayat 13, yang berarti bahwa kata ملظبitu memiliki arti kesyirikan karena syirik merupakan kedzaliman yang besar.26 Meski telah dijelaskan oleh Nabi Saw, ada beberapa kalangan yang tidak mau menerima penjelasan itu. Ya’qub menyebut kelompok Mu’tazilah yang menafsirkan kata ملظبtersebut sebagai perbuatan maksiat yang merusak ( ة سف لاةيصع لا ) berbeda dengan penjelasan Nabi Muhammad Saw.27

Contoh ketiga tafsir al-Qur’an melalui perkataan Nabi Muhammad Saw adalah penafsiran pada ayat terakhir Surat al-Fatihah:

x

Þ≡uÅÀ

t

⎦⎪Ï%©!$#

|

Môϑyè÷Ρr&

ö

ΝÎγø‹n=tã

Î

öxî

Å

UθàÒøóyϑø9$#

ó

ΟÎγø‹n=tæ

Ÿ

ωuρ

t

⎦⎫Ïj9!$Ò9$# ∩∠∪

Para sahabat bertanya kepada beliau: “Siapakah yang tergolong orang yang dimurkai itu?” lalu Nabi Saw menjawabnya: “yaitu orang Yahudi”. “Lalu siapakah orang-orang yang sesat itu?” dijawab oleh Rasul: “Mereka adalah orang Nasrani”.28

Meski secara sederhana tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah terbagi dua, namun tafsir Nabi Saw terhadap al-Qur’an memiliki beberapa metode, yaitu:

1). Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Contohnya pada penafsiran kata ملظبseperti disebut di atas. 29

2). Menegaskan tafsir ayat atau kata. Cara seperti ini bisa terjadi dengan menyebutkan tafsir terlebih dahulu baru kemudian menyebutkan ayat yang ditafsirkan, atau menyebutkan ayat terlebih dulu baru disebut tafsirnya. Contoh cara pertama:

Hadits yang menceritakan kisah Nabi Nuh AS di hari kiamat yang dipanggil Allah Swt dan dimintai pertanggungjawaban penyampaian

26 Ya`qub, Asbab, 100 27 Ibid., 101.

28 Ibid., 106.

29 Ahmad Thib Raya, Kaidah Tafsir Terkait Dengan Metode Tafsir:

(13)

risalahnya. Nabi Nuh AS pun menjawab telah menyampaikan semua risalah itu. Namun ketika Allah Swt mengonfirmasikannya kepada umat Nabi Nuh AS, mereka tidak mengakui jawaban itu. Allah pun kemudian meminta saksi kepada Nabi Nuh AS, dan beliau menjawab saksinya adalah Nabi Muhammad Saw umatnya. Rasulullah Saw pun membenarkan bahwa Nabi Nuh AS telah menyampaikan risalahnya.

Kisah ini menjadi penjelas dari ayat:

y

7Ï9≡x‹x.uρ

ö

Νä3≈oΨù=yèy_

Z

π¨Βé& $VÜy™uρ

(

#θçΡθà6tGÏj9

u

™!#y‰pκà− ’n?tã

Ä

¨$¨Ψ9$#

t

βθä3tƒuρ

ã

Αθß™§9$#

ö

Νä3ø‹n=tæ #Y‰‹Îγx©

3

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Contoh cara yang kedua pada Surat al-Baqarah ayat 58: ادجس بلااولخداو (…dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud…). Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah “Mereka masuk (dengan cara) berlutut.” 30

3). Menjelaskan apa yang maknanya belum jelas bagi para sahabat. Contohnya penjelasan Nabi Saw tentang makna “benang putih” dan “benang hitam” dalam Surat al-Baqarah ayat 187 yang telah disebutkan di atas.31

4). Seorang mufassir yang memahami sabda Nabi Saw sebagai penjelasan atas suatu ayat tertentu. Disini sang mufassir telah melakukan ijtihad sehingga memungkinkannya melakukan sesuatu yang kurang tepat. Contohnya hadits yang menceritakan suatu peperangan hebat yang dialami Nabi Saw hingga matahari terbenam, sementara beliau dan para sahabat belum menjalankan shalat Ashar. Lalu Nabi Saw pun mengatakan “Mereka telah menahan kita dari ‘shalat tengah’…”. Sebagian ulama lalu memahami sabda Nabi Saw tersebut sebagai penjelas dari Surat

(14)

Baqarah 238, bahwa yang dimaksud sebagai “shalat tengah” di ayat tersebut adalah shalat Ashar. 32

5). Nabi Saw bertanya kepada para sahabat tentang maksud suatu ayat, lalu beliau sendiri yang menjawabnya. Contoh kasus ini adalah pertanyaan Nabi Saw kepada sahabatnya tentang makna رثوكلاdalam Surat al-Kautsar. Lalu beliau pun menjawabnya: “Itu adalah sungai yang dijanjikan Allah kepadaku. Kebaikannya tak terkira. Dan itu adalah telaga yang didatangi umatkku pada hari kiamat nanti”.33

6). Nabi Saw memberikan penjelasan suatu ayat yang diperselisihkan oleh para sahabat. Contohnya hadits yang menceritakan perdebatan beberapa sahabat tentang maksud “masjid yang dibangun atas takwa,” lalu mereka datang kepada Rasulullah Saw dan menanyakan maksudnya. Rasul Saw pun menjawab “Itu masjid ini, benar masjid Rasulullah Saw”.34

7). Membacakan ayat untuk menjelaskan pesannya. Aisyah RA menceritakan, saat ayat-ayat tentang riba di akhir-akhir Surat al-Baqarah turun, Nabi Saw pun membacakannya kepada manusia dan setelah itu beliau secara tegas melarang memperjualbelikan minuman keras.35

8). Mengambil ayat lalu mengamalkan perintahnya. Contohnya, saat Surat al-Syuara ayat 214 “Dan peringatkanlah keluarga dekatmu” turun, Nabi Saw pun naik ke bukti Shafa dan berseru: “Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adiy…”36

Ignaz Goldziher menyebut bahwa Jalaluddin al-Suyuti telah mengumpulkan lebih dari sepuluh ribu hadits yang berkaitan dengan penafsiran Nabi Muhammad Saw dan sahabat-sahabatnya terhadap al-Qur’an yang dibukukan dalam kitab tafsir “Tarjuman al-al-Qur’an”. Kitab itu di kemudian hari diringkas menjadi Kitab “al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur” sebanyak tujuh jilid.37

32 Ibid. 33 Ibid. 34 Ibid., 29. 35 Ibid. 36 Ibid.

(15)

Kitab-kitab Tafsir bi al-Ma’tsur

Sejak era tabiin telah disusun banyak kitab-kitab tafsir yang merangkum perkataan-perkataan sahabat dan tabiin, seperti tafsirnya Sufyan ibn Uyaynah, Waki` ibn Jarrah, Syu’bah ibn Hajjaj, Yazid ibn Harun, Abd al-Razzaq, Adam ibn Abi Iyyas, Ishaq ibn Rahawiyah, Ruh ibn Ubadah, Abd ibn Hamid, Abi Bakr ibn Abi Syaybah, Ali ibn Abi Talhah, Bukhari dan lainnya.38

Kitab-kitab tafsir bi al-ma’tsur yang terkenal adalah:

1. Tafsir ibn Jarir, ini termasuk tafsir yang paling tinggi dan lengkap.

2. Tafsir Abi al-Laits al-Samarqandi. Di dalamnya memuat banyak perkataan sahabat dan tabiin, tanpa disertai dengan sanad.

3. Tafsir ibn Katsir. Ini termasuk tafsir bi al-ma’tsur yang paling otoritatif.

4. Tafsir al-Baghawi. Tafsir ini tanpa disertai sanad.

5. Tafsir Baqi ibn Mukhallid.

6. Asbab al-Nuzul li al-Wahidi. Tafsir ini terbatas pada penjelasan asbab al-nuzulbi al-ma’tsur.

7. Al-Nasikh wa al-Mansukh milik Abi Ja`far al-Nahas.

8. Al-Dur al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur milik al-Suyuti.39

Kritik Terhadap Tafsir bi al-Ma’tsur / Tafsir bi al-Sunnah

Tafsir bi al-Sunnah termasuk bagian dari tafsir bi al-Ma’tsur sehingga ia tergolong – dalam istilah Saeed - tradition based tafsir (tafsir berbasis tradisi). Saeed menganggap tafsir model ini sebagai tafsir tekstualis, yaitu interpretasi yang diletakkan di atas teks atau tradisi dan di saat yang bersamaan secara tegas mendekati persoalan penafsiran dari perspektif linguistik.40

Menurutnya, pemikiran tekstualis didominasi oleh perangkat-perangkat linguistik dan dibangun berdasar kriteria fikih dan tafsir klasik. Menurut Saeed tradition based tafsir tidak selalu tekstualis, namun penafsiran yang

38 Al-Suyuti, al-Dur, 13. 39 Ibid., 14

(16)

mengabaikan atau menolak konteks sosio-historis al-Qur’an dalam penafsiran.41 Banyak tekstualis (baik yang klasik maupun modern) yang menjadikan isi penafsiran etiko-legal al-Qur’an oleh generasi awal sebagai sangat otoritatif. Batas penafsiran ini adalah apa yang disampaikan oleh para imam dengan konsensus yang nyata. Dari situ mereka mengikutinya tanpa mempertimbangkan perubahan lingkungan.

Bagi Saeed “makna” (meaning) merupakan area kontestasi dalam interpretasi isi etiko-legal al-Qur’an, kalau bukan yang sangat penting. Padahal arti makna (meaning) itu sendiri masih diperdebatkan oleh para filosof bahasa tanpa ada kesepakatan. Banyak teori terkait dengan itu, seperti: teori referensial, semantik, ideasional, dan fungsional.

Adalah benar jika dikatakan bahwa bagi banyak tekstualis baik klasik maupun modern teori referensial menjadi sangat relevan dan dominan. Dalam hal ini makna sebuah kata terletak pada obyek yang dirujuknya. Teori ini melabuhkan bahasa dan makna dalam dunia linguistik sejati dalam sebuah cara yang stabil dan tertentu. Teori ini cocok untuk sejumlah kata yang spesifik dan terbatas (contoh: nama, obyek fisik, tindakan dan proses), dan tidak bisa digunakan untuk sejumlah besar kata, frase, kalimat dan bahasa sebagaimana diasumsikan oleh kaum tekstualis.42

Bagi tekstualis gagasan tentang ide sebuah makna obyektif tunggal merupakan sesuatu yang ideal. Obyektivitas makna itu muncul mengandalkan pada dua asumsi:

1. kata Tuhan (al-Qur’an) berbahasa Arab dan penggunaan bahasa ini dapat menyediakan sebuah makna obyektif dari teks. Menurut mereka upaya beberapa pihak seperti Ibn Abbas untuk memahami teks al-Qur’an dalam sinaran penggunaan terminologi Arab spesifik pra-Islam menyediakan dukungan linguistik bagi obyektivitas ini. Mengikuti nalar ini banyak penafsir berupaya untuk memberikan makna pada teks dengan mengandalkan penggunaan kata dan kutipan.

2. Obyektivitas dapat dicapai jika makna teks didukung oleh pernyataan Nabi Saw, sahabat atau tabiin yang terkait dengan teks al-Qur’an. Sebuah interpretasi linguistik yang obyektif dalam

(17)

asumsi itu dapat terjadi berdasarkan pada bukti linguistik dan laporan historis.43

Bagaimanapun juga ada elemen subyektivitas yang melekat dan cair dalam pemahaman al-Qur’an dan, khususnya, teks etika-legalnya, yang terberi (given) pada aplikasinya di waktu, tempat, dan lingkungan yang berbeda.44

Dari perspektif kontekstualis, obyektivitas itu tidak mungkin terjadi. Penafsir tidak dapat mendekati teks al-Qur’an tanpa pengalaman, nilai, kepercayaan, dan prasangka awal tertentu. Bagi mereka penafsir bertindak sebagai sejarawan sebab al-Qur’an merupakan dokumen sejarah yang memerlukan pengetahuan tentang periode tertentu. Prasangka dan pengalaman penafsir dapat terefleksikan pada teks yang dipilih untuk dikaji dan dalam framework yang digunakan untuk memahami dan menafsirkan teks tersebut. 45

Penutup

Nabi Muhammad Saw memiliki otoritas dalam memahami dan menjelaskan maksud-maksud wahyu (al-Qur’an). Ini merupakan hal yang logis belaka mengingat beliau merupakan pihak yang menerima wahyu itu sendiri. Dengan posisi itu Rasul tentu lebih mengerti dan memahami maksud Tuhan. Dalam menjelaskan isi kandungan al-Qur’an Rasulullah melakukan dua cara: secara langsung melalui amal perbuatan secara langsung atau dengan penjelasan verbal.

Namun sayang tidak semua ayat-ayat al-Qur’an dijelaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Di sini lah letak urgensi pengembangan ijtihad agar ayat-ayat al-Qur’an itu tetap bisa dipahami secara baik dengan tetap berporos pada penjelasan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw atau ayat-ayat al-Qur’an lainnya.

43 Ibid., 102-103. 44 Ibid.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Afghani, Muhammad Hisyam al-Tahiri al-. al-Qur’an wa Manzilatuh Bayna al-Salaf wa Mukhalifihim: Dirasah Uqdiyyah. Riyadh: Dar al-Tawhid li al-Nasyr, 2005

Badr, Abdullah Abus Su’ud. Tafsir Aisyah Ummul Mukminin, terj. M Syamsuddin PT. Jakarta: Darul Falah, 1422 H.

Badran, Badran Abu al-. Al-Hadith al-Nabawi al-Sharif: Tarikhuh wa Musthalahuh. Saudi Arabia: Muassasah Syabab al-Jami`ah, 1983

Goldziher, Ignaz. Mazhab Tafsir: Dari Aliran Klasik Hingga Modern, terj. M Alaika Salamullah dkk. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006.

Jarami, Ibrahim Muhammad al-. Mu’jam Ulum al-Qur’an. Damascus: Dar al-Qalam, 2001.

Naysaburi, Abi al-Husayn Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-. Minnat al-Mun`im fi Syarh Sahih Muslim Juz I. Riyad: Dar al-Salam li al-Nasyr wa Tawzi`, 1999.

Qatthan, Manna’ al-. Pengantar Studi Ilmu Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004.

Rahim, Uthman Ahmad Abd. Al-Tajdid fi al-Tafsir. Kuwait: Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, tt.

Raya, Ahmad Thib. Kaidah Tafsir Terkait Dengan Metode Tafsir: Terjemahan dari Buku Qawaid al-Tafsir Jam’an wa Dirasat Oleh Khalid al-Sabt. Tangerang: Yayasan Lentera Hati, 2012.

Sabt, Khalid ibn Uthman al-. Qawaid al-Tafsir, Juz I. Kairo: Dar Ibn Affan, 1421 H.

Saeed, Abdullah. Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach. London & New York: Routledge, 2006

Shalih, Subhi al-. Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011

Sinnah, Abd Fattah Abu. Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Shuruq, 1995.

(19)

Suyuti, Jalal al-Din al-. Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Damaskus: Mu’assasah al-Risalah al-Nasyirun, 2008.

Ya`qub, Tahir Mahmud Muhammad. Asbab al-Khatha’ fi Tafsir Juz I. Saudi Arabia: Dar Ibn Jawzi, 1425 H

Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad bin Abd Allah al-. Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits, 2006.

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, bahwa Nabi Muhammad SAW perlu menyadari bahwa Allah SWT yang kepadanya menurunkan Al- Qur‟an dan memberikan tugas dan kewajiban berdakwah, tidak akan membiarkan

Barang siapa dari kalangan mereka yang tidak mau mengikuti kepada Nabi Muhammad SAW dan tidak mau meninggalkan sunnah Nabi Isa serta ajaran injil sesudah Nabi Muhammad SAW datang,

Al Quran sebagai wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Baginda Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi pedoman bagi setiap umat manusia sebagai pedoman hidup guna menunjukkan

Syi’ah Imamiyah adalah mereka yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw telah menunjuk tentang kepempimpinan Ali sebagai pengganti beliau dengan nash yang dzahir,

Kalau sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw yang ahli di bidang tafsir menafsirkan Al-Qur’an dengan ijtihadnya atau dengan pendapatnya, maka tabi`in yang ahli di bidang

Kebutuhan Manusia Kepada para Rasul dan Diutusnya Muhammad Saw Al-Qashash [28]: 44-47 44 Dan engkau Muhammad tidak berada di sebelah barat lembah suci Tuwa ketika Kami menyampaikan

Menceritakan peristiwa peilihan Abu Bakar Siddiq sebagai bentuk kesadaran para sahabat untuk melanjutkan kepemimpinan Nabi Muhammad saw dalam membangun masyarakat Islam.. Memahami

Tantangan Dakwah Nabi Muhammad Saw dan Para Sahabat 3... Kepribadian Nabi Muhamamd Saw